Senin, 26 Januari 2015

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang pribadi yang lembut

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah telah menceritakan kepada kami Malik bin Al Huwairits berkata, "Kami mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ketika itu kami masih muda sejajar umurnya, kemudian kami bermukim di sisi beliau selama dua puluh malam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang pribadi yang lembut. Maka ketika beliau menaksir bahwa kami sudah rindu dan selera terhadap isteri-isteri kami, beliau bersabda: "Kembalilah kalian untuk menemui isteri-isteri kalian, berdiamlah bersama mereka, ajari dan suruhlah mereka, " dan beliau menyebut beberapa perkara yang sebagian kami ingat dan sebagiannya tidak, "dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling dewasa menjadi imam."(No. Hadist: 6705 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Yahya dari At Taimi dari Abu Utsman dari Ibn Mas'ud berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah adzan bilal mencegah kalian dari makan sahur, sebab dia adzan -atau ia katakan dengan redaksi 'memanggil'- agar orang yang shalat malam pulang, dan yang tidur agar bangun, fajar itu bukan, beliau katakan begini -Yahya mendemontrasikannya dengan menyatukan kedua telapak tangannya-hingga beliau katakan begini -Yahya mendemontrasikannya dengan merenggangkan kedua jarinya, telunjuk dan jari tengah."(No. Hadist: 6706 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami 'Abdul Aziz bin Muslim telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, aku mendengar Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam, silahkan makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan."(No. Hadist: 6707 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata, "Ada seorang laki-laki terbunuh pada masa Rasulullah SAW. Lalu, pembunuhnya dihadapkan kepada walinya, lalu ia berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak bermaksud membunuhnya." Maka Rasulullah SAW bersabda kepada keluarga korban, 'Sesungguhnya, jika pembunuhnya ini jujur dengan perkataannya, dan kamu tetap membunuhnya —tetap menuntut hukum qishash dijatuhkan atasnya— maka kamu akan masuk neraka.' Lalu lelaki itu dibiarkan berlalu darinya.
Abu Hurairah berkata, "Kedua tangannya masih terikat ke belakang, ia pergi dengan menyeret tali yang mengikat kedua tangannya. Lalu —setelah itu— lelaki tersebut dikenal dengan sebutan Dzu An-Nis'ah."
Shahih: Ibnu Majah (2690).

Abu Kuraib menceritakan kepada kami. Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr. dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Suatu ketika, Ma'iz Al Aslami datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, 'Sesungguhnya ia telah berzina.' maka Rasulullah SAW berpaling, lalu Ma'iz menghadap beliau dari arah lain kemudian berkata. 'Sesungguhnya ia telah berzina.' Maka Rasulullah SAW kembali berpaling, Ma'iz lalu menghadap beliau dari arah lain dan berkata, 'Sesungguhnya dia telah berzina.' Hingga pada kali yang keempat, lalu diperintahkan untuk membawanya ke Harrah (sebuah bukit berbatu) lalu ia dirajam dengan batu. [Ada seorang laki2 yg mengaku telah berzina kepada Rasulullah SAW, namun diacuhkan oleh beliau dng menghadap ke arah lain. Namun laki2 itu terus mengaku hingga laki2 itu berkata sampai 4 kali. Pada pengakuan yg keempat, baru laki2 itu diperintahkan unt dirajam dengan batu]

Namun, ketika terkena batu, ia berlari kencang, hingga melewati seorang laki-laki yang sedang membawa tulang dagu unta. maka laki-laki itu memukulnya dengan tulang tersebut dan orang-orang pun memukulinya hingga mati."
Kemudian para sahabat menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Mereka mengatakan bahwa Ma'iz lari saat terkena batu dan kemudian ia menemui ajalnya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Kenapa kalian tidak membiarkannya saja?!"
Hasan shahih: Ibnu Majah (2554)

Keterangan:
Karena laki2 itu lari dan tidak mau dirajam, sebaiknya dibiarkan saja. Tidak usah dirajam, sebab ia nanti pasti menemui pengadilan Akhirat yg sangat adil.
Padahal jika laki2 itu mau dirajam, maka semua dosa2nya akan diampuni oleh Allah, namun karena tidak mau dirajam, maka terserah Allah, apakah akan menyiksanya ataukah akan mengampuninya.

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud bahwa Abu Hurairah berkata, "Ketika kami di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari arab badui (nomade, primitife) berujar "Wahai Rasulullah, putuskanlah aku dengan kitabullah." Lantas lawan sengketanya berkata, "Dia benar Wahai Rasulullah, putuskanlah dia dengan kitabullah dan ijinkanlah aku untuk bicara." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Silahkan engkau bicara! Orang itu lalu berkata, "Aku mempunyai anak laki-laki yang menjadi pembantu orang ini. Lantas anakku berzina dengan isterinya, orang-orang mengabarkan kepadaku bahwa anak laki-lakiku harus dirajam, hanya aku kemudian menebusnya dengan seratus ekor unta dan seorang hamba sahaya. Kemudian aku bertanya kepada ulama, dan mereka mengabarkan kepadaku bahwa isterinya harus dirajam sedang anakku dicambuk (dera) sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun." Lantas nabiyullah bersabda: "Sungguh, akan aku putuskan kalian berdua dengan kitabullah, adapun hamba sahaya dan kambing, maka kembalikanlah keduanya, adapun anak laki-lakimu ia harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, adapun engkau wahai Unais Al aslami -yaitu seorang laki-laki dari bani Aslam-temuilah si wanita, jika ia MENGAKU, maka rajamlah dia." Unais kemudian bergegas pergi menemui si wanita dan ia mengaku, lantas Unais merajamnya."(No. Hadist: 6718 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Si anak laki-laki sudah mengaku, sehingga ia harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun (hukuman bagi pelaku zina yg belum menikah).

