Kamis, 18 September 2014

Cinta

Cintailah Allah dengan mengingat semua nikmat gratis yang telah diberikan ...
Cintailah Allah dengan memikirkan dan merenungkan alam semesta ini ...
Cintailah Allah dengan memikirkan dan merenungkan bagaimanakah kita dan semua makhluk lain diciptakan ...

Cintailah agama Islam dengan mencintai Allah ...
Cintailah Rasulullah SAW. dengan mencintai Allah ...
Cintailah keluarga Muhammad SAW. dengan mencintai Muhammad SAW ...

Sesungguhnya seseorang akan bersama dengan yang dicintainya ...
Karena itu berhati-hatilah kepada siapa kita mencintai ...
Jangan meletakkan cinta yang sejati kepada dunia, wanita atau yang lainnya ...

Apa yang diharapkan dari cinta sesaat atau cinta hawa nafsu belaka?
Apa pula yang diharapkan dari cinta yang hanya dibibir saja namun tidak dengan perilaku yang menunjukkan cinta yang sebenarnya?
Sehingga berhati-hatilah dalam meletakkan cinta yang sejati ...

Karena semuanya pasti lenyap ...
Hanya Allah yang abadi akan RahmatNya ...
Tidak akan terputus oleh apapun juga, kecuali oleh cinta yang keliru ...

QS.3. Ali 'Imran:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku(Muhammad SAW), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah dari Sulaiman dari Abu Wa`il dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya."(No. Hadist: 5702 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Wa`il dia berkata; Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana anda mengatakan mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia sendiri belum pernah bertemu dengan kaum tersebut?" maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang akan bersama dengan yang di cintainya." Hadits ini juga diperkuat oleh Jarir bin Hazim dan Sulaiman bin Qarm serta Abu 'Awanah dari Al A'masy dari Abu Wa`il dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.(No. Hadist: 5703 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Abu Wa'il dari Abu Musa dia berkata; diberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia sendiri belum pernah berjumpa dengan kaum tersebut, beliau bersabda: "Seseorang akan bersama dengan orang yang di cintainya." Hadits ini di perkuat juga oleh Abu Mu'awiyah dan Muhammad bin 'Ubaid.(No. Hadist: 5704 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdan telah mengabarkan kepada kami Ayahku dari Syu'bah dari 'Amru bin Murrah dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Kapankah hari Kiamat terjadi wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Apa yang telah kau persiapkan untuknya?" laki-laki itu menjawab; "Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu shalat, puasa ataupun sedekah, namun aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya." Belaiu bersabda: "Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai."(No. Hadist: 5705 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Kecintaan seorang laki-laki lebih untuk salah satu dari para isterinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Yahya dari Ubaid bin Hunais ia mendengar Ibnu Abbas dari Umar radliallahu 'anhum, bahwa ia menemui Hafshah dan berkata, "Wahai anakku, janganlah kamu sampai terperdaya. Wanita inilah yang memang membuatnya cinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ta'jub lantaran kecantikan wajahnya." Maksudnya adalah Aisyah. Lalu aku pun menceritakannya pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan beliau pun tersenyum.(No. Hadist: 4817 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan sehingga ia lebih suka dimasukkan ke dalam api dari pada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain."(No. Hadist: 5581 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Anak Adam akan semakin tumbuh dewasa dan semakin besar pula bersamanya dua perkara, yaitu; cinta harta dan panjang umur." Diriwayatkan pula oleh Syu'bah dan Qatadah.(No. Hadist: 5942 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Keterangan:
Atau dengan kata lain, seseorang bisa jadi tua namun ia masih tetap berjiwa muda dalam dua perkara, yaitu; mencintai dunia dan panjang angan-angan.

Telah menceritakan kepada kami Ustman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Salim bin Abul Ja'd telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik radliallahu 'anhu, ia mengatakan, ketika aku dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari masjid, kami menemui seseorang di gerbang masjid dan ia bertanya; 'Ya Rasulullah, kapan hari kiamat tiba? ' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab; "apa yang telah kau persiapkan?" Rupanya orang tadi berusaha menenangkan diri lantas mengatakan; 'Ya Rasulullah, saya tidak mempersiapkannya dengan banyak puasa, banyak shalat dan banyak sedekah, hanya aku cinta Allah dan rasul-NYA, ' maka Nabi bersabda; 'Engkau bersama orang yang kau cintai'.(No. Hadist: 6620 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Harb telah bercerita kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas radliallahu 'anhu bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang hari qiyamat. Katanya; "Kapan terjadinya hari qiyamat?". Beliau balik bertanya kepada orang itu; "Apa yang telah kami siapkan untuk menghadapinya?". Orang itu menjawab; "Tidak ada. Kecuali, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam". Maka beliau berkata: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Anas berkata; "Kami belum pernah bergembira atas sesuatu seperti gembiranya kami dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Selanjutnya Anas berkata; "Maka aku mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakr, 'Umar dan aku berharap dapat berkumpul bersama mereka disebabkan kecintaanku kepada mereka sekalipun aku tidak memiliki amal seperti amal mereka".(No. Hadist: 3412 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 15 September 2014

Larangan Melaknat sembarangan

Janganlah melaknat sembarangan ...
Apabila seseorang itu melakukan kekhilafan ...
Padahal sehari-harinya ia termasuk orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya ...

Sehari-harinya ia melakukan apa² yang diperintahkan Allah melalui NabiNya ...
Ia Sholat, berzakat, puasa, dan pergi Haji ...
Namun karena suatu kekhilafan ia melakukan dosa ...

Biarkanlah Allah yang memutuskan, setelah hukumNya diterapkan padanya ...
Apakah ia akan diampuni ataukah akan disiksa oleh Allah ...
Bukanlah hak kita untuk menghakiminya ...

Karena kita sendiri juga belum tentu lebih baik dari dia ...
Kita sendiri belum dijamin masuk Surga walaupun merasa melakukan perbuatan para calon penduduk Surga ...
Siapakah yang dapat menentukan? Allah ataukah kita ?

QS.85. Al Buruuj:

وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ

14. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,


Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepadaku Al Laits mengatakan, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Yazid dari Sa'id bin Abi Hilal dari Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Umar bin khattab, ada seorang laki-laki dimasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Shallallahu'alaihiwasallam namanya Abdullah, dia dijuluki keledai, ia suka membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertawa, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mencambuknya karena ia mabuk. Suatu hari ia ditangkap lagi dan Nabi memerintahkan agar dia dicambuk. Lantas salah seorang sahabat berujar; 'Ya Allah, laknatilah dia, betapa sering ia ketangkap, ' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "janganlah kalian melaknat dia, demi Allah, setahuku dia mencintai Allah dan rasul-Nya."(No. Hadist: 6282 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Anas bin 'Iyadh telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, mengatakan; seorang pemabuk dihadapkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi menyuruhnya untuk dicambuk. Diantara kami ada yang memukulnya dengan tangan, diantara kami ada yang memukulnya dengan sandal, dan diantara kami ada yang memukulnya dengan pakaiannya. Tatkala selesai, ada seorang sahabat mengatakan; 'sekiranya Allah menghinakan dia! ' Kontan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menjerumuskan kawan kalian!."(No. Hadist: 6283 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 08 September 2014

Jangan Menjemput Kematian namun Bersabarlah

Meskipun sudah merasa jenuh dan sangat berputus-asa ...
Karena sangat beratnya cobaan yang diterima ...
Meskipun merasa memiliki pahala yang banyak ...
Karena ibadahnya selama ini ...

Tetap saja jangan berusaha untuk mati ...
Jangan membunuh diri sendiri, apapun alasannya ...
Tetaplah sabar, dan terus berdoa ...
Berdoa dengan segala kerendahan dan kelemahan hati ...
Supaya ditolong dan diringankan beban berat yang diterimanya ...

