Senin, 22 April 2013

Masuknya cerita-cerita Israiliyyat ke dalam tafsir dan hadith (bag.5 dari 7)



Masuknya cerita-cerita Israiliyyat ke dalam tafsir dan hadith pada awalnya didahului oleh masuknya kebudayaaan Israiliyyat (Yahudi) ke dalam peradaban Arab Jahiliyah. Pada waktu itu di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab hiduplah sekelompok Ahl al-Kitab, yaitu kaum Yahudi yang pindah ke Jazirah Arab di waktu yang silam. Perpindahan besar-besaran itu terjadi sekitar tahun 70 M. Hal ini dikarenakan mereka lari menghindar dari ancaman dan siksaan dari kekuasaan Titus.[1]
Mereka pindah ke Jazirah Arab bersama dengan kebudayaan yang mereka ambil dari kitab-kitab agama mereka. Uraian-uraian kitab itu mereka terima sebagai warisan dari Nabi atau ulama mereka, dan mereka wariskan dari generasi ke genarsi. Madras merupakan sebuah tempat yang dijadikan sebagai pusat pengkajian kebudayaan warisan yang mereka terima. Di tempat yang lain mereka juga menentukan beberapa tempat tertentu sebagai sarana untuk beribadah dan menyiarkan agama.[2]
Adapun bangsa Arab pada masa jahiliyah dikenal sebagai masyarakat yang nomaden (berpindah-pindah). Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari belahan wilayah Timur sampai Barat.  Terdapat dua kota besar yang terkenal sebagai tujuan orang-orang Quraisy dalam bepergian. Yang pertama adalah Kota Syam yang mereka kunjungi bila musim panas, dan yang kedua adalah Yaman yang sering mereka kunjungi saat musim dingin tiba. Di kedua daerah tersebut pada waktu itu terdapat banyak sekali Ahl al-Kitab yang sebagaian besar adalah bangsa Yahudi. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan kalau diantara Yahudi dan orang-orang Arab terjalin hubungan. Pertemuan yang begitu intens terjadi baik ketika di Jazirah Arab maupun di tempat-tempat lainnya memungkinkan merembesnya kebudayaan Yahudi kepada bangsa Arab yang pada masa itu masih rendah serta dianggap jahiliyah. Proses transformasi budaya ini terjadi secara terus-menerus sampai datangnya agama Islam. Islam datang sebagai agama penyelamat dengan kitab sucinya al-Quran yang bernilai tinggi dan mempunyai ajaran yang tinggi pula. Dakwah Islam yang dipelopori oleh Muhammad SAW semakin meluas, tersebar ke beberapa daerah di Jazirah Arab termasuk diantaranya adalah Kota Madinah. Madinah merupakan salah satu tujuan hijrah Rasulullah SAW, di sana beliau mengajarkan ajaran Islam kepada para sahabat-sahabatnya. Di sekitar Madinah inilah tinggal beberapa bangsa Yahudi, seperti Bani Qainuqa', Bani Quraidhah, Bani Nadzir, Yahudi Khaibar, Tayma serta Fadak.[3]
Jalinan bertetangga antara kaum Muslimin dan orang Yahudi ini berdampak pada terjadinya pertemuan yang intensif antar keduanya. Dari situ, tukar-menukar ilmu pengetahuanpun terjadi. Diskusi, perdebatan, Tanya jawab antara umat Islam dengan orang-orang Yahudi menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan Rasul pun sering datang kepada golongan Yahudi guna mensyiarkan agama Islam. Begitu juga sebaliknya, orang-orang Yahudi juga kerap mengunjungi Nabi SAW untuk menyelesaikan suatu persoalan atau juga terkadang hanya sekedar ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu pada umumnya bersifat mempersempit ajaran Islam atau juga menguji akan kebenaran kenabiannya.[4]
Hal di atas (yaitu pertukaran budaya Yahudi dan Muslim) semakin diperkuat lagi dengan masuknya beberapa tokoh Ahl al-Kitab Yahudi ke dalam agama Islam. Diantaranya seperti Abdullah Ibn  Salam, Abdullah Ibn Suraya, Ka'ab al-Ahbar dan lain-lain yang pada umumnya memiliki pengetahuan yang luas mengenai kebudayaan Yahudi. Dengan demikian melekatlah kebudayaan Yahudi dengan kebudayaan Islam melalui media yang lebih luas. Kebudayaan Yahudi nyatanya memang memiliki pengaruh yang besar terhadap budaya Islam. Sebagaimana yang telah diceritakan oleh Ibn Katsir dalam kitabnya, bahwa budaya Yahudi tidak hanya berpengaruh dalam ilmu mujadalah atau diskusi saja, akan tetapi juga mampu mengintervensi ilmu kalam serta ilmu-illmu lainnya termasuk di dalamnya ilmu tafsir dan hadith seperti yang akan kita uraikan selanjutnya.[5]
Sebagaimana keterangan di atas, tafsir dan hadith merupakan salah satu ilmu yang terpengaruh oleh budaya Israiliyyat. Merembesnya Israiliyyat ke dalam tafsir dan hadith dapat kita lihat melalui dua periodesasi proses perkembangan ilmu-ilmu tersebut.  