Jika si wanita mengaku, maka hukuman rajam dilaksanakan (hukuman bagi pelaku zina yg sudah pernah menikah), dan dosa2 wanita itu diampuni Allah. Sehingga setelah hukuman selesai, kaum Muslimin men-sholatinya.
Jika si wanita itu Tidak mengaku, maka hukuman rajam Tidak jadi dilaksanakan, tinggal si wanita itu menunggu pengadilan di akhirat kelak. Padahal, persidangan Akhirat lebih dahsyat dari hukuman rajam dunia, dan terserah Allah mau mengampuni atau malah menyiksanya.

Mengapa butuh pengakuan dari pelaku? Sebab Tidak adanya 4 saksi yang menyaksikan perbuatan itu.
Wa Allahu 'alam

Senin, 19 Januari 2015

Perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk mengikuti apa yang telah disepakati oleh ahli Ilmu

Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin Abdullah as Salmi, bahwa seorang arab badui berbaiat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk Islam, lantas si arab badui terkena demam di Madinah, sehingga ia menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, tolong batalkanlah baiatku, " namun Rasulullah enggan. Kemudian ia mendatangi beliau lagi dan berkata, "Tolong batalkanlah baiatku!" Namun Rasulullah tetap enggan. Kemudian ia datang lagi untuk kali ketiga dan berkata, "Tolong batalkanlah baiatku." Namun Rasulullah menolak, lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Madinah itu bagaikan mesin tungku api, ia membersihkan karat-karat (besi) dan menyaring yang baik-baik saja."(No. Hadist: 6777 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Si Arab badui tersebut merasa mendapatkan "sial" karena telah berbaiat/berjanji setia kepada Rasulullah SAW. Kemungkinan baiatnya adalah mencintai Nabi dan ingin hidup berdekatan dengan Nabi.
Namun karena merasa mendapatkan "sial" dengan terkena demam selama di Madinah, maka si badui tersebut ingin keluar dari Madinah dan ia ingin membatalkan baiatnya itu. Namun hal itu dilarang oleh Nabi SAW, karena sebenarnya penyakitnya itu untuk menghilangkan dosa (bukan merupakan kesialan), dan sangat utama untuk tinggal di Madinah, "Madinah itu bagaikan mesin tungku api, ia membersihkan karat-karat (besi) dan menyaring yang baik-baik saja".

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah berkata, telah menceritakan kepadaku Ibn Abbas radliallahu 'anhu, ia berkata, "Dahulu aku membacakan Abdurrahman bin Auf. Dikala Umar melakukan haji yang terakhir kalinya, Abdurrahman berkata di Mina, "Sekiranya saja engkau melihat Amirul Mukminin ketika didatangi seseorang yang berkata, si A berkata, 'Kalaulah Amirul Mukminin meninggal, niscaya aku berbaiat kepada si fulan dan si fulan." Lantas Umar berkata, "Niscaya sore ini aku berdiri memberi peringatan orang-orang yang ingin merebut wewenang mereka." Abdurrahman berkata, "Hai, jangan kau lakukan! Sebab musim haji ini menghimpun para pemimpin manusia yang memenuhi majlismu!" Maka aku khawatir jangan-jangan mereka tidak menggunakan saranmu sesuai tempatnya sehingga mereka tafsirkan tidak tepat sasaran, maka tangguhkan saja hingga Madinah menjadi tempat hijrah dan tempat yang aman, serta dipenuhi oleh sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari muhajirin dan Anshar. Kemudian mereka menjaga saran-saranmu dan menafsirkannya sesuai tempatnya." Lantas Ibn Abbas berkata, "Demi Allah, sungguh aku berdiri bersamanya di awal-awal aku berdiri bersamanya di Madinah Munawwarah." Ibn Abbas melanjutkan, "Lantas kami tiba di Madinah, dan ia katakan, "Allah telah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa kebenaran dan menurunkan al Kitab bersamanya, yang diantara ayat yang diturunkan adalah ayat rajam."(No. Hadist: 6778 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Zurarah telah menceritakan kepada kami Alqasim bin Malik dari Al Ju'aid aku mendengar As Saib bin Yazid berkata, "Satu sha' di jaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah satu mud lebih sepertiga (mud kalian) hari ini, dan bahkan terkadang ditambahi lagi." Alqasim bin Malik mendengar dari Ju'aid.(No. Hadist: 6785 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keutamaan Madinah:
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memanjatkan doa: "Ya Allah, berilah barakah bagi mereka dalam takaran mereka, juga berkahilah mereka dalam sha' dan mud mereka, " maksudnya bagi penduduk Madinah."(No. Hadist: 6786 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari 'Amru mantan budak Muththalib, dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu, terlihat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam gunung Uhud, lantas beliau bersabda: "Inilah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan aku sekarang mengharamkan apa yang di antara kedua gunungnya (Madinah)." Hadits ini dikuatkan oleh Sahl dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang Uhud."(No. Hadist: 6788 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Ali telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Malik dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafs bin 'Ashim dari Abu Hurairah mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman surga, dan mimbarku diatas telagaku."(No. Hadist: 6790 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibn Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menetapkan miqat (tempat bermula ibadah haji atau umrah) di qarnul manazil bagi penduduk Nejed, Juhfah untuk penduduk Syam, dan Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah." Ibnu Umar berkata, "Aku mendengar ini dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan telah sampai berita kepadaku bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dan Yalamlam untuk penduduk Yaman." Lalu Ibnu Umar ditanya bagaimana dengan penduduk Irak, lantas ia menjawab, "Ketika itu Irak belum ada."(No. Hadist: 6798 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Silahkan membaca juga: Janganlah diikuti, membaiat seseorang dengan tanpa musyawarah kaum muslimin

Selasa, 13 Januari 2015

Hati-Hati dengan Mushaf Cetakan Indonesia

Tulisan ini saya buat bukan untuk membuat resah masyarakat Indonesia, namun untuk memberitahu bahwa ada diantara Mushhaf cetakan Indonesia yg terdapat kesalahan cetak, mulai dari kesalahan ringan hingga fatal.
Karena itu harapan saya, tolong diperiksa Mushaf Al Qur’an anda.
Jika ada ketidak-cocokan dari beberapa ayat yg saya sebutkan ini, maka ada kemungkinan masih ada lagi kesalahan cetak yg lebih fatal di ayat lainnya.
Tolong diperiksa ayat2 berikut ini, sebagai indikator bahwa Mushaf yg anda baca itu benar atau terdapat kesalahan cetak.
Indikatornya coba lihat:
1. QS.9.At-Taubah: 120,
2. QS.22.Al Hajj: 26,
3. QS.36.Yaa Siin: 80

SARAN:
Mohon diperiksa Mushaf Alqur'an yg cetakan Indonesia milik anda. Jika ada kekeliruan cetak (spt yg saya berikan contoh dibawah ini), Mohon untuk segera menukarkan atau menggantinya. Terimakasih



____________________________

Marilah kita selalu membaca AlQur'an setiap hari, kalau membaca koran saja bisa tamat setiap hari, maka luangkanlah sedikit waktu, dengan membaca Al Qur'an, istiqomah, cukup 1 juz tiap hari.
Setiap selesai sholat fardlu, bacalah 2 lembar, sehingga dengan sholat 5 waktu bisa selesai 1 juz (10 lembar).
Satu bulan, insyaAllah khatam.

Jangan sampai kita meninggalkan firman Allah, yg bisa berakibat ditinggalkan-Nya (Rahmat dan Ampunan-Nya). Banyak waktu yg kita miliki, 24 jam, maka sisihkanlah tiap hari secara istiqomah untuk membaca firman-Nya, Al Qur'an.

Senin, 12 Januari 2015

Agama adalah nasehat (loyalitas) kepada Allah, Rasul-Nya dan para pemimpin yang mengikuti Rasul-Nya

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma'il berkata, telah menceritakan kepadaku Qais bin Abu Hazim dari Jarir bin Abdullah berkata: "Aku telah membai'at Rasulullah untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menasehati kepada setiap muslim". (No. Hadist: 55 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nu'man berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Ziyad bin 'Alaqah berkata; saya mendengar Jarir bin Abdullah berkata ketika Al Mughirah bin Syu'bah meninggal, sambil berdiri dia memuji Allah dan mensucikan-Nya, berkata: "Wajib atas kalian bertakwa kepada Allah satu-satunya dan tidak menyekutukannya, dan dengan penuh ketundukan dan ketenangan sampai datang pemimpin pengganti, dan sekarang datang penggantinya, " kemudian dia berkata: "Mintakanlah maaf kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala buat pemimpin kalian ini (Al Mughirah), karena dia suka memberi maaf." Lalu berkata: "Amma ba'du, sesungguhnya aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian aku berkata: "Aku membai'at engkau untuk Islam". Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi syarat dan menasehati kepada setiap muslim, maka aku membai'at Beliau untuk perkara itu, dan demi Pemilik Masjid ini, sungguh aku akan selalu memberi nasihat kepada kalian" Kemudian dia beristighfar lalu turun dari mimbar. (No. Hadist: 56 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Mentaati pemimpin yang berarti mentaati Allah, asalkan pemimpin itu benar dijalan Allah:
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Al Hakam, aku mendengar Abu Wa'il berkata; "Ketika 'Ali mengutus 'Amar dan Al Hasan ke kota Kufah untuk mengerahkan mereka berjihad, 'Ammar menyampaikan khuthbah. Katanya; "Sungguh aku mengetahui bahwa dia (maksudnya Aisyah) adalah istri beliau (shallallahu 'alaihi wasallam) di dunia dan akhirat, akan tetapi sekarang Allah menguji kalian apakah akan mentaati-Nya (mentaa'ti 'Ali radliallahu 'anhuma sebagai pemimpin yang berarti mentaati Allah) atau mengikuti dia ('Aisyah radliallahu 'anha) ".(No. Hadist: 3488 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 05 Januari 2015

Kisah Kematian Umar bin Khattab dan kesepakatan atas Utsman bin Affan

Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il telah bercerita kepada kami Abu 'Awanah dari Hushain dari 'Amru bin Maimun berkata; Aku melihat 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu di Madinah beberapa hari sebelum dia ditikam. Ia berdiri di hadapan Hudzaifah bin Al Yaman dan 'Utsman bin Hunaif. 'Umar bertanya; "Bagaimana yang kalian berdua kerjakan?. Apakah kalian berdua khawatir membebani penduduk Sawad (yang mereka terkena pajak) dengan sesuatu yang melebihi kemampuannya?. Keduanya menjawab; "Kami membebaninya dengan kebijakan yang sesuai kemampuannya, tidak ada kelebihan beban yang besar". 'Umar berkata; "Jika Allah Subhaanahu wa Ta'ala menyelamatkan aku, tentu akan kubiarkan janda-janda penduduk 'Iraq tidak membutuhkan seorang laki-laki setelah aku untuk selama-lamanya". Perawi berkata; "Setelah pembicaraan itu, 'Umar tidak melewati hari-hari kecuali hanya sampai hari ke empat semenjak dia terkena mushibah (tikaman).
Perawi ('Amru) berkata; "Aku berdiri dan tidak ada seorangpun antara aku dan dia kecuali 'Abdullah bin 'Abbas pada Shubuh hari saat 'Umar terkena mushibah. Shubuh itu, 'Umar hendak memimpin shalat dengan melewati barisan shaf lalu berkata; "Luruskanlah shaf". Ketika dia sudah tidak melihat lagi pada jama'ah ada celah-celah dalam barisan shaf tersebut, maka 'Umar maju lalu bertakbir. Sepertinya dia membaca surat Yusuf atau an-Nahl atau seperti surat itu pada raka'at pertama hingga memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat. Ketika aku tidak mendengar sesuatu darinya kecuali ucapan takbir tiba-tiba terdengar dia berteriak; "Ada orang yang membunuhku, atau katanya; "seekor anjing telah menerkamku", rupanya ada seseorang yang menikamnya dengan sebilah pisau bermata dua. Penikam itu tidaklah melewati orang-orang di sebelah kanan atau kirinya melainkan dia menikamnya pula hingga dia telah menikam sebanyak tiga belas orang yang mengakibatkan tujuh orang diantaranya meninggal dunia. Ketika seseorang dari kaum muslimin melihat kejadian itu, dia melemparkan baju mantelnya dan tepat mengenai si pembunuh itu. Dan ketika dia menyadari bahwa dia musti tertangkap (tak lagi bisa menghindar), dia bunuh diri. 'Umar memegang tangan 'Abdur Rahman bin 'Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan 'Umar pasti dapat melihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya tidak mendengar suara 'Umar. Mereka berkata; "Subhaanalah, Subhaanalah (maha suci Allah) ". Maka 'Abdur Rahman melanjutkan shalat jama'ah secara ringan. Setelah shalat selesai, 'Umar bertanya; "Wahai Ibnu 'Abbas, lihatlah siapa yang telah membunuhku". Ibnu 'Abbas berkeliling sesaat lalu kembali dan berkata; "Budaknya Al Mughirah". 'Umar bertanya; "O, si budak yang pandai membuat pisau itu?. Ibnu 'Abbas menjawab; "Ya benar". 'Umar berkata; "Semoga Allah membunuhnya, sungguh aku telah memerintahkan dia berbuat ma'ruf (kebaikan). Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beragama Islam. Sungguh dahulu kamu dan bapakmu suka bila orang kafir non arab banyak berkeliaran di Madinah. 'Abbas adalah orang yang paling banyak memiliki budak. Ibnu 'Abbas berkata; "Jika anda menghendaki, aku akan kerjakan apapun. Maksudku, jika kamu menghendaki kami akan membunuhnya". 'Umar berkata; "Kamu berbohong, (sebab mana boleh kalian membunuhnya) padahal mereka telah telanjur bicara dengan bahasa kalian, shalat menghadap qiblat kalian dan naik haji seperti haji kalian".
Kemudian 'Umar dibawa ke rumahnya dan kami ikut menyertainya. Saat itu orang-orang seakan-akan tidak pernah terkena mushibah seperti hari itu sebelumnya. Diantara mereka ada yang berkata; "Dia tidak apa-apa". Dan ada juga yang berkata; "Aku sangat mengkhawatirkan nasibnya". Kemudian 'Umar disuguhkan anggur lalu dia memakannya namun makanan itu keluar lewat perutnya. Kemudian diberi susu lalu diapun meminumnya lagi namun susu itu keluar melalui lukanya. Akhirnya orang-orang menyadari bahwa 'Umar segera akan meninggal dunia. Maka kami pun masuk menjenguknya lalu diikuti oleh orang-orang yang datang dan memujinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda seraya berkata; "Berbahagialah anda, wahai Amirul Mu'minin dengan kabar gembira dari Allah untuk anda karena telah hidup dengan mendampingi (menjadi shahabat) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan yang terdahulu menerima Islam berupa ilmu yang anda ketahui. Lalu anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan anda telah menjalankannya dengan adil lalu anda mati syahid". 'Umar berkata; "Aku sudah merasa senang jika masa kekhilafahanku berakhir netral, aku tidak terkena dosa dan juga tidak mendapat pahala." Ketika pemuda itu berlalu, tampak pakaiannya menyentuh tanah, maka 'Umar berkata; "Bawa kembali pemuda itu kepadaku". 'Umar berkata kepadanya; "Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu karena yang demikian itu lebih mengawetkan pakaianmu dan lebih membuatmu taqwa kepada Rabbmu. Wahai 'Abdullah bin 'Umar, lihatlah berapa jumlah hutang yang menjadi kewajibanku". Maka mereka menghitungnya dan mendapatkan hasilnya bahwa hutangnya sebesar delapan puluh enam ribu atau sekitar itu. 'Umar berkata; "Jika harta keluarga 'Umar mencukupi bayarlah hutang itu dengan harta mereka. Namun apabila tidak mencukupi maka mintalah kepada Bani 'Adiy bin Ka'ab. Dan apabila harta mereka masih tidak mencukupi, maka mintalah kepada masyarakat Quraisy dan jangan mengesampingkan mereka dengan meminta kepada selain mereka lalu lunasilah hutangku dengan harta-harta itu. Temuilah 'Aisyah, Ummul Mu'minin radliallahu 'anha, dan sampaikan salam dari 'Umar dan jangan kalian katakan dari Amirul Muminin karena hari ini bagi kaum mu'minin aku bukan lagi sebagai pemimpin dan katakan bahwa 'Umar bin Al Khaththab meminta izin untuk dikuburkan di samping kedua shahabatnya". Maka 'Abdullah bin 'Umar memberi salam, meminta izin lalu masuk menemui 'Aisyah radliallahu 'anha. Ternyata 'Abdullah bin 'Umar mendapatkan 'Aisyah radliallahu 'anha sedang menangis. Lalu dia berkata; "'Umar bin Al Khathtab menyampaikan salam buat anda dan meminta ijin agar boleh dikuburkan disamping kedua sahabatnya (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakr radliallahu 'anhu) ". 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu untuk diriku namun hari ini aku tidak akan lebih mementingkan diriku". Ketika 'Abdullah bin 'Umar kembali, dikatakan kepada 'Umar; "Ini dia, 'Abdullah bin 'Umar sudah datang". Maka 'Umar berkata; "Angkatlah aku". Maka seorang laki-laki datang menopangnya. 'Umar bertanya: "Berita apa yang kamu bawa?". Ibnu 'Umar menjawab; "Berita yang anda sukai, wahai Amirul Mu'minin. 'Aisyah telah mengizinkan anda". 'Umar berkata; "Alhamdu lillah. Tidak ada sesuatu yang paling penting bagiku selain hal itu. Jika aku telah meninggal, bawalah jasadku kepadanya dan sampaikan salamku lalu katakan bahwa 'Umar bin Al Khaththab meminta izin. Jka dia mengizinkan maka masukkanlah aku (kuburkan) namun bila dia menolak maka kembalikanlah jasadku ke kuburan Kaum Muslimin. Kemudian Hafshah, Ummul Mu'minin datang dan beberapa wanita ikut bersamanya. Tatkala kami melihatnya, kami segera berdiri. Hafshah kemudian mendekat kepada 'Umar lalu dia menangis sejenak. Kemudian beberapa orang laki-laki meminta izin masuk, maka Hafshah masuk ke kamar karena ada orang yang mau masuk. Maka kami dapat mendengar tangisan Hafshah dari balik kamar. Orang-orang itu berkata; "Berilah wasiat, wahai Amirul Mu'minin. Tentukanlah pengganti anda". 'Umar berkata; "Aku tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka atau segolongan mereka yang ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat beliau ridla kepada mereka. Maka dia menyebut nama 'Ali, 'Utsman, Az Zubair, Thalhah, Sa'ad dan 'Abdur Rahman. Selanjutnya dia berkata; "'Abdullah bin 'Umar akan menjadi saksi atas kalian. Namun dia tidak punya peran dalam urusan ini, dan tugas itu hanya sebagai bentuk penghibur baginya. Jika kepemimpinan jatuh ketangan Sa'ad, maka dialah pemimpin urusan ini. Namun apabila bukan dia, maka mintalah bantuan dengannya. Dan siapa saja diantara kalian yang diserahi urusan ini sebagai pemimpin maka aku tidak akan memecatnya karena alasan lemah atau berkhiyanat". Selanjutnya 'Umar berkata; "Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memahami hak-hak kaum Muhajirin dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar selalu berbuat baik kepada Kaum Anshar yang telah menempati negeri (Madinah) ini dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) agar menerima orang baik, dan memaafkan orang yang keliru dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada seluruh penduduk kota ini karena mereka adalah para pembela Islam dan telah menyumbangkan harta (untuk Islam) dan telah bersikap keras terhadap musuh. Dan janganlah mengambil dari mereka kecuali harta lebih mereka dengan kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui karena mereka adalah nenek moyang bangsa Arab dan perintis Islam, dan agar diambil dari mereka bukan harta pilihan (utama) mereka (sebagai zakat) lalu dikembalikan (disalurkan) untuk orang-orang fakir dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar menunaikan perjanjian kepada ahlu Dzimmah (Warga non muslim yang wajib terkena pajak), yaitu orang-orang yang dibawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam (asalkan membayar pajak) dan mereka (ahlu dzimmah) yang berniyat memerangi harus diperangi, mereka juga tidak boleh dibebani selain sebatas kemampuan mereka". Ketika 'Umar sudah menghembuskan nafas, kami keluar membawanya lalu kami berangkat dengan berjalan. 'Abdullah bin 'Umar mengucapkan salam (kepada 'Aisyah radliallahu 'anha) lalu berkata; "'Umar bin Al Khaththab meminta izin". 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Masukkanlah". Maka jasad 'Umar dimasukkan ke dalam liang lahad dan diletakkan berdampingan dengan kedua shahabatnya. Setelah selesai menguburkan jenazah 'Umar, orang-orang (yang telah ditunjuk untuk mencari pengganti khalifah) berkumpul. 'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Jadikanlah urusan kalian ini kepada tiga orang diantara kalian. Maka Az Zubair berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Ali. Sementara Thalhah berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Utsman. Sedangkan Sa'ad berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Abdur Rahman bin 'Auf. Kemudian 'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Siapa diantara kalian berdua yang mau melepaskan urusan ini maka kami akan serahkan kepada yang satunya lagi, Allah dan Islam akan mengawasinya Sungguh seseorang dapat melihat siapa yang terbaik diantara mereka menurut pandangannya sendiri. Dua pembesar ('Utsman dan 'Ali) terdiam. Lalu 'Abdur Rahman berkata; "Apakah kalian menyerahkan urusan ini kepadaku. Allah tentu mengawasiku dan aku tidak akan semena-mena dalam memilih siapa yang terbaik diantara kalian". Keduanya berkata; "Baiklah". Maka 'Abdur Rahman memegang tangan salah seorang dari keduanya seraya berkata; "Engkau adalah kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan dari kalangan pendahulu dalam Islam (senior) sebagaimana yang kamu ketahui dan Allah akan mengawasimu. Seandainya aku serahkan urusan ini kepadamu tentu kamu akan berbuat adil dan seandainya aku serahkan urusan ini kepada 'Utsman tentu kamu akan mendengar dan menta'atinya". Kemudian dia berbicara menyendiri dengan 'Utsman dan berkata sebagaimana yang dikatakannya kepada 'Ali. Ketika dia mengambil perjanjian bai'at, 'Abdur Rahman berkata; "Angkatlah tanganmu wahai 'Utsman". Maka Abdur Rahman membai'at 'Utsman lalu 'Ali ikut membai'atnya kemudian para penduduk masuk untuk membai'at 'Utsman".
(No. Hadist: 3424 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Beberapa Hal yang bisa diambil Hikmahnya:
1. Seorang pemimpin umat hendaknya menjadi imam sholat.
2. Sebelum memulai sholat, imam hendaknya memperhatikan shof makmumnya, apakah sudah lurus dan rapat.
3. Boleh melakukan sesuatu selain gerakan sholat apabila terdesak, misalkan melemparkan mantel yg dipakai, supaya pembunuh tertangkap. Tanpa membatalkan sholat.
4. Imam yg tidak bisa meneruskan sholat karena suatu sebab, hendaknya segera menarik salah satu makmum terdekat untuk menggantikannya sebagai imam. Dan imam pengganti tersebut hendaknya meneruskan sholat imam pertama (dengan ringan), tanpa mengulanginya.
5. Bagi yg pakaiannya menyentuh tanah (pakaian terlalu panjang hingga dibawah mata kaki), hendaknya mengangkat pakaiannya karena yang demikian itu lebih mengawetkan pakaian dan lebih membuat bertaqwa kepada Allah.
6. Berwasiat supaya yg menjadi pemimpin adalah orang yg bertaqwa, jujur, amanah dan yg dekat dengan Allah
7. Jangan bernafsu menjadi pemimpin, karena amanah yg ditanggungnya sangatlah berat, yakni hisab sangat berat kelak diakhirat oleh Allah SWT.
8. Hendaknya pemimpin itu memperhatikan rakyatnya, mengayomi, melindungi, mensejahterakan rakyatnya dan tidak suka dendam namun berlaku baik dan adil kepada rakyatnya.
9. Zakat / sodaqoh hendaknya diutamakan/didahulukan diberikan kepada orang yg berhak yg terdekat/tetangga kita.
10. Seseorang yg diberi amanah mengelola dana zakat, hendaknya bersikap amanah, jujur, dan teliti. Hendaknya mengambil harta dari muzakky (pezakat) dng cara yg baik dari harta berlebih meraka dng sukarela dan tidak mengambil harta pokok mereka.
11. Sebelum meninggal boleh berwasiat, dan yg diberi wasiat wajib melaksanakan, selama wasiat itu tidak bertentangan dng syariat Agama Islam.

Fitnah datang bergelombang bagaikan gelombang lautan setelah Umar ra:
Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada kami Syaqiq Aku mendengar Khudzaifah menuturkan; ketika kami duduk-duduk bersama Umar, tiba-tiba ia bertanya; 'Siapa diantara kalian yang menghapal sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang fitnah? ' maka Khudzaifah menjawab; 'Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar ma'ruf nahyi mungkar.' Umar berkata; 'Bukan tentang ini yang aku tanyakan kepadamu akan tetapi tentang (fitnah) yang bergelombang seperti gelombang lautan.' Khudzaifah berkata; 'kamu tidak terkena dampaknya dari fitnah itu ya amirul mukminin, sebab antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu tertutup.' Umar bertanya; 'Apakah pintunya dipecahkan atau dibuka? ' Khudzaifah menjawab; 'bahkan di pecahkan.' Maka Umar berkata; 'kalau begitu tidak ditutup selama-lamanya.' aku menjawab; 'Betul.' Saya bertanya kepada Khudzaifah; 'Apakah Umar mengetahui pintu itu? ' Khudzaifah menjawab; 'Ya, sebagaimana ia mengetahui bahwa setelah esok ada malam, yang demikian itu karena aku menceritakan Hadits kepadanya dengan tanpa kekeliruan, maka kami khawatir untuk menanyakan kepada Umar siapa pintu sebenarnya.' lalu kami perintahkan kepada Masruq untuk bertanya kepada Khudzaifah; (siapakah pintu itu), Khudzaifah menjawab; 'Umar.'(No. Hadist: 6567 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Syarik bin Abdullah dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Musa Al Asy'ari menuturkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suatu hari keluar ke sebuah kebun Madinah untuk suatu keperluannya, dan aku mengikuti di belakang beliau. Tatkala beliau masuk kebun, aku duduk di pintunya dan kukatakan dalam hati; 'Hari ini aku menjadi penjaga pintu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sekalipun beliau tidak memerintahkanku.' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terus pergi dan menuntaskan hajatnya, beliau duduk diatas emper sumur dan menyingkap kedua betisnya dan memasukkan keduanya ke dalam sumur (kolam). Abu Bakar datang dan meminta izin kepada beliau untuk masuk, maka aku berkata; 'kamu tetap di tempatmu sampai aku meminta izin untukmu! ' Abu bakar pun berhenti hingga aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan kukatakan; 'ya Nabiyullah, Abu Bakar memintamu izin kepadamu.' Nabi menjawab: "berilah dia izin, dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga!" Abu bakar pun masuk kebun dan datang dari sebelah kanan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu ia menyingkap kedua betisnya dan masukkannya kedalam sumur (kolam). Kemudian datanglah Umar, maka aku berkata; 'kamu tetap di tempatmu sampai aku meminta izin untukmu! ' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lantas berkata; "Berilah dia izin, dan berilah kabar gembira dengan surga, " maka dia pun datang dari sebelah kiri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menyingkap kedua betisnya kemudian memasukkannya kedalam sumur, maka emperan sumur telah menjadi sesak, sehingga tak ada lagi ruangan sumur yang luang. Kemudian datanglah Utsman, maka aku katakan 'kamu tetap di tempatmu sampai aku meminta izin untukmu! ' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berilah dia izin, dan berilah kabar gembira dengan surga, dan bersama surga itu terdapat malapetaka yang akan menimpanya." Utsman pun masuk tetapi dia tidak menemukan tempat duduk bersama mereka maka dia pun berputar sehingga datang dari arah depan mereka di mulut sumur (kolam), kemudian dia menyingkap kedua betisnya dan memasukkan kedua kakinya kedalam sumur. Maka aku berkhayal saudaraku, dan aku berdoa kepada Allah agar cepat-cepat datang. Ibnul Musayyab berkata; 'maka aku takwilkan dari peristiwa itu, kuburan mereka akan menyatu disini, sedang kuburan Utsman akan tersendiri.(No. Hadist: 6568 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 29 Desember 2014

Sholat dapat mencegah Kemungkaran?

Seringkali dalam benak kebanyakan manusia bertanya-tanya ...
Dia kan seorang muslim, tapi kok berbuat kejahatan?
Dia kan rajin mengerjakan sholat, mengapa masih berbuat kejahatan?
Katanya dari Al Qur'an, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan- perbuatan keji dan mungkar"?
Kok dia masih mengerjakan perbuatan keji dan mungkar?

Subhanallah ...
Jangan tergesa-gesa berprasangka buruk ...
Apakah tidak kita perhatikan didalam Al Qur'an, apakah Allah memerintahkan untuk mengerjakan Sholat ataukah Mendirikan sholat? Ternyata setelah diteliti, perintahNya adalah MENDIRIKAN Sholat dan bukan mengerjakan Sholat!
Bagaimanakah arti dari mendirikan sholat? Marilah kita mencari arti/maksudnya dengan melihat contoh dari Nabi SAW, apakah yg dikerjakan beliau dalam MENDIRIKAN Sholat (tentunya Nabi SAW, PASTI mendirikan Sholat dan bukan sekedar mengerjakan Sholat)
Allah telah menurunkan syaria'atNya melalui NabiNya, dan NabiNya telah membuktikan kebenaran ayat tersebut. Nabi SAW. adalah contoh teladan yang baik, bagi orang² yang mau mengikuti beliau. Apakah orang yg telah berbuat kemungkaran tersebut telah menjalankan syariat Sholat dengan benar, sesuai dengan yg dicontohkan Nabi SAW? atau orang tersebut hanya melakukan sholat dng caranya sendiri, tanpa mencontoh Nabi SAW.?
Mari kita perhatikan satu-persatu contoh teladan Nabi SAW., supaya kita bisa terhindar dari kejahatan dan tindakan² batil ataupun tindakan buruk lainnya ...

1. Sudahkah ia mendirikan sholat fardlu, 5 waktu, di Masjid ketika terdengar adzan panggilan sholat dan dilakukan berjamaah? Bahkan ada pendapat, yang menyatakan, tidak sahnya solat fardlu, bagi laki² yg sdh baligh, apabila tidak dilakukan di Masjid, padahal adzan telah terdengar, kecuali ada udzur yg memang diperbolehkan (misal: sakit keras shg tdk bs pergi ke Masjid).
2. Sudahkah ia berdzikir setelah selesai Sholat, ataukah ia langsung beranjak pergi setelah sholat?
3. Seberapa banyak ia memperhatikan dosa² dirinya sendiri dan seberapa banyak ia beristighfar?
4. Apakah ia mengerjakan beberapa solat sunnah, seperti sholat tahajjud dan witir?
5. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak pernah terlintas kejahatan didalam hatinya, sudahkah ia mengucapkan istighfar, dan segera mengingat Allah ketika ada lintasan kejahatan dalam hatinya?
6. Sudahkah kita menunggu sholat satu dng sholat berikutnya, dengan beri'tikaf di Masjid?
7. Sudahkah kita berkumpul dengan para ahli kebaikan yang berlaku lemah-lembut sesamanya dan selalu belajar tentang Al Islam?

Semakin banyak yang dikerjakan dari contoh diatas, maka semakin sedikit kemungkinan ia berbuat keji dan mungkar, kecuali beberapa cobaan berupa fitnah  kecil yang memang terkadang dibebankan Allah kepada hamba²Nya yang dekat denganNya.
Berat? bisa ya bisa tidak, namun itulah perintah Allah melalui Nabi SAW, utusanNya. Beberapa dari kita, mungkin tidak bisa melakukan semuanya, namun sdh selayaknyalah bagi kita untuk selalu berusaha menta'ati segala perintahNya melalui perkataan dan perbuatan Nabi SAW, utusan dan hambaNya yang selalu dijagaNya.

QS. 29. Al 'Ankabuut:

ٱتْلُ مَا أُوْحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam KITAB SHAHIH BUKHARI telah dijelaskan mengenai Wajibnya shalat fardlu dengan berjama'ah:
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama'ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat 'Isya berjama'ah." (No. Hadist: 608 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan (diambil dari kitab Riyadhus Solihin):
1064. Dari Abdullah, ada yang mengatakan: 'Amr bin Qais yang terkenal dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum, seorang muazzin r.a. bahwasanya ia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak sekali binatang melatanya - seperti ular, kala dan Iain-Iain - juga banyak binatang buasnya." Kemudian Rasulullah s.a.w. ber-sabda: "Apakah engkau mendengar ucapan Hayya 'alas shalah dan Hayya 'alal falah? - maksudnya: Apakah engkau mendengar bunyi azan? Kalau memang mendengar, maka marilah datang ke tempat berjamaah."

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Para Malaikat berdo'a untuk salah seorang dari kalian selama dia masih pada posisi shalatnya dan belum berhadats, 'Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat. Dimana tidak ada yang menghalangi dia untuk kembali kepada keluarganya kecuali shalat itu."(No. Hadist: 619 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Za'idah dari Musa bin Abu Aisyah dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah berkata, "Aku masuk menemui 'Aisyah aku lalu berkata kepadanya, "Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang peristiwa yang pernah terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang sakit?" 'Aisyah menjawab, "Ya. Pernah suatu hari ketika sakit Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semakin berat, beliau bertanya: "Apakah orang-orang sudah shalat?" Kami menjawab, "Belum, mereka masih menunggu tuan." Beliau pun bersabda: "Kalau begitu, bawakan aku air dalam bejana." Maka kamipun melaksanakan apa yang diminta beliau. Beliau lalu mandi, lalu berusaha berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan. Ketika sudah sadarkan diri, beliau kembali bertanya: "Apakah orang-orang sudah shalat?" Kami menjawab, "Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan." Kemudian beliau berkata lagi: "Bawakan aku air dalam bejana." Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri kembali, beliau berkata: "Apakah orang-orang sudah shalat?" Kami menjawab lagi, "Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan." Kemudian beliau berkata lagi: "Bawakan aku air dalam bejana." Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh dan pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri, beliau pun bersabda: "Apakah orang-orang sudah shalat?" Saat itu orang-orang sudah menunggu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di masjid untuk shalat 'Isya di waktu yang akhir. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar dan memintanya untuk mengimami shalat. Maka utusan tersebut menemui Abu Bakar dan berkata, kepadanya, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan anda untuk mengimami shalat jama'ah!" Lalu Abu Bakar -orang yang hatinya lembut- berkata, "Wahai 'Umar, pimpinlah orang-orang melaksanakan shalat." Umar menjawab, "Anda lebih berhak dalam masalah ini." Maka Abu Bakar memimpin shalat pada hari-hari sakitnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersebut. kemudian ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendapati tubuhnya lebih segar, beliau pun keluar rumah sambil berjalan dipapah oleh dua orang laki-laki, satu diantaranya adalah 'Abbas untuk melaksanakan shalat Zhuhur. Ketika itu Abu Bakar sedang mengimami shalat, ketika ia melihat beliau datang, Abu Bakar berkehendak untuk mundur dari posisinya namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat supaya dia tidak mundur. Kemudian beliau bersabda: "Dudukkanlah aku disampingnya." Maka kami mendudukkan beliau di samping Abu Bakar." Perawi berkata, "Maka jadilah Abu Bakar shalat dengan mengikuti shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sementara orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar, dan saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sambil duduk". 'Ubaidullah berkata, "Aku menemui ' Abdullah bin 'Abbas dan berkata kepadanya, "Maukan anda saya ceritakan sebuah hadits tentang sakitnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti yang disampaikan 'Aisyah?" Dia menjawab, "Sampaikanlah!" Maka aku ceritakan hadits yang disampaikan 'Aisyah. 'Abdullah bin 'Abbas tidak mengingkari sedikitpun apa yang aku ceritakan selain dia bertanya kepadaku, "Apakah 'Aisyah menyebutkan nama laki-laki yang bersama 'Abbas? Aku menjawab, "Tidak." Ia pun berkata, "Dia adalah 'Ali bin Abu Thalib."(No. Hadist: 646 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Ali Bin Khasyram menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Umar, dari Ubaidah bin Sufyan, dari Abu Al Ja'd yaitu AdhDhamri dan ia pernah bertemu dan menemani Rasulullah sebagaimana yang diperkirakan oleh Muhammad bin Amr, ia berkata, "Rasullulah SAW bersabda, 'Barangsiapa meninggalkan shalat Jum'at tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan mencap (menutup) hatinya[sehingga tidak mau lagi menerima kebenaran]'."
Hasan Shahih: Ibnu Majah (1125)

Abdullah bin Abu Ziyad Al Kufi dan Harun bin Abdullah Al Bazzar Al Baghdadi menceritakan kepada kami, mereka berkata, "Sayyar bin Hatim memberitahukan kepada kami, Ja'far bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Tsabit, dari Anas, ia berkata,"Nabi SAW menjenguk seorang pemuda yang hampir mati Nabi lalu bertanya, 'Bagaimana keadaanmu?' Dia menjawab, 'Demi Allah hai Rasulullah aku mengharapkan (rahmat) Allah dan aku takut akan dosaku'. Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak berkumpul dihati seorang hamba dua perkara (mengharapkan rahmat Allah dan takut dosa) pada waktu seperti ini, kecuali Allah akan memberi kepadanya apa yang diharapkannya dan Allah mengamankannya dari apa yang ia takuti'."
Hasan; UmuMajah (4261)

Memang, terkadang apa yang tersimpan di dalam fikiran dan dilaksanakan oleh jasad, tidak meresap ke dalam atau tidak didorong oleh hati yang baik. Sehingga terkadang solat yang difahami fikiran dan dilaksanakan jasad tidak mencegah dari perbuatan munkar.
Namun semua ada prosesnya, kalau niat untuk menjadi baik itu ada, maka solat yg dilakukan, secara perlahan atau cepat, pasti Allah akan menjadikan baik pada hatinya.

"Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)
"…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan perilaku yang baik dan dekat dengan kebenaran, itu merupakan buah dari shalat yang baik, seperti sholat yg diajarkan dan dicontohkan Nabi SAW., dan shalat yang baik itu karena hatinya baik ...
Supaya hati menjadi baik, semua ada prosesnya. Dan solat yg dilakukan, seperti sholat yg diajarkan dan dicontohkan Nabi SAW., secara perlahan atau cepat, pasti Allah akan menjadikan baik pada hatinya ...