Masuknya cerita-cerita Israiliyyat ke
dalam tafsir dan hadith pada awalnya didahului oleh masuknya kebudayaaan
Israiliyyat (Yahudi) ke dalam peradaban Arab Jahiliyah. Pada waktu itu di
tengah-tengah kehidupan bangsa Arab hiduplah sekelompok Ahl al-Kitab, yaitu
kaum Yahudi yang pindah ke Jazirah Arab di waktu yang silam. Perpindahan
besar-besaran itu terjadi sekitar tahun 70 M. Hal ini dikarenakan mereka lari
menghindar dari ancaman dan siksaan dari kekuasaan Titus.[1]
Mereka pindah ke Jazirah Arab bersama
dengan kebudayaan yang mereka ambil dari kitab-kitab agama mereka.
Uraian-uraian kitab itu mereka terima sebagai warisan dari Nabi atau ulama
mereka, dan mereka wariskan dari generasi ke genarsi. Madras merupakan
sebuah tempat yang dijadikan sebagai pusat pengkajian kebudayaan warisan yang
mereka terima. Di tempat yang lain mereka juga menentukan beberapa tempat
tertentu sebagai sarana untuk beribadah dan menyiarkan agama.[2]