Periode pertama adalah tahap periwayatan. Cerita Israiliyyat merembes ke dalam ilmu tafsir dan hadith dalam waktu yang bebarengan. Ini mengingat bahwa pada mulanya kedua ilmu ini merupakan satu kesatuan. Masalah ini terjadi pada masa sahabat. Mereka membaca al-Quran yang di dalamnya terdapat kisah-kisah dan berita-berita. Mereka melihat, bahwa al-Quran menceritakan kisah-kisah itu dalam batas nasihat dan ibarat. Sehingga apa yang telah perinci mereka satukan, sementara yang masih global mereka uraikan sesuai kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki. Hal ini terjadi dalam kondisi dimana mereka berdekatan dengan Ahl al-Kitab.  Juga dibarengi dengan masuknya beberapa Ahl al-Kitab ke dalam agama Islam. ahl al-Kitab baik yang telah memeluk agama Islam pada kenyataanya masih berpegang teguh pada tradisi ajaran-ajaran yang termuat dalam kitab-kitab warisan mereka (Taurat, Talmud, Injil, Zabur dsb). Sementara itu Taurat, Injil dan kitab-kitab mashur Bani Israil lainnya, (tidak dapat dipungkiri) juga mengandung cerita-cerita dan kejadian sebagaimana yang dicakup oleh al-Quran, terutama yang berhubungan dengan kisah para Nabi.[6]
Para sahabat yang sekaligus para mufassir (setelah Nabi wafat) mempunyai keinginan untuk mengetahui uraian kisah-kisah tersebut. Maka bertanyalah mereka kepada Muslim Ahl al-Kitab tentang hal itu. Mereka mempertanyakan kisah-kisah yang global dalam al-Quran, yang belum pernah dijelaskan oleh Rasul SAW sebelumnya secara perinci. Pada masa sahabat kesahihan periwayatan yang mereka terima dan mereka sampaikan sangatlah diperhatikan. Mereka tidak mau menerima kecuali sudah teruji kesahihan riwayat serta kebenaran riwayat yang sesuai dengan al-Quran. Setelah masa sahabat, datanglah era tabi'in. pada era ini penukilan dari ahl al-Kitab semakin luas dan cerit-cerita Israiliyyat dalam tafsir dan hadith semakin berkembang. Sumber utama perkembangannya adalah banyaknya orang-orang Ahl al-Kitab yang telah masuk Islam serta ditunjang dengan keinginan dari orang-orang untuk mendengarkan kisah-kisah yang ajaib dalam kitab mereka. Oleh sebab itu lahirlah tafsir yang banyak dipenuhi kisah-kisah yang lemah dari segi periwayatan dan samar dari segi isinya. Setelah masa tabi'in tumbuh kecintaan yang luarbiasa terhadap cerita Israiliyyat. Dan mereka cenderung mengambilnya secara ceroboh tanpa memeriksa terlebih dahulu mutu rowi dan kesesuaian isinya dengan al-Quran. Kecintaan terhadap cerita Israiliyyat ini berlangsung lama sampai periode pembukuan. Pada masa ini banyak bermunculan tukang-tukang kisah di masjid dan tempat-tempat lainnya. Sementara secara psikologis, masyarakat juga banyak yang suka mendengarkan kisah keajaiban-keajaiban serta hal-hal yang luar biasa walaupun jauh dari akal sehat.[7]
Periode kedua adalah tahap pembukuan. Pada periode ini hadith dibukukan dengan bantuan ilmu lain yang bermacam-macam, dan tafsir termasuk salah satu bagian darinya. Secara umum tafsir pada masa ini terbebas dari cerita-cerita Israiliyyat, kecuali sedikit saja darinya dan itupun tidak bertentangan denga nash syar'i. Bahkan sebagian dari cerita tersebut ada yang diriwayatkan dari Rasulallah melalui jalur periwayatan yang sahih.
Tafsir terpisah dari hadith dan masing-masing dibukukan tersendiri. Tafsir yang dibukukan pertama kalinya diterangkan juga masalah sanadnya. Tahap selanjutnya cerita-cerita Israiliyyat yang dibukukan jumlahnya mulai bertambah. Sebagian dari cerita tersebut sandarannya lemah dan isinya banyak yang keluar dari akal sehat alias aneh. Niscaya penyebutan sanad menjadi perlu. Sehingga mufasssir yang melakukan hal itu berpendapat bahwa: "semua riwayat yang diterangkan bersamaan dengan sanadnya, maka ia telah keluar dari tanggung jawabnya". Darinya orang yang ingin mengetahui mutu sanad lebih jauh, bisa menelitinya dengan seksama.[8]
Setelah itu datanglah masa dimana ulama membukukan tafsir dan hadith dengan membuang sanad-sanadnya dan menukilnya secara sembarangan tanpa ketelitian dan koreksi. Mereka mencampur adukkan antara riwayat yang sahih dengan riwayat yang dhaif dalam satu kitab, dan termasuk di dalamnya cerita-cerita Israiliyyat.

Baca Kelanjutannya

[1] Ahmad syadzali, Ulum al-Quran, hal 242 lihat juga kitab karya Israil alfansi, al-Yahudi fi Bilad al-Arab, hal 9.
[2] Ibid
[3]Ibid, hal 243
[4] ibid
[5] Ibid, hal 250
[6] Ibid, hal 251
[7] Al-Dzahabi, al-Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadith hal 40
[8] Ibid, hal 41

2 komentar: