Senin, 02 Maret 2015

Janganlah menyakiti kaum muslimin

Sebagian kaum muslim sangat tajam lidahnya ...
Terutama yg keimanannya belum sampai ke dalam hatinya ...
Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dengan mencela mereka ...
Dan jangan pula kalian mencari-cari aib cacat mereka ...

Barangsiapa yang menyelidiki aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan menyelidiki aibnya ...
Barangsiapa yang aibnya diselidiki oleh Allah, maka Dia akan membuka aib-nya walaupun orang itu merahasiakannya rapat-rapat ...

Alangkah agung engkau dan alangkah agung kemuliaanmu, wahai ka'bah ...
Akan tetapi seorang mu'min itu lebih agung di sisi Allah daripada engkau ...

QS.4. An Nisaa':

لاَّ يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوۤءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلاَّ مَن ظُلِمَ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعاً عَلِيماً

148. Allah tidak menyukai ucapan buruk[Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya]. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS.49. Al Hujuraat:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجْتَنِبُواْ كَثِيراً مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُواْ وَلاَ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari KEBURUKAN orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Yahya bin Aktsam dan Al Jarud bin Mu'adz menceritakan kepada kami dan mereka berkata: Al Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami, Al Husain bin Waqid menceritkan kepada kami, dari Aufa bin Daiham, dari Nafi', dari Ibnu Umar, ia berkata, "Rasulullah SAW naik ke mimbar kemudian menyeru dengan suara yang lantang. Beliau bersabda, 'Wahai sekalian orang-orang yang masuk Islam dengan lidahnya, (namun) keimanan belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan jangan (pula) kalian mencari-cari aib cacat mereka. Barangsiapa yang menyelidiki aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan menyelidiki aibnya. Barangsiapa yang aibnya diselidiki oleh Allah, maka la akan membuka (aib)nya walaupun (ia merahasiakannya) di dalam rumahnya.'
Suatu hari Ibnu Umar melihat bakulah atau ka'bah. Ia kemudian berkata, 'Alangkah agung engkau dan alangkah agung kemuliaanmu. (Akan tetapi) seorang mu'min itu lebih agung keharaman(nya) di sisi Allah daripada engkau'."
Hasan: AlMisyakah (5044) dan AtTa'lia ArRaghib(3/277).

Renungan:

Ada supermarket yg dilengkapi dng CCTV hingga ratusan. Tujuannya supaya tdk kecurian tentunya.
Andaikan semua orang sadar, kalau Allah lebih awas dan lebih mengawasi daripada berapapun banyaknya CCTV yang dipasang, tentunya ia akan takut untuk mencuri ... 
Seorang Mukmin tentu lebih takut kepada Allah, sehingga ia akan menjaga perbuatannya dari kejahatan, menjaga dari perbuatan aib, disaat tidak ada makhluk yg mengawasi ...

Ada orang yg sengaja meletakkan barang dng tujuan menjebak, seperti memberi iming2 supaya di curi. Tentu ia tdk akan melakukannya kalau ia sadar kehomatan seorang Mukmin itu jauh lebih tinggi daripada sekedar barang jebakan itu ...
Hendaknya jangan menjebak, kalau tdk ingin dijebak pula oleh Allah. Lindungi harta atau benda anda dng membawa/mengikat/menguncinya, setelah itu bertawakkallah ...

Hendaknya jangan memberi kesempatan orang lain untuk mencuri, jangan membuka aib, dan jangan memancing mereka supaya berbuat jahat dan berharap ridloNya itu jauh lebih baik ....

Senin, 23 Februari 2015

Kemanapun Kita lari, Kematian pasti akan Menjemput

Walaupun kita berlindung dibalik benteng yang sangat kuat ...
Walaupun kita berlindung didalam bungker yang sangat kokoh ...
Atau kita berlindung dimanapun juga, kematian pasti akan datang menjemput, jika waktu kita untuk hidup telah habis ...

Andaikan sekian banyak penyebab kematian tidak datang, misalnya kecelakaan, sakit, terbunuh, terjatuh dan masih banyak lagi ...
Maka kematian itu akan datang ketika dia telah menjadi tua atau sangat tua ...
Tentunya kematian cara ini lebih menakutkan, karena ketika  menjadi sangat tua, manusia menjadi pikun dan tidak dapat lagi menikmati kenikmatan dunia ini ...

