Jumat, 17 Februari 2017

Benarkah Abdurrahmân bin ‘Auf Memasuki Surga dengan Merangkak?

Sejumlah mubaligh,  sufi, dan penulis kadangkala menceritakan hadits tentang kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang memasuki surga dengan merangkak dikarenakan terlalu banyak memiliki kekayaan. Biasanya kisah ini dipaparkan saat membahas tentang keutamaan kemiskinan atas kekayaan dan kehidupan yang zuhud. Bagaimanakah sebenarnya kisah tentang veteran Perang Badar tersebut?

Matan Hadits

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ حَسَّانَ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا عُمَارَةُ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : بَيْنَمَا عَائِشَةُ فِي بَيْتِهَا إِذْ سَمِعَتْ صَوْتًا فِي الْمَدِينَةِ ، فَقَالَتْ : مَا هَذَا ؟ قَالُوا : عِيرٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَدِمَتْ مِنَ الشَّامِ تَحْمِلُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ، قَالَ : فَكَانَتْ سَبْعَ مِئَةِ بَعِيرٍ ، قَالَ : فَارْتَجَّتِ الْمَدِينَةُ مِنَ الصَّوْتِ ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : قَدْ رَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا ، فَبَلَغَ ذَلِكَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ ، فَقَالَ : إِنْ اسْتَطَعْتُ لأَدْخُلَنَّهَا قَائِمًا ، فَجَعَلَهَا بِأَقْتَابِهَا ، وَأَحْمَالِهَا فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush Shamad ibn Hassân, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami ‘Umârah, dari Tsâbit, dari Anas (ibn Mâlik) berkata; Ketika ‘Âisyah berada di rumahnya tiba-tiba dia mendengar suara di Madinah, dia berkata; ada apa ini?, orang-orang berkata; rombongan dagang ‘Abdur Rahmân ibn ‘Auf yang datang dari Syam dia membawa apa saja, (Anas ibn Mâlik) berkata; berupa tujuh ratus ekor unta. (Anas ibn Mâik) berkata; hingga Madinah bergetar karena suara gemuruh, maka ‘Âisyah berkata; saya mendengar Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya melihat ‘Abdur Rahmân ibn ‘Auf masuk surga dengan merangkak.” Lalu hal itu sampai kepada Abdur Rahmân ibn ‘Auf hingga ia berkata: jika saya bisa, saya ingin masuk surga dengan berdiri. Selanjutnya ia menyumbangkan seluruh unta dan barang bawaannya di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.”

Dan dalam riwayat lain, ‘Abdurrahmân ibn ‘Auf berkata: “Seandainya aku mampu, niscaya kumasuki surga dengan berjalan.” Lalu dia pun memberikan semua unta beserta pelana-pelana dan muatannya untuk perjuangan di jalan Allah. Dan itu sebanyak tujuh ratus ekor unta yang suaranya mengguncangkan Madinah.

Takhrîj al-Hadîts
Hadits yang datang membawa kisah ini dikeluarkan oleh Ahmad di kitab Musnad (1/115; 24886), Ath Thabarani di kitab Al Mu’jam (1/129; 264), Abu Nu’aim di kitab Ma’rifah Ash Shahabah (1/384) dan di kitab Al Hilyah (1/98), Ibn Al Jauzi di kitab Al Maudhu’at (2/13); semuanya dari jalan ‘Umarah bin Zadzan dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik.

Pendapat Para Muhaddits
Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan  (nama) ‘Umarah bin Zadzan di kitab at-Tahdzîb (7/365), dan beliau mengatakan:

Telah berkata al-Atsram dari Ahmad, “Yang diriwayatkan dari Tsabit dari Anas adalah hadits-hadits mungkar.”
Dan berkata al-Ajurri dari Abu Dawud, “Laisa bi dzâka.”
Dan as-Saji berkata, “padanya terdapat kelemahan, tidak ada apa-apanya dan tidak kuat dalam hadits.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata  di kitab al-Qaul al-Musaddad (halaman 25), “Aku melihatnya tidak meluaskan pembicaraan atas kisah ini, maka cukuplah bagi kita persaksian Imam Ahmad bahwa kisah itu dusta. Lebih utama kita katakan, “Kisah ini termasuk di antara hadits-hadits yang diperintahkan oleh Imam Ahmad untuk disingkirkan, bisa jadi dari yang seharusnya disingkirkan itu tertinggal karena lupa atau bisa jadi sebagian lagi dari yang (ditambahkan) oleh ‘Abdullah (bin Ahmad bin Hanbal) dan luput disingkirkan. Wallâhu A’lam.”

Imam ad-Daruquthni menyebutkan ‘Umarah bin Zadzan di kitab Adh Dhu’afa wa Al Matrukin (382) seraya mengatakan, “’Umarah bin Zadzan Ash Shidalani, orang Bashrah, dia meriwayatkan dari Tsabit Al Bunani dan Abu Ghalib lalu memalsukannya.”

Imam Ibnu al-Jauzi di kitab al-Maudhû’ât (2/13) menulis:
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Hadits ini dusta dan mungkar.” Dia berkata, “’Umarah bin Zadzan tidak bisa dijadikan hujjah.”
Imam Abu Hatim Ar Razi berkata, “’Umarah bin Zadzan tidak bisa dijadikan hujjah.”
Al-Jarah bin Minhal meriwayatkan dengan sanad miliknya dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Ibn ‘Auf, sesunggunya kamu termasuk kalangan orang kaya, dan sesungguhnya kamu tidak memasuki surga kecuali dengan merayap. Maka berikan pinjaman untuk Rabb-mu (dari hartamu), niscaya Allah akan melepaskan kedua kakimu (hingga bisa berjalan).” Imam An Nasa’i berkata, “Hadits ini palsu. Al-Arah bin Minhal matrûk al-hadîts.” Yahya berkata, “Hadits al-Jarah tidak ada apa-apanya.” Ibn al-Madini berkata, “Haditsnya jangan ditulis.” Ibn Hibban berkata, “Dia biasa berdusta.” Ad-Daruquthni berkata, “Ibnu Ishaq meriwayatkan darinya lalu membalikkan namanya menjadi Minhal bin al-Jarah, dan dia itu matrûk.”
Imam Ibn Al-Jauzi berkata: “Hadits bathil semisal ini terkait dengan kepandiran orang-orang yang zuhud. Mereka memandang bahwa harta itu merupakan penghalang dari kesegeraan menuju kebaikan. Mereka juga mengatakan, “Jika Ibn ‘Auf memasuki surga sambil merayap dengan sebab hartanya, maka itu sudah cukup menjadi alasan tentang ketercelaan harta.” Padahal hadits ini tidaklah shahih, dan ‘Abdurrahmân ibn ‘Auf – shahabat yang telah dipersaksikan baginya surga- terlepas dari (anggapan) bahwa dia terhalang oleh hartanya dari kesegeraan (menuju surga), karena mengumpulkan harta itu memang mubah, yang tercela itu adalah cara mendapatkannya yang tidak benar dan tidak mengeluarkan kewajiban atas harta itu di dalamnya, sedangkan ‘Abdurrahmân ibn ‘Auf itu terlepas dari kedua hal itu. Thalhah pun telah mewariskan emas, demikian juga az-Zubair dan para shahabat lain. Jika mereka mengetahui bahwa mengumpulkan harta itu buruk, niscaya mereka akan mengeluarkan semuanya. Dan berapa banyak tukang cerita yang menyebarluaskan hadits semacam ini yang menganjurkan kepada kefakiran dan mencela kekayaan, maka semoga Allah membanyakkan ulama yang mengetahui yang shahih dan memahami ushul.”

Kesimpulan
Hadits tentang shahabat ‘Abdurrahmân ibn ‘Auf Radhiyallâhu ‘Anhu adalah hadits palsu yang ditinggalkan. Kisahnya tidak benar dan bertentangan dengan hadits shahih mengenai Ahli Badar. Berkaitan dengan sabda Nabi s.a.w.: “Dia berperan serta dalam perang Badar. Siapa tahu bisa jadi Allah melongok kepada Ahli Badar, lalu berfirman, “Lakukanlah apa yang kalian suka karena Aku telah mengampuni kalian.”

Oleh karena itu pernyataan yang menyebutkan bahwa ‘Abdurrahmân ibn ‘Auf memasuki surga dengan merangkak, sama sekali tidak dapat dipercaya.

--> Minta Kaya atau Miskin?

http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2014/03/minta-kaya-atau-miskin.html



Ini hadits yg Sahih tentang Abdurrahman bin Auf:
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf telah terjadi sesuatu lalu Khalid pun mencaci-makinya. Mendengar itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam lalu bersabda: Janganlah kamu mencaci-maki seorang pun dari para sahabatku. Sekalipun salah seorang kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, hal itu tidak dapat menandingi satu bahkan setengah mud (1 mud=543 gram) salah seorang mereka. (Shahih Muslim No.4611)

Beliau sudah dipastikan Masuk Surga
Shalih bin Mismar Al Maruzi menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Fudaik menceritakan kepada kami dari Musa bin Ya'qub, dari Umar bin Sa'id, dari Abdurrahman bin Humaid, dari ayahnya, bahwa Sa'id bin Zaid menceritakan kepadanya dalam rombongan tentang Rasulullah SAW bersabda, "Sepuluh orang di dalam surga: Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, Utsman, Ali, Jubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah, dan Sa'ad bin Abu Wagash."
Ayah Abdurrahman bin Humaid berkata, "Sa'ad menghitung kesembilan orang itu, dan ia diam dari sosok yang kesepuluh. Orang-orang kemudian berkata, 'Kami mohon kepadamu karena Allah wahai Abu Al A'war, siapakah (sosok) yang kesepuluh." Ia menjawab, 'Kalian mendesakku karena Allah. Abu Al A'war di surga'."
Shahih: Ibnu Majah (133) dan shahih sunan tirmidzi (3748).
Abu Isa berkata, "Abu Al A'war adalah Sa'id bin Zaid bin Amru bin Nufail (yang menceritakan hadits ini)."

Orang Miskin lebih dahulu masuk Surga
Muhammad bin Musa Al Bashri menceritakan kepada kami, Ziyad bin Abdullah menceritakan kepada kami, dari Al A'masy, dari Athiyah, dari Abu Sa'id. ia berkata, Rasulullah bersabda. "Kaum fakir dari golongan Muhajirin akan masuk surga terlebih dahulu dari pada orang-orang kaya dari golongan mereka, dengan terpaut lima ratus tahun ".
Shahih: Ibnu Majah (4123); Muslim, Ibnu Amr, shahih sunan tirmidzi (2351).

