Senin, 25 Juli 2016

Marilah kita perhatikan diri kita sendiri

Marilah kita perhatikan diri kita sendiri ...
Seberapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan ...
Perbuatan dosa dan kesalahan yang telah dilarang dilakukan oleh Allah SWT, melalui Al Qur'an dan perkataan Nabi-Nya ...
Seberapa banyakkah dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan?
Apakah kita tidak memandang apapun yang telah diharamkan Allah?
Apakah kita tidak berbicara sesuatu yang diharamkan Allah?
Apakah kita tidak mendengarkan sesuatu yang diharamkan Allah?
Apakah kita telah bersyukur dengan segala nikmat gratis yang telah dianugerahkan kepada kita?
Apakah kita telah sholat 5 waktu di Masjid seperti yang telah diperintahkan Allah melalui Rasul-Nya?
Apakah kita telah menunaikan zakat seperti yang diperintahkan Allah?
Apakah kita telah berpuasa secara penuh di bulan Ramadlon seperti yang diperintahkan Allah?
Apakah kita telah berhaji seperti yang diperintahkan Allah?
Subhanallah ...

Kita semua adalah hamba²Nya yang lemah ...
Walaupun diantara kita adalah seorang penguasa dunia, seorang yang berpendidikan tinggi, seorang profesor, seorang pejabat tinggi dengan kekuasaan yang luas, namun tetap saja kita ini adalah hamba Allah yang lemah dan banyak dosa, kalau kita sadari dan kalau kita akui ...

Dengan segala kelemahan kita, dengan segala dosa yang telah kita lakukan, tidakkah kita takut dengan adzab Allah yang terbesar yakni Neraka?
Takutlah dengan Neraka, dengan bersedekah ...
Dan jangan berharap mendapatkan kekayaan dunia dengan sedekah yang telah kita berikan ...
Ingatlah dengan semua dosa² yang telah kita perbuat, dan jangan terlalu berharap dengan kekayaaan dunia yang melimpah dengan sedekah yang telah kita berikan ...
Tidakkah kita malu kepada Allah? Dengan Sedekah sedikit saja namun minta bukit emas, tanah yang luas dan kekayaan dunia lainnya, dan malah melupakan semua dosa² yang telah kita lakukan?

Sedekah tidak hanya dengan harta dunia ...
Sedekah bisa dengan mengajak kebaikan orang lain atau mencegah kemungkaran orang lain ...
Atau dengan menyingkirkan duri atau paku dari jalan ...
Atau dengan perkataan yang baik ...
Atau dengan istighfar ... Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... sebanyak² nya ...
Atau yang paling ringan dengan senyum dan dengan muka yang enak dilihat oleh orang lain ...

QS. 9. At Taubah:

لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَـٰنِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

66. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Hadis riwayat Adi bin Hatim Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Barang siapa di antara kalian mampu berlindung dari neraka walau hanya dengan separoh kurma, maka hendaklah ia melakukannya (bersedekah). (Shahih Muslim No.1687)

Hadis riwayat Hakim bin Hizam Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sedekah yang paling utama atau sedekah yang paling baik adalah sedekah dari harta yang cukup. Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Mulailah dari orang yang engkau tanggung (nafkahnya). (Shahih Muslim No.1716)

Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Umar Radhiyallahu’anhu mendapat sebidang tanah di Khaibar kemudian ia menghadap Nabi Shallallahu alaihi wassalam untuk meminta petunjuk tentang pemanfaatannya. Umar berkata: Wahai Rasulullah, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar yang belum pernah saya dapatkan harta lain yang lebih berharga darinya. Apa saran engkau tentang hal ini? Beliau bersabda: Jika kamu suka, kamu bisa mewakafkan asetnya dan bersedekah dengan hasilnya. Maka Umar bersedekah dengan hasilnya atas dasar asetnya tidak boleh dijual, dibeli, diwarisi atau dihibahkan. Umar bersedekah kepada fakir-miskin, kerabat, untuk memerdekakan budak, jihad di jalan Allah, ibnu sabil serta tamu. Tidak dosa bagi orang yang mengurusnya memakan sebagian hasilnya dengan cara yang baik atau untuk memberi makan seorang teman tanpa menyimpannya. (Shahih Muslim No.3085)

Hadis riwayat Abu Masud Al-Badri Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Sesungguhnya seorang muslim, jika memberikan nafkah kepada keluarganya dan ia mengharap pahala darinya, maka nafkahnya itu menjadi sedekah baginya. (Shahih Muslim No.1669)

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Setiap muslim wajib bersedekah. Ditanyakan: Apa pendapatmu jika ia tidak mempunyai sesuatu (untuk bersedekah)? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia dapat memberi manfaat dirinya dan bersedekah. Ditanyakan pula: Apa pendapatmu, jika ia tidak mampu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia dapat membantu orang dalam keperluan mendesak. Ditanyakan lagi: Apa pendapatmu, bila tidak mampu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia dapat memerintahkan kebaikan. Masih ditanyakan lagi: Apa pendapatmu jika ia tidak melakukannya? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia dapat menahan diri dari berbuat kejahatan, karena itu adalah sedekah. (Shahih Muslim No.1676)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju salat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah. (Shahih Muslim No.1677)

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Pasti akan datang kepada manusia suatu zaman, di mana seseorang berkeliling membawa sedekah emas, lalu ia tidak menemukan seorang pun yang mau mengambilnya. Dan terlihat seseorang diikuti oleh empat puluh orang wanita yang berlindung kepadanya karena sedikitnya kaum lelaki dan banyaknya kaum wanita. (Shahih Muslim No.1680)

Senin, 18 Juli 2016

Akhir yang Celaka ataukah Bahagia ?

Ketika orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam secara berombongan ...
Dan apabila mereka sampai ke neraka itu, maka dibukakanlah pintu-pintunya ...
Ketika penjaga-penjaga neraka berkata kepada mereka : "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?"
Maka mereka menjawab: "Benar telah datang rasul-rasul itu kepada kami dan juga telah datang pembawa peringatan kepada kami (misalnya: para kyai, da'i, ustadz ataupun dari jalan yang lainnya)."
Tetapi ternyata mereka telah ingkar terhadap peringatan yang telah datang ...
Sehingga pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir dan ingkar ...

Karena keingkaran mereka, maka dikatakanlah kepada mereka: "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya"
Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang ingkar dan menyombongkan diri ...

Sedangkan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga secara berombongan pula ...
Sehingga apabila mereka sampai ke syurga, maka dibukakanlah pintu-pintunya ...
Dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: "Kesejahteraan dilimpahkan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya."

Kemudian mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi kepada kami tempat ini, sedang kami diperkenankan menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki ...
Maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal saleh ...

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, atas semua karunia yang telah diberikan kepada hamba²Nya yang beriman dan beramal saleh ...

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda: Allah Taala melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? (Shahih Muslim No.4995)

Hadis riwayat Kaab bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman lunak dan lembut yang dapat digoyangkan oleh hembusan angin, sesekali miring dan kemudian tegak kembali sehingga bergoyang-goyang. Sedangkan perumpamaan orang kafir adalah seperti pohon cemara yang tegak berdiri di atas akarnya tidak dapat digoyangkan oleh sesuatu apapun sehingga ia tumbang sekaligus. (Shahih Muslim No.5025)

QS.39. Az Zumar:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَـفَرُوۤاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَراً حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَـآءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَا قَالُواْ بَلَىٰ وَلَـٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ
قِيلَ ٱدْخُلُوۤاْ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَـبِّرِينَ
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْاْ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلجَنَّةِ زُمَراً حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَـٰمٌ عَلَيْكُـمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَـٰلِدِينَ
وَقَـالُواْ ٱلْحَـمْدُ للَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا ٱلأَْرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ فَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَـٰمِلِينَ
وَتَرَى ٱلْمَلَـٰئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ ٱلْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِىَ بَيْنَهُمْ بِٱلْحَقِّ وَقِيلَ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

71. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

72. Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

73. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya."

74. Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal."

75. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

---> Termasuk yang manakah kita? InsyaAllah kita termasuk orang2 yang bertaqwa, atau setidaknya berusaha untuk menjadi hamba-Nya bertaqwa, dan bukan menjadi hamba yang ingkar terhadap-Nya ...

Senin, 11 Juli 2016

Berita Haji 1437H/2016M

Jakarta (Sinhat)--Pelunasan tahap kedua Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Reguler ditutup pada Kamis (30/06/2016) sore. Data Monitoring Pelunasan Haji Reguler pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) mencatat sebanyak 9.822 jemaah telah melunasi sehingga kuota haji tersisa untuk 1.375 calon jemaah.

Pelunasan tahap pertama BPIH Reguler ditutup pada 10 Juni lalu dengan jumlah jemaah yang sudah melunasi sebanyak 142.852 orang (92.73%) dan masih tersisa 11.197 kuota (7.27%). Dengan demikian, total calon jemaah haji yang sudah melunasi BPIH tahap pertama dan kedua berjumlah 152.674 orang (99.11%).

