Jumat, 18 Mei 2018

Lailatul Qadar


QS.97. Al Qadr:

 إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ * وَمَآ أَدْرَٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ * لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰۤئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ * سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? 
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 

Selengkapnya: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2017/05/lailatul-qadar.html

Jumat, 11 Mei 2018

Yang Diperbolehkan dalam Puasa


QS. 2. Al Baqarah:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَٱلـنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid  [berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah]. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

1. Yang Diperbolehkan dalam Puasa (Bukan Berarti Dianjurkan)
2. Bagaimana dengan Suami Istri yang Sengaja Bersetubuh di Siang Hari Romadlon? dan bagaimana kalau ada yang mengakalinya dengan berbuka puasa terlebih dahulu, lalu berhubungan intim?


Selengkapnya: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2017/05/yang-diperbolehkan-dalam-puasa-bukan.html

Jumat, 04 Mei 2018

Kitab Puasa


QS. 2. Al Baqarah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Sholat Tarawih itu 11 Rakaat ataukah 23 Rakaat ataukah tidak usah Sholat Tarawih?
Apakah Sah Puasa Seseorang yang Tidak Sholat Terawih pada Malamnya?

Selengkapnya: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2017/05/kitab-puasa.html

Selasa, 01 Mei 2018

Cahaya berkilauan dng membawa Berkah yg dinantikan


Akan datang secercah Cahaya berkilauan tapi tak menyilaukan ...
Dengan membawa Berkah yang dinanti-nantikan ...
Menembus awan hitam yang tebal penuh dengan derita ...
Awan tebal yang diciptakan oleh manusia itu sendiri ...

Akan datang bulan yang penuh Berkah, Rahmat, dan AmpunanNya ...
Bulan yang disisi Allah merupakan bulan yang terbaik ...
Siangnya adalah yang terbaik diantara siang ...
Malamnya adalah yang terbaik diantara malam ...

Yaitu suatu bulan dimana manusia yang beriman diundang ...
Oleh Penciptanya untuk menuju perjamuan Ilahi ...
Saat-saat Allah memuliakan hambaNya ...
Saat-saat setiap nafas adalah merupakan tasbih ...
Tidur hambaNya adalah ibadah ...
Segala amal baik hambaNya diterima ...
Dan saat-saat dimana semua do'a dijawab ...

Karena itu hendaklah kamu memohon kepada Allah ...
Dengan niat yang benar dan hati yang suci ...
Sesungguhnya Celakalah orang-orang yang tidak memperoleh pengampunan dibulan yang Agung ini ...

Ingatlah akan lapar dan haus dihari pengadilan yg pasti datang, yakni pengadilan di padang Mahsyar ...
Berikanlah sedekahmu kepada fakir-miskin ...
Hormatilah orang tuamu ...
Sayangilah yang muda diantara kamu ...
Jagalah Lidahmu dari perkataan keji, kotor dan pergunjingan ...
Jagalah telingamu dari suara yang tidak patut didengar ...

Berlaku baiklah terhadap anak yatim ...
Bertaubatlah kepada Allah atas dosa-dosa kamu ...
Berdo'alah dengan tangan terangkat diwaktu sholatmu ...
Dimana Allah melihat hambaNya dengan belas kasihan ...
Ia menjawab apabila mereka menyeru ...
Ia menyambut apabila mereka memanggil ...
Ia memberi apabila mereka meminta ...
Ia akan mengabulkan apabila mereka memohon ...

Wahai manusia ...
Sesungguhnya jiwamu digadaikan dengan amal perbuatanmu ...
Bebaskanlah jiwamu itu dengan memohon pengampunanNya ...
Punggungmu keberatan menanggung dosa-dosamu ...
Maka ringankanlah dengan sujudmu yang lama ...

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah bersumpah ...
Dengan kemuliaan dan kehormatanNya ...
Ia tidak akan mengadzab orang yg melaksanakan sholat & sujud ...
Ia tidak akan menakuti mereka dengan api Neraka ...

Wahai manusia, ...
Apabila kamu memberikan makanan untuk berbuka puasa ...
Maka Allah akan memberikan pahala kepadanya ...
Dilipatgandakan pahala itu dengan tidak terbatas ...
Ia akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu ...

Wahai manusia, ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini memelihara perilaku yang baik ...
Maka Allah akan memudahkannya berjalan diatas shirath ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini suka meringankan makhlukNya ...
Maka Allah akan memudahkan dalam menghisabnya ...
Barangsiapa memutus tali kekerabatan didalamnya ...
Maka Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari Pengadilan ...

MARHABAN YAA ROMADLON ...
SELAMAT DATANG BULAN YANG KAMI RINDUKAN ...
SELAMAT DATANG KEKASIHKU, PUJAANKU, HARAPANKU ...

WAHAI PECINTA KEBAIKAN ... BERGEMBIRALAH ... !
WAHAI PECINTA KEJAHATAN ... HENTIKANLAH ... !!!

Jumat, 09 Februari 2018

=== Muqaddimah ===


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
 مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ 
،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، أَمَّا بَعْدُ؛

Sungguh segala puji hanya milik Allah, Allah yang kita puji, dan kepada Allah kita memohon pertolongan, dan kepada-Nya kita memohon ampunan,
dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita.
Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tak seorangpun dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tak seorangpun mampu memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’d:

Tulisan ini dibuat untuk semua hamba Allah, termasuk diri penulis sendiri. Selain tulisan inti, dimenu sebelah atas juga terdapat link:
1. Jadwal Sholat wilayah Indonesia
2. Bacaan Al Quran yang bisa didengarkan
3. Kajaiban Al Quran karya Harun Yahya
4. Tafsir Al Quran yang tulisan arabnya bisa di COPAS
5. Perpustakaan yang berisikan buku2 teks primer dalam bahasa arab
6. Renungan pada Hari Jumat, yang merupakan hasil renungan penulis setelah mengaji

Hak cipta hanyalah milik Allah, Tuhan Semesta Alam, sehingga silahkan mengcopy-paste artikel didalamnya, bebas dan gratis.
Bahkan penulis sangat senang kalau di COPAS, sebab akan semakin tersebarnya ilmu Allah di dunia ini. Silahkan juga jika berminat sebagai bahan dakwah atau ceramah, silahkan, bebas dan gratis.

Tulisan diblog ini dimulai tgl 02-01-2011 hingga tgl 02-02-2018, setelah itu diadakan perbaikan tulisan yang telah lampau, walaupun tidak menutup kemungkinan ada ide baru untuk tulisan baru.
Tidak ada tulisan, pemikiran dan renungan yang sempurna benar, karena itu kritik dan saran dinantikan oleh penulis (pada kolom Posting Komentar atau email ke:  tausyiahaditya2@gmail.com).


وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. 
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: 
"Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" 
Mereka menjawab: "Benar (Rasul-Rasul itu telah datang dari kalangan kami sendiri, Manusia)". 
(juga para da'i, ustadz, ulama, dan wali pengikut Nabi SAW yang telah menyebarkan ajaran agama Islam)
Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir (karena mereka ingkar terhadap para Rasul Allah).

Dikatakan (kepada mereka):

 "Masukilah pintu-pintu Neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" 
Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam Surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke Surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:

"Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah Surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".

Dan mereka mengucapkan:

"Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam Surga di mana saja yang kami kehendaki; maka Surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal".

Dan kamu (Muhammad) akan melihat Malaikat-Malaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".

(Surat Az-Zumar Ayat 71-75)


Akhir kata, Sesungguhnya kebenaran itu milik Allah, dan hanya kepada Allah-lah semuanya  kembali. Kesalahan dan kelemahan itu hanya milik makhluq, karena itu sudah selayaknya, segala ilmu, dan kebutuhan makhluq disandarkan kepada-Nya ...

الحمد لله ربّ العالمين


Jumat, 02 Februari 2018

Mencari ataukah Menjemput Rejeki dan apakah Kaya itu Bukti Kecintaan Allah? Bagaimana dengan Keberkahan?

Seringkali kita mendengar, bekerja untuk mencari rejeki. Tapi apakah benar kita bekerja untuk mencari rejeki?
Mencari ataukah menjemput rejeki?

Seorang bayi dalam dikandungan ibunya, apakah ia mencari sendiri makanan untuk menghidupi dirinya sendiri?
Cicak yang hanya bisa merayap, makanannya nyamuk yang selalu terbang, apakah cicak itu mencari sendiri rejekinya?
Seseorang istri yang ditinggal mati suaminya, apakah istri itu juga ikut mati karena tidak bisa makan? padahal istri tersebut tidak bekerja, dan suaminyalah yang bekerja ...
Sapi yang tidak pernah sekolah dan tidak punya ijazah, apakah sapi itu mati kelaparan karena tidak bisa bekerja kantoran untuk mencari rejeki?

QS.29. Al 'Ankabuut:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لاَّ تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

60. Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sesungguhnya rejeki telah ditentukan kadarnya, tidak akan habis rejeki seseorang hingga ajal menjemputnya ...
Jangan takut tidak kebagian rejeki, karena selama masih hidup, Allah telah berjanji menjamin rejeki setiap makhlukNya ...
Karena itu, ketika adzan berkumandang, segera datangi Masjid untuk mendirikan Sholat, tinggalkan jual-beli dan pekerjaan Anda (sesuai petunjuk Sunnah Nabi SAW.). Kalau memang rejeki Anda, tentu mereka akan mendatangi Anda, namun kalau tidak, mereka tidak akan mendatangi Anda kembali ...

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qayyim berkata,
“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal (umur), rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukakan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu."

Sesungguhnya kita ini tidak mencari rejeki, karena kalau mencari, memiliki makna rejeki belum ditentukan kadarnya.
Padahal yang sebenarnya terjadi, rejeki itu sudah ditentukan kadarnya untuk masing2 makhlukNya ...
Jemputlah rejeki, kalau itu rejeki kita, maka kita akan dapatkan, namun kalau tidak, tentu kita tidak akan mendapatkannya ...

Jangan mengemis kepada manusia atau makhluk, namun berharaplah hanya kepada Allah ...
Mengemis dan berkeluh-kesah kepada makhluq, hanya akan menambah kehinaanmu dihadapan mereka ...
Rejeki itu hak Allah sebagai karuniaNya kepada semua makhluq ...
Kadangkala Allah melambatkan dan menahan rejeki kita, karena itu beristighfar-lah, karena dengan RahmatNya, rejeki itu menjadi lancar, jika Dia menghendaki ...

Berharap hanya kepada Allah itulah yang terbaik ...
Bukankah ada manusia yang banting tulang bekerja siang-malam, namun ia tidak kaya-kaya ...?
Dan ada juga yang bekerja santai namun ia kaya raya ...?
Ada sapi yang gemuk dan ada pula yang kurus, padahal semua sapi tersebut tidak punya ijazah ...?
Lihatlah Cicak, ia tidak bisa terbang, namun ternyata ia dapat makan nyamuk dengan lahapnya ...?
Bayi dalam kandungan yang tidak bekerja saja bisa hidup, tanpa harus bersusah-payah ...?
Bayi dalam kandungan itu juga tidak kepedasan ketika ibunya makan rujak pedas ...?
Itulah Kuasa Allah untuk mengatur rejeki makhluqNya ...

