Minggu, 20 Juli 2014

Sunnahnya Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.” [HR. Muslim (no. 1164)]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Dan merupakan salah satu tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya [Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 157)]
---------------------

Ada beberapa pendapat mengenai waktu kapan mulai berpuasa syawal. Namun yg terbaik adalah melakukan puasa syawal sehari setelah 'idul fitri (langsung) atau dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, yakni tgl 2 syawal hingga tgl 7 syawal (6 hari).
Hal ini termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda.
Dan ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih.
[Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 158)]

Sabtu, 19 Juli 2014

Selesai Romadlon sangat disunnahkan melakukan Takbiran dan Sholat 'Id

Anjuran (sangat) melakukan Takbiran dan Sholat 'Id setelah selesai Romadlon, siapapun ia, baik anak², wanita (haid/tidak), orang dewasa, muda, tua dan semuanya. Untuk wanita haid dianjurkan datang kelapangan sholat Ied, namun tdk usah ikut sholat, hanya mendengarkan ceramah dan takbiran

QS. 2. Al Baqarah:

وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

185. ... dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Bab:Sunnahnya berjalan kaki dan makan terlebih dahulu sebelum sholat 'Idul Fitri namun tidak makan sesuatu terlebih dahulu sebelum sholat pada hari raya Qurban.
Isma'il bin Musa Al Fazari menceritakan kepada kami, Syarik memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Al Harits, dari Ali, dia berkata, "Termasuk Sunnah (Nabi) adalah keluar ke tempat shalat Ied (Fitri) dengan berjalan kaki dan makan sebelum keluar."
Hasan: Ibnu Majah (1294 dan 1297) dan Muttafaq 'alaih

Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan:'Mengamalkan kandungan hadits ini disepakati oleh mayoritas ulama. Mereka menyukai seseorang yang pergi ke tempat shalat ied dengan berjalan kaki dan makan sebelum keluar ke tempat shalat Idul Fitri.
Abu Isa berkata, "Disunnahkan tidak mengendarai kendaraan kecuali karena alasan penting."

Al Hasan bin AshShabbah Al Bazzar menceritakan kepada kami, AbdushShamad bin Abdul Warits memberitahukan kepada kami dari Tsawab bin Utbah, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata, "Nabi SAW tidak keluar shalat hari raya Fitri sebelum makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Qurban sebelum shalat."
Shahih: Ibnu Majah (1756)

Sekelompok ulama memilih untuk tidak keluar pada hari raya Fitri sebelum makan. Disunahkan bagi seseorang untuk makan buah kurma dan tidak makan sesuatu pada hari raya Qurban sebelum kembali dari shalat.

Bab:Melewati Jalan yang Berbeda Ketika Pulang dan Pergi dari Tempat Shalat 'Id
Abdul A'la bin Washil bin Abdul A'la Al Kufi dan Abu Zur'ah menceritakan kepada kami, keduanya berkata, "Muhammad bin AshShalt memberitahukan kepada kami dari Fulaih bin Sulaiman dan Sa'id bin Al Harits, dari Abu Hurairah, ia berkata,'Apabila Rasulullah SAW keluar pada (shalat) hari raya, maka beliau melewati suatu jalan dan pulang melewati jalan yang lain'."
Shahih: ibnu Majah (1301)

Sebagian ulama menyukai imam yang keluar melewati jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui untuk pulang. Hal ini bertujuan untuk mengikuti hadits tersebut. AsySyafi'i juga berpendapat seperti itu.

Bab:Shalat 'Id Dilaksanakan Sebelum Khuthbah Tanpa Adzan dan Iqamah
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Atha' dari Jabir bin 'Abdullah berkata, Aku mendengarnya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada hari Raya 'Idul Fitri, beliau memulainya dengan shalat kemudian khutbah." (No. Hadist: 905 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

(Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) perawi berkata, telah menceritakan kepadaku 'Atha' bahwa Ibnu 'Abbas menyampaikan kepada Ibnu Az Zubair pada awal dia dibai'at sebagai khalifah, bahwa tidak ada adzan dalam shalat Hari Raya 'Idul Fithri (di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), dan bahwasanya khutbah dilaksanakan setelah shalat." (No. Hadist: 906 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata: Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Atha telah mengabarkanku dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, keduanya berkata: Tidak ada azan bagi salat hari raya idul fitri atau idul adha. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang itu, lalu Jabir bin Abdullah Al-Anshari memberitahukan kepadaku bahwa tidak ada azan untuk salat hari raya idul fitri, baik saat imam menaiki mimbar maupun sesudahnya. Juga tidak ada iqamat, seruan atau apapun. Pada saat itu tidak ada azan atau iqamat. (Shahih Muslim No.1468)

Bab:Takbir Pada Dua Hari Raya
Muslim bin Umar dan Abu Amr Al Hadzdza' Al Madini menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi AshShaigh memberitahukan kepada kami dari Katsir bin Abdullah, dari ayahnya, dari kakeknya: Nabi SAW bertakbir tujuh kali sebelum bacaan (Al Fatihah) pada rakaat pertama dalam dua shalat hari raya, dan lima kali sebelum bacaan pada rakaat terakhir.
Shahih: Ibnu Majah (1279)

Bab:Haramnya Puasa di hari 'Iedul Fithri dan 'Iedul 'Adha
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Yahya dari bapaknya dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang berpuasa pada hari Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul 'Adhha dan juga melarang berkerudung dengan satu helai kain (berselimut sehingga seluruh bagian badannya tertutup) dan juga melarang seseorang duduk dengan memeluk lututnya hingga mengenai pundaknya dan menutupnya dengan selembar kain dan melarang pula shalat setelah Shubuh dan 'Ashar". (No. Hadist: 1855 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Tidak ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Hari Raya
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah menceritakan kepadaku 'Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada Hari Raya 'Iedul Fitri, beliau melaksanakan shalat dua rakaat, tanpa melaksanakan shalat baik sebelum atau sesudahnya. Dan saat itu beliau bersama Bilal radliallahu 'anhu." (No. Hadist: 935  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Bolehnya mengadakan permainan yang tidak mengandung maksiat pada hari-hari raya
Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abu Bakar pernah datang ke rumahku ketika dua orang gadis Ansar berada di dekatku. Mereka saling tanya jawab dengan syair yang dilantunkan orang-orang Ansar pada hari Bu’ats (hari peperangan antara kabilah Aus dan Khazraj). Aisyah berkata: Sebenarnya mereka berdua bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkomentar: Apakah ada nyanyian setan di rumah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Hal itu terjadi pada hari raya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Hai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita. (Shahih Muslim No.1479)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak-tombak mereka di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Umar bin Khathab datang. Dia mengambil beberapa kerikil untuk melempari mereka, tetapi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mencegahnya: Hai Umar, biarkan mereka!. (Shahih Muslim No.1485)

Akhir kata, Kami mengucapkan:

تقبل الله مناومنكم تقبل يا كريم
من العائذين والفائزين كل عام وأنتم بخير
.

Selamat Idul Fitri 1 syawwal 1435H.
Mohon ma'af lahir dan batin.

Kamis, 10 Juli 2014

Lailatul Qadar

QS.97. Al Qadr:

 إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ * وَمَآ أَدْرَٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ * لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰۤئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ * سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? 
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Abu Suhail dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan".(No. Hadist: 1878 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu Hazim dan Ad-Darawardiy dari Yazid bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 'i'tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i'tikaf Beliau begitu pula mereka yang sebelumnya beri'tikaf bersama Beliau. Pada malam ketika Beliau kembali beri'tikaf di bulan tersebut, Beliau menyampaikan khuthbah di hadapan orang banyak dan memerintahkan mereka menurut apa yang Allah kehendaki, lalu Beliau bersabda: "Aku sudah melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beri'tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri'tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek) ". Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku melihat Beliau setelah Shubuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air". (No. Hadist: 1879 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari 'Ubadah bin Ash-Shamit berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: "Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) ". (No. Hadist: 1883 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudriy yang merupakan salah seorang sahabat karibku. Maka dia berkata: " Kami pernah ber'i'tikaf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian Beliau keluar pada sepuluh malam yang akhir lalu memberikan khuthbah kepada kami dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud diatas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu siapa yang sudah beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka pulanglah". Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) selesai aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud diatas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi Beliau.(No. Hadist: 1877 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata: "Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam aku pernah bermimpi, ditanganku ada sehelai kain sutera dan seakan tidaklah aku menginginkan satu tempat di surga kecuali akan segera nampak buatku. Aku juga mengalami mimpi yang lain, aku melihat dua malaikat yang membawaku ke dalam neraka, disana keduanya ditemui oleh malaikat yang lain seraya berkata; "Jangan kamu takut, tolong biarkan orang ini leluasa". Kemudian Hafshah menceritakan salah satu mimpiku itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh 'Abdullah menjadi orang yang paling berbahagia jika mau shalat malam". 'Abdullah radliallahu 'anhu adalah orang yang senantiasa mendirikan shalat malam sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang mimpi-mimpi mereka bahwa pelaksanaan Lailatul Qadar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencari Lailatul Qadar, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Romadhan) ".(No. Hadist: 1088 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menegakkan (ibadah pada malam) lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala [dan tidak melakukan hubungan suami-istri], maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (No. Hadist: 34 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul Qadar
Harun bin Ishaq Al Hamdani menceritakan pada kami, Abdah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW biasa beri'tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Beliau bersabda, 'Bersungguh-sungguhlah kamu (untuk mendapatkan) lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan."
Shahih: Muttafaq 'alaih

Bab:Apa yg dibaca (sebanyak-banyaknya) ketika menjumpai Lailatul Qadar?
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam itu?" Beliau s.a.w. menjawab: Ucapkanlah: Allahumma Innaka 'Afuwun, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampunilah saya."
Diriwayatkan oleh Imam Turmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dengan redaksi yg hampir sama, namun berbeda sedikit, misalnya: Allahumma Innaka 'Afuwun Kariim, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah yang suka memberikan ampunan. Maka, ampunilah aku".
Shahih: Ibnu Majah (3850).
Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih."

Bab:Tanda akhir dari lailatul qadar (pada keesokan harinya)
Washil bin Abdul A'la Al Kufi menceritakan kepada kami dari Ashim bin Zhr, ia berkata, "Aku berkata kepada Ubay bin Ka'ab, 'Wahai Abu Mundzir, aku tahu bahwa lailatul qadar ada pada malam 27'. Ia berkata, 'Benar. Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa lailatul qadar adalah suatu malam yang pada keesokan harinya matahari terbit tanpa ada sinarnya(tidak bersinar dng menyorot/agak redup). Kemudian kami menyebut-nyebut dan  menghafalnya. Demi Allah, Ibnu Mas'ud tahu bahwa lailatul qadar ada dibulan Ramadhan pada malam 27. Namun ia enggan memberitahu kamu sekalian, karena khawatir kamu akan tergantung (pada malam itu saja)'."
Shahih: Shahih Abu Daud (1247) dan Shahih Muslim (semisalnya)

Bab:Barangsiapa berniat untuk iktikaf kemudian mempunyai keinginan untuk keluar (tidak melanjutkan)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad dia adalah Ibnu Salam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Fudhail bin Ghozwan dari Yahya bin Sa'id dari 'Amrah binti 'Abdurrahman dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu beri'tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh Beliau masuk ke tempat khusus i'tikaf Beliau. Dia (Yahya bin Sa'id) berkata: Kemudian 'Aisyah radliallahu 'anha meminta izin untuk bisa beri'tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu 'Aisyah radliallahu 'anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa. Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: "Apa ini?" Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau). Maka Beliau bersabda: "Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya". Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i'tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. (No. Hadist: 1900 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Semoga kita bisa menegakkan ibadah pada malam lailatul qodar sehingga mendapatkan ampunanNya dengan rahmatNya, aamiiin ...

Selasa, 24 Juni 2014

Yang Diperbolehkan dalam Puasa

QS. 2. Al Baqarah:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَٱلـنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid [berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah]. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata, telah mengabarkan kepada saya Hushain bin 'Abdurrahman dari Asy-Sya'biy dari 'Adi bin Hatim radliallahu 'anhu berkata: Ketika turun QS Al Baqarah ayat 187 ("… hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar"), maka aku mengambil benang hitam dan benang putih lalu aku letakkan di bawah bantalku untuk aku lihat pada sebagian malam namun tidak tampak olehku. Maka di pagi harinya aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu aku ceritakan hal tadi. Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat itu (dengan benang hitam dan putih) adalah gelapnya malam dan terangnya siang [yakni masuknya waktu subuh(mulai berpuasa)] ". (No. Hadist: 1783 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Masalah junub setelah masuk waktu Fajar
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Sumayya maulanya Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughirah bahwa dia mendengar Abu Bakar bin 'Abdurrahman berkata: "Aku dan bapakku ketika menemui 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah...Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bahwa bapaknya, yaitu 'Abdurrahman mengabarkan kepada Marwan bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapatkan waktu Fajar saat Beliau sedang junub di rumah keluarga Beliau. Maka kemudian Beliau mandi dan shaum. Dan berkata, Marwan kepada 'Abdurrahman bin Al Harits: "Aku bersumpah dengan nama Allah. aku pasti menyampaikan hal ini kepada Abu Hurairah radliallahu 'anhu. Saat itu Marwan adalah pemimpin di Madinah. Maka Abu Bakar berkata: "Kejadian itu membawa 'Abdurrahman merasa tidak senang". Kemudian kami ditakdirkan berkumpul di Dzul Hulaifah yang ketika itu Abu Hurairah radliallahu 'anhu termasuk yang hadir disana, maka 'Abdurrahman berkata, kepada Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Aku akan menyampaikan satu hal kepadamu yang seandainya Marwan tidak bersumpah tentangnya kepadaku maka aku tidak akan menyampaikannya kepadamu". Maka dia menyebutkan apa yang disampaikan 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah diatas. Maka Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Persoalan tadi pernah pula diceritakan kepadaku oleh Al Fadhal bin 'Abbas sedangkan mereka ('Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah) lebih mengetahui perkara ini". Dan berkata, Hammam dan Ibnu 'Abdullah bin 'Umar dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk berbuka (dalam kasus junub setelah masuk waktu Fajar). Namun hadits pertama diatas lebih kuat sanadnya". (No. Hadist: 1791 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Sihab dari 'Urwah dan Abu Bakar, 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapati masuknya waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan Beliau junub, lalu Beliau mandi dan shaum".(No. Hadist: 1795 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepada saya Malik dari Sumayya maulanya Abu Bakar bin'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughirah bahwa dia mendengar Abu Bakar bin'Abdurrahman (berkata,): "Aku dan bapakku pergi bersama-sama hingga kami datang menemui 'Aisyah radliallahu 'anha yang dia berkata: "Aku bersaksi tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa apabila Beliau pada pagi hari masih dalam keadaan junub setelah berhubungan tanpa mengeluarkan sperma, maka Beliau meneruskan puasanya". Kemudian kami datang menemui Ummu Salamah yang dia juga berkata, seperti itu". (No. Hadist: 1796 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Mencium dan mencumbu isteri ketika berpuasa
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, Syu'bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium dan mencumbu (isteri-isteri Beliau) padahal Beliau sedang berpuasa. Dan Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian". Dan Al Aswad berkata; Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata, istilah ma"aarib maknanya adalah keperluan (seperti dalam QS Thoha ayat 18) artinya hajat. Dan berkata, Thowus (seperti dalam QS An-Nuur ayat 31) artinya: orang dungu yang tidak punya keinginan lagi terhadap wanita. (No. Hadist: 1792 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari 'Aisyah radliallahu 'anha. Dan telah diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium isteri-isteri Beliau". 'Aisyah radliallahu 'anha kemudian tertawa. (No. Hadist: 1793 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Orang yang berpuasa makan dan minum karena lupa
Telah menceritakan kepada kami 'Abdan telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum". (No. Hadist: 1797 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Tambahan:Juga diperbolehkan meneruskan puasanya apabila muntah tanpa disengaja

QS.33. Al Ahzab:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَآ أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

5. ... Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Bab:Berbekam bagi orang yang berpuasa
Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayyub dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbekam ketika sedang berihram dan juga berbekam ketika sedang berpuasa.(No. Hadist: 1802 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Kamis, 19 Juni 2014

Kitab Puasa

QS. 2. Al Baqarah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
 

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىۤ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
 

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
 

Bab:Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu atau dua hari
Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abdah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu atau dua hari kecuali bertepatan dengan hari yang sudah menjadi kebiasaan berpuasa bagi salah seorang dari kalian. Berpuasalah kamu karena melihat (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat (bulan). Apabila keadaan berawan menghalangi kalian, maka hitunglah (bulan tersebut) tiga puluh hari, kemudian berbukalah'."
Shahih: Ibnu Majah (1650 dan 1655) dan Muttafaq 'alaih

Hannad menceritakan kepada kami, Waki' memberitakan kepada kami, dari Ali bin Al Mubarak, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu'."
Shahih: Ibnu Majah (1650) dan Muttafaq 'alaih

Abu Sa'id Abdullah bin Sa'id Al Asyaj menceritakan kepada kami, Abu Khalid Al Ahmar memberitahukan kepada kami dari Amr bin Qais, dari Abu Ishak, dari Shilah bin Zufar, ia berkata, "Ketika kami berada di rumah Ammar bin Yasir, ia menghidangkan sate kambing lalu berkata, 'Makanlah'. Sebagian orang berpaling dan berkata, 'Aku sedang puasa'. Ammar lantas berkata, 'Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan (apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum) maka ia telah mendurhakai Abu Al Qasim (Muhammad SAW)'."
Shahih: ibnu Majah (1645)

Qutaihah menceritakan kepada kami, Abu Ahwas menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb bin Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan. Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan sabit-Awal Romadlon) dan berbukalah kamu karena melihatnya (bulan sabit-Awal Shawal). Apabila keadaan sedang mendung, maka sempurnakanlah tiga puluh hari'."
Shahih: Shahih Abu Daud (2016)

Bab:Menghitung/hisab Hilal adalah hadits gharib, hanya sampai pada derajat Hasan atau tidak sampai pada derajat Shahih (Hadits yg Shahih adalah pada hadits diatas - yaitu dng cara melihat hilal)
Muslim bin Hajjaj menceritakan kepada kami, Yahya bin Yahya memberitahukan kepada kami, Abu Mu'awiyah memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Hitung-hitunglah hilal bulan Sya'ban untuk (menetapkan) Ramadhan'."
Hasan: Ash Shahih (565)
Abu Isa berkata, "Hadits Abu Hurairah adalah hadits gharib. Kami tidak tahu hadits seperti di atas kecuali dari hadits Mu'awiyah."

Bab:Setiap Negeri Mengikuti Rukyat Penduduknya (setempat)
Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ismail bin Ja'far memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Abu Harmalah memberitahukan kepada kami, Kuraib memberitahukan kepadaku: Ummu Al Fadhl binti Al Harits mengutusnya (untuk menghadap) Mu'awiyah di Syam. Ia berkata, "Aku sampai ke Syam, lantas menyelesaikan urusanku dan aku melihat hilal (bulan sabit) bulan Ramadhan telah terbit, sedangkan aku berada di Syam. Kami melihat bulan itu pada malam Jum'at. Aku sampai di Madinah pada akhir bulan Ramadhan dan Ibnu Abbas bertanya kepadaku, kemudian ia menyebutkan hilal tersebut, ia bertanya, 'Kapan kamu melihat bulan itu?' Aku menjawab, 'Kami melihatnya pada malam Jum 'at'. Ia bertanya lagi, 'Apakah kamu melihatnya pada malam Jum 'at?' Aku katakan, 'Orang-orang melihatnya, kemudian mereka berpuasa dan Mu'awiyah juga berpuasa'. Kemudian ia berkata, 'Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, dan kami masih berpuasa hingga menyempurnakan tiga puluh hari atau (sampai) kami melihatnya'. Aku lalu berkata, 'Apakah tidak cukup dengan melihat Mu'awiyah dan puasanya?' la menjawab, 'Tidak, Rasulullah SAW memerintahkan kami demikian'. "
Shahih: Shahih Abu Daud (1021) dan Shahih Muslim

> Ada yg berpendapat metode rukyatul hilal adalah metode kuno, dan yg modern adalah metode hisab, karena merupakan hasil dari perhitungan modern. Namun menurut saya pendapat ini aneh, sebab dalam suatu metode modern, justru kita diharuskan melakukan eksperimen nyata untuk menguji suatu perhitungan atau teori. Jika langkah2 atau tahapan dan peralatan yg digunakan dalam eksperimen adalah benar dan ternyata berlawanan dng hasil perhitungan, maka yg digunakan adalah hasil eksperimen. Dan ini menyatakan kesalahan dari perhitungan atau teori. Jika kita selalu menggunakan metode ini untuk urusan dunia, trus mengapa untuk urusan akhirat kita malah mengabaikan hasil eksperimen, yakni rukyatul hilal? Apakah kenyataan bisa mengalahkan perhitungan (hisab)?

> Namun kita juga tidak bisa memungkiri, pada kenyataannya melihat hilal secara langsung tidaklah mudah. Kalau jaman dulu, sebelum ada bangunan tinggi, dan manusia masih terbiasa dng alam yg msh kosong, dng mata telanjang (tanpa dihisab dulu) bs melihat hilal dng mudah, karena tdk ada lampu dan tdk ada bangunan tinggi, juga tdk ada polusi udara.
Jaman sekarang dikembangkan metode gabungan hisab dan rukyat. Posisi hilal dan lama munculnya dihitung (hisab) dulu. Karena memang tdk mudah melihat bulan baru, yg sngt kecil dan sebentar munculnya. Karena itu pasti di hitung dulu, kemudian dibuktikan dng rukyat. Kalau mencoba merukyat tanpa menghitung, hasilnya bakalan kesulitan (sangat² sulit) dalam melihat hilal, distorsinya terlalu tinggi (diufuk).
 
>> Bagaimana dng adanya perbedaan permulaan Romadlon dan hari Raya Idul Fitri? Jawabannya: Ikuti ilmu yg kita ketahui, jangan ikut²an tanpa ilmu ataupun juga jangan karena kelompok, organisasi dan ormas. Kita tidak usah mencela mereka, apabila terjadi perbedaan. Utamakan persatuan dan perdamaian. Karena itu ikutlah waktu yang telah ditentukan pemerintah negara tempat bermukim, untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.
Sesungguhnya Islam itu satu, tidak terpecah menjadi golongan², bukan tanggung jawab kita jika mereka memilih bergolong-golongan dalam agama Allah, seperti dalam firmanNya:
QS. 6. Al An'aam:

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan[golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya], tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

> Perintah untuk Mentaati Pemimpin, sezholim apapun pemimpin itu, asalkan Pemimpin itu Tidak Menyuruh Bermaksiat Terhadap Allah (menurut Al Qur'an dan As Sunnah)

QS.4. An Nisaa':

يَـٰۤأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلأَْمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلأَْخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:
Maksud dari Ulil Amri: Menurut makna lahiriah ayat —hanya Allah yang lebih mengetahui— makna lafaz ini umum mencakup semua ulil amri dari kalangan pemerintah, juga para ulama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Muslim At-Tusi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu 'Urwah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Abu Saleh As-Sjrnman, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. telah bersabda:Kelak sesudahku kalian akan diperintah oleh para pemimpin, maka ada pemimpin yang bertakwa yang memimpin kalian dengan ketakwaannya, dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai dengan kebenaran, dan bantulah mereka. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan jika mereka berbuat buruk, maka baik bagi kalian dan buruk bagi mereka.

> karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah.

Bab:Keutamaan Ramadan
Hannad menceritakan kepada kami, Abdah dan Al Muharibi memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan menegakkan (ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Barangsiapa menegakkan (ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala[I'tikaf di Masjid dan tidak melakukan hubungan suami-istri], maka diampunilah dosanya yang telah lampau'."
Shahih: Ibnu Majah (1326) dan Muttafaq 'alaih

Bab:Larangan Menggunjing dan berdusta
Abu Musa Muhammad Al Mutsana menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar memberitahukan kepada kami, ia berkata, "Ibnu Abu Dzi'b juga menceritakan kepada kami dari Sa'id Al Maaburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan (malah) mengerjakannya, maka Allah tidak butuh kepada makan dan minum yang ditinggalkannya' (Allah tidak memberikan pahala pada puasanya -karena perkataan dustanya-, walaupun secara zhahir ia terlihat berpuasa, dng meninggalkan makan dan minum)."
Shahih: Ibnu Majah (1689) dan Shahih Bukhari

Bab:Usahakan tidak melakukan keburukan sekecil apapun, karena puasa itu untuk Allah
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam bun Yusuf dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Atho' dari Abu Shalih Az Zayyat bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda(hadits Qudsi): "Allah Ta'ala telah berfirman: "Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum(puasa), sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang shaum'. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya, yaitu apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu". (No. Hadist: 1771 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Keutamaan membaca surat al-Ikhlash
Bulan Puasa adalah bulan diturunkannya Al Qur'an ...
Sanggupkah kita membaca Al Qur'an dalam satu malam ...?
Atau membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam ...?
Sanggupkah kita ....?
Tentu kita tidak akan sanggup, walau hanya membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam ...
Jika tidak sanggup, bacalah "QUL HUWALLAHU AHAD.. dst hingga akhir surat" (maksudnya surat al-Ikhlash) ...
Membaca surat al-Ikhlash nilainya adalah sepertiga Al Qur`an ...!!!

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A'masy Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan Adl Dlahak Al Masyriqi dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al Qur`an pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda: "ALLAHUL WAAHID ASH SHAMAD (maksudnya surat al-ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al Qur`an." (No. Hadist: 4628 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
_________________
Beberapa Hadits yg perlu diperhatikan, dan jangan digunakan karena hadits² dibawah ini palsu (hadits Maudlu atau paling baik hanya sampai pada derajat hadits dloif):

1. Hadits: "Barangsiapa yang gembira akan datangnya bulan Romadlon, akan diharamkan jasadnya dari api neraka", hadits ini palsu, jangan dipakai (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah, Pusat Kajian Hadis, Jkt)

2. Hadits Keutamaan sholat terawih, "Barangsiapa melakukan sholat terawih malam I, pahalanya ...., melakukan sholat terawih malam II, pahalanya ..... dst (hingga malam terakhir ramadlon)", hadits ini palsu, tidak ada perawinya, walaupun ada di kitab, namun membuat kitab itu mudah. Saydina Ali ra. sendiri tidak pernah meriwayatkan hadits yg seperti ini (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah)

3. Hadits: "10 hari pertama pada bulan Romadlon adalah rahmat, 10 hari kedua pada bulan Romadlon adalah maghfiroh, dan 10 hari ketiga pada bulan Romadlon adalah 'ithqun min annaar", hadits ini palsu (menurut KH Ali Mustafa) atau dloif (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah)

4. Hadits yg intinya: "Berpuasalah pasti anda sehat", adalah hadits dloif, dan dalam redaksi lainnya malah dikatakan palsu. (menurut DR.H.Zainuddin MZ, Lc,MA)

Pada intinya, menyambut bulan Ramadlon tidak boleh kalau hanya bergembira saja, namun lebih ditekankan kepada amalan yg dikerjakan pada bulan Romadlon. Yaitu, Hendaknya ia berpuasa, seperti puasa yg dijelaskan pada hadits yg shahih, tidak berbohong, tidak membicarakan orang lain, suka membaca Al Qur'an, murah hati, sholat Tahajjud + Witir dan masih banyak lagi. Sehingga tidak cukup jika hanya senang/gembira saja dalam menyambutnya.
Bulan Romadlon adalah satu kesatuan, maksudnya tidak terbagi menjadi 3 (spt no.3), semua hari²nya adalah hari² terbaik, tidak ada bedanya antara hari² dibulan romadlon, semuanya merupakan hari² yg terbaik. Kehilangan salah satu hari saja (dengan sengaja, bukan karena sakit atau dalam perjalanan yg memberatkan) tentunya tidak akan bisa digantikan dng hari² lain diluar romadlon (lebih jelasnya, silahkan membaca artikel sebelum ini yg berjudul: Cahaya berkilauan dng membawa Berkah...).

Selasa, 17 Juni 2014

Cahaya berkilauan dng membawa Berkah yg dinantikan

Akan datang secercah Cahaya berkilauan tapi tak menyilaukan ...
Dengan membawa Berkah yang dinanti-nantikan ...
Menembus awan hitam yang tebal penuh dengan derita ...
Awan tebal yang diciptakan oleh manusia itu sendiri ...

Akan datang bulan yang penuh Berkah, Rahmat, dan AmpunanNya ...
Bulan yang disisi Allah merupakan bulan yang terbaik ...
Siangnya adalah yang terbaik diantara siang ...
Malamnya adalah yang terbaik diantara malam ...

Yaitu suatu bulan dimana manusia yang beriman diundang ...
Oleh Penciptanya untuk menuju perjamuan Ilahi ...
Saat-saat Allah memuliakan hambaNya ...
Saat-saat setiap nafas adalah merupakan tasbih ...
Tidur hambaNya adalah ibadah ...
Segala amal baik hambaNya diterima ...
Dan saat-saat dimana semua do'a dijawab ...

Karena itu hendaklah kamu memohon kepada Allah ...
Dengan niat yang benar dan hati yang suci ...
Sesungguhnya Celakalah orang-orang yang tidak memperoleh pengampunan dibulan yang Agung ini ...

Ingatlah akan lapar dan haus dihari pengadilan yg pasti datang, yakni pengadilan di padang Mahsyar ...
Berikanlah sedekahmu kepada fakir-miskin ...
Hormatilah orang tuamu ...
Sayangilah yang muda diantara kamu ...
Jagalah Lidahmu dari perkataan keji, kotor dan pergunjingan ...
Jagalah telingamu dari suara yang tidak patut didengar ...

Berlaku baiklah terhadap anak yatim ...
Bertaubatlah kepada Allah atas dosa-dosa kamu ...
Berdo'alah dengan tangan terangkat diwaktu sholatmu ...
Dimana Allah melihat hambaNya dengan belas kasihan ...
Ia menjawab apabila mereka menyeru ...
Ia menyambut apabila mereka memanggil ...
Ia memberi apabila mereka meminta ...
Ia akan mengabulkan apabila mereka memohon ...

Wahai manusia ...
Sesungguhnya jiwamu digadaikan dengan amal perbuatanmu ...
Bebaskanlah jiwamu itu dengan memohon pengampunanNya ...
Punggungmu keberatan menanggung dosa-dosamu ...
Maka ringankanlah dengan sujudmu yang lama ...

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah bersumpah ...
Dengan kemuliaan dan kehormatanNya ...
Ia tidak akan mengadzab orang yg melaksanakan sholat & sujud ...
Ia tidak akan menakuti mereka dengan api Neraka ...

Wahai manusia, ...
Apabila kamu memberikan makanan untuk berbuka puasa ...
Maka Allah akan memberikan pahala kepadanya ...
Dilipatgandakan pahala itu dengan tidak terbatas ...
Ia akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu ...

Wahai manusia, ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini memelihara perilaku yang baik ...
Maka Allah akan memudahkannya berjalan diatas shirath ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini suka meringankan makhlukNya ...
Maka Allah akan memudahkan dalam menghisabnya ...
Barangsiapa memutus tali kekerabatan didalamnya ...
Maka Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari Pengadilan ...

MARHABAN YAA ROMADLON ...
SELAMAT DATANG BULAN YANG KAMI RINDUKAN ...
SELAMAT DATANG KEKASIHKU, PUJAANKU, HARAPANKU ...

WAHAI PECINTA KEBAIKAN ... BERGEMBIRALAH ... !
WAHAI PECINTA KEJAHATAN ... HENTIKANLAH ... !!!