QS.62. Al Jumu'ah:

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَـٰقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Abu Hurairah Muhammad bin Firas Al Bashri menceritakan kepada kami. Abu Qutaibah menceritakan kepada kami, Abu Al Awwam menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Mutharrif bin Abdullah bin AsySyikhir, dari bapaknya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,
"Manusia itu digambarkan memiliki sembilan puluh sembilan faktor penyebab kematiannya. Jika faktor-faktor penyebab kematian itu tidak mengenainya maka dia akan menjadi tua hingga meninggal dunia ".
Hasan: Al Misykah (1569).
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan gharib, tidak diketahui kecuali dari jalur periwayatan itu saja".

Al Hasan bin Al Shabah Al Bazzar menceritakan kepada kami, Mubasysyir bin Ismail Al Halabi memberitahukan kepada kami dari
Abdurrahman bin Al Ala, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Aisyah, ia berkata, "Aku sangat iri kepada seseorang yang meninggal dunia dengan mudahnya, setelah aku melihat Rasulullah SAW meninggal dengan sangat sakit."
Shahih: AsySyamail Al Muhammadiyah (secara ringkas) dan Shahih Bukhari (325)
Perawi berkata, "Aku bertanya kepada Abu Zur'ah tentang hadits ini, 'Siapakah Abdurrahman bin Al Ala'?' Dia menjawab, 'Abdurrahman adalah anak laki-laki Al Ala bin AlLajlaj, dan ia mengetahuinya dari riwayat ini'."

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Yahya bin Said memberitahukan kepada kami dari Al Mutsanna bin Said, dari Qatadah, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau SAW bersabda, "Orang mukmin akan meninggal dengan keringat yang ada di dahinya (meninggal dengan tanda kebaikan)."
Shahih: Ibnu Majah (1452)
Didalam bab ini terdapat hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud.
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan."

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far memberitahukan kepada kami, Syu'bah memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Haritsah bin Mudharrib, ia berkata,'Aku datang kepada Khabab yang telah melakukan (pengobatan) kai (membakar besi lalu ditempelkan) di perutnya. Khabbab berkata, 'Aku tidak pernah melihat sahabat Rasulullah SAW terkena musibah seperti yang pernah kualami. Aku pernah tidak mempunyai (uang) satu Dirham di masa Rasulullah SAW, dan (sekarang) di rumahku diperkirakan ada empat puluh ribu (Dirham). Jika pada waktu itu Rasulullah SAW tidak melarang kami — atau melarang - mengharapkan kematian, maka aku akan mengharapkan kematian'."
Shahih: Ahkamul Janaiz (59) dan Muttafaq 'alaih (Larangan mengharap saja)
Didalam bab ini terdapat hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Anas, dan Jabir.
Abu Isa berkata, "Hadits Khabbab adalah hadits hasan shahih."

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena bencana yang menimpanya (Kalaupun terpaksa) maka hendaknya ia berdoa, 'Ya, Allah hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku'."
Ali bin Hujr memberitahukan kepada kami, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Suhaib memberitahukan kepada kami dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW dengan hadits seperti diatas:
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih."
Shahih: Ibnu Majah (4265) dan Muttafaq 'alaih

Kematian tidaklah menakutkan ...
Apa yang ditakuti kalau hal itu suatu keniscayaan ...?
Justru yg kita takuti adalah saat² sakaratul maut ...
Karena saat² menjelang kematian itulah penentu tempat kita ...
Akan ke Surga ataukah Neraka ...

Tidak perlu juga berharap akan segala amal kita ...

Tidak sedikitpun amal kita, dapat menyelamatkan kita ...
Mudah bagi Allah untuk menggandakan ataupun menghapuskan segala amal kita ...
Karena sesungguhnya segala amal kita itu bagian dari limpahan Rahmat Allah ...
Andaikan saat² sakaratul maut kita malah mendurhakaiNya, apalah arti
segala amal kita ...?

Menjelang kematian, berharaplah akan limpahan Rahmat dan Ampunan Allah ...

