Selasa, 04 Desember 2012

Hati-hati dalam Membaca Al Qur'an


Sesungguhnya Al Qur'an adalah sesuatu yang Terbaca dan bukan berupa tulisan. 
Sedangkan Mushaf adalah tulisan yang menampung Al Qur'an.

Dasar hukum:
Telah menceritakan kepada kami Amru bin 'Ashim Telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah ia berkata; Anas pernah ditanya, "Bagaimanakah bacaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?" Ia pun menjawab, "Bacaan beliau adalah panjang." Lalu ia pun membaca: "BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM." Anas menjelaskan, "Beliau memanjangkan bacaan, 'BISMILLAAH' dan juga memanjangkan bacaan, 'ARRAHMAAN' serta bacaan, 'ARRAHIIM.'" (No. Hadist: 4658 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

--> Maksudnya, dipanjangkan 2 harokat atau 1 alif.
Beliau (Nabi SAW) selalu memanjangkan bacaan yg memang harus dibaca panjang dan akan memendekkan bacaan yg memang harus dibaca pendek.
Atau dng kata lain, Nabi SAW. dalam membaca Al Qur'an tidaklah ngawur, dan juga tidak seperti bahasa percakapan sehari-hari. Bacaan Al Qur'an beliau sangatlah indah, khas, unik dan konsisten.

Berhati²lah dalam membaca Al Qur'an, perhatikan dengan sungguh² panjang-pendeknya, variasinya (sesuai dengan imam Qiro'ah yang dianutnya), tajwidnya dan Makhrojnya (tempat keluarnya huruf), dan ini tidak bisa dipelajari sendiri melainkan harus bertemu dengan guru qiro'ah sab'ah ...

Atau guru yang memang dapat secara konsisten menjaga qiro'ahnya, walaupun hanya ahli satu bacaan saja ...
Dan guru² itu harus memiliki sanad yang sampai kepada Rasulullah SAW ...
Tidak gampang menyesuaikan lidah kita dengan lidah Arab yang fasih (kebanyakan dalam dialek bahasa Quraisy -menurut Utsman ra., Al Qur'an diturunkan dalam dialek Quraisy-, sebagian dialek lainnya adalah Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Al Yaman yg kesemuanya merupakan rumpun dari bahasa Arab), sehingga butuh waktu yang cukup lama supaya dapat melafazhkan Al Qur'an dengan baik dan benar ...

Sesungguhnya Al Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf (tujuh dialek bahasa arab) ...
Tiap² sahabat diajari bacaan yang kadang sama, kadang pula berbeda, (sesuai dengan dialek yang mereka biasa pergunakan) oleh Rasulullah SAW ...
Namun tidak ada diantara sahabat mencampur bacaan yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW, sehingga masing² bacaan sahabat Nabi SAW memiliki karakteristik dan pola yang unik namun konsisten ...

Diriwayatkan oleh Imam Bukhory dan Imam Muslim dari kitab Shohih mereka, dari Ibnu Abbas ra., dia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW, "Jibril telah membacakan kepadaku satu huruf (satu model bacaan), maka kukembalikan ia kepadanya. Aku tidak henti meminta tambah kepadanya dan ia menambahiku sehingga sampai tujuh huruf (tujuh dialek bahasa arab/qiro'ah sab'ah)."
Imam Muslim menambahkan, "Telah berkata Ibnu Syihab,"Telah sampai kepadaku tujuh huruf itu adalah sama. Tidak berbeda dalam halal dan haram."

Bacaan imam siapa sajakah yang digunakan dibeberapa wilayah ...?
Orang² Basroh memakai Qiro'ah Imam Abi 'Amr dan Yaqub.
Orang² Kufah memakai Qiro'ah Imam Hamzah dan Imam 'Ashim.
Orang² Asia (termasuk Indonesia) memakai Qiro'ah Imam 'Ashim Riwayat Hafsh.
Orang² Syam memakai Qiro'ah Imam Ibnu 'Amir.
Orang² Makkah memakai Qiro'ah Imam Ibnu Katsir.
Dan Orang² Madinah memakai Qiro'ah Imam Nafi'.