Menurut Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU Ahda Barori, jumlah yang melunasi ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dua tahun lalu. Pada tahun 2014, pelunasan tahap kedua ditutup dengan sisa 2.505 kuota. Sedangkan pada tahun 2015, kuota haji masih tersisa 3.097 saat penutupan pelunasan tahap kedua.

Keputusan Menteri Agama (KMA) No 210 Tahun 2016 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1437H/2016M mengatur bahwa kuota haji nasional berjumlah 168.800 yang terdiri dari kuota haji reguler (155.200) dan kuota haji khusus (13.600). Kuota haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu: 154.049 untuk jamaah haji dan 1.151 untuk petugas haji daerah.

Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) No D/158/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran BPIH Reguler 1437H/2016M mengatur bahwa pengisian kuota jemaah haji reguler dibagi menjadi 2 tahap. Jika sampai tahap kedua ditutup, masih ada sisa kuota, maka hal itu diperuntukan bagi kuota cadangan.

Dalam keputusan Dirjen PHU ditegaskan, Jemaah haji cadangan mengisi sisa kuota setelah pelunasan tahap kedua berakhir. Pengisian sisa kuota oleh jamaah haji cadangan berdasarkan urutan nomor porsi, kecuali bagi penggabungan mahram, jemaah haji lanjut usia, dan pendampingan jemaah haji lanjut usia.

Proses pelunasan BPIH untuk jemaah haji cadangan sudah dilakukan bersamaan dengan pelunasan tahap pertama. Sampai dengan penutupan pelunasan tahap pertama pada 10 Juni lalu, calon jemaah haji yang melakukan pelunasan kuota cadangan mencapai 4.856 orang. Mereka baru bisa diberangkatkan jika terdapat sisa kuota pada masing-masing provinsi dan kab/kota setelah pelunasan tahap kedua berakhir.

Ahda Barori mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mengidentifikasi sisa kuota di tiap provinsi dan kab/kota. Menurutnya, identifikasi ini penting untuk menyesuaikan dengan jumlah calon jemaah haji yang melakukan pelunasan kuota cadangan. “Saya berharap jamaah yang melunasi kuota cadangan merata di setiap provinsi sehingga bisa menutup sisa kuota yang ada,” harap Ahda, Jumat (01/07/2016).

“Tentunya pengisian sisa kuota dengan kuota cadangan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada,” tambahnya. Ahda juga berharap jemaah yang sudah melakukan pelunasan tahap pertama dan kedua yang batal berangkat karena berbagai sebab jumlahnya tidak banyak.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan dalam 2 gelombang. Gelombang I rencananya mulai diberangkatkan pada tanggal 9 – 21 Agustus 2016 langsung menuju Madinah. Adapun gelombang II, rencananya diberangkatkan pada tanggal 22 Agustus – 4 September 2016 dengan tujuan Jeddah. (sumber: http://haji.kemenag.go.id/)



Berikut Daftar Jamaah Haji Tahun 2016 Lengkap untuk Prop JATIM (untuk keperluan pelunasan):
https://drive.google.com/folderview?id=0B0SHpJ6gnhUHX1U3WHg1QkVodmM&usp=sharing

Selasa, 28 Juni 2016

Sunnahnya Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.” [HR. Muslim (no. 1164)]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Dan merupakan salah satu tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya [Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 157)]
---------------------

Ada beberapa pendapat mengenai waktu kapan mulai berpuasa syawal. Namun yg terbaik adalah melakukan puasa syawal sehari setelah 'idul fitri (langsung) atau dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, yakni tgl 2 syawal hingga tgl 7 syawal (6 hari).
Hal ini termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda.
Dan ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih.
[Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 158)]

Senin, 27 Juni 2016

Selesai Romadlon sangat disunnahkan melakukan Takbiran dan Sholat 'Id

Anjuran (sangat) melakukan Takbiran dan Sholat 'Id setelah selesai Romadlon, siapapun ia, baik anak², wanita (haid/tidak), orang dewasa, muda, tua dan semuanya. Untuk wanita haid dianjurkan datang kelapangan sholat Ied, namun tdk usah ikut sholat, hanya mendengarkan ceramah dan takbiran

QS. 2. Al Baqarah:

وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

185. ... dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Bab:Sunnahnya berjalan kaki dan makan terlebih dahulu sebelum sholat 'Idul Fitri namun tidak makan sesuatu terlebih dahulu sebelum sholat pada hari raya Qurban.
Isma'il bin Musa Al Fazari menceritakan kepada kami, Syarik memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Al Harits, dari Ali, dia berkata, "Termasuk Sunnah (Nabi) adalah keluar ke tempat shalat Ied (Fitri) dengan berjalan kaki dan makan sebelum keluar."
Hasan: Ibnu Majah (1294 dan 1297) dan Muttafaq 'alaih

Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan:'Mengamalkan kandungan hadits ini disepakati oleh mayoritas ulama. Mereka menyukai seseorang yang pergi ke tempat shalat ied dengan berjalan kaki dan makan sebelum keluar ke tempat shalat Idul Fitri.
Abu Isa berkata, "Disunnahkan tidak mengendarai kendaraan kecuali karena alasan penting."

Al Hasan bin AshShabbah Al Bazzar menceritakan kepada kami, AbdushShamad bin Abdul Warits memberitahukan kepada kami dari Tsawab bin Utbah, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata, "Nabi SAW tidak keluar shalat hari raya Fitri sebelum makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Qurban sebelum shalat."
Shahih: Ibnu Majah (1756)

Sekelompok ulama memilih untuk tidak keluar pada hari raya Fitri sebelum makan. Disunahkan bagi seseorang untuk makan buah kurma dan tidak makan sesuatu pada hari raya Qurban sebelum kembali dari shalat.

Bab:Melewati Jalan yang Berbeda Ketika Pulang dan Pergi dari Tempat Shalat 'Id
Abdul A'la bin Washil bin Abdul A'la Al Kufi dan Abu Zur'ah menceritakan kepada kami, keduanya berkata, "Muhammad bin AshShalt memberitahukan kepada kami dari Fulaih bin Sulaiman dan Sa'id bin Al Harits, dari Abu Hurairah, ia berkata,'Apabila Rasulullah SAW keluar pada (shalat) hari raya, maka beliau melewati suatu jalan dan pulang melewati jalan yang lain'."
Shahih: ibnu Majah (1301)

Sebagian ulama menyukai imam yang keluar melewati jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui untuk pulang. Hal ini bertujuan untuk mengikuti hadits tersebut. AsySyafi'i juga berpendapat seperti itu.

Bab:Shalat 'Id Dilaksanakan Sebelum Khuthbah Tanpa Adzan dan Iqamah
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Atha' dari Jabir bin 'Abdullah berkata, Aku mendengarnya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada hari Raya 'Idul Fitri, beliau memulainya dengan shalat kemudian khutbah." (No. Hadist: 905 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

(Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) perawi berkata, telah menceritakan kepadaku 'Atha' bahwa Ibnu 'Abbas menyampaikan kepada Ibnu Az Zubair pada awal dia dibai'at sebagai khalifah, bahwa tidak ada adzan dalam shalat Hari Raya 'Idul Fithri (di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), dan bahwasanya khutbah dilaksanakan setelah shalat." (No. Hadist: 906 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata: Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Atha telah mengabarkanku dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, keduanya berkata: Tidak ada azan bagi salat hari raya idul fitri atau idul adha. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang itu, lalu Jabir bin Abdullah Al-Anshari memberitahukan kepadaku bahwa tidak ada azan untuk salat hari raya idul fitri, baik saat imam menaiki mimbar maupun sesudahnya. Juga tidak ada iqamat, seruan atau apapun. Pada saat itu tidak ada azan atau iqamat. (Shahih Muslim No.1468)

Bab:Takbir Pada Dua Hari Raya
Muslim bin Umar dan Abu Amr Al Hadzdza' Al Madini menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi AshShaigh memberitahukan kepada kami dari Katsir bin Abdullah, dari ayahnya, dari kakeknya: Nabi SAW bertakbir tujuh kali sebelum bacaan (Al Fatihah) pada rakaat pertama dalam dua shalat hari raya, dan lima kali sebelum bacaan pada rakaat terakhir.
Shahih: Ibnu Majah (1279)

Bab:Haramnya Puasa di hari 'Iedul Fithri dan 'Iedul 'Adha
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Yahya dari bapaknya dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang berpuasa pada hari Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul 'Adhha dan juga melarang berkerudung dengan satu helai kain (berselimut sehingga seluruh bagian badannya tertutup) dan juga melarang seseorang duduk dengan memeluk lututnya hingga mengenai pundaknya dan menutupnya dengan selembar kain dan melarang pula shalat setelah Shubuh dan 'Ashar". (No. Hadist: 1855 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Tidak ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Hari Raya
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah menceritakan kepadaku 'Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada Hari Raya 'Iedul Fitri, beliau melaksanakan shalat dua rakaat, tanpa melaksanakan shalat baik sebelum atau sesudahnya. Dan saat itu beliau bersama Bilal radliallahu 'anhu." (No. Hadist: 935  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Bolehnya mengadakan permainan yang tidak mengandung maksiat pada hari-hari raya
Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abu Bakar pernah datang ke rumahku ketika dua orang gadis Ansar berada di dekatku. Mereka saling tanya jawab dengan syair yang dilantunkan orang-orang Ansar pada hari Bu’ats (hari peperangan antara kabilah Aus dan Khazraj). Aisyah berkata: Sebenarnya mereka berdua bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkomentar: Apakah ada nyanyian setan di rumah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Hal itu terjadi pada hari raya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Hai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita. (Shahih Muslim No.1479)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak-tombak mereka di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Umar bin Khathab datang. Dia mengambil beberapa kerikil untuk melempari mereka, tetapi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mencegahnya: Hai Umar, biarkan mereka!. (Shahih Muslim No.1485)

Akhir kata, Saya mengucapkan:

تقبل الله مناومنكم تقبل يا كريم
من العائذين والفائزين كل عام وأنتم بخير
.

Selamat Idul Fitri 1 syawwal 1437H.
Mohon ma'af lahir dan batin.

Sabtu, 18 Juni 2016

Lailatul Qadar

QS.97. Al Qadr:

 إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ * وَمَآ أَدْرَٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ * لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰۤئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ * سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? 
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada  kami Isma'il bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Abu Suhail dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan".(No. Hadist: 1878 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu Hazim dan Ad-Darawardiy dari Yazid bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 'i'tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i'tikaf Beliau begitu pula mereka yang sebelumnya beri'tikaf bersama Beliau. Pada malam ketika Beliau kembali beri'tikaf di bulan tersebut, Beliau menyampaikan khuthbah di hadapan orang banyak dan memerintahkan mereka menurut apa yang Allah kehendaki, lalu Beliau bersabda: "Aku sudah melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beri'tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri'tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek) ". Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku melihat Beliau setelah Shubuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air". (No. Hadist: 1879 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari 'Ubadah bin Ash-Shamit berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: "Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) ". (No. Hadist: 1883 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudriy yang merupakan salah seorang sahabat karibku. Maka dia berkata: " Kami pernah ber'i'tikaf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian Beliau keluar pada sepuluh malam yang akhir lalu memberikan khuthbah kepada kami dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud diatas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu siapa yang sudah beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka pulanglah". Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) selesai aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud diatas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi Beliau.(No. Hadist: 1877 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata: "Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam aku pernah bermimpi, ditanganku ada sehelai kain sutera dan seakan tidaklah aku menginginkan satu tempat di surga kecuali akan segera nampak buatku. Aku juga mengalami mimpi yang lain, aku melihat dua malaikat yang membawaku ke dalam neraka, disana keduanya ditemui oleh malaikat yang lain seraya berkata; "Jangan kamu takut, tolong biarkan orang ini leluasa". Kemudian Hafshah menceritakan salah satu mimpiku itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh 'Abdullah menjadi orang yang paling berbahagia jika mau shalat malam". 'Abdullah radliallahu 'anhu adalah orang yang senantiasa mendirikan shalat malam sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang mimpi-mimpi mereka bahwa pelaksanaan Lailatul Qadar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencari Lailatul Qadar, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Romadhan) ".(No. Hadist: 1088 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menegakkan (ibadah pada malam) lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala [dan tidak melakukan hubungan suami-istri], maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (No. Hadist: 34 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul Qadar
Harun bin Ishaq Al Hamdani menceritakan pada kami, Abdah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW biasa beri'tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Beliau bersabda, 'Bersungguh-sungguhlah kamu (untuk mendapatkan) lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan."
Shahih: Muttafaq 'alaih

Bab:Apa yg dibaca (sebanyak-banyaknya) ketika menjumpai Lailatul Qadar?
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam itu?" Beliau s.a.w. menjawab: Ucapkanlah: Allahumma Innaka 'Afuwun, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampunilah saya."
Diriwayatkan oleh Imam Turmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dengan redaksi yg hampir sama, namun berbeda sedikit, misalnya: Allahumma Innaka 'Afuwun Kariim, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah yang suka memberikan ampunan. Maka, ampunilah aku".
Shahih: Ibnu Majah (3850).
Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih."

Bab:Tanda akhir dari lailatul qadar (pada keesokan harinya)
Washil bin Abdul A'la Al Kufi menceritakan kepada kami dari Ashim bin Zhr, ia berkata, "Aku berkata kepada Ubay bin Ka'ab, 'Wahai Abu Mundzir, aku tahu bahwa lailatul qadar ada pada malam 27'. Ia berkata, 'Benar. Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa lailatul qadar adalah suatu malam yang pada keesokan harinya matahari terbit tanpa ada sinarnya(tidak bersinar dng menyorot/agak redup). Kemudian kami menyebut-nyebut dan  menghafalnya. Demi Allah, Ibnu Mas'ud tahu bahwa lailatul qadar ada dibulan Ramadhan pada malam 27. Namun ia enggan memberitahu kamu sekalian, karena khawatir kamu akan tergantung (pada malam itu saja)'."
Shahih: Shahih Abu Daud (1247) dan Shahih Muslim (semisalnya)

Bab:Barangsiapa berniat untuk iktikaf kemudian mempunyai keinginan untuk keluar (tidak melanjutkan)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad dia adalah Ibnu Salam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Fudhail bin Ghozwan dari Yahya bin Sa'id dari 'Amrah binti 'Abdurrahman dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu beri'tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh Beliau masuk ke tempat khusus i'tikaf Beliau. Dia (Yahya bin Sa'id) berkata: Kemudian 'Aisyah radliallahu 'anha meminta izin untuk bisa beri'tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu 'Aisyah radliallahu 'anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa. Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: "Apa ini?" Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau). Maka Beliau bersabda: "Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya". Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i'tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. (No. Hadist: 1900 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Semoga kita bisa menegakkan ibadah pada malam lailatul qodar sehingga mendapatkan ampunanNya dengan rahmatNya, aamiiin ...

Rabu, 01 Juni 2016

Yang Diperbolehkan dalam Puasa

QS. 2. Al Baqarah:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَٱلـنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid  [berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah]. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata, telah mengabarkan kepada saya Hushain bin 'Abdurrahman dari Asy-Sya'biy dari 'Adi bin Hatim radliallahu 'anhu berkata: Ketika turun QS Al Baqarah ayat 187 ("… hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar"), maka aku mengambil benang hitam dan benang putih lalu aku letakkan di bawah bantalku untuk aku lihat pada sebagian malam namun tidak tampak olehku. Maka di pagi harinya aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu aku ceritakan hal tadi. Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat itu (dengan benang hitam dan putih) adalah gelapnya malam dan terangnya siang [yakni masuknya waktu subuh(mulai berpuasa)] ". (No. Hadist: 1783 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Masalah junub setelah masuk waktu Fajar
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Sumayya maulanya Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughirah bahwa dia mendengar Abu Bakar bin 'Abdurrahman berkata: "Aku  dan bapakku ketika menemui 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah...Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bahwa bapaknya, yaitu 'Abdurrahman mengabarkan kepada Marwan bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapatkan waktu Fajar saat Beliau sedang junub di rumah keluarga Beliau. Maka kemudian Beliau mandi dan shaum. Dan berkata, Marwan kepada 'Abdurrahman bin Al Harits: "Aku bersumpah dengan nama Allah. aku pasti menyampaikan hal ini kepada Abu Hurairah radliallahu 'anhu. Saat itu Marwan adalah pemimpin di Madinah. Maka Abu Bakar berkata: "Kejadian itu membawa 'Abdurrahman merasa tidak senang". Kemudian kami ditakdirkan berkumpul di Dzul Hulaifah yang ketika itu Abu Hurairah radliallahu 'anhu termasuk yang hadir disana, maka 'Abdurrahman berkata, kepada Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Aku akan menyampaikan satu hal kepadamu yang seandainya Marwan tidak bersumpah tentangnya kepadaku maka aku tidak akan menyampaikannya kepadamu". Maka dia menyebutkan apa yang disampaikan 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah diatas. Maka Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Persoalan tadi pernah pula diceritakan kepadaku oleh Al Fadhal bin 'Abbas sedangkan mereka ('Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah) lebih mengetahui perkara ini". Dan berkata, Hammam dan Ibnu 'Abdullah bin 'Umar dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk berbuka (dalam kasus junub setelah masuk waktu Fajar). Namun hadits pertama diatas lebih kuat sanadnya". (No. Hadist: 1791 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Sihab dari 'Urwah dan Abu Bakar, 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapati masuknya waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan Beliau junub, lalu Beliau mandi dan shaum".(No. Hadist: 1795 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepada saya Malik dari Sumayya maulanya Abu Bakar bin'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughirah bahwa dia mendengar Abu Bakar bin'Abdurrahman (berkata,): "Aku dan bapakku pergi bersama-sama hingga kami datang menemui 'Aisyah radliallahu 'anha yang dia berkata: "Aku bersaksi tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa apabila Beliau pada pagi hari masih dalam keadaan junub setelah berhubungan tanpa mengeluarkan sperma, maka Beliau meneruskan puasanya". Kemudian kami datang menemui Ummu Salamah yang dia juga berkata, seperti itu". (No. Hadist: 1796 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Mencium dan mencumbu isteri ketika berpuasa
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, Syu'bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium dan mencumbu (isteri-isteri Beliau) padahal Beliau sedang berpuasa. Dan Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian". Dan Al Aswad berkata; Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata, istilah ma"aarib maknanya adalah keperluan (seperti dalam QS Thoha ayat 18) artinya hajat. Dan berkata, Thowus (seperti dalam QS An-Nuur ayat 31) artinya: orang dungu yang tidak punya keinginan lagi terhadap wanita. (No. Hadist: 1792 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari 'Aisyah radliallahu 'anha. Dan telah diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium isteri-isteri Beliau". 'Aisyah radliallahu 'anha kemudian tertawa. (No. Hadist: 1793 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Orang yang berpuasa makan dan minum karena lupa
Telah menceritakan kepada kami 'Abdan telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum". (No. Hadist: 1797 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Tambahan:Juga diperbolehkan meneruskan puasanya apabila muntah tanpa disengaja

QS.33. Al Ahzab:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَآ أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

5. ... Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Bab:Berbekam bagi orang yang berpuasa
Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayyub dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbekam ketika sedang berihram dan juga berbekam ketika sedang berpuasa.(No. Hadist: 1802 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Sabtu, 28 Mei 2016

Kitab Puasa

QS. 2. Al Baqarah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
 

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىۤ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
 

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 
 

Bab:Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu atau dua hari
Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abdah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu atau dua hari kecuali bertepatan dengan hari yang sudah menjadi kebiasaan berpuasa bagi salah seorang dari kalian. Berpuasalah kamu karena melihat (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat (bulan). Apabila keadaan berawan menghalangi kalian, maka hitunglah (bulan tersebut) tiga puluh hari, kemudian berbukalah'."
Shahih: Ibnu Majah (1650 dan 1655), Shahih Sunan Tirmidzi (684) dan Muttafaq 'alaih

Hannad menceritakan kepada kami, Waki' memberitakan kepada kami, dari Ali bin Al Mubarak, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu'."
Shahih: Ibnu Majah (1650), Shahih Sunan Tirmidzi (685) dan Muttafaq 'alaih

Abu Sa'id Abdullah bin Sa'id Al Asyaj menceritakan kepada kami, Abu Khalid Al Ahmar memberitahukan kepada kami dari Amr bin Qais, dari Abu Ishak, dari Shilah bin Zufar, ia berkata, "Ketika kami berada di rumah Ammar bin Yasir, ia menghidangkan sate kambing lalu berkata, 'Makanlah'. Sebagian orang berpaling dan berkata, 'Aku sedang puasa'. Ammar lantas berkata, 'Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan (apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum) maka ia telah mendurhakai Abu Al Qasim (Muhammad SAW)'."
Shahih: ibnu Majah (1645) dan Shahih Sunan Tirmidzi (686)

Qutaihah menceritakan kepada kami, Abu Ahwas menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb bin Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan. Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan sabit-Awal Romadlon) dan berbukalah kamu karena melihatnya (bulan sabit-Awal Shawal). Apabila keadaan sedang mendung, maka sempurnakanlah tiga puluh hari'."
Shahih: Shahih Abu Daud (2016) dan Shahih Sunan Tirmidzi (688)

Bab:Menghitung/hisab Hilal adalah hadits gharib, hanya sampai pada derajat Hasan atau tidak sampai pada derajat Shahih (Hadits yg Shahih adalah pada hadits diatas - yaitu dng cara melihat hilal)
Muslim bin Hajjaj menceritakan kepada kami, Yahya bin Yahya memberitahukan kepada kami, Abu Mu'awiyah memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Hitung-hitunglah hilal bulan Sya'ban untuk (menetapkan) Ramadhan'."
Hasan: Ash Shahih (565) dan Shahih Sunan Tirmidzi (687)
Abu Isa berkata, "Hadits Abu Hurairah adalah hadits gharib. Kami tidak tahu hadits seperti di atas kecuali dari hadits Mu'awiyah."

Bab:Setiap Negeri Mengikuti Rukyat Penduduknya (setempat)
Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ismail bin Ja'far memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Abu Harmalah memberitahukan kepada kami, Kuraib memberitahukan kepadaku: Ummu Al Fadhl binti Al Harits mengutusnya (untuk menghadap) Mu'awiyah di Syam. Ia berkata, "Aku sampai ke Syam, lantas menyelesaikan urusanku dan aku melihat hilal (bulan sabit) bulan Ramadhan telah terbit, sedangkan aku berada di Syam. Kami melihat bulan itu pada malam Jum'at. Aku sampai di Madinah pada akhir bulan Ramadhan dan Ibnu Abbas bertanya kepadaku, kemudian ia menyebutkan hilal tersebut, ia bertanya, 'Kapan kamu melihat bulan itu?' Aku menjawab, 'Kami melihatnya pada malam Jum 'at'. Ia bertanya lagi, 'Apakah kamu melihatnya pada malam Jum 'at?' Aku katakan, 'Orang-orang melihatnya, kemudian mereka berpuasa dan Mu'awiyah juga berpuasa'. Kemudian ia berkata, 'Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, dan kami masih berpuasa hingga menyempurnakan tiga puluh hari atau (sampai) kami melihatnya'. Aku lalu berkata, 'Apakah tidak cukup dengan melihat Mu'awiyah dan puasanya?' la menjawab, 'Tidak, Rasulullah SAW memerintahkan kami demikian'. "
Shahih: Shahih Abu Daud (1021), Shahih Sunan Tirmidzi (693) dan Shahih Muslim

> Ada yg berpendapat metode rukyatul hilal adalah metode kuno, dan yg modern adalah metode hisab, karena merupakan hasil dari perhitungan modern. Namun menurut saya pendapat ini aneh, sebab dalam suatu metode modern, justru kita diharuskan melakukan eksperimen nyata untuk menguji suatu perhitungan atau teori. Jika langkah2 atau tahapan dan peralatan yg digunakan dalam eksperimen adalah benar dan ternyata berlawanan dng hasil perhitungan, maka yg digunakan adalah hasil eksperimen. Dan ini menyatakan kesalahan dari perhitungan atau teori. Jika kita selalu menggunakan metode ini untuk urusan dunia, trus mengapa untuk urusan akhirat kita malah mengabaikan hasil eksperimen, yakni rukyatul hilal? Apakah kenyataan bisa mengalahkan perhitungan (hisab)?

> Namun kita juga tidak bisa memungkiri, pada kenyataannya melihat hilal secara langsung tidaklah mudah. Kalau jaman dulu, sebelum ada bangunan tinggi, dan manusia masih terbiasa dng alam yg msh kosong, dng mata telanjang (tanpa dihisab dulu) bs melihat hilal dng mudah, karena tdk ada lampu dan tdk ada bangunan tinggi, juga tdk ada polusi udara.
Jaman sekarang dikembangkan metode gabungan hisab dan rukyat. Posisi hilal dan lama munculnya dihitung (hisab) dulu. Karena memang tdk mudah melihat bulan baru, yg sngt kecil dan sebentar munculnya. Karena itu pasti di hitung dulu, kemudian dibuktikan dng rukyat. Kalau mencoba merukyat tanpa menghitung, hasilnya bakalan kesulitan (sangat² sulit) dalam melihat hilal, distorsinya terlalu tinggi (diufuk).

>> Bagaimana dng adanya perbedaan permulaan Romadlon dan hari Raya Idul Fitri? Jawabannya: Ikuti ilmu yg kita ketahui, jangan ikut²an tanpa ilmu ataupun juga jangan karena kelompok, organisasi dan ormas. Kita tidak usah mencela mereka, apabila terjadi perbedaan. Utamakan persatuan dan perdamaian. Karena itu ikutlah waktu yang telah ditentukan pemerintah negara tempat bermukim, untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.
Sesungguhnya Islam itu satu, tidak terpecah menjadi golongan², bukan tanggung jawab kita jika mereka memilih bergolong-golongan dalam agama Allah, seperti dalam firmanNya:
QS. 6. Al An'aam:

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan[golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya], tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

> Perintah untuk Mentaati Pemimpin, sezholim apapun pemimpin itu, asalkan Pemimpin itu Tidak Menyuruh Bermaksiat Terhadap Allah (menurut Al Qur'an dan As Sunnah)

QS.4. An Nisaa':

يَـٰۤأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلأَْمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلأَْخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:
Maksud dari Ulil Amri: Menurut makna lahiriah ayat —hanya Allah yang lebih mengetahui— makna lafaz ini umum mencakup semua ulil amri dari kalangan pemerintah, juga para ulama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Muslim At-Tusi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu 'Urwah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Abu Saleh As-Sjrnman, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. telah bersabda:Kelak sesudahku kalian akan diperintah oleh para pemimpin, maka ada pemimpin yang bertakwa yang memimpin kalian dengan ketakwaannya, dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai dengan kebenaran, dan bantulah mereka. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan jika mereka berbuat buruk, maka baik bagi kalian dan buruk bagi mereka.

> karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah.

Bab:Keutamaan Ramadan
Hannad menceritakan kepada kami, Abdah dan Al Muharibi memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan menegakkan (ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Barangsiapa menegakkan (ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala[I'tikaf di Masjid dan tidak melakukan hubungan suami-istri], maka diampunilah dosanya yang telah lampau'."
Shahih: Ibnu Majah (1326), Shahih Sunan Tirmidzi (683) dan Muttafaq 'alaih

Bab:Larangan Menggunjing dan berdusta
Abu Musa Muhammad Al Mutsana menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar memberitahukan kepada kami, ia berkata, "Ibnu Abu Dzi'b juga menceritakan kepada kami dari Sa'id Al Maaburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan (malah) mengerjakannya, maka Allah tidak butuh kepada makan dan minum yang ditinggalkannya' (Allah tidak memberikan pahala pada puasanya -karena perkataan dustanya-, walaupun secara zhahir ia terlihat berpuasa, dng meninggalkan makan dan minum)."
Shahih: Ibnu Majah (1689), Shahih Sunan Tirmidzi (707) dan Shahih Bukhari

Bab:Usahakan tidak melakukan keburukan sekecil apapun, karena puasa itu untuk Allah
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam bun Yusuf dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Atho' dari Abu Shalih Az Zayyat bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda(hadits Qudsi): "Allah Ta'ala telah berfirman: "Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum(puasa), sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang shaum'. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya, yaitu apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu". (No. Hadist: 1771 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Keutamaan membaca surat al-Ikhlash
Bulan Puasa adalah bulan diturunkannya Al Qur'an ...
Sanggupkah kita membaca Al Qur'an dalam satu malam ...?
Atau membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam ...?
Sanggupkah kita ....?
Tentu kita tidak akan sanggup, walau hanya membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam ...
Jika tidak sanggup, bacalah "QUL HUWALLAHU AHAD.. dst hingga akhir surat" (maksudnya surat al-Ikhlash) ...
Membaca surat al-Ikhlash nilainya adalah sepertiga Al Qur`an ...!!!

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A'masy Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan Adl Dlahak Al Masyriqi dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al Qur`an pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda: "ALLAHUL WAAHID ASH SHAMAD (maksudnya surat al-ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al Qur`an." (No. Hadist: 4628 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
_________________
Beberapa Hadits yg perlu diperhatikan, dan jangan digunakan karena hadits² dibawah ini palsu (hadits Maudlu atau paling baik hanya sampai pada derajat hadits dloif):

1. Hadits: "Barangsiapa yang gembira akan datangnya bulan Romadlon, akan diharamkan jasadnya dari api neraka", hadits ini palsu, jangan dipakai (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah, Pusat Kajian Hadis, Jkt)

2. Hadits Keutamaan sholat terawih, "Barangsiapa melakukan sholat terawih malam I, pahalanya ...., melakukan sholat terawih malam II, pahalanya ..... dst (hingga malam terakhir ramadlon)", hadits ini palsu, tidak ada perawinya, walaupun ada di kitab, namun membuat kitab itu mudah. Saydina Ali ra. sendiri tidak pernah meriwayatkan hadits yg seperti ini (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah)

3. Hadits: "10 hari pertama pada bulan Romadlon adalah rahmat, 10 hari kedua pada bulan Romadlon adalah maghfiroh, dan 10 hari ketiga pada bulan Romadlon adalah 'ithqun min annaar", hadits ini palsu (menurut KH Ali Mustafa) atau dloif (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah)

4. Hadits yg intinya: "Berpuasalah pasti anda sehat", adalah hadits dloif, dan dalam redaksi lainnya malah dikatakan palsu. (menurut DR.H.Zainuddin MZ, Lc,MA)

5. Hadits: “Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” Dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 1660, Sunan An-Nasa’i no. 2210, Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2201, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3343, Ibnu Majah no. 1328. Di dalamnya terdapat an-Nadhr bin Syaiban, dan dia lemah.[Hadits Dloif]

Pada intinya, menyambut bulan Ramadlon tidak boleh kalau hanya bergembira saja, namun lebih ditekankan kepada amalan yg dikerjakan pada bulan Romadlon. Yaitu, Hendaknya ia berpuasa, seperti puasa yg dijelaskan pada hadits yg shahih, tidak berbohong, tidak membicarakan orang lain, suka membaca Al Qur'an, murah hati, sholat Tahajjud + Witir dan masih banyak lagi. Sehingga tidak cukup jika hanya senang/gembira saja dalam menyambutnya.
Bulan Romadlon adalah satu kesatuan, maksudnya tidak terbagi menjadi 3 (spt no.3), semua hari²nya adalah hari² terbaik, tidak ada bedanya antara hari² dibulan romadlon, semuanya merupakan hari² yg terbaik. Kehilangan salah satu hari saja (dengan sengaja, bukan karena sakit atau dalam perjalanan yg memberatkan) tentunya tidak akan bisa digantikan dng hari² lain diluar romadlon (lebih jelasnya, silahkan membaca artikel sebelum ini yg berjudul: Cahaya berkilauan dng membawa Berkah...).

Selasa, 24 Mei 2016

Cahaya berkilauan dng membawa Berkah yg dinantikan

Akan datang secercah Cahaya berkilauan tapi tak menyilaukan ...
Dengan membawa Berkah yang dinanti-nantikan ...
Menembus awan hitam yang tebal penuh dengan derita ...
Awan tebal yang diciptakan oleh manusia itu sendiri ...

Akan datang bulan yang penuh Berkah, Rahmat, dan AmpunanNya ...
Bulan yang disisi Allah merupakan bulan yang terbaik ...
Siangnya adalah yang terbaik diantara siang ...
Malamnya adalah yang terbaik diantara malam ...

Yaitu suatu bulan dimana manusia yang beriman diundang ...
Oleh Penciptanya untuk menuju perjamuan Ilahi ...
Saat-saat Allah memuliakan hambaNya ...
Saat-saat setiap nafas adalah merupakan tasbih ...
Tidur hambaNya adalah ibadah ...
Segala amal baik hambaNya diterima ...
Dan saat-saat dimana semua do'a dijawab ...

Karena itu hendaklah kamu memohon kepada Allah ...
Dengan niat yang benar dan hati yang suci ...
Sesungguhnya Celakalah orang-orang yang tidak memperoleh pengampunan dibulan yang Agung ini ...

Ingatlah akan lapar dan haus dihari pengadilan yg pasti datang, yakni pengadilan di padang Mahsyar ...
Berikanlah sedekahmu kepada fakir-miskin ...
Hormatilah orang tuamu ...
Sayangilah yang muda diantara kamu ...
Jagalah Lidahmu dari perkataan keji, kotor dan pergunjingan ...
Jagalah telingamu dari suara yang tidak patut didengar ...

Berlaku baiklah terhadap anak yatim ...
Bertaubatlah kepada Allah atas dosa-dosa kamu ...
Berdo'alah dengan tangan terangkat diwaktu sholatmu ...
Dimana Allah melihat hambaNya dengan belas kasihan ...
Ia menjawab apabila mereka menyeru ...
Ia menyambut apabila mereka memanggil ...
Ia memberi apabila mereka meminta ...
Ia akan mengabulkan apabila mereka memohon ...

Wahai manusia ...
Sesungguhnya jiwamu digadaikan dengan amal perbuatanmu ...
Bebaskanlah jiwamu itu dengan memohon pengampunanNya ...
Punggungmu keberatan menanggung dosa-dosamu ...
Maka ringankanlah dengan sujudmu yang lama ...

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah bersumpah ...
Dengan kemuliaan dan kehormatanNya ...
Ia tidak akan mengadzab orang yg melaksanakan sholat & sujud ...
Ia tidak akan menakuti mereka dengan api Neraka ...

Wahai manusia, ...
Apabila kamu memberikan makanan untuk berbuka puasa ...
Maka Allah akan memberikan pahala kepadanya ...
Dilipatgandakan pahala itu dengan tidak terbatas ...
Ia akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu ...

Wahai manusia, ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini memelihara perilaku yang baik ...
Maka Allah akan memudahkannya berjalan diatas shirath ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini suka meringankan makhlukNya ...
Maka Allah akan memudahkan dalam menghisabnya ...
Barangsiapa memutus tali kekerabatan didalamnya ...
Maka Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari Pengadilan ...

MARHABAN YAA ROMADLON ...
SELAMAT DATANG BULAN YANG KAMI RINDUKAN ...
SELAMAT DATANG KEKASIHKU, PUJAANKU, HARAPANKU ...

WAHAI PECINTA KEBAIKAN ... BERGEMBIRALAH ... !
WAHAI PECINTA KEJAHATAN ... HENTIKANLAH ... !!!

Senin, 23 Mei 2016

Makan Gorengan tidak membatalkan wudlu (biasanya untuk takjil buka puasa)

Makan Sate, goreng²an, kentucky, pizza tidak membatalkan wudlu, kecuali daging unta (terdapat perbedaan pendapat)


Setelah makan daging kambing, sate kambing, atau daging² yang dibakar, juga gorengan, tahu goreng, tempe goreng dan masih banyak lagi ternyata tidak membatalkan wudlu.
Ada pendapat yang membatalkan wudlu, karena berdasarkan suatu hadits "Berwudlu'lah kalian karena kalian makan sesuatu yang dibakar dengan api", namun ternyata ada hadits lain yang menyangkalnya, yakni memakan sesuatu yang dibakar ternyata tidak membatalkan wudlu, dengan kata lain ada pertentangan antar hadits. Jumhur ulama menyatakan bahwa hadits "Berwudlu'lah kalian karena kalian makan sesuatu yang dibakar dengan api" telah dihapuskan atau telah dinasakh oleh hadits yang datang sesudahnya yakni memakan sesuatu yang dibakar ternyata tidak membatalkan wudlu. Hadits yang TIDAK membatalkan wudlu ternyata lebih akhir keluarnya daripada hadits yang membatalkan wudlu, sehingga dapat dikatakan hadits yang terakhir adalah sebagai penyempurna hadits sebelumnya. (baca no. Hadist: 200 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Memakan sesuatu makanan yang berlemak memang tidak membatalkan wudlu, namun sebaiknya berkumur-kumur untuk menghilangkan lemak. Walaupun tidak membatalkan wudlu namun alangkan baiknya berkumur. (baca no. Hadist: 204 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Ada pertentangan mengenai makan daging unta apakah akan membatalkan wudlu atau tidak. Sebab ada pendapat makan daging unta membatalkan wudlu namun ada pula pendapat yang tidak membatalkan wudlu.
Khamar itu najis, dan apabila khamar mengenai badan kita, maka wudlu kita batal. Alkohol itu belum tentu khamar dan begitu juga sebaliknya. Hampir semua makanan yang kita makan mengandung alkohol, misalnya nasi dan duren. Khamar belum tentu ada alkoholnya, ada khamar yang tidak ada alkoholnya yakni ganja, opium, sabu dll. Dan semua khamar itu diharamkan.
(sumber: Dr. Ahmad Luthfi Fatulloh - Pusat kajian hadis jkt)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar dari 'Abdullah bin 'Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan paha kambing kemudian shalat dan tidak berwudlu lagi."(No. Hadist: 200 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair dan Qutaibah keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Abdullah bin 'Abdullah bin 'Utbah dari Ibnu 'Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam minum susu kemudian berkumur-kumur, beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya susu mengandung lemak." Hadits ini dikuatkan oleh Yunus dan Shalih bin Kaisan dari Az Zuhri.(No. Hadist: 204 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 16 Mei 2016

Jangan Menyerah

Ketika banyak teman menjauh ...
Ketika banyak yang tidak suka ...
Ketika cobaan datang bertubi-tubi bagaikan hujan yang deras ...
Ketika banyak gunjingan yang disebarkan ...
Ketika banyak orang yang terhasut ...

Jangan mengeluh, dan jangan berputus asa ...
Selama tali agama dipegang dengan kuat ...
Selama masih suka menolong orang lain dan mengasihi yang lain ...
Dan tetap memegang teguh prinsip dasar norma² kehidupan ...

Cobaan adalah sesuatu hal yang biasa ...
Sesuatu yang memang harus ada, terutama ketika berjuang di jalan Allah ...
Menegakkan agama Allah dan mengasihi hamba²Nya yang memang patut dikasihani ...

Apalah artinya cobaan itu?
Cobaan itu hanya sebentar, hanya seumur dunia saja ...
Namun pahala dan karunia dari sisi Allah jauh lebih abadi dan jauh lebih baik ...

Tetap berharaplah akan karunia dan pertolongan Allah ...
Karena Allah sangat mencintai hamba²Nya yang ridlo terhadap semua yang menimpanya ...
Dan ia tetap teguh dijalanNya ...

Jangan berharap terlalu tinggi akan harta dunia, jika memang ingin tetap menegakkan agama Allah ...
Hati² terhadap jabatan tinggi dan kekayaan yang banyak, karena keduanya merupakan pintu yang lebar dari cobaan yang sangat berat ...
Hati² juga apabila berkecimpung didunia politik dan terhadap wanita, sebab tidak sedikit yang tergelincir karenanya ...

Sesungguhnya kekayaan dunia dan semua rejeki yang kita terima telah ditetapkan kadarnya oleh Allah ...
Kadang mengalir deras, kadang sedikit, namun terkadang pula kekurangan, itu sudah biasa ...
Dan hanya Allah saja sebaik-baik pemberi rejeki ...

QS.62. Al Jumu'ah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوۤاْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلأَْرْضِ وَٱبْتَغُواْ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
وَإِذَا رَأَوْاْ تِجَـٰرَةً أَوْ لَهْواً ٱنفَضُّوۤاْ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِماً قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَـٰرَةِ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلرَٰزِقِينَ

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.


Hadis riwayat Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum seseorang melewati kuburan orang lain lalu berkata: Alangkah senangnya bila aku menempati tempatnya! (karena terlalu beratnya cobaan yang diterimanya). (Shahih Muslim No.5175)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman yang selalu digoyangkan oleh hembusan angin karena orang mukmin senantiasa ditimpa berbagai cobaan. Sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon cemara yang tidak goyang dihembus angin kecuali setelah ditebang. (Shahih Muslim No.5024)

Hadis riwayat Kaab bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman lunak dan lembut yang dapat digoyangkan oleh hembusan angin, sesekali miring dan kemudian tegak kembali sehingga bergoyang-goyang. Sedangkan perumpamaan orang kafir adalah seperti pohon cemara yang tegak berdiri di atas akarnya tidak dapat digoyangkan oleh sesuatu apapun sehingga ia tumbang sekaligus. (Shahih Muslim No.5025)

Senin, 09 Mei 2016

Bolehkah Kita Memikirkan Dzat Allah?

Mungkin ada sebagian dari kita yang takut memikirkan Dzat Allah. Kuatir tersesat dan malah menyekutukanNya. Dan ada juga yang beranggapan, lebih baik memikirkan ciptaanNya daripada DzatNya ...
Benarkah demikian?
Marilah kita baca bersama2 beberapa ayat berikut ini:

Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhannya:
QS.6. Al An'aam:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." 

Ibrahim mencari Tuhannya, Tuhan yang sebenarnya, karena Ibrahim merasa tidak cocok dengan anggapan tuhan dari semua orang dimasanya.
Ketika kegelapan malam datang, dan ia melihat bintang berbinar-binar, menurut suatu pendapat bahwa yang dimaksud adalah bintang Zahrah/Venus, lalu ia mengatakan, "Ini Tuhanku."

Tetapi setelah bintang itu tenggelam, ia menolak menjadikannya Tuhan dengan mengatakan, "Aku tidak bisa menerima tuhan-tuhan yang bisa menghilang dan berubah-ubah." Maksudnya aku tidak suka menjadikannya sebagai tuhan-tuhan, sebab tuhan tidak patut mempunyai sifat yang berubah-ubah dan pindah-pindah tempat karena kedua sifat ini hanyalah pantas disandang oleh makhluk-makhluk. Akan tetapi, ternyata cara yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim ini tidak mempan pada diri mereka.

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." 

Pada saat melihat bulan terbit dan mulai menampakkan sinarnya, ia berkata dalam hatinya, "Ini Tuhanku." Tetapi, setelah bulan itu pun tenggelam dan menjadi tampak ketidakbenaran sifatnya sebagai tuhan, ia mengatakan untuk mengarahkan kaumnya kepada pencarian hidayah, "Aku bersumpah, bila aku tidak ditunjuki Tuhanku kepada kebenaran, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang sesat."
Bisa pula berarti kalau perkataan ini merupakan sindiran Nabi Ibrahim terhadap kaumnya bahwa mereka itu berada dalam kesesatan akan tetapi ternyata apa yang telah dilakukannya itu sedikit pun tidak bermanfaat bagi kaumnya.

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Ketika melihat matahari terbit ia berkata kepada dirinya sendiri, "Ini Tuhanku, karena ia yang paling besar." Dan lebih besar daripada bintang dan bulan. Tetapi setelah matahari tenggelam ia mengatakan, "Wahai kaumku, aku tidak bertanggung jawab atas segala yang engkau jadikan sekutu Allah dalam beribadah." Dan dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, "Lalu apakah yang engkau sembah?" Nabi Ibrahim menjawab:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

"Sungguh aku menghadapkan diriku dengan beribadah hanya kepada penyembahan Allah semata, yang menciptakan langit dan bumi, dengan mengesampingkan semua yang bukan jalan-Nya. Setelah bukti-bukti keesaan yang aku lihat itu, aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah."

Kita lihat, bagaimana Nabi Ibrahim mencari petunjuk siapa Tuhannya, dan ternyata Nabi Ibrahim merendahkan diri, dengan meminta petunjuk kepada Allah, sehingga Allah-pun memberikan petunjuk-Nya kepada Nabi Ibrahim. Dan akhirnya Nabi Ibrahim tidak termasuk dalam golongan orang2 yang tersesat ...
Cara dialog yang santun dan penuh logika dipaparkan oleh Nabi Ibrahim kepada kaumnya, namun ternyata sebagian besar dari mereka malah mengingkarinya.

Setelah mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Allah, dengan penalaran yang menggelitik akal/logika, maka akhirnya Nabi Ibrahim menjadi paham benar, siapakah Tuhannya, Satu-satunya Tuhan yang pantas untuk disembah, yang menciptakan langit dan bumi sendirian, tanpa bantuan siapapun juga!.
Dengan hasil pencarian yang luar biasa ini, menjadikan diri Nabi Ibrahim hanya beribadah kepada Allah saja, dan tidak menjadikan makhluk, siapapun dia, walau terlihat besar/kuat, namun makhluk itu tetap saja makhluk dan bukan tuhan.

Bagaimana jika dalam pencarian itu kita mendahulukan kesombongan, dan tidak mau merendahkan diri untuk meminta petunjuk kepada Allah, mengenai siapakah Tuhan yang sebenarnya?
Silahkan membaca ayat berikut ini:

Debat Nabi Ibrahim dengan Namrudz menggunakan Logika Berpikir yang Jitu
QS.Al-Baqarah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Perhatikanlah bagaimana kesombongan terhadap kekuasaan yang telah Allah berikan telah mengeluarkan mereka dari cahaya fitrah (keimanan) kepada kekafiran. Namrudz berlaku sombong, padahal ia diberikan anugerah kekuasaan dijamannya. Bahkan ia menganggap dirinya sendiri adalah tuhan, bertindak zhalim dan sombong, yang dengan kekuasaannya itu ia dapat mengampuni seseorang dengan tidak membunuhnya dan menghukum lainnya dengan membunuhnya.
Selengkapnya:  Ketika Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah dapat menghidupkan dan mematikan dengan haq (dengan cara meniupkan ruh ke dalam tubuh dan mencabutnya)," orang kafir itu berkata, "Saya dapat memberikan kehidupan dan kematian dengan cara mengampuni dan membunuh." Lalu, untuk menyudahi perdebatannya, Ibrahim berkata, "Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka Terbitkanlah dari barat jika kamu benar-benar Tuhan." Orang kafir itu pun menjadi bingung dan terputuslah perdebatan karena kuatnya bukti yang menyingkap kelemahan dan keangkuhannya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang terus ingkar.

Juga silahkan membaca kisah lainnya, yakni kisah Fir'aun. Fir'aun juga berlaku sombong dan zhalim bahkan lebih sombong dan zhalim daripada Iblis. Berikut kisahnya:

Kisah Fir'aun mencari Tuhannya, dengan mendahulukan kesombongan:
QS.28. Al Qashash:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

38. Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta." 

Fir'aun bersikap berani dan takabbur (sombong) terhadap Tuhannya untuk mengelabui kaumnya yang bodoh dan kurang akal (karena tidak mau berusaha mencari Tuhan, seperti Nabi Ibrahim dalam kisah sebelumnya).
Setelah Fir'aun mengucapkan kata-kata ini yang di dalamnya mengandung kemungkinan ada Tuhan selainnya, maka Fir'aun hendak menguatkan ketidakadaan Tuhan selainnya, yakni selain diri Fir'aun sendiri. Fir'aun menganggap, bahwa dirinya adalah satu-satunya tuhan ...!

Perhatikanlah keberaniaan makhluk yang lemah dan kecil ini kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, ia mendustakan Rasul-Nya dan mengaku dirinya tuhan serta mencoba menguatkan dirinya dengan membuat bangunan yang tinggi untuk melihat Tuhan Musa dan kita. Akan tetapi, sungguh aneh para pembesar yang mengatur kerajaan, bagaimana akal mereka dapat dipermainkan oleh satu orang ini (Fir'aun), orang yang merusak agama dan akal mereka. Ini tidak lain karena keadaan mereka juga fasik dan sifat itu telah menancap dalam diri mereka.

Oleh karena itu, kami meminta kepada-Mu ya Allah agar Engkau meneguhkan kami di atas keimanan dan tidak memalingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk.
Aaamiiin ...

Bersiap-siaplah wahai umat manusia, ketika jaman sudah pada puncak akhirnya, maka akan banyak bermunculan makhluq yang mengaku tuhan, atau yang dianggap sebagai tuhan. Puncaknya adalah dengan munculnya Dajjal, yang diikuti oleh sebagian besar manusia hingga ada beberapa orang yang beriman yang akhirnya berbalik keimanannya dengan mengikuti Dajjal ...
Dapatkah kita membendung itu semua? Dan bagaimanakah filter kita, jika kita tidak pernah sekalipun memikirkan Dzat Allah yang sesuai dengan petunjuk-Nya dalam Al Quran?
Subhanallah ...

Akhirnya Fir'aun Mengakui Tuhannya Musa di Saat2 Terakhir (Sakaratul Maut), namun Ternyata di Tolak oleh Allah Pengakuan/Tobatnya:
QS.10.Yunus:

 وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

90. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

(Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut lalu mereka diikuti) disusul dan dikejar (oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas) mereka, lafal baghyan dan `adwan menjadi maf'ul lah (hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkata dia, "Saya percaya bahwa) bahwasanya; dan menurut suatu qiraat lafal annahu dibaca innahu sebagai jumlah isti'naf (tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri.") Firaun sengaja mengulang-ulang perkataannya itu supaya diterima oleh Allah, akan tetapi Allah tidak mau menerimanya. Kemudian malaikat Jibril menyumbat mulutnya dengan lumpur laut, karena merasa khawatir Firaun akan mendapatkan rahmat dari Allah. Lalu Allah berfirman kepadanya:

QS.10.Yunus:

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tetapi Allah tidak berkenan dan menerima keimanan Fir'aun yang dinyatakan-Nya dalam keadaan terdesak ini. Tobatnya yang dilakukan pada saat sekarat ini pun tidak diterima Allah, setelah sebelumnya ia hidup bergelimang kemaksiatan dan selalu membuat kerusakan di bumi. Fir'aun pun mati dalam kekufuran dan keterhinaan.

Ingatlah, Siapa saja yang (ridlo) diSembah, Selain Allah, dan yang Menyembahnya, Keduanya Pasti Masuk Neraka!
QS. 21. Al Anbiyaa':

 وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

29. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. 

QS. 46. Al Ahqaaf:

 وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

21. Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." 


Renungkanlah:
Iblis diciptakan dengan banyak kelebihan, diantaranya bisa berbicara dengan Allah secara langsung ...
Selain itu ia diberi pengetahuan dan ilmu yang sangat luas ...
Dan ia termasuk pembesar dan sesepuh utama golongan syaitan ...

Namum ternyata Iblis pernah terkejut, hingga saking kagetnya ia ingin bertobat ...
Lo mengapa demikian?
Ternyata penyebabnya adalah salah seorang pengikutnya yg termasuk junior, berani mengaku sebagai tuhan ...
Bahkan mengaku sebagai satu-satunya tuhan ... !!!

Iblis yang memiliki pengetahuan dan ilmu yang sangat luas saja tidak berani mengaku sebagai tuhan ...
Namun, pengikutnya yang lebih junior dengan kemampuan jauh dibawah Iblis, ternyata malah berani mengaku sebagai satu-satunya tuhan ...

Siapakah dia?
Dia adalah Fir'aun pengikut junior dari Iblis, dijaman Nabi Musa as ...
Hingga saking takut (kepada Allah) dan kagetnya, Iblis ingin bertobat ...
Minta bertaubat kepada Nabi Musa as, namun diurungkannya karena persyaratan yang diajukan Nabi Musa as terlalu berat baginya ...

Apakah syarat dari Nabi Musa as?
Yakni mematuhi perintah Allah yg dulu, yakni perintah supaya Iblis mau sujud kepada Nabi Adam as ...

Link Artikel Lanjutan yang saling Terkait:
1. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2012/07/tuhanku.html
2. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2016/03/dimana-allah.html
3. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2016/03/melihat-dzat-allah.html
4. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2014/05/kedahsyatan-isra-miraj-relativitas-alam.html
5. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/12/dajjal.html
6. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2012/04/siapakahpenciptakita.html
7. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/07/siapakah-allah.html
8. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/07/nabi-muhammad-shallallahu-alaihi.html
9. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2016/05/tuduhan-yang-tidak-layak-kepada-nabi.html

Senin, 02 Mei 2016

Tuduhan yang Tidak Layak Kepada Nabi

Tuduhan orang² kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada para Rasul-Nya, sudah ada sejak jaman dulu. Orang² kafir itu menuduh Rasul-Nya adalah seorang pendusta dan sombong. Menuduh utusan Allah dengan suatu tuduhan yang sangat tidak layak dan jauh dari kebenaran. Bahkan, tuduhan itu sebenarnya adalah untuk sipenuduh itu sendiri, karena pada kenyataannya sipenuduh itulah seorang pendusta lagi sombong.

QS.54. Al Qamar:

أَءُلْقِىَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِن بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

25. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. 

Namun tuduhan itu (Nabi SAW dituduh pendusta lagi sombong) dibantah oleh Allah, karena sesungguhnya orang² kafir itulah yang sangat pendusta lagi sombong. Dan mereka memutar-balikkan fakta (seperti: Maling teriak Maling), dengan menuduh Rasul-Nya adalah seorang pendusta dan sombong. Allah SWT berfirman:

QS.54. Al Qamar:

سَيَعْلَمُونَ غَداً مَّنِ ٱلْكَذَّابُ ٱلأَْشِرُ

26. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. 

Bab: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi
Orang² kafir telah menuduh Nabi Muhammad SAW telah tersesat dan tidak pasti selamat diakhirat(karena masih membutuhkan shalawat dari kita) , karena itu mengapa harus mengikuti Nabi Muhammad SAW?
Subhanallah, alangkah buruk perkataan mereka, mereka mengolah dan memutar-balikkan makna dari Al Qur'an, hanya karena hati mereka dipenuhi dengan kedengkian ..
Mereka benar² ingin mendapatkan adzab yg sangat dahsyat dengan perbuatan buruknya itu ...
Mengapa mereka suka mempermainkan firman Allah, dan mengolah firmanNya berdasarkan nafsu yang buruk dengan kedengkian mereka?

Semua Nabi-Nya mengajarkan kerendahdirian dan melarang sombong kepada para umatnya. Tidak ada satupun Nabi yang mengajarkan kesombongan. Tidak ada yang layak untuk sombong, kecuali hanya Allah sendiri, Allah-lah pemilik kesombongan itu, dan akan dihinakan oleh-Nya, bagi hamba²Nya yang sombong lagi membangga-banggakan diri. Sungguh indah, Nabi SAW yang sudah pasti masuk Surga (dan tidak terpengaruh dng shalawat yg kita ucapkan/tidak), namun masih diperintahkan untuk kita supaya bershalawat untuk Nabi. Padahal, sebenarnya ini adalah ungkapan yang sangat indah, karena sesungguhnya sholawat untuk Nabi itu sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, dengan dibalasnya shalawat kita, 10 kali lipat oleh Allah SWT.
Jangan pelit untuk membaca shalawat untuk Nabi, karena walaupun kita tidak membaca sholawat, Allah dan malaikat-malaikat-Nya selalu bershalawat untuk Nabi.
Jika kita membaca shalawat untuk Nabi, maka yang untung adalah diri kita sendiri, dengan memperoleh 10 sholawat dari Allah.
Sungguh, begitu indah cara Allah memberikan kebaikan kepada kita.

QS. 33. Al Ahzab:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰئِكَـتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[Dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi]

Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, Ka'ab bin Alqamah mengabarkan kepada kami bahwa dirinya mendengar dari Abdurahman bin Jubair: ia mendengar dari Abdullah bin Amr: ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Apabila kalian mendengar (suara) muadzin, maka katakanlah (oleh kalian) seperti apa yang ia katakan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Barang siapa yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membaca sepuluh shalawat untuknya. Lalu mintalah wasilah kepada Allah untuk diriku. Sesungguhnya wasilah adalah sebuah derajat di dalam surga yang tidak semestinya —diberikan— kecuali hanya untuk seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya. Aku berharap, akulah yang akan menjadi hamba tersebut. Barang siapa yang memohon wasilah untukku, maka wajib baginya syafaat(dari Nabi SAW)." Shahih: Al Irwa' (242), At-Ta'liiq ala Bidaayah As-Sul (20/52); Muslim dan Shahih Sunan Tirmidzi(3614).

Sungguh, bukankah Nabi SAW jauh dari kesombongan? Bahkan Nabi SAW berharap supaya umatnya memohon wasilah untuk beliau(berdoa kepada Allah SWT), yang sebenarnya Allah telah menganugerahkan wasilah itu untuk NabiNya. Namun karena Nabi SAW ingin "memanusiakan" umatnya, maka Nabi juga minta didoakan (yang sebenarnya doa itu untuk kebaikan diri orang yg berdoa). Sungguh suatu ungkapan yang indah, dan sangat mengangkat derajat umatnya, sehingga "seolah-olah" sejajar dengan Nabi Muhammad SAW.

Bab. Betapa Murkanya Allah Terhadap HambaNya yang Sombong
QS.31. Luqman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 

Kesombongan adalah Milik Allah dan Hanya Milik-Nya Kesombongan itu
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya," artinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang merasa heran - bangga - dengan dirinya sendiri, ia menyisir rapi-rapi akan rambutnya lagi pula berlagak sombong di waktu berjalan, tiba-tiba Allah membenamkannya, maka ia tenggelamlah dalam bumi sehingga besok hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

Qutaibah menceritakan kepadaku. Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Salim bin Abu Al Ja'd, dari Tsauban, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bebas dari tiga (hal) yaitu kesombongan, ghulul dan utang, maka ia masuk surga'. " Shahih: Ibnu Majah (2412) dan Shahih Sunan Tirmidzi(1572).

Abu Hisyam menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji (sawi)'."Shahih: Takkrij Ishlah AlMasajid(115); Muslim dan Shahih Sunan Tirmidzi(1998)

Bab: Mengenai Rendahnya Nilai Dunia ini, jadi Mengapa Harus Menyombongkan Diri di Bumi yg Hina ini?
Qutaibah menceritakan kepada kami. Abdul Hamid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim. dari Sahal bin Sa'ad, ia berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding  sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya satu tetes air".
Shahih: AshShahihah (940)  dan Shahih Sunan Tirmidzi(2320).

Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Mujalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Mustaurid bin Syaddad, ia berkata, Saya pernah bersama rombongan yang sedang berhenti bersama Rasulullah di hadapan bangkai anak kambing. Rasulullah kemudian bertanya, "Apakah kalian berpendapat bahwa binatang ini hina bagi pemiliknya ketika ia melemparkannya (membuangnya)?" Mereka menjawab, "Karena kehinaannya itulah mereka melemparkannya (membuangnya), wahai Rasulullah". Beliau bersabda. "Dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada binatang ini dalam pandangan pemiliknya ".
Shahih: Ibnu Majah (4111) dan Shahih Sunan Tirmidzi(2321).

Bab. Seseorang Tidak akan Masuk Surga karena Amalannya sewaktu di Dunia
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Az Zabriqan telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; 'Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah? ' Beliau bersabda: 'Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.' Perawi berkata; aku kira dari Abu An Nadlr dari Abu Salamah dari Aisyah. 'Affan mengatakan; telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Musa bin 'Uqbah dia berkata; saya mendengar Abu Salamah dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan redaksi "saddidu (beristiqamahlah dalam beramal) wa absyiruu (dan berilah kabar gembira)." Mujahid mengatakan mengenai firman Allah "Qaulan sadida" yaitu berkataan yang benar." (No. Hadist: 5986 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Semua Nabi, dan semua Rasul tidak ada yg mengajarkan kesombongan dan kedengkian. Semua mengajarkan kerendahdirian dan tawadlu kepada Allah SWT. Semua mengajarkan supaya umatnya tunduk dan patuh serta merendahkan diri hanya dan hanya kepada Allah SWT. Siapaun Nabi itu, seperti: Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan juga Nabi Muhammad SAW.
Adakah Nabi yang mengajarkan kesombongan dan kedengkian?

> Semua Manusia, semua Nabi dan Semua Rasul TIDAK akan masuk Surga karena amalannya. Namun hanya karena limpahan Rahmat dan Ampunan Allah sajalah yang dapat mengantarkan Manusia, semua Nabi dan Semua Rasul bisa masuk Surga.

Sesungguhnya Petunjuk itu juga datangnya dari Allah, dan jika tidak ada petunjuk dari-Nya supaya kita tetap berjalan dijalan yang lurus (Al Islam), maka masuk Nerakalah kita. Karena itu mintalah selalu supaya kita tetap istiqomah dijalan-Nya yang lurus (Al Islam), karena tidak ada jaminan kita akan tetap istiqomah dijalan-Nya yang lurus (Al Islam) kecuali hanya jaminan dari Allah SWT saja ...

QS.1. Al Faatihah:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yakni meminta --dibaca berulang-ulang hingga berharap istiqomah-- di jalan Al Islam)

Sungguh Allah telah mengajarkan kepada kita semua (manusia, para Nabi dan juga para Rasul Allah) dengan suatu permintaan yg indah dari seorang hamba yg merasa lemah dan rendah diri, kepada Sang Pencipta yang Mahamengetahui lagi Maha Perkasa ...