- Hadis riwayat Ali Radhiyallahu’anhu: Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu berkata: Jasad Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu dibaringkan di atas tempat tidurnya kemudian orang-orang mengerumuninya, mereka mendoakan, memuji dan menyalatkan sebelum diangkat (ke kuburnya) dan aku berada di antara mereka. Kemudian dia melanjutkan: Tidak ada yang menarik perhatianku kecuali dengan seorang lelaki yang menarik pundakku dari belakang, maka aku pun menoleh ke arahnya, ternyata dia adalah Ali yang turut berduka cita atas meninggalnya Umar. Kemudian dia berkata: Tidak ada orang yang lebih aku sukai ketika berjumpa dengan Allah dengan seperti amal perbuatannya daripada engkau, mudah-mudahan Allah menempatkanmu bersama dua orang sahabatmu. Dalam hal ini aku sering mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Saya datang bersama Abu Bakar dan Umar. Aku masuk surga bersama Abu Bakar dan Umar. Dan aku pun keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Sungguh aku berharap semoga Allah berkenan mempertemukanmu dengan mereka. (Shahih Muslim No.4402)
"Setiap orang boleh diambil perkataannya dan boleh pula ditolak, kecuali perkataan penghuni qubur ini" (sambil menunjuk kearah makam Nabi SAW). [Pesan Imam Malik]---"Tidak boleh diterima perkataan seseorang jika berlawanan dengan sunnah Rasulullah SAW." [Pesan Imam Syafi'i]---"Apabila telah shah satu hadits, maka itulah madzhabku." [Pesan Imam Syafi'i]--- Tambahan Artikel Renungan: Renungan Jumat
Kamis, 30 Mei 2013
Keutamaan Sahabat Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu
Senin, 27 Mei 2013
Keutamaan Sahabat Abu Bakar Sidik Radhiyallahu’anhu
- Hadis riwayat Abu Bakar Sidik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku melihat kaki orang-orang musyrik di atas kepala kami tatkala kami berada dalam gua. Aku berkata: Wahai Rasulullah kalau saja salah seorang dari mereka melihat ke kedua kakinya sendiri, niscaya dia akan melihat kita yang berada di bawahnya. Beliau bersabda: Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu yang bakal terjadi pada dua orang di mana yang ketiganya adalah Allah. (Shahih Muslim No.4389)
Senin, 20 Mei 2013
Jangan Membenci Jibril as atau sunnah Nabi SAW dan Sahabat² beliau
QS 2. Al Baqarah: 97
قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. "
(Katakanlah kepada
mereka, "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril maka silakan ia binasa dengan
kebenciannya itu! Maka sesungguhnya Jibril itu menurunkan Alquran ke dalam hatimu dengan seizin atau perintah Allah, membenarkan apa-apa yang
berada di hadapannya, yaitu kitab-kitab suci yang turun sebelumnya dan menjadi
petunjuk dari kesesatan serta berita gembira berupa surga bagi orang-orang
yang beriman).
Senin, 13 Mei 2013
Gunung-pun Takut kepada Allah
Kalau sekiranya Allah menurunkan Alquran kepada sebuah gunung lalu dijadikan-Nya pada gunung tersebut akal sebagaimana manusia ...
Pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah ...
Dan perumpamaan-perumpamaan itu dibuat untuk manusia supaya mereka berpikir, sehingga mereka mau beriman ...
Pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah ...
Dan perumpamaan-perumpamaan itu dibuat untuk manusia supaya mereka berpikir, sehingga mereka mau beriman ...
Selasa, 07 Mei 2013
Beberapa Hal Mengenai Kedengkian Mereka terhadap Al Qur'an
QS:18. Al Kahfi:
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِى عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْماً قُلْنَا يٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْناً
86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.
___________
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِى عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْماً قُلْنَا يٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْناً
86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.
___________
Senin, 06 Mei 2013
Tokoh-tokoh yang Terkenal Meriwayatkan Cerita-cerita Israiliyyat (bag.7 dari 7)
Nama-nama seperti Abu Hurairah,
Abdullah Ibn Abbas serta Abdullah Ibn Amr Ibn al-'Ash, merupakan sederetan
tokoh dari golongan sahabat yang dikenal telah meriwayatkan cerita-cerita dari
Muslim Ahl al-Kitab. Mereka mengambil keterangan-keterangan yang perinci dari
kitab-kitab Ahl al-Kitab sebagai pendukung dan penjelas cerita-cerita dalam
al-Quran yang masih global sifatnya. Dalam periwayatn cerita-cerita ini, mereka
menggunakan metodologi analisis yang kuat sebagaimana yang telah digariskan
oleh Nabi SAW. Para sahabat mempertimbangkan secara mendalam terhadap
cerit-cerita Ahl al-Kitab tersebut. Maka apabila berkesuaian dengan syariat
Islam, mereka akan membenarkannya dan memakainya sebagai penjelas atas
kisah-kisah yang termuat dalam al-Quran. Numun sebaliknya, jika menyalahi
ketetapan-ketetapan syariat Islam maka dengan tegas mereka akan menolaknya. Dan
perlu digaris bawahi bahwa riwayat-riwayat yang mereka ambil hanyalah riwayat
yang berhubungan dengan kisah-kisah saja, tidak lebih dari itu. Sehingga
riwayat-riwayat yang berkaitan dengan akidah maupun hukum, niscaya mereka tolak[1]. Selain
itu para sahabat juga menolak mepertanyakan cerita maupun persoalan yang
bersifat sia-sia., seperti mempertanyakan warna anjing Ashab al-Kahfi, juga
jenis kayu tongkat Nabi Musa, nama pemuda yang dibunuh oleh Nabi Kidr, ataupun
jenis kayu yang digunakan dalam membuat perahu Nabi Yunus.[2] Adapun
cerita Israiliyyat yang didiamkan oleh syariat mereka bersikap tawaquf dan
lebih baik menghindarinya.
Senin, 29 April 2013
Macam-macam Israiliyyat serta Hukum Periwayatannya (bag.6 dari 7)
Dilihat dari kesesuaian Israilliyyat
dengan syariat Islam, para ulama mengklasifikasikannya ke dalam tiga bagian.
Yaitu;
1. Israiliyyat yang sesuai dengan syariat
Contohnya adalah sebagaimana yang telah
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dengan reedaksi Imam Bukhari, ia
berkata: "telah meceritakan kapada kami Yahya ibn Bukhair, dari Lais dari
Khalid dari Said bin Abu Hilal dari Zaid ibn Aslam dari Ata ibn Yasir dari Abu
Sa'id al-Khudri ia berkata; bahwa Rasulullah telah bersabda ; "adalah
bumi itu pada hari kiamat nanti seperti segenggam roti. Allah memegangnya
dengan kekuasaa-Nya, sebagaimana seseorang menggenggam sebuah roti di
perjalanan. Ia merupakan tempat bagi ahli surga. Kemudian datanglah seorang
laki-laki dari Yahudi berkata; semoga Allah mengagungkan engkau wahai Abu al-Qasim,
tidaklah aku ingin menceritakan kepadamu tempat ahli surga pada hari kiamat
nanti? Rasul menjawab, ya tentu. Kemudian laki-laki tadi
menyatakan bahwasannya bumi ini seperti segenggam roti sebagaimana dinyatakan
Nabi, kemudian Rasul melihat kepada kami semua sampai terlihat geraham giginya".
Terkait dengan kriteria yang pertama
ini, Nabi bersabda;
قالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ اَيَةً, وَحَدِّثُوْاعَنْ بَنِي اِسْرَائِيْلَ وَلَاحَرَجْ,
وَمَنْ كَذَّبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًافَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya;
sampaikannlah dariku walau satu ayat. Ceritakanlah dari Bani Israil karena yang
demikian ini kalian tidak berdosa. Barang siapa yang berdusta kepadaku dengan
sengaja, maka sungguh tempatnya berada di neraka".
Senin, 22 April 2013
Masuknya cerita-cerita Israiliyyat ke dalam tafsir dan hadith (bag.5 dari 7)
Masuknya cerita-cerita Israiliyyat ke
dalam tafsir dan hadith pada awalnya didahului oleh masuknya kebudayaaan
Israiliyyat (Yahudi) ke dalam peradaban Arab Jahiliyah. Pada waktu itu di
tengah-tengah kehidupan bangsa Arab hiduplah sekelompok Ahl al-Kitab, yaitu
kaum Yahudi yang pindah ke Jazirah Arab di waktu yang silam. Perpindahan
besar-besaran itu terjadi sekitar tahun 70 M. Hal ini dikarenakan mereka lari
menghindar dari ancaman dan siksaan dari kekuasaan Titus.[1]
Mereka pindah ke Jazirah Arab bersama
dengan kebudayaan yang mereka ambil dari kitab-kitab agama mereka.
Uraian-uraian kitab itu mereka terima sebagai warisan dari Nabi atau ulama
mereka, dan mereka wariskan dari generasi ke genarsi. Madras merupakan
sebuah tempat yang dijadikan sebagai pusat pengkajian kebudayaan warisan yang
mereka terima. Di tempat yang lain mereka juga menentukan beberapa tempat
tertentu sebagai sarana untuk beribadah dan menyiarkan agama.[2]
Senin, 15 April 2013
Israiliyyat (bag.4 dari 7)
Israiliyyat (الاء
سرائيليات) secara lafad, merupakan bentuk jamak dari kata إ سرائيلية.[1] Israiliyyat
diartikan sebagai cerita-cerita atau perkataaan yang dikisahkan dari sumber
israily (إسرائلي).[2] Term israily
dinisbatkan kepada Ya'qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Adapun Bani Israil, merupakan
anak turun Nabi Ya'qub serta orang-orang berikutnya yang memiliki silsilah keturunan
dengan beliau. Silsilah keturunan ini menyebar mulai zaman Nabi Ya'qub, Nabi
Musa, Nabi Isa, dan sampai pada masa Nabi Muhammad SAW. Sejak dahulu kala,
orang-orang ini dikenal dengan sebutan Yahudi (اليهود). Sedangkan orang-orang yang beriman kepada Nabi
Isa AS dikenal dengan istilah Nasrani (النصارى).
Sementara itu orang-orang yang beriman kepada sang Nabi penutup (yang menjadi
penutup para Nabi), yaitu Nabi agung Muhammad SAW, dinamakan Muslim Ahl
al-Kitab.[3]
Dalam
al-Quran terdapat banyak ayat yang menyebut dan bercerita tentang keberadaaan
Bani Israil misalnya surat al-Maidah ayat 78:
لُعِنَ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا مِنْ بَنِي اِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَوَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ
ذَالِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَا نُوْا يَعْتَدُوْنَ
Artinya; "telah dilaknati orang-orang
kafir dari Bani Israil dengan lisan (kaum) Daud dan Isa putra Maryam. Yang
demikian itu disebabkan karena mereka telah durhaka dan melampaui batas".
Senin, 08 April 2013
Contoh Kitab Tafsir Dan Metodologi Penulisannya (bag.3 dari 7)
1. Tafsir
Al Tabary[1]
Nama Kitab : جامع
البيان في تفسير أي القران atau
yang lebih dikenal dengan
tafsir al-Tabary.
Pengarangnya : Abu Ja’far Muhammad bin Jarir
At-Thobary (224 – 310 H)
Jumlah jilid : 12 jilid besar.
Keistimewaannya
: Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin terutama
penafsiran binnaqli/biiriwayah. Tafsir bil aqli karena istinbath hukum,
penjabaran berbagai pendapat dengan dan mengupasnya secara detail disertai
analisa yang tajam. Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus.
Metodologi Penulisannya:
Penulis menafsirkan ayat al-Qur’an dengan
jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi’in disertai
sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di sebutkan
satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabi’in yang
mendukung dari tiap-tiap pendapat kemudian mentarjih (memilih)
diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari segi dalilnya. Beliau juga mengii’rob
(menyebut harakat akhir), mengistimbat hukum jikalau ayat tersebut
berkaitan dengan masalah hukum. Ad-Dawudy dalam bukunya “Thobaqah
al-Mufassirin“ mengomentari metode ini dengan ungkapannya:“ Ibnu jarir
telah menyempurnakan tafsirnya dengan menjabarkan tentang hukum-hukum, nasih
wal mansuh, menerangkan mufrodat (kata-kata) sekaligus maknanya, menyebutkan
perbedaaan ulama’ tafsir dalam masalah hukum dan tafsir kemudian memilih
diantara pendapat yang terkuat, mengi’rob kata-kata, mengkonter pendapat
orang-orang sesat, menulis kisah ,berita dan kejadian hari kiamat dan
lain-lainnya yang terkandung didalamnya penuh dengan hikmah dan keajaiban tak
terkira kata demi kata, ayat demi ayat dari isti’adzah sampai abi jad (akhir
ayat). Bahkan jikalau seorang ulama’ mengaku mengarang sepuluh kitab yang
diambil dari tafsir ini, dan setiap kitab mengandung satu disiplin keilmuan
dengan keajaiban yang mengagungkan akan diakuinya (karangan tersebut).
Jumat, 29 Maret 2013
Metode-metode Tafsir (bag.2 dari 7)
Metode
penafsiran yang banyak dilakukan oleh para mufassir adalah:
1.
Tafsir Bil Ma’tsur atau Bir-Riwayah
Metode
penafsirannya terfokus pada shohihul manqul (riwayat yang shohih)
dengan menggunakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, penafsiran al-Qur’an
dengan sunnah, penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para sahabat dan
penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in. Yang mana sangat teliti
dalam menafsirkan ayat sesuai dengan riwayat yang ada. Dan penafsiran seperti
inilah yang sangat ideal yang patut dikembangkan. Beberapa contoh kitab tafsir
yang menggunakan metode ini adalah : [1]
a.
Tafsir At-Tobary (
( جامع البيان في تأويل أى القران terbit 12 jilid
b.
Tafsir Ibnu Katsir (العظيم تفسير
القران) dengan
4 jilid
c.
Tafsir Al-Baghowy (معالم
التنزيل )
d.
Tafsir Imam As-Suyuty التفسير بالمأثور ) ( الدر المنثور في terbit 6 jilid.
Jumat, 22 Maret 2013
Sejarah Tafsir dan Perkembangannya (bag.1 dari 7)
Akhir² ini beberapa "ilmuwan" merasa bahwa tafsir Al Qur'an yg ada ini sudah ketinggalan jaman ...
Menurut mereka, perlu adanya pambaharuan tafsir Al Qur'an ...
Namun perlu di perhatikan ... !
Seorang ilmuwan modern pasti memberikan rujukan dan bukti pada setiap pendapatnya ...
Seorang ulama yang shalih pasti juga ada rujukan yg menjadi dasar hukumnya ...
Rasulullah SAW dan para Nabi, pasti juga memiliki rujukan, bahkan rujukannya sangat jelas dan sangat tepat, yakni dari Allah SWT, Tuhan Semesta alam, dan inilah rujukan tertinggi tingkatannya ...
Tidak ada satupun yg berilmu, melainkan mereka pasti memiliki rujukan yg jelas ...
Seorang ilmuwan, pasti merujuk ke sesama Ilmuwan ...
Seorang ulama yg shalih, pasti merujuk juga ke ulama yg shalih atau para Sahabat atau Nabi SAW ...
Seorang Ilmuwan sudah pasti lebih mengetahui ilmu terbaru yang sesuai perkembangan jaman, namun ia belum tentu seorang yg sholeh ...
Menurut mereka, perlu adanya pambaharuan tafsir Al Qur'an ...
Namun perlu di perhatikan ... !
Seorang ilmuwan modern pasti memberikan rujukan dan bukti pada setiap pendapatnya ...
Seorang ulama yang shalih pasti juga ada rujukan yg menjadi dasar hukumnya ...
Rasulullah SAW dan para Nabi, pasti juga memiliki rujukan, bahkan rujukannya sangat jelas dan sangat tepat, yakni dari Allah SWT, Tuhan Semesta alam, dan inilah rujukan tertinggi tingkatannya ...
Tidak ada satupun yg berilmu, melainkan mereka pasti memiliki rujukan yg jelas ...
Seorang ilmuwan, pasti merujuk ke sesama Ilmuwan ...
Seorang ulama yg shalih, pasti merujuk juga ke ulama yg shalih atau para Sahabat atau Nabi SAW ...
Seorang Ilmuwan sudah pasti lebih mengetahui ilmu terbaru yang sesuai perkembangan jaman, namun ia belum tentu seorang yg sholeh ...
Senin, 18 Maret 2013
Kita hanyalah Manusia yang Lemah
Andaikan hari siang terus ...
Bisakah kita tahu adanya pergantian hari ...?
Andaikan tidak pernah turun hujan ...
Bisakah kita tahu mengenai adanya hujan ...?
Andaikan kita tidak pernah sakit ...
Andaikan kita tidak pernah tertimpa masalah ...
Andaikan kita tidak pernah mengantuk ...
Apakah kita akan sadar kalau sebenarnya kita ini lemah ...?
Apakah kita akan tahu kalau kita ini tidak bisa berdiri sendiri ...?
Perhatikanlah tangan kita, ketika kita menggerakkan jari² kita ...?
Kitakah yang menggerakkan ...?
Andaikan kita yg menggerakkan, otot mana saja yang kita gerakkan? Berapakah kekuatan yang diperlukan untuk menggerakkan otot² itu ...?
Tentu kita tidak akan tahu, sebab bukan kita yang menggerakkan jari² kita ...
Kita hanya berkeinginan untuk menggerakkan jari² itu, dan Allah-lah yang mengatur bagaimana mekanisme bergeraknya jari² itu ...
Andaikan kemampuan menggerakkan jari² dicabut oleh Allah, bisakah kita menggerakkan jari² kita ...?
Bisakah kita tahu adanya pergantian hari ...?
Andaikan tidak pernah turun hujan ...
Bisakah kita tahu mengenai adanya hujan ...?
Andaikan kita tidak pernah sakit ...
Andaikan kita tidak pernah tertimpa masalah ...
Andaikan kita tidak pernah mengantuk ...
Apakah kita akan sadar kalau sebenarnya kita ini lemah ...?
Apakah kita akan tahu kalau kita ini tidak bisa berdiri sendiri ...?
Perhatikanlah tangan kita, ketika kita menggerakkan jari² kita ...?
Kitakah yang menggerakkan ...?
Andaikan kita yg menggerakkan, otot mana saja yang kita gerakkan? Berapakah kekuatan yang diperlukan untuk menggerakkan otot² itu ...?
Tentu kita tidak akan tahu, sebab bukan kita yang menggerakkan jari² kita ...
Kita hanya berkeinginan untuk menggerakkan jari² itu, dan Allah-lah yang mengatur bagaimana mekanisme bergeraknya jari² itu ...
Andaikan kemampuan menggerakkan jari² dicabut oleh Allah, bisakah kita menggerakkan jari² kita ...?
Jumat, 08 Maret 2013
Tugas kita hanya Menyampaikan, kita umat Terbaik
Kita hanyalah manusia biasa dan lemah ...
Tiada kekuatan yang kita miliki, melainkan pasti kekuatan itu milik dan hanya dari Allah ...
Baik kita sadari ataupun tidak, tidak kita sadari karena tertutup oleh kesombongan kita ...
Walaupun kita manusia biasa dan lemah, namun ternyata kita adalah umat terbaik, dari sekian banyak umat yang pernah diciptakan Allah dimuka bumi ini ...
Mengapa demikian? Mengapa Allah menyebut kita melalui utusanNya, kalau kita merupakan umat terbaik?
Hal itu karena kita diperintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ...
Tugas untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sebenarnya adalah tugas para RasulNya ...
Namun karena kita umat terakhir, dan tidak ada Nabi setelah Muhammad SAW, maka tugas kitalah untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ...
Tiada kekuatan yang kita miliki, melainkan pasti kekuatan itu milik dan hanya dari Allah ...
Baik kita sadari ataupun tidak, tidak kita sadari karena tertutup oleh kesombongan kita ...
Walaupun kita manusia biasa dan lemah, namun ternyata kita adalah umat terbaik, dari sekian banyak umat yang pernah diciptakan Allah dimuka bumi ini ...
Mengapa demikian? Mengapa Allah menyebut kita melalui utusanNya, kalau kita merupakan umat terbaik?
Hal itu karena kita diperintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ...
Tugas untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sebenarnya adalah tugas para RasulNya ...
Namun karena kita umat terakhir, dan tidak ada Nabi setelah Muhammad SAW, maka tugas kitalah untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ...
Senin, 04 Maret 2013
Janganlah diikuti, Membaiat Seseorang dengan tanpa musyawarah kaum muslimin dan Tentang Berjihad
Barangsiapa berbaiat kepada seseorang tanpa musyawarah kaum muslimin, berarti ia tidak dianggap dibaiat begitu juga yang membaiatnya, yang demikian karena dikhawatirkan keduanya akan dibunuh ...
Senin, 25 Februari 2013
Cemburu
Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (9/320): “Telah bercerita kepada kami ‘Ali, ia berkata telah berbicara kepada kami Ibnu ‘Aliyah dari Humaid dari Anas, ia berkata: “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada di tempat sebagian istrinya. Lalu salah satu dari Ummul Mukminin mengirim piring yang berisi makanan, maka istri Nabi yang sedang berada di rumahnya memukul tangan pelayan itu, sehingga jatuhlah piring tersebut dan pecah. Kemudian Nabi memunguti pecahan piring dan makanan, sambil mengatakan: ((غَارَتْ أُمُّكُمْ)) “Ibu kalian cemburu.” Lalu beliau menahan pelayan tersebut sampai beliau menggantinya dengan piring milik istri yang beliau sedang di rumahnya. Lalu beliau memberikan piring yang utuh kepada istri yang piringnya pecah, dan menahan piring yang sudah pecah di rumah istri yang telah memecahkan piring tersebut.”"
Kata اَلْغِيْرَةُ (cemburu) adalah pecahan dari kata تَغَيُّرُ القَلْبُ (berubahnya hati/tidak suka) dan هَيْجَانُ الغَضَبُ (berkobarnya kemarahan), karena adanya persekutuan (persaingan) dalam hal-hal yang dikhususkan. Dan yang paling dahsyat adalah yang terjadi antara suami dan istri sebagaimana dalam Al-Fath (9/320).
Kata اَلْغِيْرَةُ (cemburu) adalah pecahan dari kata تَغَيُّرُ القَلْبُ (berubahnya hati/tidak suka) dan هَيْجَانُ الغَضَبُ (berkobarnya kemarahan), karena adanya persekutuan (persaingan) dalam hal-hal yang dikhususkan. Dan yang paling dahsyat adalah yang terjadi antara suami dan istri sebagaimana dalam Al-Fath (9/320).
Senin, 18 Februari 2013
Mengapa Rasulullah SAW beristeri lebih dari empat ?
Sering menjadi pertanyaan di tengah-tengah masyarakat, mengapa Rasulullah SAW beristeri lebih dari empat orang? Sementara kaum Muslim diharamkan kawin lebih dari empat orang?
Seperti kita ketahui bahwa kaum misionaris dan orientalis sering menyerang Islam dengan masalah poligami Rasul ini.