Yang perlu diperhatikan ketika membaca Al Qur'an, dengan mengikuti aturan dari Imam yg dianut (konsisten):
1. Mad: Panjang pendeknya suatu bacaan, baik ketika washol ataupun ketika waqof-ibtida'
2. Tahqiq atau tashil (dibaca antara hamzah -tahqiq- dng alif, shg lebih mudah membacanya)
3. Idghom
4. Ghunnah atau tidak
5. Iqlab
6. Idzhar
7. Ikhfa
8. Qolqolah
9. Hurufnya
10. Syiddah ataukah tidak
11. Naql (memindahkan)
12. Laam, ada dua: Laam Qomariyah dan Laam Syamsiyah
13. Bacaan ketika washol atau ketika waqof
14. Saktah: berhenti sekitar 2 harokat, tanpa ambil/lepas nafas (tahan nafas), kemudian segera melanjutkan bacaan berikutnya
15. Imalah, ada dua: Imalah kubra (satu tempat, menurut Imam 'Ashim riwayat Hafsh) dan Imalah sughra (taklil)
16. Isymam: hanya isyarat, bibir mecucu (satu tempat, menurut Imam 'Ashim riwayat Hafsh) atau dlommahnya dibaca sedikit ataukah mencampur antara Shod dng Zai (dibanyak tempat, menurut Imam Hamzah riwayat Kholaf)
17. Waqof. Dibaca waqaf Sukun, waqaf Rum(memperdengarkan bunyi harakat lemah, kira² 1/3 tekanan suara, dan hanya ada pada "dlommah" dan "kasroh")  ataukah waqaf Isymam(bibir mecucu, tanpa ada suara -dlommah-, segera setelah huruf disukunkan, mecucunya tidak boleh terpisah dari sukun)

Jangan sembarangan meniru bacaan² Al Qur'an tanpa ilmu (perhatikan bacaan² diatas yang digunakan berbeda-beda), karena pasti keliru ...
Asal meniru pasti salah, bagaimanakah pendapat anda jika membaca Al Qur'an -asal tiru-, padahal bacaan Al Qur'an tidak diturunkan seperti itu ...? Berarti mengarang bacaan Al Qur'an sendiri ...? Subhanallah ...
Marilah kita belajar mengenai bacaan Al Qur'an dan Ilmu Al Qur'an ...
Kita mau belajar mengenai ilmu dunia yang tidak abadi, namun malah mengabaikan mengenai Al Qur'an ...?
Padahal Al Qur'an merupakan warisan Nabi SAW yang memiliki tingkatan tertinggi ...

Kita tidak perlu mempelajari ketujuh bacaan Al Qur'an, cukup satu saja, namun harus konsisten terhadap Imam Qiro'ah yang digunakan (di wilayahnya sendiri), untuk menjaga kesucian Al Qur'an ...

Ada contoh ayat Al Qur'an yang apabila dibaca tanpa ilmu akan menjadi salah (namun tidak dapat disuarakan melalui tulisan ini), yakni:

QS 88. Al Ghaasyiyah:17

أَفَلاَ يَنظُرُونَ إِلَى ٱلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan"
Jika keliru membacanya (perhatikan huruf Al Qur'an yang memiliki arti 'diciptakan') maka akan berubah artinya menjadi:
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia dicukur"

Juga:
QS 1. Al Faatihah:5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan"
Jika "iiyaaka" dibaca pendek (1 harokat) artinya menjadi:
"Kepada berhala iyaka kami menyembah, dan kepada berhala iyaka kami meminta pertolongan"

Subhanallah, jauh sekali artinya dengan yang sebenarnya ...
Akankah kita tidak mau belajar Al Qur'an ...?
Akankah kita akan meninggalkan Al Qur'an yang merupakan petunjuk yang benar dan membawa kepada kebenaran (menuju cahaya kebenaran) ...?
Akankah kita mengorbankan yang abadi dengan yang tidak kekal ini (dunia) ...?
Maasyaa Allah ...

Jangan manunggu kalau sudah tua atau kalau sudah pensiun untuk mempelajari agama ...
Sudah biasa bagi orang yang sudah tua untuk mempelajari agama, bahkan pada beberapa kasus, malah terhitung sudah terlambat ...
Menurut pengalaman, bagi orang yg sudah tua akan sangat kesulitan untuk bisa membaca Al Qur'an dengan baik dan benar ...
Walaupun tiap hari belajar, tetap saja masih sulit dan jauh dari kebenaran ...
Hal ini disebabkan karena lidah² mereka sudah kelu karena usia yang tua dan daya ingat mereka melemah ...

Sebenarnya sangat disayangkan, mestinya dari kecil sudah bisa membaca Al Qur'an dengan benar, sehingga kalau sudah tua tinggal melanjutkan mengaji secara istiqomah, dengan melafazh-kan Al Qur'an secara benar ...

