Senin, 20 Oktober 2014

Ayo Segera Daftar Haji

QS.3. Ali 'Imran:

فِيهِ ءَايَـٰتٌ بَيِّـنَـٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ ءَامِناً وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَـٰعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱلله غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ

97. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[ tempat Nabi Ibrahim a.s. berdiri membangun Ka'bah]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. 

Sesungguhnya mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang (mampu):
1. Sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah
2. Sanggup menyediakan perbekalan, baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi keluarga yang ditinggalkannya.
3. Sanggup menyediakan alat-alat pengangkutan.
4. Sehat jasmani
5. Perjalanan aman.

Kewajiban berhaji hanyalah sekali saja seumur hidup, dan selebihnya adalah sunnah.

Dan barangsiapa mengingkari kewajiban haji bagi yg mampu, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan sesuatupun dari semesta alam ini ...

Allah memerintahkan kita supaya berhaji itu bukan berarti Allah itu miskin dan ingin menjadikan Makkah kaya ...
Namun itu karena Allah hendak menguji hambaNya yg memiliki kelebihan harta tersebut. Apakah mereka sadar, kalau harta yg mereka miliki itu sebenarnya pemberian, karunia dan milik Allah ...

Andaikan Allah mencabut pemberian dan karuniaNya itu, dapatkah mereka menahan kelebihan harta itu? Dapatkah mereka memilih kaya kembali, ketika kemiskinan telah menimpa mereka?

Marilah berhaji bagi yg mampu, walaupun waktu tunggu (waiting list) sudah mencapai puluhan tahun. Setidaknya sudah berniat dengan mendaftar haji, walaupun nanti sebelum hari pemberangkatan ternyata Allah mewafatkannya.
Karena sudah mendaftar, maka InsyaAllah, sudah dicatat telah melakukan haji, walaupun maut sudah keburu menjemput.
Dan ibadah Umrah, sekali-kali tidak akan dapat menggugurkan kewajiban berhaji, walaupun umrah sudah dikerjakan hingga puluhan kali. Karena itu, dahulukan mendaftar haji dan tidak usah takut akan lamanya waktu tunggu ...

Namun, bagi yg belum mampu, tidak usah dipaksakan untuk mendaftar haji dng berhutang kemana-mana. Karena Allah tidak akan membebani hambaNya melebihi kemampuannya. Kewajiban berhaji itu hanya bagi hamba2Nya yg mampu saja.

Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami, Ali bin Abdul Hamid Al Kufi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Al Mughirah memberitahukan kepada kami dari Tsabh, dari Anas, ia berkata, "Kami sedang berangan-angan agar ada seorang Badui yang cerdas lalu mulai bertanya kepada Nabi SAW sedangkan kami berada bersama beliau SAW. Pada saat kami dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba seorang Badui datang lantas menundukkan dirinya di depan Nabi SAW, kemudian berkata, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya utusanmu telah mendatangi kami, kemudian ia memberitahu kami bahwa engkau mengaku utusan Allah?. Nabi SAW menjawab, 'Ya', la berkata lagi, 'Demi Dzat yang mengangkat langit, membentangkan bumi, dan menegakkan gunung-gunung, apa benar Allah telah mengutus engkau?' Nabi SAW kemudian menjawab, 'Ya'. Ia berkata, 'Sesungguhnya utusanmu memberi tahu kami bahwa engkau mendakwahkan bahwa kami wajib mengerjakan shalat lima kali satu hari satu malam?'. Nabi SAW bersabda, 'Ya'. Ia bertanya, 'Demi Dzat yang mengutus engkau, benarkah Allah yang memerintahkan hal itu kepada engkau?' Nabi SAW bersabda, 'Ya'. Ia berkata lagi, 'Sesungguhnya utusanmu memberitahu kami bahwa kami wajib mengerjakan puasa satu bulan dalam satu tahun?' Nabi SAW bersabda, 'Benar'. Ia berkata, 'Demi Dzat yang mengutus engkau, benarkah Allah yang memerintahkan hal itu kepada engkau?' Nabi SAW menimpali, 'Ya'. Ia berkata, 'Sesungguhnya utusanmu memberitahu kami bahwa kami wajib mengeluarkan zakat dalam harta-harta kami?' Nabi SAW bersabda, 'Benar'. Ia berkata, 'Demi Dzat yang mengutus engkau, benarkah Allah telah memerintahkan hal itu kepada engkau?' Nabi SAW bersabda, 'Ya'. Ia berkata, 'Sesungguhnya utusanmu memberitahu kami bahwa kami wajib mengerjakan haji ke Baitullah bagi yang mampu menempuh perjalanan itu?' Nabi SAW bersabda, 'Ya'. Ia berkata, 'Demi Dzat yang mengutus engkau, benarkah Allah yang memerintahkan hal itu kepada engkau?' Nabi SAW bersabda, 'Ya'.  Kemudian ia berkata, "Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak akan meninggalkan satupun dari semua itu dan aku  tidak akan melebihinya'. Lalu ia segera pergi. Nabi SAW kemudian bersabda, 'Jika orang Badui itu benar, maka ia akan masuk surga'."
Shahih: Takhrij Iman Ibnu Syaibah (4/5) dan Muttafaq 'alaih

Bab: Keutamaan haji yang mabrur
No. Hadist: 1422 dari KITAB SHAHIH BUKHARI

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari Az Zuhriy dari Sa'id bin Al Musayab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Ditanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasulNya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur".

No. Hadist: 1423 dari KITAB SHAHIH BUKHARI

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ أَخْبَرَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ أَفَلَا نُجَاهِدُ قَالَ لَا لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Al Mubarak telah menceritakan kepada kami Khalid telah mengabarkan kepada kami Habib bin Abu 'Amrah dari Aisyah binti Tholhah dari 'Aisyah Ummul Mukminin radliallahu 'anha ia berkata: "Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah sebaik-baiknya amal, maka apakah kami tidak boleh berjihad?". Beliau bersabda: "Tidak, namun sebaik-baik jihad bagi kalian (para wanita) adalah haji mabrur".

No. Hadist: 1424 dari KITAB SHAHIH BUKHARI

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا سَيَّارٌ أَبُو الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Sayyar Abu Al Hakam berkata; aku mendengar Abu Hazim berkata; aku mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa melaksanakan hajji lalu dia tidak berkata, -kata kotor dn tidak berbuat fasik maka dia kembali seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya".

'Barangsiapa haji dan ia tidak mengucapkan kata-kata yang keji dan tidak melakukan perbuatan fasik, maka dosanya yang telah lampau akan diampuni'." Shahih: Hajjatun Nabi SAW (hal: 5) dan Muttafaq 'alaih

Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr: Abu Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW ditanya, 'Apakah amalan yang paling utama atau pekerjaan apakah yang paling baik?' Rasululullah menjawab, 'Iman kepada Allah dan rasulNya?' Beliau ditanya (lagi), 'Kemudian apa?' Rasulullah menjawab, 'Jihad adalah puncak amalan.' Ditanyakan (lagi), 'Kemudian apa?' Rasulullah menjawab, 'Haji yang mabrur'."
Hasan Shahih: Muttafaq 'alaih.

Bab: Barangsiapa Setelah Matahari Tergelincir hingga Matahari Terbenam atau (batas akhir) Sebelum Terbit Fajar berada di Arafah Maka Ia Telah Mendapatkan Haji
Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa'id dan Abdurrahman bin Mahdi memberitahukan kepada kami, keduanya berkata, "Sufyan memberitahukan kepada kami dari Bukair bin Atha', dari Abdurrahman bin Ya'mar:
Orang-orang dari penduduk Najd mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau berada di Arafah. Kemudian mereka bertanya kepada beliau, dan beliau lantas menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan: "Haji itu adalah Arafah, Barangsiapa datang pada malam Arafah sebelum terbit Fajar maka telah mendapatkan haji. Hari-hari Mina adalah tiga hari. Barangsiapa bersegera (meninggalkannya) dalam dua hari, maka ia tidak mendapatkan dosa. Barangsiapa mengakhirkan (sampai tiga hari), maka dia tidak mendapatkan dosa "
Muhammad berkata, "Yahya memberi tambahan: Dan beliau menyusulkan seseorang kemudian ia berseru dengan kalimat tersebut"
Shahih: Ibnu Majah (3015)

Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Bukair bin
Atha'. Dari Abdurrahman bin Ya'mar. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Haji itu wukuf di Arafah, haji itu wukuf di Arafah, haji itu wukuf di Arafah, tinggal di Mina selama tiga hari. Allah berfirman, "Barangsiapa yang ingin cepat pulang (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan, barangsiapa yang ingin menangguhkan dari kepulangannya dari dua hari itu maka tidak ada dosa pula baginya.' Siapa saja yang sempat mendapatkan sebelum fajar terbit maka dia telah mendapatkan haji."
Shahih: Telah disebutkan pada hadits diatas

Silahkan membaca juga: Haji Minta Dunia-Akhirat?


Senin, 13 Oktober 2014

Dialog Allah dengan Hamba yang dikehendakiNya mengenai calon Penduduk Surga

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Rasyid telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin 'Iyyasy dari Humaid berkata, "Aku mendengar Anas radliyallahu'anhu berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika hari kiamat tiba, maka aku diberi syafaat, lantas aku berkata: 'Wahai rabb, tolong masukkanlah ke dalam surga siapa saja yang dalam hatinya masih ada sebiji sawi iman.' Lantas mereka pun masuk, kemudian aku berkata: 'Masukkanlah dalam surga siapa saja yang dalam hatinya ada iman sekalipun dalam tingkatan paling rendah." Anas berkata, "Seakan aku melihat jari-jari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(No. Hadist: 6955 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ma'bad bin Hilal Al 'Anazi berkata, "Kami, orang-orang penduduk Bashrah, berkumpul dan pergi menemui Anas bin Malik, lalu kami pergi bersama Tsabit Al Bunani dengan tujuan bertanya tentang hadis Syafaat. Tidak tahunya Anas bin mlik dalam berada istananya, lalu kami temui beliau tepat ketika ia sedang shalat dluha. Kemudian kami meminta ijin dan ia pun memberi ijin yang ketika itu ia tengah duduk di atas kasurnya. Maka kami berkata kepada Tsabit, 'Jangan kamu bertanya kepadanya tentang sesuatu sebelum hadis syafaat.' Lantas Tsabit bertanya, 'Wahai Abu Hamzah, kawan-kawanmu dari penduduk Bashrah datang kepadamu untuk bertanya tentang hadis syafaat.' Lantas Anas berkata, "Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami, beliau bersabda: "Jika hari kiamat tiba, maka manusia satu sama lain saling bertumpukan. Mereka kemudian mendatangi Adam dan berkata, 'Tolonglah kami agar mendapat syafaat Tuhanmu.' Namun Adam hanya menjawab, 'Aku tak berhak untuk itu, namun datangilah Ibrahim sebab dia adalah khalilurrahman (Kekasih Arrahman).' Lantas mereka mendatangi Ibrahim, namun sayang Ibrahim berkata, 'Aku tak berhak untuk itu, coba datangilah Musa, sebab dia adalah nabi yang diajak bicara oleh Allah (kaliimullah).' Mereka pun mendatangi Musa, namun Musa berkata, 'Saya tidak berhak untuk itu, coba mintalah kepada Isa, sebab ia adalah roh Allah dan kalimah-Nya.' Maka mereka pun mendatang Isa. Namun Isa juga berkata, 'Maaf, aku tak berhak untuk itu, namun cobalah kalian temui Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Mereka pun mendatangiku sehingga aku pun berkata: "Aku kemudian meminta ijin Tuhanku dan aku diijinkan, Allah mengilhamiku dengan puji-pujian yang aku pergunakan untuk memanjatkan pujian terhadap-Nya, yang jika puji-pujian itu menghadiriku sekarang, aku tidak melafadkan puji-pujian itu. Aku lalu tersungkur sujud kepada-Nya, lantas Allah berfirman 'Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, mintalah keringanan engkau akan diberi keringanan.' Maka aku menghiba 'Wahai tuhanku, umatku-umatku.' Allah menjawab, 'Berangkat dan keluarkanlah dari neraka siapa saja yang dalam hatinya masih terdapat sebiji gandum keimanan.' Maka aku mendatangi mereka hingga aku pun memberinya syafaat. Kemudian aku kembali menemui tuhanku dan aku memanjatkan puji-pujian tersebut, kemudian aku tersungkur sujud kepada-Nya, lantas ada suara 'Hai Muhammad, angkatlah kepalamu dan katakanlah engkau akan didengar, dan mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.' Maka aku berkata, 'Umatku, umatku, ' maka Allah berkata, 'Pergi dan keluarkanlah siapa saja yang dalam hatinya masih ada sebiji sawi keimanan, ' maka aku pun pergi dan mengeluarkannya. Kemudian aku kembali memanjatkan puji-pujian itu dan tersungkur sujud kepada-Nya, lantas Allah kembali berkata, 'Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.' Maka aku berkata, 'Wahai tuhanku, umatku, umatku.' Maka Allah berfirman: 'Berangkat dan keluarkanlah siapa saja yang dalam hatinya masih ada iman meskipun jauh lebih kecil daripada sebiji sawi, ' maka aku pun berangkat dan mengeluarkan mereka dari neraka." Tatkala kami pulang tempat dari Anas, aku katakan kepada sebagian sahabat kami, 'Duhai, sekiranya saja kita melewati Al Hasan -yang dia menyepi di rumah Abu khalifah-'. Lantas kami menceritakan kepada Al Hasan dengan apa yang telah diceritakan Anas bin Malik kepada kami. Selanjutnya kami pun menemuinya dan kami ucapkan salam, ia mengijinkan kami dan kami katakan, 'Wahai Abu Sa'id, kami datang menemuimu setelah kami kembali dari saudaramu, Anas bin Malik. Belum pernah kami lihat sebagaimana yang ia ceritakan kepada kami tentang syafaat.' Lantas ia berkata, 'Heiih.' Maka hadits tersebut kemudian kami ceritakan kepadanya (Al Hasan), dan berhenti sampai sini. Namun ia berkata, 'Hei…! Hanya sampai situ? ' Kami jawab, 'Dia tidak menambah kami daripada sekedar ini saja.' Lantas ia berkata, 'Sungguh, dia pernah menceritakan kepadaku itu -secara sempurna- kepadaku sejak dua puluh tahun yang lalu, aku tidak tahu apakah dia lupa ataukah tidak suka jika kalian kemudian pasrah.' Kami lalu berkata, 'Wahai Abu Sa'id, tolong ceritakanlah kepada kami! ' Al Hasan kemudian tertawa seraya berkata, 'Sesungguhnya manusia dicipta dalam keadaan tergesa-gesa. Saya tidak menyebutnya selain saya akan menceritakannya kepada kalian. Anas telah menceritakan kepadaku sebagaimana dia ceritakan kepada kalian. Nabi berkata: "Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya, dan aku memanjatkan dengan puji-pujian itu kemudian aku tersungkur sujud dan diserukan, 'Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, ucapkanlah engkau didengar, mintalah engkau diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat, ' maka aku berkata, 'Wahai Tuhanku, ijinkanlah bagiku untuk orang-orang yang mengucapkan La-Ilaaha-Illallah! ' Maka Allah menjawab, 'Demi kemuliaan, keagungan dan kebesaran-Ku, sungguh akan Aku keluarkan siapa saja yang mengucapkan Laa-Ilaaha-Illallah."(No. Hadist: 6956  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Tingkatan Surga terendah, adalah sepuluh kali dunia ini:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Israil dari Manshur dari Ibrahim dari 'Abidah dari 'Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manusia yang terakhir kali masuk surga dan terakhir kali keluar dari neraka adalah seseorang yang keluar dengan merangkak, lantas tuhannya berkata, 'Masuklah kamu dalam surga.' Orang tersebut kemudian berkata, 'Wahai Tuhanku, surga sudah sesak! ' Allah mengulangi firman-Nya hingga tiga kali, namun si hamba terus menjawabnya dengan mengatakan 'Surga sudah penuh'. Maka Allah berfirman: 'Sesungguhnya surga bagimu seperti dunia dikalikan sepuluhnya.'(No. Hadist: 6957  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sungguh, aku benar-benar tahu penghuni neraka yang keluar terakhir dari sana dan penghuni surga yang terakhir masuk ke dalamnya, yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia pun mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga, karena sesungguhnya menjadi milikmu semisal dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau, sesungguhnya bagimu sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata: Apakah Engkau mengejekku (atau menertawakanku), sedangkan Engkau adalah Raja? Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. Dikatakan: Itu adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya. (Shahih Muslim No.272)


Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Hujr telah memberitakan kepada kami 'Isa bin Yunus dari Al A'masy dari Khaitsamah dari 'Adi bin Hatim berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah salah seorang di antara kalian melainkan akan diajak bicara oleh tuhannya dengan tanpa juru penerjemah, saat ia melihat sebelah kanannya maka ia tidak melihat selain amalnya yang pernah dilakukan, saat ia melihat sebelah kirinya maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan sebelumnya, dan saat ia lihat depannya maka melihat selain neraka di depan mukanya. Maka jagalah kalian dari neraka walau hanya dengan separoh biji kurma." Al A'masy mengatakan, "Dan telah menceritakan kepadaku 'Amru bin Murrah dari Khaitsamah semisalnya, dan ia tambahi dengan redaksi, 'Walaupun hanya dengan kata-kata yang baik'."(No. Hadist: 6958  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari 'Abidah dari 'Abdullah radliyallahu'anhu berkata, "Seorang biarawan Yahudi datang dan berkata, 'Jika hari kiamat terjadi, maka Allah meletakkan langit di atas jari-Nya, dan tujuh lapisan bumi juga diletakkan di atas jarinya dan air, bintang juga di atas jari, dan seluruh makhluk yang ada juga di atas satu jarinya, kemudian Allah menggetarkan mereka seraya berkata: 'Aku adalah Sang raja, akulah sang raja! ' Dan kulihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya sebagai pertanda takjub dan membenarkan ucapannya. Kemudian Nabi Shallallahu'alaihiwasalam membacakan firman Allah: '(Dan mereka (orang-orang Yahudi) tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang sebenarnya) hingga ayat '(dari apa yang mereka persekutukan) ' (Qs. Azzumar: ayat 67).
(No. Hadist: 6959  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari Shafwan bin Mukhraz, bahwa ada seorang laki-laki bertanya Ibnu Umar, "Bagaimana engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang bisikan?" Ibnu Umar menjawab, 'Salah seorang di antara kalian mendekati tuhannya hingga Allah meletakkan dekapannya kepadanya dan berujar, 'Bukankah engkau telah melakukan demikian? ' Maka si hamba tadi berkata, 'Benar.' Allah lantas berkata lagi, 'Bukankah engkau melakukan yang demikian-demikian? ' Si hamba tadi menjawab, 'Benar, ' dan dia mengakuinya. Kemudian Allah berkata, 'Sesungguhnya aku telah menutup dosa-dosa itu bagimu di dunia, dan hari ini aku mengampuninya bagimu'." Sedang Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syaiban telah menceritakan kepada kami Qatadah telah menceritakan kepada kami Shafwan dari Ibn 'Umar berkata, 'Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."(No. Hadist: 6960 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Fulaih berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku telah menceritakan kepadaku Hilal dari 'Atha bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa pada bulan Ramadlan, maka Allah berkewajiban memasukkannya kedalam surga, baik ia berhijrah fi sabilillah atau duduk di tempat tinggalnya tempat ia dilahirkannya." Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak sebaiknyakah kami mengabarkan orang-orang tentang hal ini?" Nabi malahan menjawab: "Dalam surga terdapat seratus derajat yang Allah persiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya, yang jarak antara setiap dua tingkatan bagaikan antara langit dan bumi, maka jika kalian meminta Allah, mintalah surga firdaus, sebab firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada singgasana Arrahman, dan dari padanya sungai surga memancar."(No. Hadist: 6873 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Jumat, 10 Oktober 2014

Bolehkah Memakan Hewan yg Meragukan, Apakah sdh disebut nama Allah ataukah tidak?

QS.6. Al An'aam:

فَكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُم بِئايَـٰتِهِ مُؤْمِنِينَ

118. Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya. 

وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰۤ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَـٰدِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

121. Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya[Yaitu dengan menyebut nama selain Allah]. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. 

Bab: Hewan yang disembelih atas nama sesembahan / selain Allah
Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yaitu Ibnul Mukhtar- berkata, telah mengabarkan kepada kami Musa bin Uqbah ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Salim Bahwasanya ia mendengar Abdullah menceritakan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Bahwasanya beliau berjumpa dengan Zaid bin Amru bin Nufail di bawah Baldah -dan itu adalah ketika belum turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian menyodorkan kepadanya nampan berisi daging, namun ia enggan untuk memakannya. Beliau pun bersabda: "Sesungguhnya aku tidak makan apa yang kalian sembah untuk sesembahan kalian, dan aku juga tidak makan sesuatu yang tidak disebut nama Allah atasnya." (No. Hadist: 5075  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

--> Haram memakan Hewan yang disembelih atas nama sesembahan / selain Allah

Bab:Silahkan menyembelih dng benda Tajam Apapun, namun Jangan menyembelih dengan gigi, tulang dan kuku
Telah menceritakan kepada kami Musa berkata, telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Nafi' dari seorang laki-laki dari bani Salamah, ia mengabarkan kepada Abdullah bin Umar bahwa budak perempuan Ka'b bin Malik mengembalakan kambing miliknya di gunung kecil, di daerah pasar, yaitu tempat yang berada di Sal'. Salah satu kambingnya sakit, lalu budak wanita itu memecah batu dan menyembelih kambing yang sakit itu dengan pecahan batu tersebut. Orang-orang pun menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan beliau memerintahkan untuk tetap memakannya." (No. Hadist: 5078 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abdan ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Bapakku dari Syu'bah dari Sa'id bin Masruq dari Abayah bin Rifa'ah dari Kakeknya bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki pisau tajam?" beliau pun bersabda: "Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah. Kecuali kuku dan As-Sin. Sebab kuku adalah alat penyembelihan orang-orang Habasyah, sementara As-Sin adalah tulang." Lalu ada seekor unta yang kabur kemudian (mereka) menangkapnya, beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya di antara unta-unta ini ada unta yang beringas, jika kalian mampu, maka hendaklah kalian melakukannya seperti ini." (No. Hadist: 5079 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Qabishah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Bapaknya dari Abayah bin Rifa'ah dari Rafi' bin Khadij ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Makanlah -yakni apa-apa yang mengalirkan darah- kecuali tulang dan kuku." (No. Hadist: 5082 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Bagaimana apabila Ragu saat penyembelihan Hewan itu disebut nama Allah ataukah tidak?
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepada kami Usamah bin Hafsh Al Madani dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari Aisyah radliallahu 'anhuma, bahwa suatu kaum pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Suatu kaum datang dengan membawa daging, namun kami tidak tahu apakah saat menyembelihnya menyebut nama Allah atau tidak?" Beliau menjawab: "Kalau begitu sebutlah nama Allah, lalu makanlah oleh kalian." Aisyah berkata, "Mereka adalah orang-orang yang baru masuk Islam." Hadits ini dikuatkan oleh Ali dari Ad Darawardi, dan dikuatkan juga oleh Abu Khalid dan Ath Thufawi." (No. Hadist: 5083 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

--> Boleh memakan daging yg kita tidak tahu apakah saat menyembelihnya menyebut nama Allah ataukah tidak, asalkan sebutlah nama Allah sebelum makan daging itu. Dan yg menyembelih adalah orang Islam (meskipun baru masuk Islam).

Menurut Imam Syafi'i, dibolehkan memakan hewan sembelihan, yg ketika disembelih tidak disebut nama Allah, asalkan sipenyembelih adalah seorang Muslim, walaupun baru saja masuk Islam (muallaf). Dan sebutlah nama Allah, ketika kita akan memakan daging hewan sembelihan itu. Wa Allahu 'alam.

Bab:Halalnya memakan Belalang dan Ikan yg Mati tanpa Disembelih
Telah menceritakan kepada kami Abul Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ya'fur ia berkata; aku mendengar Ibnu Abu Aufa radliallahu 'anhuma, ia berkata, "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan peperangan sebanyak tujuh atau enam kali, dan setiap itu kami bersama beliau makan belalang." Sufyan dan Abu Awanah dan Israil menyebutkan dari Abu Ya'fur dari Ibnu Abu Aufa dengan lafadz, "Tujuh peperangan." (No. Hadist: 5071 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Qutaibah menceritakan kepada kami dari Malik Al Anshari, Ishaq bin Musa menceritakan kepada kami, Ma'n menceritakan kepada kami, Malik menceritakan kepada kami dari Sufyan bin Sulaim, dari Sa'id bin Salamah, dari keluarga Ibnu Al Azraq, bahwa Mughirah bin Abu Burdah dia dari Bani Abd AdDarmemberitakan bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata,
"Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Wahai Rasulullah kami mengarungi lautan dan kami hanya membawa air sedikit. Jika kami wudhu dengan air tersebut, maka kami haus. Apakah kami wudhu dari air laut?' Rasulullah SAW bersabda, 'Laut itu suci airnya dan halal bangkainya'." Shahih: Ibnu Majah (386-388)

Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan.

Kamis, 09 Oktober 2014

Jangan Takut terhadap orang² yang berdosa

Sesungguhnya didunia ini terdapat bermacam-macam manusia ...
Ada yang jahat dan ada pula yang baik ...
Ada yang ikhlas dan ada pula yang berkhianat ...

Demikian pula yang memeluk agama Islam ...
Ada yang baik, ada pula yang jahat ...
Ada yang hanya berpura-pura, ada pula yang bersungguh-sungguh ...

Jangan takut terhadap orang² yang hanya berpura-pura memeluk Islam ...
Jangan pula takut terhadap orang² yang sukanya mendustakan agamanya sendiri ...
Karena sesungguhnya Allah akan menguatkan agama Islam dengan adanya orang² yang berdosa ...

Allah akan mengganti orang² yang berdosa tersebut dengan orang² yang ikhlas memperjuangkan agamaNya ...
Dan Allah akan membuat makar atau rencana yang terbaik, karena Allah-lah sebaik-baik pembuat makar ...
Siapakah yang akan rugi jika ia berbohong dengan berpura-pura memeluk agama Islam?

Manusia itu sendiri yang akan merugi, karena ia akan mendapatkan adzabNya yang pedih ...
Sedangkan agama Islam akan dikokohkanNya dengan perantaraan orang yang berdosa itu ...
Sesungguhnya hanya Allah yang berkuasa atas semua makhlukNya ...


Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Kami ikut perang Khaibar. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada seseorang yang bersama beliau dan mengaku telah memeluk Islam: "Orang ini termasuk penduduk neraka". Ketika terjadi peperangan, orang tadi berperang dengan sangat berani hingga orang-orang ragu (dengan apa yang diucapkan beliau). Ternyata laki-laki itu mendapatkan luka yang sangat serius. Lalu tanganya berusaha menggapai sarung panahnya, kemudian dia mengeluarkan anak panah dan menusuk dirinya sendiri. Lantas para pejuang Muslimin berkumpul dan berkata;; "Wahai Rasulullah, Allah telah membenarkan ucapan tuan. Si fulan membunuh dirinya hingga gugur." Beliau bersabda; "Berdirilah kamu hai fulan dan umumkan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman. Sesungguhnya Allah mengokohkan agama ini (diantaranya) dengan perantaraan seorang yang fajir (berdosa)." Hadits ini juga di perkuat oleh Ma'mar dari Az Zuhri. Dan Syabib mengatakan; dari Yunus dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Ibnu Al Musayyab dan Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bahwa Abu Hurairah berkata; "Kami ikut bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada perang Hunain." Dan Ibnu Al Mubarak mengatakan dari Yunus dari Az Zuhri dari Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Hadits ini juga diperkuat oleh Shalih dari Az Zuhri. Az Zubaidiy mengatakan; telah mengabarkan kepadaku Az Zuhri bahwa Abdurrahman bin Ka'ab mengabarkan kepadanya bahwa 'Ubaidullah bin Ka'ab berkata; telah mengabarkan kepadaku orang yang ikut dalam perang Khaibar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Az Zuhri berkata; dan telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin Abdullah dan Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
(No. Hadist: 3882 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 06 Oktober 2014

Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk kepada seseorang


Janganlah suka mengumpat ...
Janganlah suka mengutuk ...
Jangan pula suka misuh ...

Jangan suka mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, dan menyinggung perasaan seseorang ...
Sesungguhnya Allah tidak menyukai ucapan buruk ...
Kecuali diucapkan oleh orang yang teraniaya, untuk menerangkan keburukan-keburukan orang yang menganiayanya ...

Jika kita melakukan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Kuasa ...
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ...

Silahkan baca juga: Larangan mengghibah atau melontarkan ucapan yang buruk  dan Tidak sama yang buruk dengan yang baik

QS 4. An Nisaa':148-149

لاَّ يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوۤءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلاَّ مَن ظُلِمَ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعاً عَلِيماً
إِن تُبْدُواْ خَيْراً أَوْ تُخْفُوهْ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوۤءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّاً قَدِيراً

"Allah tidak menyukai ucapan buruk[Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya]. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

"Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Kuasa."

Kamis, 25 September 2014

Puasa pada hari 'Arafah (disunnahkan)

Sekedar mengingatkan >>>

 Tidak ada hari-hari dimana amalan yang shaleh padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini. Yaitu,Sepuluh hari (Pertama Bulan Dzulhijjah). Para sahabat berkata, Wahai Rasulullah,tidak juga jihad dijalan Allah?, Beliau menjawab, Tidak juga jihad dijalan Allah, Kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dari Jihad itu dengan sesuatu apapun (Syahid).(HR.Al Bukhori)

Sesungguhnya telah disunnahkan bagi semua hamba Allah yg beriman (mukmin) yg tidak melakukan ibadah haji, untuk berpuasa pada saat saudara²nya melaksanakan wukuf di Arofah.
Terdapat beberapa keutamaan ketika melakukan puasa, pada saat saudara²nya melaksanakan wukuf di Arofah, yakni:

1.Diterima dari Abu Qatadah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Puasa pada hari 'Arafah, dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang. Dan puasa hari 'Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu ".(Diriwayatkan oleh jama'ah kecuali Bukhary dan Turmudzi)

2.Diterima dari Hafsah r.a, katanya :
"Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. : Puasa 'Asyura, puasa sepertiga bulan (yaitu bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari tiap bulan, dan sholat dua rakaat sebelum subuh ".(Riwayat Ahmad dan Nasa'i).
------------------------
Saat wukuf di Arofah adalah tgl 9 Dzulhijjah, Sehingga puasa hari Arofah adalah hari Jum'at 3 Oktober 2014.
Keterangan:
Dalam hadits disebutkan kalau puasa yg dilakukan adalah pada hari arofah, dimana pada hari itu berkumpulnya semua muslimin yg berhaji di padang arofah, tidak melihat tanggal (secara lahiriah, Rasulullah SAW menyebut "shiyamu yaumi 'arofah" di shahih Tirmidzi) --> tidak tergantung tanggal qomariah dan tdk tergantung matlak/tempat suatu negara.
Sangat berbeda dng puasa di bulan Ramadlon/Idul Fitri yg dipatok pada "melihat hilal/shumu liruqyatihi" di shahih Tirmidzi, yg berarti tergantung tanggal qomariah atau harus melihat hilal (secara otomatis tergantung matlak/tempat suatu negara).
Wa Allahu 'Alam.