Ya Allah tolonglah aku ... Ya Allah kasihanilah aku ...
Ya Allah ringankanlah bebanku ini ...
Berikanlah aku pertolonganMu ...
Karena sesungguhnya aku hanyalah hambaMu yang sangat lemah ...
Aku takut murka-Mu dan Neraka-Mu ya Allah ...
Ya Allah tolonglah aku ...

Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka ...
Namun berakhir menjadi penghuni surga ...
Dan ada seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga ...
Namun berakhir menjadi penghuni neraka ...
Sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupan, yakni sesaat sebelum maut ...
Saat² itu, apakah dia dalam keadaan beriman ataukah tidak?
Atau bagaimanakah maut itu didapatkan? dia sengaja menjemputnya(bunuh diri) ataukah dijemput oleh maut?

QS.11. Huud:

إِلاَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَاتِ أُوْلَـٰئِكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

11. kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.

QS.98. Al Bayyinah:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُوْلَـٰئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ
جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا ٱلأَْنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَداً رِّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُ

7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.


Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Sufyan dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al A'masy dari Sa'id bin Jubair dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Abu Musa radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidak ada siapa pun atau tidak ada sesuatu pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah, Sesungguhnya mereka menganggap Dia punya anak namun Dia memaafkan dan memberi mereka rizki."(No. Hadist: 5634 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Tidak ada musibah yang menimpa kami selain yang Allah tetapkan bagi kami:
Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali telah memberitakan kepada kami An Nadhr telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi Furat dari Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya'mar bahwasanya Aisyah radliallahu 'anhuma mengabarkan kepadanya, ia pernah bertanya Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam tentang thaun (penyakit pes, lepra), Nabi bersabda: "Itu adalah siksa yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Dan tidaklah seorang hamba di suatu negeri yang terkena penyakit tha'un dan ia tinggal disana, ia tidak mengungsi dari negeri itu dengan sabar dan mengharap pahala disisi Allah, ia sadar bahwa tak akan menimpanya selain yang telah digariskan-Nya baginya, selain baginya pahala seperti pahala syahid."(No. Hadist: 6129 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Hibban bin Musa Telah mengabarkan kepada kami Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; kami menghadiri perang Khaibar bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata terhadap seseorang yang turut bersama beliau yang mengaku dirinya muslim: "Orang ini penghuni neraka." Ketika peperangan terjadi, Orang tadi berperang dengan gigih, kemudian orang tersebut terkena luka yang lumayan banyak, dan luka-luka itu pun membuatnya tak bergeming. Seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang dan berujar; 'Hai Rasulullah, apakah anda telah melihat lelaki yang engkau katakan bahwa dia termasuk penghuni neraka?, sungguh dia telah berperang sedemikian gigihnya dan mendapat luka sedemikian banyak.'. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap mengatakan: "Dia termasuk penghuni neraka." Nyaris sebagian kaum muslimin menjadi ragu terhadap ucapan beliau. Ketika kondisi dalam sedemikian itu, laki-laki tadi merasakan derita luka yang perih, lantas dengan tangannya ia mengambil kantong anak panahnya, ia ambil salah satu panahnya dan ia pergunakan untuk bunuh diri. Dengan serta merta beberapa lelaki dari kaum muslimin menemui Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan berujar: 'Wahai Rasulullah, Allah telah membenarkan ucapanmu, sungguh fulan melakukan bunuh diri.' Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "ya Bilal, berdirilah, dan umumkanlah, tidak akan masuk surga kecuali mukmin, dan Allah menguatkan agama ini dengan laki-laki yang durhaka."(No. Hadist: 6116 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abi Maryam telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahal bin Sa'd bahwasanya ada seorang muslimin yang gagah berani dalam peperangan ikut serta bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memperhatikan orang itu dan berujar; "Barangsiapa ingin melihat lelaki penghuni neraka, silahkan lihat orang ini." Seorang laki-laki akhirnya menguntitnya, dan rupanya lelaki tersebut merupakan orang yang paling ganas terhadap orang-orang musyrik. akhirnya lelaki tersebut terluka dan dia ingin segera dijemput kematian sebelum waktunya, maka ia ambil pucuk pedangnya dan ia letakkan di dadanya kemudian ia hunjamkan hingga tembus diantara kedua lengannya. Orang yang menguntit lelaki tersebut langsung menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berujar; 'Saya bersaksi bahwa engkau utusan Allah.' 'apa itu? ' Tanya Nabi. Orang tadi menjawab; 'anda berkata terhadap; 'siapa yang ingin melihat penghuni neraka, silahkan lihat orang ini, ' orang itu merupakan orang yang paling pemberani diantara kami, kaum muslimin. Lalu aku tahu, ternyata dia mati tidak diatas keIslaman, sebab dikala ia mendapat luka, ia tak sabar menanti kematian, lalu bunuh diri.' Seketika itu pula Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka, namun berakhir menjadi penghuni surga, dan ada seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka, sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupan."(No. Hadist: 6117 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 01 September 2014

