Senin, 02 Mei 2016

Tuduhan yang Tidak Layak Kepada Nabi

Tuduhan orang² kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada para Rasul-Nya, sudah ada sejak jaman dulu. Orang² kafir itu menuduh Rasul-Nya adalah seorang pendusta dan sombong. Menuduh utusan Allah dengan suatu tuduhan yang sangat tidak layak dan jauh dari kebenaran. Bahkan, tuduhan itu sebenarnya adalah untuk sipenuduh itu sendiri, karena pada kenyataannya sipenuduh itulah seorang pendusta lagi sombong.

QS.54. Al Qamar:

أَءُلْقِىَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِن بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

25. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. 

Namun tuduhan itu (Nabi SAW dituduh pendusta lagi sombong) dibantah oleh Allah, karena sesungguhnya orang² kafir itulah yang sangat pendusta lagi sombong. Dan mereka memutar-balikkan fakta (seperti: Maling teriak Maling), dengan menuduh Rasul-Nya adalah seorang pendusta dan sombong. Allah SWT berfirman:

QS.54. Al Qamar:

سَيَعْلَمُونَ غَداً مَّنِ ٱلْكَذَّابُ ٱلأَْشِرُ

26. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. 

Bab: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi
Orang² kafir telah menuduh Nabi Muhammad SAW telah tersesat dan tidak pasti selamat diakhirat(karena masih membutuhkan shalawat dari kita) , karena itu mengapa harus mengikuti Nabi Muhammad SAW?
Subhanallah, alangkah buruk perkataan mereka, mereka mengolah dan memutar-balikkan makna dari Al Qur'an, hanya karena hati mereka dipenuhi dengan kedengkian ..
Mereka benar² ingin mendapatkan adzab yg sangat dahsyat dengan perbuatan buruknya itu ...
Mengapa mereka suka mempermainkan firman Allah, dan mengolah firmanNya berdasarkan nafsu yang buruk dengan kedengkian mereka?

Semua Nabi-Nya mengajarkan kerendahdirian dan melarang sombong kepada para umatnya. Tidak ada satupun Nabi yang mengajarkan kesombongan. Tidak ada yang layak untuk sombong, kecuali hanya Allah sendiri, Allah-lah pemilik kesombongan itu, dan akan dihinakan oleh-Nya, bagi hamba²Nya yang sombong lagi membangga-banggakan diri. Sungguh indah, Nabi SAW yang sudah pasti masuk Surga (dan tidak terpengaruh dng shalawat yg kita ucapkan/tidak), namun masih diperintahkan untuk kita supaya bershalawat untuk Nabi. Padahal, sebenarnya ini adalah ungkapan yang sangat indah, karena sesungguhnya sholawat untuk Nabi itu sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, dengan dibalasnya shalawat kita, 10 kali lipat oleh Allah SWT.
Jangan pelit untuk membaca shalawat untuk Nabi, karena walaupun kita tidak membaca sholawat, Allah dan malaikat-malaikat-Nya selalu bershalawat untuk Nabi.
Jika kita membaca shalawat untuk Nabi, maka yang untung adalah diri kita sendiri, dengan memperoleh 10 sholawat dari Allah.
Sungguh, begitu indah cara Allah memberikan kebaikan kepada kita.

QS. 33. Al Ahzab:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰئِكَـتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[Dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi]

Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, Ka'ab bin Alqamah mengabarkan kepada kami bahwa dirinya mendengar dari Abdurahman bin Jubair: ia mendengar dari Abdullah bin Amr: ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Apabila kalian mendengar (suara) muadzin, maka katakanlah (oleh kalian) seperti apa yang ia katakan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Barang siapa yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membaca sepuluh shalawat untuknya. Lalu mintalah wasilah kepada Allah untuk diriku. Sesungguhnya wasilah adalah sebuah derajat di dalam surga yang tidak semestinya —diberikan— kecuali hanya untuk seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya. Aku berharap, akulah yang akan menjadi hamba tersebut. Barang siapa yang memohon wasilah untukku, maka wajib baginya syafaat(dari Nabi SAW)." Shahih: Al IrwaT (242), At-Ta'liiq ala Bidaayah As-Sul (20/52); Muslim.

Sungguh, bukankah Nabi SAW jauh dari kesombongan? Bahkan Nabi SAW berharap supaya umatnya memohon wasilah untuk beliau(berdoa kepada Allah SWT), yang sebenarnya Allah telah menganugerahkan wasilah itu untuk NabiNya. Namun karena Nabi SAW ingin "memanusiakan" umatnya, maka Nabi juga minta didoakan (yang sebenarnya doa itu untuk kebaikan diri orang yg berdoa). Sungguh suatu ungkapan yang indah, dan sangat mengangkat derajat umatnya, sehingga "seolah-olah" sejajar dengan Nabi Muhammad SAW.

Bab. Betapa Murkanya Allah Terhadap HambaNya yang Sombong
QS.31. Luqman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 

Kesombongan adalah Milik Allah dan Hanya Milik-Nya Kesombongan itu
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya," artinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang merasa heran - bangga - dengan dirinya sendiri, ia menyisir rapi-rapi akan rambutnya lagi pula berlagak sombong di waktu berjalan, tiba-tiba Allah membenamkannya, maka ia tenggelamlah dalam bumi sehingga besok hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

Qutaibah menceritakan kepadaku. Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Salim bin Abu Al Ja'd, dari Tsauban, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bebas dari tiga (hal) yaitu kesombongan, ghulul dan utang, maka ia masuk surga'. " Shahih: Ibnu Majah (2412).

Abu Hisyam menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji (sawi)'."Shahih: Takkrij Ishlah AlMasajid(115); Muslim

Bab: Mengenai Rendahnya Nilai Dunia ini, jadi Mengapa Harus Menyombongkan Diri di Bumi yg Hina ini?
Qutaibah menceritakan kepada kami. Abdul Hamid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim. dari Sahal bin Sa'ad, ia berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding  sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya satu tetes air".
Shahih: AshShahihah (940).

Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Mujalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Mustaurid bin Syaddad, ia berkata, Saya pernah bersama rombongan yang sedang berhenti bersama Rasulullah di hadapan bangkai anak kambing. Rasulullah kemudian bertanya, "Apakah kalian berpendapat bahwa binatang ini hina bagi pemiliknya ketika ia melemparkannya (membuangnya)?" Mereka menjawab, "Karena kehinaannya itulah mereka melemparkannya (membuangnya), wahai Rasulullah". Beliau bersabda. "Dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada binatang ini dalam pandangan pemiliknya ".
Shahih: Ibnu Majah (4111).

Bab. Seseorang Tidak akan Masuk Surga karena Amalannya sewaktu di Dunia
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Az Zabriqan telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; 'Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah? ' Beliau bersabda: 'Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.' Perawi berkata; aku kira dari Abu An Nadlr dari Abu Salamah dari Aisyah. 'Affan mengatakan; telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Musa bin 'Uqbah dia berkata; saya mendengar Abu Salamah dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan redaksi "saddidu (beristiqamahlah dalam beramal) wa absyiruu (dan berilah kabar gembira)." Mujahid mengatakan mengenai firman Allah "Qaulan sadida" yaitu berkataan yang benar." (No. Hadist: 5986 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Semua Nabi, dan semua Rasul tidak ada yg mengajarkan kesombongan dan kedengkian. Semua mengajarkan kerendahdirian dan tawadlu kepada Allah SWT. Semua mengajarkan supaya umatnya tunduk dan patuh serta merendahkan diri hanya dan hanya kepada Allah SWT. Siapaun Nabi itu, seperti: Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan juga Nabi Muhammad SAW.
Adakah Nabi yang mengajarkan kesombongan dan kedengkian?

> Semua Manusia, semua Nabi dan Semua Rasul TIDAK akan masuk Surga karena amalannya. Namun hanya karena limpahan Rahmat dan Ampunan Allah sajalah yang dapat mengantarkan Manusia, semua Nabi dan Semua Rasul bisa masuk Surga.

Sesungguhnya Petunjuk itu juga datangnya dari Allah, dan jika tidak ada petunjuk dari-Nya supaya kita tetap berjalan dijalan yang lurus (Al Islam), maka masuk Nerakalah kita. Karena itu mintalah selalu supaya kita tetap istiqomah dijalan-Nya yang lurus (Al Islam), karena tidak ada jaminan kita akan tetap istiqomah dijalan-Nya yang lurus (Al Islam) kecuali hanya jaminan dari Allah SWT saja ...