Abdul A'la bin Washil Al Kufi menceritakan kepada kami. Tsabit bin Muhammad Al Abid Al Kufi menceritakan kepada kami, Al Harits bin An Nu'man AlLaitsi menceritakan kepada kami, dari Anas. Bahwa Rasulullah pernah berdoa, "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah diriku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku bersama kelompok orang miskin pada hari kiamat nanti". Aisyah bertanya, ''Mengapa demikian wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya mereka (kaum miskin) akan masuk surga sebelum kaum kaya di antara mereka dengan selisih waktu hingga empat puluh kharif (tahun). Wahai Aisyah, janganlah kamu menolak (memberikan sesuatu) kepada orang miskin meski hanya dengan separoh buah kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, niscaya Allah akan mendekatimu pada hari kiamat nanti".
Shahih: Ibnu Majah (4126), shahih sunan tirmidzi (2352) .

(Dikutip dan diedit oleh admin dari http://www.fimadani.com/kisah-abdurrahman-bin-auf-memasuki-surga-dengan-merangkak/)

Jumat, 10 Februari 2017

Keutamaan Dua Ayat Terakhir dari surat Al Baqarah

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A'masy ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ibrahim dari 'Alqamah dan Abdurrahman bin Yazid dari Abu Mas'ud Al Anshar ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya." (No. Hadist: 4652 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Qutaibah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya rumah yang dibacakan surat Al Baqarah di dalamnya tidak akan dimasuki syetan." Shahih: Ahkam AlJanaiz (212); Shahih Sunan Tirmidzi (2877) Muslim.
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih."

Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Asy'ats bin Abdurrahman Al Jarmi, dari Abu Qilabah, dari Abu Al Asy'ats Al Jarmi, dari AnNu'man bin Basyir, dari Rasulullah. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menulis sebuah kitab dua ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dua ayat dari tulisan kitab itu diturunkan. Di mana surah Al Baqarah diakhiri dengan kedua ayat itu. Apabila kedua ayat itu dibaca di dalam rumah selama tiga malam, maka syetan tidak akan berani mendekati rumahnya itu." Shahih: Ar-Raudh An-Nadhir (886), At-Ta'liq Ar-Raghib (2/219), Shahih Sunan Tirmidzi (2882) dan Al Misykah (2145).
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan gharib."

--> Berikut kedua ayat terakhir dari surah Al Baqarah tersebut (ditambahkan satu ayat sebelumnya, dengan pertimbangan tertentu):

QS. 2. Al Baqarah (Klik untuk Mendengarkan Ayat2 ini):


لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): 
"Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".


--> Baca juga Keutamaan Ayat Kursi dan Bacaan mu'awidzatain untuk Meruqyah :  http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2017/02/keutamaan-ayat-kursi.html



Jumat, 03 Februari 2017

Keutamaan Ayat Kursi dan Bacaan mu'awidzatain untuk Meruqyah

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir Telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman dari Ibrahim dari Abdurrahman dari Abu Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang membaca dua ayat.." Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari Abdurrahman bin Yazid dari Abu Mas'ud radliallahu 'anhu ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya."
Utsmana bin Al Haitsam berkata; Telah menceritakan kepada kami 'Auf dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menugaskanku untuk menjaga harta zakat. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menyusup hendak mengambil makanan, maka aku pun menyergapnya seraya berkata, "Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.." lalu ia bercerita dan berkata, (dan berharap/memohon supaya segera dilepaskan dan jangan sampai diserahkan kepada Nabi SAW), "Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi." (Setelah itu ia dilepaskan, dan menghadap kepada Nabi SAW lalu menceritakan kejadian itu). Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Ia telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta. Si penyusup tadi sebenarnya adalah syetan." (No. Hadist: 4624 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Pada jaman Nabi SAW, setan dapat dilihat oleh sahabat beliau.
Setan beberapa kali mencoba mencuri untuk mengambil makanan. Dan setiap kali mau pergi, selalu dipergoki oleh sahabat Nabi SAW. Kali ini setan berusaha lagi mencuri makanan, dan berharap berhasil. Namun ternyata gagal lagi dan tertangkap.
Setan tertangkap oleh sahabat Nabi SAW, dan akan diserahkan kepada beliau. Setan takut sekali kepada Nabi SAW sehingga syetan membocorkan rahasia ayat kursi kepada sahabat Nabi supaya dibebaskan.
Seperti kita ketahui, syetan dan jin mempunyai ilmu, dapat mencuri berita langit yg ghaib. Keutamaan bacaan ayat kursi dapat mengusir bangsanya sendiri, yakni syetan. Sebenarnya setan itu pendusta, tp demi kebebasannya dari tangkapan sahabat nabi, maka ia terpaksa jujur, menjelaskan keutamaan ayat kursi yang dibaca ketika akan tidur. Dimana Allah akan senantiasa menjaga dan syetan tidak akan mendekati kita (yang membaca Ayat Kursi) hingga pagi ... (sudah penulis buktikan).

Bagaimana dengan rumah yang angker, yang konon katanya ada bangsa makhluk halus yang menungguinya? Mungkinkah bangsa makhluk halus itu tidak kabur, meskipun sudah dibacakan ayat kursi?
--> Asalkan ia memang makhluq halus (bukan buatan manusia yg hasad dengan trik liciknya), insya Allah, bangsa setan, dedemit, dan hantu kabur semua, atau bahkan tewas mengenaskan ....
---> Pada beberapa kasus yang lumayan berat, mungkin saking banyaknya bangsa makhluk halus disekitarnya, maka Bacalah Ayat Kursi berulang-ulang dengan tartil dan fasih (perhatikan dan dengarkan contoh suara ayat Kursi yang diberikan dibawah ini), Jangan membaca dengan terburu-buru, namun dengan penuh harap kepada Allah ... Sesungguhnya mereka juga makhluq Allah, dan sangat takut kepada Allah, melebihi bangsa manusia!

Bukti kalau setan sangat takut kepada Allah, melebihi bangsa manusia!:
QS 8. Al Anfaal:48

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَعْمَـٰلَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ ٱلْيَوْمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَّكُمْ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِىۤءٌ مِّنْكُمْ إِنِّيۤ أَرَىٰ مَا لاَ تَرَوْنَ إِنِّيۤ أَخَافُ ٱللَّهَ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

"Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya(syaitan) dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya(syaitan) takut kepada Allah." Dan Allah sangat keras siksa-Nya. "


Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Laila, dari saudaranya, Isa, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Abu Ayyub Al Anshari bahwasanya ia memiliki lemari kecil yang di dalamnya terdapat kurma. Lalu, datang al ghulu (keyakinan jahiliyah bahwa ia adalah syetan perjalanan) mencuri sebagian darinya. Dia (Ayyub) berkata, "Dia lalu mengadukan hal itu kepada Nabi SAW. Beliau bersabda, "Pergilah, jika kamu melihatnya maka bacalah 'bismillah' dan sambutlah seruan Rasulullah." Ia berkata, "Ia lalu menangkap syetan itu. Namun syetan itu bersumpah tidak akan kembali lagi. Ia pun melepaskannya. Setelah itu ia menemui Rasulullah." Rasulullah bertanya, "Apa yang dilakukan oleh tawananmu itu?" Ia menjawab, "Ia (al ghulu) telah berjanji tidak akan kembali lagi." Rasulullah bersabda, "Dia telah berdusta ia memang terbiasa berdusta." Ayyub melanjutkan, "Ia lalu berhasil menangkap syetan itu kembali. Namun, syetan itu kembali berjanji tidak akan kembali. Ia pun melepaskannya." Lalu ia kembali mendatangi Nabi SAW. Rasulullah SAW bertanya, "Apa yang telah dilakukan oleh tawananmu itu?" Ia menjawab, "Ia berjanji tidak akan kembali lagi." Rasulullah bersabda, "Ia telah berdusta. Dia memang terbiasa berdusta." Kemudian ia berhasil menangkap syetan itu kembali. Ia berkata, "Aku tidak akan melepaskanmu hingga aku membawamu kepada Rasulullah." Syetan itu berkata. "(jangan), aku akan mengingatkanmu (memberitahukan) kepadamu sesuatu, yaitu ayat kursi. Bacalah ayat itu di rumahmu maka syetan dan yang sejenisnya tidak akan mendekatimu." Ia (Ayyub) melanjutkan, "Dia pun lalu mendatangi Rasulullah." Rasulullah bertanya, "Apa yang telah dilakukan oleh tawananmu?" Dia lalu memberitahukan apa yang dikatakan oleh syetan itu. Rasulullah lalu bersabda, "(Kali ini) ia jujur (benar). Namun ia tetap saja pendusta."
Shahih: At-Ta'tig Ar-Raghib (2/212); Muslim; Shahih sunan Tirmidzi(2880).
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan gharib."

Tata Cara membacanya:
Ayat al-Kursi yang dimaksudkan dalam Hadis di atas ialah sebagaimana yang tercantum di bawah ini dan sebelum membaca ayat tersebut, sebaiknya membaca Ta'awwudz dulu yaitu: A'udzu billahi minasy syaithanir rajiim, Selanjutnya barulah membaca ayat al-Kursi yang tercantum dalam surat alBaqarah ayat 255, bunyinya:

Ayat Kursi:

ٱللَّهُ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَمَا فِي ٱلأَْرْضِ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَٱلأَْرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

QS 2:255. "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi [ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. "

---> Silahkan klik untuk Mendengarkan ayat Kursy Berikut ini: Ayat Kursi
Atau

Bab: Bacaan mu'awidzatain untuk Meminta Perlindungan dan bacaan saat Tidur (selain ayat Kursi)  
QS.113. Al Falaq (Klik Untuk Mendengarkan Surah ini):

 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 

1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, 
2. dari kejahatan makhluk-Nya, 
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." 


QS.114. An-Naas (Klik untuk Mendengarkan Surah ini):

 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ * مَلِكِ ٱلنَّاسِ * إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ * مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ * ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ * مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ 

1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia. 
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia. 