Kerasnya larangan berkhianat dan Tidak ada yang lebih Sabar kecuali Allah

Janganlah mengkhianati Allah dan RasulNya ...
Janganlah pula mengkhianati amanat-amanat yang telah dipercayakan kepada kita ...
Jangan melakukan korupsi, atau apapun juga yang sejenis ...

Pernah terjadi terhadap seorang budak Nabi SAW. (pemberian seseorang dari Judzam) ...
Budak itu bernama Rifa’ah bin Zaid dari Bani Dhubaib ...
Saat itu, budak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berdiri untuk melepas pelananya ...
Tiba-tiba ia terkena anak panah dan itulah saat kematiannya ...
Kemudian para sahabat berkata: Kami senang ia gugur syahid wahai Rasulullah.
Namun Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Tidak! Demi Zat yang menguasai Muhammad. Sesungguhnya sebuah mantel akan mengobarkan api neraka atasnya. Mantel itu ia ambil dari harta rampasan perang Khaibar, yang bukan jatahnya.
Para sahabat menjadi takut.
Lalu seseorang datang membawa seutas atau dua utas tali sandal, seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku mendapatkannya pada waktu perang Khaibar. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seutas tali (atau dua utas tali) sandal dari neraka.

Janganlah mengkhianati Allah dan RasulNya ...
Janganlah mengambil hak orang lain secara batil ...
Jangan pula mengkhianati amanat-amanat yang telah dipercayakan ...
Tetaplah berpegang teguh dijalan Allah ...
Sabarlah terhadap segala ujian yang kita terima ...

Sebab tidak ada seorang pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah ...
Sesungguhnya mereka menganggap Allah punya anak, namun Dia memaafkan mereka dengan tidak menimpakan adzab kepada mereka seketika itu juga ...
Dan ternyata Allah tetap memberi mereka rizki didunia ini ...
Padahal mereka telah kafir dan menyekutukanNya ...

QS.8. Al Anfaal:

يأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوۤاْ أَمَـٰنَـٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Kami pergi berperang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menuju Khaibar. Allah memberikan kemenangan kepada kami, tetapi kami tidak mendapatkan rampasan perang berupa emas atau perak. Yang kami peroleh adalah barang-barang, makanan dan pakaian. Kemudian kami berangkat menuju lembah. Ikut pula bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam seorang budak beliau (pemberian seseorang dari Judzam). Budak itu bernama Rifa’ah bin Zaid dari Bani Dhubaib. Ketika kami menuruni lembah, budak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berdiri untuk melepas pelananya. Tetapi, ia terkena anak panah dan itulah saat kematiannya. Kami berkata: Kami senang ia gugur syahid wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Tidak! Demi Zat yang menguasai Muhammad. Sesungguhnya sebuah mantel akan mengobarkan api neraka atasnya. Mantel itu ia ambil dari harta rampasan perang Khaibar, yang bukan jatahnya. Para sahabat menjadi takut. Lalu seseorang datang membawa seutas atau dua utas tali sandal, seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku mendapatkannya pada waktu perang Khaibar. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seutas tali (atau dua utas tali) sandal dari neraka. (Shahih Muslim No.166)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Sufyan dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al A'masy dari Sa'id bin Jubair dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Abu Musa radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidak ada siapa pun atau tidak ada sesuatu pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah, Sesungguhnya mereka menganggap Dia punya anak namun Dia memaafkan dan memberi mereka rizki."(No. Hadist: 5634 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 25 Agustus 2014

Jangan suka Memprovokasi

Sesungguhnya memprovokasi orang lain itu diharamkan ...
Memprovokasi supaya melakukan tindakan yang brutal ...
Atau melakukan perkelahian masal ...
Yang tidak ada dasar yang kuat untuk melakukannya, namun melakukannya hanya karena hasutan oleh para provokator ...