Syekh Yusuf Qardhawi dalam kumpulan fatwanya menguraikan bahwa pada masa pra Islam, belum ada ketentuan mengenai jumlah wanita yang boleh dikawin. Belum ada batas, patokan, ikatan, dan syarat. Jadi, seorang laki-laki boleh saja kawin dengan sekehendak hatinya.
Hal ini memang berlaku pada bangsa-bangsa terdahulu, sehingga diriwayatkan dalam Perjanjian Lama bahwa Daud mempunyai 100 orang istri dan Sulaiman mempunyai 700 orang istri serta 300 orang gundik.
Ketika Islam datang, dibatalkanlah perkawinan yang lebih dari empat orang. Apabila ada orang yang masuk Islam sedang dia mempunyai istri lebih dari empat orang, maka Nabi SAW menyuruhnya untuk menceraikan istri-istri mereka hingga yang tersisa hanya empat orang saja.
Jadi, jumlah istri maksimal empat orang, tidak boleh lebih. Dan syarat yang harus dipenuhi dalam poligami ini ialah bersikap adil terhadap istri-istrinya. Kalau tidak dapat berlaku adil. cukuplah seorang istri saja,
Seperti kita ketahui bahwa kaum misionaris dan orientalis sering menyerang Islam dengan masalah poligami Rasul ini.
Syekh Yusuf Qardhawi dalam kumpulan fatwanya menguraikan bahwa pada masa pra Islam, belum ada ketentuan mengenai jumlah wanita yang boleh dikawin. Belum ada batas, patokan, ikatan, dan syarat. Jadi, seorang laki-laki boleh saja kawin dengan sekehendak hatinya.
Hal ini memang berlaku pada bangsa-bangsa terdahulu, sehingga diriwayatkan dalam Perjanjian Lama bahwa Daud mempunyai 100 orang istri dan Sulaiman mempunyai 700 orang istri serta 300 orang gundik.
Ketika Islam datang, dibatalkanlah perkawinan yang lebih dari empat orang. Apabila ada orang yang masuk Islam sedang dia mempunyai istri lebih dari empat orang, maka Nabi SAW menyuruhnya untuk menceraikan istri-istri mereka hingga yang tersisa hanya empat orang saja.
Jadi, jumlah istri maksimal empat orang, tidak boleh lebih. Dan syarat yang harus dipenuhi dalam poligami ini ialah bersikap adil terhadap istri-istrinya. Kalau tidak dapat berlaku adil. cukuplah seorang istri saja,
Senin, 11 Februari 2013
Dunia ini bukan bagian dari DiriNya
Sesungguhnya apa² yang
disekitar kita, cepat atau lambat pasti akan lenyap meninggalkan kita
...
Tidak ada yang abadi, apa² yang kita lihat dengan mata kepala, baik itu apa² yang ada dihadapan kita, dibelakang, samping kita atau bahkan kita sendiri, pasti akan lenyap, rusak atau mati ...
Tidak ada yang abadi atau kekal, dan itu pasti kita sadari ...
Namun apa² yang ada disisi Allah, tidak akan lenyap ...
Apa² yang ada disisi Allah akan kekal abadi dan jauh lebih baik dari apa² yang ada disisi kita sekarang ini ...
Dan perkara ini tidak ada manusia yang mengetahui, karena memang manusia tidak pernah menjumpai atau menemui apa² yang ada disisi Allah tersebut (masih ghaib) ...
Tidak ada yang abadi, apa² yang kita lihat dengan mata kepala, baik itu apa² yang ada dihadapan kita, dibelakang, samping kita atau bahkan kita sendiri, pasti akan lenyap, rusak atau mati ...
Tidak ada yang abadi atau kekal, dan itu pasti kita sadari ...
Namun apa² yang ada disisi Allah, tidak akan lenyap ...
Apa² yang ada disisi Allah akan kekal abadi dan jauh lebih baik dari apa² yang ada disisi kita sekarang ini ...
Dan perkara ini tidak ada manusia yang mengetahui, karena memang manusia tidak pernah menjumpai atau menemui apa² yang ada disisi Allah tersebut (masih ghaib) ...
Langganan:
Postingan (Atom)