Bertawakkallah, perbanyak sedekah dan Istighfar, karena dengan demikian Allah kasihan kepada kita dan menurunkan RahmatNya kepada kita, kemudian melancarkan rejeki kita  ...

QS.65. Ath Thalaaq:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْراً

3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

QS.34. Saba':

قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَآ أَنفَقْتُمْ مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّازِقِينَ

39. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.

Andaikan kebanyakan manusia dijadikan kaya, tentunya mereka akan berbuat aniaya ...
Menindas yang miskin,  memperbudak mereka, berbuat kerusakan di muka bumi dan masih banyak perbuatan buruk yang akan mereka lakukan ...
Karena itu Allah membatasi rejeki mereka dengan kadar yang pas, hingga seseorang yang beriman bisa pergi berjamaah 5 waktu di Masjid, tanpa harus bingung ngurusi hartanya yang melimpah ruah ...
Hingga ia dapat berzakat dengan mudah, tanpa perhitungan yang rumit, karena tidak banyaknya harta yang dimiliki ...
Itulah kebijaksanaan Allah, mengapa kita tidak bersyukur dengan rizki yang kita miliki sekarang?
Allah Maha Mengetahui kadar rizki buat kita, hingga kita tidak melupakanNya ...
Tidak perlu iri terhadap manusia lain yang lebih kaya daripada kita, karena belum tentu kita sanggup untuk tetap dijalanNya dengan rejeki yang sangat banyak ...

QS.42. Asy Syuura:

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْاْ فِى ٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

27. Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Ingatlah rejeki yang barokah itu bukanlah rejeki yang bertambah banyak ...!!!
Namun rejeki yang barokah itu adalah rejeki yang dapat semakin mendekatkan diri hambaNya kepada Allah SWT ...
Percuma kaya-raya, apabila durhaka kepada Allah, sebab Nerakalah tempatnya ...
Itulah rejeki yang Tidak Barokah ...
Seperti Qorun dengan hartanya yang melimpah ruah, yang malah menjerumuskannya ke Api Neraka yang abadi ...
Seperti Firaun yang diberi anugerah kekuasaan dan harta yang selalu bertambah, namun malah menjadikan murkaNya, hingga diabadikan dalam Alquran sebagai contoh yg sangat buruk ...
Juga seperti Haman, ahli kimia, orang kepercayaan Firaun, sebagai contoh buruk ilmuwan yang semakin jauh dan durhaka kepada penciptaNya ...
Masihkah Anda berpendapat, keberkahan itu berarti dengan semakin bertambahnya rejeki dan jabatan kekuasaan ...?

Lihatlah Nabi Muhammad SAW, berapa banyak rejeki dari karunia Allah yang dilimpahkan kepada Beliau? Harta rampasan perang, dan hadiah yang kalau ditotal jumlahnya sangatlah banyak ...
Namun harta itu Beliau serahkan kepada umatnya, semuanya ...!
Hingga Beliau sangat miskin ...
Namun Beliau sangat dekat kepada Allah SWT ...
Demikian juga sahabat yang mengikuti beliau, Abdurrahman bin Auf ra, Utsman bin affan ra, Abu bakar ra, apakah mereka berfoya-foya dengan kekayaan mereka? Yang terjadi adalah mereka terlihat miskin dan hidup sederhana, dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah ...
Itulah rejeki yang BAROKAH ...
Barokah hingga negeri Akhirat ...

Ingatlah ...
Tidak barokah rejeki yang semakin bertambah banyak, namun malah menjadikannya semakin jauh dari Allah ...
Tidak barokah ilmu yang semakin bertambah, namun menjadikannya semakin durhaka dan malah menantang Allah ...
Tidak barokah jabatan dan kekuasaan yang semakin luas/tinggi, namun malah menjadikannya semakin jauh dari Allah ...

Seperti dijelaskan dalam Surat Al-Mulk Ayat 1

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terberkatilah Dia (Allah) Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

(Sumber:https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%AA%D8%A8%D8%A7%D8%B1%D9%83/)
>>> Sesungguhnya Keberkatan, Barokah itu milik Allah. Dan Dia-lah pemilik tunggal segala kerajaan, ilmu dan kekuasaan. Dia memberkati segala sesuatu, termasuk ilmu, harta, kekuasaan, kerajaan dan bahkan waktu. Dan Dia juga yang menghilangkan keberkahan itu.
Sehingga hambaNya dapat semakin dekat kepadaNya, setelah diberkatinya ilmu, harta ataupun kekuasaan yang dilimpahkan kepadanya.
Dan begitu juga sebaliknya, jika Dia telah mencabut keberkahan dari ilmu, harta ataupun kekuasaan, maka:
Seseorang yang berilmu, semakin tinggi ilmunya, semakin sombong, semakin tidak sopan terhadap guru, orang tua dan kepada yang lainnya. Teknologi tinggi dikuasainya, namun sifat takabbur dan sombong juga menghinggapinya. Merasa lebih pintar dari orang lain atau bahkan guru atau kyai-nya.
Seseorang yang dianugerahi kekayaan, maka orang itu juga akan semakin sombong, suka pamer kekayaan, boros, berfoya-foya, menindas yang lemah, mempergunakan hartanya untuk kejahatan. Merasa kurang terus hingga Korupsi merajalela. Setiap hari memang ia akan bertambah kaya, hartanya terus bertambah, namun seketika itu pula imannya berkurang, hingga ia akan semakin jauh dari Allah.
Demikian juga yang terjadi jika kekuasaan telah dilenyapkan keberkahannya.!

Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu, termasuk mencabut keberkahan dari makhluqNya ...


Ingatlah, Seorang Mukmin, tidak harus kaya, namun ia wajib bersyukur ...
Bersyukur bukan berarti berpangku tangan dalam pengharapan rejeki ...
Juga bukan berarti mengemis dan meminta2 kepada sesama makhluq ...
Namun ia selalu berusaha dan bertaqwa, sesuai dengan apa-apa yang Allah perintahkan kepadanya ...
Sehingga hidupnya tidak selalu disibukkan dengan harta dunia, namun ia selalu disibukkan untuk mengerjakan apapun yang Allah perintahkan kepadanya ...

Surat Al-Baqarah Ayat 268

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (korupsi, suap, mencuri, merampok, kikir, dan terlalu cinta dunia/harta); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.


>>> Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami:
Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu:
Menentukan rezekinya,
Ajalnya,
Amalnya, serta
Apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia.
Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

Bab: Benarkah Banyaknya Kekayaan yang Dimiliki itu Berarti Allah Mencintainya?
Qarun hidup pada zaman nabi Musa, yang saat itu dipimpin oleh Firaun. Ia adalah salah seorang kaum Musa yang bersikap sombong kepada mereka dengan diri dan hartanya. Allah telah memberikan kekayaan yang melimpah kepadanya. Jumlah kunci gudang hartanya sangat banyak, sehingga terasa sangat berat untuk dibawa oleh sejumlah laki-laki yang kuat sekalipun. Dan ketika ia tertipu oleh nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya dengan mengingkarinya, kaumnya (mukminin yang berilmu) menasihatinya dengan berkata, "Janganlah kamu tertipu dengan harta bendamu, dan jangan sampai kegembiraan dengan harta benda itu melupakanmu dari bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak berkenan terhadap orang-orang yang sombong dan terpedaya oleh harta benda."

Qarun menolak nasihat orang-orang mukmin itu, matanya telah buta terhadap hakikat kebenaran. Ia membantah nasihat itu seraya berkata, “Sesungguhnya Allah memberiku harta karena kecintaanNya dan ilmuku. Karena itu, aku layak menerimanya.” Juga dikatakan, “Sesungguhnya aku diberi harta karena pengetahuan Allah, karena aku berhak mendapatkannya, dan karena cinta-Nya padaku.”
“Sesungguhnya Aku diberi harta karena ilmu yang aku miliki dan aku diberi harta karena pantas menerimanya. Allah Maha Mengetahui. Jika aku tidak pantas mendapatkannya niscaya aku tidak akan diberi.” (dalam Kisah-kisah Al Quran, Shalah Al Khalidy, GIP, jilid 1, hlm. 179-185).

Kemudian Allah menegur perbuatan tercela Qarun, hingga diabadikan dalam Al Quran:
Surat Al-Qasas Ayat 76

۞ إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Karun (Qorun) adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

Allah membantah pernyataan Qarun, bahwa Allah mencintainya dengan meng-anugerahkan kekayaan yang melimpah kepadanya. Sesungguhnya kekayaan dan rejeki yang luas/sempit itu termasuk ujian. Bukan tanda kecintaan Allah kepada makhluqNya.

Surat Az-Zumar Ayat 49

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

49. Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Sesungguhnya telah berlaku Sunnatullah, apabila seseorang itu diberikan kesenangan, keluasan rejeki, hingga kekayaan yang melimpah ruah, maka ia beranggapan Allah memuliakannya.
Dan sebaliknya, apabila seseorang itu disempitkan rejekinya, sulit usahanya, atau bahkan bangkrut usahanya, maka ia berprasangkan buruk kepada Allah, dengan berkata, "Tuhanku menghinakanku".

Surat Al-Fajr Ayat 15-16

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".

Ingatlah, Sesungguhnya makhluq yang paling dicintaiNya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah. Hingga Allah memuliakan makhluqNya itu disisiNya, bagaimanapun keadaannya, apakah ia kaya, ataukah miskin.

Surat Al-Hujurat Ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Bab: Jemputlah Rejeki dengan Cara yang Baik dan Jangan Diam Saja
QS.62. Al Jumu'ah:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلأَْرْضِ وَٱبْتَغُواْ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (setelah selesai sholat dan berdoa, jangan hanya duduk2 berdoa terus, menunggu rejeki dari langit, namun bekerjalah untuk menjemput karunia Allah, dan tetaplah mengingat Allah dalam bekerja supaya beruntung)

-----------------------------------------------------------
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَوْفِي رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ خُذُوْا مَا حَلَّ وَدَعُوْا مَا حَرُمَ.

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga sempurna rizkinya. Meskipun (rizki itu) bergerak lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram”.

[HR Ibnu Majah no. 2144, Ibnu Hibban no. 1084, 1085-Mawarid, al Hakim (II/4), dan Baihaqi (V/264), dari Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah al Ahadits ash-Shahihah no. 2607.]
-----------------------------------------------------------

Bab. Siapakah yang Beruntung dan Terbaik disisi Allah?