QS.1. Al Faatihah:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yakni meminta --dibaca berulang-ulang hingga berharap istiqomah-- di jalan Al Islam)

Sungguh Allah telah mengajarkan kepada kita semua (manusia, para Nabi dan juga para Rasul Allah) dengan suatu permintaan yg indah dari seorang hamba yg merasa lemah dan rendah diri, kepada Sang Pencipta yang Mahamengetahui lagi Maha Perkasa ...

Senin, 25 April 2016

Sarang Laba-Laba: Kuat atau Lemah?

Sebenarnya sarang laba-laba itu kuat ataukah lemah?

Didalam Al Qur'an terjemahan ditulis seperti ini:
QS.29. Al 'Ankabuut:

مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلْعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

41. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. 

Ada sesuatu yang menarik dari ayat diatas yaitu masalah sarang laba-laba adalah yang paling lemah.
"wa inna auhanalbuyuuti/dan sungguh selemah-lemah rumah", Allah menyebut selemah-lemah rumah adalah jaring/sarang laba-laba. Mengapa demikian? Marilah kita perhatikan yg berikut ini:

Karakteristik Jaring Laba-laba (diringkas dari, Menjelajah dunia laba², 2004, Harun Yahya):
1. Memerlukan pengurusan yg terus-menerus, karena bagian spiral lengketnya bisa rusak oleh angin, hujan atau oleh gerakan mangsa yg berusaha lolos.
2. Tergantung letaknya, namun dalam waktu 24 jam, sebuah jaring dapat kehilangan sifat² yg membuatnya mampu menangkap serangga.
3. Jaring harus dibongkar secara berkala dan dibangun kembali. Laba² ini makan dan mencerna benang² jaring yg dibongkarnya. Dan ia membangun jaring baru dari benang yg dicernanya.
4. Laba² tropis membangun jaring²nya pada malam hari dan memakannya menjelang pagi hari

Seperti yang kita ketahui, jaring laba² dapat menjerat mangsanya, yg bertubuh jauh lebih besar dari laba² pemilik jaring tersebut. Mangsa itu dapat dijerat hingga sulit terlepas. Dari luar jaring tersebut terlihat/tampak sangat kuat dan hebat, namun benarkah demikian?
Dari keterangan diatas (karakteristik jaring laba-laba), dapat diketahui, bahwa sebenarnya jaring laba² itu sangatlah lemah, tidak dapat bertahan lama, dan harus sering dibongkar dan dibangun kembali. Bukankah dng ayat itu, Allah menggelitik kita supaya mau berfikir dan meneliti mengenai jaring laba²?

Perhatikan pula ayat berikut ini:
QS.31. Luqman:

وَوَصَّيْنَا ٱلإِنْسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 

Perhatikan kata-kata, "wahnan 'alaa wahnin/lemah diatas kelemahan". Jika diperhatikan, Allah hendak menunjukkan sesuatu hal yg terlihat kuat namun sebenarnya lemah, seperti keterangan ayat mengenai sarang laba² (sebelumnya).
Kita lihat bahwa seorang ibu yang mengandung, ia terlihat kuat diawalnya, saat kandungan masih kecil, namun semakin lama, kandungan semakin besar, sehingga ibu menjadi bertambah lemah dan terus bertambah lemah ...

>> Sehingga dapat disimpulkan, mengenai "pelindung-pelindung selain Allah" yang disebut dalam QS.29 ayat 41, adalah terlihat kuat diluarnya, namun sebenarnya lemah, dan terus bertambah lemah jika kita perhatikan. Mungkin mereka ("pelindung-pelindung selain Allah") memiliki senjata lengkap dan hebat, namun sebenarnya mereka itu lemah dan sangat lemah. Mereka kuat karena bergantung pada senjata modern, yg andaikan senjata itu macet atau kehabisan peluru, maka mereka adalah lemah, dan selemah-lemahnya.
Sangatlah berbeda jika pelindung kita adalah Allah, pernahkah Allah kehabisan peluru? Subhanallah ... Allah Mahaperkasa yg tidak satupun dapat mengalahkan Dia ...

> Bagaimanakah kata-kata didalam Al Qur'an yg menyatakan terlihat/tampak lemah dan sungguh-sungguh lemah?
Perhatikan ayat berikut ini:
QS.30. Ar Ruum:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْقَدِيرُ

54. Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. 

Keterangan ayat:
Kita diciptakan dari keadaan lemah, dan terlihat lemah, mulai dari dalam kandungan hingga dilahirkan (bayi).
Apakah kita punya kekuatan ketika masih didalam kandungan dan ketika masih bayi? Andaikan si Ibu menggugurkan kandungannya dng  meminum obat atau memukuli perutnya, apakah kita bisa melawan dan menolaknya? Andaikan sewaktu kita masih bayi, ada yg mencekik kita, dapatkah kita melawannya? Sungguh, kita tidak mungkin melawan segala bentuk kezaliman, karena kita terlihat lemah dan memang sungguh-sungguh lemah ...
Ketika Allah menciptakan kita dari keadaan lemah, "lemah" disini di Al Qur'an disebut dengan "Dlo'fin" atau seringkali kita mengatakan lemah dng "dlo'if". Dalam tata-bahasa arab, "dlo'if" itu berarti: 1. lemah; 2.tidak kuasa; 3.tidak berdaya; 4.tidak berguna; 5.tidak ada artinya; 6.hina atau bisa juga berarti terlihat lemah dan sungguh-sungguh lemah. Tidak ada kekuatan dibaliknya yg tersembunyi ...

> Jadi hati-hati dalam menyebut lemah, sebab didalam bahasa Arab, banyak sekali kata-kata yg diartikan lemah. Namun kita harus teliti, lemah yg bagaimana yg disebutkan itu (didalam Al Qur'an)? Jangan sampai kita salah menafsirkan, kemudian menyatakan salah, atau mengatakan, "kok Al Qur'an berlawanan/berbeda dng pembuktian ilmu modern?". Tidak mungkin Allah salah, namun kitalah yg salah dalam menafsirkan ayat atau kita yang salah dalam melakukan penelitian ilmu pengetahuan, sehingga hasilnya salah.
Allah Mahabenar dan kitalah yg lemah dan sering salah, itu pasti. Jika kita mengakuinya dan tidak sombong ...

Minggu, 17 April 2016

Apa yang sebenarnya kita cari ?

Pagi² sebelum subuh sudah berangkat kerja ...
Pulang larut malam, hingga hampir pagi ...
Setiap hari bekerja seperti itu ...
Apakah yang sebenarnya dicari ?
Harta, uang, kedudukan atau malah semuanya ?
Apakah harta, uang atau kedudukan sangat berarti dan menentukan kehidupan di dunia ini?
Mungkin sebagian mengatakan "Ya", namun apakah sebenarnya kehidupan hanya didunia ini?
Apakah tidak ada kehidupan setelah kematian?
Berapakah perbandingan waktu lamanya antara kehidupan sekarang dan setelah kematian?
Mana bekal kita untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?

Tengah malam bangun, sholat tahajjud ...
Hampir subuh, sahur dulu kemudian sholat witir ...
Waktu subuh pergi ke masjid, kemudian i'tikaf diMasjid ...
Hingga waktu dhuhur ...
Istirahat sejenak, pergi ke Masjid lagi Sholat Asar ...
Diteruskan Maghrib hingga Isya kemudian berbuka puasa ...
Apakah yang sebenarnya dicari ?
Surga? atau Pahala?
Katanya kehidupan akhirat lebih utama dan lebih abadi ...
Memang "Ya", namun tidakkah terpikir olehnya?
Apakah ia tidak punya keluarga? Bagaimana dengan kebutuhan makan dan kebutuhan lainnya?
Apakah ia berharap sedekah dari orang lain?
Subhanallah, apakah tidak malu berharap sedekah dari orang lain, padahal masih mampu dan kuat untuk bekerja?

Sesungguhnya satu hari itu ada 24 jam ...
Alangkah baiknya kalau dibagi menjadi 3 bagian waktu:
1. Sepertiga pertama, digunakan untuk bekerja mencari nafkah (8 jam)
2. Sepertiga kedua, digunakan untuk Ibadah (8 jam, rinciannya(relatif): sholat berjamaah 5 waktu 5 jam, kemudian membaca Al Qur'an 1 juz 1 jam, i'tikaf di Masjid 1 jam, Sholat sunnah 1 jam)
3. Sepertiga ketiga, digunakan untuk Istirahat (8 jam)
Kira² sudah seperti inikah kita?
Atau kita kerja terus menerus, siang-malam dan kerja itu dianggap sebagai ibadah, kemudian sholat hanya 5 menit dan selesai? Cukupkah?
Atau kita ibadah terus menerus, siang-malam untuk mendapatkan Surga? Cukupkah ?
Subhanallah tidak ada yang cukup, tidak ada yang cukup semua ibadah yg telah kita lakukan, supaya bisa memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.
Kita dimasukkan Surga hanyalah karena rahmat dan karunia Allah saja ...
Namun, bukan berarti kita meninggalkan ibadah, ibadah yang kita lakukan setidaknya mencontoh Nabi SAW beserta para Sahabat beliau.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bahwa beliau bersabda: Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar. (Shahih Muslim No.5036)

Pernahkah Nabi SAW, Sholat fardlu sendirian saja? Jawabannya tidak pernah, beliau selalu sholat fardlu di Masjid bersama para sahabatnya (berjamaah).

QS 48. Al Fath:29

تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَـٰهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ

"...Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud..."

Mereka juga bekerja unt mencari karunia Allah (nafkah), namun cara bekerja mereka tidak seperti kebanyakan orang jaman sekarang, yg seolah-olah bekerja seharian penuh. Dalih orang jaman sekarang kerja seharian penuh juga ibadah. Namun apakah para sahabat Nabi SAW juga mengatakan yg demikian itu? Mereka (para sahabat Nabi SAW) juga bekerja, bahkan juga kaya, namun ketika tiba waktu sholat, mereka segera menghentikan kegiatannya dan berjalan menuju Masjid untuk Sholat.
Apakah orang² yang mengatakan kerja seharian penuh juga ibadah, juga melakukan yg demikian itu? Yakni menghentikan kegiatannya dan berjalan menuju Masjid untuk Sholat berjamaah, ketika waktu sholat fardlu tiba?

Ataukah kita meragukan negeri akhirat karena tidak pernah kita melihatnya?
Subhanallah, padahal kita diperintahkan menyembah hanya kepada Allah sampai datang yang DIYAKINI, yakni ajal atau maut yang pasti menjemput, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan yang lurus.

QS.23. Al Mu'minuun:74.



"Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman (tidak percaya) kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). "

QS.16. An Nahl:22-23

إِلَـٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَٰحِدٌ فَٱلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِٱلأَْخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ
لاَ جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ

"Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. "

"Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. "

QS.15. Al Hijr:98-99

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِينَ
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

"maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), "
"dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal atau maut atau kematian). "

Minggu, 10 April 2016

Jangan Sombong dan membanggakan Diri

Janganlah angkuh dan sombong ...
Jangan pula membanggakan diri sendiri ...

Walaupun kita merasa seolah² dekat denganNya ...
Telah melaksanakan banyak perintahNya dan telah menjauhi larangan²Nya ...
Walaupun kita merasa cerdas, jenius dan berpendidikan sangat² tinggi dan terpandang ...
Walaupun kita memiliki kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa ...
Walaupun kita merasa sangat kaya harta dan dermawan ...
Tetap janganlah sombong dan membanggakan diri ...
Karena sesungguhnya Neraka itu dekat sekali, walau kita merasa jauh, karena amalan² baik kita ...

Sesungguhnya Neraka lebih dekat dari tali sepatu kita ...
Tidak berguna sedikitpun semua amalan² baik, yang telah kita lakukan, apabila kita sombong dan suka membangga-banggakan diri ...
Sangatlah mudah bagi Allah, menghapus segala amal perbuatan kita, karena kesombongan kita ...
Allah sangat tidak menyukai hamba²Nya yang sombong lagi suka membangga-banggakan diri ...
Hanya Allah yang pantas sombong, bukan hambaNya ...
Pasti Allah akan menghinakan hamba²Nya yang sombong dan tidak mau segera bertaubat ...

QS 31. Luqman:18.

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. "

QS. 50. Qaaf:30-31

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمْتَلأََتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ
وَأُزْلِفَتِ ٱلْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam : "Apakah kamu sudah penuh?" Dia menjawab : "Masih ada tambahan?" "

[Keterangan: ayat ini bukan menunjukkan bahwa Allah tidak mengetahui isi/kapasitas dari Neraka Jahannam, namun merupakan gaya bahasa yang indah, yang menunjukkan kepada kita mengenai luar biasanya kapasitas Neraka Jahannam, sehingga sudah selayaknya kita merasa takut untuk ikut dimasukkan ke Neraka Jahannam, karena kapasitasnya yang luar biasa itu, seperti yang telah dikatakan oleh Neraka Jahannam: "Masih ada tambahan?". Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca Hadist² dari KITAB SHAHIH BUKHARI berikut ini.]
"Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). "

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga dan Neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: 'Orang-orang congkak dan sombong memasukiku'. Surga berkata: 'Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, yang hina dalam pandangan manusia'. Lalu Allah berfirman kepada surga: 'Kau adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu.' Kemudian Allah berfirman kepada Neraka: 'Kau adalah siksaKu, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari keduanya ada isinya.' Sedangkan Neraka tidak terisi penuh hingga Allah meletakkan kakiNya kemudian Neraka berkata: 'Cukup, cukup.' Saat itulah Neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagaian yang lain. Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhlukNya. Sedangkan surga, Allah menciptakan penghuninya." (No. Hadist: 4472 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Sa'd bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih bin Kisan dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Surga dan Neraka saling berselisih kepada Tuhan keduanya, surga berkata, 'Wahai Tuhan, mengapa aku tak dimasuki selain orang-orang lemah dan rakyat jelata? ' Sedang Neraka berkata, 'Mengapa aku dikhususkan untuk orang-orang yang sombong? ' Allah ta'ala menjawab surga: "Engkau adalah rahmat-Ku", dan Allah berfirman kepada Neraka, 'Engkau adalah Siksa-Ku, yang Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki, dan masing-masing diantara kalian berdua harus dipenuhi.' Nabi bersabda: "Adapun Surga sesungguhnya Allah tidak menzhalimi satupun dari makhluk-Nya, dan Allah akan memenuhi Neraka dengan siapa saja yang dikehendaki-Nya, lantas mereka dilempar ke dalamnya '(Neraka berkata, 'Masihkah ada tambahan) ' (QS. Qaaf ayat: 30) -beliau mengulanginya tiga kali-, kemudian Allah meletakkan telapak kakiNya sehingga Neraka menjadi penuh, sebagian satu dengan sebagian yang lain saling berhimpitan, Neraka pun berkata, 'cukup, cukup, sukup." (No. Hadist: 6895 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Apakah yg dibangga²kan seorang manusia ...?
Bukankah ia hanyalah seonggok daging, yg didalamnya terdapat banyak kotoran ...?
Dapatkah ia membersihkan kotoran itu sendiri, dengan semua teknologi canggih yang dimilikinya ...?
Berapakah harga ginjal...? jantung...? paru²...? dan orang² tubuh lainnya...?
Dapatkah ia membeli semua itu ...? atau membuatnya, persis seperti aslinya ...?
Padahal semua organ tubuh yg ada pada dirinya telah diberikan secara gratis oleh Allah SWT ...
Allah hanya meminta kita selalu ingat kepadaNya, dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya ...

Diantaranya Sholat 5 waktu berjamah di Masjid tepat pada waktunya, kemudian Sholat malam dan witir ...
Berat ... berat .... beraaat sekali perintah²Nya ...?
Memang berat, namun selain organ tubuh yg diberikan secara gratis, ingat² lah ...
Bagaimana langit ditinggikan dan bumi dihamparkan ... secara gratis ... coba kalau disuruh buat sendiri, apakah kita mampu ...?
Kita bisa nyaman tinggal dibumi tanpa merasa takut karena serangan meteor dan meteorit ... coba kalau disuruh buat atmosfir dan udara sendiri ...
Mampukah kita ...?

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda: Allah Ta'ala melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? (Shahih Muslim No.4995)

Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Shobbah telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sabiq telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal berkata; aku mendengar Al Walid bin Al 'Ayzar menyebutkan dari Abu 'Amru Asy Syaibaniy berkata 'Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: " Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". Maka aku berhenti menanyakannya lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya aku tambah terus pertanyaan, Beliau pasti akan menambah jawabannya kepadaku".(No. Hadist: 2574  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seandainya manusia tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan barisan pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengundinya. Seandainya mereka tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam bersegera (datang sedini mungkin) melakukan salat, pasti mereka berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka tahu apa yang terdapat dalam salat Isyak dan salat Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (Shahih Muslim No.661)

Allah telah memberikan banyak rejeki kepada kita, ketika kita lahir, kita tidak membawa apa², kemudian Allah memberikan kemampuan dan pakaian juga harta seperti yg kita punyai sekarang ini ...
Bukankah semua kekayaan dan segala fasilitas ini adalah karunia Allah kepada kita, tanpa harus membayar sepeserpun ... ?
Mengapa kita harus menahan zakat dan shodaqoh ...?
Tidak akan sampai harta itu kepada Allah, namun Allah hanya menguji kita dengan harta itu, bahwa sesungguhnya ada hak dari harta yang dikaruniakan kepada kita, supaya diberikan sebagiannya kepada orang lain ...

Bab. Betapa Murkanya Allah Terhadap HambaNya yang Sombong
QS.31. Luqman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 

Kesombongan adalah Milik Allah dan Hanya Milik-Nya Kesombongan itu
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya," artinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang merasa heran - bangga - dengan dirinya sendiri, ia menyisir rapi-rapi akan rambutnya lagi pula berlagak sombong di waktu berjalan, tiba-tiba Allah membenamkannya, maka ia tenggelamlah dalam bumi sehingga besok hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

Qutaibah menceritakan kepadaku. Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Salim bin Abu Al Ja'd, dari Tsauban, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bebas dari tiga (hal) yaitu kesombongan, ghulul dan utang, maka ia masuk surga'. " Shahih: Ibnu Majah (2412).

Abu Hisyam menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji (sawi)'." (Shahih: Takkrij Ishlah AlMasajid(115); Muslim)

Bab: Mengenai Rendahnya Nilai Dunia ini, jadi Mengapa Harus Menyombongkan Diri di Bumi yg Hina ini?
Qutaibah menceritakan kepada kami. Abdul Hamid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim. dari Sahal bin Sa'ad, ia berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding  sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya satu tetes air".
Shahih: AshShahihah (940) dan Sahih Sunan Tirmidzi.

Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Mujalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Mustaurid bin Syaddad, ia berkata, Saya pernah bersama rombongan yang sedang berhenti bersama Rasulullah di hadapan bangkai anak kambing. Rasulullah kemudian bertanya, "Apakah kalian berpendapat bahwa binatang ini hina bagi pemiliknya ketika ia melemparkannya (membuangnya)?" Mereka menjawab, "Karena kehinaannya itulah mereka melemparkannya (membuangnya), wahai Rasulullah". Beliau bersabda. "Dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada binatang ini dalam pandangan pemiliknya ".
Shahih: Ibnu Majah (4111) dan Sahih Sunan Tirmidzi.

Minggu, 03 April 2016

Jika seseorang berada di masjid dan teringat bahwa dia sedang junub


Jika seseorang berada di masjid dan teringat bahwa dia sedang junub, maka hendaknya dia segera keluar untuk mandi sebagaimana mestinya dan bukan bertayamum.
Pernah terjadi dijaman Rasulullah SAW, ketika beliau hendak mengimami sholat fardlu berjamaah, beliau segera pergi ke tempat shalat ketika qomat dikumandangkan, namun beliau baru teringat bahwa beliau sedang junub, lalu berkata, kepada para sahabat; "tetaplah di tempat kalian". Maka beliau keluar masjid lalu mandi. Kemudian datang kembali untuk mengimami sholat fardlu berjamaah dalam keadaan kapalanya basah.
Adalah sunnah apabila mengeringkan air dari badan setelah mandi junub dengan tangan, karena Rasulullah SAW melakukannya dan menolak memakai handuk dalam mengeringkannya.

Apabila imam lupa kalau ia sedang junub, dan sudah terlanjur mengimamai sholat hingga selesai (salam), dan baru teringat kalau sedang junub, maka imam tersebut hendaknya segera pergi meninggalkan masjid, dan tidak perlu mengumumkan kalau ia sedang junub dan juga tidak perlu menyuruh makmum mengulangi sholatnya. Karena sholat makmum sudah sah (makmum tidak tahu keadaan imam yg junub, dan imam tidak terlihat batal ketika mengimami sholat), sedangkan imam harus mengulangi sholatnya tersebut setelah mandi janabat.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin 'Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhry dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata,: "Qamat untuk shalat telah dikumandangkan dan shaf telah diluruskan, lalu keluarlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah sampai di tempat shalat Beliau baru teringat bahwa Beliau sedang junub, lalu berkata, kepada kami; "tetaplah di tempat kalian". Maka Beliau kembali lalu mandi. Kemudian datang dalam keadaan kapalanya basah. Lalu Beliau bertakbir, maka kamipun shalat bersamanya". Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdul A'laa dari Ma'mar dari Az Zuhry dan diriwayatkan juga oleh Al Auza'i dari Az Zuhry.(No. Hadist: 266 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdan berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Hamzah berkata, aku mendengar Al A'masy dari Salim bin Abu AL Ja'di dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas berkata, telah berkata, Maimunah radliallahu 'anhu.: "Aku memberi air untuk mandi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. lalu aku tutupi Beliau dengan kain. Maka Beliau menuangkan air ke tangannya lalu mencuci keduanya. Kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya, lalu tangannya dipukulkannya ke tanah kemudian mengusapnya lalu mencucinya. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Kemudian membasuh mukanya dan kedua lengannya lalu mengguyur kepalanya lalu menyiram seluruh badannya dan diakhiri dengan mencuci kedua telapak kakinya. Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tapi Beliau tidak mengambilnya, lalu Beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya".(No. Hadist: 267 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Sumber: ustadz Dr.Ahmad Lutfi Fathullah - Pusat Kajian Hadits Jkt

Minggu, 27 Maret 2016

Melihat Dzat Allah

QS.10. Yunus:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلأَْنْهَـٰرُ فِي جَنَّـٰتِ ٱلنَّعِيمِ

9. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. 

دَعْوَٰهُمْ فِيهَا سُبْحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلاَمٌ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

10. Do'a[puja dan puji mereka kepada Allah] mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma"[Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami], dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam"[sejahtera dari segala bencana]. Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin"[segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam]. 

QS 2.Al Baqarah:118

وَقَالَ ٱلَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوْ تَأْتِينَآ ءَايَةٌ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَـٰبَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا ٱلآيَـٰتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

QS 2.Al Baqarah:55

وَإِذْ قُلْتُمْ يَـٰمُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ ٱلصَّـٰعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang [melihat Allah dengan mata kepala sendiri], karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya [Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan]."


Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla berfirman kepada ahli syurga: "Hai ahli syurga." Mereka berkata: "Labbaik, ya Tuhan, wa sa'daik. Segala kebaikan ada di dalam tangan kekuasaan Tuhan." Allah berfirman: "Apakah engkau semua sudah ridha?" Mereka menjawab: "Bagaimana kami tidak akan merasa ridha, ya Tuhan kami, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami karunia-karunia yang tidak pernah Engkau berikan kepada seseorangpun dari makhluk Tuhan." Allah berfirman lagi: "Tidakkah engkau semua suka kalau Aku berikan yang lebih utama lagi dari yang sedemikian itu?" Mereka bertanya: "Apakah yang lebih utama dari yang sedemikian ini?" Allah kemudian berfirman: "Aku menempatkan keridhaanKu padamu semua, maka Aku tidak akan murka padamu semua sesudah saat ini untuk selama-lamanya."
(Muttafaq 'alaih)

Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Kita semua berada di sisi Rasulullah s.a.w. lalu beliau s.a.w. melihat bulan pada malam purnama -yakni tanggal empatbelas- dan bersabda: "Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu semua dengan terang-terangan, dapat dipandang mata, sebagaimana engkau semua melihat bulan ini. Tidak akan engkau semua mendapatkan kesukaran dalam melihatNya itu." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Tidak mendapatkan kesukaran untuk melihat Tuhan, maksud dari 'kesukaran' itu misalnya untuk melihatNya haruslah berdesak-desakan atau sukar melihatNya seperti ingin melihat bulan sabit yakni bulan tanggal satu (bulan sabit ini sangat sukar dilihat -karena berada diufuk-, dan munculnya sebentar) ataupun kesukaran² yang lain.

Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Ibn Syihab dari 'Atha' bin Yazid allaitsi dari Abu Hurairah para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat nanti? ' Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lantas bersabda: "Apakah kalian kesulitan melihat bulan ketika malam purnama?" "Tidak", Jawab para sahabat. Rasulullah bertanya lagi: "Apakah kalian kesulitan melihat matahari ketika tidak ada mendung?" Para sahabat menjawab, "Tidak ya Rasulullah." Nabi bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat dan berfirman: 'Barangsiapa menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikuti yang disembahnya.' Maka siapa yang menyembah matahari, ia mengikuti matahari, siapa yang menyembah bulan, ia ikuti bulan, siapa yang menyembah thaghut, ia ikuti thaghut, dan tersisalah dari umat ini orang penolongnya atau justru orang-orang munafiknya -Ibrahim ragu kepastian redaksinya-. Lantas Allah menemui mereka dan berkata, "Aku Tuhan kalian." Lantas mereka menjawab, "Ini adalah tempat tinggal kami sehingga Tuhan kami mendatangi kami, jika Tuhan kami menemui kami, niscaya kami mengenalnya." Allah kemudian menemui mereka dengan bentuk yang mereka kenal, Allah lalu berfirman: "Aku Tuhan kalian." Lantas mereka katakan, "Engkau memang Tuhan kami." Mereka pun mengikuti-Nya. Titian (jembatan) lantas dipasang antara dua tepi jahanam dan aku dan umatkulah yang pertama-tama menyeberanginya. Tak ada yang berani bicara ketika itu selain para rasul, sedang seruan para rasul ketika itu yang ada hanyalah 'Allaahumma sallim sallim (Ya Allah, selamatkan kami. Ya Allah, selamatkan kami) '. Sedang di neraka jahannam terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon berduri yang namanya Sa'dan. Bukankah kalian sudah tahu pohon berduri Sa'dan?" Para sahabat menjawab, "Benar, wahai Rasulullah." Nabi meneruskan: "Sungguh pohon itu semisal pohon berduri Sa'dan, hanya tidak ada yang tahu kadar besarnya selain Allah semata. Pohon itu menculik siapa saja sesuai kadar amal mereka, ada diantara mereka yang celaka dengan sisa amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang binasa yang langgeng dengan amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang diseberangkan. Atau dengan redaksi semisal-. Kemudian Allah menampakkan diri, hingga jika Allah selesai memutuskan nasib hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka karena rahmat-Nya, Ia perintahkan malaikat untuk mengeluarkan penghuni neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, yaitu diantara mereka yang Dia masih ingin merahmatinya, diantara yang bersyahadat bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah, sehingga malaikat mengenal mereka di neraka dari bekas-bekas sujud, sebab neraka memangsa anak adam selain bekas-bekas sujud. Allah mengharamkan neraka memangsa bekas-bekas sujud, sehingga mereka keluar dari neraka dengan badan yang hangus terbakar, mereka kemudian disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh dibawahnya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam aliran sungai, kemudian Allah selesai memutuskan hamba-hamba-Nya dan tersisa diantara mereka seseorang yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dan dialah mantan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga, kecuali ia berdoa, 'Ya Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka, sebab baunya saja sudah cukup menggangguku dan jilatan apinya telah membakarku.' Orang itu kemudian memohon kepada Allah sekehendaknya untuk berdoa, kemudian Allah berfirman: 'Kalaulah Aku memenuhi permintaanmu, jangan-jangan engkau nanti meminta harapan lain! Ia menjawab, 'Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta selainnya.' Dan Tuhannya pun mengambil janji dan ikrar sekehendak-Nya lalu memalingkan wajahnya dari neraka. Namun kemudian ia menghadap surga dan melihat keindahan surga, ia pun lantas terdiam beberapa saat dan memohon, 'Ya Allah, jadikanlah aku berada di pintu surga.' Allah bertanya: 'Bukankah engkau telah menyerahkan janjimu dan ikrarmu untuk tidak meminta-Ku selama-lamanya selain yang telah Aku berikan. Hai engkau Anak Adam, alangkah senangnya engkau berkhianat.' Namun hamba itu tetap saja memohon, 'Ya Tuhanku, ' dan ia terus memohon Allah hingga Allah bertanya: 'Kalaulah Aku memberimu apa yang kau minta sekarang, jangan-jangan engkau minta lagi dengan permintaan lain.' Ia menjawab, 'Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta-Mu lagi dengan permintaan lain.' Lantas orang itu menyerahkan janji dan ikrarnya sehingga Allah mengajukan ke pintu surga. Namun ketika hamba itu telah berdiri ke pintu surga, surga terbuka baginya sehingga ia melihat kesenangan hidup dan kegembiraan di dalamnya sehingga ia terdiam sekehendak Allah ia diam. Kemudian ia memohon, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku dalam surga, maka Allah mengatakan, 'Hai, bukankah telah engkau serahkan janjimu untuk tidak meminta yang lain selain yang telah Aku berikan, wahai Anak Adam, alangkah cepatnya engkau berkhianat.' Maka si hamba tadi memohon, 'Ya Tuhanku, jangan aku menjadi hamba-Mu yang paling sengsara, ' si hamba itu terus tiada henti memohon hingga Allah tertawa. Dan jika Allah telah tertawa kepada seorang hamba, Allah musti berkata kepadanya 'Masuklah kamu ke surga.' Jika si hamba telah memasukinya, Allah berkata kepadanya: 'Tolong buatlah impian'. Maka si hamba meminta Tuhannya dan membuat impian-impian, hingga Allah mengingatkannya dengan berfirman sedemikian-sedemikian hingga impian si hamba sudah sampai puncaknya, Allah berfirman kepadanya: 'Itu semua untukku, dan ditambah seperti itu pula.' 'Atha' bin Yazid berkata, " Abu Sa'id alkhudzri bersama Abu Hurairah tidak mengembalikan sedikitpun hadisnya, hingga jika Abu Hurairah telah menceritakan bahwa Allah berfirman 'dan bagimu semisalnya', Abu Sa'id Al Khudzri berkata 'dan sepuluh semisalnya bersamanya' wahai Abu Hurairah? ' Abu Hurairah berkata, 'Saya tidak hapal selain ucapannya itu 'bagimu dan semisalnya'. Abu Sa'id Al Khudzri berkata lagi, "Saya bersaksi bahwa saya menghapalnya dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, yaitu redaksi 'Dan bagimu sepuluh semisalnya'. Abu Hurairah berkata, 'Itulah manusia terakhir kali masuk surga.' (No. Hadist: 6885 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau semua ahli syurga sudah memasuki syurga, lalu Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Adakah sesuatu yang engkau semua inginkan supaya Aku dapat menambahkan kenikmatan itu padamu semua?" Mereka menjawab: "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami -maksudnya menjadikan wajah-wajah itu bercahaya- ? Bukankah Engkau telah memasukkan kami dalam syurga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Kemudian (Allah menambahkan lagi kenikmatan dengan) tersingkaplah tabir -yang menutupi Zat Allah Ta'ala-. Maka tidak ada suatu kenikmatan yang diberikan kepada para ahli syurga yang lebih mereka sukai daripada melihat (langsung) Zat Tuhan mereka," -yakni dapat melihat Wujud Allah Ta'ala dengan terang-terangan dan dapat disaksikan langsung oleh mata telanjang-. (Hadits Riwayat Muslim)

Bukti lain bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat 
Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu'anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari perak dan dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari emas. Antara orang-orang dan kemampuan memandang Tuhan mereka hanya ada tirai keagungan pada Zat-Nya, di surga Adn. (Shahih Muslim No.265)

Wa Allahu 'alam ...

Senin, 21 Maret 2016

Dimana Allah ?

Seringkali kita mendengar bahwa Allah itu dimana-mana ...
Apakah benar demikian ?
Apakah mungkin Allah di kamar kita atau dibawah kita atau bahkan (maaf) di WC?
Janganlah kita terpedaya antara pengertian dari Dzat Allah (wujud) dengan kekuasaan dan ilmu Allah ...
Sangatlah jauh berbeda antara Wujud dengan kekuasaan dan ilmu Allah ...

Jika Wujud berarti berurusan dengan Dzat Dia Yang Maha Mulia -yang pasti kita semua BELUM pernah melihatNya dengan kedua mata kita-, namun kalau kekuasaan dan ilmu Allah, hanya akan dapat terlihat oleh mata hati kita dan pasti tidak akan terlihat Wujud Asli-Nya oleh mata kita ...
Mata hati dapat melihatNya kalau mata hati kita sering diasah dng selalu bertakwa kepadaNya ...
Dan tetap saja mata hati tidak akan dapat melihat Wujud-Nya ...
Hati², jangan sampai terperdaya oleh Syaitan, jangan sampai menyekutukan Dia, dng membayangkan / mewujudkan-Nya ...
Maha Suci Dia, dan tidak ada satupun yang dapat menyamaiNya ...

Kita hanya tahu tentang Dia dari Nabi SAW, yakni dari firmanNya dalam Al Qur'an yg diwahyukan kepada Nabi SAW ...
Jangan beranggapan kalau Dunia ini adalah bagian dari DiriNya ...
Jangan pula beranggapan diantara ciptaan-Nya itu merupakan bagian dari DiriNya ...

Dunia ini BUKAN bagian dari (Dzat) Allah, namun dunia beserta isinya ini milik Allah ...
Dunia ini hanyalah tempat kunjungan sementara, tempat ujian dan cobaan dari Allah ...
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ...
Semua milikNya pasti akan kembali kepadaNya ...
Mahasuci Allah dari apa² yang mereka persekutukan ...

QS 16. An Nahl:96

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوۤاْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

QS 43. Az Zukhruf:15

وَجَعَلُواْ لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ ٱلإنسَـٰنَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ

"Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian daripada(diri)-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah)."

Sesungguhnya Allah tidak dimana-mana, namun Dia bersemayam di atas 'Arsy ...
Dimana bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya ...
Dia TIDAK membutuhkan makhlukNya, namun makhlukNya lah yg membutuhkanNya ...
Tidak akan sanggup mata kita, pikiran kita dan hati kita untuk melihatNya (WujudNya) di Dunia ini ...
Sungguh Mahasuci Allah dari apa² yang mereka persekutukan ...

QS.7. Al A'raaf:

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَمَـٰوَٰتِ وَٱلأَْرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلأَْمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy[Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. 

QS.57. Al Hadiid:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلأَْرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلأَْرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy[Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya] Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [Yang dimaksud dengan yang naik kepada-Nya antara lain amal-amal dan do´a-do´a hamba]. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. 

QS.25. Al Furqaan:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلأَْرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱلرَّحْمَـٰنُ فَسْئلْ بِهِ خَبِيراً

59. Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. 

QS.20. Thaahaa:

ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

5. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy. 

Dimanakah 'Arsy?
'Arsy berada diatas Matahari, sedangkan matahari diatas kita (dilangit)
Segala sesuatu yg diatas kita, kita biasa menyebutnya dilangit.
Bagaimana tepatnya ('Arsy)? inilah yang wajib kita imani, karena memang kita tidak pernah dan tidak bisa melihatnya. Pikiran juga tidak akan bisa mencernanya.
Katakanlah, "Amantu Billah" Aku beriman kepada Allah ...

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Telah menceritakan kepada kami Waki' Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Ibrahim At Taimi dari Bapaknya dari Abu Dzar dia berkata; Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang firman Allah Ta'ala: "dan matahari berjalan ditempat peredarannya." Beliau bersabda: "Tempat peredarannya berada dibawah Arsy." (Yasiin: 38).(No. Hadist: 4429 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Adakalanya seseorang yg baru saja memeluk Islam, dan ia belum mengerti Al Qur'an, akan mengatakan Allah di Langit (Fii Samaa'), maksudnya Allah tidak dimana-mana, dan kita tidak bisa menjangkauNya, karena itu dikatakan dilangit. Bukankah 'Arsy diatas langit?.
Dan mengatakan ini juga masih diperkenankan.

Ayat berikut ini jelas menunjukkan bahwa daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, namun ketakwaan kitalah yang dapat mencapaiNya ...
Pada jaman jahiliyah, mereka meletakkan daging dan melumuri berhala² sesembahan mereka (juga Baitullah) dengan darah kurban, dengan anggapan daging dan darah kurban tersebut akan sampai pada tuhan mereka ...
Ketika Islam datang, turunlah ayat berikut ini, yang menunjukkan bahwa daging dan darah itu tidak akan sampai kepada (Dzat) Allah ...

QS.22. Al Hajj:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ

37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. 

QS 2.Al Baqarah:118

وَقَالَ ٱلَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوْ تَأْتِينَآ ءَايَةٌ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَـٰبَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا ٱلآيَـٰتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

Sesungguhnya Allah memilih Rasul-rasulNya dari kalangan Malaikat dan Manusia. Sebagai contoh Malaikat Jibril as. dan Nabi Muhammad SAW.
Bukankah ini menunjukkan bahwa Dzat-Nya tidak di Bumi? Andaikan DzatNya di Bumi atau Bumi ini bagian dari DiriNya, tentunya Dia tidak perlu Utusan/Rasul dalam menyampaikan FirmanNya !!!.

Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang lebih suka terhadap argumentasi daripada Allah, karena itulah Allah mengutus para Rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan bagi makhluq2Nya ...
Katakanlah, "Amantu Billah" Aku beriman kepada Allah ...

QS.22. Al Hajj:

ٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَـٰئِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ ٱلنَّاسِ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

75. Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 

Allah sendiri telah menetapkan tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan -yakni Dia-lah penguasa waktu, jarak dekat, jarak jauh, tempat dan lain sebagainya-
Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Dia yang hendak kamu sembah ...

QS.41. Fushshilat:

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُواْ لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُواْ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

37. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah (kalian) menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.

Bagaimana dengan ayat yg mengatakan bahwasanya Allah adalah dekat?
Sesungguhnya ayat ini berhubungan dengan kekuasaan dan ilmu Allah, dan bukanlah Dzat/Wujud Dia ...
Dia Mahamendengar, Mahamelihat dan Mahamengetahui kita semua walaupun Dzat-Nya tidak di Bumi ...
Seperti seorang direktur yang mengawasi pekerjanya menggunakan CCTV, dimana direktur tersebut tidak bersama pekerjanya, namun di ruangan yang terpisah, bahkan mungkin jauh dari para pekerjanya ...
Walaupun jauh dan tidak berada dalam satu ruangan, direktur itu masih bisa mengawasi pekerjanya ...
Kalau manusia saja (makhluq) mudah mengawasi yang lainnya menggunakan CCTV, apalagi Allah, Sang Pencipta kita semua, tentu jauh lebih mudah mengawasi kita semua, walaupun Dzat-Nya tidak di Bumi ...

Dikatakan Dia adalah dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi atau urat leher kita ...
Karena sesungguhnya kekuasaan dan ilmu Allah meliputi apapun juga, termasuk diri kita, nasib kita, masa depan kita, dekat-jauh-waktu, awal-akhir dan semuanya adalah milikNya ...

Sehingga berdo'alah kita hanya kepadaNya dengan suara yg lembut dan penuh harap, tidak usah dengan mengeraskan suara ...
Karena Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak ada satupun yg luput dari ilmuNya ...
Bahkan semua terjadi hanya karena ijinNya saja ...
Hendaknya semua takut hanya kepadaNya, karena Dia Maha Mendengar segala bisikan, bahkan Maha Mendengar apa² yg tersirat dihati ...
Dan semua itu akan diperhitungkanNya ...

QS.2. Al Baqarah:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِى وَلْيُؤْمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.  

Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW yang bertanya: "Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?" Nabi SAW terdiam, hingga turunlah ayat ini (S. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu'awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi SAW: "Dimanakah Tuhan kita?"
(Diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah SAW: "Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT telah berfirman "Ud'uni astajib lakum" yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya) (S. 40. 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?" Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S. 2: 186)
(Diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir yang bersumber dari Ali.)

Menurut riwayat lain, setelah turun ayat "Waqala rabbukum ud'uni astajib lakum" yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (S. 40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (S. 2: 186)
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari 'Atha bin abi Rabah.)

QS.2. Al Baqarah:

لِّلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَـٰوٰتِ وَمَا فِى ٱلأَْرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِيۤ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Ya Allah, Engkau memerintahkan untuk berdoa dan aku bertawakal dalam masalah pengabulannya ...
Kupenuhi seruan-Mu, ya Allah, kupenuhi seruan-Mu, kupenuhi seruan-MU, tiada sekutu bagimu, kupenuhi seruan-Mu ...
Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu dan begitu pula semua kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu ...
Aku bersaksi bahwa Engkau tiada tandingan lagi Maha Esa, bergantung kepada-Mu segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tiada seorang pun yang setara dengan-Mu ...
Aku bersaksi bahwa janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, dan hari kiamat pasti akan datang tanpa diragukan lagi, dan Engkaulah yang akan membangkitkan manusia dari kuburnya ...

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan pada kami Al-Hasan ibnu Yahya Al-Azdi dan Muhammad ibnu Yahya AlQat'i; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami AlHajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Mazi, dari Al Hasan, dariAnas, dari Nabi SAW. yg bersabda: Allah Swt. berfirman, "Hai anak Adam, satu hal untukmu, dan satu hal untuk-Ku, serta satu hal lagi antara Aku dan kamu. Adapun hal yang untuk-Ku ialah kamu harus menyembah-Ku, janganlah kamu persekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan adapun yang bagimu ialah semua hal yang kamu lakukan atau amal apa pun, maka Aku pasti menunaikan (pahala)nya kepadamu. Dan adapun yang antara Aku dan kamu ialah kamu berdoa dan Aku yang memperkenankan (mengabulkan)."

Bagaimana dng firman Allah: "Dan sesungguhnya ia (Muhammad SAW) melihatnya (Dzat Allah???) di ufuk yang terang ..."
Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu'anhu: Dari Masruq ia bercerita: Ketika aku bertelekan di sisi Aisyah, Aisyah berkata: Wahai Abu Aisyah, ada tiga hal barang siapa yang membicarakan salah satunya, maka ia berbohong besar atas Allah. Aku bertanya: Tiga hal apa itu?
Aisyah menjawab: (Pertama) Barang siapa yang menyangka bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wassalam melihat Tuhannya, maka ia berbohong besar atas Allah. Aku mulanya bersandar, santai, lalu duduk sambil berkata: Hai Ummul mukminin, tunggu, jangan tergesa-gesa! Bukankah Allah telah berfirman "Dan sesungguhnya ia melihatnya di ufuk yang terang. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya di waktu lain". Aisyah berkata: Aku adalah orang pertama umat ini yang menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau bersabda: Itu adalah Jibril as (bukan Dzat Allah yg dilihat Muhammad SAW, tp hanya melihat Jibril as, makhluqNya). aku tidak pernah melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali ini. Aku melihatnya turun dari langit, besarnya menutupi cakrawala antara langit dan bumi. Aisyah melanjutkan: Apakah engkau belum pernah mendengar firman Allah: "Dia tidak dapat dicapai oleh mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan. Dia Maha halus dan Maha mengetahui". Tidakkah engkau mendengar firman Allah: "Tidak mungkin bagi manusia berbicara dengan Tuhannya kecuali dengan perantaraan wahyu, di belakang hijab (maksudnya hanya mendengar suara), atau mengutus malaikat untuk mewahyukan apa saja yang diinginkan-Nya kepada manusia. Sesungguhnya Dia Maha tinggi dan Maha bijaksana".
Aisyah berkata lagi: (Kedua) Barang siapa yang menyangka bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menyembunyikan sebagian isi Kitabullah (Alquran), maka ia berbohong besar atas Allah. Allah berfirman: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhanmu. Dan jika engkau tidak melakukan (perintah itu) maka engkau tidak menyampaikan amanat-Nya".
Kemudian Aisyah melanjutkan: (Ketiga) Barang siapa yang menyangka bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam diberi tahu tentang apa yang akan terjadi besok, maka ia berbohong besar atas Allah. Allah berfirman: "Katakanlah Tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah". (Shahih Muslim No.259)

Tentang sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bahwa Allah tidak tidur dan sabda beliau bahwa tirai-Nya adalah Nur, jika Dia menyingkapnya, tentu Keagungan Zat-Nya akan membakar semua makhluk-Nya 
Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu'anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berada di tengah-tengah kami, memberikan lima kalimat. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Taala tidak pernah tidur dan mustahil Dia tidur, Dia kuasa menurunkan timbangan (amal) dan menaikkannya kepada-Nya, dinaikkan (dilaporkan) amal malam sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam, tirai-Nya adalah Nur (menurut riwayat Abu Bakar adalah Nar=api) yang andai kata Dia menyingkapnya, tentu keagungan Zat-Nya akan membakar makhluk yang dipandang-Nya (maksudnya seluruh makhluk akan terbakar, sebab pandangan Allah meliputi semua makhluk). (Shahih Muslim No.263)

Bukti bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat 
Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu'anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari perak dan dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari emas. Antara orang-orang dan kemampuan memandang Tuhan mereka hanya ada tirai keagungan pada Zat-Nya, di surga Adn. (Shahih Muslim No.265) 

Minggu, 13 Maret 2016

Haramnya Riba, Larangan Jual-Beli Secara Kredit dan Buruknya Orang yang Berhutang

QS.2. Al Baqarah:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلْرِّبَوٰاْ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَـٰتِ وَٱللَّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

276. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah[Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya]. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa[orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya]

QS.2. Al Baqarah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِىَ مِنَ ٱلرِّبَوٰاْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ

278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (jangan diambil yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. 

QS.2. Al Baqarah:

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَٰلِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. 

QS.30. Ar Ruum:

وَمَآ ءَاتَيْتُمْ مِّن رِّباً لِّيَرْبُوَاْ فِى أَمْوَالِ ٱلنَّاسِ فَلاَ يَرْبُواْ عِندَ ٱللَّهِ وَمَآ ءاتَيْتُمْ مِّن زَكَوٰةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ فَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُضْعِفُونَ

39. Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). 

QS.3. Ali 'Imran:

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلاَّ ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, dan riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. 

QS.4. An Nisaa':

وَأَخْذِهِمُ ٱلرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَـٰطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَـٰفِرِينَ مِنْهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

161. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. 


Telah menceritakan kepada kami Adam Telah menceritakan kepada kami Su'bah Telah menceritakan kepada kami 'Aun bin Juhaifah dari bapaknya ia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah melaknat Al Wasyimah (wanita yang mentato) dan Al Mustausyimah (wanita yang meminta untuk ditato), orang yang memakan riba, dan orang yang memberi dari hasil riba. Dan beliau juga melarang untuk memakan hasil keuntungan dari anjing, dan pelacur. Kemudian beliau juga melaknat para tukang gambar." (No. Hadist: 4928 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Tsaur bin Zaid dari Abul Ghaits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan." Para sahabat bertanya; 'Ya Rasulullah, apa saja tujuh dosa besar yang membinasakan itu? ' Nabi menjawab;
"Menyekutukan Allah,
Sihir,
Membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang benar,
Makan riba,
Makan harta anak yatim,
Lari dari medan perang,
dan Menuduh wanita mukmin baik-baik melakukan perzinahan." (No. Hadist: 6351 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Allah melaknat para pelaku riba dan orang yang terlibat didalamnya 
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “ Allah melaknat orang yang memakan (hasil) riba, yang memberi makan dengannya, penulisnya, dan dua saksinya jika mereka mengetahuinya” (HR. Imam Muslim dari Abdullah Bin Mas’ud Radiyallahu‘Anhu)


QS.2. Al Baqarah:

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَـٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوۤاْ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰاْ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ فَمَن جَآءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهِ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى ٱللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـٰئِكَ أَصْحَـٰبُ ٱلنَّارِ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ

275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba[Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

QS.3. Ali 'Imran:

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ ٱلرِّبَا أَضْعَـٰفاً مُّضَـٰعَفَةً وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

130. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda[Yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi'ah. Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi'ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.


Riba secara bahasa adalah tambahan, dari firman Allah:

فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

“ ...Kemudian apabila Kami turunkan air (hujan) diatasnya hiduplah bumi itu dan subur ... “ (Qs. Alhajj : 5) yaitu tambahan.
Adapun secara syar’i : Tambahan didalam akad antara sesuatu yang mewajibkan didalamnya kesamaan (timbangan/takaran –penj) dan adanya tempo didalam akad antara sesuatu yang wajib didalamnya serah terima ditempat “ ( Al Qaulul Mufiid ala Kitabit Tauhid: 320)

Sesungguhnya Riba ada beberapa macam:
1. Riba Dain (riba dalam hutang) Riba ini disebut juga riba jahiliyah, sebab riba jenis inilah yang dilakukan pada masa jahiliyah. Dan riba jenis ini ada dua bentuk.
Pertama : Penambahan harta sebagai denda dari penambahan tempo.
Misalnya : Si A punya hutang kepada si B 10 juta dengan tempo tiga bulan, saat jatuh tempo si A tidak bisa bayar, sehingga temponya ditambah dengan menambah hutangnya menjadi 11 juta.
Kedua : Pinjaman dengan bunga yang dipersyaratkan di awal akad.
Misalnya : Si A hendak berhutang kepada si B. maka si B mensyaratkan diawal akadnya (ketika mau hutang) : kamu saya hutangi 10 juta dengan tempo 3 bulan dengan syarat diganti 11 juta. Hal ini seperti yang banyak terjadi di bank-bank konvensional.

2. Riba Nasi’ah (tempo)
Para ulama menyebutkan bahwa nasi'ah artinya mengakhirkan dan menangguhkan yaitu memberi tambahan pada suatu barang dari dua barang yang ditukar (dijualbelikan) sebagai imbalan dari diakhirkannya pembayaran. Atau lebih jelasnya, apabila batas waktu pembayaran telah tiba dan orang yang berhutang tidak mampu melunasi hutangnya, maka si pemberi hutang menambahkan hutangnya dan mengakhirkan lagi waktu pembayarannya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“ Emas dengan emas, perak dengan perak, bur (suatu jenis gandum -penj) dengan bur, sya’ir (suatu jenis gandum -penj) dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam harus sama (timbangannya), serah terima ditempat (tangan dengan tangan). Barangsiapa menambah atau meminta tambah maka dia telah terjatuh kedalam riba, yang mengambil dan yang memberi dalam hal ini sama “
(HR. Muslim dari Abu Said Al Khudri Radiyallahu ‘anhu)

Contoh untuk riba nasi’ah :
Tidak boleh menjual atau menukar (barter) 2 kg garam dengan 1 kg kurma, secara nasi’ah (tempo).
Dan untuk lebih jelasnya, ada contoh lainnya:
Seseorang menjual 50 sha’ gandum kepada orang lain dengan 100 sha’ sya’ir (gandum yang masih ada kulitnya) dalam jangka waktu tertentu dengan menghitungkan tambahan sebagai imbalan dari panjangnya waktu pembayaran.

3. Riba fadhl (tambahan)
Yaitu adanya tafadhul (selisih timbangan) pada dua perkara yang diwajibkan tamatsul (sama) secara syar’i.

Contoh untuk riba fadhl :
Tidak boleh seseorang menukar 1 kg garam dengan dengan  1,5 kg garam, ini namanya riba fadhl. Karena garam termasuk perkara yang diwajibkan secara syar’i tamatsul (kesamaan timbangan) maka tidak boleh adanya tafadhul (selisih timbangan)

Agar bisa menjauh dari riba fadhl dan tidak terjatuh ke dalamnya serta terhindar darinya, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi ketika melakukan jual beli barang, yaitu:
1. Kadarnya harus sama.
2. Harus serah terima barang di tempat transaksi sebelum berpisah.

Bab: Larangan Jual-Beli Secara Kredit 
Telah menceritakan kepada saya Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari Malik bin Aus bahwa dia mendengar 'Umar radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jual beli beras dengan beras adalah riba' kecuali begini-begini (kontan, cash), gandum dengan gandum adalah riba' kecuali begini-begini (kontan, cash), kurma dengan kurma adalah riba' kecuali begini-begini (kontan, cash) ". (No. Hadist: 2025 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab: Larangan Jual-Beli On-Line yang Barangnya Belum Ditangan Penjual dan Larangan Oper/Memindahkan Kredit
Telah menceritakan kepada saya Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Dinar berkata; Aku mendengar Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membeli makanan janganlah dia menjualnya sebelum dia memegangnya (berada ditangannya secara sah) ". (No. Hadist: 1989 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ibnu Thawus dari bapaknya dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang seseorang menjual makanan (yang dibelinya) hingga telah menjadi miliknya secara sah (yang boleh dijual hanyalah barang yang sudah jelas menjadi miliknya secara sah). Aku bertanya kepada Ibnu 'Abbas: "Bagaimana maksudnya?" Dia menjawab: "Hal itu bila dirham dengan dirham dan pembayaran makanannya ditangguhkan". Abu 'Abdullah Al Bukhariy berkata: Murjauna maknanya sama dengan mu'akhkhoruuna, artinya ditangguhkan". (No. Hadist: 1988 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Barang siapa membeli makanan, janganlah menjualnya sampai ia menerimanya dengan sempurna. (Shahih Muslim No.2807)

Hadis riwayat Barra` bin Azib Radhiyallahu’anhu: Dari Abul Minhal ia berkata: Seorang kawan berserikatku menjual perak dengan cara kredit sampai musim haji lalu ia datang menemuiku dan memberitahukan hal itu. Aku berkata: Itu adalah perkara yang tidak baik. Ia berkata: Tetapi aku telah menjualnya di pasar dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Maka aku (Abul Minhal) mendatangi Barra` bin `Azib dan menanyakan hal itu. Ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam tiba di Madinah sementara kami biasa melakukan jual beli seperti itu, lalu beliau bersabda: Selama dengan serah-terima secara langsung, maka tidak apa-apa. Adapun yang dengan cara kredit maka termasuk riba. Temuilah Zaid bin Arqam, karena ia memiliki barang dagangan yang lebih banyak dariku. Aku lalu menemuinya dan menanyakan hal itu. Ia menjawab seperti jawaban Barra`. (Shahih Muslim No.2975)

Bab: Pendapat yang mengatakan "Orang yang membeli sesuatu dengan serampangan (tanpa ditakar) maka ia tidak boleh menjualnya kembali hingga membawanya ke rumahnya.."
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Salim bin 'Abdullah bahwa Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata; "Sungguh aku melihat orang-orang yang membeli makanan yang tanpa ditimbang di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan dipukul bila menjualnya kembali di tempat membelinya hingga mereka mengangkutnya kepada kendaraan angkut mereka". (No. Hadist: 1993 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab: Larangan Seseorang Membeli atas Pembelian Orang Lain dan Menawar atas Penawarannya serta Larangan Sistem Najasy 
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Janganlah seorang muslim menawar atas penawaran saudaranya. (Shahih Muslim No.2788)

Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melarang sistem penjualan Najasy (meninggikan harga untuk menipu atau mengacaukan harga pasar). (Shahih Muslim No.2792)

Bab: Buruknya Orang yang Berhutang, Belum Lunas hingga Mati
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Yazid bin Abi 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dihadirkan kepada Beliau satu jenazah agar dishalatkan. Maka Beliau bertanya: "Apakah orang ini punya hutang?" Mereka berkata: "Tidak". Maka Beliau menyolatkan jenazah tersebut. Kemudian didatangkan lagi jenazah lain kepada Beliau, maka Beliau bertanya kembali: "Apakah orang ini punya hutang?" Mereka menjawab: "Ya". Maka Beliau bersabda: "Shalatilah saudaramu ini (Nabi SAW sendiri tidak mau menyolatinya)". Berkata, Abu Qatadah: "Biar nanti aku yang menanggung hutangnya". Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menyolatkan jenazah itu (karena hutangnya telah dilunasi). (No. Hadist: 2131 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ruh orang mati itu tergantung dengan hutangnya sampai hutang itu dilunasi untuknya."
(Riwayat Ahmad dan Tirmidzi). Hadits hasan menurut Tirmidzi.

Bab: Menunda Pembayaran bagi orang yang Mampu adalah keZhaliman
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami 'Abdul A'laa dari Ma'mar dari Hammam bin Munabbih, saudaranya Wahb bin Munabbih bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Menunda pembayaran hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman". (No. Hadist: 2225 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Hadits diatas juga menunjukkan larangan untuk kredit barang atau berhutang, padahal ia mampu untuk membayar lunas/cash/kontan.