Supaya terpacu dan mau untuk belajar Al Qur'an >>
Keutamaan yang didapatkan ketika seseorang bisa lancar membaca Al Qur'an secara benar, adalah diberikan kepadanya kedudukan di akhirat dengan ditemani oleh para Malaikat yang mulia, seperti terdapat dalam Kitab Hadits Shahih Muslim dibawah ini:

 


Bab:Perintah membaca Isti'adzah, ketika mulai membaca Al Qur'an
QS. An Nahl:98

فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ ٱلرَّجِيمِ

"Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk"

Mengapa harus membaca Isti'adzah?
Karena sesungguhnya Al Qur'an itu adalah Firman Allah, yg terbaca, dan untuk menjaga kesucian dari hati yg diganggu syaitan, maka hendaknya membaca Isti'adzah, kemudian beriman dan bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya

Bab:Khataman Al Qur'an
1. Sunnah mengucapkan "Takbir" pada waktu kita sampai pada akhir surat Ad-Dhuhaa:
 وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ, dan terus mengucapkan "Takbir" pada setiap akhir surat, hingga Surat An-Naas.
2. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Ubay bin Ka'ab ra. Bahwasanya Nabi SAW apabila selesai membaca Surat An-Naas (khataman Al Qur'an):
 مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ , Beliau lantas membaca Surah Al Fatihah hingga (5 ayat diawal Al Baqarah), yakni hingga ayat:
 أُوْلَـٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Perintah mengkhatamkan Al Qur'an dalam sebulan:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Mughirah berkata, aku mendengar Mujahid dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Puasalah dalam sebulan sebanyak tiga hari". Dia berkata: "Aku sanggup yang lebih banyak dari itu". Dia terus saja mengatakan kemampuanya itu hingga akhirnya Beliau berkata: "Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbuka sehari". Beliau juga berkata, kepadanya: "Bacalah (khatam) Al Qur'an dalam sebulan". Dia berkata: "Aku sanggup yang lebih banyak dari itu". Dia terus saja mengatakan kemampuannya itu hingga akhirnya Beliau berkata: "Kalau begitu kamu khatamkan dalam tiga hari". (HR. BUKHARI)

Subhanallah ... masihkah kita menunda-nunda untuk belajar Al Qur'an, baik dengan belajar melafazhkan secara benar (seperti penjelasan sebelumnya) dan memikirkan kandungan Al Qur'an, juga meng-imaninya dengan sebenar²nya ...?
 --------------------

Silahkan membaca juga (penting):
http://tausyiahaditya.blogspot.com/2013/09/pengumpulan-al-quran.html


Bacaan Tujuh yang berbeda ("tujuh" dalam bahasa Arab, berarti banyak)

>> Mohon jangan meniru-niru bacaan berikut, tanpa seorang Guru yg memang ahli <<

Contoh 10 qiraat yg berbeda oleh Qari Mishary Al-Rashid Al Afasy:
1. Surah Al-Fatihah
2. Surah Al Ikhlaas
3. Ayat Al-Kursi

Silahkan dibandingkan dengan yang berikut ini:

Contoh bacaan yg biasa kita gunakan, yakni bacaan Imam 'Ashim riwayat Hafsh, dari Abdullah Basfar:
1. Surah Al-Fatihah
2. Surah Al Ikhlash
3. Ayat Kursy


Catatan Khusus

Beberapa contoh bacaan ghorib, juga bacaan sewaktu waqof/washol. Selengkapnya, silahkan bertanya ke guru yg memang ahli:

>> Dibaca Imalah (Kubra):
    QS.11.Hud ayat 41

>> Dibaca Isymam (Karena hanya isyarat, maka tidak akan terdengar jelas bacaan Isymamnya)
    QS. 12. Yusuf ayat 11

>> Dibaca Tashil
    QS. 41.Fushshilat ayat 44   atau selengkapnya   QS. 41.Fushshilat ayat 44