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمُ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، إِلاَّ مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا ، فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ ، وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا

Sesungguhnya orang-orang yang memperbanyak (harta) adalah orang-orang yang menyedikitkan (kebaikannya) pada hari Kiamat, kecuali orang yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya kebaikan, lalu dia memberi kepada orang yang di sebelah kanannya, kirinya, depannya, dan belakangnya; dan dia berbuat kebaikan pada hartanya (HR. al-Bukhâri, no. 6443; Muslim, no. 94)

al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan dengan ‘memperbanyak’ adalah dengan harta, dan ‘menyedikitkan’ adalah dengan pahala akhirat. Ini (terjadi) pada diri orang yang memperbanyak harta, akan tetapi dia tidak memenuhi sifat dengan yang ditunjukkan oleh pengecualian setelahnya, yaitu berinfaq”. [Fathul Bari 18/261]

"Sesungguhnya orang-orang yang memiliki banyak harta, adalah orang-orang yang sedikit kebaikannya pada hari Kiamat, kecuali yang menggunakan hartanya itu di jalan Allah"
Kebanyakan orang yang memiliki banyak harta, menggunakan hartanya itu untuk hal2 yang mubah (kalau tidak mau dikatakan haram). Beli mobil mewah, motor mewah, atau motor yang bagus. Dan mereka menginfakkan hartanya, kecuali hanya sekedarnya saja.
Bandingkan dengan mukmin yang memiliki harta cuman jutaan atau bahkan jauh lebih kecil dari itu, namun berinfak jauh lebih banyak dari itu, padahal mereka termasuk miskin.
Orang2 mukmin tersebut tidak terlena oleh kehidupan dunia, mereka lebih mementingkan perintah Allah, daripada kebutuhan dirinya sendiri. Tidak jarang mereka mengalami kesulitan2 dalam dunianya, karena perbuatannya itu namun karena cintanya kepada Allah, mereka tidak menggubrisnya.
Memang tidak berdosa mukmin yang menggunakan hartanya untuk kemegahan dirinya, selama tidak menyalahi syariat Islam. Namun mukmin yang seperti itu, pahalanya kelak diakhirat jauh lebih sedikit daripada Mukmin yang miskin, atau Mukmin yang kaya namun menggunakan kekayaannya dijalan Allah.




Jumat, 26 Januari 2018

Jangan Mau Bangkrut

Tidak seorangpun mengetahui, apakah amal baiknya diterima Allah ataukah tidak ...
Walaupun ia beramal sangat banyak, ia tetap tidak tahu, apakah amal baiknya diterima Allah ataukah tidak ...
Namun jangan salah paham, yakni merasa bahwa amal yang banyak, belum tentu diterima oleh Allah, maka ia akan sedikit beramal atau bahkan tidak beramal sama sekali ...
Kalau yang banyak saja belum tentu diterima, maka apakah yang sedikit itu akan diterima ...?
Tentunya amal yang banyak, akan memiliki peluang yang banyak juga untuk diterima ...

Juga tidak seorangpun mengetahui, apakah amal baiknya masih tersisa ataukah tidak ...
Karena perbuatan zhalimnya kepada orang lain, hingga pahalanya diberikan kepada orang yang di zholimi tersebut ...
Padahal, apabila pahalanya telah habis, maka dosa-dosa dari orang yang telah dizholimi tersebut, malah berpindah ke dirinya sendiri (yakni orang yang telah berbuat zholim) ...

Ingatlah amal yang diterima adalah amal yang baik, dari sumber yang baik dan untuk tujuan yang baik pula, yakni untuk Allah ...
Andaikan ia menampakkan amal sunnahnya dengan harapan ingin dilihat dan sanjung orang lain, maka Allah akan memenuhi harapannya itu, hingga orang lain menyanjungnya, dan Allah tidak memberikan balasannya di akhirat ...
Namun untuk amal fardlu, misalnya sholat fardlu dan zakat, maka hal itu wajib dilihat orang lain sebagai saksi dan menghindarkan kesalahpahaman ...
Amal baik itu akan tetap ada dan terpelihara di sisiNya, apabila orang tersebut tetap pada keadaannya istiqomah dijalanNya dan tidak berbuat zholim kepada yang lain ...

Ingatlah pula, amal buruk itu pasti diterima oleh Allah, walaupun ia menampakkan atau menyembunyikan amal buruk itu ...
Tidak ada sedikitpun amal buruk yang ditolak oleh Allah, melainkan Allah akan membalasnya atau Allah akan mengampuninya dengan RahmatNya ...

Siapakah Orang yang Bangkrut itu?
Hadits Muslim Nomor 4678

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] dan ['Ali bin Hujr] keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] yaitu Ibnu Ja'far dari [Al A'laa] dari [Bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab; 'Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.'
[HR Muslim, juga At Tirmizi no. 2418 dan Ahmad (2/303, 334, 371), dari Abu Hurairah]

------------------------------------------
Orang yang bangkrut adalah Orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia:
1. Selalu mencaci-maki
2. Menuduh
3. Makan harta orang lain
4. Membunuh orang lain
5. Menyakiti orang lain.
Sehingga, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka (yang di zhalimi) hingga pahalanya habis.
Dan apabila pahalanya telah habis, maka sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka ...
[lihat hadis diatas dan juga tambahan hadis berikut ini]
------------------------------------------

Termasuk Juga Ghibah/Menggunjing, maka Tinggalkanlah:
Hadits Muslim Nomor 4690

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah] dan [Ibnu Hujr] mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] dari [Al A'laa] dari [Bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya: "Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.'

>>> Ghibah adalah membicarakan orang lain mengenai sesuatu (kebenaran) yang orang lain itu tidak menyukainya untuk disebarluaskan, sedangkan apabila yang dibicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti ia telah membuat-buat kebohongan terhadap orang lain.
---> Jangan berkumpul atau dengan alasan silaturahmi, namun sebenarnya yang terjadi adalah melakukan pergunjingan.

Dan Jangan Memfitnah, atau Menyebarkan Berita Bohong (Hoax)
Dari Abdullah ibnu Amr radhiallahu’anhuma, di berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:”

من حالت شفاعته دون حدٍّ من حدود اللّه، فقد ضادَّ اللّه، ومن خاصم في باطلٍ وهو يعلمه لم يزل في سخط اللّه حتى ينزع عنه، ومن قال في مؤمنٍ ما ليس فيه أسكنه اللّه ردغة الخبال حتى يخرج مما قال

“Barangsiapa mendapatkan pembelaanku pada selain batas dari batas-batas Allah Ta’ala, maka sungguh ia telah melawan Allah Ta’ala. Barangsiapa yang bertengkar dalam kebatilan, sedangkan ia mengetahuinya, maka ia akan terus meninggalkannya. Barangsiapa yang membicarakan tentang diri seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah Ta’ala akan menempatkannya di Radaghatul Khabal hingga ia keluar dari apa yang ia katakannya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad (2/276) dan Abu Dawud (3597))

Iri dan Dengki? Jauhilah!
Hadits Abu Daud Nomor 4257

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Shalih Al Baghdadi] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Amir] -maksudnya Abdul Malik bin Amru- berkata, telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Bilal] dari [Ibrahim bin Abu Asid] dari [Kakeknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar."

>>> Iri, berarti menginginkan dirinya sendiri untuk memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain.
Sedangkan Dengki yaitu, menginginkan nikmat yang diterima orang lain itu hilang.

Memalsukan Hadis Nabi SAW untuk Tujuan Baik?
Sabda Nabi SAW,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتُعُمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَةُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (I/7, 35, 36; II/81 dan IV/145, 157) dan Muslim (I/7, 8), Ahmad (I/83, 321; II/22, 103, 104, 159, 203, 214 dan IV/47, 50, 106, 252), Ibnu Majah (no. 31, 34, 36), Abu Dawud  (no. 3651) dan Tirmidzi (IV/142, 147), dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

>>> Mereka yang berkata, “Kami berbohong tidak untuk merusak syari’at Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, akan tetapi kami berbohong untuk membela beliau shallallahu’alaihi wa sallam.”
Maka bagi mereka yang melakukan kebohongan terhadap sabda Nabi SAW, maka kedudukannya itu di Neraka!.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “... Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak butuh kepada orang lain untuk kesempurnaan syari‘at dan keutamaannya. Mereka ini umumnya kaum yang menyandarkan diri mereka kepada zuhud dan sufi.” [Lihat Al-Maudhu’at (I/37-47), Al-Madkhal (hal. 51-59), Adh-Dhu‘afa’ (I/62-66 dan 85), Majmu‘ Fatawa (XVIII/46), Al-Ba’itsul Hatsits (I/263), Syarh Nukhbatul Fikr (hal. 84-85), dan Mizanul I’tidal (II/644)]

Jangan Pula Berbuat Riya, Jika Tidak ingin Bangkrut!

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
[HR. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905). Dan An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’, Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168).
Hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az Zuhud, bab Ma Ja’a fir Riya’ was Sum’ah , no. 2382; Tuhfatul Ahwadzi (VII/54 no. 2489); Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, no. 2482 dan Ibnu Hibban no. 2502 -Mawariduzh Zham’an- dan al Hakim (I/418-419)]

Menurut istilah riya’ dapat didefinisikan “memperlihatkan suatu ibadah dan amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah tetapi karena sesuatu selain Allah, dengan harapan agar mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain.” Sementara  memperdengarkan ucapan tentang ibadah dan amal salehnya kepada orang lain disebut sum’ah (ingin didengar).

Jangan Mengambil atau Mengakui Harta Orang Lain Sebagai Miliknya, apalagi dengan Dikuatkannya Sumpah:
Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Umamah secara marfu’ disebutkan:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Barangsiapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu untuk siwak).“ (H.R.Muslim)

Allah Mahaadil Hingga Perbuatan Aniaya Terkecil diperhitungkanNya
Ingatlah, Allah Mahaadil, hingga Allah memberi kesempatan kepada binatang yang tidak bertanduk, yang saat di dunia dia ditanduk oleh binatang bertanduk untuk membalasnya di akhirat.

يقضي الله بين خلقه الجن و الإنس و البهائم ، و إنه ليقيد يومئذ الجماء من القرناء حتى إذا لم يبق تبعة عند واحدة لأخرى قال الله : كونوا ترابا ، فعند ذلك يقول الكافر : * ( يا ليتني كنت ترابا )

Allah memberikan keputusan yang adil antar makhlukNya: Jin, manusia, dan para binatang. Pada hari itu binatang yang tidak bertanduk diberi kesempatan membalas kepada yang bertanduk hingga tidak tersisa adanya kedzhaliman antar hewan itu hingga Allah berfirman: Jadilah kalian tanah. Pada saat itu, orang kafir berkata: Duhai seandainya aku menjadi tanah (riwayat Ibnu Jarir dalam Tafsirnya, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam as-Shahihah)

Jangan Mau di Curhati Istri Orang Lain Dan Jangan Berzina
Abu Daud (5170) juga telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ خَبَّبَ زَوْجَةَ امْرِئٍ أَوْ مَمْلُوكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا ) ، وصححه الألباني في " صحيح أبي داود 

“Barang siapa yang merusak istri orang lain atau merusak hamba sahayanya, maka bukanlah termasuk golongan kami”. (Dishahihkan oleh al Baani dalam Shahih Abu Daud)

Syeikh Abdul Adzim Abadi –rahimahullah- berkata:

خبب “ adalah merusak atau menipu

امرأة على زوجها adalah menyebutkan keburukan suami di depan istrinya atau kebaikan laki-laki lain di depan wanita tersebut”. (‘Aun Ma’bud: 6/159)

Al Manawi –rahimahullah- berkata:

“Syeikh kami asy Sya’rawi berkata: “Termasuk dalam hal tersebut adalah jika seorang laki-laki didatangi istri orang lain yang sedang marah agar membantunya untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya, dan orang tersebut justru mengajaknya makan, menambah pemberian dan lebih dermawan dari sebelumnya, meskipun kedermawanan tersebut juga ditujukan kepada suaminya, maka hal ini bisa jadi akan menjadikan wanita tersebut lebih cenderung kepada laki-laki lain tersebut dan mengharap apa yang dimilikinya, maka sudah masuk dalam hadits tersebut. Posisi seseorang yang mengetahui akan dibalas sesuai dengan yang semestinya, meskipun ia melakukannya secara tidak sengaja.

Ia berkata: “Saya selalu melakukan perangai seperti ini, saya mempengaruhi seorang wanita yang sedang marah, saya pun berpesan kepada keluarga saya untuk menjadikannya lapar, agar ia kembali merasakan dan mengetahui nikmat adanya suami”. (Faidhul Qadir Syarh al Jami’ as Shagir: 6/159)

Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, sampai benar-benar rumah tangganya hancur dan bercerai, kemudian laki-laki tadi menikahinya, maka nikahnya tidak sah dan keduanya wajib dipisahkan sesuai dengan pendapat yang dipilih oleh Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahulla- dan merupakan madzhab Maliki.

Nabi SAW telah menyampaikan,
Bahwa Iblis menyebar para tentaranya ke muka bumi, berkata, “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang muslim akan aku kenakan sebuah mahkota di kepalanya. Siapa yang paling besar fitnahnya paling dekatlah kedudukannya kepadaku (Iblis).
Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, ‘Aku akan terus menggoda si fulan sampai ia mau menceraikan istrinya.’ Iblis berkata, ‘Aku tidak akan memberikan mahkota sebab pasti nanti ia menikah lagi dengan yang lain.’ Tentara yang lain menghadap dan berkata, ‘Aku akan terus menggoda si fulan sampai aku berhasil menanamkan permusuhan antara ia dan saudaranya.’ Iblis berkata, ‘Aku tidak akan memberikan mahkota sebab suatu saat ia pasti berdamai lagi.’
Tentara yang lain menghadap dan berkata, ‘Aku akan terus menggoda si fulan sampai ia berzina.’ Iblis berkata, ‘Wah, bagus sekali itu.’ Lalu Iblis mendekatkan tentaranya itu kepadanya dan meletakkan mahkota di atas kepalanya.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari jalur Ibrahim bin Al-Asy’ats (berkata), telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Iyadh dari Atha’ bin Saib dari Abu Abdurrahman As-Sulami dari Abu Musa secara marfu’)

Disebutkan pula bahwa barangsiapa berzina dengan seorang wanita yang telah bersuami, maka bagi mereka berdua setengah adzab umat ini di dalam kubur. Ketika hari kiamat, Allah akan memberikan kepada suaminya berupa kebaikan istri (yang berzina) tersebut, apabila (perilaku zina istri itu) tanpa pengetahuan suaminya. Namun, apabila suaminya mengetahuinya dan mendiamkan saja, maka Allah mengharamkan bagi suami itu surga, karena Allah telah tuliskan (tetapkan) pada pintu surga itu, “Kamu haram bagi dayuts (yaitu laki-laki [suami] yang mengetahui perbuatan keji [zina] keluarganya, namun dia mendiamkan saja dan tidak menghiraukannya).”

Jangan Membunuh atau Melukai Hati ataupun Badan Non Muslim Sembarangan
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Al Bukhari membawakan hadits dalam Bab “Dosa orang yang membunuh kafir mu’ahad [Telah Membuat Kesepakatan untuk Tidak Berperang] tanpa melalui jalan yang benar”.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari no. 3166)


Islam Melarang Perbuatan Zhalim kepada Hewan, apalagi Zalim terhadap Manusia! 
1. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan terhadap segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, maka lakukanlah dengan baik dan apabila kamu menyembelih maka lakukanlah dengan baik. Dan hendaklah seorang dari kamu, menajamkan pisaunya dan hendaklah ia menyenangkan hewan sembelihannya” (HR.Muslim No.3615, At Tirmidzi No.1329 dan An Nasa’i No 4329).
2. Islam melarang perbuatan mencincang, menyakiti, dan mencederai binatang. Misalnya Nabi Saw bersabda, “Siapa saja yang menyiksa/membuat cacat sesuatu yang bernyawa, lalu tidak bertobat, niscaya Allah menyiksanya pada Hari Kiamat” (HR Ahmad).
3. Jika di berbagai wilayah di bumi ini masih ada ajaran primitif seperti mengadu ayam
jantan atau mengadu banteng, maka Rasulullah saw. melarang secara tegas melarangnya (HR.Al Tirmidzi; No. 1630 dan Abu Dawud No.3199).
4. Islam melarang memberi cap pada binatang. Suatu saat seekor keledai yang
telah dicap pada bagian mukanya melintas di hadapan Nabi saw. Maka Nabi bersabda,
“Allah melaknat orang yang memberi cap (pada bagian muka) keledai” (HR. Muslim No. 3953).
5. Rasulullah saw. melarang menyengsarakan binatang dengan cara memisahkan anak dari
induknya. Seorang sahabat bercerita bersama Rasulullah Saw. dalam suatu perjalanan.
Kami melihat Hummarah (sejenis burung), bersamanya dua ekor anaknya. Sahabat itu
mengambil dua ekor anak burung itu, maka datanglah Hummarah itu mengkibas-kibas
kepaknya. Lalu Rasulullah saw. pun bersabda, “Siapa yang menyakiti (menyusahkan) anak-anak burung ini dengan (memisahkan) dari ibunya? Kembalikan semula anak burung ini kepada ibunya” (HR. Abu Daud).
6. Haram pula hukumnya mengurung binatang hingga mati kelaparan. Rasulullah
saw. bersabda, “Seorang perempuan disiksa (karena) seekor kucing yang telah dikurungnya sehingga mati kelaparan. Dengan sebab itu masuklah perempuan itu dalam api nereka” (HR. Bukhari No. 3192)
7. Islam juga melarang memberikan beban terlalu berat kepada binatang. Nabi saw. pernah menegur seorang sahabat, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini yang telah diberikan Allah kepadamu? Dia memberitahu kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat” (HR. Muslim, Abu Daud dan Ahmad).
8. Islam memerintahkan agar memberi makan yang cukup pada binatang piaraan.
Sabda Nabi saw, “Takutlah kalian kepada Allah terhadap hewan-hewan yang tidak bisa bicara ini, tunggangilah dengan baik, dan berikan makan dengan baik pula” (HR. Abu Daud).
9. Tidak patut memperlihatkan proses penyembelihan dihadapan hewan lain yang akan disembelih pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).
Di riwayat lain, Nabi saw. memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).


Bab: Bagaimana Tindakan yang Harus Kita Lakukan Supaya Tidak Bangkrut? 

Amal ibadah yang berusan dengan manusia cenderung rawan hilang. Hal ini disebabkan beberapa hal:
1. Amal ibadah itu sebenarnya sudah diterima Allah, namun dihapus atau dilimpahkan ke hambaNya yang lain.
    Penyebab --> Berlaku zhalim kepada orang lain atau mengghibahnya
2. Amal ibadah itu ditolak oleh Allah
    Penyebab ---> Amal tersebut bukan untuk Allah (riya') atau dari sumber yang haram
3. Amal ibadah itu menggantung, hingga tanggungannya dilunasi
    Penyebab ---> Mungkin ada nadzar yang belum dilakukan atau belum bayar zakat fitrah

>>> Apakah yang harus kita lakukan supaya tidak bangkrut?
Beberapa yang harus kita lakukan adalah:
1. Secepatnya dalam berbuat kebaikan, dengan niat hanya untuk Allah.
2. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun, termasuk menyingkirkan paku dijalanan.
3. Jangan menggunjing atau meng-ghibah orang lain.
4. Jangan menyakiti perasaan orang lain.
5. Jangan mengambil hak orang lain.
6. Jangan menuduh sembarangan.
7. Jangan mengolok-olok orang lain.
8. Hindari kumpul-kumpul bareng kalau tidak jelas tujuannya, karena ditakutkan menggunjing orang lain.
9.  Segera dalam bertaubat dan meminta ampun kapada Allah.
10. Suka memaafkan orang lain.
11. Jangan memposting/reposting sesuatu yang tidak jelas (HOAX). Kalau yang diposting itu benar, namanya ghibah atau ngrasani tapi jika salah maka artinya ia memfitnahnya.
12. Jangan pula memposting/reposting hadis yang tidak jelas, karena melakukan kebohongan terhadap Sabda Nabi SAW (walaupun untuk tujuan baik), hadiahnya adalah Neraka.
13. Jangan iri masalah dunia apalagi dengki terhadap nikmat yang diberikan kepada orang lain.
14. Jangan mengambil atau mengakui Harta Orang Lain sebagai miliknya, apalagi dengan dikuatkannya Sumpah.
15. Jangan mau di Curhati Istri orang lain dan jangan berzina.

>>> Bagaimana Cara Mengembalikan Harta yang Bukan Miliknya? (Mungkin karena korupsi, mencuri, memalak, merampok dll)

Yaitu dengan cara mengembalikan seluruh harta yang bukan miliknya tersebut, termasuk harta yang berkembang karenanya. Sehingga ia wajib mengembalikan harta pokok (yang bukan miliknya), beserta harta tambahan (harta yang berkembang/bertambah banyak karena memanfaatkan harta pokok yang bukan miliknya).

Berdasarkan hadis:
Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”
............
قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)

Hadis diatas menjelaskan bagaimana seorang juragan yang memanfaatkan uang pegawainya untuk dikembangkan. Uang itu bukanlah hasil korupsi, namun uang itu uang pegawainya yang belum diambil karena pegawainya segera pergi.
Oleh sang juragan, uang itu dikembangkan dalam suatu usaha, hingga bertambah berlipat ganda. Ketika pegawainya itu kembali untuk menagih bayarannya dulu yang belum diambil, maka sang juragan memberikan harta itu seluruhnya, tanpa mengambil sisa sedikitpun.
Niat sang juragan baik, nah, apalagi kalau harta yg dikembangkan itu hasil dari mencuri, korupsi atau dari jalan haram lainnya. Tentu semua harta itu beserta hasil berkembangnya lebih berhak untuk dikembalikan, karena semua itu bukan miliknya.

Namun Terjadi Perselisihan Pendapat
Para ulama berselisih pendapat dalam masalah bagaimanakah hukum harta yang tumbuh dari investasi harta yang haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menjelaskan mengenai perselisihan ulama dalam masalah ini dan menyimpulkan pendapat terkuat. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Mengenai harta hasil curian yang dimanfaatkan oleh pencuri hingga mendapatkan hasil setelahnya, para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Apakah harta yang tumbuh itu kembali menjadi si pemilik pertama saja? Ataukah harta tersebut si pencuri dan pemilik menyedekahkannya?” … Terhadap harta semacam ini, ‘Umar bin Al Khottob pada awalnya menyikapinya dengan memerintahkan untuk menyerahkan seluruhnya pada Baitul Maal. Keuntungan sama sekali tidak boleh diambil oleh mereka yang memanfaatkan harta haram tadi. Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar menyanggah ayahnya dengan mengatakan bahwa seandainya harta tersebut rusak, maka dhoman (ganti rugi) bagi yang memegangnya saat itu. Kalau punya kewajiban ganti rugi, lalu mengapa dalam masalah keuntungan tidak didapat? ‘Umar lantas terdiam. Kemudian sebagian sahabat mengatakan pada ‘Umar bahwa harta tersebut di bagi saja untuk mereka dan separuhnya lagi untuk (maslahat) kaum muslimin, yaitu setengah keuntungan pada mereka dengan setengahnya lagi pada kaum muslimin. ‘Umar pun memilih melaksanakan hal itu.

Inilah yang jadi pilihan para fuqoha dalam masalah mudhorobah yang berasal dari ketetapan ‘Umar bin Al Khottob dan para sahabat pun sependapat dengannya, dan inilah bentuk keadilan. Keuntungan yang tumbuh dari harta haram tersebut tidaklah dikhususkan milik salah satunya. Begitu pula tidaklah harta tersebut disucikan seluruhnya melalui sedekah dengan seluruh harta tadi. Yang tepat, keuntungan tersebut milik mereka berdua, sebagaimana pembagian dalam akad mudhorobah.” (Majmu’ Al Fatawa, 30: 323)

Sehingga misalnya ada seseorang yang memanfaatkan harta curian atau korupsi untuk investasi, maka ia hanya berhak mendapat 50% dari hasil keuntungan. Sisanya diserahkan kepada pemilik harta yang sebenarnya. Jadi pemilik sebenarnya, mendapatkan harta modal, ditambah dengan 50% keuntungan dari harta modal tersebut.
Sedangkan kalau investasi tersebut mengalami kerugian, maka yang menanggung kerugiannya adalah yang memegangnya saat itu (koruptor/pencuri). Sehingga pemilik yang sebenarnya, mendapatkan harta modal penuh, yaitu harta yang telah dicuri atau yang dikorupsi, dikembalikan penuh kepada pemilik sebenarnya, semua harta yang telah diambilnya .
Jika tidak memungkinkan mengembalikan kepada pemilik sebenarnya, maka modal dan separuh dari keuntungan tadi disucikan dengan disalurkan untuk kemaslahatan kaum muslimin, seperti untuk menolong orang fakir, membangun rumah sakit, atau membangun sekolah (Tapi tidak untuk pembangunan Masjid*). Jika ternyata pemilik harta tadi datang, maka jelaskan bahwa seluruh hartanya telah disedekahkan atau mengembalikan sejumlah uang yang menjadi haknya yang tersisa. Lihat Fatwa Islamweb.

*) Demikian pendapat ulama Lajnah Ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia. Tidak boleh harta tersebut disalurkan untuk pembangunan masjid karena haruslah harta tersebut berasal dari harta yang thohir (suci).
Pendapat ini muncul karena kewaro’an (kehati-hatian) dalam masalah asal yaitu shalat di tanah rampasan (al ardhul maghsubah), di mana masalah kesahan shalat di tempat tersebut masih diperselisihkan. Jadinya hal ini merembet, harta haram tidak boleh disalurkan untuk pembangunan masjid. [Disarikan dari penjelasan Syaikh Kholid Mihna, http://www.almoslim.net/node/82772]


Berikut ini ayat2 yang mendukung supaya kita segera berbuat baik:

1.a. Perintah untuk Bersegera Berbuat Kebaikan
Ali imran ayat 133:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

1.b. Perintah untuk Selalu Menafkahkan Hartanya di Waktu Lapang (kaya) ataupun Sempit (miskin, tentunya kadarnya berbeda dibandingkan saat masih kaya) Dan Perintah untuk Memaafkan Kesalahan Orang lain Walaupun Kita Mampu untuk Membalasnya
Ali imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

1.c. Sedangkan Bagi Manusia yang Telah Berbuat Dosa, Hendaknya Mereka segera Memohon Ampun Terhadap Dosa2nya dengan Segera dan Sungguh2:
Ali imran ayat 135:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

>>> Balasan Bagi yang telah Melaksanakan 1.a, 1.b, 1.c, yakni:
Ali imran ayat 136:

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Jumat, 19 Januari 2018

Nasehat Haji Wada'


Dari Abu Umamah yaitu Shuday bin 'Ajlan al-Bahili r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. berkhutbah dalam haji wada' - haji terakhir bagi beliau s.a.w. sebagai mohon diri, kemudian beliau s.a.w. bersabda:
"Bertaqwalah kepada Allah,
kerjakanlah shalat lima waktumu,
lakukanlah Puasa dalam bulanmu - Ramadhan,
tunaikanlah zakat harta-hartamu
dan taatilah pemegang-pemegang pemerintahanmu, maka engkau semua akan dapat memasuki syurga Tuhanmu."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dalam akhir kitab bab shalat dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda dalam haji wada'- yakni haji terakhirnya Nabi s.a.w. sebagai tanda meminta diri -: "Mintalah orang-orang itu supaya mendengarkan baik-baik." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku nanti, lagi pula janganlah yang sebagian dari engkau semua itu memukul/memenggal leher sebagian lainnya (saling membunuh/berperang)," maksudnya janganlah melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan terjadinya perceraian, permusuhan dan pertempuran antara sesama kaum Muslimin." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Bakrah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda dalam khutbahnya pada hari Nahar - yakni hari raya Kurban, di Mina dalam melakukan haji wada' - ibadat haji terakhir bagi beliau s.a.w. sebagai mohon diri:
"Sesungguhnya darah-darahmu, harta-hartamu dan kehormatan-kehormatanmu semua itu adalah haram dilanggar sebagaimana kesucian harimu itu - 'Idul Adha - dalam bulanmu ini dan dalam negerimu ini.
Ingatlah, tidakkah saya telah menyampaikan." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Ishak, yakni Sa'ad bin Abu Waqqash, yakni Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai al-Qurasyi az-Zuhri r.a., yaitu salah satu dari sepuluh orang yang diberi kesaksian akan memperoleh syurga radhiallahu 'anhum, katanya:
Rasulullah s.a.w. datang padaku untuk menjengukku pada tahun haji wada' - yakni haji Rasulullah s.a.w. yang terakhir dan sebagai haji pamitan - kerana kesakitan yang menimpa diriku, lalu saya berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saja kesakitanku ini telah mencapai sebagaimana keadaan yang Tuan ketahui, sedang saya adalah seorang yang berharta dan tiada yang mewarisi hartaku itu melainkan seorang puteriku saja. Maka itu apakah dibenarkan sekiranya saya bersedekah dengan dua pertiga hartaku?" Beliau menjawab: "Tidak dibenarkan." Saya berkata pula: "Separuh hartaku ya Rasulullah?" Beliau bersabda: "Tidak dibenarkan juga." Saya berkata lagi: "Sepertiga, bagaimana ya Rasulullah?"
Beliau lalu bersabda: "Ya, sepertiga boleh dan sepertiga itu sudah banyak atau sudah besar jumlahnya. Sesungguhnya jikalau engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya-kaya, maka itu adalah lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta pada orang banyak. Sesungguhnya tiada sesuatu nafkah yang engkau berikan dengan niat untuk mendapatkan keridhaan Allah, melainkan engkau pasti akan diberi pahalanya, sekalipun sesuatu yang engkau berikan untuk makanan isterimu."

Abu Ishak meneruskan uraiannya: Saya berkata lagi: "Apakah saya ditinggalkan - di Makkah - setelah kepulangan sahabat-sahabatku itu?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya engkau itu tiada ditinggalkan, kemudian engkau melakukan suatu amalan yang engkau maksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, melainkan engkau malahan bertambah derajat dan keluhurannya. Barangkali sekalipun engkau ditinggalkan - karena usia masih panjang lagi -, tetapi nantinya akan ada beberapa kaum yang dapat memperoleh kemanfaatan dari hidupmu itu - yakni sesama kaum Muslimin, baik manfaat duniawiyah atau ukhrawiyah - dan akan ada kaum lain-lainnya yang memperoleh bahaya dengan sebab masih hidupmu tadi - yakni kaum kafir, sebab menurut riwayat, Abu Ishak ini tetap hidup sampai dibebaskannya Irak dan lain-lainnya, lalu diangkat sebagai gubernur di situ dan menjalankan hak dan keadilan.

Ya Allah, sempurnakanlah pahala untuk sahabat-sahabatku dalam hijrah mereka itu dan janganlah engkau balikkan mereka pada tumit-tumitnya - yakni menjadi murtad kembali sepeninggalnya nanti.
Tetapi yang miskin - rugi - itu ialah Sa'ad bin Khaulah.
Rasulullah s.a.w. merasa sangat kasihan padanya sebab matinya di Makkah.
(Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Sa'ad bin Khaulah itu dianggap sebagai orang yang miskin dan rugi, karena menurut riwayat ia tidak mengikuti hijrah dari Makkah, jadi rugi karena tidak ikutnya hijrah tadi.
Sebagian riwayat yang lain mengatakan bahwa ia sudah mengikuti hijrah, bahkan pernah mengikuti perang Badar pula, tetapi akhirnya ia kembali ke Makkah dan terus wafat di situ
sebelum dibebaskannya Makkah saat itu. Maka ruginya ialah karena lebih sukanya kepada Makkah sebagai tempat akhir hayatnya, padahal masih di bawah kekuasaan kaum kafir. Ada lagi riwayat yang menyebutkan bahwa ia pernah pula mengikuti hijrah ke Habasyah, mengikuti pula perang Badar, kemudian mati di Makkah pada waktu haji wada' tahun 10, ada lagi yang meriwayatkan matinya itu pada tahun 7 di waktu peletakan senjata antara kaum Muslimin dan kaum kafir. Jadi kerugiannya di sini ialah karena ia mati di Makkah itu, karena kehilangan pahala yang sempurna yakni sekiranya ia mati di Madinah, tempat ia berhijrah yang dimaksudkan semata-mata sebab Allah Ta'ala belaka.

Jumat, 12 Januari 2018

Beberapa Hadis yang Disoroti

Bab: Shalat Fardhu Diatas Kendaraan 

Pro dan kontra dalam pelaksanaan shalat fardhu, apakah boleh dikerjakan di atas kendaraan atau tidak boleh sehingga melahirkan istilah hanya shalat lihurmatil waqti (shalat sunah untuk menghormati waktu). Berikut ini ditemukan hadits-hadits bahwa Nabi SAW dan para sahabat telah melaksanakan shalat Khauf (shalat dalam kondisi perang).

Di antara mereka ada yang melaksanakannya dengan berjalan kaki dan di antara mereka ada juga yang melaksanakannya di atas kendaraan mereka. Dengan demikian semestinya tidak perlu diragukan bahwa shalat fardhu pun juga boleh dilaksanakan di atas kendaraan sebagaimana diperbolehkannya shalat sunah di atas kendaraan.
Dengan demikian kesaksian sahabat bahwa saya hanya melihat Nabi shalat sunah di atas kendaraan dan tidak dalam shalat wajib, tidak bisa dimaknai "tidak boleh" melainkan itulah pemahaman dia dalam mendampingi Rasulullah SAW.

Penafian seperti juga muncul, misalnya pernyataan Aisyah,"Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW buang hajat dengan berdiri". Itu bukan berarti "tidak boleh buang hajat dengan berdiri".
Dinarasikan Jabir ibn Abdullah ra, "Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika dalam perang Bani Anmar, beliau melaksanakan shalat (Khauf) di atas kendaraannya menghadap ke arah timur." (HR. Al- Syafii: 194)

Dinarasikan Nafi':"Apabila Abdullah ibn Umar ditanya tentang shalat Khauf, dia berkata: Imam dan sekelompok (pertama) maju ..." Dalam riwayat lain, "Apabila perang telah berkecamuk maka di antara umat ada yang shalat sambil berjalan dan di antara mereka ada yang berkendaraan, ada yang menghadap ke arah kiblat namun juga ada yang tidak menghadap ke arah kiblat."
Malik berkomentar, "Saya tidak meragukan sekiranya Abdullah ibn Umar memaparkannya secara al-marfu' (dinisbatkan kepada Nabi)." (HR. Al-Syafii: 79).

Dinarasikan Nafi'dari ibn Umar (menurut hemat saya dia dari Nabi SAW), lalu dia menyebutkan shalat Khauf. Katanya,"Apabila shalat telah berkecamuk, maka mereka shalat berjalan kaki dan berkendaraan, ada yang menghadap ke arah kiblat dan ada juga yang tidak menghadap ke arah kiblat."(HR. Al-Syafii: 1088).

Dinarasikan Jabir ibn AbduIllah ra.: "Ketika Nabi SAW memimpin perang bani Anmar, beliau shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah timur." (HR. Muslim: 1182).{}

Bab: Makna Dibalik Boneka Aisyah ra

Dinarasikan Aisyah RA bahwa Nabi Muhammad SAW menikahinya ketika dia berusia enam tahun, dan dia diantar ke kamar Nabi ketika berusia sembilan tahun, dan ketika itu dia sedang membawa bonekanya, sedangkan Nabi wafat ketika dia berusia delapan belas tahun. (HR. Bukhari: 2549)

Tidak dimungkiri bahwa "boneka" bisa jadi merupakan bagian dari hasil pahatan, yang dalam bahasa hadits sering dilafadzkan dengan "al-taswir" dapat diterjemahkan sebagai pahatan atau lukisan. Hadits di atas merupakan bukti nyata bahwa tidak semua pahatan atau lukisan dilarang dalam agama.
Dari penulusuran berbagai hadits, pahatan atau lukisan yang dikutuk pelakunya adalah jika pahatan dan lukisan tersebut memiliki "ruh" Penjelasan Nabi yang sedemikian itu sangat penting.
Hanya saja ulama masih memperdebatkan maksud memiliki ruh tersebut. Menurut hemat saya, tidak mungkin diartikan 'bernyawa', karena tidak ada mahluk Allah di muka bumi ini yang tidak bernyawa, bahkan sampai gunung pun bersujud kepada Allah, tumbuh-tumbuhan juga berkembang, layu dan mati.
Dengan demikian menurut hemat penulis pahatan atau gambar tersebut"memiliki ruh", dimaknai jika pahatan atau gambar itu diyakini memiliki sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat dan mudharat, seperti pahatan yang dijadikan sesembahan, lukisan yang dipajang sedemikian rupa, diberi dupa, kalungan bunga dan sebagainya.

Seperti itu pula budaya bangsa Indonesia ketika meletakkan keris (yang dianggap mempunyai kekuatan/ruh) di tempat tertentu, apabila diyakini adanya unsur yang dapat mendatangkan manfaat dan mudharat akan dapat berdampak kesyirikan yang dikutuk menurut agama Islam.

------------------------------------->
Dalil-dalil larangan Menyerupai Ciptaan Allah:

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِى عَلَى سَهْوَةٍ لِى فِيهَا تَمَاثِيلُ ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – هَتَكَهُ وَقَالَ « أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ » . قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari suatu safar dan aku ketika itu menutupi diri dengan kain tipis milikku di atas lubang angin pada tembok lalu di kain tersebut terdapat gambar-gambar. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hal itu, beliau merobeknya dan bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah.” ‘Aisyah mengatakan, “Akhirnya kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal.”  (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107).

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ ، فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan (buat).” (HR. Bukhari no. 2105 dan Muslim no. 2107)

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang peling berat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah al mushowwirun (pembuat gambar).” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109).

Beberapa Pengecualian:

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِى سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ « مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ ». قَالَتْ بَنَاتِى. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ « مَا هَذَا الَّذِى أَرَى وَسْطَهُنَّ ». قَالَتْ فَرَسٌ. قَالَ « وَمَا هَذَا الَّذِى عَلَيْهِ ». قَالَتْ جَنَاحَانِ. قَالَ « فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ ». قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khoibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.” Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu suatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?” ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud no. 4932 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 890. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hadits ini diceritakan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Tabuk. Ini sudah menunjukkan bahwa hadits ini tidak dimansukh (dihapus) karena datangnya belakangan.

Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata,

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَ لِى صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِى ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَىَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِى

“Aku dahulu pernah bermain boneka di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Aku memiliki beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasululah shallallahu ‘alaihi wa salam masuk dalam rumah, mereka pun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku” (HR. Bukhari no. 6130).

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menyebutkan, “Para ulama berdalil dengan hadits ini akan bolehnya gambar (atau patung atau boneka) berwujud perempuan dan bolehnya mainan untuk anak perempuan. Hadits ini adalah pengecualian dari keumuman hadits yang melarang membuat tandingan yang serupa dengan ciptaan Allah. Kebolehan ini ditegaskan oleh Al Qodhi ‘Iyadh dan beliau katakan bahwa inilah pendapat mayoritas ulama.” (Fathul Bari, 10: 527).

Ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambali beralasan dengan pengecualian tersebut bahwa mainan tadi dibolehkan karena ada hajat untuk mendidik anak. Ini berarti, jika tujuannya hanya sekedar dipajang di rumah, maka tentu tidak dibolehkan.

Patung Tanpa Kepala
Dalam Al Mughni karya Ibnu Qudamah disebutkan, “Ketika gambar atau patung dibentuk dari badan tanpa kepala atau kepala tanpa badan atau dijadikan kepala tetapi bagian lainnya adalah berbentuk lainnnya selain hewan, ini semua tidak termasuk dalam larangan.”

Namun menurut ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika bagian tubuh lain tidak ada, lalu masih tersisa kepala, maka pendapat yang rojih (kuat), gambar atau patung tersebut masih tetap haram.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7: 270. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921)
<-------------------------------------


Bab: Hadits Baju Merah

------------------------------------->
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

نُهِيتُ عَنْ الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا رَاكِعٌ

“Aku dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai cincin emas dan membaca Al-Qur’an saat rukuk.” (HR. An Nasai no. 5266. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
<-------------------------------------

Dinarasikan Aun ibn Abi Juhaifah dari bapaknya: Saya mendatangi Nabi SAW di Makkah, ketika itu Nabi berada di Abthah, dengan mengenakan jubah merah terbuat dari kulit. Sekonyong-konyong Bilal datang membawakan air wudhu untuk beliau.
Dari sisa air itu ada orang yang mendapatkannya dan ada pula yang hanya mendapat percikannya. Kemudian Nabi SAW, keluar memakai pakaian merah. Seolah-olah saya masih melihat (bagaimana) putihnya betis Nabi. Lalu Nabi SAW, wudhu, dan Bilal adzan. Saya mengikuti gerak-gerik mulut Bilal berseru ke kanan dan ke kiri mengucapkan: Hayya 'alas shalah, hayya 'alal falah.
Kemudian Bilal menancapkan sebuah tongkat berujung besi, lalu Nabi SAW, maju ke depan mengimami shalat qasar Dzuhur dua rakaat. (Ketika Nabi sedang shalat), keledai dan anjing digiring lewat di depan Nabi (di balik tongkat itu), tetapi ia tidak dicegah (oleh Nabi SAW). Kemudian shalat Ashar dua rakaat, kemudian tetap shalat dua rakaat hingga (tiba) kembali di Madinah. Hadits diriwayatkan Muslim (dalam al-Shahih Muslim : 1147).

Hadits ini menjadi qarinah, bahwa tidak semua pakaian warna "merah" diancam masuk ke dalam neraka. Sekiranya digeneralisasikan bahwa semua orang yang berpakaian warna merah mereka diancam neraka, tentu mustahil Nabi SAW sendiri yang melanggarnya.

Maka di balik orang berpakaian merah itulah yang dicari latar belakang historisnya, kenapa pemakainya sampai diancam Nabi akan terkena api neraka. Bisa jadi karena kesombongannya, atau sikap pamernya atau perasaan dirinya yang paling hebat dan sebagainya, merupakan indikasi pelakunya layak mendapatkan ancaman neraka tersebut.


Bab: Al Quran Berbahasa Quraisy

Dinarasikan Anas ibn Malik RA: Hudzaifah ibn al-Yamani datang kepada Utsman setelah sebelumnya memerangi penduduk Syam yakni pada saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan bersama penduduk Irak.
Ternyata perselisihan mereka dalam bacaan Al Quran mengejutkan Hudzaifah. Maka Hudzaifah berkata kepada Utsman,"Rangkullah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al Quran sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani."
Akhirnya Utsman mengirim surat kepada Hafsah yang berisikan,"Tolong kirimkanlah lembaran Al Quran kepada kami, agar kami dapat segera menyalinnya ke dalam lembaran yang lain. Lalu kami akan segera mengembalikannya kepada Anda."
Maka Hafsah pun mengirimkannya kepada Utsman. Lalu Utsman memerintahkan kepada Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Sa'id ibn Asyh dan Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam, sehingga mereka menyalinnya ke dalam lembaran yang lain.
Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy dari mereka,"Jika kalian berselisih dengan Zaid ibnTsabit terkait dengan Al Quran, maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sebab Al Quran turun dengan bahasa mereka.
Kemudian mereka mengindahkan perintah itu hingga penyalinan selesai dan Utsman pun mengembalikannya ke Hafsah. Setelah itu, Utsman mengirimkan sejumlah lembaran yang telah disalin ke berbagai penjuru negeri kaum muslim, dan memerintahkan untuk membakar Al-Qur an yang terdapat pada selain lembaran tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (HR Bukhari: 4987).

Berangkat dari teks di atas maka dapat dipahami bahwa Al Quran bukan berbahasa Arab pada umumnya, melainkan mengerucut pada bahasa Quraisy. Untuk itu mencari kesejatian makna Al Quran harus merujuk kepada pemahaman Quraisy sebagai bahasa ibu Al Quran.
Dengan demikian untuk memahami bahasa 'wahyu', tidak cukup hanya merujuk kepada kamus umum Arab, melainkan kamus khusus yang dipakai oleh bangsa Quraisy. Seperti kalimat "ittaqillah"tidak selamanya dimaknai "bertakwalah kepada Allah", namun lebih banyak berkonotasi pada pemaknaan "Anda salah, atau jangan begitu, dan sejenisnya".

Demikian semoga membari manfaat dan wawasan keilmuan kita. {*}


Bab: Umrah di Bulan Rajab 
Dinarasikan Mujahid: "Saya dan Urwah ibn Zubair memasuki sebuah masjid, ternyata Abdullah ibn Umar sedang dudukdi sebelah kamar Aisyah. Kemudian Urwah ibn Zubair bertanya: Berapa kali Nabi SAW berumrah? Ibn Umar menjawab: Empat kali. Salah satunya dilakukan di bulan Rajab. (HR. Bukhari: 4253).
Dinarasikan Urwah: "Wahai ummul mukminin, apakah Anda belum mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Abdurrahman bahwa Rasulullah SAW berumrah empat kali. Maka Aisyah berkata: Nabi SAW tidak pernah berumrah kecuali Ibn Umar menyertainya, dan Nabi sama sekali tidak pernah berumrah pada bulan Rajab. (HR. Bukhari: 4254).

Penjelasan:
Kedua hadits tersebut sama-sama hadits fi'li, cerita sahabat terhadap perilaku Rasulullah SAW. Perbedaannya, periwayatan pertama datang dari Ibn Umar, sedangkan yang kedua dari periwayatan Aisyah.
Kedua-duanya telah menceritakan bahwa seumur hidup Nabi hanya melaksanakan umrah selama empat kali, demikian pula para sahabat yang lain, dan ternyata hanya Ibn Umar yang menceritakan Umrah Nabi di bulan Rajab, yang lain tidak bahkan Aisyah telah mengingkarinya.

Disinilah letak syadz periwayatan Ibn Umar, maka yang lebih dekat adalah periwayatan Aisyah. (Hadits syadzadalah hadits yang diriwayatkan oleh satu perawi tsiqah saja dan tidak memiliki penguat). wallahu a'lam. {*}


Bab: Status Hadits


------------------------------------->
Hadits Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat

اختلاف أمتي رحمة
“Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat.” (As Suyuthi mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Nashr Al Maqdisi dalam kitab Al Hajjah secara marfu’ dan Al Baihaqi dalam Al Madkhal  dari Al Qasim bin Muhammad dan ini adalah ucapan beliau. Lihat Ad Durar Mutanatsirah, Hal. 1)

Hadits tersebut tidak sah, bahkan batil dan tidak ada sumbernya.

Imam Subki berkata:
“Saya tidak melihat Hadits tersebut mempunyai sanad yang sah, atau dha’if, atau palsu.”

Syaikh Al Albani mengatakan: “Hadits ini tidak ada asalnya. Banyak para muhadditsin yang mencoba mencari sanadnya tetapi mereka tidak menemukannya, sampai-sampai As Suyuthi berkata dalam Al Jami’ Ash Shaghir: “Barang kali hadits ini telah dikeluarkan oleh sebagian kitab para imam yang belum sampai kepada kita.” Menurutku ini sangat jauh. (As Silsilah Adh Dhaifah, 1/141/57) Dalam kitabnya yang lain beliau menyatakan hadits ini maudhu’ (palsu) ( Dhaiful Jami’ No. 230)

As Sakhawi juga mengatakan bahwa banyak para imam yang menyangka bahwa hadits ini tidak ada asalnya. (Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 14. Kasyf Al Khafa’, 1/65)


Hadits Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun?

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun

Hadis ini disebutkan dalam kitab al-Adzamah dengan sanad: Berkata Abu Syaikh, dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Perawi  yang bernama Ishaq bin Najih dan Utsman bin Abdillah dinilai para ulama sebagai pendusta.

Ibnul Jauzi menilai hadis ini:

هذا حديث لا يصح ، وفي الإسناد كذّابان ، فما أفلت وضعُه مِن أحدهما : إسحاق بن نجيح، قال أحمد : هو أكذب الناس ، وقال يحيى : هو معروف بالكذب ووضع الحديث ، وقال الفلاس : كان يضع الحديث على رسول الله صلى الله عليه وسلم صراحا ، والثاني : عثمان ، قال ابن حبان : يضع الحديث على الثقات

Hadis ini tidak benar, sementara dalam sanadnya terdapat 2 perawi pendusta. Status palsu hadis ini disebabkan keberadaan salah satu dari mereka. Ishaq bin Najih, yang kata Imam Ahmad: “Manusia paling pendusta.” Sementara Yahya bin Main berkomentar: “Terkenal suka berdusta dan memalsukan hadis.” Kata Imam al-Fallas: “Dia memalsukan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terang-terangan.”

Mungkin maksudnya baik, namun karena ia menyandarkan kepada Nabi SAW, padahal sebenarnya bukan (dusta), maka menjadi buruk dan tercelalah tindakannya itu.
Berikut ini yang dari Alquran:
Berfikir, merenungkan ayat-ayat Allah, dalam rangka semakin mengagungkan Allah, adalah perbuatan yang terpuji. Allah memujinya dalam al-Quran, diantaranya,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191).

Hadits Mengusap Kepala anak Yatim pada hari ‘Asyura

Dalam kitab al-Atsar al-Marfu’ah fil Akhbar Maudhu’ah, milik Abdul Hayyi al-Laknawi, disebutkan riwayat cukup panjang dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhumai yang marfu’ kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, salah satu isinya menerangkan keutamaan mengusap kepala anak yatim pada hari syura:

وَمَنْ مَسَحَ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رُفِعَتْ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ عَلَى رَأْسِهِ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ

“Dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari ‘Asyura maka dengan setiap rambutnya diangkat baginya satu derajat di surga.”

Redaksi di atas diawali dengan beberapa keutamaan puasa hari ‘Asyura yang sangat fantastis, yakni siapa yang berpuasa hari ‘Asyura maka Allah mencatat  untuknya ibadah selama 60 tahun dengan puasa dan shalat malamnya, ia diberi pahala 10 ribu malaikat dan pahala 10 ribu orang mati syahid. Lalu disebutkan keutamaan puasa hari ‘Asyura yang pelakunya akan diberi pahala sebanyak tujuh langit. Sementara siapa yang memberi berbuka orang mukmin pada hari tersebut seolah-olah ia memberi makan seluru fakir miskin umat nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mengeyangkan perut mereka.

Namun sayang, hadits dengan keutamaan luar biasa tersebut dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dengan sanad yang di dalamnya terdapat habib bin Abi Habib. Dalam Al-Maudhu’at, Ibnul jauzi juga menyatakan riwayat serupa: ini adalah hadits maudhu’ (PALSU) tanpa diragukan lagi. Beliau menjelaskan: Maudhu’ (hadits palsu) penyakitnya ada pada Habib.

>> Berikut ini hadis yang sahih:

dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا

“Saya dan orang yang merawat anak yatim di surga kelak seperti ini,” seraya beliau mengisyaratkan jari tengah dan telunjuknya lalu merenggangkan keduanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Imam al-Nawawi menjelaskan makna Kaafil al-Yatim: orang yang mengurusi kebutuhan-kebutuhannya. (Riyadhus shalihin. Bab: Mulathafah al-Yatim)

Ibnu Baththal Rahimahullah –disebutkan dalam  Fathul Baari- berkata: “wajib bagi siapa yang  mendengar hadits ini untuk mengamalkannya, supaya ia bisa menemani Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam di surga, dan tidak ada kedudukan di akhirat yang lebih utama darinya.”

<-------------------------------------

Hadits: Berpuasalah pasti Anda sehat
Hadits:"Berpuasalah pasti Anda sehat" dikeluarkan Thabrani dalam "al-Ausath" (2/225/1/8477), Abu Nu'aim dalam "al- Thibbi"(24/1 dan 2) dengan sanad: Muhammad ibn Sulaiman ibn Dawud, dari Zuhair ibn Muhammad, dari Suhail ibn Abu Shalih, dari bapaknya, dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW: Berpuasalah kalian pasti sehat.
Thabrani berkata: Tidak ada yang meriwayatkan dengan redaksi seperti ini kecuali Zuhair ibn Muhammad. Ini adalah periwayatan yang lemah karena merupakan periwayatan penduduk negeri Syam kepadanya. Dan hadits inilah contohnya.
Ibn Hajar dalam "Takhrij al-lhya" mengatakan: Hadits tersebut dikeluarkan Thabrani dalam "al- Ausath" dan Abu Nu'aim dalam "al-Thibbi al-Nabawi" dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah.
Al-Mundziri dalam al-Targhib: (2/60) dan Ibn Hajar al-Haitsami dalam al-Majma: (3/179) menyatakan perawi-perawinya tepercaya.

Namun harus dikaji lebih lanjut, karena sekadar keterpercayaan perawi belum jaminan keshahihan hadits, tanpa mengetahui cacat samarnya. Yaitu: Periwayatan penduduk Syam terhadap Zuhair ibn Muhammad yang dinilai lemah.
Berbeda dengan al-Shan'ani dalam Subulu Salam (3/179) yang menyatakan: Hadits ini palsu, yakni hadits dengan redaksi:
Berperanglah kalian pasti dapat rampasan, berpuasalah kalian pasti sehat, dan bepergianlah kalian pasti diampuni. Hadits ini dikeluarkan Ibn Adi dalam al-Kamil: (7/2521), yakni dengan sanad Nahsyal dari Dhahhak dari Ibn Abbas. Nahsyal adalah perawi yang periwayatannya harus ditinggalkan, dan Dhahhak ternyata tidak pernah mendengar dari Ibn Abbas.

Puasa memang dapat menjadikan sebagian pelakunya sehat. Bahkan dapat menjadi terapi kesehatan. Namun harus dipahami bahwa kebenaran wahyu adalah mutlak. Artinya konsep puasa jaminan kesehatan itu harus cocok secara universal dan kapan saja.
Padahal seseorang dalam kondisi tertentu akan berdampak berbahaya sekiranya yang bersangkutan berpuasa, itulah sebabnya Allah tidak mewajibkan mereka apabila memiliki udzur syar'i.
Wallahu a'lam.