Hanya dengan limpahan Rahmat dan Ampunan Allah, kita akan selamat dari
Neraka ...
Jangan sombong dan jangan lengah pada saat² sakaratul maut, karena
itulah penentu tempat kita dikemudian hari ...

Senin, 16 Februari 2015

Orang yang Bersin

Sumber: Shahih Sunan Tirmidzi

2741. Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu'bah mengabarkan kepada kami, Ibnu
Abu Laila mengabarkan kepadaku, dari saudaranya, Isa bin Abdurrahman, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Abu Ayyub bahwasanya Rasulullah SAW bersabda. "Jika salah seorang dari kalian bersin maka ucapkanlah, Alhamdulillah 'ala kulli haalin(segala puji bagi Allah atas segala sesuatu). Kemudian ucapkanlah kepada orang yang menjawab seperti itu dengan ucapan, Yarhamukumullah (semoga Allah merahmati kalian). Kemudian ia —yg bersin menjawabnya dengan— mengucapkan, Yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk atas kalian dan memperbaiki hati kalian). "
Muhammad bin Al Mutsanna menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Laila... dengan sanad seperti ini.
Ia berkata, "Seperti inilah Syu'bah meriwayatkan hadits ini, dari
Ibnu Abu Lahi'ah, dari Abu Ayyub, dari Rasulullah."
Ibnu Abu Laila bimbang terhadap hadits ini. Terkadang ia berkata, "Dari Abu Ayyub, dari Rasulullah."
Pada kesempatan lain dia berkata, "Dari Ali, dari Rasulullah."
Shahih: Ibnu Majah (3715).
Muhammad bin Basyar dan Muhammad bin Yahya Ats-Tsaqafi Al Marwazi menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata, Yahya bin Said Al Qaththan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Laila, dari saudaranya, Isa, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Ali, dari Rasulullah ... dengan hadits yang sama.

2742. Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Sulaiman At-Taimi, dari Anas bin Malik. Bahwasanya ada dua orang laki-laki bersin di dekat Nabi SAW. Beliau mendoakan yang satu sedangkan yang lain tidak beliau doakan. Orang yang tidak didoakan bertanya, "Wahai Rasulullah, orang ini engkau doakan, akan tetapi engkau tidak mendoakanku." Rasulullah SAW menjawab, "Orang ini mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), sedangkan kamu tidak memuji Allah."
Shahih: Muttafaq alaih.
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih"

2743. Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah mengabarkan kepada kami, Ikrimah bin Aammar mengabarkan kepada kami, dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya. Dia berkata, "Seseorang bersin di sisi Rasulullah dan saya melihatnya. Rasulullah SAW lalu mengucapkan, 'Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu)'." Kemudian ia kembali bersin. Rasulullah SAW lalu berkata, "Orang ini terkena penyakit flu."
Shahih: Ibnu Majah (3714).
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih."
Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, Ikrimah bin Ammar menceritakan kepada kami, dari Iyas bin Salamah, dari ayahhnya, dari Rasulullah... dengan hadits yang sama. Hanya saja pada kesempatan yang (bersin) ketiga ia mengucapkan, "Kamu sedang terkena flu."
Shahih: Lihat hadits sebelumnya.
Ia berkata, "Hadits ini lebih shahih dibandingkan dengan hadits Ibnul Mubarak."
Syu'bah telah meriwayatkannya dari Ikrimah bin Ammar ... seperti riwayat Yahya bin Said.
Ahmad bin Al Hakam Al Bashri menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Ikrimah bin Ammar... dengan hadits yang sama. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan dari Hcrimah bin Ammar ... seperti riwayat Ibnul Mubarak. Pada kesempatan yang ketiga ia berkata, "Kamu sedang terkena flu."
Ishaq bin Manshur menceritakan kepada kami tentang hal itu, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami.

2745. Muhammad bin Wazir Al Wasithi menceritakan kepada kami, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ajian, dari Sumay, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Bahwa Nabi SAW jika bersin beliau menutup wajahnya dengan tangan atau bajunya, dan beliau pun merendahkan suaranya.
Hasan shahih: Ar-Raudh An-Nadhir (1109).
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih"

2746. Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ajian, dari Al Maaburi, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bersin itu dari Allah, sedangkan menguap itu dari syetan. Jika salah seorang dari kalian menguap(angop), maka letakkanlah tangannya di atas mulutnya. Jika ia mengucapkan, 'aah, aah,' maka sesungguhnya syetan sedang menertawakannya dari dalam mulutnya. Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci menguap. Jika sesorang mengatakan, 'aah, aah,' manakala ia sedang menguap, maka sesungguhnya syetan menertawakannya dari dalam mulutnya."
Hasan shahih: At-TaTtq Ala ibniKhuzahnah (921-922) dan Allrwa (779); Al Bukhari, dengan hadits yang sama.
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih."

184. Bab: Bersin Ketika Shalat
404. Outaibah menceritakan kepada kami, Rifa'ah bin Yahya bin Abdullah bin Rifaah bin Rafi' AzZuraqi menceritakan kepada kami dari paman ayahnya Muadz bin Rifaahdari ayahnya, ia berkata, "Aku mengerjakan shalat di belakang Rasulullah SAW, lalu aku bersin dan aku mengucapkan, 'Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fihi, mubaraakan 'alaihi, kama yuhibbu rabbuna wayardha (Segala puji bagi Allah dengan pujipujian yang banyak, baik. diberkati didalamnya serta diberkati atasnya, sebagaimana Tuhan kami senang dan ridha).' Ketika selesai shalat Rasulullah SAW menghadap kepada kami dan bersabda, 'Siapa yang berbicara ketika shalat?' Tak ada seorangpun yang berbicara. Kemudian beliau bersabda untuk yang kedua kalinya, 'Siapa yang berbicara ketika shalat?' Tak ada seorangpun juga yang berbicara Kemudian beliau bersabda untuk yang ketiganya, 'Siapa yang berbicara ketika shalat?' Lalu Rifaah bin Rafi' bin Afra' berkata, 'Aku wahai Rasulullah!' Beliau bersabda, 'Bagaimana kamu berkata?' Dia menjawab, 'Aku mengucapkan, "Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fih mubaraakan 'alaihi kama yuhibbu rabbuna wayardha".' Lalu Rasulullah bersabda, 'Demi Dzat yang jiwaku di TanganNya, sungguh tiga puluh sekian malaikat berebut untuk membawa naik kalimat tersebut'."
Hasan: Shahih Abu Daud (747) dan Al Misykah (992)
Dalam bab ini terdapat hadits dari Anas, Wa'il bin Hujr, dan Amr bin Rabiah.
Abu Isa berkata, "Hadits Rifa'ah adalah hadits hasan."
Menurut sebagian ulama, hadits ini menceritakan kejadian dalam shalat sunah, karena tidak hanya seorang dari para tabiin yang berkata,
"Apabila seseorang bersin ketika shalat wajib, maka hendaknya ia memuji Allah dalam hatinya." Mereka tidak memperbolehkan lebih dari itu.

Senin, 09 Februari 2015

Keutamaan 'Ammar bin Yasir radliallahu 'anhu dan Fitnah antara Ali ra - Muawiyah ra.

Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdul Malik bin Umair, dari Hilal —budak Rib'i—, dari Rib'i, dari Hudzaifah, ia berkata: Kami duduk-duduk di dekat Nabi SAW, kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui seberapa lama aku akan (bersama) kalian. —Oleh karena itu—, ikutilah kedua orang ini sepeninggalku —beliau memberi isyarat kepada Abu Bakar dan Umar—, mintalah petunjuk kepada petunjuk Ammar, dan apa yang diceritakan oleh Ibnu Mas ud kepada kalian, percayailah itu'."
Shahih: Ibnu Majah (97). Lihat hadits no. 3423, secara ringkas.
Hadits ini adalah hadits hasan.

Keterangan:
1. Sesungguhnya Nabi itu manusia biasa, beliau tidak tahu hal2 yg ghaib dan juga tidak tahu umur beliau sendiri, dan hanya Allah yg Mengetahui segala hal yg ghaib.
2. Nabi telah diberi tahu mengenai beberapa hal yg ghaib (dari Allah), kalau sepeninggal beliau hendaknya mengikuti Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin.
3. Hendaknya meminta petunjuk kepada petunjuk Ammar, saat terjadi kekacauan dijaman setelah Nabi SAW wafat.
4. Hendaknya mempercayai perkataan dari Ibnu Mas ud mengenai Al Qur'an, bacaan dan tafsirnya.


Ibrahim bin Sa'ad meriwayatkan hadits ini dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdul Malik bin Umair, dari Hilal —budak Rib'i—, dari Rib'i, dari Hudzaifah, dari Nabi SAW... seperti hadits di atas.
Sementara Salim Al Muradi Al Kufi meriwayatkannya dari Amru bin Harim, dari Rib'i bin Hirasy, dari Hudzaifah, dari Nabi ... seperti hadits ini.
3800. Abu Mush'ab Al Madani menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Al Ala' bin Abdurrahman, dari ayah Al Ala' yaitu Abdurrahman, dari Abu Hurairah —radhiyallahu anhu—, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Berbahagialah wahai Ammar, (sebab) kelompok pembangkang (riwayat lain:kelompok yang berdosa) akan membunuhmu."
Shahih: Ash-Shahihah (710).
Abu Isa berkata, "Dalam bab ini ada riwayat lain dari Ummu Salamah, Abdullah bin Amru, Abu Al Yasr. dan Hudzaifah."
Abu Isa berkata lagi, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits Al Ala" bin Abdurrahman."


Muawiyah bin Abu Sufyan adalah pribadi yang bijak, lemah-lembut, dermawan, cerdas dan cerdik. Juga punya peran yg sangat besar dalam penyebaran Islam. Misalnya: membuka wilayah Kaesaria, menaklukkan Qabrush, dan mengepung Konstantinopel. Dan merupakan salah seorang kepercayaan Khalifah Umar ra. dan Utsman ra.
Namun sayang, ketika terjadi perang Shiffin pikirannya dirasuki fitnah yg tidak didasari alasan apapun sehingga ia dianggap sebagai pihak yang salah. Petunjuknya adalah hadits 'Ammar bin Yasir diatas, yg menyatakan bahwa 'Ammar bin Yasir akan dibunuh oleh pihak yang berdosa.

Ketika berlangsung konflik yang sengit antara Ali bin Abu Tholib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, para sahabat bertanya-tanya, kepada siapakah 'Ammar bin Yasir berpihak?. Ketika mereka melihat bahwa 'Ammar bin Yasir berada dibarisan Ali, mereka tahu bahwa pihak yg benar adalah pihak Ali bin Abu Thalib.
Banyak sahabat yang memposisikan diri mereka netral, tidak memihak siapapun, namun setelah 'Ammar bin Yasir dibunuh oleh pasukan Muawiyah (terkena panah atau pedang), yang berarti pihak yg benar adalah pihak Ali bin Abu Thalib, maka ada beberapa sahabat yang berpihak kepada Ali ra, dan sebagian lagi tetap netral.
Banyak sahabat yang tetap memilih netral, yakni diam dan memintakan ampun kepada para sahabat lainnya. Mereka tidak ingin mancampuri apa yang terjadi diantara Ali dan Muawiyah. Namun walaupun begitu, para sahabat yg netral itu memilih tunduk dibawah kepemimpinan Ali ra.

Setelah Kholifah Ali bin Abu Thalib dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, kedudukannya sebagai khalifah digantikan oleh putranya al-Hasan ra. Namun Hasan ra. tidak lama menjabat dan memilih menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Ia mengambil tindakan itu demi menjaga persatuan kaum Muslim. Benar sekali apa yg pernah disabdakan oleh kakeknya, Muhammad SAW dalam suatu hadits, "Putraku ini (sebutan untuk Hasan ra) adalah seorang pemimpin, dengannya Allah akan mendamaikan dua golongan besar". Al Hasan menemui Muawiyah dan menyerahkan kekuasaannya atas Irak, kemudian ia pergi dan menetap di Madinah. Peristiwa itu terjadi pada 41H, tidak berapa lama sebelum Muawiyah wafat, karena sakit.

Al Hasan melakukan Haji sebanyak 25 kali dng berjalan kaki. Dan akhirnya Hasan wafat karena diracun. Ada pendapat bahwa yang meracuni adalah istrinya sendiri yakni Ju'dah binti al-Asy'ats. Menjelang wafatnya, Hasan berkata kepada saudaranya Al Husain, "Saudaraku, aku telah minum racun tiga kali". Husain bertanya, "Siapa yang meracunimu?". Al Hasan menjawab, "Memangnya apa yang akan kau lakukan? Kau akan memerangi mereka? Aku sudah pasrahkan urusan mereka kepada Allah". Setelah mengucapkan kata² itu, ruhnya yg suci pergi menghadap Ilahi, dan Al Husain menguburkan jenasah saudaranya di pemakaman Baqi, Madinah.

Senin, 02 Februari 2015

Permasalahan Nabi SAW, dan keluarga Nabi SAW, pada jaman Nabi SAW masih hidup, adalah barakah buat kaum muslimin

QS.5. Al Maa'idah:

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلوٰةِ فٱغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَٱطَّهَّرُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىۤ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنْكُم مِّنَ ٱلْغَائِطِ أَوْ لَـٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَآءً فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَٱمْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِّنْهُ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

6. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit[sakit yang tidak boleh kena air] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[menyentuh. Menurut jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian mufassirin ialah: menyetubuhi] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Telah menceritakan kepada kami Isma'il dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Malik dari 'Abdur Rahman bin Al Qasim dari Bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; "Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam dalam sebagian perjalanannya, dan saat kami sampai di Al Baida -atau di Dzatuljaisy- kalungku hilang, maka Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam berhenti untuk mencarinya dan para sahabat juga ikut bersamanya. Mereka tidak mempunyai air dan juga Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam. Para sahabat datang kepada Abu Bakar Radliyallhu'anhu dan berkata, 'Apakah kamu tidak melihat apa yang diperbuat Aisyah?! Ia menghentikan (menahan) Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam dan para sahabat, padahal mereka tidak pada tempat yang ada airnya dan mereka juga tidak mempunyai air'. Abu Bakar Radliyallahu'anhu lalu datang (kepadaku) dan Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam berbaring meletakkan kepalanya diatas pahaku dan beliau tertidur. Ia berkata, 'Kamu menahan Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam dan manusia pada tempat yang tidak ada airnya dan mereka juga tidak mempunyai air?" Aisyah berkata, "Abu Bakar mencelaku dan beliau mengatakan sebagaimana yang dikehendaki Allah dan ia menekan lambungku dengan tangannya. Tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali keadaan Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam yang berada diatas pahaku! Rasulullah Shallallahu'alihi wasallam tertidur hingga pagi, tanpa ada air. Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tayamum[Surat Al Maidah ayat 6], maka mereka pun bertayamum." Usaid bin Hudhair berkata; "Ini bukan keberkahan keluargamu yang pertama wahai keluarga Abu Bakar!" Aisyah berkata, "Lalu kami membangunkan unta yang kami tunggangi, dan kalung tersebut ternyata ada dibawahnya.(No. Hadist: 4241 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah bercerita kepada kami 'Ubaid bin Isma'il telah bercerita kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa dia meminjam kepada Asma' sebuah kalung lalu kalung itu rusak. Maka Rasulullah perintahkan orang-orang dari para shahabat beliau untuk mencarinya. Kemudian waktu shalat tiba dan akhirnya mereka shalat tanpa berwudlu'. Ketika mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mereka mengadukan kejadian tersebut. Maka kemudian turunlah ayat tentang perintah bertayamum. Lalu Usaid bin Hudlair berkata; "Semoga Alah memberi balasan kebaikan kepada anda ('Aisyah). Demi Allah, tidaklah datang problem kepada anda melainkan Allah memberikan jalan keluarnya dan menjadikan hal itu sebagai barakah buat kaum muslimin".(No. Hadist: 3489 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah bahwa ia meminjam kalung kepada Asma' lalu hilang. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang untuk mencarinya hingga kalung itu pun ditemukan. Lalu datanglah waktu shalat sementara mereka tidak memiliki air, namun mereka tetap melaksanakannya. Setelah itu mereka mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hingga turunlah ayat tayamum. Usaid bin Al Hudlair lalu berkata kepada 'Aisyah, "Semoga Allah membalasmu dengan segala kebaikan. Sungguh demi Allah, tidaklah terjadi suatu peristiwa menimpa anda yang anda tidak sukai kecuali Allah menjadikannya untuk anda dan Kaum Muslimin sebagai kebaikan."(No. Hadist: 324 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin 'Abdul Wahhab telah bercerita kepada kami Hammad telah bercerita kepada kami Hisyam dari bapaknya berkata; "Orang-orang biasa memilih memberikan hadiah mereka (kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) saat beliau giliran di rumah 'Aisyah radliallahu 'anha. 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Maka shahabat-shahabatku (para istri Nabi yang lain) berkumpul pada Ummu Salamah dan berkata; "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya orang-orang memberikan hadiah kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau giliran di rumah 'Aisyah. Dan kami menghendaki kebaikan sebagaimana yang juga 'Aisyah radliallahu 'anha kehendaki. Maka itu mintalah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar beliau memerintahkan orang-orang apabila hendak memberi hadiah kepada beliau agar memberikanya kepada beliau saat beliau berada dimana saja dari giliran belau (di rumah istri-istrinya) ". 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Maka Ummu Salamah menyampaikan hal ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam". Ummu Salamah berkata; "Beliau menolak berbicara denganku. Dan ketika beliau datang kembali kepadaku, aku sampaikan lagi hal itu namun beliau tetap menolak berbicara. Ketika untuk yang ketiga kalinya aku sampaikan, beliau berkata kepadaku: "Wahai Ummu Salamah, janganlah kamu sakiti aku dalam masalah 'Aisyah. Karena demi Allah, tidak ada wahyu yang turun kepadaku saat aku dalam selimut seorang istri diantara kalian kecuali dia ('Aisyah) ".(No. Hadist: 3491 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 26 Januari 2015

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang pribadi yang lembut

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah telah menceritakan kepada kami Malik bin Al Huwairits berkata, "Kami mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ketika itu kami masih muda sejajar umurnya, kemudian kami bermukim di sisi beliau selama dua puluh malam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang pribadi yang lembut. Maka ketika beliau menaksir bahwa kami sudah rindu dan selera terhadap isteri-isteri kami, beliau bersabda: "Kembalilah kalian untuk menemui isteri-isteri kalian, berdiamlah bersama mereka, ajari dan suruhlah mereka, " dan beliau menyebut beberapa perkara yang sebagian kami ingat dan sebagiannya tidak, "dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling dewasa menjadi imam."(No. Hadist: 6705 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Yahya dari At Taimi dari Abu Utsman dari Ibn Mas'ud berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah adzan bilal mencegah kalian dari makan sahur, sebab dia adzan -atau ia katakan dengan redaksi 'memanggil'- agar orang yang shalat malam pulang, dan yang tidur agar bangun, fajar itu bukan, beliau katakan begini -Yahya mendemontrasikannya dengan menyatukan kedua telapak tangannya-hingga beliau katakan begini -Yahya mendemontrasikannya dengan merenggangkan kedua jarinya, telunjuk dan jari tengah."(No. Hadist: 6706 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami 'Abdul Aziz bin Muslim telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, aku mendengar Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam, silahkan makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan."(No. Hadist: 6707 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata, "Ada seorang laki-laki terbunuh pada masa Rasulullah SAW. Lalu, pembunuhnya dihadapkan kepada walinya, lalu ia berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak bermaksud membunuhnya." Maka Rasulullah SAW bersabda kepada keluarga korban, 'Sesungguhnya, jika pembunuhnya ini jujur dengan perkataannya, dan kamu tetap membunuhnya —tetap menuntut hukum qishash dijatuhkan atasnya— maka kamu akan masuk neraka.' Lalu lelaki itu dibiarkan berlalu darinya.
Abu Hurairah berkata, "Kedua tangannya masih terikat ke belakang, ia pergi dengan menyeret tali yang mengikat kedua tangannya. Lalu —setelah itu— lelaki tersebut dikenal dengan sebutan Dzu An-Nis'ah."
Shahih: Ibnu Majah (2690).

Abu Kuraib menceritakan kepada kami. Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr. dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Suatu ketika, Ma'iz Al Aslami datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, 'Sesungguhnya ia telah berzina.' maka Rasulullah SAW berpaling, lalu Ma'iz menghadap beliau dari arah lain kemudian berkata. 'Sesungguhnya ia telah berzina.' Maka Rasulullah SAW kembali berpaling, Ma'iz lalu menghadap beliau dari arah lain dan berkata, 'Sesungguhnya dia telah berzina.' Hingga pada kali yang keempat, lalu diperintahkan untuk membawanya ke Harrah (sebuah bukit berbatu) lalu ia dirajam dengan batu. [Ada seorang laki2 yg mengaku telah berzina kepada Rasulullah SAW, namun diacuhkan oleh beliau dng menghadap ke arah lain. Namun laki2 itu terus mengaku hingga laki2 itu berkata sampai 4 kali. Pada pengakuan yg keempat, baru laki2 itu diperintahkan unt dirajam dengan batu]

Namun, ketika terkena batu, ia berlari kencang, hingga melewati seorang laki-laki yang sedang membawa tulang dagu unta. maka laki-laki itu memukulnya dengan tulang tersebut dan orang-orang pun memukulinya hingga mati."
Kemudian para sahabat menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Mereka mengatakan bahwa Ma'iz lari saat terkena batu dan kemudian ia menemui ajalnya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Kenapa kalian tidak membiarkannya saja?!"
Hasan shahih: Ibnu Majah (2554)

Keterangan:
Karena laki2 itu lari dan tidak mau dirajam, sebaiknya dibiarkan saja. Tidak usah dirajam, sebab ia nanti pasti menemui pengadilan Akhirat yg sangat adil.
Padahal jika laki2 itu mau dirajam, maka semua dosa2nya akan diampuni oleh Allah, namun karena tidak mau dirajam, maka terserah Allah, apakah akan menyiksanya ataukah akan mengampuninya.

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud bahwa Abu Hurairah berkata, "Ketika kami di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari arab badui (nomade, primitife) berujar "Wahai Rasulullah, putuskanlah aku dengan kitabullah." Lantas lawan sengketanya berkata, "Dia benar Wahai Rasulullah, putuskanlah dia dengan kitabullah dan ijinkanlah aku untuk bicara." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Silahkan engkau bicara! Orang itu lalu berkata, "Aku mempunyai anak laki-laki yang menjadi pembantu orang ini. Lantas anakku berzina dengan isterinya, orang-orang mengabarkan kepadaku bahwa anak laki-lakiku harus dirajam, hanya aku kemudian menebusnya dengan seratus ekor unta dan seorang hamba sahaya. Kemudian aku bertanya kepada ulama, dan mereka mengabarkan kepadaku bahwa isterinya harus dirajam sedang anakku dicambuk (dera) sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun." Lantas nabiyullah bersabda: "Sungguh, akan aku putuskan kalian berdua dengan kitabullah, adapun hamba sahaya dan kambing, maka kembalikanlah keduanya, adapun anak laki-lakimu ia harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, adapun engkau wahai Unais Al aslami -yaitu seorang laki-laki dari bani Aslam-temuilah si wanita, jika ia MENGAKU, maka rajamlah dia." Unais kemudian bergegas pergi menemui si wanita dan ia mengaku, lantas Unais merajamnya."(No. Hadist: 6718 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Si anak laki-laki sudah mengaku, sehingga ia harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun (hukuman bagi pelaku zina yg belum menikah).

Jika si wanita mengaku, maka hukuman rajam dilaksanakan (hukuman bagi pelaku zina yg sudah pernah menikah), dan dosa2 wanita itu diampuni Allah. Sehingga setelah hukuman selesai, kaum Muslimin men-sholatinya.
Jika si wanita itu Tidak mengaku, maka hukuman rajam Tidak jadi dilaksanakan, tinggal si wanita itu menunggu pengadilan di akhirat kelak. Padahal, persidangan Akhirat lebih dahsyat dari hukuman rajam dunia, dan terserah Allah mau mengampuni atau malah menyiksanya.

Mengapa butuh pengakuan dari pelaku? Sebab Tidak adanya 4 saksi yang menyaksikan perbuatan itu.
Wa Allahu 'alam