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah sakit yang agak parah, sehingga datanglah kepadanya dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepalanya dan yang satu lagi duduk di sebelah kakinya. Berkatalah malaikat yang berada di sebelah kakinya kepada malaikat yang berada di sebelah kepalanya: "Apa yang engkau lihat?" Ia berkata: "Dia kena guna-guna." "Apa guna-guna itu?" "Guna-guna itu sihir." "Siapa yang membuat sihirnya?" Ia menjawab: "Labid bin al-A’syam Alyahudi yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di sumur keluarga Si Anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah." Pada pagi hari Rasulullah saw. Mengutus Ammar bin Yasir dengan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu tampaklah airnya yang merah seperti pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Kedua surat ini (S.113 dan 114) turun berkenaan dengan peristiwa itu. Setiap kali Rasulullah saw. mengucapkan satu ayat terbukalah simpulnya.
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Halaílun Nubuwah dari al-Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. dahulunya selalu berta'awwudz - mohon perlindungan kepada Allah - dari gangguan jin dan mata manusia, sehingga turunlah dua surat mu'awwidzah - yaitu surat-surat Qul a'udzu birabbil falaq dan Qul a'udzu birabbin nas. Setelah kedua surat itu turun, lalu beliau s.a.w. mengambil keduanya itu saja - mengamalkannya - dan meninggalkan yang lain-lainnya." (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku 'Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku 'Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendak tidur, beliau meniupkan ke kedua tangannya sambil membaca mu'awidzatain (surat An Naas dan Al Falaq), lalu beliau mengusapkan ke badannya."(No. Hadist: 5844 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

--> Memberi Hembusan ketika Ruqyah
Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad Al Ju'fi telah menceritakan kepada kami Hisyam telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa meniupkan pada diri beliau sendiri dengan mu'awwidzat (surat An nas dan Al falaq) ketika sakit menjelang kematiannya, ketika sakit beliau semakin parah, maka akulah yang meniupkan (dengan membacakan mu'awidzat) kepadanya, aku mengusapkan dengan tangan beliau sendiri karena berharap keberkahan darinya." Aku bertanya kepada Ibnu Syihab; "Bagaimana cara beliau meniup (dengan membaca mu'awidzat)?" dia menjawab; "Yaitu beliau meniupkan (dengan membaca mu'awidzat) pada tangannya kemudian beliau mengusapkannya ke wajah beliau." (No. Hadist: 5310 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)


Artikel yang mendukung:
Sebenarnya Setan itu Takut kepada Allah --> http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2012/08/sebenarnya-setan-takut-kepada-allah.html

Keutamaan Dua ayat Terakhir dari Surat Al Baqarah --
http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2017/02/keutamaan-dua-ayat-terakhir-dari-surat.html

Jumat, 27 Januari 2017

Isim Nakiroh dan Isim Ma’rifat dan Beberapa Faidahnya Dalam AlQur’an

Dalam bahasa arab, ada istilah isim nakiroh dan isim ma’rifat istilah baru yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Jadi, istilah ini sesuatu yang ‘baru’ bagi kita yang baru belajar bahasa arab.

Seberapa penting memahami nakiroh dan ma’rifat ? Penting sekali karena dari keduanyalah selanjutnya akan dibentuk hal – shohibul hal, na’at – man’ut / sifah – mausuf, mubtada – khobar. Bahkan, isim nakiroh di dalam Al-Quran memiliki makna dan tafsir yang ‘berbeda’ nantinya.
Silahkan membaca: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2012/12/hati-hati-dalam-membaca-al-quran.html.

Isim ada dua jenis, isim nakiroh dan isim ma’rifat:

Bab: Isim nakiroh (اسم نكرة)

–> اسمٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ لَيْسَ مُعَيَّنًا. مِثْل : كُتُبٌ, مُعْجَمٌ,

–> Isim yang menunjukkan sesuatu yang tidak tertentu atau belum tertentu. Misal: كُتُبٌ, مُعْجَمٌ

–> Isim nakiroh juga dikenal sebagai isim yang dapat dimasuki alif-lam (ال) di awalnya dan menyebabkan dia menjadi ma’rifat. Jika dia tidak menjadi ma’rifat ketika dimasuki alif-alm maka ia bukan isim nakiroh [1]

–> Contoh :


1. أُرِيْدُ أن أشْتَرِي كِتَابًا

(aku ingin membeli kamus)

Kata ‘kamus‘ disini adalah isim nakiroh, yaitu belum tertentu, belum tau kamus yang mana. Masih ‘kamus’ secara umum.

2.فِي أيِّ كُلِّيَّةٍ تَدْرُسُ؟

(Di jurusan mana kamu belajar)

Kata ‘jurusan‘ disini adalah isim nakiroh, belum tertentu, belum tahu jurusannya apa.

Isim yang nakiroh umumnya ditandai dengan Tanwin. Baik fathatain, kasrotain, maupun dhommatain. TAPI tidak semua yang bertanwin itu Isim Nakiroh.



Bab: Isim Ma’rifat (معرفة )

–> اسمٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مُعَيَّنٍ

–> Isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah sudah tertentu.

–> Isim Ma’rifat memiliki tingkatan tingkatan diantaranya yaitu:

1. ‘Alam (علم) atau nama yang mencakup :

– (اسمٌ كريمٌ) Nama lengkap, Misalnya:  عَلِيٌ (‘Aliyun), سَعِيدٌ (Sa’idun),  –> Tanwin disini bukan tanwin nakiroh. Dia sudah ma’rifat karena dia adalah ‘alam (nama)
  | عُمَرُ (‘Umar) –> Tidak di tanwin karena  dia termasuk ismulladdzi laa yanshorif (اسم الذي لا ينصرف) isim isim yang tidak boleh di tanwin

(كُنْيَةٌ) Kunyah, Misalnya: أمُّ معَاذ (Ummu Muaa’dz)

(لَقَبٌ) Gelar, Misalnya  الفَروق (Al Faruuq)

2. ‘Dhomir (الضمير) atau Kata ganti. 
Seperti هو (dia – laki laki) | هي (dia – perempuan) ini sudah termasuk ‘tertentu’

3. Isim Isyaaroh (اسم الإشارة) atau kata tunjuk. 
Misal: هَذَا (ini) | ذلك (itu)

4. Isim Maushuul (الإسم الموصول) atau kata hubung. 
Misal: الذي (yang)

5. Ma’rifat dengan Alif-lam (المعرَّف بـــ – ال ) Atau isim isim yang menjadi ma’rifat dengan sebab alif-lam.
Misal:

–   أَذْهَبُ إلَى المَعْهَد

–  Aku pergi ke ma’had

–  Ma’had disini ma’rifat karena sudah tertentu. Sudah jelas ma’had yang mana walaupun tidak disebut Mahad apa.

6. Mudhof kepada salah satu isim ma’rifat yang telah disebutkan di atas (المضاف لواحد من المذكورات) .

Misal:   دَفْتَرُكَ —> dari isim nakiroh  دَفْتَرٌ dan isim ma’rifat berupa dhomir كَ Jadilah dia ma’rifat karena bersandar kepada salam satu isim ma’rifat yang telah disebutkan diatas. Misalnya lagi دَفْتَرُعلي dan دَفْتَرُهذا

7. Munaada al-Maqsuud (المنادى المقصود) atau Panggilan Yang Sudah tertentu.

–> Misal:! يَا أستاذُ (Yaa Ustadz!) Maksudnya sudah tertentu adalah, orang yang dimaksud itu sudah ada.

Inilah isim isim ma’rifat yang tertentu. Isim isim ini memiliki tingkat ke-ma’rifat-an. Berdasarkan urutannya, isim paling ma’rifat adalah dhomir dan selanjutnya. Namun ada ulama nahwu yang berpendapat bahwa Isim yang paling ma’rifat adalah Allah karena seluruh makhluq pada fitrahnya mengenali siapa penciptanya. [1]

————————————————————————————————————-

Bab: Faidah Penggunaan Isim Nakiroh di Al-Qur’an

Tadi di pengantar telah disebutkan bahwa isim nakiroh dapat memunculkan tafsir dan makna yang khusus. Berikut ini contohnya:

1. Isim nakiroh di surat Alam Nasyroh. Perhatikan ayat berikut ini:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً – Qs 94: 5

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً – Qs 94: 6

Al ‘Usr (العسر) “kesulitan” adalah isim ma’rifat dan yusron (يسرًا) “kemudahan”  adalah isim nakiroh.

Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah  diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.

Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang. Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan. [2]

2. Kaidah ushul fiqh: Jika Isim Nakiroh Terletak dalam Konteks Penafian/Peniadaan, Larangan, Syarat, Pertanyaan Menunjukkan Keumuman. Misalnya pada ayat berikut:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا – Qs 4:36

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” . ( An Nisa’ : 36 ).

Isim nakiroh di ayat tersebut adalah Syai’an. Maka maksud dari ayat tersebut adalah larangan terhadap syirik baik itu syirik dalam niat–niat, perkataan-perkataan, perbuatan–perbuatan, baik itu dari syirik akbar, syirik ashghor/kecil, syirik yang tersembunyi (terletak di hati), syirik yang jelas. Maka terlarang bagi seorang hamba menjadikan tandingan apapun bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sekutu pada salah satu dari semua hal-hal yang tersebut di atas. [3]

Ada banyak lagi contoh-contoh faidah isim nakiroh di AlQur’an. Inilah AlQur’an. “Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui..” Qs Fushilat 41: 2-3 “Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Qs Fushilat 41:44

Nah ...! Bisakah dalam bahasa Indonesia, bahasanya, bisa menjelaskan seperti dalam bahasa Arab?
————————————————–

Sumber:

Al-Arobiyyah Bayna Yadaik Jilid 1

Muyassar fii ‘ilmi Nahwi – Aceng Zakaria

Nahwu – Silsilah Ta’limiyyah Al lughoh Al Arobiyyah Mustawa tsaalis

[1] Syrarah Ibn ‘Aqil disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al Waadi’i di kitab Al Mumti’ – syarah al ajruumiyyah. Maktabah As Shon’aa Al Atsariyyah

[2] Kata ustadz Aris waktu dauroh Badar Mulakhos – Qowa’idul lughoh al arobiyyah tahun 2011 di Yogyakarta

[3] dari artikel Yakinlah Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat

[4] dari artikel Jika Isim Nakiroh Terletak dalam Konteks Penafian/Peniadaan, Larangan, Syarat, Pertanyaan Menunjukkan Keumuman

Jumat, 20 Januari 2017

Ijab Kabul Akad Nikah

SEJARAH
Telah berkata Yahya bin Sulaiman Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Yunus -dalam riwayat lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih Telah menceritakan kepada kami Anbasah Telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepadanya bahwa; Sesungguhnya pada masa Jahiliyah ada empat macam bentuk pernikahan.
Pertama, adalah pernikahan sebagaimana dilakukan orang-orang pada saat sekarang ini, yaitu seorang laki-laki meminang kepada wali sang wanita, kemudian memberikannya mahar lalu menikahinya.
Bentuk kedua yaitu; Seorang suami berkata kepada isterinya pada saat suci (tidak haidl/subur), "Temuilah si Fulan dan bergaullah (bersetubuh) dengannya." Sementara sang suami menjauhinya sementara waktu (tidak menjima'nya) hingga benar-benar ia positif hamil dari hasil persetubuhannya dengan laki-laki itu. Dan jika dinyatakan telah positif hamil, barulah sang suami tadi menggauli isterinya bila ia suka. Ia melakukan hal itu, hanya untuk mendapatkan keturunan yang baik. Istilah nikah ini adalah Nikah Al Istibdlaa'.
Kemudian bentuk ketiga; Sekelompok orang (kurang dari sepuluh) menggauli seorang wanita. Dan jika ternyata wanita itu hamil dan melahirkan. Maka setelah masa bersalinnya telah berlalu beberapa hari, wanita itu pun mengirimkan surat kepada sekelompok laki-laki tadi, dan tidak seorang pun yang boleh menolak. Hingga mereka pun berkumpul di tempat sang wanita itu. Lalu wanita itu pun berkata, "Kalian telah tahu apa urusan kalian yang dulu. Dan aku telah melahirkannya, maka anak itu adalah anakmu wahai Fulan." Yakni, wanita itu memilih nama salah seorang dari mereka yang ia sukai, dan laki-laki yang ditunjuk tidak dapat mengelak.
Kemudian bentuk keempat; Orang banyak berkumpul, lalu menggauli seorang wanita, dan tak seorang pun yang dapat menolak bagi orang yang telah menggauli sang wanita. Para wanita itu adalah wanita pelacur. Mereka menancapkan tanda pada pintu-pintu rumah mereka sebagai tanda, sehingga bagi siapa saja yang ingin, maka ia boleh masuk dan bergaul dengan mereka. Dan ketika salah seorang dari mereka hamil, lalu melahirkan, maka mereka (orang banyak itu) pun dikumpulkan, lalu dipanggilkanlah orang yang ahli seluk-beluk nasab (Alqafah), dan Al Qafah inilah yang menyerahkan anak sang wanita itu kepada orang yang dianggapnya sebagai bapaknya, sehingga anak itu dipanggil sebagai anak darinya. Dan orang itu tidak bisa mengelak.
Maka ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam diutus dengan membawa kebenaran, beliau pun memusnahkan segala bentuk pernikahan jahiliyah, kecuali pernikahan yang dilakoni oleh orang-orang hari ini. (No. Hadist: 4732 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

PERNIKAHAN DALAM ISLAM
Menurut syariat Agama Islam, setiap perbuatan hukum harus memenuhi dua unsur, yaitu rukun dan syarat. Rukun ialah unsur pokok (tiang) dalam setiap perbuatan hukum, sedangkan syarat ialah unsur pelengkap dalam setiap perbuatan hukum.

Apabila kedua unsur ini tidak dipenuhi, maka suatu perbuatan dianggap tidak syah menurut hukum, demikian pula untuk syahnya suatu pernikahan harus dipenuhi rukun dan syaratnya (rukun dan syarat nikah).

I. Rukun Nikah
1) Calon mempelai pria
2) Calon mempelai wanita
3) Wali
4) Dua orang saksi (laki-laki)
5) Ijab (dari wali calon mempelai perempuan atau wakilnya) dan Qabul (dari calon mempelai laki-laki)

II. Syarat Nikah
Menurut syariat Islam syarat nikah sebagai berikut :

1.  Syarat calon pengantin pria sebagai berikut :
a) Beragama Islam
b) Terang prianya (bukan banci)
c) Tidak dipaksa
d) Tidak sedang beristri 4 (empat) orang
e) Bukan mahrom calon isteri
f) Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan calon isterinya
g) Mengetahui calon isterinya bukan perempuan yang haram dinikahinya
h) Tidak dalam ihram haji atau umroh
i) Mengetahui wali nikah calon istri yang benar

2. Syarat calon pengantin wanita sebagai berikut:
a) Beragama Islam
b) Terang wanitanya (bukan banci)
c) Telah memberi izin pada wali untuk menikahkannya (lihat No: 4741-Bukhary, dibawah)
e) Tidak bersuami dan tidak dalam keadaan iddah
f) Bukan mahrom dari calon suami
g) Belum pernah di li’an (sumpah li’an) oleh bakal suami
h) Terang orangnya
i) Tidak dalam ihram haji atau umroh

Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadlalah Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah bahwa Abu Hurairah menceritakan kepada mereka bahwasanya; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang janda tidak boleh dinikahi hingga ia dimintai pendapatnya, sedangkan gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izinnya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, seperti apakah izinnya?" beliau menjawab: "Bila ia diam tak berkata-kata (bagi gadis)." (No. Hadist: 4741 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

3. Syarat wali nikah sebagai berikut:
a) Baragama Islam
b) Baligh
c) Berakal
d) Tidak dipaksa
e) Terang lelakinya
f) Adil (bukan fasiq)
g) Tidak sedang ihram haji atau umroh
h) Tidak dicabut haknya dalam menguasai harta bendanya oleh pemerintah (mahjur bissafah)
i) Tidak rusak fikirannya karena tua atau sebagainya
j) Merdeka

Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Syarik bin Abdullah memberitahukan kepada kami dari Abu Ishak, Qutaibah menceritakan kepada kami, Abu Awanah memberitahukan kepada kami dari Abu Ishak, Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Israil, dari Abu Ishak, Abdullah bin Abu Ziyad menceritakan kepada kami, Zaid bin Hubab memberitahukan kepada kami dari Yunus bin Abu Ishak, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda,

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

'Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya wali'."

(Shahih: Ibnu Majah (1881), Abu Daud No. 1785, dan shahih sunan At-Tirmizi No. 1101, dan Ibnu Majah no. 1870)

---> Wajib memperhatikan urutan perwalian dalam nikah
Wali wanita yang berhak untuk menikahkan seseorang adalah wali yang paling dekat, sebagaimana urutan yang disebutkan di atas. Tidak boleh mendahulukan wali yang jauh, sementara wali yang dekat masih ada ketika akad nikah.

Ibn Qudamah mengatakan, “Apabila ada wali yang lebih jauh menikahkan seorang wanita, sementara wali yang lebih dekat ada di tempat, kemudian si wanita bersedia dinikahkan, sementara wali yang lebih dekat tidak mengizinkan maka nikahnya tidak sah. Inilah pendapat yang diutarakan as-Syafi’i…. karena wali yang jauh tidak berhak, selama wali yang dekat masih ada, sebagaimana hukum warisan (keluarga yang lebih jauh tidak berhak, selama masih ada keluarga yang lebih dekat).” (Al-Mughni, 7: 364)

Hal ini diperkuat oleh Al-Buhuti:
Al-Buhuti mengatakan, “Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena tidak adanya perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 336)
Disadur dari: http://www.islamqa.com/ar/ref/150788

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan,
Urutan Wali Nikah ada Lima:
1. Bapak dan silsilah keluarga diatasnya, mencakup ayah, kakek dari bapak dan seterusnya ke atas.
2. Anak dan seterusnya ke bawah.
3. Saudara laki-laki.
4. Paman dari pihak bapak.
5. Wala’ (orang yang membebaskan dirinya dari perbudakan atau mantan tuan).

Jika ada beberapa orang yang berasal dari jalur hubungan yang sama (misalnya ada bapak dan kakek) maka didahulukan yang kedudukannya lebih dekat (yaitu bapak). Barulah kemudian beberapa orang yang kedudukannya sama, misalnya antara saudara kandung dengan saudara sebapak, maka didahulukan yang lebih kuat hubungannya, yaitu saudara kandung. (Syarhul Mumthi’, 12: 84)

Al-Buhuti mengatakan, “Lebih didahulukan bapak si wanita (pengantin putri) dalam menikahkannya. Alasannya, karena bapak adalah orang yang paling paham dan paling kasih sayang kepada putrinya. Setelah itu, orang yang mendapatkan wasiat (wakil) dari bapaknya (untuk menikahkan putrinya), karena posisinya sebagaimana bapaknya. Setelahnya adalah kakek dari bapak ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan bapaknya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. Ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah, bahwa setelah masa iddah beliau berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk melamarnya. Ummu Salamah mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun dari waliku yang ada di sini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorangpun diantara walimu, baik yang ada di sini maupun yang tidak ada, yang membenci hal ini.” Ummu Salamah mengatakan kepada putranya, “Wahai Umar, nikahkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar pun menikahkannya. (HR. Nasa’i).

Selanjutnya (setelah anaknya), adalah saudaranya sekandung, kemudian saudara sebapak, kemudian anak saudara laki-laki (keponakan) dan seterusnya ke bawah. Didahulukan anak dari saudara sekandung dari pada saudara seayah. Setelah itu barulah  paman (saudara bapak) sekandung, kemudian paman (saudara bapak) sebapak, anak lelaki paman (sepupu dari keluarga bapak). Selanjutnya adalah orang yang memerdekakannya (dari perbudakan).

Jika semua tidak ada maka yang memegang perwalian adalah hakim atau orang yang mewakili (pegawai KUA resmi).
Sumber: Ar-Raudhul Murbi’, hal. 335 – 336

Keterangan:
1. Berdasarkan keterangan di atas, tidak ada perwalian dari pihak ibu atau saudara perempuan. Seperti kakek dari ibu, paman dari ibu, saudara se-ibu, sepupu dari keluarga ibu, atau keponakan dari saudara perempuan.
2. Ayah tiri tidak bisa menjadi wali.

Contoh kasus:
1. Anak perempuan dari hasil hubungan zina
Anak dari hasil hubungan zina tidak memiliki bapak (juga dari suatu pernikahan yang tidak sah). Bapak biologis bukanlah bapaknya. Karena itu, tidak boleh dinasabkan ke bapak biologisnya. Dengan demikian, dia tidak memiliki keluarga dari pihak bapak. Siapakah wali nikahnya? Orang yang mungkin bisa menjadi wali nikahnya adalah
a. Anak laki-laki ke bawah, jika dia janda yang sudah memiliki anak
b. Hakim (pejabat resmi KUA)
Bapak biologis, kakek maupun paman dari bapak biologis tidak berhak menjadi wali. Apalagi Bapak tiri, malah tidak bisa dan tidak berhak menjadi wali.

2. Wanita yang orang tuanya dan semua keluarganya non muslim
Diantara syarat perwalian adalah kesamaan dalam agama. Orang kafir tidak berhak menjadi wali bagi wanita muslimah. Dalam kondisi semacam ini, yang bisa menjadi wali wanita adalah pejabat KUA.

Allahu a’lam.
[Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah), telah diedit oleh admin]

4. Syarat saksi nikah :
a) Baragama Islam
b) Laki-laki
c) Baligh
d) Berakal
e) Adil
f) Mendengar
g) Tidak tuli
h) Bisa bercakap-cakap (tidak bisu)
i) Tidak pelupa (mughoffal)
j) Menjaga harga diri (menjaga muru’ah)
k) Mengerti ijab dan qabul
l) Tidak merangkap menjadi wali nikah
m) Dua orang saksi
0) Merdeka

5. Syarat ijab
a) Perkataan ijab tepat
b) Tidak menggunakan bahasa sindiran
c) Diucapkan oleh wali atau yang mewakilkan (sesuai urutan wali nikah, baca keterangan sebelumnya)
d) Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti nikah mut’ah
e) Tidak secara taklik

6. Syarat Qabul
a) Ucapan sesuai dengan ijab
b) Tidak ada bahasa sindiran
c) Diucapkan oleh calon suami
d) Tidak diikatkan oleh tempo waktu
e) Tidak secara taklik
f) Menyebut nama calon istri
g) Tidak diselingi oleh perkataan lain

Nikah Mut'ah, pernikahannya Rusak dan syaratnya Bathil

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَالْحَسَنِ ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِمَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُتْعَةِ عَامَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ حُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abdullah dan Al Hasan keduanya anak Muhammad bin Ali, dari Bapak keduanya dari Ali radliallahu 'anhum, ia berkata, "Saat penaklukan Khaibar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari nikah mut'ah (perkawinan dengan waktu terbatas semata untuk bersenang-senang) dan makan daging keledai." (No. Hadist: 5098 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)


III. Ijab dan Qabul
Ijab adalah perkataan wali pengantin wanita kepada pengantin pria: Zawwajtuka ibnatii…, saya nikahkan kamu dengan putriku…. Sedangkan Qabul adalah ucapan pengantin pria: Qabiltu ....., Saya terima…
Jika sudah dilakukan ijab kabul dan dihadiri dua saksi laki-laki atau diumumkan (diketahui khalayak), maka nikahnya sah.
Dalam pengucapan ijab kabul, tidak disyaratkan menggunakan kalimat tertentu dalam ijab kabul. Akan tetapi, semua kalimat yang dikenal masyarakat sebagai kalimat ijab kabul akad nikah maka status nikahnya sah.

Lajnah Daimah ditanya tentang lafadz nikah. Mereka menjawab,
Semua kalimat yang menunjukkan ijab kabul maka akad nikahnya sah dengan menggunakan kalimat tersebut, menurut pendapat yang lebih kuat. Yang paling tegas adalah kalimat: ‘zawwajtuka’ dan ‘ankahtuka’ (aku nikahkan kamu), kemudian ‘mallaktuka’ (aku serahkan padamu).
Fatawa Lajnah Daimah (17:82).
Demikian penjelasan di: http://www.islamqa.com/ar/ref/155354

Bolehkah akad nikah (ijab kabul) dengan selain bahasa Arab?
Pendapat yang lebih kuat, bahwa akad nikah sah dengan selain bahasa Arab, meskipun dia bisa bahasa Arab. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah al-Kuwaitiyah:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang yang tidak bisa bahasa Arab boleh melakukan akad nikah dengan bahasa kesehariannya. Karena dia tidak mampu berbahasa Arab, sehingga tidak harus menggunakan bahasa arab. Sebagaimana orang bisu.
Kemudian disebutkan perselisihan ulama tentang akad nikah dengan selain bahasa Arab, yang kesimpulannya:

--> Akad nikah sah dengan bahasa apapun, meskipun orangnya bisa bahasa Arab. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah – menurut keterangan yang lebih kuat –, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qudamah. Dalam hal ini kedudukan bahasa non-Arab dengan bahasa Arab sama saja. Karena Orang yang menggunakan bahasa selain Arab, memiliki maksud yang sama dengan orang yang berbahasa Arab.

--> Akad nikah tidak sah dengan selain bahasa Arab. Meskipun dia tidak bisa bahasa Arab. Ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi’iyah. Mereka beralasan bahwa lafadz ijab kabul akad nikah statusnya sebagaimana takbir ketika salat yang hanya boleh diucapkan dengan bahasa Arab.
Akad nikah sah menggunakan selain bahasa Arab, dengan syarat pelakunya tidak bisa bahasa Arab. Jika pelakunya bisa bahasa Arab maka harus menggunakan bahasa Arab. Ini adalah pendapat ketiga dalam madzhab syafii.
(Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah: 11:174).

Apakah harus disebutkan nama pengantin wanita?
Diantara syarat sahnya nikah adalah adanya kejelasan masing-masing pengantin. Seperti menyebut nama pengantin wanita atau dengan isyarat tunjuk, jika pengantin ada di tempat akad. Misalnya, seorang wali pengantin wanita berkata kepada pengantin lelaki “Aku nikahkan kamu dengan anak ini, kemudian si wali menunjuk putrinya yang berada di sebelahnya.” hukum akad nikahnya sah.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Diantara syarat nikah adalah adanya kejelasan pengantin. Karena orang yang melakukan akad dan yang diakadkan harus jelas. Kemudian dilihat, jika pengantin wanita ada di tempat akad, kemudian wali mengatakan, ‘saya nikahkan anda dengan anak ini’ maka akad nikahnya sah. Karena isyarat sudah dianggap penjelasan. Jika ditambahi, misalnya dengan mengatakan, ‘saya nikahkan kamu dengan anakku yang ini’ atau ‘…dengan anakku yang bernama fulanah’ maka ini sifatnya hanya menguatkan makna.
Jika pengantin wanita tidak ada di tempat akad maka ada dua keadaan:

Wali hanya memiliki satu anak perempuan. Maka dia boleh mengatakan, “Saya nikahkan anda dengan putriku” Jika disebutkan namanya maka statusnya hanya menguatkan.
Wali nikah memiliki anak perempuan lebih dari satu. Wali ini tidak boleh menggunakan kalimat umum, misalnya mengatakan, “Saya nikahkan kamu dengan putriku” Dalam keadaan ini akad nikahnya tidak sah, sampai si wali menyebutkan ciri khas salah satu putrinya yang hendak dia nikahkan, baik dengan menyebut nama atau sifatnya. Misalnya dia mengatakan, “Saya nikahkan kamu dengan putriku yang pertama atau yang bernama…” (Al-Mughni, 7:444).

Bagaimana dengan Maharnya?
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'dari radliallahu 'anhu, bahwa seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menawarkan dirinya pada beliau, maka beliau pun bersabda: "Hari ini aku tak berhasrat pada wanita." Tiba-tiba seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya." Maka beliau bertanya: "Apa yang kamu miliki (untuk dijadikan sebagai mahar)?" ia menjawab, "Aku tidak punya apa-apa." Beliau bersabda: "Berikanlan ia (mahar) meskipun hanya cincin besi." Laki-laki itu berkata, "Aku tak punya apa-apa." Akhirnya beliau bertanya: "Apa yang kamu hafal dari Al Qur`an?" laki-laki itu menjawab, "Surat ini dan ini." Beliau bersabda: "Aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dan sebagai maharnya adalah hafalan Al Qur`anmu." (No. Hadist: 4745 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah memberitahukan kepada kami dari Juraij, dari Sulaiman, dari Az­Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Artinya : “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. Jika dia telah digauli maka dia berhak mendapatkan mahar, karena lelaki itu telah menghalalkan kemaluannya. Jika terjadi pertengkaran di antara mereka, maka penguasalah yang menjadi wali atas orang yang tidak punya wali.” (Hadits Shahih Sunan At-Tirmizi no. 1102)

Contoh Kalimat Ijab dan Qobul:
I . IJAB DAN QOBUL BAHASA INDONESIA.

--> IJAB :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ – اَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمِ –  اَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّالله ُ- وَ اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(Istighfar dibaca 3 kali)

SAUDARA/ANANDA _________________ BIN________________

SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN _____________________YANG BERNAMA :_______________________

DENGAN MASKAWINNYA BERUPA : ______________________, TUNAI.

Atau :

SAUDARA/ANANDA _________________ BIN________________

SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ANAK SAYA/KEPONAKAN SAYA/ADIK SAYA YANG BERNAMA _____________________ KEPADA ENGKAU.

DENGAN MASKAWINNYA BERUPA : ______________________, TUNAI.

--> QOBUL :

SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA

_______________ BINTI _______________

DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT TUNAI.


II . IJAB DAN QOBUL BAHASA ARAB.

--> IJAB :

اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ * بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِِِ الرَّحِيْمِ *
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ … ×3 مِنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ وَاَتُوْبُ ِالَيْهِ
اَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّالله ُ * وَ اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ *
بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ للهِ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِاللهِ وَعَلى آلِهِ وَاَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِـعَهُ وَنَصَـَرهُ وَمَنْ وَّالَهُ – وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ اَمَّا بَعْدُ : أُوْ صِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَي الله فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْن –
يَا ……….. بِنْ ………… ! اَنْكَحْـتُكَ وَزَوَّجْـتُكَ ِابْنَتِيْ ………………………….. بِمَهْرِ ………….. نَـقْدًا.

-->  QOBUL :

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيـْجَهَا بِالْمَهْرِالْمَذ ْكُوْرِ نَـقْدًا



III . IJAB DAN QOBUL BAHASA INGGRIS.

--> IJAB :

BISMILLAAHIRROHMAANIRROOHIIM

ASTAGH FIRULLOOHAL’ADZIIM 3 X

ASY HADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOH,

WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARROSUULULLOOH.

MR.________________________ SON OF _________________________

I MARRY OFF AND I WED OFF

MY REAL DAUGHTER ______________________ TO YOU,

WITH THE DOWRY _____________________ , IN CASH.

--> QOBUL :

I ACCEPT HER MARRIAGE AND WEDDING :

________________ DAUGHTER OF MR. ___________________

WITH THE DOWRY MENTIONED ABOVE IN CASH.


"SEBELUM JALUR MELENGKUNG, BERARTI MASIH BOLEH ..." BOLEHKAH MEMINANG PINANGAN KAWANNYA?
Ada beberapa orang yang menganggap masih bolehnya meminang perempuan, meskipun perempuan itu sudah dipinang (khitbah) oleh orang lain. Bahkan sampai akan pelaksanaan akad-nikah pun masih diperbolehkan, selama masih belum terucap ijab kabul dengan sempurna. Benarkah demikian?

Telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata, Aku mendengar Nafi' menceritakan bahwa Ibnu Umar radliallahu 'anhuma berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang sebagian kalian untuk berjual beli atas jual beli saudaranya. Dan janganlah seseorang meminang atas pinangan yang lain hingga ia meninggalkannya atau pun menerimanya, atau pun ia telah diberi izin oleh sang peminang pertama." (No. Hadist: 4746 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

---> Jadi Seseorang tidak boleh meminang pinangan kawannya hingga ia menyerahkannya. Biasanya pinangan (khitbah) antara pria-wanita itu terjadi jauh hari sebelum akad-nikah, sehingga menjelang pelaksanaan akad-nikahpun tetap tidak boleh diganggu. Kecuali ia telah diberi izin oleh sang peminang pertama.

Sesungguhnya Hukum Foto Pre Wedding adalah Haram
Mengapa? Karena dalam Pre Wedding biasa Terjadi:
1. Ikhtilat dan Kholwat
Walau memakai jilbab saat foto pre wedding, tetap saja tidak boleh. Karena Islam melarang berdua-duaan antara pasangan yang belum halal, disebut kholwat. Islam juga melarang ikhtilat, yaitu campur baur antara laki-laki dan perempuan.
Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ

“Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada muhrimnya.” (HR. Muslim no. 2171)

2. Membuka Aurat
Ada juga yang sampai membuka aurat yang haram untuk dilihat. Seperti ini pun tidak dibolehkan bahkan termasuk dosa besar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk Neraka yang belum pernah aku lihat (saat Beliau masih hidup): [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] Para wanita yang berpakaian tapi (seolah-olah) telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim No. 2128)

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan,

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ

Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring.
Yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya, artinya sengaja membuka sebagian aurat. Adapun maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya. Sedangkan wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban).
Nah, sifat-sifat di atas yang kita temukan juga pada foto pre-wedding ketika banyak wanita yang berpose dengan pamer aurat tanpa ada rasa malu.