>> Dibaca Tahqiq
    QS. Albaqoroh ayat 31

>> Pada Mushaf Al Qur'an, kalau kita perhatikan ada huruf alif pertama yg tidak ada harokatnya. Perhatikan ayat² berikut ini:
1. QS. 12. Yusuf ayat 9 - Perhatikan huruf pertama dibaca dlommah (uqtuluu)
2. QS. 15. Al Hijr ayat 46 - Perhatikan huruf pertama dibaca dlommah (udkhuluu)
3. QS.16.AnNahl:125  - Perhatikan huruf pertama dibaca dlommah (ud'u)       
4. QS. 1. Al Fatihah Ayat 2 -  Perhatikan huruf pertama dibaca Fathah (Alhamdulillah)
5. QS. 55. Arrahman Ayat 1 -  Perhatikan huruf pertama dibaca Fathah (Arrohman)  
6. QS. 55. Arrahman Ayat 5 -  Perhatikan huruf pertama dibaca Fathah (Assyamsu)  
7. QS. 12. Yusuf ayat 81 - Perhatikan huruf pertama dibaca kasroh (irji'uu)
8. QS. 12. Yusuf ayat 93 - Perhatikan huruf pertama dibaca kasroh (idzhabu)
9. QS.16.AnNahl:121  - Perhatikan huruf pertama dibaca kasroh (ijtabaahu)   
Kesimpulannya: Jika huruf berikutnya dibaca dlommah, maka alif pertama dibaca dlommah. Namun jika huruf kedua adalah "lam", maka dibaca fathah. Dan selain ketentuan tersebut, maka alif dibaca kasroh.

>> Dibaca 6 harokat atau 3 mad:
1. QS.10.Yunus: 51
2. QS.10.Yunus: 91
3. QS.1.AlFatihah ayat 7. Perhatikan, setelah tanda baca alis, diikuti dng tanda baca syiddah.

>> Ayat Fawatihus Shuwar (menyebutkan nama-nama dr setiap huruf), untuk tanda baca alis, dibaca 6 harokat atau 3 mad, dan berlaku hukum tajwid.  Contoh Ayat Fawatihus Shuwar seperti berikut ini:
1. Alif Lam mim
2. Ya sin

>> Namun harap hati-hati, sebab yg tanda baca alis juga ada yg dibaca 4 atau 5 harokat ketika washol dan dibaca 2 harokat ketika waqof, untuk bacaan Imam 'Ashim riwayat Hafsh. Seperti pada contoh berikut ini (dibaca 2 harokat karena waqof, dan dilanjutkan dng 6 harokat pada lafal Aaallah):
    QS.27.An Naml ayat 59

>> Contoh tanda baca alis yg dibaca 4 atau 5 harokat ketika washol. Berikut ini dibaca 5 harokat, karena dipilih yg 5 harokat, maka semua yg bertanda baca alis seperti itu (semua mad yg bertemu hamzah) tetap dibaca 5 harokat terus (konsisten):
    QS.2. Al Baqarah ayat 29


>> Bab: Waqof-Washol. 
Dibaca seperti tertulis dalam Mushhaf Al Qur'an ketika washol, namun ketika waqof, dari ayat sebelumnya, ayat selanjutnya dibaca seperti berikut ini: 
    QS.46.Al Ahqof ayat 4 (bacaan selain Imam 'Ashim riwayat Hafs)
atau
    QS.46.Al Ahqof ayat 4 (bacaan Imam 'Ashim riwayat Hafs)

>> Perhatikan bacaan berikut ini ketika waqof:
1. QS.12.Yusuf:23 Perhatikan ketika waqof: Matswaai --> "i" dibaca 1/3-nya saja
2. QS.16.AnNahl:90 Perhatikan ketika waqof: Baghi --> "i" dibaca 1/3-nya saja  
3. QS.2.Al-baqoroh:196 Perhatikan ketika waqof: Hadi --> "i" dibaca 1/3-nya saja  
4. QS.2.Al-baqoroh:205 Perhatikan ketika waqof: Wannasl --> "l" dibaca 1/3-nya saja  
5. QS.2.Al-baqoroh:219 Perhatikan ketika waqof: Qulil 'afw --> "u" dibaca 1/3-nya saja  
6. QS.2.Al-baqoroh:222 Perhatikan ketika waqof: Yathhurn --> "n" dibaca 1/3-nya saja  

>> Pada tanda waqof "mim" kita wajib berhenti (waqof - karena berkaitan dengan arti/makna ayat -).
Khusus untuk Mushaf cetakan Indonesia, harus hati-hati dalam membacanya, terutama ketika ada tanda waqof "jim", "qof-lam-ya" dan pada akhir ayat, sebaiknya berhenti untuk meminimalkan kesalahan baca. Seperti contoh ini: QS.5.Al-Maidah: 8 (oleh narator)
Coba dibandingkan dengan Mushaf Internasional atau yg cetakan Arab berikut ini:
 