RAJAB Bulan Allah 

Rajab syahrullah, wa Sya'ban syahri wa Ramadhan syahru ummati.
"Bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya'ban adalah bulan saya dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku."
Status: Hadis dhaif, bahkan palsu.

Penjelasan hadits:
Pada prinsipnya semua hari dan semua bulan adalah baik. Setiap insan muslim tidak diperbolehkan mencaci masa sebagaimana yang dipaparkan dalam hadits qudsi yang shahih.
Demikian pula dengan bulan, walaupun semua bulan itu baik namun ada yang diberikan keistimewaan yang memiliki nilai tambah dan fadhilah yang lebih dibanding dari pada bulan- bulan yang lain. Kemuliaan bulan Ramadhan itu sudah dipahami oleh umat Islam secara dharuri, namun kenapa muncul hadits di atas. Yang menggambarkan bahwa derajat bulan Ramadhan justru di bawah level bulan Sya'ban, dan bulan Sya'ban nilainya di bawah level bulan Rajab.
Ketika bulan Rajab itu dinisbatkan milik Allah, tentunya bulan Rajab itu adalah segala-galanya, tidak sebanding dengan bulan Sya'ban yang dinisbatkan milik Rasulullah.
Dan yang lebih fatal justru bulan Ramadhan lebih rendah dari bulan Sya'ban karena di dalam hadits di atas bulan Ramadhan hanya dinisbatkan kepada ummat Nabi Muhammad SAW. Padahal yang semestinya bulan Ramadhan itulah yang lebih mulia bahkan paling mulia. Berangkat dari hadits itulah kita saksikan umat lebih guyup menyambut kedatangan bulan Rajab ketimbang bulan Ramadhan.
Megengan (selamatan) menghadapi Rajabiyah pun lebih hebat ketimbang megengan untuk menghadapi Ramadhan. Bilamana menghadapi bulan Ramadhan banyak wanita subur tidak bingung menelan obat anti haid, namun ketika menghadapi bulan Rajab tampaknya banyak yang meminum obat anti haid.
Alasan mereka, kalau puasa Ramadhan dapat diqadha', namun puasa Rajabiyah tidak dapat diqadha', maka mereka memaksakan diri minum obat anti haid. Inilah dampak negatif terhadap keberadaan hadits-hadits dhaif bahkan palsu, berdampak melahirkan syariat yang dahulu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ternyata ditemukan "biangnya". Bulan Rajab itulah yang pada masa jahiliyah diagung- agungkan oleh Yahudi. Maka sekiranya umat Islam memiliki bulan yang mulia mereka tidak mau ketinggalan, sehingga dibuatkan hadits yang menggambarkan kemuliaan bulan Rajab, yang bahkan lebih hebat dari bulan Ramadhan itu sendiri.
Hadits palsu semacam inilah yang akhirnya dipropagandakan sehingga umat Islam lebih akrab dengan hadits palsu ketimbang hadits yang shahih. Ibn Abi Sytaibah dalam bukunya al-Mushannaf memaparkan: "Hampir Umar ibn Khattab memukul umat karena pemuliaan mereka terhadap bulan Rajab. Ketika umat mempuasai bulan Rajab, maka secara paksa Umar ibn Khattab memerintahkan untuk membatalkan, seraya mengatakan: Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan masyarakat jahiliyah."{}


RAMADHAN SAYYIDI SYUHU 

Sayyidi syuhursyahr Ramadhan wa sayyidil ayyam yaumul Jum'ah.
"Bulan yang paling dimuliakan adalah bulan Ramadhan dan hari yang paling dimuliakan
adalah hari Jum'at"
Status: Hadits mauquf dhaif.

Penjelasan hadits:
Keberadaan hari Jum'at sebagai hari yang termulia tidak dipermasalahkan, karena hadits yang menjelaskan hal itu sudah cukup sharih (jelas). Tentang keberadaan bulan Ramadhan sebagai bulan yang termulia ternyata tidak ditemukan hadits yang al-marfu’ (yang dinisbatkan kepada Nabi).
Yang ditemukan adalah hadits al-mauquf, yakni pernyataan sahabat Abdullah ibn Mas'ud, sehingga secara substansi belum bisa dijadikan landasan hukum. Namun apabila dikonfirmasikan dengan beberapa hadits lainnya, kemulian bulan Ramadhan memang tidak tertandingi dengan kemuliaan bulan-bulan yang lain.
Maka sudah dapat dimaklumi secara darurat bahwa bulan Ramadhan layak disebut sayyidis syuhur (bulan yang paling dimuliakan). Qarinah yang dapat dikedepankan misalnya, umrah di bulan Ramadhan dinilai sama dengan haji bersama Nabi, apabila amalan kebajikan umat dilipat-gandakan sepuluh kali, maka tidak sama halnya dengan amalan di bulan Ramadhan, amalan sunnah dinilai amalan wajib di bulan

Ramadhan, belum lagi di bulan Ramadhanlah saat diturunkannya Al Quran, di bulan Ramadhan terjadinya lailatul Qadar dan sebagainya.
Maka tanpa adanya teks Al Quran atau hadits Nabi sudah dapat dipahami bahwa pernyataan Abdullah ibn Mas'ud di atas merupakan pernyataan yang riil. Berangkat dari informasi di atas, maka orang Yahudi tidak tinggal diam. Mereka membuat hadits opini yang memposisikan bulan Rajab setara dengan bulan Ramadhan, bahkan dibuatkan opini bahwa bulan Rajab jauh lebih mulia ketimbang bulan Ramadhan.
Apabila bulan Ramadhan diistilahkan bulan milik Muhammad, maka bulan Rajab diformalkan sebagai bulan milik Allah. Apabila ada hadits shahih yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Ramadhan, maka dibuatkan hadits yang menunjukkan puasa di bulan Rajab jauh lebih utama daripada puasa di bulan Ramadhan.
Apabila di bulan Ramadhan dimuliakan dengan adanya malam lailatul Qadar, maka dibuatkan malam Raghaib yang fadhilahnya jauh lebih hebat daripada fadhilah Lailatul Qadar. Begitu seterusnya sehingga umat Islam lebih mengenal hadits Rajabiyah daripada hadits qiyam Ramadhan.
Indikasinya tampak, megengan untuk menghadapi Rajabiyah lebih hebat ketimbang menghadapi bulan Ramadhan. Apem Rajabiyah jauh lebih besar daripada apem Ramadhan. Akhirnya kita terpuruk dalam peribadatan yang justru tidak ada tuntunan yang shahih dari Nabi SAW. {}


INTI HAJI ADALAH WUKUF DI ARAFAH 

AI-Hajju Arafat, man ja-a qabla shalat subhi min Lailatil jam'i faqad tamma hajiuhu.
”Inti ibadah haji adalah wukuf di Arofah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu Subuh pada malam Muzdalifah, maka hajinya telah Sempurna."
status: Hadis shahih.

Penjelasan Hadits:
Hadits di atas mempunyai asbab wurud (latar belakang historis lahirnya sebuah hadis), sebagaimana yang  dapat dicermati dari periwayatan Abdurrahman ibn Ya'mar dalam teks yang sempurna.
Dalam hadits tersebut dipaparkan bahwa Abdurrahman ibn Ya'mar berkata: Saya menghadap kepada Rasulullah SAW yang saat itu beliau sedang wukuf di Arafah. Lalu beliau didatangi sekelompok umat penduduk Nejed, di antara mereka ada yang diperintah untuk menyeru: Wahai Rasulullah, bagaimana tata krama ibadah haji?
Maka Rasulullah SAW menyuruh seseorang yang menyatakan “Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu Subuh pada malam Muzdalifah maka hajinya telah sempurna".
Dengan adanya asbabul wurud di atas menunjukkan alangkah gampangnya pelaksanaan ibadah haji, walaupun sebagian orang menganggapnya ibadah yang sangat melelahkan. Bagi mereka yang melaksanakan "tarwiyah" (tanggal delapan Dzul Hijjah menuju ke Mina untuk mabit atau bermalam disitu mulai dari shalat Dhuhur sampai shalat Subuh) tentu akan mendapatkan kendala untuk dapat melaksanakan wukuf di Arafah mulai setelah tergelincirnya matahari. Hal ini dikarenakan perjalanan tanggal sembilan Dzul Hijjah dari Mina menuju Arafah sangat padat, bahkan tidak sedikit di antara jamaah haji yang tidak mendapatkan kendaraan menuju Arafah. Mereka harus berjalan kaki. Kalaulah ada yang mendapatkan kendaraan, itupun tidak semudah untuk dapat ke lokasi wuquf yang ditentukan.
Akhirnya banyak yang baru sampai di Arafah menjelang Maghrib, bahkan menjelang Isya'. Maka tidak sedikit di antara mereka yang menilai hajinya tidak sah Karena dalam pandangan mereka waktu wukuf itu hanya mulai setelah Dhuhur sampai Maghrib.
Maka hadits di atas tentunya dapat dijadikan argumentasi kekeliruan pendapat mereka, karena menurut hadits yang shahih, walaupun kita terlambat memasuki Arafah, dan baru sampai ke tempat tersebut sebelum terbitnya fajar (waktu Subuh) oleh Rasulullah SAW dinyatakan sah hajinya.
Beginilah nikmat mengkaji hadits, sehingga kita temukan begitu sederhananya tuntunan Rasulullah SAW. []

------------------------------------->
Catatan Admin:
Menurut pengalaman Admin, tidak ada bedanya yang ikut "tarwiyah" ataupun yang ikut haji reguler (pemerintah RI). Semuanya padat, namun kalau pihak KBIH sudah bekerjasama dengan pihak Mu'assasah setempat, biasanya tidak ada kesulitan dalam tersedianya kendaraan. Tentunya bagi yang ikut "tarwiyah" harus merogoh kocek lebih dalam lagi, sebagaimana yang ditawarkan oleh KBIH-nya.
Pemerintah Arab Saudi sendiri sangat ketat memonitoring lalu-lintas kendaraan, dengan dibantu oleh petugas haji dari Indonesia. Sehingga hampir dipastikan semua jamaah terangkut ke Arofah sebelum siang tgl 9 Dzulhijah.
Ada yang diangkut mulai tanggal 8 Dzulhijjah siang (Haji reguler), dan ada yang mulai pagi tgl 9 Dzulhijjah-nya (yang ikut "tarwiyah"). Dan menjelang tengah malam, tgl 10 Dzulhijah, Arofah wajib dikosongkan, semua tenda2 dibongkar, dan ada tim penyisiran untuk menyisir jamaah yang tertinggal.
<-------------------------------------


Sumber:
Buletin Al Falah Beberapa Edisi
Oleh:
Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.
Dewan Syariah YDSF Surabaya

------------------------------------->
Dan ada tambahan dari Admin, dari berbagai sumber dan juga pengalaman pribadi
<-------------------------------------.