3. Bersentuhan dengan lawan jenis yang haram
Ada juga yang dalam foto saling bersentuhan padahal belum halal. Dalam hadits terdapat ancaman keras,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

4. Tabarruj yang tidak dibolehkan
Hampir dapat dipastikan, wanita berpose manis saat itu. Padahal berpenampilan tabarruj seperti ini diharamkan. Apa itu tabarruj? Di antara maksudnya adalah berdandan menor dan berhias diri. Itulah yang kita lihat pada foto pre wedding.
Allah memerintahkan pada para wanita,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).

Maqotil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi).

Jika seorang wanita memakai make-up, bedak tebal, eye shadow, lipstick, maka itu sama saja ia menampakkan perhiasan diri. Inilah yang terlarang dalam ayat,

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31).

5. Jika sampai ada adegan “kiss” (ciuman)
Jika sampai ada adegan kissing -padahal belum halal sebagai suami istri-, maka ini jelas lebih parah lagi.
Ada hadits yang menyebutkan,

أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ « لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ »

Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763).

Hadits ini menunjukkan berciuman bagi pasangan yang belum halal adalah satu hal yang diharamkan dan dihukumi dosa karena sahabat Nabi yang disebutkan dalam hadits ini menyesal dan ingin bertaubat.
[Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal]


Bab. Sekilas Kawin Mut’ah dan Nikah Miswar

Kawin Mut’ah
Adapun kawin mut’ah adalah ikatan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam batas waktu tertentu dengan upah tertentu pula.
Kawin mut’ah ini pernah diperkenankan oleh Rasulullah s.a.w. sebelum stabilnya syariah Islamiah, yaitu diperkenankannya ketika dalam bepergian dan peperangan, kemudian diharamkannya untuk selama-lamanya.

Rahasia dibolehkannya kawin mut’ah waktu itu, ialah karena masyarakat Islam waktu itu masih dalam suatu perjalanan yang kita istilahkan dengan masa transisi, masa peralihan dari jahiliah kepada Islam. Sedang perzinaan di masa jahiliah merupakan satu hal yang biasa dan tersebar di mana-mana. Maka setelah Islam datang dan menyerukan kepada pengikutnya untuk pergi berperang, dan jauhnya mereka dari isteri merupakan suatu penderitaan yang cukup berat. Sebagian mereka ada yang imannya kuat dan ada pula yang lemah. Yang imannya lemah, akan mudah untuk berbuat zina sebagai suatu perbuatan yang keji dan cara yang tidak baik.

Sedang bagi mereka yang kuat imannya berkeinginan untuk kebiri dan mengimpotenkan kemaluannya, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud:

“Kami pernah berperang bersama Rasulullah s.a.w. sedang isteri-isteri kami tidak turut serta bersama kami, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, apakah boleh kami berkebiri? Maka Rasulullah s.a.w. melarang kami berbuat demikian dan memberikan rukhshah supaya kami kawin dengan perempuan dengan maskawin baju untuk satu waktu tertentu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, maka dibolehkannya kawin mut’ah adalah sebagai suatu jalan untuk mengatasi problema yang dihadapi oleh kedua golongan tersebut dan merupakan jenjang menuju diundangkannya hukum perkawinan yang sempurna, di mana dengan hukum tersebut akan tercapailah seluruh tujuan perkawinan seperti: terpeliharanya diri, ketenangan jiwa, berlangsungnya keturunan, kecintaan, kasih-sayang dan luasnya daerah pergaulan kekeluargaan karena perkawinan itu.

Sebagaimana al-Quran telah mengharamkan khamar dan riba dengan bertahap, di mana kedua hal tersebut telah terbiasa dan tersebar luas di zaman jahiliah, maka begitu juga halnya dalam masalah haramnya kemaluan, Rasulullah tempuh dengan jalan bertahap juga. Misalnya tentang mut’ah, dibolehkannya ketika terpaksa, setelah itu diharamkannya.

Diantara dalil-dalil yang jelas telah diharamkannya mut’ah :

عن رَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا (أخرجه مسلم وأبو داوود والنسائي وابن ماجة وأحمد وابن حبان)

“Diriwayatkan dari Rabi’ bin Sabrah r.a. sesungguhnya rasulullah s.a.w. bersabda: “wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku pernah mengizinkan nikah mut’ah, dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat, oleh karenanya barangsiapa yang masih mempunyai ikatan mut’ah maka segera lepaskanlah, dan jangan kalian ambil apa yang telah kalian berikan kepada wanita yang kalian mut’ah” HR. Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban.

عن سلمة إب لأ قواع رضى الله عنه قال : رخص رسول الله عام أوطا س في المتعة ثلا ث ثم نهى عنه

”Dari Salamah bin Akwa a berkata ; ” Rasulullah n memberikan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang Authos kemudian beliau melarangnya [HR.Muslim 1023]

Perhatikan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah) untuk mut’ah, artinya pada asalnya mut’ah itu tidak diperbolehkan, karena kondisi tertentu mut’ah dibolehkan saat itu yaitu pada saat peperangan.

Bahkan Imam Ali sendiri pun telah menyampaikan langsung sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengenai haramnya mut’ah.

عن علي إبن أبي طالب رضي الله عنه قا ل إن النبي ص نهى عن المتعة وعن لحوم الحمر لأ حلية زمن خيبر

“Dari Ali bin Abi Thalib a berkata : ”Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging khimar jinak pada waktu perang khaibar [ HR.Bukhori 5115,Muslim 1407]

Dan beberapa riwayat yang lain yang menyatakan keharaman mut’ah.
Seperti apa yang diriwayatkan oleh Ali dan beberapa sahabat yang lain, antara lain sebagai berikut:
“Dari Saburah al-Juhani, sesungguhnya ia pernah berperang bersama Nabi s.a.w. dalam peperangan fat-hu Makkah, kemudian Nabi memberikan izin kepada mereka untuk kawin mut’ah. Katanya: Kemudian ia (Saburah) tidak pernah keluar sehingga Rasulullah s.a.w. mengharamkan kawin mut’ah itu.” (Riwayat Muslim)

Tetapi apakah haramnya mut’ah ini berlaku untuk selama-lamanya seperti halnya kawin dengan ibu dan anak, ataukah seperti haramnya bangkai, darah dan babi yang dibolehkan ketika dalam keadaan terpaksa dan takut berbuat dosa?

Menurut pendapat kebanyakan sahabat, bahwa haramnya mut’ah itu berlaku selama-lamanya, tidak ada sedikitpun rukhshah, sesudah hukum tersebut diundangkan.

Menjawab Seputar Mut’ah oleh Mereka yang Membolehkannya:
Pertama:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[Qs. Al An nisa : 24]

Dengan dalih ayat di atas, Mereka mengemukakan tiga alasan sebagai berikut
1.  Dalam ayat di atas Allah swt membuat ungkapan lafadz Istimta’ bukan dengan lafadz nikah, padahal istimta’ dengan mut’ah adalah satu makna.
2. Allah swt memerintahkan pada ayat di atas agar seseorang laki-laki memberikan upah, sementara mut’ah merupakan akad sewa’an untuk mendapatkan manfa’at kemaluan.
3. Sesungguhnya Allah swt memerintahkan agar seseorang laki-laki memberikan upah kepada perempuan setelah menggauli, sedangkan cara itu hanya ada pada akad sewa-menyewa dan nikah mut’ah . sementara mahar hanya di berikan ketika proses akad nikah sedang berjalan

Jawab:
Memang sebagian ulama  menafsirkan “Istimta’tum” dengan nikah mut’ah, Akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini adalah; Apabila kalian menikahi wanita lalu kalian berjima dengan mereka, Maka berikanlah maharnya sebagai sebuah kewajiban atas kalian.

Imam Ath-Thabari ra berkata: ”Setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut : ”Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima dengan mereka maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasulullah saw akan haramnya nikah mut’ah. [Tafsir Ath-Thabari, 8/175].

Imam Al-Qurthubi ra berkata: ”Tidak boleh ayat ini di gunakan untuk menghalalkan nikah mut’ah karena Rasulullah saw telah mengharamkannya [Tafsir Al-Qurthubi, 5/132].

Adapun “istimta’”, tidak disebutkan dalam Alquran kecuali untuk pemanfaatan yang bersifat terus menerus, tidak terputus kecuali dengan terputusnya kehidupan dunia. Sehingga batas waktunya adalah batas waktu kehidupan dunia hingga kiamat dan bukan batas waktu sekehendak manusia, seperti kawin mut'ah.
Contoh kata “istimtaa’”, dalam ayat berikut ini:

Surat Al-Ahqaf Ayat 20:

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".

–-> Imam syi’ah yg keenam (imam ma’shum) Ja’far ash-Shoddiq mengharamkan nikah mut’ah : “Telah aku haramkan mut’ah atas kalian berdua” (Al-Furu’ min Al-Kafi 2/48).

Kedua
Sebagian para sahabat masih melakukan mut’ah sepeninggal Rasulullah saw sampai Umar melarangnya, sebagaimana di sebutkan  dalam banyak riwayat , di antaranya :

” Dari Jabir bin Abdillah berkata : ”Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasulullah saw juga Abu Bakar sampai Umar melarangnya [HR.Muslim 1023]

Jawab :
”Riwayat Jabir ini menunjukan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan Mut’ah . berkata Imam An-Nawawi Ra : ”Riwayat ini menunjukan bahwa orang yang masih melakukan mut’ah pada masa Abu Bakar dan Umar h belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut [Syarah Shahih Muslim, 3/555; Fathul Baari; Zaadul Ma’ad, 3/462; Jami Ahkamin Nissa 3/191.].

Jabir bin Abdullah adalah sahabat muda Nabi SAW tetapi beliau bukanlah ulama-nya sahabat, Sudah sangat jelas Imam Ali, Umar, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Ibnu Abi Amrah Al-Anshary dll telah mengharamkannya. maka jika Jabir dan beberapa sahabat masih melakukannya pada masa Abu Bakar dan Umar, disimpulkan mereka masih belum mengetahui atau samar dalam masalah hukum Mut’ah hingga Umar menegaskannya.

Dari riwayat tersebut pun tidak bisa dijadikan dalil bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Umar radhiyallahu ‘anhu, karena dari riwayat-riwayat yang lain telah begitu jelas bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri bahkan Imam Ali sendiri juga mengharamkannya. Umar hanya menegaskan dan mengumumkan pengharaman tersebut dengan kapasitas beliau sebagai khalifah pada saat itu, sehingga hasilnya para sahabat yang belum mengetahui akan haramnya mut’ah menjadi jelas yang mungkin sebelum Umar mengumumkan haramnya mut’ah ada sebagian sahabat yang belum mengetahui atau masih samar mengenai hukum mut’ah.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, saat Umar menegaskan kembali akan haramnya Mut’ah, tidak ada satu sahabat pun yang menentangnya termasuk Jabir bin Abdullah ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengakui penegasan Umar tersebut.

Pemahaman Jabir bin Abdullah saat itu mungkin sama dengan sahabat Khalid bin Muhajir bin Saifullah mengenai mut’ah yaitu masih belum mengetahui atau masih samar jika mut’ah sudah diharamkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam :

قال ابن شهاب فأخبرني خالد بن المهاجر بن سيف الله أنه بينا هو جالس عند رجل جاءه رجل فاستفتاه في المتعة فأمره بها فقال له ابن أبي عمرة الأنصاري مهلا قال ما هي ؟ والله لقد فعلت في عهد إمام المتقين قال ابن أبي عمرة إنها كانت رخصة في أول الإسلام لمن اضطر إليها كالميتة والدم ولحم الخنزير ثم أحكم الله الدين ونهى عنها

Dari Khalid bin Muhajir bin Saifullah, katanya: “Ketika dia sedang duduk dengan seorang laki-laki, tiba-tiba datang seorang laki-laki minta fatwa kepadanya tentang Mut’ah. Lalu Khalid membolehkannya. Maka berkata Ibnu Abi ‘Amrah Al-Anshari, “Tunggu dulu. Tidak begitu!” Kata Khalid, “Kenapa? Demi Allah hal itu pernah dilakukan pada masa Imam-nya orang-orang yang bertakwa (Nabi SAW).” Kata Ibnu Abi ‘Amrah. “Memang, mut’ah pernah dibolehkan (rukhshah) pada masa permulaan Islam karena terpaksa, seperti halnya boleh memakan bangkai, darah, dan daging babi. Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukumnya dalam agama, dan melarang melakukannya.” (Shahih Muslim 2/1023 No. 1406)

Dari hadits di atas terbukti :
1. Memang terdapat beberapa sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang belum mengetahui atau masih samar mengenai hukum Mut’ah. Maka Jabir bin Abdullah adalah salah satunya.
2. Mut’ah memang pada asalnya dilarang, dibolehkan pada masa awal Islam hanya sebagai rukhshah karena terpaksa yaitu pada saat perang yang jauh dengan istri.

Nikah Mis-yar (nikah Miswar)
Nikah mis-yar (nikah miswar) adalah nikah di mana pasangan nikah hidup secara terpisah satu sama lain atas kesepakatan bersama dan tetap masih ada pemenuhan syahwat dan beberapa hak lainnya sesuai kesepakatan, dan bisa jadi si pasangan sepakat tidak ada pemberian tempat tinggal atau nafkah bulanan. Bagaimana pandangan Islam mengenai bentuk nikah semacam ini? Apakah dibolehkan?

Bentuk Nikah Misyar
Bentuk nikah misyar sudah ada sejak masa silam. Bentuk nikah semacam ini adalah suami mensyaratkan pada istrinya bahwa ia tidak diperlakukan sama dengan isti-istrinnya yang lain (dalam kasus poligami), bisa jadi pula ia tidak dinafkahi atau tidak diberi tempat tinggal, ada pula yang mensyaratkan ia akan bersama istrinya cuma di siang hari (tidak di malam hari). Atau bisa jadi si istri yang menggugurkan hak-haknya, ia ridho jika hanya ditemani suami di siang hari saja (bukan malam hari), atau ia ridho suaminya tinggal bersamanya hanya untuk beberapa hari saja. (islamqa.com: fatwa 97642)
Bentuk misyar ini sangat nampak sekali di negeri kita pada pasangan perselingkuhan (tanpa status nikah) atau jika suami memiliki istri simpanan tanpa diketahui istri pertama, terserah dengan status nikah yang sah dengan istri kedua atau tidak.

Walaupun sekilas hampir sama tapi ada perbedaan mendasar antara nikah misyar dan nikah mut’ah. Dalam nikah mut’ah tetap ada kewajiban nafkah & dibatasi waktu, sementara nikah misyar selain meniadakan kewajiban nafkah tapi menghalalkan hubungan suami istri juga tidak dibatasi waktu tertentu seperti nikah mut’ah.

Hukum Nikah Misyar
Nikah misyar tetap dikatakan sah jika terpenuhi syarat dan rukun nikah. Adapun pengguguran beberapa hak yang dipersyaratkan atau diizinkan oleh salah satu pasangan tidaklah menjadikannya nikahnya haram. Namun sebagian ulama memakruhkan nikah semacam ini.

Sebaiknya Tidak Dilakukan ...!!!
Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, salah satu anggota Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) dan ulama senior di kota Riyadh, ditanya, “Apa pendapatmu –wahai Syaikh- mengenai nikah misyar dan hukum syari’at mengenai nikah semacam ini?”

Jawaban beliau, “Aku tidak merekomendasikan nikah semacam itu karena tidak terpenuhinya maslahat nikah di dalamnya. Nikah semacam ini hanya sekedar pemenuhan syahwat. Suami tidak bisa mengawasi istrinya dengan benar. Istri juga tidak hidup bersama dengan suami. Jika ada anak dari nikah semacam ini, maka ia akan jauh dari kerabatnya. Yang jelas nikah semacam ini tidak bisa menggapai tujuan nikah. Maka kami pun tidak menganjurkannya.”
(Sumber fatwa: http://alfawzan.ws/node/13734)
[diedit oleh Admin]
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
-------------

Selengkapnya tentang Kawin Mut’ah dan Nikah Miswar, silahkan baca di: https://alfanarku.wordpress.com/2011/03/04/menjawab-syubhat-syi%E2%80%99ah-tentang-mut%E2%80%99ah/
dan
https://alfanarku.wordpress.com/2010/12/04/praktek-mut%E2%80%99ah-kaum-syi%E2%80%99ah-khusus-dewasa/

Jumat, 13 Januari 2017

Perintah Berjilbab

DEFINISI

JILBAB
Berasal dari bahasa arab yang jamaknya jalaabiib artinya pakaian yang lapang/luas. Pengertiannya yaitu pakaian yang lapang dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan saja yang ditampakkan. Jilbab ini hukumnya adalah wajib sebagai sebuah keharusan yang pasti atau mutlak bagi wanita dewasa yang mukminat atau muslimat.

KERUDUNG
Yang ini berasal dari bahasa indonesia. Bila dalam bahasa arabnya adalah khimaar, jamaknya khumur yaitu tutup/tudung yang menutup kepala, leher, sampai dada wanita.
Sekilas kerudung memiliki definisi yang hampir sama dengan jilbab. Tapi tidak sama. Jilbab memiliki arti yang lebih luas, Karena Jilbab dapat diartikan sebagai busana muslimat yang menjadi satu corak, yaitu busana yang menutup seluruh tubuhnya, mulai dari atas kepala sampai kedua telapak kakinya yang jadi satu (menyatu) tanpa menggunakan kerudung lagi. Sedangkan Khimar itu (kerudung) hanya tudung yang menutupi kepala hingga dada saja. Sama halnya seperti Jilbab, kerudung ini hukumnya wajib.

CADAR
Kain penutup muka atau sebagian wajah wanita, dimana hanya matanya saja yang nampak, bahasa arabnya khidir atau tsiqab, sinonim dengan burqu : marguk. Penggunaan cadar, purdah ini bersifat sunat (tapi terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama).

HIJAB
berasal dari bahasa arab, artinya sama dengan tabir atau dinding/penutup. Pengertian yang dimaksud dari hijab atau tabir disini adalah tirai penutup atau sesuatu yang memisahkan/membatasi baik berupa tembok, bilik, gorden, kain dan lain-lain.

MUKENA/ RUKUH
Saat ditanya "apa sih mukena?", pasti umumnya akan menjawab “pakaian yang biasa digunakan wanita utk sholat”. Mukena (rukuh) menurut pengertian banyak orang memang diartikan kain selubung (baju kurung) bagi wanita yang digunakan khusus saat shalat. Padahal sebetulnya tidak ada pakaian khusus untuk pakaian dalam shalat, sebagaimana tidak ada pakaian khusus untuk para lelaki yang dipakai saat shalat. Yang dimaksud kain selubung/baju kurung itu sebenarnya adalah jilbab itu sendiri.

Istilah mukena itu berasal dari bahasa arab yang asalnya muqna’ah/miqna’ah. Dan mukena ini sebetulnya lebih mirip kerudung ketimbang jilbab, hanya saja muqna’ah ini agak lebih panjang kebawah dibandingkan kerudung.

URAIAN
Menurut Ibnu Abbas dan Abu Ubaidah, bahwa kaum wanita diperintahkan menutup kepala dan muka mereka dengan jilbab selain mata, agar diketahui sebagai wanita merdeka. Dengan demikian, maksud ayat ini adalah hendaknya mereka tutup dengan jilbab mereka kepala, muka dan dada.

Bahwa mereka adalah wanita-wanita merdeka. Berbeda dengan budak yang tidak menutupi wajahnya, sehingga mereka diganggu oleh kaum munafik.

Karena Dia mengampuni perbuatan di masa lalu dan merahmati mereka dengan menerangkan beberapa hukum, menerangkan yang halal dan yang haram.

Surat Al-Ahzab Ayat 59:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini dinamakan ayat hijab, di mana Allah memerintahkan Nabi-Nya menyuruh kaum wanita secara umum, dan dimulai dengan istri dan putri Beliau karena mereka lebih ditekankan daripada selainnya, di samping itu orang yang memerintahkan orang lain sepatutnya memulai keluarganya lebih dahulu sebelum selain mereka sebagaimana firman Allah Ta'ala,

Surat At-Tahrim Ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Kemudian Perhatikan ayat berikut ini:
Surat An-Nur Ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Diperbolehkan bagi Para Wanita untuk Tidak Memakai Kain Kerudung ataupun Jilbab, yakni hanya memakai pakaian biasa saja (misal ketika mereka di rumah, dengan rincian yang boleh melihat mereka saat itu):
1. Suami mereka (khusus terhadap suami, bebas, silahkan baca: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2017/01/kamasutra-dalam-islam.html)
2. Ayah mereka
3. Ayah suami mereka
4. Putera-putera mereka
5. Putera-putera suami mereka
6. Saudara-saudara laki-laki mereka
7. Putera-putera saudara lelaki mereka
8. Putera-putera saudara perempuan mereka
9. Wanita-wanita islam
10. Budak-budak yang mereka miliki
11. Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)
12. Anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Ulama tidak berbeda pendapat tentang aurat wanita di hadapan sesama wanita, yakni tidak haram bagi wanita muslimah tubuhnya terbuka di hadapan sesamanya kecuali bagian antara pusat dan lutut. Wanita di ayat tersebut adalah wanita muslimah, adapun wanita kafir tidak termasuk, karena mereka tidak memiliki aturan haramnya mensifati wanita kepada laki-laki mereka. Sedangkan wanita muslimah mengetahui bahwa mensifati wanita muslimah lain ke laki-laki adalah haram.

Oleh karena itu, budak apabila seluruh dirinya adalah milik seorang wanita, maka ia boleh melihat tuan putrinya itu selama tuan putrinya memiliki dirinya semua, jika kepemilikan hilang atau hanya sebagian saja, maka tidak boleh dilihat, demikian menurut Syaikh As Sa'diy.
Di mana ia tidak berhasrat kepada wanita baik di hatinya maupun di farjinya, disebabkan cacat akal atau fisik seperti karena tua, banci maupun impotensi (lemah syahwat)

Adapun jika anak-anak itu sudah mendekati baligh, di mana ia sudah bisa membedakan antara wanita jelek dengan wanita cantik, maka hendaklah wanita tidak terbuka di hadapannya.

Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan perintah-perintah yang bijaksana ini, dan sudah pasti seorang mukmin memiliki kekurangan sehingga tidak dapat melaksanakannya secara maksimal, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan mereka bertobat. Dari melihat sesuatu yang diharamkan dan dari dosa-dosa lainnya.

Oleh karena itu, tidak ada cara lain agar seseorang dapat beruntung kecuali dengan tobat. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap mukmin butuh bertobat, karena firman-Nya ini tertuju kepada semua mukmin, demikian pula terdapat anjuran agar ikhlas dalam bertobat, bukan karena riya', sum'ah dan maksud-maksud duniawi lainnya.

Jilbab merupakan pakaian longgar yang menutupi pakaian keseharian wanita tersebut saat di rumah, yang dikenakan saat wanita itu ke tempat umum/keluar rumah: pasar, jalan dsb.. Hal ini bisa difahami dari hadits Ummu ‘Athiyah ra.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Artinya: Dari Ummu Athiyah berkata: Rasulullah saw memerintahkan kepada kami untuk keluar pada hari Fithri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil baligh, Wanita-wanita yang sedang haid maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslim . Aku bertanya, “Wahai Rasulullah salah seorang diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah saw menjawab: "Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya". (HR Muslim).

Jilbab Bukan Adat Kebiasaan/Budaya Orang Arab, Melainkan Perintah Allah (kewajiban)
Berbagai bukti menunjukkan bahwa jilbab bukan adat kebiasaan/budaya orang arab adalah pertama, asbabun nuzul Surat An Nur ayat 31.
Diriwayatkan bahwa Asma’ binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang, sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya, dada dan sanggul. Selanjutnya Asma, berkata “Alangkah buruknya pemandangan ini, maka turunlah ayat ini (surat AnNur[24];31) sampai auratinnisa‘ berkenaan dengan peristiwa tersebut yang memerintahkan kaum mu’minat menutup aurat (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah)

Dari asbabun nuzul  surat An Nur ayat 31 tersebut jelas sekali bahwa dikatakan gelang-gelang kaki, dada, sanggul perempuan arab saat itu terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu dia belum memakai jilbab ataupun kerudung. Jika rambut, dada dan kaki tidak dikatakan sebagai aurat tentu saja tidak perlu lagi perintah menutup aurat.

Kedua, asbabun Nusul Surat Al Ahzab[33] ayat 59. Diriwayatkan bahwa  isteri-isteri Rasulullah pernah keluar malam untuk qadla hajat buang air. Pada waktu itu kaum munafiqin menganggu mereka dan menyakiti. Hal ini diadukan kepada Rasulullah Saw, sehingga Rasul menegur kaum munafiqin. Mereka menjawab: “kami hanya mengganggu hamba sahaya”. Turunlah ayat (surat Al Ahzab[33];59) sebagai perintah untuk berpakaian tertutup agar berbeda dari hamba sahaya.(diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam at Thabaqat yang bersumber dari Abi malik. Diriwayatkan pula Ibnu Sa’d yang bersumber dari Hasan dan Muhammad bin Ka’b al Quradli)

ketiga, hadits yang menyatakan bahwa dahulu thawaf dilakukan dengan telanjang, yakni hadits: Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Zaid bin Utsai', ia berkata, "Aku bertanya kepada Ali, 'Dengan apa kamu di utus?' Ia menjawab, 'Dengan empat hal, yaitu: (1). tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim (2). Seseorang tidak boleh thawaf dengan telanjang (3). Kaum muslimin tidak boleh berkumpul dengan kaum musyrikin sesudah tahun ini (4). Barangsiapa mempunyai janji antara dia dengan Nabi SAW, maka janjinya harus ditepati pada waktunya dan bila tidak disebutkan kepastian waktunya, maka diberi kesempatan empat bulan'."
Shahih: Irwa' Al Ghalil (1101) dan shahih sunan tirmidzi (871)

Dari hadits2 diatas kalau dikumpulkan.
---> Jilbab Bukan Adat Kebiasaan/Budaya Orang Arab, karena wanita-wanita Arab dalam kesehariannya pakaian mereka:
  1. Wanita-wanita Arab sering berpakaian tanpa berkain panjang, sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya, dada dan sanggul mereka. Bahkan ada yang terlihat pusar mereka.
  2. Hamba sahaya/budak di Arab tidak menutup kepala dan muka mereka dengan jilbab.
  3. Dahulu thawaf dilakukan dengan telanjang.
Islam datang untuk memberikan penghormatan kepada para Muslimah, sehingga Allah mewajibkan bagi mereka memakai pakaian berjilbab. Tentu yang dimaksud bukan jilbab yang modis, dimana lekuk tubuh wanita itu terlihat jelas (atau bahkan terlihat samar, karena tipisnya bahan/kainnya), meskipun kepala mereka ditutupi kerudung.
Namun yang dimaksud Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lebar yang dapat menutup seluruh tubuh wanita di samping baju biasa (baju yang biasa dipakai dalam rumah oleh wanita) dan kerudung.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk Neraka yang belum pernah aku lihat (saat Beliau masih hidup): [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] Para wanita yang berpakaian tapi (seolah-olah) telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim No. 2128)

Makna kasiyatun ‘ariyatun (كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ):
Pertama : Wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.
Kedua : Wanita yang memakai pakaian ketat, sehingga nampak lekuk tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia juga telanjang.
Ketiga : Wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup) atau bisa juga memakai pakaian yang minim. Wanita ini sebenarnya telanjang.

Secara Tidak Langsung, ayat ini merupakan Perintah untuk Berjilbab juga
QS.17. Al Israa':

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Perhatikan ayat diatas dan dibawah ini:
QS. 5. Al Maa'idah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Lho mengapa bisa demikian?
Coba perhatikan وَلَا تَقْرَبُوا kalimat ini jauh lebih kuat penekanan untuk menjauhinya daripada فَاجْتَنِبُوهُ meskipun hampir mirip ("jangan kamu mendekati" dengan "jauhilah").  
wa laa taqrobu, diharuskan "menjauh" dengan memperhatikan semua hal, yang dapat menjadikannya "mendekati". Misalnya: Jauhi persahabatan (pria-wanita) apabila dapat menjurus kepada perzinahan, jauhi menelpon apabila yang diperbincangkan bisa menjurus ke perzinahan, termasuk menggunakan WA, FB dan medsos lainnya.
Hal ini jauh lebih ketat daripada fajtanibuuhu. Orang biasa melihat botol bir, dan melihat perjudian, namun orang itu lebih bisa mengendalikan diri dengan tidak ikut minum bir ataupun ikut berjudi.
Sangat berbeda apabila seseorang yang melihat manusia berbeda jenis telanjang (apalagi sangat menarik), tentu nafsunya lebih sulit dikontrol supaya tidak mendekati zina. Jangankan seperti itu, nelpon dengan kata2 mesra saja sudah bisa mendorong mereka untuk berbuat zina. Coba bandingkan keinginan anda untuk berjudi dengan hanya melihat perjudian dan melihat botol bir.

Bagaimana Jika Seorang Lelaki Melihat Perempuan yang Mengagumkannya, hingga Nafsunya Meledak?
Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abdul A'laa bin Abdil A'laa memberitahukan kepada kami, Hisyam bin Abu Abdullah AdDastuwa'i memberitahukan kepada kami dari Abu Zubair, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, "Nabi SAW pernah melihat seorang perempuan, maka Nabi segera masuk ke rumah Zainab dan menunaikan hajatnya (berjimak dengannya). Kemudian beliau (Nabi SAW) keluar dan bersabda, 'Sesungguhnya kalau perempuan sedang menghadap, maka ia menghadap dalam bentuk syetan (maksudnya sindiran bagi laki-laki yang melihat perempuan yang bukan istrinya). Apabila seseorang di antaramu melihat perempuan yang menggugah hasratnya maka datangilah istrinya (hingga berjimaklah dengan istrimu), karena yang ia punya sama seperti yang dipunyai istrinya'."
Shahih: Silsilah Ahadits Shahihah (235) dan shahih sunan tirmidzi (1158)

Nashr bin Ali menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus memberitahukan kepada kami dari Mujalid, dari Asy­Sya'bi, dari Jabir, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Janganlah kalian masuk kepada perempuan-­perempuan yang ditinggal pergi suaminya, karena sesungguhnya syetan mengalir pada diri kalian semua dengan mengikuti aliran darah." Kami bertanya, "Termasuk engkau?" Nabi menjawab, "Termasuk aku. Tetapi Allah menolongku, sehingga aku selamat."
Shahih: Penggalan pertama diperkuat dengan hadits yang sebelumnya,
Ash­Shahih dan Shahih Aba Daud (2134-1133), shahih sunan tirmidzi (1172) dan Takhrijus­Sirah (65)

Sehingga perintah berhijab (juga) merupakan perintah supaya janganlah menjadi seorang wanita yang menjadikan pria ingin berzina. Dengan menampakkan auratnya, kecantikannya, lekuk tubuhnya yang indah dll. Karena itu hijabilah tubuh para wanita itu, untuk kehormatan mereka, dan kemaslahatan umat ...
Protes? Anda mungkin mengatakan: "Memakai pakaian sexy itu hak perempuan, dan hanya bagi pria yang mata keranjang / hidung belang yang akan terpengaruh nafsunya!".
--> Maka Ketahuilah, sudah menjadi fitrah manusia untuk saling tertarik pada lawan jenis. Pria tertarik dengan wanita cantik dst.
Justru yang tidak sesuai fitrah, apabila ada pria dewasa, mengaku normal, dan ada wanita cantik dihadapannya dengan pakaian minim tanpa hijab, namun pria itu tidak tertarik atau tidak bereaksi nafsunya ...!
Sekuat apapun iman seseorang, pasti nafsunya bergejolak melihat lawan jenis yang sexy dengan pakaian minim. Hanya saja, karena imannya sedang kuat, maka ia lebih takut kepada Allah, dan akhirnya ia menundukkan pandangannya, menghindari "pemandangan" seperti itu. Dan ia tidak berani meneruskannya, karena takutnya kepada Allah ...!.

Akhir kata, perintah berhijab ini hanya untuk wanita beriman, sedangkan yang lain terserah mereka. Islam telah mengangkat kehormatan para mukminat dengan berhijab, sehingga menjadikan mereka lebih terhormat dan dapat mengangkat derajat mereka ...

Apakah memakai celana bagi wanita tidak boleh?, Boleh, selama tidak ketat, tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya, tidak tipis/transparan dan tidak menampakkan auratnya ... Ingatlah makna kasiyatun ‘ariyatun (كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ)