Selasa, 29 September 2015

Berbuat Baik dan Tidak Perlu Sholat atau Ibadah lainnya?

Ada yang mengatakan berbuat-baiklah dan tidak usah melihat pengamalannya terhadap agama Islam ...
Pokoknya berbuat baik kepada semuanya, dan tidak perlu sholat atau ibadah yang lainnya ...
Agama itu urusan dapur, tidak perlu orang lain mencampuri urusan dapur seseorang, karena yang penting orang itu telah berbuat baik ...

Benarkah demikian? Benarkah Nabi SAW memerintahkan berbuat baik tanpa iman? Bukankah implementasi dari keimanan seseorang adalah mendirikan sholat, menunaikan zakat, dll ?
Dan perbuatan baik juga termasuk dari implementasi keimanan juga?
Semua itu merupakan implementasi dari keimanan, tidak bisa dipisahkan antara perbuatan baik, sholat dan implementasi ibadah lainnya ...
Itulah yang diajarkan Nabi SAW ...
Beliau selalu sholat fardlu berjamaah di masjid bersama para sahabatnya, dan beliau juga berbuat sangat baik terhadap semuanya ...
Beliau tidak pernah sedikitpun meninggalkan salah satu darinya ...

Seorang Mukmin hendaknya memperingatkan saudaranya, supaya selalu berbuat baik, tidak memecah agamanya, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat dll tanpa membeda-bedakan diantaranya, karena semua itu bukanlah urusan pribadi seseorang, melainkan urusan kaum mukmin untuk saling mengingatkan ...
Memperingatkan saudaranya tentunya dengan cara yg baik juga ...
Itulah kebaikan, untuk menuju keridloan Allah SWT ...
Kebaikan itu telah diatur dalam Islam, bagaimana ia baik terhadap agamanya dan ia juga baik terhadap sekitarnya ...

Bab. Pluralisme
Larangan untuk membenarkan dan mengamalkan isi kitab-kitab selain al-Quran ditegaskan oleh Rasulullah saat menegur Umar bin Khaththab ra. saat membawa lembaran-lembaran Taurat. Beliau bersabda:

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟ لَوْ كَانَ أَخِي مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnu al-Khaththab? Apakah dalam Taurat terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), andai saudaraku Musa hidup, ia tetap harus mengikuti (ajaran)-ku.”  (HR Ahmad dan ad-Darimi).

Sabda Nabi saw. ini menunjukkan bahwa kaum Muslim dilarang untuk mengikuti ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab selain al-Quran. Hadis ini pun menunjukkan kitab-kitab tersebut tidak berlaku lagi sejak al-Quran diwahyukan kepada Nabi saw.

 Pada tahun 2005, MUI telah mengharamkan paham pluralisme. Keputusan MUI ini berlandaskan pada firman Allah SWT. Di antaranya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi  (TQS Ali ‘Imran [3]: 85).

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian Ahlul Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir sesudah kalian beriman. (TQS Ali Imran [3]: 100).


Bab. BAGAIMANA HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT DENGAN SENGAJA? 
Seluruh Ulama ummat Islam sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya adalah kafir. Namun, mereka berselisih tentang orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa mengingkari kewajibannya. 
Penyebab perselisihan mereka adalah ada sejumlah hadits yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat tanpa membedakan, apakah karena mengingkari kewajibannya atau hanya karena malas untuk mengerjakannya? 

Hadits pertama: Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ 
Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat. (Shahih: HR. Muslim, no. 82; Abu Dawud, no. 4678; At-Tirmidzi, no. 2620 dan Ibnu Majah, no. 1078, dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu . Lihat Shahâh al-Jâmi’ish Shaghîr, no. 2848)

 Hadits kedua: Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. 
Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir. (Shahih: HR. Ibnu Majah, no. 1079; At-Tirmidzi, no. 2621 dan an-Nasa-i, I/231-232)

Hadits ketiga: Dari Tsauban Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيْمَـانِ الصَّلَاةُ ، فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ. 
Antara seorang hamba dengan kekufuran dan iman adalah shalat. Apabila ia meninggalkan shalat maka ia telah berbuat syirik. (Shahih: HR. Hibatullah ath-Thabari dengan sanad yang shahih dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah, no. 1521 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, no. 566)

Namun yang paling kuat dari berbagai pendapat para Ulama tentang kufur di sini adalah kufur kecil yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Wa Allahu 'alam ...

Bab. Membedakan Sholat dengan Zakat sepeninggal Nabi SAW. 
Abu Bakar, merespons keras terhadap masalah ini. Lalu beliau bangkit untuk memerangi mereka. Dia telah memahami hakikat kemurtadan tersebut. Oleh karena itu, sahabat yang terkenal lembut dan penuh toleransi ini memandang penanganannya harus dengan tegas dan keras.

Namun, Umar yang walaupun terkenal keras dan tegas berbeda pandangan. Umar tidak setuju untuk memerangi mereka. Dia menolak pandangan Abu Bakar dan memintanya untuk mengampuni mereka yang menolak membayar zakat asalkan mereka masih mengerjakan kewajiban lain. Umar berkata, “Satukanlah manusia dan berlemah lembutlah kepada orang-orang itu.”

Abu Bakar menjawab seakan dirinya kayu yang terbakar api. “Aku berharap bantuanmu, tetapi engkau mendatangiku dengan pembangkanganmu. Engkau begitu berani pada masa jahiliyah, tetapi menjadi pengecut setelah memeluk Islam. Lalu menurutmu, dengan apa kau harus menyatukan mereka? Dengan syair yang dikarang-karang atau dengan sihir penuh tipu daya? Tidak.
Rasulullah SAW sudah wafat dan wahyu terputus. Demi Allah selama pedang di tangan, aku akan memerangi mereka. Walaupun hanya menolak memberikan seutas tali unta yang dulu pernah mereka berikan kepada Rasulullah SAW.”

Mendengar jawaban tersebut Umar berkata, Bagaimana engkau akan memerangi mereka, sedangkan Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka mengucapkan, ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Siapa yang mengatakannya, maka harta dan darahnya, semua perhitungannya adalah milik Allah.”

“Demi Allah,” kata Abu Bakar. “Akan kuperangi siapa pun yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah haknya harta. Karena itu aku berkata, ‘Kecuali karena sesuatu yang benar.’

“Demi Allah,” kata Umar, “ Aku melihat Allah telah mencerahkan dada Abu Bakar untuk berperang. Maka aku mengetahui bahwa dia benar.” Sehingga Umar pun mengikuti pendapat Abu Bakar.

Jika pluralisme terjadi, bisa dibayangkan berapa banyak umat Islam yang akan durhaka kepada Allah dan Rasulullah saw,  seperti penjelasan sebelumnya. 
Na'udzubillahi Min Dzalika ...
____________________________

Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Hamzah telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah dari 'Abdullah bin 'Abbas radliallahu 'anhuma ..... [hadits yg cukup panjang, yang menceritakan sifat2 Nabi SAW dan agama ini] ...
Dan ketika aku bertanya apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengucapkan pengakuannya ini (pengakuan bahwa Muhammad adalah Nabi dan RasulNya), kamu menjawabnya belum pernah (Muhammad SAW tidak pernah sekalipun berdusta walaupun dulu belum diangkat menjadi Nabi oleh Allah). Maka dari hal itu aku mengetahui bahwa tidak mungkin dia menjauhkan perkataan dusta terhadap manusia lalu berani berdusta terhadap Allah.
Dan ketika aku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, kamu menjawab tidak ada. Aku katakan seandainya ada dari nenek moyangnya yang pernah menjadi raja aku katakan berarti orang ini sedang mencari (menuntut kembali) kerajaan nenek moyangnya.
Dan ketika aku bertanya kepadamu apakah orang-orang yang mengikutinya dari kalangan orang-orang terpandang atau orang-orang yang lemah, kamu menjawab bahwa orang-orang yang lemahlah yang mengikutinya. Dan memang merekalah yang menjadi para pengikut Rosul.
Dan ketika aku bertanya kepadamu apakah pengikutnya semakin bertambah atau berkurang, kamu menjawab bahwa mereka semakin bertambah. Dan memang begitulah iman akan terus bertambah menjadi sempurna.
Dan ketika aku bertanya kepadamu apakah ada orang yang menjadi murtad karena benci kepada ajaran agamanya setelah dia memeluknya, kamu menjawabnya tidak ada. Dan memang begitulah iman apabila telah masuk ke dalam lubuk hati tidak akan ada orang yang membencinya (tentang ajaran agamanya).
Dan ketika aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhiyanat, kamu menjawabnya tidak pernah. Dan memang begitulah para Rosul tidak akan berkhiyanat.
Dan ketika aku bertanya kepadamu apakah kalian memeranginya dan dia memerangi kalian, kamu menjawab telah sering terjadi peperangan dan bahwa peperangan kalian dan dia silih berganti. Terkadang dia mengalahkan kalian dan kadang pula kalian dapat mengalahkannya dalam kesempatan lain. Dan memang begitulah para Rosul diuji dan kesudahannya pasti kemenangan menjadi milik mereka.
Dan ketika aku bertanya kepadamu apa yang dia perintahkan kepada kalian, kamu jawab bahwa dia memerintahkan kalian agar kalian ber'ibadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan melarang kalian dari apa yang disembah oleh nenek-moyang kalian dan dia memerintahkan kalian untuk mendirikan shalat, bershadaqah, kejujuran, memenuhi janji dan menunaikan amanat". Raja Qaishar (Raja Romawi) berkata: "Itulah sifat-sifat seorang Nabi.
...[hadits ini masih ada kelanjutannya hingga akhir hadits] ... Abu Sufyan berkata lagi: "Demi Allah, aku senantiasa merasa hina dan sangat yakin bahwa urusan (agamanya) akan berjaya hingga akhirnya Allah membukakan hatiku untuk menerima Islam padahal sebelumnya aku membencinya". (No. Hadist: 2723 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah berkata, aku mendengar Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata; telah datang utusan suku 'Abdul Qais kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lalu mereka berkata,: "Wahai Rasulullah, kami ini dari suku Rabi'ah, dan antara tempat tinggal kami dan Baginda ada suku Mudhar yang kafir dan kami tidak dapat mengunjungi anda kecuali pada bulan haram. Maka perintahlah kami dengan satu perintah yang kami ambil dari Baginda dan kami dapat mengajak kepada perintah itu orang-orang lain di belakang kami. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku perintahkan kalian dengan empat perkara dan aku larang dari empat perkara. (Yaitu)
Iman kepada Allah dan persaksian (syahadah) tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah.
Lalu Beliau Shallallahu'alaihiwasallam mengisyaratkan dengan mengepalkan tangannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan dan kalian mengeluarkan seperlima dari harta rampasan perang".
... Dan berkata, Sulaiman dan Abu an-Nu'man dari Hammad: "Iman kepada Allah persaksian (syahadah) tidak ada ilah kecuali Allah". (No. Hadist: 1311 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab: Manisnya iman
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka" (No. Hadist: 15 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Renungkanlah:
Ada ibadah yang harus ditampakkan dan ada yang sebaiknya disembunyikan dari orang lain ...
Sholat fardlu dan Haji harus ditampakkan kepada orang lain, karena dilakukan berjamaah ...
Namun sholat sunnah dan puasa tidak perlu ditampakkan, karena itu lebih baik ...
Zakat fitrah dan maal harus ditampakkan kepada orang lain, karena harus ada akad serah-terimanya ...
Namun sodaqoh tidak perlu ditampakkan, karena itu jauh lebih baik ...

Andaikan ada yang mengatakan seseorang itu wali Allah, namun ternyata ia tidak pernah terlihat sholat berjamaah, maka ketahuilah, Nabi SAW selalu sholat berjamaah bersama sahabat2nya, apakah wali Allah itu lebih utama daripada Rasulullah SAW ???
Siapakah yang mengangkat ia menjadi wali Allah? manusia juga kan?
Siapakah yang mengangkat Nabi SAW menjadi utusanNya? ketahuilah, Allah -lah yang mengangkat dan menetapkan beliau sebagai Rasulullah ...

Ingatlah, Nabi SAW juga menjalankan syariat2, dan tidak pernah sekalipun beliau meninggalkan syariat, sampai beliau wafat, padahal beliau adalah hambaNya yang terdekat denganNya lagi paling bertaqwa ...

Menampakkan ibadah itu bukan untuk pamer, namun itu perintah Allah melalui Nabi SAW ...
Meminta Surga dan meminta perlindungan dari adzab Neraka itu juga perintah Allah melalui Nabi SAW ...
Apakah manusia yang merasa menjadi wali Allah, akan mengejek orang yang meminta Surga dan meminta perlindungan dari adzab Neraka, padahal itu perintahNya?
Bukankah itu berarti manusia yang merasa menjadi wali Allah itu justru menghina dan mengejek Allah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar