Senin, 12 Mei 2014

Orang yang tidur tidak perlu berwudlu' lagi kecuali tidur yang berat (lama)

QS.4. An Nisaa':43

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُواْ وَإِنْ كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّن ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَـٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَٱمْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّاً غَفُوراً

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub[Menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.

Senin, 05 Mei 2014

Jangan berputus asa, Jangan bunuh diri, semua ada akhirnya

Kadangkala cobaan terasa berat ...
Beraat sekali dan datangnya bertubi-tubi, hingga rasanya tidak bisa bernafas ...
Yang tersisa hanya duka yang mendalam, hingga cukup menyesakkan dada ...
Kadangkala terbayang, alangkah enaknya kalau mati saja ...
Eeeeiiiitttssss JANGAAAAN .... !!!

Apakah ia merasa kalau sudah mati, maka bebas dari segala permasalahan ???
Apakah dikira setelah mati tidak ada pertanggungjawaban yang lebih rumit dan sangat adil ???
Lebih rumit dan sangat adil karena yang mengadili hanyalah Allah, pemilik alam semesta, langit, bumi dan segala isinya ...
Dia yang Mahaadil, Mahateliti dan Mahabijaksana ...
Tidak akan luput sesuatupun walaupun perkara yang sangat kecil, yang dulunya luput dari mata dunia ...
Karena Dia -lah yang Mahamengetahui dan yang Mahakaya ...
Jangan dikira dengan lepas dari tempat yang fana, dengan bunuh diri, malah menyelesaikan masalah ...
Justru akan menambah masalah, masalah yang kekal abadi ...

Senin, 28 April 2014

Masalah Warisan dan Perhitungannya


تَعَلَّمُوا الفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْه فَإِنَّهُ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ مَا يُنْزَعُ مِنْ أمَّتِي

 Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku". (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)

Perlu diketahui bahwa:
Pewaris = Pihak yang memberikan Warisan (setelah wafat)
Ahli Waris = Pihak yang menerima/mendapatkan Warisan
Kalalah ialah: seseorang mati (pewaris) yang tidak meninggalkan ayah (keatas wafat - dlm waris) dan anak (kebawah tidak ada/wafat - dlm waris). Namun memiliki ahli waris kesamping, misalnya saudara.
Faraidh ialah: bagian tetap (hendaknya lebih dulu dihitung).
Ashobah ialah: Sisa (setelah Fardh dihitung).

Beberapa peristiwa yang terjadi pada hari kiamat

QS. 39. Az Zumar:67-75

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَٱلأَْرْضُ جَمِيعـاً قَبْضَـتُهُ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ وَٱلسَّمَـٰوَٰتُ مَطْوِيَّـٰتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَـٰنَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلأَْرْضِ إِلاَّ مَن شَآءَ ٱللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ
وَأَشْرَقَتِ ٱلأَْرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ ٱلْكِتَـٰبُ وَجِـىءَ بِٱلنَّبِيِّيْنَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْحَقِّ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَـفَرُوۤاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَراً حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَـآءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَا قَالُواْ بَلَىٰ وَلَـٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ
قِيلَ ٱدْخُلُوۤاْ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَـبِّرِينَ
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْاْ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلجَنَّةِ زُمَراً حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَـٰمٌ عَلَيْكُـمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَـٰلِدِينَ
وَقَـالُواْ ٱلْحَـمْدُ للَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا ٱلأَْرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ فَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَـٰمِلِينَ
وَتَرَى ٱلْمَلَـٰئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ ٱلْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِىَ بَيْنَهُمْ بِٱلْحَقِّ وَقِيلَ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

67. Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[Ayat ini menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah dan hanya Dialah yang berkuasa pada hari kiamat]. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

68. Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).

69. Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.

70. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.

71. Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

72. Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu Neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka Neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

73. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya."

74. Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal."

75. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Senin, 21 April 2014

Tanda-Tanda Hari Kiamat

QS.75. Al Qiyaamah

لاۤ أُقْسِمُ بِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ * وَلاۤ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ * أَيَحْسَبُ ٱلإِنسَـٰنُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ * بَلَىٰ قَـٰدِرِينَ عَلَىٰۤ أَن نُّسَوِّىَ بَنَانَهُ
 بَلْ يُرِيدُ ٱلإِنسَـٰنُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ * يَسْـئَلُ أَيَّانَ يَوْمُ ٱلْقِيَـٰمَةِ * فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ * وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ * وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ * يَقُولُ ٱلإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ ٱلْمَفَرُّ * كَلاَّ لاَ وَزَرَ * إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمُسْتَقَرُّ
يُنَبَّؤُاْ ٱلإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ * بَلِ ٱلإِنسَـٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ * وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ * إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَـٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُ * ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
كَلاَّ بَلْ تُحِبُّونَ ٱلْعَاجِلَةَ * وَتَذَرُونَ ٱلأٌّخِرَةَ * وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ * وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ * تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
كَلاّ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ * وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ * وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلْفِرَاقُ * وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ * إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمَسَاقُ
 فَلاَ صَدَّقَ وَلاَ صَلَّىٰ * وَلَـٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ * ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰۤ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰۤ * أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰۤ * ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰۤ * أَيَحْسَبُ ٱلإِنسَـٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ * ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ * فَجَعَلَ مِنْهُ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلاٍّنثَىٰ * أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَـٰدِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِىَ ٱلْمَوْتَىٰ

1. Aku bersumpah demi hari kiamat,
2. dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)[Bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan].
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
6. Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
8. dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
9. dan matahari dan bulan dikumpulkan,
10. pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
11. sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri[anggota-anggota badan manusia menjadi saksi terhadap pekerjaan yang telah mereka lakukan seperti tersebut dalam surat Nur ayat 24],
15. meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya[Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu].
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
20. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
21. dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
22. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
23. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
24. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
25. mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.
26. Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan [sakaratul maut],
27. dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?",
28. dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
29. dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)[Karena hebatnya penderitaan di saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat],
30. kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.
31. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,
32. tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran),
33. kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).
34. Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,
35. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu[Kutukan terhadap orang kafir ini diulang-ulang sampai empat kali: pertama di saat ia akan mati, kedua ketika ia dalam kubur, ketiga pada waktu hari berbangkit dan keempat dalam neraka jahannam].
36. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?
37. Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
38. kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
39. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
40. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

Minggu, 13 April 2014

Panggilan Adzan (Haruskah dengan Suara yang Keras?)

Akhir² ini suara adzan yg dikumandangkan di Masjid² dipersoalkan ...
Ada yg mengatakan tidak usah dikeraskan, supaya tidak mengurangi kekhusukan?
Benarkah demikian?

Sesungguhnya adzan itu dikumandangkan untuk memanggil orang² Muslim supaya segera sholat, karena waktunya telah tiba.
Jika ia tidur, maka ia harus bangun, dan jika ia sibuk bekerja, maka hentikanlah sementara, supaya dapat menegakkan Sholat fardlu berjamaah.
Andaikan dibuat pelan, siapa yg akan terbangun dari tidurnya dan mau mengerjakan sholat?
Kecuali jika ia lebih mengutamakan tidur dari pada panggilan Allah ...

Panggilan Allah kepada hambaNya itu yg utama ada 2, baik ia seorang hamba yg kaya ataupun miskin, baik ia seorang hamba yg sehat ataupun sakit, atau bagaimanapun keadaan hamba itu ...
Panggilan pertama adalah adzan, yg dikumandangkan di Masjid², memanggil orang² supaya mau sholat fardlu berjamaah.
Atau kalau ia mengabaikannya, maka tunggulah panggilan kedua, yakni kematian yg pasti menjemput.
Jika ia selalu mendengarkan dan memenuhi panggilan pertama, tentunya ia akan gembira menyambut panggilan kedua ...
Namun jika sebaliknya, maka rasakanlah dahsyatnya kematian (sakaratul maut) dan siksa kubur ...

Senin, 07 April 2014

Tentang berita bohong dan diterima tobat orang yang menuduh

QS 24. An Nuur:11
Tuduhan yang bohong terhadap 'Aisyah r.a. Ummul Mu'minin

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُوا بِٱلإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْ لاَ تَحْسَبُوهُ شَرّاً لَّكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ ٱمْرِىءٍ مِّنْهُمْ مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلإِثْمِ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar."

Senin, 31 Maret 2014

Kitab Tobat / Taubat (Sesungguhnya Allah Maha Pengampun)

Tidak ada manusia yg tidak pernah salah ...
Tidak ada manusia yg tidak pernah berbuat dosa ...
Tidak ada manusia yg tidak pernah berbuat kekhilafan ...

Orang yang beruntung adalah manusia yg segera menyadari kesalahannya ...
Kemudian ia segera bertobat ...
Dan segera memperbaiki diri ...
Dengan melakukan berbagai macam kebaikan ...
Segeralah bertobat, karena Allah Maha Menerima Taubat hamba²Nya ...

Apabila datang ajal menjemput ...
Kemudian (calon mayat itu) mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" ...
Tidaklah diterima tobat seseorang ketika datang ajal menjemput ...
Juga tidaklah diterima tobat orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran ... 
Bagi orang-orang itu, telah disediakan siksaan yang pedih, yaitu siksa Api Neraka yg mengerikan ...

Rabu, 26 Maret 2014

Sedekah (shodaqoh)

Sebelum mulai pembahasan, marilah kita perhatikan beberapa istilah berikut:
Shodaqoh: Pemberian seorang Muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Cenderung diberikan kepada orang miskin atau orang yang sedang membutuhkan. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik, termasuk ilmu yang bermanfaat. Karena sedekah itu merupakan bukti pembenaran keimanan seseorang terhadap Allah dan RasulNya untuk mendapatkan keridloan Allah.
Hadiah: Pemberian sesuatu tidak hanya kepada si miskin, bisa juga ke yg lebih kaya. Merupakan perintah agama, untuk menjaga silaturahmi dan kekerabatan.
Suap: Pemberian sesuatu kepada yg lain, supaya mendapatkan keinginannya ttg dunia. Cenderung kepada kecurangan dan perbuatan telikung-menelikung. Dilarang dan diharamkan.

-------------------------------

QS.4. An Nisaa':

لاَّ خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَـٰحٍ بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ ٱبْتَغَآءَ مَرْضَـٰتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً

114. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. 

QS. 23.Al Mu'minuun:

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءاتَواْ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka[karena mereka sadar, akan kembali kepada Allah untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan],

Senin, 24 Maret 2014

Bolehkah Membaca al-Qur'an setelah berhadats?

Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Makhramah bin Sulaiman dari Kuraib mantan budak Ibnu 'Abbas, bahwa 'Abdullah bin 'Abbas mengabarkan kepadanya, bahwa ia pada suatu malam pernah bermalam di rumah Maimunah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan bibinya dari pihak ibu. Katanya, "Aku berbaring di sisi bantal sementara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan isterinya berbaring pada bagian panjang (tengahnya). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu tidur hingga pada tengah malam, atau kurang sedikit, atau lewat sedikit, beliau bangun dan duduk sambil mengusap sisa-sisa kantuk yang ada di wajahnya dengan tangan. Beliau kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran. Kemudian berdiri menuju tempat wudlu, beliau lalu berwudlu dengan memperbagus wudlunya, lalu shalat." Ibnu 'Abbas berkata, "Maka akupun ikut dan melakukan sebagaimana yang beliau lakukan, aku lalu berdiri di sampingnya. Beliau kemudian meletakkan tangan kanannya di kepalaku seraya memegang telingaku hingga menggeserku ke sebelah kanannya. Kemudian beliau shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian witir. Setelah itu beliau tidur berbaring hingga tukang adzan mendatanginya, beliau lalu berdiri dan shalat dua rakaat ringan, kemudian keluar untuk menunaikan shalat Subuh." (No. Hadist: 177 dalam KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 17 Maret 2014

Siapakah yang dapat Menolong Kita

Siapakah yang dapat menolong kita ...?

Seorang yang memiliki kekuatan, dan jenius serta angkuh tentu berkata,"Hanya kitalah yang dapat menolong diri kita sendiri"

Namun seorang mukmin, baik yang memiliki kelebihan ataupun tidak, hendaknya mengatakan,"Hanya Allah yang dapat menolong kita".
Mengapa demikian?
Karena:
1. Bagi seseorang yg memiliki kemampuan, sesungguhnya kemampuan itu milik Allah, dan pemberian dariNya. Sehingga dengan kemampuan dirinya sendiri itu ia dapat mengatasi masalahnya sendiri. Dan setelah ia ingat, kalau kemampuan itu adalah milik Allah dan pemberian dariNya, maka ia segera sadar, berarti yg menolong ia, bukanlah dirinya sendiri, namun Allah, karena Allah-lah yg telah memberikan karunia kemampuan itu. Sehingga selayaknya ia mengatakan,"Hanya Allah yang dapat menolong kita".

Senin, 10 Maret 2014

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan ???