Tidak tahu benar atau salah, dan tidak menyelidiki kebenarannya ...
Namun malah terprovokasi untuk melakukan tindakan brutal ...
Orang yang memprovokasi dan yang terprovokasi sama² telah melakukan tindakan yang di haramkan Allah ...

Pernah terjadi pada suatu peperangan ...
Tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum Muhajirin mendorong seseorang dari kalangan Anshar ...
Kemudian sang Anshar pun berseru, "Wahai orang-orang Anshar."
Dan sang Muhajir pun berseru, "Wahai orang-orang Muhajirin."
Sehingga hampir² terjadi perkelahian dua kelompok besar, karena provokasi dua orang itu (sahabat Muhajirin dan Anshar) ...
Maka Allah memperdengarkan ungkapan itu pada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam ...
Maka beliau pun bersabda: "Apa-apaan ini?"
Kemudian para sahabat menjelaskan kejadian yang sebenarnya ...
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah perbuatan itu, sebab itu adalah kebusukan."

Jabir berkata; Jumlah kaum Anshar saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang lebih banyak, namun setelah itu jumlah kaum Muhajirin menjadi lebih banyak dari jumlah mereka.
Kemudian Abdullah bin Ubbay(tokoh munafik sejati yang disebut dalam QS.63:8) berkata, "Bukankah mereka telah melakukannya? Demi Allah, jika kita kembali ke Madinah, niscaya orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina darinya."
Maka Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu berkata, "Izinkanlah aku wahai Rasulullah untuk menebas leher orang munafik ini."
Tetapi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biarkanlah ia, agar orang-orang tidak berkomentar bahwa Muhammad membunuh sahabatnya sendiri ...

Subhanallah ... Maha suci Allah yang telah mengutus Nabi-Nya dengan membawa kedamaian dan jauh dari prasangka kaum orientalis yang menyebutkan Nabi SAW haus darah dan suka membunuh ...
Padahal Nabi SAW melakukan peperangan adalah karena perintah Allah, karena sangat keterlaluannya orang² kafir dalam memusuhi orang² Mukmin ...
Seperti dihancurkannya umat² terdahulu oleh Allah SWT karena kekafiran dan dosa² mereka yang terlalu besar ...

Ingatlah mengenai bahayanya orang² Munafik ...
Orang² Munafik itu beriman, kemudian menjadi kafir lagi, lalu hati mereka dikunci mati oleh Allah karena suka mempermainkan agama ...
Dan ingatlah tempat orang Munafik dan Orang Kafir adalah Neraka Jahannam, mereka dimasukkan secara bersama-sama ...
Karena itu berhati²lah dengan orang² Munafik dan jauhilah sifat² dari kemunafikan, dengan konsisten dan istiqomah di jalan Allah dan Rasul-Nya ...

QS 63. Al Munaafiquun:

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى ٱلْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ ٱلأَْعَزُّ مِنْهَا ٱلأَْذَلَّ وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَـٰكِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

8. Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah[kembali dari peperangan Bani Musthalik], benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. 

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Telah menceritakan kepada kami Sufyan ia berkata, Aku menghafalnya dari Amru bin Dinar ia berkata; Aku mendengar Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhuma berkata; Saat kami berada dalam suatu peperangan, tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum Muhajirin mendorong seseorang dari kalangan Anshar, maka sang Anshar pun berseru, "Wahai orang-orang Anshar." Dan sang Muhajir pun berseru, "Wahai orang-orang Muhajirin." Maka Allah memperdengarkan ungkapan itu pada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau pun bersabda: "Apa-apaan ini?" para sahabat menjawab, "Seorang laki-laki dari kaum Muhajirin mendorong seseorang dari kaum Anshar. Sang Anshar berseru, 'Wahai kaum Anshar.' Dan seorang Muhajir itu pun berseru, 'Wahai kaum Muhajirin.'" Akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah perbuatan itu, sebab itu adalah kebusukan." Jabir berkata; Jumlah kaum Anshar saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang lebih banyak, namun setelah itu jumlah kaum Muhajirin menjadi lebih banyak dari jumlah mereka. Kemudian Abdullah bin Ubbay berkata, "Bukankah mereka telah melakukannya? Demi Allah, jika kita kembali ke Madinah, niscaya orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina darinya." Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu berkata, "Izinkanlah aku wahai Rasulullah untuk menebas leher orang munafik ini." Tetapi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biarkanlah ia, agar orang-orang tidak berkomentar bahwa Muhammad membunuh sahabatnya sendiri." (No. Hadist: 4527 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 18 Agustus 2014

Allah menjadikan Rahmat Seratus bagian

Sesungguhnya Allah menjadikan Rahmat Seratus bagian ...
Rahmat-Nya yang satu bagian, diturunkan ke bumi ...
Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya ...
Seekor harimau tidak akan memangsa anaknya, karena rasa kasih-sayang dan Rahmat-Nya yang satu bagian itu ...
Sesungguhnya para Nabi banyak sekali yang disakiti, namun dengan Rahmat-Nya lah mereka bersabar ...

Sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga ...
Dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka ...

Semua makhluq ciptaanNya pasti mendapatkan Rahmat-Nya ...
Namun, semua "barang" ciptaan Manusia, tidak satupun yang mendapat Rahmat-Nya ...
Sebuah robot tidak akan mengangkat kakinya -- karena ia tidak ada rasa kasih-sayang --, sehingga ia tidak takut pembuatnya akan terinjak olehnya ...
Dng kecerdasan buatan, atau dng kata lain, robot itu harus diprogram terlebih dahulu, supaya menahan kaki robot itu untuk tidak menginjak kaki manusia ...
Manusia tidak akan dapat menciptakan Rahmat, juga tidak dapat menciptakan kasih-sayang, yang dapat manusia lakukan hanyalah menjadikan/membuat sesuatu dari logika otaknya saja ...
Logika yg hanya berdasarkan rule² atau aturan² yang manusia tetapkan sendiri ...
Sehingga jelas berbeda, makhluq-Nya (misalnya:manusia) memiliki otak sebagai sarana berfikir dan hati sebagai sarana rahmat dan kasih-sayang-Nya, yang menjadikan makhluq-Nya itu khalifah atau pemimpin dimuka bumi ini ...
Sedangkan Robot hanya memiliki "otak" yang hanya dapat mengambil keputusan berdasarkan logika dan aturan² yang telah diprogram, sehingga, tidaklah pantas, Robot menjadi pemimpin manusia, apalagi dijadikan acuan bagi manusia ...

QS.1. Al Faatihah:

بِسْمِ اللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada semua makhluk-Nya tanpa terkecuali, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya hanya kepada makhluk-Nya yang beriman kepada-Nya.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' Al Bahrani telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Al Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah disisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan-Nya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya." (No. Hadist: 5541 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman dari 'Amru bin Abu 'Amru dari Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka."(No. Hadist: 5988 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Qabishah Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Abu Wail dari Abdullah katanya, ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membagi-bagi rampasan Hunain, ada seorang anshar mengomentari kebijakan Nabi; "Ini adalah pembagian yang tidak diniati mencari wajah Allah." Maka kudatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan kusampaikan kepada beliau, "Kritikan" ini. Serta merta wajah beliau berubah kemudian beliau bersabda: "Kiranya rahmat Allah selalu tercurah kepada Musa yang ia disakiti lebih banyak daripada ini, namun ia lantas bersabar."(No. Hadist: 3990 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)