 >> Berikut ini contoh perbedaan cara baca, ketika washol dan ketika waqof pada akhir ayat (perhatikan akhir ayat 1 kemudian dilanjutkan ayat 2 -washol-, terdapat tambahan "ni" dan lafal Allah dibaca tipis -kasroh-) :
Surah Al Ikhlash (waqof tiap akhir ayat)  dan  Surah Al Ikhlas (washol)

>> Disini ada tambahan keterangan, yakni lafal "Allah" akan dibaca tebal jika didahului dng Fathah (misal:Allah) dan dlommah (misal: QS.16.AnNahl: 33). Dan akan dibaca tipis jika didahului kasroh.

>> Dibaca dengan tambahan "ni" (nun-dikasroh) ketika tanwin bertemu dng hamzah washol
   1. QS.11.Hud ayat 42  - "ni"
   2. QS. 15. Al Hijr ayat 61 - "nil"   atau supaya lebih jelas QS. 15.Al Hijr ayat 61 (Qori lain)
   3. QS. 2. Albaqoroh  ayat 180 - "ni"
   4. QS.18. Al Kahfi ayat 77 - Disini terdapat hukum waqof dan washol. Dimana ketika dibaca washol, maka ada tambahan "ni". Dan ketika waqof, kemudian ibtida', harokat alif yg tdk ada harokatnya dibaca "i" 

>> Ketika "nun mati" atau "mim mati" bertemu huruf ba, maka cara mendengungkan adalah dengan mengatupkan kedua bibir, namun kerapatannya harus dikurangi (sumber: KH.Dzulhilmi, Lc, MA.):
      QS. Albaqoroh ayat 33

Keterangan tambahan: 
Kebanyakan CATATAN KHUSUS diatas adalah membahas mengenai ilmu cara membaca Mushaf yg cetakan Internasional atau yg cetakan Arab, sebab pada kenyataannya Mushaf AlQuran yg cetakan Arab membutuhkan ilmu yang jauh lebih banyak, supaya bisa membacanya. Namun keunggulannya, dalam hal salah baca, bisa sangat sedikit dibandingkan dengan Mushaf cetakan Indonesia. Dan juga huruf-hurufnya dapat digunakan untuk membaca AlQuran dengan tujuh logat bacaan.
Mushaf cetakan Indonesia memang memudahkan, terutama untuk satu model bacaan/qira'at, namun kemungkinan salah baca bisa sangat banyak dan fatal (salah satu contohnya, coba bandingkan antara Mushaf cetakan Arab dng yg cetakan Indonesia pada QS.5.AlMaidah: 8, pada penjelasan diatas)

Bacaan yg sampai ke kita sekarang ini (wilayah Asia/Indonesia) adalah: Dari Qiraat Imam 'Ashim yg diriwayatkan oleh Hafsh, dengan sanad para sahabat, yakni dari (Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka'ab) dan langsung mendapatkannya dari Rosulullah SAW (Sumber:Mushhaf Al Qur'an cetakan Madinah) ---> Sehingga sampai pada derajat Mutawatir (qiraat yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, dan sanadnya bersambung hingga penghabisannya, yakni Rasulullah Saw. Juga sesuai dengan kaidah bahasa arab dan rasam Utsmani).

Keutamaan Ubay bin Ka'ab:
Telah bercerita kepada kami Hafsh bin 'Umar telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Sulaiman berkata, aku mendengar Abu Wa'il berkata, aku mendengar Masruq berkata; " 'Abdullah bin 'Amr berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukanlah orang yang suka berbicara kotor (keji) juga tidak pernah berbuat keji dan beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya'. Dan beliau juga bersabda: "Ambillah bacaan Al Qur'an dari empat orang. Yaitu dari 'Abdullah bin Mas'ud, kemudian Salim, maula Abu Hudzaifah, lalu Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal". (No. Hadist: 3476 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar berkata, aku mendengar Syu'bah, aku mendengar Qatadah dari Anas bin Maik radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Ubbay: " Allah memerintahkanku agar membacakan "lam yakunil ladziina kafaruu min ahlil kitaab".. -al-Qur'an Surah al-Bayyinah--. Ubay bertanya; "Apakah Allah menyebut namaku?". Beliau mejawab: "Ya". Ubbay pun menangis. (No. Hadist: 3525 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

*****************

4 komentar: