Jumat, 12 Januari 2018

Beberapa Hadis yang Disoroti

Bab: Shalat Fardhu Diatas Kendaraan 

Pro dan kontra dalam pelaksanaan shalat fardhu, apakah boleh dikerjakan di atas kendaraan atau tidak boleh sehingga melahirkan istilah hanya shalat lihurmatil waqti (shalat sunah untuk menghormati waktu). Berikut ini ditemukan hadits-hadits bahwa Nabi SAW dan para sahabat telah melaksanakan shalat Khauf (shalat dalam kondisi perang).

Di antara mereka ada yang melaksanakannya dengan berjalan kaki dan di antara mereka ada juga yang melaksanakannya di atas kendaraan mereka. Dengan demikian semestinya tidak perlu diragukan bahwa shalat fardhu pun juga boleh dilaksanakan di atas kendaraan sebagaimana diperbolehkannya shalat sunah di atas kendaraan.
Dengan demikian kesaksian sahabat bahwa saya hanya melihat Nabi shalat sunah di atas kendaraan dan tidak dalam shalat wajib, tidak bisa dimaknai "tidak boleh" melainkan itulah pemahaman dia dalam mendampingi Rasulullah SAW.

Penafian seperti juga muncul, misalnya pernyataan Aisyah,"Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW buang hajat dengan berdiri". Itu bukan berarti "tidak boleh buang hajat dengan berdiri".
Dinarasikan Jabir ibn Abdullah ra, "Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika dalam perang Bani Anmar, beliau melaksanakan shalat (Khauf) di atas kendaraannya menghadap ke arah timur." (HR. Al- Syafii: 194)

Dinarasikan Nafi':"Apabila Abdullah ibn Umar ditanya tentang shalat Khauf, dia berkata: Imam dan sekelompok (pertama) maju ..." Dalam riwayat lain, "Apabila perang telah berkecamuk maka di antara umat ada yang shalat sambil berjalan dan di antara mereka ada yang berkendaraan, ada yang menghadap ke arah kiblat namun juga ada yang tidak menghadap ke arah kiblat."
Malik berkomentar, "Saya tidak meragukan sekiranya Abdullah ibn Umar memaparkannya secara al-marfu' (dinisbatkan kepada Nabi)." (HR. Al-Syafii: 79).

Dinarasikan Nafi'dari ibn Umar (menurut hemat saya dia dari Nabi SAW), lalu dia menyebutkan shalat Khauf. Katanya,"Apabila shalat telah berkecamuk, maka mereka shalat berjalan kaki dan berkendaraan, ada yang menghadap ke arah kiblat dan ada juga yang tidak menghadap ke arah kiblat."(HR. Al-Syafii: 1088).

Dinarasikan Jabir ibn AbduIllah ra.: "Ketika Nabi SAW memimpin perang bani Anmar, beliau shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah timur." (HR. Muslim: 1182).{}

Bab: Makna Dibalik Boneka Aisyah ra

Dinarasikan Aisyah RA bahwa Nabi Muhammad SAW menikahinya ketika dia berusia enam tahun, dan dia diantar ke kamar Nabi ketika berusia sembilan tahun, dan ketika itu dia sedang membawa bonekanya, sedangkan Nabi wafat ketika dia berusia delapan belas tahun. (HR. Bukhari: 2549)

Tidak dimungkiri bahwa "boneka" bisa jadi merupakan bagian dari hasil pahatan, yang dalam bahasa hadits sering dilafadzkan dengan "al-taswir" dapat diterjemahkan sebagai pahatan atau lukisan. Hadits di atas merupakan bukti nyata bahwa tidak semua pahatan atau lukisan dilarang dalam agama.
Dari penulusuran berbagai hadits, pahatan atau lukisan yang dikutuk pelakunya adalah jika pahatan dan lukisan tersebut memiliki "ruh" Penjelasan Nabi yang sedemikian itu sangat penting.
Hanya saja ulama masih memperdebatkan maksud memiliki ruh tersebut. Menurut hemat saya, tidak mungkin diartikan 'bernyawa', karena tidak ada mahluk Allah di muka bumi ini yang tidak bernyawa, bahkan sampai gunung pun bersujud kepada Allah, tumbuh-tumbuhan juga berkembang, layu dan mati.
Dengan demikian menurut hemat penulis pahatan atau gambar tersebut"memiliki ruh", dimaknai jika pahatan atau gambar itu diyakini memiliki sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat dan mudharat, seperti pahatan yang dijadikan sesembahan, lukisan yang dipajang sedemikian rupa, diberi dupa, kalungan bunga dan sebagainya.

Seperti itu pula budaya bangsa Indonesia ketika meletakkan keris (yang dianggap mempunyai kekuatan/ruh) di tempat tertentu, apabila diyakini adanya unsur yang dapat mendatangkan manfaat dan mudharat akan dapat berdampak kesyirikan yang dikutuk menurut agama Islam.

------------------------------------->
Dalil-dalil larangan Menyerupai Ciptaan Allah:

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِى عَلَى سَهْوَةٍ لِى فِيهَا تَمَاثِيلُ ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – هَتَكَهُ وَقَالَ « أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ » . قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari suatu safar dan aku ketika itu menutupi diri dengan kain tipis milikku di atas lubang angin pada tembok lalu di kain tersebut terdapat gambar-gambar. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hal itu, beliau merobeknya dan bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah.” ‘Aisyah mengatakan, “Akhirnya kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal.”  (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107).

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ ، فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan (buat).” (HR. Bukhari no. 2105 dan Muslim no. 2107)

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang peling berat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah al mushowwirun (pembuat gambar).” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109).

Beberapa Pengecualian:

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِى سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ « مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ ». قَالَتْ بَنَاتِى. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ « مَا هَذَا الَّذِى أَرَى وَسْطَهُنَّ ». قَالَتْ فَرَسٌ. قَالَ « وَمَا هَذَا الَّذِى عَلَيْهِ ». قَالَتْ جَنَاحَانِ. قَالَ « فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ ». قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khoibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.” Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu suatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?” ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud no. 4932 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 890. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hadits ini diceritakan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Tabuk. Ini sudah menunjukkan bahwa hadits ini tidak dimansukh (dihapus) karena datangnya belakangan.

Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata,

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَ لِى صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِى ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَىَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِى

“Aku dahulu pernah bermain boneka di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Aku memiliki beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasululah shallallahu ‘alaihi wa salam masuk dalam rumah, mereka pun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku” (HR. Bukhari no. 6130).

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menyebutkan, “Para ulama berdalil dengan hadits ini akan bolehnya gambar (atau patung atau boneka) berwujud perempuan dan bolehnya mainan untuk anak perempuan. Hadits ini adalah pengecualian dari keumuman hadits yang melarang membuat tandingan yang serupa dengan ciptaan Allah. Kebolehan ini ditegaskan oleh Al Qodhi ‘Iyadh dan beliau katakan bahwa inilah pendapat mayoritas ulama.” (Fathul Bari, 10: 527).

Ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambali beralasan dengan pengecualian tersebut bahwa mainan tadi dibolehkan karena ada hajat untuk mendidik anak. Ini berarti, jika tujuannya hanya sekedar dipajang di rumah, maka tentu tidak dibolehkan.

Patung Tanpa Kepala
Dalam Al Mughni karya Ibnu Qudamah disebutkan, “Ketika gambar atau patung dibentuk dari badan tanpa kepala atau kepala tanpa badan atau dijadikan kepala tetapi bagian lainnya adalah berbentuk lainnnya selain hewan, ini semua tidak termasuk dalam larangan.”

Namun menurut ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika bagian tubuh lain tidak ada, lalu masih tersisa kepala, maka pendapat yang rojih (kuat), gambar atau patung tersebut masih tetap haram.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7: 270. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921)
<-------------------------------------


Bab: Hadits Baju Merah

------------------------------------->
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

نُهِيتُ عَنْ الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا رَاكِعٌ

“Aku dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai cincin emas dan membaca Al-Qur’an saat rukuk.” (HR. An Nasai no. 5266. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
<-------------------------------------

Dinarasikan Aun ibn Abi Juhaifah dari bapaknya: Saya mendatangi Nabi SAW di Makkah, ketika itu Nabi berada di Abthah, dengan mengenakan jubah merah terbuat dari kulit. Sekonyong-konyong Bilal datang membawakan air wudhu untuk beliau.
Dari sisa air itu ada orang yang mendapatkannya dan ada pula yang hanya mendapat percikannya. Kemudian Nabi SAW, keluar memakai pakaian merah. Seolah-olah saya masih melihat (bagaimana) putihnya betis Nabi. Lalu Nabi SAW, wudhu, dan Bilal adzan. Saya mengikuti gerak-gerik mulut Bilal berseru ke kanan dan ke kiri mengucapkan: Hayya 'alas shalah, hayya 'alal falah.
Kemudian Bilal menancapkan sebuah tongkat berujung besi, lalu Nabi SAW, maju ke depan mengimami shalat qasar Dzuhur dua rakaat. (Ketika Nabi sedang shalat), keledai dan anjing digiring lewat di depan Nabi (di balik tongkat itu), tetapi ia tidak dicegah (oleh Nabi SAW). Kemudian shalat Ashar dua rakaat, kemudian tetap shalat dua rakaat hingga (tiba) kembali di Madinah. Hadits diriwayatkan Muslim (dalam al-Shahih Muslim : 1147).

Hadits ini menjadi qarinah, bahwa tidak semua pakaian warna "merah" diancam masuk ke dalam neraka. Sekiranya digeneralisasikan bahwa semua orang yang berpakaian warna merah mereka diancam neraka, tentu mustahil Nabi SAW sendiri yang melanggarnya.

Maka di balik orang berpakaian merah itulah yang dicari latar belakang historisnya, kenapa pemakainya sampai diancam Nabi akan terkena api neraka. Bisa jadi karena kesombongannya, atau sikap pamernya atau perasaan dirinya yang paling hebat dan sebagainya, merupakan indikasi pelakunya layak mendapatkan ancaman neraka tersebut.