Akhir² ini ada sekelompok orang yg mengatakan "SUARA RAKYAT ADALAH SUARA TUHAN".
Sebaiknya jika ia seorang mukmin, maka jng mengatakan hal yg demikian. Mengapa?
Karena mengatakan seperti ini berarti:
1. Meragukan Kerasulan Muhammad SAW
2. Meragukan bahwa Allah adalah Tuhan yg disebut Nabi SAW.
3, Meragukan Al Qur'an sebagai firman Allah (karena menganggap suara rakyat adalah suara Tuhan sedangkan Al Qur'an bukan. Al Qur'an bukanlah perkataan rakyat sehingga dapat disebut bukan firman Tuhan)

Minggu, 09 Maret 2014

Waktu-Waktu Sholat Fardlu

Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui waktu² sholat fardlu. Ada 2 alasan penting, mengapa kita wajib mengetahui kapan datangnya sholat fardlu. 
Sebagaimana telah diketahui, bahwa waktu-waktu sholat fardlu ditentukan oleh peredaran matahari mengelilingi Bumi dipandang dari sudut pandang kita, dan ditempat kita berada saat itu.

Alasan ke 1 adalah: 
Pada saat normal, atau saat kita bermukim pada suatu tempat tertentu, maka cukuplah dengan melihat jadwal waktu sholat atau menunggu suara adzan dari Masjid.
Namun bagaimana jika kita bepergian pada suatu tempat yg jauh dan sulit untuk melihat jadwal sholat? Maka jawabannya adalah, pergunakan sarana visual kita (mata) untuk melihat waktu sholat dari tanda² alam (misalnya dari pergerakan matahari). Untuk mengetahui waktu sholat dari tanda² alam tentunya perlu ilmu supaya kita bisa mengetahui awal dan akhir dari waktu suatu sholat fardlu. 

Alasan ke 2:
Adzan itu menandakan masuknya waktu tertentu, dan bukan waktu tertentu itu ditentukan dengan adzan. Sehingga bisa jadi, seorang muadzin keliru menentukan waktu, ketika mengumandangkan adzan. 
Kok bisa muadzin keliru? Banyak sebabnya, diantaranya muadzin yg kurang konsentrasi melihat jam, ngantuk, jamnya telat atau terlalu cepat, hingga perlu dicocokkan lagi dengan jam yang tepat (misal jam di HaPe yang aktif/online),  atau karena yang lain.
Karena itu, kita harus berhati-hati, dan selayaknya sedikit tahu, bagaimana cara menentukan waktu adzan untuk sholat fardlu. 

   إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى تَسْمَعُوا تَأْذِينَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ   

 “Sesungguhnya Bilal beradzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai mendengar adzannya Ibnu Ummu Maktum” (HR. Imam Muslim).

sabda Rasulullah dalam hadits yang lain sebagai berikut:

   لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ - أَوْ قَالَ نِدَاءُ بِلَالٍ - مِنْ سُحُورِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ - أَوْ قَالَ يُنَادِي - بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمَكُمْ

 “Janganlah adzannya Bilal—atau Rasul berkata ‘panggilannya Bilal’—mencegah seorang di antara kalian dari santap sahurnya. Sesungguhnya Bilal beradzan—atau Rasul berkata ‘Bilal memanggil’—di malam hari agar orang yang sedang shalat malam di antara kalian pulang dan membangunkan orang yang tidur di antara kalian.” (HR. Imam Muslim)

Hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa adzan bisa diluar waktu sholat fardlu, yakni adzan malam sebelum waktu subuh. Karena itu perlu ilmu supaya bisa mengetahui waktu² sholat fardlu. Tidak boleh mengumandangkan adzan diluar waktu sholat fardlu kecuali adzan dimalam hari sebelum waktu subuh.

Imam As-Syairazi di dalam kitabnya Al-Muhadzdzab menuturkan:
   ولا يَجُوزُ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصُّبْحِ قَبْلَ دُخُولِ الْوَقْتِ لِأَنَّهُ يُرَادُ لِلْإِعْلَامِ بِالْوَقْتِ فَلَا يَجُوزُ قَبْلَهُ واما الصبح فيجوز ان يؤذن له بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ   

Artinya: “Tidak diperbolehkan untuk selain shalat subuh adzan sebelum masuk waktunya. Karena adzan itu dimaksudkan untuk memberitahu masuknya waktu shalat, maka tidak boleh adzan dilakukan sebelum waktunya. Kecuali shalat subuh maka diperbolehkan adzan dilakukan setelah lewat tengah malam” (Abu Ishak As-Syairazi, Al-Muhadzdzab, [Beirut: Darul Fikr, 2005], juz I, hal. 78).

Berikut ini adalah sedikit uraian mengenai waktu sholat fardlu, yg dilihat dari tanda² alam/matahari.

QS. 4. An Nisaa':

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَـٰماً وَقُعُوداً وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَـٰباً مَّوْقُوتاً

"103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

Senin, 03 Maret 2014

Minta Kaya atau Miskin?

Q.S. 17.Al Israa':18

مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَـٰجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَـٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir tertulis sebagai berikut:
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S. 17:18) Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Q.S. 17:18).

Senin, 24 Februari 2014

Seluruh umat Muhammad SAW akan masuk Surga kecuali yang Enggan

Sesungguhnya Rasulullah SAW. sangat mencintai umatnya ...
Beliau tidak ingin umatnya celaka atau berakhir (kematian) dng keburukan
...
Sangat sedih hati beliau bila melihat umatnya masuk Neraka ...
 
Sudah banyak usaha beliau, supaya umatnya tidak masuk Neraka
...
Melalui contoh yg baik, perkataan yg baik, perbuatan yg baik dan juga dng doa ...
Yang kesemuanya dapat dilihat dengan jelas dan dapat ditiru dng mudah ...

Bagaimana kita dijaman sekarang supaya bisa selamat dari Neraka?
Yakni dng berpegang kepada Al Qur'an, dan Sunnah Nabi SAW
...
Sunnah Nabi SAW yg berasal dari Hadits yg Shohih dan Mutawatir, atau setidaknya hadits hasan
...

Kita kadangkala enggan dng sunnah Nabi SAW, dan malah lebih cenderung kepada dunia
... 
Mengejar kekayaan dunia, yg jelas terlihat hasilnya dan cenderung meremehkan agama yg tidak terlihat jelas hasilnya ...
Kekayaan dunia yg menggiurkan namun sesungguhnya malah berbahaya ...
Bagaikan laron yg mendekati dan mengerumuni api dng suka cita ...
Namun ia tidak sadar, kalau tidak hati² dirinya bisa terbakar ...

Senin, 17 Februari 2014

Ilmu Allah meliputi Segalanya

Sesungguhnya Allah Mahamengetahui ...
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka ...
Allah juga mengetahui apa-apa yang di belakang mereka ...

Allah mengetahui masa depan mereka ...
Allah mengetahui akhir dari nasib mereka ...
Apakah mereka itu akan masuk Surga ataukah Neraka ...

Allah juga mengetahui sejarah mereka dan nenek moyang mereka ...
Allah juga mengetahui semua hal sebelum mereka dilahirkan ...
Allah juga mengetahui bisikan halus dihati mereka ...

Namun mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah ...
Melainkan terhadap apa-apa yang memang dikehendaki-Nya ...
Yakni bagi sebagian orang dikehendaki-Nya, diantaranya adalah para Nabi ...

Tetaplah berdo'a, beribadah, dan beramal melakukan kebaikan untuk mendapatkan RidloNya ...
Karena sesungguhnya setiap orang akan di-MUDAH-kan untuk melakukan apa-apa yang telah menjadi takdirnya ...

Senin, 10 Februari 2014

Hak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang wajib ditunaikan oleh umatnya

Perlu diketahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki hak yang wajib ditunaikan untuknya. Supaya dapat menyempurnakan kebaikan yang kita peroleh dan dapat berjalan di atas jalan yang benar dengan baik.

Di antara hak-hak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang wajib ditunaikan oleh umatnya adalah:

Beriman secara jujur kepadanya yang direalisasikan dalam ucapan dan perbuatan. Membenarkan seluruh ajaran yang dibawanya. Wajib mentaatinya dan tidak mendurhakai perintah-perintahnya. Wajib berhukum kepadanya dan menerima dengan lapang segala keputusannya. Menempatkan beliau sesuai dengan kedudukannya tanpa sikap berlebih-lebihan atau malah memandang remeh. Selalu mengikuti beliau serta menjadikannya sebagai teladan dan panutan dalam segala perkara. Lebih mencintai beliau daripada mencintai keluarga, harta, anak dan seluruh manusia. Menghormati dan memuliakan beliau, menolong agama yang beliau bawa dan membela sunnah beliau serta menghidupkan sunnah itu di tengah-tengah umat manusia. Mencintai sahabat-sahabat beliau yang mulia serta senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka. Membela kehormatan mereka serta menelaah peri kehidupan mereka.
Termasuk bentuk mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah banyak-banyak bershalawat untuk beliau. Allah berfirman:


إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰئِكَـتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً


"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)

Senin, 03 Februari 2014

Keberanian dan Ketabahan Rasulullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai keberanian yang mengagumkan dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan kalimatullah Ta'ala. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala yang dicurahkan atas beliau pada tempat yang semestinya. 'Aisyah radhiyallahu 'anha telah mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita." (HR. Muslim)