Bab: Al Quran Berbahasa Quraisy

Dinarasikan Anas ibn Malik RA: Hudzaifah ibn al-Yamani datang kepada Utsman setelah sebelumnya memerangi penduduk Syam yakni pada saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan bersama penduduk Irak.
Ternyata perselisihan mereka dalam bacaan Al Quran mengejutkan Hudzaifah. Maka Hudzaifah berkata kepada Utsman,"Rangkullah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al Quran sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani."
Akhirnya Utsman mengirim surat kepada Hafsah yang berisikan,"Tolong kirimkanlah lembaran Al Quran kepada kami, agar kami dapat segera menyalinnya ke dalam lembaran yang lain. Lalu kami akan segera mengembalikannya kepada Anda."
Maka Hafsah pun mengirimkannya kepada Utsman. Lalu Utsman memerintahkan kepada Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Sa'id ibn Asyh dan Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam, sehingga mereka menyalinnya ke dalam lembaran yang lain.
Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy dari mereka,"Jika kalian berselisih dengan Zaid ibnTsabit terkait dengan Al Quran, maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sebab Al Quran turun dengan bahasa mereka.
Kemudian mereka mengindahkan perintah itu hingga penyalinan selesai dan Utsman pun mengembalikannya ke Hafsah. Setelah itu, Utsman mengirimkan sejumlah lembaran yang telah disalin ke berbagai penjuru negeri kaum muslim, dan memerintahkan untuk membakar Al-Qur an yang terdapat pada selain lembaran tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (HR Bukhari: 4987).

Berangkat dari teks di atas maka dapat dipahami bahwa Al Quran bukan berbahasa Arab pada umumnya, melainkan mengerucut pada bahasa Quraisy. Untuk itu mencari kesejatian makna Al Quran harus merujuk kepada pemahaman Quraisy sebagai bahasa ibu Al Quran.
Dengan demikian untuk memahami bahasa 'wahyu', tidak cukup hanya merujuk kepada kamus umum Arab, melainkan kamus khusus yang dipakai oleh bangsa Quraisy. Seperti kalimat "ittaqillah"tidak selamanya dimaknai "bertakwalah kepada Allah", namun lebih banyak berkonotasi pada pemaknaan "Anda salah, atau jangan begitu, dan sejenisnya".

Demikian semoga membari manfaat dan wawasan keilmuan kita. {*}


Bab: Umrah di Bulan Rajab 
Dinarasikan Mujahid: "Saya dan Urwah ibn Zubair memasuki sebuah masjid, ternyata Abdullah ibn Umar sedang dudukdi sebelah kamar Aisyah. Kemudian Urwah ibn Zubair bertanya: Berapa kali Nabi SAW berumrah? Ibn Umar menjawab: Empat kali. Salah satunya dilakukan di bulan Rajab. (HR. Bukhari: 4253).
Dinarasikan Urwah: "Wahai ummul mukminin, apakah Anda belum mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Abdurrahman bahwa Rasulullah SAW berumrah empat kali. Maka Aisyah berkata: Nabi SAW tidak pernah berumrah kecuali Ibn Umar menyertainya, dan Nabi sama sekali tidak pernah berumrah pada bulan Rajab. (HR. Bukhari: 4254).

Penjelasan:
Kedua hadits tersebut sama-sama hadits fi'li, cerita sahabat terhadap perilaku Rasulullah SAW. Perbedaannya, periwayatan pertama datang dari Ibn Umar, sedangkan yang kedua dari periwayatan Aisyah.
Kedua-duanya telah menceritakan bahwa seumur hidup Nabi hanya melaksanakan umrah selama empat kali, demikian pula para sahabat yang lain, dan ternyata hanya Ibn Umar yang menceritakan Umrah Nabi di bulan Rajab, yang lain tidak bahkan Aisyah telah mengingkarinya.

Disinilah letak syadz periwayatan Ibn Umar, maka yang lebih dekat adalah periwayatan Aisyah. (Hadits syadzadalah hadits yang diriwayatkan oleh satu perawi tsiqah saja dan tidak memiliki penguat). wallahu a'lam. {*}


Bab: Status Hadits


------------------------------------->
Hadits Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat

اختلاف أمتي رحمة
“Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat.” (As Suyuthi mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Nashr Al Maqdisi dalam kitab Al Hajjah secara marfu’ dan Al Baihaqi dalam Al Madkhal  dari Al Qasim bin Muhammad dan ini adalah ucapan beliau. Lihat Ad Durar Mutanatsirah, Hal. 1)

Hadits tersebut tidak sah, bahkan batil dan tidak ada sumbernya.

Imam Subki berkata:
“Saya tidak melihat Hadits tersebut mempunyai sanad yang sah, atau dha’if, atau palsu.”

Syaikh Al Albani mengatakan: “Hadits ini tidak ada asalnya. Banyak para muhadditsin yang mencoba mencari sanadnya tetapi mereka tidak menemukannya, sampai-sampai As Suyuthi berkata dalam Al Jami’ Ash Shaghir: “Barang kali hadits ini telah dikeluarkan oleh sebagian kitab para imam yang belum sampai kepada kita.” Menurutku ini sangat jauh. (As Silsilah Adh Dhaifah, 1/141/57) Dalam kitabnya yang lain beliau menyatakan hadits ini maudhu’ (palsu) ( Dhaiful Jami’ No. 230)

As Sakhawi juga mengatakan bahwa banyak para imam yang menyangka bahwa hadits ini tidak ada asalnya. (Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 14. Kasyf Al Khafa’, 1/65)


Hadits Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun?

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun

Hadis ini disebutkan dalam kitab al-Adzamah dengan sanad: Berkata Abu Syaikh, dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Perawi  yang bernama Ishaq bin Najih dan Utsman bin Abdillah dinilai para ulama sebagai pendusta.

Ibnul Jauzi menilai hadis ini:

هذا حديث لا يصح ، وفي الإسناد كذّابان ، فما أفلت وضعُه مِن أحدهما : إسحاق بن نجيح، قال أحمد : هو أكذب الناس ، وقال يحيى : هو معروف بالكذب ووضع الحديث ، وقال الفلاس : كان يضع الحديث على رسول الله صلى الله عليه وسلم صراحا ، والثاني : عثمان ، قال ابن حبان : يضع الحديث على الثقات

Hadis ini tidak benar, sementara dalam sanadnya terdapat 2 perawi pendusta. Status palsu hadis ini disebabkan keberadaan salah satu dari mereka. Ishaq bin Najih, yang kata Imam Ahmad: “Manusia paling pendusta.” Sementara Yahya bin Main berkomentar: “Terkenal suka berdusta dan memalsukan hadis.” Kata Imam al-Fallas: “Dia memalsukan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terang-terangan.”

Mungkin maksudnya baik, namun karena ia menyandarkan kepada Nabi SAW, padahal sebenarnya bukan (dusta), maka menjadi buruk dan tercelalah tindakannya itu.
Berikut ini yang dari Alquran:
Berfikir, merenungkan ayat-ayat Allah, dalam rangka semakin mengagungkan Allah, adalah perbuatan yang terpuji. Allah memujinya dalam al-Quran, diantaranya,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191).
<-------------------------------------

Hadits: Berpuasalah pasti Anda sehat
Hadits:"Berpuasalah pasti Anda sehat" dikeluarkan Thabrani dalam "al-Ausath" (2/225/1/8477), Abu Nu'aim dalam "al- Thibbi"(24/1 dan 2) dengan sanad: Muhammad ibn Sulaiman ibn Dawud, dari Zuhair ibn Muhammad, dari Suhail ibn Abu Shalih, dari bapaknya, dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW: Berpuasalah kalian pasti sehat.
Thabrani berkata: Tidak ada yang meriwayatkan dengan redaksi seperti ini kecuali Zuhair ibn Muhammad. Ini adalah periwayatan yang lemah karena merupakan periwayatan penduduk negeri Syam kepadanya. Dan hadits inilah contohnya.
Ibn Hajar dalam "Takhrij al-lhya" mengatakan: Hadits tersebut dikeluarkan Thabrani dalam "al- Ausath" dan Abu Nu'aim dalam "al-Thibbi al-Nabawi" dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah.
Al-Mundziri dalam al-Targhib: (2/60) dan Ibn Hajar al-Haitsami dalam al-Majma: (3/179) menyatakan perawi-perawinya tepercaya.

Namun harus dikaji lebih lanjut, karena sekadar keterpercayaan perawi belum jaminan keshahihan hadits, tanpa mengetahui cacat samarnya. Yaitu: Periwayatan penduduk Syam terhadap Zuhair ibn Muhammad yang dinilai lemah.
Berbeda dengan al-Shan'ani dalam Subulu Salam (3/179) yang menyatakan: Hadits ini palsu, yakni hadits dengan redaksi:
Berperanglah kalian pasti dapat rampasan, berpuasalah kalian pasti sehat, dan bepergianlah kalian pasti diampuni. Hadits ini dikeluarkan Ibn Adi dalam al-Kamil: (7/2521), yakni dengan sanad Nahsyal dari Dhahhak dari Ibn Abbas. Nahsyal adalah perawi yang periwayatannya harus ditinggalkan, dan Dhahhak ternyata tidak pernah mendengar dari Ibn Abbas.

Puasa memang dapat menjadikan sebagian pelakunya sehat. Bahkan dapat menjadi terapi kesehatan. Namun harus dipahami bahwa kebenaran wahyu adalah mutlak. Artinya konsep puasa jaminan kesehatan itu harus cocok secara universal dan kapan saja.
Padahal seseorang dalam kondisi tertentu akan berdampak berbahaya sekiranya yang bersangkutan berpuasa, itulah sebabnya Allah tidak mewajibkan mereka apabila memiliki udzur syar'i.
Wallahu a'lam.


RAJAB Bulan Allah 

Rajab syahrullah, wa Sya'ban syahri wa Ramadhan syahru ummati.
"Bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya'ban adalah bulan saya dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku."
Status: Hadis dhaif, bahkan palsu.

Penjelasan hadits:
Pada prinsipnya semua hari dan semua bulan adalah baik. Setiap insan muslim tidak diperbolehkan mencaci masa sebagaimana yang dipaparkan dalam hadits qudsi yang shahih.
Demikian pula dengan bulan, walaupun semua bulan itu baik namun ada yang diberikan keistimewaan yang memiliki nilai tambah dan fadhilah yang lebih dibanding dari pada bulan- bulan yang lain. Kemuliaan bulan Ramadhan itu sudah dipahami oleh umat Islam secara dharuri, namun kenapa muncul hadits di atas. Yang menggambarkan bahwa derajat bulan Ramadhan justru di bawah level bulan Sya'ban, dan bulan Sya'ban nilainya di bawah level bulan Rajab.
Ketika bulan Rajab itu dinisbatkan milik Allah, tentunya bulan Rajab itu adalah segala-galanya, tidak sebanding dengan bulan Sya'ban yang dinisbatkan milik Rasulullah.
Dan yang lebih fatal justru bulan Ramadhan lebih rendah dari bulan Sya'ban karena di dalam hadits di atas bulan Ramadhan hanya dinisbatkan kepada ummat Nabi Muhammad SAW. Padahal yang semestinya bulan Ramadhan itulah yang lebih mulia bahkan paling mulia. Berangkat dari hadits itulah kita saksikan umat lebih guyup menyambut kedatangan bulan Rajab ketimbang bulan Ramadhan.
Megengan (selamatan) menghadapi Rajabiyah pun lebih hebat ketimbang megengan untuk menghadapi Ramadhan. Bilamana menghadapi bulan Ramadhan banyak wanita subur tidak bingung menelan obat anti haid, namun ketika menghadapi bulan Rajab tampaknya banyak yang meminum obat anti haid.
Alasan mereka, kalau puasa Ramadhan dapat diqadha', namun puasa Rajabiyah tidak dapat diqadha', maka mereka memaksakan diri minum obat anti haid. Inilah dampak negatif terhadap keberadaan hadits-hadits dhaif bahkan palsu, berdampak melahirkan syariat yang dahulu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ternyata ditemukan "biangnya". Bulan Rajab itulah yang pada masa jahiliyah diagung- agungkan oleh Yahudi. Maka sekiranya umat Islam memiliki bulan yang mulia mereka tidak mau ketinggalan, sehingga dibuatkan hadits yang menggambarkan kemuliaan bulan Rajab, yang bahkan lebih hebat dari bulan Ramadhan itu sendiri.
Hadits palsu semacam inilah yang akhirnya dipropagandakan sehingga umat Islam lebih akrab dengan hadits palsu ketimbang hadits yang shahih. Ibn Abi Sytaibah dalam bukunya al-Mushannaf memaparkan: "Hampir Umar ibn Khattab memukul umat karena pemuliaan mereka terhadap bulan Rajab. Ketika umat mempuasai bulan Rajab, maka secara paksa Umar ibn Khattab memerintahkan untuk membatalkan, seraya mengatakan: Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan masyarakat jahiliyah."{}


RAMADHAN SAYYIDI SYUHU 

Sayyidi syuhursyahr Ramadhan wa sayyidil ayyam yaumul Jum'ah.
"Bulan yang paling dimuliakan adalah bulan Ramadhan dan hari yang paling dimuliakan
adalah hari Jum'at"
Status: Hadits mauquf dhaif.

Penjelasan hadits:
Keberadaan hari Jum'at sebagai hari yang termulia tidak dipermasalahkan, karena hadits yang menjelaskan hal itu sudah cukup sharih (jelas). Tentang keberadaan bulan Ramadhan sebagai bulan yang termulia ternyata tidak ditemukan hadits yang al-marfu’ (yang dinisbatkan kepada Nabi).
Yang ditemukan adalah hadits al-mauquf, yakni pernyataan sahabat Abdullah ibn Mas'ud, sehingga secara substansi belum bisa dijadikan landasan hukum. Namun apabila dikonfirmasikan dengan beberapa hadits lainnya, kemulian bulan Ramadhan memang tidak tertandingi dengan kemuliaan bulan-bulan yang lain.
Maka sudah dapat dimaklumi secara darurat bahwa bulan Ramadhan layak disebut sayyidis syuhur (bulan yang paling dimuliakan). Qarinah yang dapat dikedepankan misalnya, umrah di bulan Ramadhan dinilai sama dengan haji bersama Nabi, apabila amalan kebajikan umat dilipat-gandakan sepuluh kali, maka tidak sama halnya dengan amalan di bulan Ramadhan, amalan sunnah dinilai amalan wajib di bulan

Ramadhan, belum lagi di bulan Ramadhanlah saat diturunkannya Al Quran, di bulan Ramadhan terjadinya lailatul Qadar dan sebagainya.
Maka tanpa adanya teks Al Quran atau hadits Nabi sudah dapat dipahami bahwa pernyataan Abdullah ibn Mas'ud di atas merupakan pernyataan yang riil. Berangkat dari informasi di atas, maka orang Yahudi tidak tinggal diam. Mereka membuat hadits opini yang memposisikan bulan Rajab setara dengan bulan Ramadhan, bahkan dibuatkan opini bahwa bulan Rajab jauh lebih mulia ketimbang bulan Ramadhan.
Apabila bulan Ramadhan diistilahkan bulan milik Muhammad, maka bulan Rajab diformalkan sebagai bulan milik Allah. Apabila ada hadits shahih yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Ramadhan, maka dibuatkan hadits yang menunjukkan puasa di bulan Rajab jauh lebih utama daripada puasa di bulan Ramadhan.
Apabila di bulan Ramadhan dimuliakan dengan adanya malam lailatul Qadar, maka dibuatkan malam Raghaib yang fadhilahnya jauh lebih hebat daripada fadhilah Lailatul Qadar. Begitu seterusnya sehingga umat Islam lebih mengenal hadits Rajabiyah daripada hadits qiyam Ramadhan.
Indikasinya tampak, megengan untuk menghadapi Rajabiyah lebih hebat ketimbang menghadapi bulan Ramadhan. Apem Rajabiyah jauh lebih besar daripada apem Ramadhan. Akhirnya kita terpuruk dalam peribadatan yang justru tidak ada tuntunan yang shahih dari Nabi SAW. {}


INTI HAJI ADALAH WUKUF DI ARAFAH 

AI-Hajju Arafat, man ja-a qabla shalat subhi min Lailatil jam'i faqad tamma hajiuhu.
”Inti ibadah haji adalah wukuf di Arofah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu Subuh pada malam Muzdalifah, maka hajinya telah Sempurna."
status: Hadis shahih.

Penjelasan Hadits:
Hadits di atas mempunyai asbab wurud (latar belakang historis lahirnya sebuah hadis), sebagaimana yang  dapat dicermati dari periwayatan Abdurrahman ibn Ya'mar dalam teks yang sempurna.
Dalam hadits tersebut dipaparkan bahwa Abdurrahman ibn Ya'mar berkata: Saya menghadap kepada Rasulullah SAW yang saat itu beliau sedang wukuf di Arafah. Lalu beliau didatangi sekelompok umat penduduk Nejed, di antara mereka ada yang diperintah untuk menyeru: Wahai Rasulullah, bagaimana tata krama ibadah haji?
Maka Rasulullah SAW menyuruh seseorang yang menyatakan “Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu Subuh pada malam Muzdalifah maka hajinya telah sempurna".
Dengan adanya asbabul wurud di atas menunjukkan alangkah gampangnya pelaksanaan ibadah haji, walaupun sebagian orang menganggapnya ibadah yang sangat melelahkan. Bagi mereka yang melaksanakan "tarwiyah" (tanggal delapan Dzul Hijjah menuju ke Mina untuk mabit atau bermalam disitu mulai dari shalat Dhuhur sampai shalat Subuh) tentu akan mendapatkan kendala untuk dapat melaksanakan wukuf di Arafah mulai setelah tergelincirnya matahari. Hal ini dikarenakan perjalanan tanggal sembilan Dzul Hijjah dari Mina menuju Arafah sangat padat, bahkan tidak sedikit di antara jamaah haji yang tidak mendapatkan kendaraan menuju Arafah. Mereka harus berjalan kaki. Kalaulah ada yang mendapatkan kendaraan, itupun tidak semudah untuk dapat ke lokasi wuquf yang ditentukan.
Akhirnya banyak yang baru sampai di Arafah menjelang Maghrib, bahkan menjelang Isya'. Maka tidak sedikit di antara mereka yang menilai hajinya tidak sah Karena dalam pandangan mereka waktu wukuf itu hanya mulai setelah Dhuhur sampai Maghrib.
Maka hadits di atas tentunya dapat dijadikan argumentasi kekeliruan pendapat mereka, karena menurut hadits yang shahih, walaupun kita terlambat memasuki Arafah, dan baru sampai ke tempat tersebut sebelum terbitnya fajar (waktu Subuh) oleh Rasulullah SAW dinyatakan sah hajinya.
Beginilah nikmat mengkaji hadits, sehingga kita temukan begitu sederhananya tuntunan Rasulullah SAW. []

------------------------------------->
Catatan Admin:
Menurut pengalaman Admin, tidak ada bedanya yang ikut "tarwiyah" ataupun yang ikut haji reguler (pemerintah RI). Semuanya padat, namun kalau pihak KBIH sudah bekerjasama dengan pihak Mu'assasah setempat, biasanya tidak ada kesulitan dalam tersedianya kendaraan. Tentunya bagi yang ikut "tarwiyah" harus merogoh kocek lebih dalam lagi, sebagaimana yang ditawarkan oleh KBIH-nya.
Pemerintah Arab Saudi sendiri sangat ketat memonitoring lalu-lintas kendaraan, dengan dibantu oleh petugas haji dari Indonesia. Sehingga hampir dipastikan semua jamaah terangkut ke Arofah sebelum siang tgl 9 Dzulhijah.
Ada yang diangkut mulai tanggal 8 Dzulhijjah siang (Haji reguler), dan ada yang mulai pagi tgl 9 Dzulhijjah-nya (yang ikut "tarwiyah"). Dan menjelang tengah malam, tgl 10 Dzulhijah, Arofah wajib dikosongkan, semua tenda2 dibongkar, dan ada tim penyisiran untuk menyisir jamaah yang tertinggal.
<-------------------------------------


Sumber:
Buletin Al Falah Beberapa Edisi
Oleh:
Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.
Dewan Syariah YDSF Surabaya

------------------------------------->
Dan ada tambahan dari Admin, dari berbagai sumber dan juga pengalaman pribadi
<-------------------------------------.


Jumat, 05 Januari 2018

Benarkah Islam Tidak Menjamin Pemeluknya Masuk Surga?

Ketika seseorang berkata demikian, dan bahkan menyebutkan hadits berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوْقُ: ( إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالله الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا ) – رواه البخاري ومسلم

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.
[Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

Hadits diatas berhubungan dengan Taqdir Allah. Kalau berbicara tentang takdir Allah, pembahasan bisa sangat panjang. Mengapa demikian?
Sebab kalau membahas mengenai takdir Allah, ada dua sisi yang perlu diperhatikan. Yakni sisi Pencipta, yakni Allah, dan sisi Makhluq.

*) Kalau dari sisi Allah, tidak ada satupun mahkluq yang mengetahui, baik tentang DiriNya, DzatNya, WujudNya, PerbuatanNya dan masih banyak lagi, kecuali yang memang diterangkan sendiri oleh Dia.

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ
Allah berfirman : “Manusia tidak sedikit pun mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah kehendaki”.(QS. Al Baqarah : 255).

Termasuk hadits diatas juga bagian dari sedikit penjelasan Allah.

*) Kalau ditinjau dari sisi Makhluq, maka segala pengetahuannya adalah apa yang nampak dihadapannya. Makhluq tidak mengetahui kejadian detik-detik berikutnya. Sehingga kewajiban makhluq hanya bisa berusaha, sesuai dengan diperintahkan Allah kepadanya.
Sedikitpun manusia tidak mengetahui, apakah usahanya bisa berhasil ataukah tidak.

Kalimat “ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”

---> Kalimat ini lebih banyak menjelaskan mengenai ilmu Allah, dan kehendakNya. Sehingga tidak satupun makhluq tahu nasibnya kelak, kecuali Allah sendiri yang memberi tahunya, seperti nasib Iblis yang dijelaskan dalam Al Quran.
Kehendak Allah sangat rahasia, lebih rahasia dari apapun juga yang paling rahasia, dan kehendak itu pasti terjadi. Karena itu makhluq hendaknya takut kepada Allah dengan sebenar2 takut. Namun bukan ketakutan yang berlebihan hingga ia berputus asa. Makhluq itu hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan selalu mengharap RahmatNya saja. Bukankah Rahmat Allah Maha luas?

---> Mengingatkan manusia supaya sadar bahwa jangan sampai sembrono dalam beramal. Jika manusia beramal baik, maka yang perlu diingat:
1. Amal baik itu dikerjakan istiqomah
2. Hindari perbuatan riya’, sombong, merasa dirinya suci.
3. Amal itu jangan untuk mendapatkan pujian/popularitas atau kekayaan dunia.
4. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah niat pelakunya harus semata-mata karena Allah.
5. Manusia itu wajib sadar kalau Amal baik yang bisa ia kerjakan itu adalah merupakan karunia dan rahmat Allah Ta’ala saja.
6. Sehingga jangan terlalu bangga dengan amal baik yang telah dikerjakan.
7. Jangan meremehkan orang lain yang amal ibadahnya lebih sedikit dari kita.

Jika manusia itu tidak istiqomah dalam melakukan amal baik, atau bahkan ia murtad (Na'udzubillahi min Dzalika), maka terhapuslah segala amal baik itu. Nah, disinilah jaminan Allah tentang balasan Surga menjadi hilang. Manusia itu sendiri telah menentukan nasibnya sendiri untuk masuk neraka. Sehingga jangan menyalahkan taqdir Allah, namun salahkan diri sendiri, bukankah Allah telah memberikan pilihan?

Jika seseorang itu tetap istiqomah berada pada jalan Allah, hingga ia wafat, maka janji Allah untuk memberikan balasan Surga isyaAllah terwujud. (Penulis menggunakan isyaAllah, karena memang penulis tidak tahu kehendak Allah).

[Berikut artikel tentang Taqdir: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/11/takdir.html]

Hal seperti ini, tentang janji Allah bagi hamba2Nya yang berbuat baik dan istiqomah akan mendapat balasan Surga dapat dijelaskan seperti berikut ini:

Sesungguhnya Ahli Surga itu telah ditetapkan, demikian juga Ahli Neraka ...
... Sahabat-sahabat beliau berkata, "Apa manfaat amal perbuatan yang kita lakukan, jika urusannya telah ditetapkan seperti itu?"
Rasulullah menjawab, "Mintalah kebenaran dan istiqamah dengan amal perbuatan kalian, dan jangan berlebihan dalam semua urusan."
Sesungguhnya ahli surga itu (hidupnya) akan diakhiri dengan amal perbuatan ahli surga, meski (selama hidup) dia melakukan amal perbuatan apapun  (termasuk amal perbuatan ahli neraka). Dan, sesungguhnya ahli neraka itu (hidupnya) akan diakhiri dengan amal perbuatan ahli neraka, meski (selama hidup) dia melakukan amal perbuatan apapun (termasuk amal perbuatan ahli surga).
Allah telah menentukan nasib para hambaNya, sebagian dari mereka menjadi ahli Surga dan sebagian yang lain menjadi penghuni Neraka.
[Hasan:Shahih Sunan Tirmidzi (2141), AshShahihah(848), dan AzhZhilal (348).] (Diringkas)


عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini”.[HR Tirmidzi, no. 2410. Ibnu Majah, no. 3972. Dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani]

--> Perintah untuk beristiqomah dijalan Allah, dan tentang bahayanya lidah, bukankah dengan lidah seseorang bisa menjadi mukmin, kafir atau bahkan murtad?

Dan hadits ini hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah?. Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk Surga “ (H.R Bukhari)

Allah Ta’ala telah berfirman tentang Nabi-Nya (SAW),

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW), niscaya Allah menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran :31)

Surat Al-Fath Ayat 17

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

17. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.

Inilah jaminan Allah tentang balasan Surga. Bukankah Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap hamba-hambaNya yang beriman?

Perhatikan ayat2 berikut ini:

Surat Al-Mu’minun Ayat 1-11:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ
الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, [tidak menyekutukan Dia sedikitpun sampai ajal menjemput (wafat)]
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya,
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
dan orang-orang yang menunaikan zakat, [dan sedekah]
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
dan orang-orang yang memelihara sholatnya. [Sesuai dengan sunnah Nabi SAW, misalnya, Sholat tepat waktu, dan berjamaah di Masjid secara istiqomah]
Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.


Sumpah Setia Sahabat Nabi Isa 'Alaihissallam untuk Bersama2 menegakkan agama Allah 
Surat Ali 'Imran Ayat 52

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

Seruan Nabi Isa 'Alaihissallam untuk Hanya Menyembah Allah Saja
Surat Al-Ma'idah Ayat 116-117

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Nabi Isa 'Alaihissallam menceritakan nikmat yang diperolehnya dalam Al Qur’an dan Perintah Allah untuk Mendirikan Sholat dan Menunaikan Zakat:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. [Maryam :31].

Perintah Allah untuk Mendirikan Sholat dijaman Kenabian Muhammad SAW dan Perintah untuk Sholat Berjamaah Tepat Waktu :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.[Thaha:132].


مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barangsiapa yang mendengar adzan lalu tidak datang, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, kitab Al Masajid wal Jama’ah, Bab At Taghlidz Fi At Takhalluf ‘Anil Jama’ah, no. 785. Hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 631.]


Jumat, 29 Desember 2017

LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender) Legal?

Sungguh mengenaskan jika LGBT disahkan disuatu negeri ...
Berdalih HAM, mereka lalu melegalkannya ...
Ada juga yang beranggapan, kalau LGBT itu ada yang bawaan dari lahir, karena itu mereka melegalkannya ...
Bagaimana mereka bisa beranggapan seperti itu?
Sesungguhnya perbuatan mereka sangatlah tercela, hingga Allah memperingatkan perbuatan mereka yang sangat tercela itu ...

Ingatlah wahai manusia, LGBT itu bukanlah penyakit dari lahir (keturunan), namun merupakan ulah jahat Iblis untuk menyesatkan manusia dari jalanNya ...
Memancing kemarahan Allah, hingga Dia mengadzab manusia ...

Ingatlah wahai manusia, LGBT dulunya tidak ada, tidak ada LGBT yang muncul karena keturunan ...
Sungguh tidak ada !!!
Dulu manusia bertindak normal, yakni ada suami-istri yang bertindak sesuai dengan syariat Allah, hingga akhirnya iblis mengajarkan LGBT kepada manusia ...
Mengajarkan pada suatu kaum yang sangat baik akhlaqnya saat itu, yakni penduduk kota Sodom ...

Apakah ada manusia jaman sekarang yang bertindak seperti iblis hingga membangkitkan kembali dan bahkan melegalkan LGBT?
Takutlah akan adzab Allah yang sangat pedih, wahai manusia yang malampaui batas ...!!!

Kisah Sodomi Pertama Di Dunia
Kaum penduduk kota Sodom termasuk kaum yang diberi banyak kelebihan, diantaranya adalah memiliki peradaban yang tinggi, suka bergotong royong dan bersatu padu.

Menurut Steven Collins dari Trinity Southwestern University di New Mexico yang juga merupakan pimpinan proyek penggalian mengungkapkan bahwa kota Sodom merupakan kota yang lebih makmur dan luas dibandingkan dengan kota lain disekitarnya. Dinding pertahanan kotanya saja bisa setebal 5,2 meter dengan menggunakan bata merah dan ketinggian dindingnya mencapai 10 meter. Hal tersebut menunjukkan kota Sodom merupakan kota yang memiliki tingkat peradaban yang tinggi dari bekas-bekas bangunan arsitekturnya.

Sungguh indah sekali kehidupan mereka saat itu. Dengan peradaban yang tinggi, bangunan yang megah dan juga merupakan jalur sutra perdagangan dunia. 

Rupanya iblis tidak menyukai hal itu, berbagai upaya telah dilakukan iblis dan anak buahnya untuk merusak tatanan penduduk kota Sodom, namun ternyata belum membuahkan hasil yang memuaskan. Sungguh susah menyesatkan kaum yang suka persatuan.
Namun bukan iblis namanya jika tak punya cara licik. Akhirnya iblis dapat ide. Setiap kaum Luth pulang kerja maka Iblis merusak dan menghancurkan hasil pekerjaan mereka secara sembunyi-sembunyi.

Keesokan harinya kaum Luth bertanya-tanya tentang siapa yang merusak hasil pekerjaan mereka, membuat pekerjaan kemarin jadi sia-sia dan memperlambat produksi.
Masyarakat sangat kesal dengan pelaku pengrusakan yang sering terjadi, maka mereka bersepakat bila si pelaku tertangkap akan dijatuhi hukuman berat.

Pada hari-hari berikutnya Iblis menjelma menjadi seorang anak muda yang manis tampangnya. Ketika kaum Luth pergi bekerja iblis menjalankan aksinya. Ada sekelompok masyarakat yang melihat gerak-gerik pemuda manis itu kemudian menyadari bahwa pemuda manis itulah pelakunya. Langsung saja masyarakat berusaha menangkap pemuda itu. Setelah diinterogasi akhirnya anak muda itu mengakui perbuatannya.

Hingga akhirnya masyarakat memutuskan akan menghukum mati pemuda manis itu. Kemudian mereka mengurungnya dan dijaga secara bergiliran.
Malam itu juga, ketika telah memasuki waktu tidur, anak manis jelmaan Iblis itu berakting pura-pura menangis dan meratap begitu sedih. Sang Penjaga rupanya kasihan melihat hal itu dan bertanya, ''Ada apa denganmu...?"
''Ayahku selalu memelukku waktu aku mau tidur'', jawab anak itu.
Penjaga itu tidak tega,karena tak ingin melihat anak itu bersedih akhirnya mau tidak mau dia berkata,''Ya sudah, sini saya peluk''.

Ketika sudah dipeluk, anak manis jelmaan Iblis itu melakukan gerakan-gerakan yang membangkitkan nafsu orang tersebut, terus menerus hingga syahwat orang itu menggelora.
Si penjaga telah terpancing dengan nafsu iblis, anak manis jelmaan Iblis itu kemudian mengajarkan kepada orang itu sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh peradaban manusia, yaitu Sodomi (diambil dari nama kota Sodom). Malam itulah terjadi sodomi pertama kali dalam sejarah manusia.

Pagi harinya ketika bangun, anak muda jelmaan iblis itu sudah tidak ada. Orang itu pun menceritakan apa yang terjadi dengan berapi-api sambil mencontohkannya. Teman-temannya menjadi sangat penasaran dan kemudian mencoba melakukannya. Akhirnya hari demi hari, kerusakan moral menyebar kemana-mana dan menjadi kebiasaan masyarakat.

Iblis adalah yang pertama kali mencontohkannya lalu diteruskan oleh orang yang menggaulinya. Rupanya rencana iblis tidak sampai disitu, ada agenda jahat lain yang harus diwujudkan.

Iblis Juga Merusak Kaum Wanita Negeri Sodom
Kemudian Iblis menjelma menjadi seorang wanita lalu datang mengompori kaum perempuan dengan mengatakan, "Sesungguhnya laki-laki kalian sudah saling suka sama suka, kalian tidak dibutuhkan lagi.''
''Iya kami telah mengetahuinya'',jawab para wanita itu.
Iblis lalu mengajarkan hal baru kepada kaum wanita itu, sehingga mereka saling mencukupi satu sama lain juga (lesbian).

Dari sembunyi-sembunyi wanita-wanita melakukan hal itu, sampai akhirnya tanpa rasa malu mereka melakukannya dengan terang-terangan. Bahkan apabila ada musafir dari kota lain, mereka rampok dan tega memperkosa bila mereka suka.
Laki-laki memperkosa laki-laki, wanita dengan wanita...benar-benar kerusakan moral yang parah !!!.
Dan hal ini dilakukan secara terang-terangan ...
Mirip dengan LGBT jaman sekarang ...!!!

Dakwah Nabi Luth
Kemudian Alloh SWT mengutus Nabi Luth untuk menyadarkan kaumnya (hidup satu masa dengan Nabi Ibrahim as, namun beda tempat). Puluhan tahun Nabi Luth membimbing dan menyadarkan mereka, namun hanya segelintir saja yang sadar, sedang sebagian besar mereka tetap LGBT, bahkan tambah tak bermoral.

QS.7. Al A'raaf:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ
فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

80. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu(LGBT), yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?"
81. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.
82. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri."
83. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Mereka mengusir Nabi Luth, dan Nabi Luth memperingatkan bahwa 'malapetaka akan segera diturunkan jika mereka tidak berhenti dari perbuatan itu' justru ditanggapi dengan tantangan agar kutukan Tuhan ditimpakan kepada diri mereka sendiri, karena mereka tak peduli.

Nabi Luth akhirnya menyadari kalau mereka tidak dapat diberi peringatan atau pengertian lagi. Mereka bagai virus mematikan yang terus menginfeksi sekelilingnya dan tak ada cara lain kecuali mereka harus dimusnahkan.
Nabi Luth as kemudian berdoa kepada Alloh, biasanya yang dia minta adalah petunjuk dan hidayah agar kaumnya sadar kembali ke jalan yang benar. Namun sayangnya kali ini beliau meminta agar kaumnya di azab. Demi tidak menjalarnya virus amoral ke daerah-daerah lainnya, Nabi Luth sudah rela bila kaumnya dihukum.


QS.21. Al Anbiyaa':

وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۗ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ
وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

74. dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji[LGBT, menyamun serta mengerjakan perbuatan tersebut dengan berterang-terangan]. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, 
75. dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.

Para Tamu Laki-Laki Sangat Tampan yang Misterius
Alloh SWT yang Maha Kuasa mengabulkan doa Nabi Luth as, DIA mengutus malaikatNya untuk menghukum kaum keras kepala itu. Mula-mula malaikat itu menjelma sebagai laki-laki rupawan. Mereka mengetuk pintu rumah Nabi Luth. Nabi Luth membukakan pintu dan terpesona dengan rupa tampan para tamunya itu. Di satu sisi dia ingin menyambut tamunya dengan penuh keramah-tamahan, namun disisi lain dia sangat khawatir akan keselamatan tamunya itu. Karena Nabi Luth tahu benar bagiamana tak bermoralnya kaumnya terlebih lagi bila berjumpa orang tampan.

Nabi Luth berpesan kepada isterinya dan puterinya agar merahasiakan kedatangan tamu-tamu, jangan sampai terdengar dan diketahui oleh kaumnya. Akan tetapi isteri Nabi Luth yang memang sehaluan dan sependirian dengan penduduk Sodom telah membocorkan berita kedatangan para tamu dan terdengarlah oleh pemuka-pemuka mereka bahwa Luth ada tamu terdiri daripada remaja-remaja yang tampan parasnya dan memiliki tubuh yang sangat menarik bagi para penggemar homoseks.

Terjadilah apa yang dikhuatirkan oleh Nabi Luth. Begitu tersiar dari mulut ke mulut berita kedatangan tamu-tamu remaja tampan di rumah Luth, berdatanglah mereka ke rumahnya untuk melihat para tamunya dan memuaskan nafsunya. Nabi Luth tidak membuka pintu bagi mereka dan berseru agar mereka kembali ke rumah masing-masing dan jangan mengganggu tamu-tamu yang datangnya dari jauh yang sepatutnya dihormati dan dimuliakan.

Mereka diberi nasihat agar meninggalkan adat kebiasaan yang keji itu yang bertentangan dengan fitrah manusia dan qodrat alam di mana Tuhan telah menciptakan manusia berpasangan antara lelaki dengan perempuan untuk menjaga kelangsungan perkembangan umat manusia sebagai makhluk yang termulia di atas bumi.
Nabi Luth berseru agar mereka kembali kepada isteri-isteri mereka dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar yang tidak senonoh, sebelum mereka dilanda azab dan seksaan Allah.

Seruan dan nasihat-nasihat Nabi Luth tak dipedulikan, mereka bahkan mendesak akan mendobrak pintu rumahnya dengan paksa dgn kekerasan kalau pintu tidak di buka dengan sukarela. Merasa bahwa dirinya sudah tidak berdaya untuk menahan arus orang-orang penyerbu dari kaumnya itu yang akan memaksakan kehendaknya dengan kekerasan berkatalah Nabi Luth secara terus terang kepada para tamunya:
"Sesungguhnya aku tidak berdaya lagi menahan orang-orang itu menyerbu ke dalam. Aku tidak memiliki senjata dan kekuatan fisik yang dapat menolak kekerasan mereka, tidak pula mempunyai keluarga atau sanak saudara yang disegani mereka yang dapat aku mintai pertolongannya, maka aku merasa sangat kecewa, bahwa sebagai tuan rumah aku tidak dapat menghalau gangguan terhadap tamu-tamuku dirumahku sendiri."

Begitu Nabi Luth selesai mengucapkan keluh-kesahnya, para tamu segera mengenalkan diri kepadanya dan memberi identitasnya, bahwa mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar sebagai manusia yang bertamu kepadanya dan bahwa mereka datang ke Sodom untuk melaksanakan tugas menurunkan azab dan siksa atas kaumnya yang membangkang dan enggan membersihkan masyarakatnya dari segala kemungkaran dan kemaksiat yang keji dan kotor.

Kepada Nabi Luth para malaikat itu menyarankan agar pintu rumahnya dibuka lebar-lebar untuk memberi kesempatan bagi orang-orang yang haus homoseks itu masuk. Namun malangnya ketika pintu dibuka dan para penyerbu menjejakkan kaki untuk masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka dan tidak dapat melihat sesuatu. Mereka mengusap-usap mata, tetapi ternyata sudah menjadi buta.

Sementara para penyerbu rumah Nabi Luth berada dalam keadaan kacau balau berbentur antara satu dengan lain berteriak-teriak menanya-nanya gerangan apa yang menjadikan mereka buta dengan mendadak, para tamu jelmaan malaikat berseru kepada Nabi Luth agar meninggalkan segera perkampungan itu bersama keluarganya, karena waktunya telah tiba bagi azab Allah yang akan ditimpakan. Para malaikat berpesan kepada Nabi Luth dan keluarganya agar perjalanan ke luar kota jangan seorang pun dari mereka menoleh ke belakang.

=========================================
QS.11. Huud:

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ ۚ قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ
قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ
قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ
قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

77. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: "Ini adalah hari yang amat sulit[Nabi Luth a.s. merasa susah akan kedatangan utusan-utuaan Allah itu karena mereka berupa pemuda yang rupawan sedangkan kaum Luth amat menyukai pemuda-pemuda yang rupawan untuk melakukan homo sexual. Dan dia merasa tidak sanggup melindungi mereka bilamana ada gangguan dari kaumnya.]." 
78. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji[LGBT]. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" 
79. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan[mereka tidak punya syahwat terhadap wanita] terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." 
80. Luth berkata: "Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." 
81. Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal[Kata tertinggal di sini terjemahan dari kalimah yaltafit. Ada pula mufassir menterjemahkannya dengan menoleh ke belakang], kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?." 
82. Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, 
83. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim[orang-orang zalim itu karena kezalimannya, mereka pasti mendapat siksa yang demikian. Adapula sebagian mufassir mengartikan bahwa negeri kaum Luth yang dibinasakan itu tidak jauh dari negeri Mekah.].
=========================================

Dimusnahkannya Kaum Sodom 
Nabi Luth keluar dari rumahnya sehabis tengah malam, bersama keluarganya terdiri dari seorang isteri dan dua puterinya berjalan cepat menuju keluar kota, tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sesuai dengan petunjuk para malaikat yang menjadi tamunya. Akan tetapi si isteri yang menjadi musuh dalam selimut bagi Nabi Luth berada dibelakang rombongan Nabi Luth berjalan perlahan-lahan tidak secepat langkah suaminya dan tidak henti-henti menoleh ke belakang karena ingin mengetahui apa yang akan menimpa atas kaumnya, seakan-akan meragukan kebenaran ancaman para malaikat yang telah didengarnya sendiri.

Dan begitu langkah Nabi Luth beserta kedua puterinya melewati batas kota Sodom, sewaktu fajar menyingsing, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya menggoncang kota Sodom, tidak terkecuali isteri Nabi Luth yang munafiq itu. Getaran itu mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu api yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sodom berserta semua penghuninya.
Konon setiap batu api yang jatuh, maka tidak akan sampai ke tanah hingga mengenai salah satu manusia penduduk kota Sodom.
Akhirnya Allah menghancurkan kota Sodom, hingga amblas kedalam tanah yang paling dalam, yang sekarang berada dalam dasar laut mati, yang konon kabarnya kota ini amblas hingga titik terendah, jauh lebih rendah dari lautan. Laut mati ini memiliki titik terendah di bumi pada 1.300 kaki (417.5m) di bawah permukaan laut. Dan airnya sangat pekat kadar garamnya (8,6 kali lebih pekat dari laut biasa). Andaikan ada seseorang yang tidak bisa berenang lalu jatuh ke laut mati, niscaya ia tidak akan tenggelam, bahkan mengambang dipermukaan.

Tidak jauh dari laut mati juga ditemukan sisa-sisa kota yang terperosok kedalam lembah jurang.
Lembaga Geografi nasional Amerika Syarikat (National Geographic) pada Desember 1957 menyatakan:
“Gunung Sodom, merupakan tanah gersang dan tandus muncul secara mendadak diatas Laut Mati. Tidak ada seorang pun yang pernah menemui kota Sodom dan Gomorah yang dihancurkan, namun ahli arkeologi percaya bahwa kota ini dahulunya berada di lembah Siddim yang terletak melintang di sepanjang tepian tebing jurang ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati yang menelan mereka yang disertai dengan gempa bumi”.
Dan seorang peneliti asal Jerman, Werner Keller, mengungkapkan bagaimana kota Sodom dihancurkan seperti yang dia teliti dari batuan yang ada. Perkiraannya, kota Sodom dihancurkan bukan hanya dengan hujan batu api, melainkan juga diguncangkan sekeras-kerasnya hingga seluruh kota dan isinya terperosok kedalam lembah jurang dengan guncangan maha dahsyat. Berdasarkan penelahaannya, kota Sodom dihancurkan dengan berbagai macam fenomena alam yang mengerikan seperti letusan, petir yang menyambar-nyambar, gas alam yang tak terbendung terus menerus keluar hingga lautan api yang membakar seluruh isi kota ...!

*Tidak ditampilkan gambar disini, sebab terlihat tidak nyaman. Pembaca bisa mencari gambar sendiri, jika diinginkan.


=========================================
QS.26. Asy Syu'araa':

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ
إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ
وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ
قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ
قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُمْ مِنَ الْقَالِينَ
رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ
فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ
إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ
ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

160. Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, 
161. ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?" 
162. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, 
163. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. 
164. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam. 
165. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, 
166. dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas." 
167. Mereka menjawab: "Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir" 
168. Luth berkata: "Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu." 
169. (Luth berdoa): "Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan." 
170. Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua, 
171. kecuali seorang perempuan tua (isterinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal. 
172. Kemudian Kami binasakan yang lain. 
173. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. 
174. Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata[buktinya adalah terdapatnya kota mati, didasar laut mati, hingga pekatnya kadar garam pada airnya]. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.


QS.54. Al Qamar:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ
نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ
وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ
وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ
وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ
فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

33. Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). 
34. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, 
35. sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, 
36. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. 
37. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. 
38. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. 
39. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.[Lihat kembali kisah kaum Luth ini pada surat Hud (11) ayat 77-83]
=========================================

Apakah Adzab Hanya untuk Pelaku LGBT Saja?
Ternyata tidak ada riwayat yang menyatakan istri Nabi Luth ikut-ikutan melakukan perbuatan lesbian. Namun karena istri Nabi Luth ridlo terhadap perbuatan LGBT tersebut, maka Allah meng-adzabnya juga.
Karena itu wahai manusia yang beriman, walaupun anda tidak ikut-ikutan dalam perbuatan LBGT, janganlah ridlo terhadap perbuatan mereka. Cegahlah perbuatan mereka dengan cara yang baik.

>>> Sehingga Allah mengabadikan perbuatan istri Nabi Luth yang membangkang suaminya, padahal suaminya telah menasehatinya dengan sungguh2, namun akhirnya tetap membangkang. Sehingga dijadikan sebagai contoh buruk sepanjang masa.

QS.66. At Tahrim:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat[nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama] kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)." 


Demikianlah ayat Allah yang diturunkan untuk menjadi pengajaran dan ibroh bagi hamba-hamba-Nya yang akan datang.
Apakah manusia jaman sekarang ingin mengikuti perbuatan bejat kaum sodom? Ataukah memodifikasinya hingga menafsiri ayat2 Allah untuk melegalkan perbuatan mereka?
Na'udzubillah ... !!!
Wahai manusia, takutlah akan adzab Allah, yang ditimpakan kepada kaum yang keterlaluan hingga melampaui batas!!!

Ingatlah, yang dimurkai Allah adalah perbuatannya (LGBT), bukan manusianya. Sehingga, Allah akan mengampuni manusia yang bertobat dengan sungguh2 untuk menghentikan perbuatan LGBT-nya.
InsyaAllah ...

Jumat, 22 Desember 2017

Hadits-Hadits Tentang Zakat

Hadits ini dijadikan dalil, Dimana zakat dipungut disana didistribusikan:


َعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ مُعَاذًا رضي الله عنه إِلَى اَلْيَمَنِ )  فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ, وَفِيهِ: ( أَنَّ اَللَّهَ قَدِ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ, تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ, فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ

Dari Ibnu Abbas r. bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengutus Mu'adz ke negeri Yaman --ia meneruskan hadits itu-- dan didalamnya (beliau bersabda): "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka." (Muttafaqun Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.)

Hadits ini menjadi dalil Tidak afdhol Lembaga Zakat di suatu kota memungut di kota yang lain:

َوَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ اَلْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ )  رَوَاهُ أَحْمَد ُ

Dari Amar Ibnu Syu`aib dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Zakat kaum muslimin diambil di tempat-tempat sumber air mereka." (Riwayat Ahmad). Hadits menurut riwayat Abu Dawud: "Zakat mereka tidak diambil kecuali di kampung mereka."

Hadits ini dijadikan dalil Qinyah (harta yg dipakai sep. Rumah, mobil) tidak kena zakat:

َوَلِأَبِي دَاوُدَ: ( وَلَا تُؤْخَذُ صَدَقَاتُهُمْ إِلَّا فِي دُورِهِمْ ). وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيْسَ عَلَى اَلْمُسْلِمِ فِي عَبْدِهِ وَلَا] فِي [ فَرَسِهِ صَدَقَةٌ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. وَلِمُسْلِمٍ: ( لَيْسَ فِي اَلْعَبْدِ صَدَقَةٌ إِلَّا صَدَقَةُ اَلْفِطْرِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak wajib zakat bagi orang islam atas hambanya dan kudanya." (Hadits Riwayat Bukhari). Menurut riwayat Muslim: "Tidak ada zakat bagi hamba kecuali zakat fitrah."

Hadits-Hadits Tentang Zakat dan Bilangannya:

َوَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( فِي كُلِّ سَائِمَةِ إِبِلٍ: فِي أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ, لَا تُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا, مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا بِهَا فَلَهُ أَجْرُهُ, وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ, عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا, لَا يَحِلُّ لِآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَعَلَّقَ اَلشَّافِعِيُّ اَلْقَوْلَ بِهِ عَلَى ثُبُوتِه ِ

Dari Bahz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Pada setiap 40 ekor unta yang dilepas mencari makan sendiri, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya memasuki tahun ketiga. Tidak boleh dipisahkan anak unta itu untuk mengurangi perhitungan zakat.
Barangsiapa memberinya karena mengharap pahala, ia akan mendapat pahala.
Barangsiapa menolak untuk mengeluarkannya, kami akan mengambilnya beserta setengah hartanya karena ia merupakan perintah keras dari Tuhan kami.
Keluarga Muhammad tidak halal mengambil zakat sedikit pun." (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim.) Syafi'i memberikan komentar atas ketetapan hadits ini.


َوَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ -وَحَالَ عَلَيْهَا اَلْحَوْلُ- فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ, وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا, وَحَالَ عَلَيْهَا اَلْحَوْلُ, فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ, فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ, وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ اَلْحَوْلُ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَهُوَ حَسَنٌ, وَقَدِ اِخْتُلِفَ فِي رَفْعِه

Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila engkau memiliki 200 dirham dan telah melewati satu tahun, maka zakatnya 5 dirham. Tidak wajib atasmu zakat kecuali engkau memiliki 20 dinar dan telah melewati setahun, maka zakatnya 1/2 dinar. Jika lebih dari itu, maka zakatnya menurut perhitungannya. Harta tidak wajib dikeluarkan zakat kecuali telah melewati setahun." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud). Ke-marfu'-an hadits ini diperselisihkan.


َوَلِلتِّرْمِذِيِّ; عَنِ اِبْنِ عُمَرَ: ( مَنِ اِسْتَفَادَ مَالًا, فَلَا زَكَاةَ عَلَيْهِ حَتَّى يَحُولَ اَلْحَوْلُ )  وَالرَّاجِحُ وَقْفُه ُ

Menurut riwayat Tirmidzi dari Ibnu Umar r.a: "Barangsiapa memanfaatkan (mengembangkan) harta, tidak wajib zakat atasnya kecuali setelah mencapai masa setahun." (Hadits mauquf).


َوَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( لَيْسَ فِي اَلْبَقَرِ اَلْعَوَامِلِ صَدَقَةٌ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ أَيْضًا.

Ali Radliyallaahu 'anhu berkata: Tidak ada zakat atas sapi yang dipekerjakan. (Riwayat Abu Dawud dan Daruquthni). Hadits mauquf menurut pendapat yang lebih menang.


َوَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مِنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ, فَلْيَتَّجِرْ لَهُ, وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ اَلصَّدَقَةُ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَإِسْنَادُهُ ضَعِيف ٌ. وَلَهُ شَاهِدٌ مُرْسَلٌ عِنْدَ اَلشَّافِعِيّ ِ

Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa mengurus anak yatim yang memiliki harta, hendaknya ia memperdagangkan harta itu untuknya, dan tidak membiarkannya sehingga dimakan oleh zakat." (Riwayat Tirmidzi dan Daruquthni, sanadnya lemah. Hadits ini mempunyai saksi mursal menurut Syafi'i.)


َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ: "اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ" )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah Ibnu Aufa bahwa biasanya bila suatu kaum datang membawa zakat kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau berdoa: "Ya Allah, berilah rahmat atas mereka." (Muttafaqun Alaihi)

Boleh bersegera dalam Mengeluarkan Zakat:

َوَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه أَنَّ اَلْعَبَّاسَ رضي الله عنه ( سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ, فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِم ُ

Dari Ali bahwa Abbas bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam penyegeraan pengeluaran zakat sebelum waktunya, lalu beliau mengizinkannya. (Riwayat Tirmidzi dan Hakim.)


َوَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ اَلْوَرِقِ صَدَقَةٌ, وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسٍ ذَوْدٍ مِنَ اَلْإِبِلِ صَدَقَةٌ, وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنَ اَلتَّمْرِ صَدَقَةٌ )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tak ada zakat pada perak yang kurang dari 5 auqiyah (600 gram), unta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor, dan kurma yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter)." (Riwayat Muslim.)


َوَلَهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ: ( لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسَاقٍ مِنْ تَمْرٍ وَلَا حَبٍّ صَدَقَةٌ ). وَأَصْلُ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Said r.a: "Tidak ada zakat pada kurma dan biji-bijian yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter)." (Asal hadits dari Abu Said itu Muttafaq Alaihi.)


َوَعَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( فِيمَا سَقَتِ اَلسَّمَاءُ وَالْعُيُونُ, أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا: اَلْعُشْرُ, وَفِيمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ: نِصْفُ اَلْعُشْرِ. )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. وَلِأَبِي دَاوُدَ: ( أَوْ كَانَ بَعْلًا: اَلْعُشْرُ, وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّوَانِي أَوِ اَلنَّضْحِ: نِصْفُ اَلْعُشْرِ )

Dari Salim Ibnu Abdullah, dari ayahnya r.a, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tanaman yang disiram dengan air hujan atau dengan sumber air atau dengan pengisapan air dari tanah, zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, zakatnya seperduapuluh." (Riwayat Bukhari). Menurut riwayat Abu Dawud: "Bila tanaman ba'al (tanaman yang menyerap air dari tanah), zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia atau binatang, zakatnya setengah dari sepersepuluh (1/20)."


َوَعَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ; وَمُعَاذٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُمَا: ( لَا تَأْخُذَا فِي اَلصَّدَقَةِ إِلَّا مِنْ هَذِهِ اَلْأَصْنَافِ اَلْأَرْبَعَةِ: اَلشَّعِيرِ, وَالْحِنْطَةِ, وَالزَّبِيبِ, وَالتَّمْرِ )  رَوَاهُ اَلطَّبَرَانِيُّ, وَالْحَاكِم ُ

Dari Abu Musa al-Asy'ary dan Mu'adz Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada keduanya: "Jangan mengambil zakat kecuali dari keempat jenis ini, yakni: sya'ir, gandum, anggur kering, dan kurma." (Riwayat Thabrani dan Hakim.)


َوَلِلدَّارَقُطْنِيِّ, عَنْ مُعَاذٍ: ( فَأَمَّا اَلْقِثَّاءُ, وَالْبِطِّيخُ, وَالرُّمَّانُ, وَالْقَصَبُ, فَقَدْ عَفَا عَنْهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم )  وَإِسْنَادُهُ ضَعِيف ٌ

Menurut Daruquthni bahwa Mu'adz Radliyallaahu 'anhu berkata: Adapun mengenai ketimun, semangka, delima dan tebu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah membebaskan (zakat)-nya. (Sanadnya lemah.)


َوَعَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا خَرَصْتُمْ, فَخُذُوا, وَدَعُوا اَلثُّلُثَ, فَإِنْ لَمْ تَدَعُوا اَلثُّلُثَ, فَدَعُوا اَلرُّبُعَ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اِبْنَ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِم ُ

Sahal Ibnu Abu Hatsmah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami apabila kamu menaksir, maka kerjakanlah, tetapi bebaskan sepertiga. Apabila kamu enggan membebaskan sepertiga, maka bebaskan seperempat. (Riwayat Imam Lima kecuali Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim.)


َوَعَنْ عَتَّابِ بنِ أُسَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَنْ يُخْرَصَ اَلْعِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ اَلنَّخْلُ, وَتُؤْخَذَ زَكَاتُهُ زَبِيبًا )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَفِيهِ اِنْقِطَاع ٌ

Attab Ibnu Asid Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar anggur ditaksir sebagaimana kurma, dan zakatnya diambil setelah dalam keadaan kering. (Riwayat Imam Lima dan sanadnya terputus.)


َوَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; ( أَنَّ اِمْرَأَةً أَتَتِ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَمَعَهَا اِبْنَةٌ لَهَا, وَفِي يَدِ اِبْنَتِهَا مِسْكَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ لَهَا: "أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا?" قَالَتْ: لَا. قَالَ: "أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اَللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ?". فَأَلْقَتْهُمَا. )  رَوَاهُ اَلثَّلَاثَةُ, وَإِسْنَادُهُ قَوِيّ ٌ. وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَة

Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas ditangannya. Lalu beliau bertanya: "Apakah engkau mengeluarkan zakat gelang ini?" Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: "Apakah engkau senang pada hari kiamat nanti Allahakan menggelangi kamu dengan dua gelang api neraka?" Lalu perempuan itu melepaskan kedua gelang tersebut.
(Riwayat Imam Tiga dengan sanad yang kuat. Hadits shahih menurut Hakim dari hadits 'Aisyah.)


َوَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّهَا كَانَتْ تَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَكَنْزٌ هُوَ? ] فَـ [ قَالَ: إِذَا أَدَّيْتِ زَكَاتَهُ, فَلَيْسَ بِكَنْزٍ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia mengenakan perhiasan dari emas, lalu dia bertanya: Ya Rasulullah, apakah ia termasuk harta simpanan? Beliau menjawab: "Jika engkau mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuk harta simpanan."
(Riwayat Abu Dawud dan Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.)


َوَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا; أَنْ نُخْرِجَ اَلصَّدَقَةَ مِنَ اَلَّذِي نَعُدُّهُ لِلْبَيْعِ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَإِسْنَادُهُ لَيِّن ٌ

Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari harta yang kita siapkan untuk berjualan. (Riwayat Abu Dawud dan sanadnya lemah.)


َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "وَفِي اَلرِّكَازِ: اَلْخُمُسُ" )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Zakat rikaz (harta peninggalan purbakala) adalah seperlima." (Muttafaq Alaihi.)


َوَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ -فِي كَنْزٍ وَجَدَهُ رَجُلٌ فِي خَرِبَةٍ-: إِنْ وَجَدْتَهُ فِي قَرْيَةٍ مَسْكُونَةٍ, فَعَرِّفْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَهُ فِي قَرْيَةٍ غَيْرِ مَسْكُونَةٍ, فَفِيهِ وَفِي اَلرِّكَازِ: اَلْخُمُسُ  )  أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَن ٍ

Dari Amar Ibnu Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tentang harta simpanan yang ditemukan seseorang di suatu tempat yang tidak berpenghuni. Jika engkau menemukannya pada kampung yang dihuni orang, maka umumkan. Jika engkau menemukannya pada kampung yang tidak dihuni orang, maka zakatnya sebagai rikaz itu seperlima."
 (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.)


َوَعَنْ بِلَالِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَخَذَ مِنَ اَلْمَعَادِنِ اَلْقَبَلِيَّةِ اَلصَّدَقَةَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُد َ

Dari Bilal Ibnu Harits Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengambil zakat dari barang-barang tambang di Qalibiyah. (Riwayat Abu Dawud.)


َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اَلصِّدِّيقَ رضي الله عنه كَتَبَ لَه ُ ( هَذِهِ فَرِيضَةُ اَلصَّدَقَةِ اَلَّتِي فَرَضَهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى اَلْمُسْلِمِينَ, وَاَلَّتِي أَمَرَ اَللَّهُ بِهَا رَسُولَه ُ فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنَ اَلْإِبِلِ فَمَا دُونَهَا اَلْغَنَم ُ فِي كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ, فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إِلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَابْنُ لَبُونٍ ذَكَر ٍ فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُون ٍ أُنْثَى, فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إِلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ اَلْجَمَل ِ فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إِلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ فَفِيهَا جَذَعَة ٌ فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَسَبْعِينَ إِلَى تِسْعِينَ فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ, فَإِذَا بَلَغَتْ إِحْدَى وَتِسْعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا اَلْجَمَلِ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ, وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ, وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا أَرْبَعٌ مِنَ اَلْإِبِلِ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا وَفِي صَدَقَةِ اَلْغَنَمِ سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةِ شَاة ٍ شَاةٌ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ فَفِيهَا شَاتَانِ, فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلَاثمِائَةٍ فَفِيهَا ثَلَاثُ شِيَاه ٍ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلَاثِمِائَةٍ فَفِي كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ اَلرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاة ٍ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا. وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ خَشْيَةَ اَلصَّدَقَةِ, وَمَا كَانَ مِنْ خَلِيطَيْنِ فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيْنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ, وَلَا يُخْرَجُ فِي اَلصَّدَقَةِ هَرِمَة ٌ وَلَا ذَاتُ عَوَارٍ, إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اَلْمُصَّدِّقُ، وَفِي اَلرِّقَة ِ رُبُعُ اَلْعُشْرِ, فَإِنْ لَمْ تَكُن ْ إِلَّا تِسْعِينَ وَمِائَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا, وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ مِنَ اَلْإِبِلِ صَدَقَةُ اَلْجَذَعَةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ جَذَعَةٌ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ, فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ اَلْحِقَّةُ, وَيَجْعَلُ مَعَهَا شَاتَيْنِ إِنِ اِسْتَيْسَرَتَا لَهُ, أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا, وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ صَدَقَةُ اَلْحِقَّةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ اَلْحِقَّةُ, وَعِنْدَهُ اَلْجَذَعَةُ, فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ اَلْجَذَعَةُ, وَيُعْطِيهِ اَلْمُصَّدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ


Dari Anas bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radliyallaahu 'anhu menulis surat kepadanya: Ini adalah kewajiban zakat yang diwajibkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam atas kaum muslimin.
Yang diperintahkan Allah atas rasul-Nya ialah setiap 24 ekor unta ke bawah wajib mengeluarkan kambing, yaitu setiap kelipatan lima ekor unta zakatnya seekor kambing. Jika mencapai 25 hingga 35 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua, jika tidak ada zakatnya seekor anak unta jantan yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 36 hingga 45 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 46 hingga 60 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah masuk tahun keempat dan bisa dikawini unta jantan. Jika mencapai 61 hingga 75 ekor unta, zakatnya seekor unta betina yang umurnya telah masuk tahun kelima. Jika mencapai 79 hingga 90 ekor unta, zakatnya dua ekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua. Jika mencapai 91 hingga 120 ekor unta, maka setiap 40 ekor zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun ketiga dan setiap 50 ekor zakatnya seekor unta betina yang umurnya masuk tahun keempat. Bagi yang hanya memiliki 4 ekor unta, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menginginkan.
Mengenai zakat kambing yang dilepas mencari makan sendiri, jika mencapai 40 hingga 120 ekor kambing, zakatnya seekor kambing. Jika lebih dari 120 hingga 200 ekor kambing, zakatnya dua ekor kambing. Jika lebih dari 200 hingga 300 kambing, zakatnya tiga ekor kambing. Jika lebih dari 300 ekor kambing, maka setiap 100 ekor zakatnya seekor kambing. Apabila jumlah kambing yang dilepas mencari makan sendiri kurang dari 40 ekor, maka tidak wajib atasnya zakat kecuali jika pemiliknya menginginkan.
Tidak boleh dikumpulkan antara hewan-hewan ternak terpisah dan tidak boleh dipisahkan antara hewan-hewan ternak yang terkumpul karena takut mengeluarkan zakat. Hewan ternak kumpulan dari dua orang, pada waktu zakat harus kembali dibagi rata antara keduanya. Tidak boleh dikeluarkan untuk zakat hewan yang tua dan yang cacat, dan tidak boleh dikeluarkan yang jantan kecuali jika pemiliknya menghendaki.
Tentang zakat perak, setiap 200 dirham zakatnya seperempatnya (2 1/2%). Jika hanya 190 dirham, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menghendaki.
Barangsiapa yang jumlah untanya telah wajib mengeluarkan seekor unta betina yang seumurnya masuk tahun kelima, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah dua ekor kambing jika tidak keberatan, atau 20 dirham.
Barangsiapa yang sudah wajib mengeluarkan seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun kelima, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah 20 dirham atau dua ekor kambing.
(Riwayat Bukhari.)


َوَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَهُ إِلَى اَلْيَمَنِ, فَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً, وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً, وَمِنْ كُلِّ حَالِمٍ دِينَارًا أَوْ عَدْلَهُ مُعَافِرَ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَاللَّفْظُ لِأَحْمَدَ, وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَأَشَارَ إِلَى اِخْتِلَافٍ فِي وَصْلِهِ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِم ُ

Dari Mu'adz Ibnu Jabal Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mengutusnya ke negeri Yaman. Beliau memerintahkan untuk mengambil (zakat) dari 30 ekor sapi, seekor anak sapi berumur setahun lebih yang jantan atau betina, dan setiap 40 ekor sapi, seekor sapi betina berumur dua tahun lebih, dan dari setiap orang yang telah baligh diambil satu dinar atau yang sebanding dengan nilai itu pada kaum Mu'afiry.
(Riwayat Imam Lima dan lafadznya menurut riwayat Ahmad. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan ia menunjukkan perselisihan pendapat tentang maushulnya hadits ini. Ibnu Hibban dan Hakim menilainya hadits shahih.)

٣٥٤ - حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ عَنْ أَبِي الْغُصْنِ عَنْ صَخْرِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جَابِرِ بْنِ عَتِيكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَيَأْتِيكُمْ رُكَيْبٌ مُبْغَضُونَ فَإِنْ جَاءُوكُمْ فَرَحِّبُوا بِهِمْ وَخَلُّوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَبْتَغُونَ فَإِنْ عَدَلُوا فَلِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ ظَلَمُوا فَعَلَيْهَا وَأَرْضُوهُمْ فَإِنَّ تَمَامَ زَكَاتِكُمْ رِضَاهُمْ وَلْيَدْعُوا لَكُمْ قَالَ أَبُو دَاوُد أَبُو الْغُصْنِ هُوَ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ غُصْنٍ


1354. Telah menceritakan kepada Kami Abbas bin 'Abdul 'Azhim dan Muhammad bin Al Mutsanna, mereka berkata; telah menceritakan kepada Kami Bisyr bin Umar dari Abu Al Ghushn dari Shakhr bin Ishaq dari Abdurrahman bin Jabir bin 'Atik dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: akan datang kepada kalian para petugas pengambil zakat, jika mereka sudah datang kepada kalian, maka sambutlah mereka dan biarkanlah mereka mengambil apa yang mereka inginkan, jika mereka berbuat adil maka itu adalah kebaikan buat kalian dan jika mereka berbuat dzalim maka dosanya bagi mereka, buatlah mereka ridha, sebab kesempurnaan zakat kalian pada keridhaan mereka, dan hendaklah mereka mendo'akan kalian. Abu Daud berkata; Abu Al Ghushn adalah Tsabit bin Qais bin Ghushn.  (Abu Dawud)

Dari ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَىْءٌ – يَعْنِى فِى الذَّهَبِ – حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ

“Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikit pun –maksudnya zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar, dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. Dan setiap kelebihan dari (nishob) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu.”[HR. Abu Daud no. 1573. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ

“Tidaklah ada kewajiban zakat pada uang perak yang kurang dari lima uqiyah “.[HR. Bukhari no. 1447 dan Muslim no. 979]

Dan pada hadits riwayat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dinyatakan,

وَفِى الرِّقَةِ رُبْعُ الْعُشْرِ

“Dan pada perak, diwajibkan zakat sebesar seperempat puluh (2,5 %).” (HR. Bukhari no. 1454)

Berkata DR. Muhammad Al Asyqor (dinukil dari fatawa yas’alunak) : “Pada zaman Nabi uang sebesar 20 dinar emas bisa untuk membeli kurang lebih 20 ekor kambing Hijaz, hal yang sama juga untuk uang perak senilai 200 dirham dapat untuk membeli 20 ekor kambing kurang lebihnya, dibandingkan dengan sekarang uang dirham sebesar itu belum tentu cukup untuk membeli seekor kambing”.
DR. Yusuf Qordhowi berkata dalam kitab zakat : “yang menguatkan hal ini adalah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, bahwa diyat pada zaman Nabi sebesar 800 Dinar atau 8000 Dirham. Pada masa Umar bin Khotob Rodhiyallohu anhu beliau pernah berkata, ‘sekarang (harga) onta mahal, harganya untuk emas sebesar 1000 dinar, sedangkan untuk uang perak 12000 dirham”.

* Nishab emas 20 dinar, 1 dinar = 4,25 gram, maka nishab emas adalah 20 X 4,25 gram = 85 gram.
* Nishab Perak adalah 200 dirham, 1 dirham = 2,975 gram, maka nishab perak adalah 200 X 2,975 gram = 595 gram.


Bab. Pembanding


>>> Berapakah Harga Emas Terbaru?

Konversi:
1oz= 28.349523125 gram

* Daftar Harga Emas dan Perak terbaru: http://www.antam.com/index.php?option=com_content&task=view&id=276&Itemid=140

* Kurs Dolar Sekarang: https://id.exchange-rates.org/Rate/USD/IDR

>>> Rumus Mencari Harga Emas per Gramnya:
([Gold $/oz]/[28.349523125 gram])*[Kurs(USD) ke Rupiah]

>>> Untuk Mencari Nishob:
[Harga Emas per Gram]*[Nishob Emas]

Bab. Untuk Siapa Sajakah Zakat itu Diberikan?
Surat At-Taubah Ayat 60

۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk
1. Orang-orang fakir,[orang yang tidak punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan primer sehari2]
2. Orang-orang miskin, [orang yang punya penghasilan, namun hanya cukup hingga 50% kebutuhan primer sehari2]
3. Pengurus-pengurus zakat, [baik kaya ataupun miskin. tidak ada bedanya]
4. Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, [hanya 1 kali atau 2 kali saja]
5. Untuk (memerdekakan) budak, [ada pendapat, juga untuk PSK yang ingin merdeka dari germonya]
6. Orang-orang yang berhutang, [khusus untuk hutang yang untuk memenuhi kebutuhan primer sehari2, dan BUKAN yang berhutang untuk investasi atau bisnis]
7. Untuk jalan Allah [ada yang mengatakan, juga untuk beasiswa mahasiswa yang belajar agama Islam]
8. Dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, 
sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Bab. Sekilas Ilmu Hadits:

a). Hadits Marfu

Hadits marfu adalah hadits yang khusus disandarkan kepada Nabi saw berupa perkataan, perbuatan atau taqrir beliau; baik yang menyandarkannya sahabat, tabi’in atau yang lain; baik sanad hadits itu bersambung atau terputus.
Berdasarkan definisi diatas hadits marfu itu ada yang sanadnya bersambung, adapula yang terputus. Dalam hadits marfu ini tidak dipersoalkan apakah ia memiliki sanad dan matan yang baik atau sebaliknya. Bila sanadnya bersambung maka dapat disifati hadits shahih atau hadits hasan, berdasarkan derajat kedhabitan dan keadilan perawi. Bila sanadnya terpuus hadits tersebut disifati dengn hadits dhaif mengikuti macam-macam putusnya perawi.

b). Hadits Mauquf

Hadits mauquf ialah:

هو ما قصر على الصحابىّ قولا او فعلا متّصلا كان او منقطعا

“Berita yang hanya disandarkan sampai kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung maupun terputus.”

c).Hadits Maqthu’

Dari segi bahasa, berarti hadits yang terputus. Para ulama memberi batasan:

ما جاء عن تابعيّ من قوله او فعله موقوفاعليه سواءاتّصل سنده أملا

“Ialah perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta dimauqufkan padanya, baik sandanya bersambung maupun tidak.”

KESIMPULAN
1. Hadits mauquf dapat berupa hadits shahih, hasan dan dha’if diihat dari bersambung atau tidaknya sanad.
2. Hadits mauquf termasuk hadits dha’if apabila terdapat qarinah dari sahabat yang lain maka derajatnya menjadi shahih atau hasan.
3. Hadits maqthu tidak dapat dijadikan hujjah, ada ula yang menyamakannya dengan pendapat sahabat yang berkembang dalam masyarakat yang tidak didapati bantahan dari seseorang, yakni dipandang sebagai suatu ijma.