Senin, 15 Februari 2016

Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan yang baik

BERSEGERALAH dalam melakukan amalan-amalan yang baik sebelum datangnya tujuh macam perkara:
  1. Kemiskinan yang melalaikan. Dengan kemiskinan, manusia akan terfokuskan hanya mencari nafkah. Karena dia miskin, tentunya tidak punya pilihan dalam mencari nafkah, sehingga seringkali melupakan ibadah atau tidak akan sempat melakukan ibadah.
  2. Kekayaan yang menyebabkan kecurangan. Dengan kekayaan yg melimpah, seringkali manusia melakukan cara-cara yg batil dalam mempertahankan hartanya, atau dalam menambah kekayaan yg dimilikinya. Kecurangan seringkali dilakukan jika tujuannya adalah kekayaan (gemerlapnya dunia). Atau dia tidak melakukan kecurangan, namun karena hartanya banyak, maka ia butuh waktu yg banyak pula unt menjaga dan mengelolanya, sehingga dia akan lalai dengan akhirat.
  3. Sakit yang merusakkan tubuh. Dengan sakit, tubuh menjadi lemah, kebaikan yg biasanya dilakukan dng mudah, setelah sakit, menjadi sangat sulit dan berat.
  4. Usia tua yang menyebabkan kurangnya akal fikiran - yakni akal menjadi tidak normal lagi, ucapan menjadi tidak karuan, tidak jelas dan pikun. 
  5. Kematian yang dapat melenyapnya segala hal. Dengan Kematian, semua amal kebaikan yg pernah dilakukan pasti berhenti. Tidak akan bisa melakukan amal kebaikan lagi setelah kematian, selain amal sewaktu hidup dahulu yg akan terus mengalir (atas kehendak Allah). 
  6. Dajjal, maka ia adalah seburuk-buruknya makhluk ghaib yang dinantikan.
  7. Datangnya hari kiamat, padahal hari kiamat itu suatu peristiwa yang terbesar bencananya serta yang terpahit deritanya.

-----------
QS. 3. Ali 'Imran:

وَسَارِعُوۤاْ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلأَْرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu[dengan segera bertaubat dan bersegera pula melakukan amalan-amalan yang baik] dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,


Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bersegeralah engkau sekalian melakukan amalan-amalan -yang baik - sebelum datangnya tujuh macam perkara. Apakah engkau sekalian menantikan - enggan melakukan dulu, melainkan setelah tibanya kefakiran yang melalaikan, atau tibanya kekayaan yang menyebabkan kecurangan, atau tibanya kesakitan yang merusakkan, atau tibanya usia tua yang menyebabkan ucapan-ucapan yang tidak keruan lagi, atau tibanya kematian yang mempercepatkan - lenyapnya segala hal, atau tibanya Dajjal, maka ia adalah seburuk-buruk makhluk ghaib yang ditunggu, atau tibanya hari kiamat, maka hari kiamat itu adalah lebih besar bencananya serta lebih pahit penanggunggannya."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Senin, 08 Februari 2016

Mengapa Sebuah Negeri yg Penduduknya beriman kepada Allah malah dihancurkanNya?

QS.11. Huud:

فَلَوْلاَ كَانَ مِنَ ٱلْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُوْلُواْ بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْفَسَادِ فِى ٱلأَْرْضِ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ وَٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَآ أُتْرِفُواْ فِيهِ وَكَانُواْ مُجْرِمِينَ

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

116. Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

117. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. 


Keterangan:
Suatu negeri yg penduduknya melakukan kebaikan, mau melarang orang lain supaya tidak melakukan kerusakan/keburukan, maka Allah tidak akan menghancurkan negeri itu, walaupun penduduknya tidak beriman kepada Allah. Ada yang berpendapat, kalau negeri tersebut terlihat lebih Islami daripada negeri yg mayoritas penduduknya adalah Muslim.
Dan sebaliknya, apabila penduduk suatu negeri beriman kepada Allah, namun malah melakukan kerusakan, kecurangan, dan tidak mau melarang orang lain supaya tidak melakukan kerusakan/keburukan/kecurangan (kecuali hanya sedikit sekali), maka negeri tersebut akan DIHANCURKAN oleh Allah.
Biasanya (tambahan), penduduknya hanya mementingkan kenikmatan yang ada pada mereka sendiri (egois dengan tidak mau melarang yg mungkar dan juga tidak mau mengajak untuk melakukan kebaikan).

Kalau memperhatikan negeri yg penduduknya melakukan kebaikan, sangat maju dalam teknologi namun tidak beriman kepada Allah, cara mereka sangat elok dan bagus dalam melakukan kebaikan dan dalam mencegah kerusakan/keburukan. Tidak terkesan anarkis, namun cara mereka apik, sehingga penduduknya menjadi sadar sendiri akan pentingnya kebaikan dan buruknya kerusakan/kecurangan.
Kita bisa meniru yang baik² dari mereka namun kita juga beriman dan bertakwa kepada Allah. Itulah tujuan dan do'a kita yg sebenarnya, kebaikan dunia dan akhirat.

Tujuan suatu negeri yg penduduknya melakukan kebaikan, namun penduduknya tidak beriman kepada Allah, adalah kebaikan dunia. Dan ternyata Allah memberikannya. Allah tidak menzholimi mereka, karena Allah adalah ArRohman. Mereka mendapatkan kebaikan, kemajuan teknologi dan kemewahan dunia, dengan tidak dihancurkanNya, karena mereka memang berbuat baik. Namun diakhirat mereka tidak memperoleh kebaikan sedikitpun.
Sedangkan kita, hendaknya kita melakukan kebaikan untuk dunia ataupun untuk tujuan akhirat, karena tujuan kita memang untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Akhir kata, sebagai orang yang beriman kepada Allah dan NabiNya, kita harus berbuat kebaikan (diri sendiri), menganjurkan kebaikan dan melarang kemungkaran yang batas2nya sudah ditentukan oleh Allah dan NabiNya. Atau kalau kita tidak mau melakukannya, maka tunggulah kehancuran kita semua.
Subhanallah ...

Senin, 01 Februari 2016

PENUHILAH panggilan pertama sebelum datangnya panggilan yg kedua

Sesungguhnya panggilan Allah ada 2, PENUHILAH panggilan pertama sebelum datangnya panggilan yg kedua.
Panggilan pertama pasti sangatlah nikmat dan menyenangkan, sedangkan panggilan kedua bisa jadi sangat dahsyat dan mengerikan ...

>> Panggilan pertama adalah adzan (panggilan Allah yg dilakukan oleh para Muadzin), karena itu penuhilah panggilan sholat berjamaah sesegera mungkin di Masjid.
>> Panggilan kedua adalah kematian (panggilan Allah yg dilakukan oleh Malaikat Izroil), jika seseorang itu senang dan ridlo dalam memenuhi panggilan pertama, maka panggilan kedua sangatlah menyenangkan, namun jika panggilan pertama jarang dipenuhi atau bahkan tidak pernah memenuhinya (tidak sholat), maka panggilan kedua sangatlah dahsyat dan mengerikan ...

Barangsiapa ingin selamat pada panggilan kedua, maka hendaknya ia ridlo dan segera dalam mendatangi panggilan pertama ...
____________
QS. 2. Al Baqarah:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلوٰةَ وَآتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُواْ مَعَ ٱلرَّاكِعِينَ

43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[perintah wajibnya shalat fardlu berjama'ah].

QS.24. An Nuur:

قُلْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواْ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلاَّ ٱلْبَلَـٰغُ ٱلْمُبِينُ

54. Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang(melalui perkataan, tindakan, perbuatan, persetujuan dan larangan beliau SAW -dalam hadits yg shohih-)."


Dari Ibnu Mas'ud r.a.,katanya: "Barangsiapa yang senang kalau menemui Allah Ta'ala besok -pada hari kiamat- dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat fardhu ini di waktu ia dipanggil untuk mendatanginya -yakni jika sudah mendengar adzan, sebab sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabimu semua s.a.w. beberapa jalan petunjuk dan sesungguhnya shalat-shalat itu adalah termasuk sebagian dari jalan-jalan petunjuk tersebut. Andaikata engkau semua mengerjakan shalat -fardlu- dalam rumah-rumahmu sendiri sebagaimana shalatnya orang yang suka meninggalkan jamaah itu, yakni yang bersembahyang dalam rumahnya, niscayalah engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, selanjutnya jikalau engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, maka niscayalah engkau semua tersesat. Sungguh-sungguh saya telah melihat sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan shalat-shalat -itu dengan berjamaah- melainkan ia adalah seorang munafik yang dapat dimaklumi kemunafikannya. Sungguh ada seseorang yang didatangkan untuk menghadiri shalat berjamaah, -karena ia sakit keras maka- ia disandarkan antara dua orang lelaki sehingga ia dapat ditegakkan di dalam shaf -karena ia mengetahui betapa besar fadhilahnya shalat berjamaah itu."
(Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besar pahalanya beradzan dan menempati shaf pertama -di waktu shalat, kemudian mereka tidak menemukan jalan untuk memperolehnya itu melainkan dengan cara mereka mengadakan undian, niscayalah mereka akan melakukan undian itu. Juga andaikata para manusia mengetahui betapa besar pahalanya datang lebih dulu -untuk melakukan shalat-, niscayalah mereka akan berlomba-lomba untuk itu. Demikian pula andaikata mereka mengetahui betapa besar pahalanya shalat Isya dan shalat Subuh -dengan berjamaah, niscayalah mereka akan mendatangi kedua shalat itu, sekalipun dengan berjalan merangkak." (Muttafaq 'alaih)
Alistiham artinya mengadakan undian dan Attahjir ialah datang paling awal untuk mengerjakan shalat - di masjid.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang lelaki buta matanya datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai seorang pembimbing yang dapat membimbing saya untuk pergi ke masjid," lalu ia meminta kepada Rasulullah s.a.w. supaya diberi kelonggaran untuk bersembahyang di rumahnya saja, kemudian beliau s.a.w. memberikan kelonggaran padanya. Setelah orang itu menyingkir, lalu beliau s.a.w. memanggilnya dan berkata padanya: "Adakah engkau mendengar adzan shalat?" Orang itu menjawab: "Ya, mendengar." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Kalau begitu, kabulkanlah isi azannya itu (segeralah mendatangi suara adzan untuk sholat berjamaah)." (Riwayat Muslim)

Bab:Jangan Sampai Menyesal Ketika Tidak Memenuhi Panggilan Pertama Hingga Akhirnya Datang Panggilan yang Kedua (Al Maut)
QS. 23. Al Mu'minuun:

حَتَّىٰ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ

99. Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)[keadaan sebagian orang-orang di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat berbuat amal saleh], 

لَعَلِّىۤ أَعْمَلُ صَـٰلِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلاَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

100. agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan[mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat, yg tidak mungkin bagi mereka untuk kembali lagi ke dunia yg dahulu]. 

Senin, 25 Januari 2016

Keharusan Berjamaah (Bersatu)

Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, AnNadhr bin Ismail Abu Al Mughirah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Suqah, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar. ia berkata. "Umar pernah berpidato kepada kami di Jabiyah (perkampungan di Damaskus), ia berkata, 'Wahai sekalian manusia, posisiku di tengah kalian ini seperti posisi Rasulullah di tengah-tengah kita." Ia kemudian melanjutkan, "Aku mewasiatkan kepada kalian (untuk meneladani) sahabat-sahabatku, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelahnya. Kemudian setelah itu kebohongan tersebar luas, hingga seseorang berani bersumpah meski ia tidak diminta untuk bersumpah dan bersaksi meski ia tidak diminta untuk bersaksi. Tidaklah seorang pria berdua-duaan dengan seorang wanita melainkan yang ketiga di antara mereka adalah syetan. Hendaknya kalian berada dalam jamaah dan hindarilah perpecahan. Sesungguhnya syetan itu bersama orang yang sendiri. Syetan itu akan lebih jauh dari orang yang sedang berdua. Siapa saja yang menginginkan kenikmatan hidup di surga, maka hendaklah dia berjamaah (bersatu). Siapa saja yang gembira atas perbuatan baiknya dan benci terhadap perbuatan buruknya, maka orang itu adalah orang yang beriman".
Shahih: Ibnu Majah (2363) dan Shahih sunan Tirmidzi.

Yahya bin Musa menceritakan kepada kami, Abdurrazzak menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Maimun mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Tangan Allah bersama jama 'ah ".
Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya berasal dari Ibnu Abbas selain dari jalur periwayatan ini.
Shahih: Takhrij Ishlah Al Masajid (61), Zhilaf Al-Jamiah (1081), Al Misykah (173), Tahqiq Bidayah As-Sul (70/133) dan Shahih sunan Tirmidzi.

Abu Bakar bin Nafi' Al Bashri menceritakan kepada kami, Al Mu'tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Sulaiman Al Madani menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku —atau beliau bersabda, umat Muhammad— pada kesesalan. Tangan Allah bersama jama'ah. Siapa saja yang memisahkan diri/keluar (dari jama'ah), maka berarti ia telah memisahkan diri/keluar untuk menuju neraka ".
Shahih selain lafaz 'yang memisahkan diri', Al Misykat (3/11), Shahih sunan Tirmidzi, dan Azh-Zhilal(80).

Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah gharib dari jalur periwayatan ini".
Al Madani di sini adalah Sulaiman bin Sufyan. Abu Daud AthThayalisi meriwayatkan darinya. Demikian pula dengan Abu Amir Al Aqadi dan ulama lainnya yang jumlahnya lebih dari satu orang. Abu Isa juga mengatakan bahwa penafsiran dari lafazh "jama'ah" menurut ulama adalah orang yang memahami Al Quran,  ilmu fikih dan ilmu hadits yg konsisten dengan ilmunya, juga selalu berjama'ah sholat fardlu di Masjid.

Ia berkata, "Aku pernah mendengar Jarud bin Mu'adz berkata, 'Aku mendengar Ali bin Hasan berkata, 'Aku bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak, 'Siapa yang dimaksud dengan jama'ah?' Dia menjawab, 'Abu Bakar dan Umar.' Dikatakan kepadanya. 'Bukankah Abu Bakar dan Umar telah wafat?' ia menjawab, 'Si Fulan dan si Fulan', dikatakan kepadanya, 'Bukankah si Fulan dan si Fulan telah wafat.' Abdullah bin Al Mubarak berkata. "Abu Hamzah AsSukkarilah yang dimaksud jama'ah".
Abu Isa berkata, "Abu Hamzah di sini adalah Muhammad bin Maimun, ia adalah seorang syaikh yang shalih".

Senin, 18 Januari 2016

Bersyukur dengan Mengucapkan Terimakasih bagi si Pemberi

Kadangkala kita kurang bersyukur ...
Banyaklah bersyukur dng memberi ...
Orang yang diberi pasti akan mengucapkan "terimakasih"
Namun sepatutnyalah kita (pemberi) juga mengucapkan terimakasih atau sama², kenapa?
1. Menjadikan kita, bukan termasuk orang kikir
2. Menjauhkan kita dari adzab Allah
3. Berharap semoga Allah meridloi dan mengampuni dosa² kita

4. Mengharapkan pahala terbaik yakni Surga, dan berharap dijauhkan dari Neraka

Inilah makna bagi si pemberi mengapa sebaiknya ia juga mengucapkan "terimakasih", "Alhamdulillah" atau " sama² " ...
Tidakkah ke 4 yg disebutkan diatas jauh lebih baik dari apa yang telah kita berikan?
Sehingga tidaklah pantas bagi pemberi apabila malah menyakiti hati orang yg diberi, padahal, pahala yang didapat jauh lebih baik ...
--------------------------
QS 2. Al Baqarah:262

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَآ أَنْفَقُواْ مَنًّا وَلاَ أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

QS 2. Al Baqarah:264

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلأَْذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلأَْخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَٱللَّهُ لاَ يَهْدِي ٱلْقَوْمَ ٱلْكَـٰفِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir[Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat]."
-----------------
Takutlah pada suatu hari, yang kita tidak dapat bersedekah kepada siapapun juga, karena sudah kayanya masyarakat ...
Sehingga kita tidak dapat melaksakan perintah Allah mengenai mengeluarkan Zakat dan Sedekah ...

(Silahkan membaca artikel sebelumnya, yg berjudul:
Beberapa Dalil Mengenai Hukum Meninggalkan Zakat)
  • Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Pasti akan datang kepada manusia suatu zaman, di mana seseorang berkeliling membawa sedekah emas, lalu ia tidak menemukan seorang pun yang mau mengambilnya. Dan terlihat seseorang diikuti oleh empat puluh orang wanita yang berlindung kepadanya karena sedikitnya kaum lelaki dan banyaknya kaum wanita. (Shahih Muslim No.1680) 
------------------

QS 92. Al Lail:1-21
وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ 
 وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ
 وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلاٍّنثَىٰۤ
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ
وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ
وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰ
إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ
وَإِنَّ لَنَا لَلأَْخِرَةَ وَٱلاُْولَىٰ
فَأَنذَرْتُكُمْ نَاراً تَلَظَّىٰ
لاَ يَصْلَـٰهَآ إِلاَّ ٱلأَْشْقَى
ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ
وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلأَْتْقَى
ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ
وَمَا لأَِحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ
إِلاَّ ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلأَْعْلَىٰ
وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

1. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2. dan siang apabila terang benderang,
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan,  
4. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. 
5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, 
6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),  
7. maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. 
8. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya]
9. serta mendustakan pahala terbaik,
10. maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,  
13. dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia
14. Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka
16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu
18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,  
19. padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.
21. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.  


Dalam Tafsir Jalalain:
1.Demi malam apabila menutupi semua apa yang ada di langit dan di bumi dengan kegelapannya.
2.Dan siang apabila terang benderang apabila menampilkan dirinya. (Lafal Idzaa yang ada pada dua tempat di atas hanya menunjukkan makna Zharaf atau waktu. Sedangkan yang menjadi Amilnya adalah Fi'il Qasam.) 
3.Dan apa, lafal Maa di sini bermakna Man, yakni manusia; atau dianggap sebagai Maa Mashdariyah (yang Dia telah menciptakannya, yaitu laki-laki dan perempuan) yang dimaksud adalah Adam dan Hawa, demikian pula setiap laki-laki dan perempuan lainnya. Adapun banci/wadam yang tidak dapat diketahui apakah ia sebagai laki-laki atau perempuan di sisi Allah swt., maka jika seseorang yang bersumpah bahwa dia tidak akan berbicara dengan siapa pun baik laki-laki atau perempuan, lalu dia berbicara dengan orang banci, maka dia dianggap telah melanggar sumpahnya itu.
4.Sesungguhnya usaha kalian atau kerja kalian memang berbeda-beda, beraneka macam; ada orang yang beramal atau bekerja untuk mendapatkan surga, dengan cara menempuh jalan ketaatan; dan ada pula orang yang beramal atau bekerja untuk neraka, dengan cara menempuh jalan kemaksiatan. 
5.Adapun orang yang memberikan / menginfakkan hartanya di jalan Allah dan bertakwa kepada Allah.
6.Dan membenarkan perkara yang baik yaitu makna yang terkandung di dalam lafal Laa Ilaaha Illallaah yang artinya tiada Tuhan selain Allah. Dengan kata lain, bahwa infak di jalan Allah yang dilakukannya dan bertakwa kepada-Nya yang dijalankannya itu tiada lain berangkat dari keimanannya kepada kalimat Laa Ilaaha Illallaah.
7.Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya tempat yang mudah yaitu surga.
8.Dan adapun orang yang bakhil, tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah dan merasa dirinya cukup, artinya tidak membutuhkan pahala-Nya.
9.Serta mendustakan perkara yang baik.
10.Maka kelak Kami akan menyediakan baginya (tempat yang sukar) yaitu neraka.
11.Dan tiadalah, huruf Maa di sini bermakna Nafi yakni tidaklah berguna bagi dirinya harta miliknya apabila ia telah terjerumus ke dalam neraka.
12.Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk) untuk membedakan antara jalan hidayah dan jalan kesesatan; dimaksud supaya ia mengerjakan perintah Kami dengan menempuh jalan yang pertama, dan ia Kami larang dari menempuh jalan yang kedua.
13.Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia, maka barang siapa yang mencari keduanya tanpa meminta kepada Kami berarti dia telah sesat jalan.
14.Maka Kami memperingatkan kalian, maksudnya Kami pertakuti kalian hai penduduk Mekah, dengan neraka yang menyala-nyala, (asal kata Talazhzhaa adalah Tatalazhzhaa, kemudian salah satu di antara kedua huruf Ta dibuang, sehingga jadilah Talazhzhaa. Akan tetapi ada juga suatu qiraat yang membaca sesuai dengan huruf asalnya.)
15.Tidak ada yang masuk ke dalamnya atau memasukinya kecuali orang yang celaka (sekalipun lafal Al-Asyqaa ini menunjukkan arti yang paling celaka, akan tetapi makna yang dimaksud ialah orang yang celaka.)
16.Yang mendustakan Nabi saw. dan berpaling dari iman. Pengecualian yang terdapat pada ayat sebelum ayat ini merupakan takwil dari makna yang terkandung di dalam ayat lainnya yaitu, firman-Nya, "dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (Q.S. An-Nisa, 48) Dengan demikian berarti makna yang dimaksud dengan masuk neraka pada ayat 15 tadi adalah masuk untuk selama-lamanya, yakni untuk menjadi penghuni yang abadi.
17.Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu (dihindarkan daripadanya) orang yang bertakwa (demikian pula lafal Al-Atqaa, sekalipun menunjukkan makna Tafdhil, tetapi makna yang dimaksud adalah At-Taqiyyu, yakni orang yang bertakwa.)
18.Yang menafkahkan hartanya untuk membersihkannya, untuk membersihkannya di sisi Allah swt. seumpamanya dia mengeluarkannya bukan karena ria atau pamer dan gengsi, maka setelah itu harta yang dimilikinya menjadi bersih di sisi-Nya nanti. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. yaitu sewaktu ia membeli Bilal yang sedang disiksa oleh majikannya karena beriman. Setelah membelinya lalu langsung memerdekakannya. Pada saat itu juga orang-orang kafir mengatakan, bahwa tiada lain Abu Bakar melakukan hal tersebut karena ia telah berutang jasa kepadanya. Maka pada saat itu turunlah ayat ini.
19.Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20.Melainkan hanya semata-mata karena mencari keridaan Rabbnya Yang Maha Tinggi, artinya dia memberikan hartanya itu hanya karena mengharapkan pahala Allah.
21.Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan dari pahala pemberiannya itu di surga nanti. (Makna ayat ini mencakup pula setiap orang yang mengerjakan amal perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Abu Bakar r.a. Kelak dia akan dijauhkan dari neraka dan mendapatkan pahala yang berlimpah)
--------------------

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Tiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari rumah tetangganya, dan apabila ada kurma jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkannya.

Orang fakir itu mengadukan hal itu kepada Nabi saw. dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw. bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: "Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga." Pemilik pohon kurma itu berkata: "Hanya sekian tawaran tuan?" Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya." Pemilik pohon kurma itu pergi. Pembicaraan dengan Nabi saw. itu terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadi milikku?" Rasulullah menjawab: "Ya." Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma itu berkata: "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad saw. menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Maka berkata orang dermawan itu: "Apakah kau mau menjualnya." Ia menjawab: "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup." Dermawan itu berkata lagi: "Berapa yang engkau inginkan?" Ia berkata: "Aku inginkan empat puluh pohon kurma." Ia pun terdiam kemudian berkata lagi: "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika engkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.

Dermawan itu pun menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan." Maka berangkatlah Rasulullah saw. kepada pemilik yang fakir itu dan bersabda: "Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu." Maka turunlah ayat ini (S.92:1-akhir surat) yang membedakan kedudukan dan akibat orang yang bakhil dengan orang dermawan.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dan yang lainnya dari al-Hakam bin Abban dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

 

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) berkata kepda Abu Bakar: "Aku melihat engkau memerdekakan hamba-hamba yang lemah. Sekiranya engkau memerdekakan hamba-hamba yang kuat, pasti mereka akan membelamu dan mempertahankanmu, hai anakku." Abu Bakar menjawab: "Wahai Bapakku, aku mengharap apa yang ada di sisi Allah." Maka turunlah ayat-ayat yang berkenaan dengan Abu Bakar ini (S.92:5-21) (Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Amir bin Abdllah bin Zubair yang bersumber dari bapaknya bernama Zubair.)
 

Abu Bakar telah memerdekakan 7 budak yg dimiliki orang kafir yg telah disiksa karena mempertahankan keimanannya. Padahal ke-7 budak itu tdk pernah memiliki budi/kebaikan yg harus dibalas oleh Abu Bakar.
Selain itu budak2 itu amatlah lemah, yg kalau dibebaskan, tdk akan memberikan manfaat kepada Abu Bakar ...

Melihat hal itu ayah Abu Bakar bertanya kepadanya (kalau perbuatannya itu tidak akan menguntungkan Abu Bakar di dunia ini) ...

Dan Abu Bakar menjawab,"Wahai Bapakku, aku mengharap apa yang ada di sisi Allah ..."

Senin, 11 Januari 2016

Perumpamaan tentang suatu amalan yang Buruk (Tafsir QS.2. Al Baqarah: 266)

Sesungguhnya perumpamaan tentang suatu amalan yang buruk, yang akan membawa penyesalan yang tak terhingga kelak adalah ...
Yakni tentang seorang laki-laki yang kaya, lalu dia beramal dengan menta'ati Allah Azza Wa Jalla ...
Kemudian Allah mengutus syetan kepadanya, sebagai cobaan ...
Maka ia pun melakukan suatu niat dan perbuatan yang buruk hingga ia tenggelamkan sendiri amalan kebaikan yang telah dilakukannya ...

Jika sebelumnya ia menta'ati Allah dengan ikhlas, namun ketika syetan menggodanya ...
Orang tersebut mulai menafkahkan hartanya karena riya, membangga-banggakan tentang pemberiannya kepada orang lain, dan menyakiti hati orang, dengan mengundat²nya atau menyebut-nyebut pemberiannya ...
Atau malah menghardiknya, seolah² ia seorang yang memiliki segalanya dan orang yg meminta² itu adalah orang paling miskin dan hina ...

Padahal, semua harta yang dimilikinya, dan semua ilmu yang dimilikinya, adalah milik Allah, sebagai karunia dan cobaan baginya ...
Sedangkan orang miskin atau orang yang membutuhkan bantuannya, itu adalah makhluk Allah juga, yang memang sedang dicoba oleh Allah dng kemiskinan ...
Tidakkah ia memperhatikan bahwa ia kaya dan orang lain miskin itu adalah cobaan dari Allah ...?
Patutkah ia meremehkan dan merendahkan orang lain yang memang miskin ...?

Andaikan tidak ada orang miskin, bagaimana ia dapat beramal dan mengeluarkan zakatnya ...?
Andaikan semua orang kaya, apakah yang terjadi ...? kenikmatan ataukah malah bencana ...?
Andaikan semua orang kaya, berarti semua orang harus membangun rumahnya sendiri, harus mengobati dirinya sendiri, harus menjahit pakaiannya sendiri, karena semua sudah kaya dan tidak butuh harta lagi ...

Atau patutkah ia beramal karena ingin dipuji oleh orang lain, padahal semua harta yang dipunyainya adalah milik Allah ...?
Atau patutkah ia beramal dengan membangga-banggakan tentang pemberiannya kepada orang lain ...?

Menasehati orang lain itu sangat mudah ...
Yang teramat sulit adalah menasehati diri sendiri ...
Ketika ilmu sudah diperoleh, dan amal-pun dikerjakan kemudian datanglah cobaan ...
Dapatkah ia menasehati dirinya sendiri, supaya tidak jatuh kedalam bujuk rayu setan ...?
Ataukah ia akan tergoda, sehingga akan berbangga hati terhadap semua amal²nya ...?
Ataukah ia akan tergoda, sehingga ia merasa baik sendiri, kemudian meremehkan orang lain ...?
Ataukah ia akan tergoda, sehingga sedikit demi sedikit ia senang dan berharap amalnya dipuji orang lain ...?
Dapatkah ia ridlo' terhadap semua keputusan Allah ...?
Sabarkah ia ketika kesulitan demi kesulitan yang sangat berat menimpanya ...?

Maka pikirkanlah perumpamaan yang disebutkan Allah SWT berikut ini ...
Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ...
Dia mempunyai didalam kebun itu segala macam buah-buahan, yang banyak dan lezat serta sedap dipandang mata ...
Kemudian datanglah masa tua pada orang itu, sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil ...
Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakar habislah kebun itu ...
Apakah yang bisa diharapkan dng kebun yang terbakar habis, yang ia persiapkan untuk masa tuanya ... ?
Dan sekarang masa tuanya telah tiba, sedangkan anak²nya masih kecil dan ia sangat memerlukan panen dari hasil kebunnya ...

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kita supaya kita memikirkannya ...
Subhanallah ...

QS.2. Al Baqarah:

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَن تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلأَنْهَـٰرُ لَهُ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَأَصَابَهُ ٱلْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَآءُ فَأَصَابَهَآ إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَٱحْتَرَقَتْ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلأَيَـٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

266. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ibnu Juraij Aku mendengar Abdullah bin Abu Mulaikah bercerita dari Ibnu Abbas dia berkata; dan aku juga mendengar saudaranya yaitu Abu Bakr bin Abu Mulaikah bercerita dari Ubaid bin Umair dia berkata; Pada suatu hari Umar radliallahu 'anhu berkata kepada para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; Menurut kalian berkenaan dengan apakah ayat ini; "Adakah salah seorang dari kalian yang ingin memiliki kebun…. (al Baqarah; 266). Para sahabat menjawab; 'Allahu A'lam.' Maka Umar pun marah, seraya berkata; 'Katakan kami tahu atau kami tidak tahu'. Kemudian Ibnu Abbas berkata; 'aku mengerti sedikit tentang ayat itu ya Amirul Mukminin.' Umar berkata; 'Wahai anak saudaraku, katakanlah! Jangan kamu cela dirimu sendiri.' Ibnu Abbas berkata; 'ayat itu membuat sebuah perumpamaan tentang suatu amalan.' Umar berkata: 'Amalan apakah?' Ibnu Abbas menjawab: 'tentang suatu amalan'. Umar melanjutkan: "yaitu tentang seorang laki-laki yang kaya, lalu dia beramal dengan menta'ati Allah Azza Wa Jalla. Kemudian Allah mengutus syetan kepadanya. Maka ia pun melakukan maksiat hingga ia tenggelamkan amalan kebaikan yang telah dilakukannya." (No. Hadist: 4174 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 04 Januari 2016

Allah Menggunakan Bahasa Arab?

QS. 40. Al Mu'min:

وَقَالَ رَبُّكُـمْ ٱدْعُونِىۤ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَٰخِرِينَ

60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[Merasa mampu sendiri dan tidak mau berdoa/meminta kepada Allah] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."  

Ada yang bertanya, apakah berdo'a harus menggunakan bahasa arab? Apakah boleh menggunakan bahasa indonesia atau jawa?
Untuk menjawabnya, tentu lumayan sulit. Karena kita ketahui bersama, ternyata Nabi SAW diturunkan di tanah arab, dan berbahasa arab untuk komunikasi beliau, baik untuk berkomunikasi dengan Malaikat Jibril atau bercakap-cakap secara langsung dengan Allah di Sidratul Muntaha sewaktu Isra Mi'raj (seperti dalam keterangan hadits).

Mengapa harus berbahasa arab? ternyata ada sesuatu yang luar biasa dari bahasa arab, kelebihan bahasa arab diatas bahasa lainnya, yang akan dijelaskan pada bab setelah ini.

Bab: Apakah Boleh menggunakan Bahasa Indonesia atau Jawa untuk Berdo'a?
Ternyata boleh menggunakan bahasa indonesia, madura, jawa atau bahasa asing lainnya untuk berdo'a, meminta kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah mengetahui segala yang rahasia ataupun yang nyata, termasuk isi hati.
Kita ketahui bersama, bahwa hati/qalbu tiap manusia berbeda-beda. Maksudnya apa yang terbersit di hati manusia tentunya mengikuti bahasa yang digunakannya. Misalnya orang indonesia, tentunya yang terbersit dihatinya menggunakan bahasa indonesia, dan tidak mungkin sesuatu yang terbersit dihati itu menggunakan bahasa perancis. Demikian juga orang Amerika, tentunya yang terbersit dihati mereka menggunakan bahasa inggris, dan tidak mungkin sesuatu yang terbersit dihati mereka itu menggunakan bahasa madura.

Ayat dibawah ini menunjukkan kekuasaan Allah yang Mengetahui segala isi hati manusia, baik manusia itu orang indonesia, perancis, madura, amerika atau yang lainnya. Pendek kata, bahasa apapun yang terbersit dihati, Allah mengetahuinya. Karena semua bahasa itu milikNya, begitu juga hati manusia (segala isi dada manusia) juga milikNya.

QS. 64. At Taghaabun:

يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلأَْرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَٱللَّهُ عَلِيمُ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

4. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. 


QS. 11. Huud:

أَلا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُواْ مِنْهُ أَلا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

5. Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad)[menyembunyikan perasaan permusuhan dan kemunafikan mereka terhadap nabi Muhammad s.a.w]. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. 


QS. 67. Al Mulk:

وَأَسِرُّواْ قَوْلَكُمْ أَوِ ٱجْهَرُواْ بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

13. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 

Dari beberapa ayat diatas, ternyata Allah Maha Mengetahui segala isi hati, baik itu orang arab, non arab, perancis, amerika, indonesia atau yang lainnya, dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda. Kalau isi hati saja Allah Maha mengetahui, apalagi dengan perkataan, tentu jauh lebih mudah. Baik itu perkataan yang dirahasiakan atau yang dilahirkan, semuanya, Allah mengetahuinya.
Sehingga bolehlah kita berdo'a menggunakan bahasa indonesia atau bahasa lainnya yang bukan arab. Karena bahasa apapun yang kita gunakan, Allah mengetahuinya, karena Dialah pemilik semua bahasa itu.
Silahkan berdoa, curhat dan memohon apa saja kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri, menggunakan bahasa apa saja yang kita pahami, meskipun itu bahasa jawa ...
Namun demikian, alangkah baiknya kalau kita menggunakan bahasa arab untuk berdo'a (terutama yg dari AlQuran), mengapa?

Bab: Beberapa Alasan Digunakannya Bahasa Arab (Kelebihan/Keistimewaan bahasa Arab)
QS.16. An Nahl:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِّسَانُ ٱلَّذِى يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِىٌّ وَهَـٰذَا لِسَانٌ عَرَبِىٌّ مُّبِينٌ

103. Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam[bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik, karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit-sedikit bahasa Arab], sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. 

Keterangan:
Keistimewaan bahasa Arab itu antara lain ialah:
1. Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup.
2. Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan, keduniawian dan keakhiratan.
3. Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjugasi) yang amat luas sehingga dapat mencapai 3000 bentuk peubahan, yang demikian tak terdapat dalam bahasa lain.
4. Huruf-hurufnya dapat menjelaskan secara luas, dengan makna yang dalam, yang demikian ini tidak terdapat pada huruf dan bahasa lain.

Sesungguhnya Allah sendiri telah menjelaskan Keistimewaan bahasa Arab, yang dapat menjelaskan Al Quran, bagi kaum yang mengetahui ilmunya. Al Quran telah menjadikan ilmu bahasa arab berkembang sangat luas, lebih luas dari sebelum diturunkannya Al Quran. Sehingga manusia menjadi terkagum-kagum dengan Al Quran dan akhirnya memunculkan berbagai peralatan pendukung (misalnya:nahwu, sharaf, balaghah) untuk lebih memahaminya. Dan ini sungguh tidak ada dalam bahasa lainnya!!!.

QS. 41. Fushshilat:

كِتَـٰبٌ فُصِّلَتْ ءَايَـٰتُهُ قُرْءَاناً عَرَبِيّاً لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

3. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,

Sungguh luar biasa bahasa arab yang digunakan dalam Al Quran, tiap-tiap hurufnya bisa memiliki makna yang luas dan tersembunyi. Lagi enak dibaca dan didengarkan, sehingga lebih mudah dalam memahaminya. Bahkan untuk ayat-ayat yang mutasyaabihaat pun, yang kita menyerahkan pengertiannya kepada Allah, kita terasa paham mengapa hanya Allah yang mengetahuiNya. Coba bandingkan jika menggunakan bahasa jawa? jelas tidak akan sanggup huruf-hurufnya dan bahkan malah tambah membingungkan kita ...

QS. 43. Az Zukhruf:

إِنَّا جَعَلْنَـٰهُ قُرْءَاناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). 

Demikianlah keunggulan dan keistimewaan bahasa Arab dibandingkan bahasa-bahasa lainnya.

Bab: Adab Berdoa, dengan Memuji Allah dan Bershalawat Atas Nabi SAW Sebelum Berdoa
Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Yahya bin Adam memberitahukan kepada kami, Abu Bakar bin Ayasy memberitahukan kepada kami dari Zirr, dari Abdullah, dia berkata, "Aku pernah mengerjakan shalat dan Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar juga mengerjakan shalat. Ketika duduk memulai memuji Allah, lalu membaca shalawat kepada Nabi SAW, kemudian berdoa untuk diriku sendiri. Lantas Nabi SAW bersabda, 'Mintalah! niscaya akan dikabulkan. Mintalah! niscaya akan dikabulkan'."
Hasan Shahih: Sifat Shalat Nabi SAW, Takhrijul Mukhtarah (255), dan AlMisykah (931), Shahih sunan Tirmidzi (593)

Bab: Penutup Doa
QS.10. Yunus:

وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

10. ... Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin"[segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam]

Dengan Memuji Allah dan Bershalawat Atas Nabi SAW Sebelum Berdoa, ternyata Allah akan lebih mudah mengabulkan do'a-do'a kita.
Untuk berdo'a kita boleh menggunakan bahasa selain arab, walaupun lebih utama menggunakan bahasa Arab (berdasarkan keistimewaan yang dimiliki bahasa Arab).
Namun untuk beberapa perkara lainnya, MUTLAK menggunakan bahasa Arab, sesuai dengan aslinya, yaitu bacaan Sholat. Untuk bacaan Sholat, dan tatacaranya harus mengikuti penuh tuntunan Nabi SAW. Tidak ada bid'ah untuk perkara ini, harus sesuai dengan aslinya, sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Bab: Perintah untuk Mengikuti Nabi SAW dalam Tatacara dan Bacaan Sholat
Sesungguhnya perintah Sholat adalah perintah khusus. Semua perintah, termasuk Al Quran, diturunkan melalui utusan Malaikat Jibril. Namun khusus untuk perintah sholat, mengenai bacaan dan tata-caranya, langsung dari Allah, dengan memanggil Nabi SAW untuk menghadapNya, saat Isra Mi'raj. Karena itu untuk masalah Sholat, wajib mengikuti Nabi SAW mengenai tata-cara dan bacaannya.

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Abu Sulaiman Malik bin Al Huwairits dia berkata; "Kami datang kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam sedangkan waktu itu kami adalah pemuda yang sebaya. ... (Nabi SAW bersabda) "Pulanglah ke keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka dan ajari mereka serta perintahkan mereka dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, ...". (No. Hadist: 5549 KITAB SHAHIH BUKHARI)

Masalah Sholat selengkapnya ada di: http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/07/bacaan-sholat.html 

Senin, 28 Desember 2015

Mendamaikan Manusia yang Bermusuhan

QS:3. Ali 'Imran:

وَٱعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَٱذْكُرُواْ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُم أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُمْ مِّنْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَـٰتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. 


Bab: Tingginya Derajat Mendamaikan Manusia Melebihi Derajat Puasa, Shalat, dan Sedekah
Hannad menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, dari Al A'masy, dari Amru bin Murrah, dari Salim bin Abu Al Ja'ad, dari Ummu AdDarda', ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan derajat yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah? " Para sahabat menjawab, 'Tentu". Beliau bersabda, "Mendamaikan/memperbaiki keadaan manusia. Sesungguhnya kerusakan keadaan manusia adalah pencukur/penghancur ".
Shahih: Ghayah Al Maram (414), shahih Tirmidzi dan Al Misykah (5038-Tahqiq kedua).
Abu Isa berkata, "Hadits ini shahih".

Diriwayatkan dari Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda, "Ia adalah pencukur." Aku tidak mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pencukur rambut, akan tetapi pencukur agama.

Bab: Keburukan dari Perpecahan sebagai Penghancur Agama
Abu Yahya bin Muhammad bin Abdurrahim Al Baghdadi menceritakan kepada kami, Mu'alla bin Manshur menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja'far Al Makhrami —salah seorang putra Miswar bin Makhramah— menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Muhammad Al Akhnasi, dari Sa'id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Hindarilah keburukan yang mengakibatkan perpecahan dan kerusakan, karena sesungguhnya hal itu adalah pencukur, penghancur ". Hasan: Al Misykah (5041-Ta'liq kedua), shahih Tirmidzi.

Makna dari kata 'keburukan yang mengakibatkan perpecahan' adalah permusuhan dan kebencian. Sedangkan maksud dari kata 'pencukur' adalah pencukur agama.

Sufyan bin Waki' menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Harb bin Syaddad, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Yaisy bin Al Walid, bahwa maula (mantan budak) AzZubair menceritakannya, dari Zubair bin Awwam, Bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Telah menjalar kepada kalian penyakit orang-orang sebelum kalian, yaitu sifat dengki dan benci. Sifat itu adalah pencukur. Yang aku maksudkan bukan mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi jiwaku yang berada di tanganNya kalian tidak akan masuk Surga hingga beriman dan kalian tidak akan beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang dapat memperteguh (keimanan) kalian? Tebarkanlah Salam di antara kalian ".
Hasan: AtTa'liq ArRaghib (3/12), Al Irwa' (238), Takhrij Musykilah Al Faqr (20), Ghayah AlMaram (414), Shahih Al Adab (197), shahih Tirmidzi.

Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ismail bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, dari Uyainah bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Bakrah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dosa yang layak bagi Allah untuk menyegerakan siksaan bagi pelakunya di dunia dan disimpan di akhirat nanti daripada sikap aniaya dan memutuskan hubungan silaturahim ".
Shahih: Ibnu Majah (4211), shahih Tirmidzi.

Bab: Tidak Termasuk Dusta Jika Untuk Mendamaikan Perselisihan
Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'aziz bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari Shalih dari Ibnu Syihab bahwa Humaid bin 'Abdurrahman mengabarkan kepadanya bahwa ibunya, Ummu Kultsum binti 'Uqbah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah disebut pendusta orang yang menyelesaikan perselisihan diantara manusia lalu dia menyampaikan hal hal yang baik (dari satu pihak yang bertikai) atau dia berkata, hal hal yang baik". (No. Hadist: 2495 KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Bukanlah disebut pendusta, jika seseorang menyelesaikan perselisihan, dengan cara menceritakan kebaikan dari satu pihak yang bertikai kepada pihak lawannya. Padahal sebenarnya itu hanyalah dusta, namun dalam agama bukanlah disebut dusta, karena tujuannya untuk mendamaikan perselisihan.

Bab: Kemulyaan Al Hasan ra dalam Usaha Mendamaikan Dua Kelompok Besar
Telah bercerita kepada kami Shadaqah telah bercerita kepada kami Ibnu 'Uyainah telah bercerita kepada kami Abu Musa dari Al Hasan bahwa dia mendengar Abu Bakrah; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas mimbar bersabda, ketika itu Al Hasan ada disamping beliau. Sesekali beliau melihat ke arah orang banyak dan sesekali melihat kepadanya: "Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid (pemimpin) dan dengan perantaraannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin ".(No. Hadist: 3463 KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Setelah Nabi SAW wafat, dan dilanjutkan oleh para sahabat Beliau, yakni Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra dan Ali ra, hingga akhirnya terjadi konflik besar antara Ali ra dan Muawiyah ra (keduanya sahabat dekat Nabi SAW). Saat itu kaum muslimin terpecah menjadi dua golongan, pendukung Ali ra dan pendukung Muawiyah ra, yang masing2 didukung para sahabat dekat Nabi SAW. Hingga terjadi peperangan besar diantaranya, akibat konflik yang sangat rumit saat itu.
Al Hasan, cucu Nabi SAW, menjabat sebagai Khalifah menggantikan ayahnya, Ali ra yang wafat. Ali ra sendiri dibunuh ketika hendak masuk masjid untuk sholat subuh (berbeda dengan Umar ra yang dibunuh ketika sudah mulai sholat subuh, sebagai Imam). Perbedaannya lagi, Ali ra ditebas dengan pedang pada keningnya mengarah ke janggut (wafat sendirian), sedangkan Umar ra ditusuk dengan belati khusus, pada perutnya hingga bocor lambungnya (wafat bersama 13 jamaah subuh lainnya yang juga terkena sabetan belati).
Al Hasan tidak menjabat lama, hanya sekitar 3 bulan. Setelah itu Al Hasan ra menyerahkan kepemimpinan (walau terasa berat) kepada Muawiyah ra untuk mendamaikan konflik dua kelompok besar kaum Muslimin. Karena itu Al Hasan ra disebut sebagai pemimpin yang sesungguhnya oleh Nabi SAW, karena Al Hasan ra sudi menyerahkan jabatannya supaya ada kedamaian diantara kaum Muslimin.
Akhirnya Hasan ra kembali ke Madinah, tanah suci yang dicintainya, dan wafat disana, karena diracun istrinya sendiri (3 kali). Lagi-lagi Hasan ra malah memilih untuk memaafkan perbuatan istrinya, dan melarang saudaranya Husain ra untuk menghukum istri Hasan ra.
Sungguh mulia perbuatanmu wahai cucu kesayangan Nabi SAW, pemimpin sejati yang sebenarnya ...

Bab: Beberapa Penyebab Terjadinya Perpecahan
Ibrahim bin Sa'id At Jauhari menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Buraid bin Abdullah menceritakan
kepada kami, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, ia berkata, "Rasulullah pernah ditanya, "Siapa kaum muslimin yang paling utama?"
Beliau menjawab, "Yaitu orang yang kaum muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya ".
Shahih: Muttafaq alaih.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kata (buruk) sehingga ia terjerumus ke dalam neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat. (Shahih Muslim No.5303)

Sufyan bin Waki' menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Harb bin Syaddad, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Yaisy bin Al Walid, bahwa maula (mantan budak) AzZubair menceritakannya, dari Zubair bin Awwam, Bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Telah menjalar kepada kalian penyakit orang-orang sebelum kalian, yaitu sifat dengki dan benci. Sifat itu adalah pencukur. Yang aku maksudkan bukan mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi jiwaku yang berada di tanganNya Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman dan kalian tidak akan beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang dapat memperteguh (keimanan) kalian? Tebarkanlah salam di antara kalian ".
Hasan: AtTa'liq ArRaghib (3/12), Al Irwa'(238), Takhrij Musykilah Al Faqr (20), Ghayah AlMaram (414), Shahih Al Adab (197), shahih Tirmidzi.

Bab: Lebih Mengutamakan Prinsip Persatuan
Telah bercerita kepada kami 'Ali bin Al Ja'di telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari 'Abidah dari 'Ali radliallahu 'anhuma berkata; "Putuskanlah sebagaimana biasa kalian memutuskan perkara, karena aku tidak suka perbedaan pendapat sehingga semua manusia berada dalam kesepakatan, atau aku mati (diatas prinsip persatuan) sebagaimana para sahabatku mati". Adalah Ibnu Sirin berpendapat bahwa pada umumnya apa yang diriwayatkan tentang 'Ali (yang berselisih dengan dua orang pendahulunya, Abu Bakr dan 'Umar bin Al Khaththab, seperti pendapat kaum ar-Rafidlah) adalah dusta (maksudnya Ali selalu bersepakat dengan dua orang pendahulunya, karena mengutamakan prinsip persatuan) (No. Hadist: 3431 KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Pada beberapa masalah, terdapat masalah2 yang krusial, yang menyangkut masyarakat banyak, misalnya penetapan Idul Fitri. Sehingga perbedaan tanggal Idul Fitri akan bisa menjadi penyebab perpecahan, walau tanpa disadari (secara langsung). Karena itu, peran pemerintah sangatlah penting untuk menyatukan perbedaan penetapan Idul Fitri. Dan hendaknya semua masyarakat mengikuti tanggal yang ditetapkan pemerintah, meskipun tidak suka/ tidak sependapat. Mengutamakan persatuan umat itu jauh lebih penting, yakni menghindari perpecahan umat yang merupakan pencukur agama.
Sedangkan perbedaan pendapat yang tidak menyangkut masyarakat banyak (bisa berarti individu/perorangan/kelompok kecil), bolehlah terjadi, asalkan tidak saling menyalahkan dan menghormati pendapat yang lain. Berdasarkan hadits berikut ini:

Tentang perbedaan pendapat antar para mujtahid 
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu:Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam beliau bersabda: Ketika dua orang wanita sedang bersama anak mereka, tiba-tiba datanglah seekor serigala membawa anak salah seorang dari mereka. Lalu wanita yang satu berkata kepada yang lain: "Yang dibawa lari serigala itu adalah anakmu". Yang lain mengatakan: "Tidak, anakmulah yang dibawa". Lalu mereka berdua meminta keputusan kepada Nabi Dawud as., lalu ia memutuskan (memberikan anak itu) untuk wanita yang lebih tua. Kemudian keluarlah keduanya menghadap Sulaiman bin Dawud as. dan menceritakan perkara itu kepadanya. Sulaiman berkata: "Ambilkanlah pisau, aku akan membelahnya untuk kalian berdua". Maka berkatalah wanita yang lebih muda: "Semoga Allah tidak merahmatimu (janganlah dia dipotong), ia adalah anaknya!". Maka Sulaiman memutuskan (memberikan anak itu) untuk yang lebih muda. (Shahih Muslim No.3245)

Bab: Larangan Menghindari Manusia yang Berakhlak Jelek dan Lebih Utama Bersabar Terhadapnya
Abu Musa bin Al Mutsanna menceritakan kepada kami. Ibnu Abi Adi menceritakan kepada kami, dari Syu'bah. dari Sulaiman Al A'masy, dari Yahya bin Watsatsb, dari seorang syaikh yang merupakan salah seorang sahabat Nabi SAW, dari Nabi SAW, beliau bersabda. "Seorang muslim yang bergaul dengan manusia dan bersikap sabar terhadap kejelekan mereka, lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas kejelekan mereka".
Shahih: Ibnu Majah (4032), shahih Tirmidzi.

Bab: Bahayanya Pertikaian yang Dapat Menjatuhkan Seseorang Ke Jurang Kekafiran
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal Telah menceritakan kepada kami Syu'bah Telah mengabarkan kepada kami Waqid bin Muhammad dari ayahnya dari Ibnu Umar, bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Janganlah kalian sepeninggalku kembali kepada kekafiran, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lainnya". (No. Hadist: 6550 KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 21 Desember 2015

Jangan memusuhi Malaikat Jibril

Barang siapa yang memusuhi Malaikat Jibril, maka sesungguhnya Jibril itu telah menurunkan Al Quran dengan seizin Allah ...
Dimana Al Qur'an itu membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman ...
Siapakah yang memusuhi Malaikat Jibril? Mereka adalah orang² Yahudi ...
Menurut seorang rahib (ulama) terkemuka Yahudi, ada tiga perkara yang pasti tidak bisa menjawab, kecuali oleh seorang Nabi:
1. Apakah yang terjadi pertama kali dari tanda-tanda hari kiamat?
2. Apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga?
3. Dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?
Apakah jawaban Nabi SAW? Jawabannya ada pada hadits berikut ini:

QS.2. Al Baqarah:

قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

97. Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Munir dia mendengar 'Abdullah bin Bakr Telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas dia berkata; 'Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata; "Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara tidak akan ada yang dapat menjawab kecuali seorang Nabi, Apakah yang terjadi pertama kali dari tanda-tanda hari kiamat, apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga, dan dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jibril 'Alaihis Salam baru saja memberiku kabar." Abdullah bertanya; siapakah Jibril? Beliau menjawab: "Ia adalah malaikat yang sangat dimusuhi yahudi." Beliau bersabda: "Tanda hari kiamat yang akan terjadi pertama kali adalah api yang keluar dari timur yang akan menggiring manusia ke barat, adapun sesuatu yang pertama kali dimakan penduduk surga adalah hati ikan hiu, adapun darimana seseorang dapat menyerupai bapak atau ibunya adalah apabila air mani laki-laki dapat mendahului sel telur wanita maka akan keluar laki-laki, dan apabila sel telur wanita dapat mendahului air mani laki-laki maka akan keluar wanita." Kemudian Abdullah bin Salam berkata; "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah." Kemudian dia berkata lagi; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang yahudi itu adalah kaum yang pendusta, kalau mereka mengetahui keIslamanku mereka pasti akan menghinaku dihadapanmu. Maka utuslah seseorang agar memanggil mereka dan tanyakan kepada mereka tentang aku." Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil mereka, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Siapakah Abdullah bin Salam di menurut kalian?" Mereka menjawab; "Dia adalah orang terbaik kami dan anak dari orang terbaik dari kami, dia adalah tuan kami dan anak dari tuan kami." Beliau bertanya lagi: "Bagaimana menurut kalian, kalau seandainya dia masuk Islam? Mereka menjawab; "Mudah-mudahan Allah melindunginya dari hal itu (masuk Islam)." Maka Abdullah bin Salam keluar seraya mengatakan; "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Lalu mereka berkata; "Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami dan anak dari orang yang paling jelek di antara kami. -Mereka menjelek-jelekkan Abdullah bin Salam.- Setelah itu Abdullah bin Salam berkata; "Inilah yang paling aku khawatirkan."(No. Hadist: 4120 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 14 Desember 2015

Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?


Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Allah adalah apabila kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu ...
Menganggap Allah terlihat oleh mata, ketika di dunia atau di langit, hingga menyerupakan Dia dengan makhluqNya, termasuk dajjal ...
Kemudian apabila kamu membunuh anakmu karena takut membuat kelaparan ...
Kemudian apabila kamu berzina dengan istri tetanggamu ...

Ingatlah, Dialah yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kita dan langit sebagai atap ...
Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kita ...
Karena itu janganlah kita mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui ...

QS.2. Al Baqarah:

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلأَْرْضَ فِرَاشاً وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ للَّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya], padahal kamu mengetahui. 

Telah menceritakan kepadaku 'Utsman bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wail dari 'Amru bin Syurahbil dari 'Abdullah dia berkata; Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; 'Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab; 'Bila kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu. Aku berkata; tentu itu sungguh besar.' Aku bertanya lagi; 'Kemudian apa? Beliau menjawab; 'Apabila kami membunuh anakmu karena takut membuat kelaparan.' Aku bertanya lagi; 'kemudian apa? ' beliau menjawab; 'Berzina dengan istri tetanggamu.'(No. Hadist: 4117 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 07 Desember 2015

Dajjal

Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada suatu peristiwapun antara jarak waktu semenjak Allah menciptakan Adam sampai datangnya hari kiamat nanti, yang lebih besar daripada perkara Dajjal." (Riwayat Muslim)

Abd bin Humaid menceritakan kepada kami, Abdurrazaq mengabarkan kepada kami, Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari AzZuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar. ia berkata: Rasulullah pernah berdiri di tengah orang-orang. Beliau lalu memuji Allah dengan pujian yang layak untukNya. Beliau lalu menceritakan tentang Dajjal dan bersabda, "Sesungguhnya aku akan memperingatkan kalian. Tidak ada seorang Nabi pun melainkan ia telah memberi peringatan kepada kaumnya. Nabi Nuh telah memperingatkan kaumnya. Aku akan menceritakan tentang Dajjal yang tidak pernah diceritakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya. Kalian akan mengetahui Dajjal itu buta sebelah mata, sedangkan Allah tidaklah buta sebelah mata (Allah maha Melihat, maha Adil dan maha Mengetahui, tidak ada yg tidak diketahui Allah. Bahkan karena maha Adilnya Allah, orang kafirpun masih diberi makan dan minum didunia ini. Sedangkan dajjal, orang yg kafir terhadap dajjal malah disiksa dan diperlakukan tidak adil)."
Shahih: Shahih Al Adab Al Mufrad; Muttafaq 'alaih.

Muhammad bin Abdul A'la AshShan'ani menceritakan kepada kami, Al Mu'tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Ubaidillah bin Umar, dari Nafi', dari Rasulullah: Beliau pernah ditanya tentang Dajjal. Maka beliau menjawab, "Ingatlah, sesungguhnya Rabb kalian tidaklah buta sebelah mata. Ingatlah, sesungguhnya ia (Dajjal) itu buta mata kanannya seperti buah anggur yang redup/layu (hilang cahayanya). "
Shahih: Al Bukhari (3439), Muslim (1/107)

Tambahan:
Sesungguhnya Dajjal adalah seorang pemuda yang rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, tidak memiliki anak, tidak pernah pergi haji ataupun umroh karena tidak bisa memasuki Makkah dan Madinah, ... dst.

Diriwayatkan dari AzZuhri. Umar bin Tsabit Al Anshari mengabarkan kepada kami, beberapa sahabat Nabi mengabarkan kepada kami, "Bahwa Nabi pada hari itu berkata kepada orang-orang dengan memberikan peringatan kepada mereka akan datangnya suatu fitnah." Beliau bersabda, "Kalian mengetahui bahwa TIDAK ada seorang pun dari kalian yang dapat MELIHAT Tuhannya hingga ia meninggal dunia (setelah manusia wafat, baru dapat melihat Allah). Di antara kedua mata Dajjal tertuliskan huruf kaf, fa, ra (kafir). Orang yang membenci perbuatannya sajalah yang dapat membacanya ".
Shahih: Ash-Shahihah (2861); Muslim.

Keterangan:
Dajjal akan muncul dan mengaku sebagai tuhan dengan menampakkan segala keajaiban dan kedahsyatan. Namun itu semua sebenarnya hanya dustanya saja. Dajjal (pendusta) sangat tidak adil, orang yg beriman kepada dajjal akan diberi kenikmatan dan bagi yg kafir(ingkar) terhadap dajjal akan disiksa. Karena itu orang yg beriman kepada Allah, hendaknya memilih yg merupakan siksaan dan kepedihan dari dajjal, karena itu sesungguhnya kenikmatan yg sebenarnya.

Muhammad bin Basysyar dan Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, keduanya berkata, dari Rauh bin Ubadah, Said bin Abu Urwah menceritakan kepada kami, dari Abu AtTayyah, dari Al Mughirah bin Subai', dari Amr bin Huraits, dari Abu Bakar AshShiddiq, ia berkata: Rasulullah bersabda, "Dajjal akan keluar dari belahan bumi sebelah timur yang disebut 'Khurasan'. Dia diikuti oleh beberapa kaum. Wajah mereka terlihat seolah seperti perisai yang menutupi ".
Shahih: Ibnu Majah (4072).

Dari Anas r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Yang mengikuti Dajjal dari golongan kaum Yahudi Ashbihan itu ada sebanyak tujuh puluh ribu orang. Mereka itu mengenakan pakaian kependetaan."
(Riwayat Muslim)

Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada suatu negeripun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorong-pun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turunlah di suatu tanah yang berpasir -di luar Madinah- lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan akan setiap orang kafir dan munafik." (Riwayat Muslim)

Dari Rib'iy bin Hirasy, katanya: "Saya berangkat dengan Abu Mas'ud al-Anshari ke tempat Hudzaifah al-Yaman radhiallahu 'anhum, lalu Abu Mas'ud berkata kepadanya: "Beritahukanlah kepadaku apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah s.a.w. perihal Dajjal." Hudzaifah lalu berkata: "Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Dajjal itu keluar dan sesungguhnya beserta Dajjal itu ada air dan api. Adapun yang dilihat oleh para manusia sebagai air, maka sebenarnya itu adalah api yang membakar, sedang apa yang dilihat oleh para manusia sebagai api, maka sebenarnya itu adalah air yang dingin dan tawar. Maka barangsiapa yang menemui Dajjal di antara engkau semua, hendaklah masuk dalam benda yang dilihatnya sebagai api, karena sesungguhnya ini adalah air tawar dan nyaman sekali."
Setelah itu Abu Mas'ud berkata: "Sayapun benar-benar pernah mendengar yang seperti itu." (Muttafaq 'alaih)

Bab:Jangan mendekati dajjal, tapi larilah menjauhinya, karena kita tdk akan bisa mengalahkannya
Abd bin Humaid menceritakan kepada kami, Abdurrazaq mengabarkan kepada kami, Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari AzZuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar,"... Rasulullah berkata, "Pergilah, kamu tidak akan mampu melebihi kemampuanmu. " Umar berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk memenggal lehernya." Rasulullah kemudian berkata, "Jika dia benar seorang (Dajjal) maka kamu TIDAK akan dapat menguasai dirinya (mengalahkannya). Jika dia bukan Dajjal maka tidak baik untukmu membunuhnya " Abdurrazaq menyatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah Dajjal.
Shahih: Shahih Al Adab Al Mufrad, Muttafaq alaih.

Dari Ummu Syarik radhiallahu 'anha bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Niscayalah sekalian manusia itu sama melarikan diri dari gangguan Dajjal yaitu ke gunung-gunung." (Riwayat Muslim)

Tambahan:
Ada suatu riwayat, seorang pemuda akan menemui dajjal. Pemuda itu masih memiliki iman kepada Allah sebelum bertemu dajjal. Namun ketika berjumpa dengan dajjal, pemuda itu langsung berbalik arah beriman kepada dajjal. Karena itu, jangan dekati dajjal, jauhilah sejauh-jauhnya. Umar saja dianggap tidak akan bisa mengalahkan dajjal oleh Nabi SAW, padahal Umar seseorang yg sangat tangguh dalam berperang.

Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Dajjal keluar lalu ada seseorang dari golongan kaum mu'minin, ia ditemui oleh beberapa orang penyelidik yakni para penyelidik dari Dajjal. Mereka berkata kepada orang itu: "Ke mana engkau bersengaja pergi?" la menjawab: "Saya sengaja akan pergi ke tempat orang yang keluar -yakni yang baru muncul dan yang dimaksudkan ialah Dajjal-." Mereka berkata: "Apakah engkau tidak beriman dengan tuhan kita (yg dimaksud dajjal)." la menjawab: "Tuhan kita tidak samar-samar lagi sifat-sifat keagungannya -sedangkan Dajjal itu tampaknya saja menunjukkan kedustaannya-." Orang-orang itu sama berkata: "Bunuhlah ia." Sebagian orang berkata kepada yang lainnya: "Bukankah engkau semua telah dilarang oleh tuhanmu(dajjal) kalau membunuh seseorang tanpa memperoleh persetujuannya."
Merekapun pergilah dengan membawa orang itu ke Dajjal. Setelah Dajjal dilihat oleh orang mu'min itu, lalu orang mu'min tadi berkata: "Hai sekalian manusia, sesungguhnya inilah Dajjal yang disebut-sebutkan oleh Rasulullah s.a.w. Dajjal memerintah pengikut-pengikutnya menangkap orang mu'min itu lalu ia ditelentangkan pada perutnya. Dajjal berkata: "Ambillah ia lalu lukailah -hajarlah/siksalah ia-." Seterusnya ia diberi pukulan bertubi-tubi pada punggung serta perutnya. Dajjal berkata: "Apakah engkau tidak suka beriman kepadaku?" Orang mu'min itu berkata: "Engkau adalah al-Masih maha pendusta." la diperintah menghadap kemudian digergajilah ia dengan gergaji dari pertengahan tubuhnya, yaitu antara kedua kakinya -maksudnya dibelah dua-. Dajjal lalu berjalan diantara dua potongan tubuh itu, kemudian berkata: "Berdirilah." Orang mu'min tadi terus berdiri tegak, kemudian Dajjal berkata padanya. "Apakah engkau tidak suka beriman kepadaku." la berkata: "Saya tidak bertambah melainkan kewaspadaan dalam menilai siapa sebenarnya engkau itu." Selanjutnya orang mu'min itu berkata: "Hai sekalian manusia, janganlah ia sampai dapat berbuat sedemikian tadi kepada seseorangpun dari para manusia, setelah saya sendiri mengalaminya." la diambil lagi oleh Dajjal untuk disembelih. Kemudian Allah membuat tabir tembaga yang terletak antara leher sampai ke tengkuknya, maka tidak ada jalan bagi Dajjal untuk dapat membunuhnya. Seterusnya Dajjal lalu mengambil orang tadi, yaitu kedua tangan serta kedua kakinya, lalu melemparkannya. Orang-orang sama mengira bahwasanya orang itu dilemparkan olehnya ke neraka, tetapi sebenarnya ia dimasukkan dalam Syurga." Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang itulah sebesar-besar para manusia dalam hal kesyahidannya -yakni kematian syahidnya- di sisi Allah yang menguasai semesta alam ini."
Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayatkan sebagiannya dengan uraian yang semakna dengan di atas itu.
Almasalihu yaitu para pengintai atau penyelidik.

Bab:Kalau tidak ada manusia biasa yg bisa membunuh dajjal, lalu siapa yg bisa membunuhnya?
Dari Annawwas bin Sam'an r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. menyebut-nyebutkan perihal Dajjal pada suatu pagi. Beliau s.a.w. menguraikan Dajjal itu kadang-kadang suaranya direndahkan dan kadang-kadang dikeraskan ... *hadis ini sangat panjang hingga* ...
Dalam keadaan sebagaimana di atas itu, kemudian Allah Ta'ala mengutus Isa al-Masih putera Maryam. la turun di menara -atau rumah tinggi- putih warnanya, yang terletak di sebelah selatan Damsyik, yaitu mengenakan dua lembar pakaian yang bersumba, dengan meletakkan kedua tapak tangannya atas sayap dua malaikat. Jikalau ia menundukkan kepalanya, maka mencucurlah air dari kepalanya itu, sedang apabila ia mengangkatnya, maka berjatuhanlah dari-padanya permata-permata besar bagaikan mutiara. Maka tiada seorang kafirpun yang berdiam di sesuatu tempat yang dapat mencium bau tubuhnya itu, melainkan ia pasti mati dan jiwanya itu terhenti sejauh terhentinya pandangan matanya. Selanjutnya al-Masih mencari Dajjal itu sehingga dapat menemukannya di pintu gerbang negeri Luddin, kemudian ia membunuhnya.
Seterusnya Isa a.s. mendatangi kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari kejahatan Dajjal itu, lalu ia mengusap wajah-wajah mereka -maksudnya melapangkan kesukaran-kesukaran yang mereka alami selama kekuasaan Dajjal tersebut- dan ia memberitahukan kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh derajat yang tinggi dalam syurga. Dalam keadaan yang sedemikian itu lalu Allah memberikan wahyu kepada Isa a.s. bahwasanya Aku -Allah- telah mengeluarkan beberapa orang hambaKu yang tiada kekuasaan bagi siapapun untuk menentang serta berperang dengan mereka itu. Maka itu kumpulkanlah hamba-hambaKu -yang menjadi kaum mu'minin- itu ke gunung Thur. Orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah itu ialah bangsa Ya'juj dan Ma'juj.
Mereka itu mengalir secara cepat sekali dari setiap tempat yang tinggi. Kemudian berjalanlah barisan pertama dari mereka itu di danau Thabariyah, lalu minum airnya, selanjutnya berjalanlah barisan terakhir dari mereka lalu mereka ini berkata: "Danau ini tentunya tadi masih ada airnya -dan kini sudah habis.-" Nabiullah Isa a.s. serta sekalian sahabat-sahabatnya dikurung -yakni dikepung dari segala jurusan sehingga tidak dapat keluar-, sampai-sampai nilai sebuah kepala lembu bagi seseorang di antara mereka itu adalah lebih berharga dari seratus uang dinar emas bagi seseorang di antara engkau semua pada hari ini. Nabiullah Isa a.s. dan sahabat-sahabatnya radhiallahu 'annum semuanya merendahkan diri kepada Allah Ta'ala memohonkan agar kesukaran itu segera dilenyapkan.
Allah Ta'ala lalu menurunkan ulat atas bangsa Ya'juj dan Ma'juj tadi di leher-leher mereka, kemudian menjadilah mereka itu sebagai korban yang mati seluruhnya dalam waktu sekaligus, seperti kematian seseorang manusia. Nabiullah Isa a.s. serta sahabat-sahabatnya radhiallahu 'annum lalu turun ke bumi. Mereka tidak menemukan sejengkal tanahpun di bumi itu melainkan terpenuhi oleh bau busuk dan bau basin mayat-mayat bangsa-bangsa Ya'juj dan Ma'juj tadi. Selanjutnya Nabiullah Isa a.s. dan sahabat-sahabatnya radhiallahu 'annum sama merendahkan diri lagi kepada Allah Ta'ala sambil memohonkan agar mayat-mayat mereka dilenyapkan. Allah Ta'ala menurunkan burung sebesar batang-batang leher unta dan burung inilah yang membawa mereka lalu meletakkan mereka itu di sesuatu tempat yang telah dikehendaki oleh Allah. Seterusnya Allah 'Azza-wajalla lalu menurunkan hujan yang tidak tertutup daripadanya tempat yang bertanah keras ataupun yang lunak -yakni semuanya pasti terkena siraman hujan itu-, kemudian hujan itu membasuh merata di bumi sehingga menyebabkan bumi itu bersih bagaikan kaca. Kepada bumi itu lalu dikatakan: "Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan luapkanlah keberkahanmu." Maka pada saat itu sekelompok manusia cukup makan dari sebiji buah delima saja -karena amat besarnya-. Merekapun dapat bernaung di bawah kulit tempurung delima tadi dan dikaruniakanlah keberkahan dalam air susu, sehingga sesungguhnya seekor unta yang mengandung air susu niscayalah dapat mencukupi segolongan besar dari para manusia, seekor lembu yang mengandung air susu dapat mencukupi sekabilah manusia, sedang seekor kambing yang mengandung susu dapat mencukupi sedesa manusia. Seterusnya di waktu mereka dalam keadaan yang sedemikian itu, tiba-tiba Allah Ta'ala mengirimkan angin yang sejuk nyaman, lalu angin itu mengambil nyawa kaum mu'minin itu dari bawah ketiaknya. Jadi angin itulah yang mencabut jiwa setiap orang mu'min dan setiap orang Muslim. Kini yang tertinggal adalah golongan manusia yang jahat-jahat yang saling bercampur-baur -antara lelaki dan perempuan- sebagaimana bercampur-baurnya sekelompok keledai. Maka di atas mereka inilah menjelang tibanya hari kiamat." (Riwayat Muslim)

QS.21. Al Anbiyaa':

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

96. Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. 

Tafsir Jalalain:
(Hingga) (apabila dibukakan) dapat dibaca Futihat dan Futtihat (Yakjuj dan Makjuj) dapat dibaca Yakjuj wa Makjuj dan Yajuj wa Majuj, keduanya adalah nama bagi dua kabilah 'Ajam. Sebelum kalimat ini diperkirakan adanya Mudhaf, maksudnya tembok yang mengurung Yakjuj dan Makjuj; hal itu akan terjadi bila hari kiamat sudah dekat (dan mereka dari seluruh tempat-tempat yang tinggi) yakni dataran-dataran tinggi (turun dengan cepatnya) artinya, mereka turun dengan sangat cepat.

Dari Ummul mu'minin yakni Ummulhakam, yaitu Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anha, bahwasanya Rasulullah s.a.w. masuk dalam rumahnya dengan rasa ketakutan. Beliau s.a.w. mengucapkan: "La ilaha illallah, celaka bagi bangsa Arab, karena adanya keburukan yang telah dekat. Hari itu telah terbuka tabir Ya'juj dan Ma'juj, seperti ini," dan beliau s.a.w. mengolongkan kedua jarinya sebagai bulatan, yakni ibu jari dan jari sebelahnya -jari telunjuk-. Saya -Zainab- lalu berkata: "Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa, sedangkan di kalangan kita masih ada orang-orang yang shalih?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ya jikalau keburukan itu telah banyak." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Ya'juj dan Ma'juj adalah dua bangsa yang dahulu banyak membuat kerusakan di atas bumi, lalu batas daerah kediaman mereka itu ditutup dengan cor-coran besi bercampur tembaga, sehingga mereka tidak dapat keluar dari situ,sebab tembok besi bercampur tembaga tadi amat tebal dan licinnya, pula sangat tinggi. Nanti apabila sudah dekat sekali tibanya hari kiamat kedua bangsa itu akan dapat keluar, sebab temboknya pecah-pecah dan hancur. Keluarnya kedua bangsa itu merupakan alamat besar bahwa hari kiamat sudah dekat sekali tibanya. Hadis tsb menunjukkan bahwa manakala di dalam suatu tempat atau negeri sudah terlampau banyak keburukan, kemungkaran, kefasikan dan kecurangan, maka kebinasaan dan kerusakan akan merata di daerah itu dan tidak hanya mengenai orang jahat-jahat saja, tetapi orang-orang shalih tidak akan dapat menghindarkan diri dari azab Allah itu, sekalipun jumlah mereka itu cukup banyak. Oleh sebab itu marilah kita semua berusaha menegakkan yg ma'ruf dan mencegah segala macam kemaksiatan dan kemungkaran, agar jangan sampai terjadi malapetaka sebagaimana yang diuraikan di atas.
--------------------------

Ingatlah, dajjal itu juga makhluk, ia pernah dilahirkan, sehingga pernah mengalami kematian. Sedangkan Allah, Tidak pernah dilahirkan namun justru Dia yang menjadikan/menciptakan segala sesuatu, sekehendakNya.
Tidak ada satupun yang serupa atau dapat menyerupai Dia. Mahasuci Allah dari segala yang mereka persekutukan denganNya.

Dia hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Dialah Tuhan di langit dan di bumi, Tidak ada Tuhan selain Dia, dan kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi, termasuk dajjal dan pasukannya.

Sungguh dajjal itu pendusta terbesar sejak jaman Nabi Adam as, hingga akhir jaman, karena itu berhati-hatilah dengan kemampuan dajjal yang luar-biasa, namun sebenarnya hanyalah tipuan saja ...

Semua kebaikan dan keindahan yg ditawarkan dajjal itu adalah remeh/sepele bagi Allah. Dajjal menawarkan keindahan/surga, padahal itu sebenarnya adalah neraka, dan dajjal juga menawarkan kesusahan/neraka, padahal sebenarnya adalah surga.

Dajjal hanya mampu menawarkan kenikmatan kelas dunia, namun Allah yang menciptakan dunia, langit dan seluruh galaksi ini tanpa ada bantuan dari makhluqNya, termasuk dajjal.
Dajjal tidak pernah hadir dan membantu Allah dalam penciptaan alam semesta ini, padahal alam semesta ini haq, dan bukan main-main.
Dajjal menawarkan kenikmatan dunia yg menipu, sedangkan Allah menawarkan kenikmatan akhirat yg sebenarnya, karena hanya Dia-lah Sang Pencipta, sendirian ...
Inilah yg disebut kenikmatan yg ditawarkan dajjal itu sangatlah remeh bagi Allah.

Dan Ingatlah, dajjal itu buta sebelah, sedangkan Allah tidak buta sebelah, Dia Mahamelihat segala sesuatu, baik yg tampak ataupun yg ghaib. Dan Tidak ada satupun penglihatan makhluq di dunia ini yang dapat/mampu melihat langsung dzatNya ...

QS.2. Al Baqarah:

ٱللَّهُ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَمَا فِي ٱلأَْرْضِ

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi...

Senin, 30 November 2015

Jalan Menuju Surga Dipenuhi Sesuatu yang Tidak Disukai, Sedangkan Jalan Menuju Neraka Dipenuhi dengan Syahwat

Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abdah bin Su'.aiman menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ami. Abu Salamah menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW. beliau bersabda, "Ketika Allah menciptakan surga dan neraka. Dia mengutus Jibril ke surga. Allah berfirman kepadanya 'Lihatlah surga dan lihatlah apa yang telah dipersiapkan bagi para penghuninya!'"
Beliau melanjutkan, "Jibril pun mendatangi surga dan melihatnya. dan melihat apa yang telah Allah persiapkan bagi para penghuninya." Beliau melanjutkan, "Jibril lalu kembali kepada-Nya, ia berkata, 'Demi keagungan-Mu, tidaklah seseorang mendengar tentang surga melainkan ia sangat ingin memasukinya'.
Allah lalu memerintahkan kepada surga untuk memenuhi jalan menuju kepadanya dengan hal-hal yang tidak disukai (dibenci). Allah berfirman, 'Kembalilah ke surga, lihatlah apa yang telah Aku persiapkan bagi para penghuninya!'" Beliau melanjutkan, "Jibril pun kembali ke surga, ternyata surga sudah dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disukai untuk dapat sampai kepadanya (ke surga). Jibril lalu kembali kepada Allah. Jibril berkata, 'Demi keagungan-Mu, aku khawatir tidak seorang pun dapat memasuki surga'.
Allah berfirman, 'Pergilah kamu ke neraka! Perhatikanlah neraka dan apa-apa yang telah aku persiapkan bagi para penghuninya'. Ternyata sebagian mereka (ahli neraka) menaiki sebagian yang lain. Jibril lalu kembali kepada Allah, ia berkata, 'Demi keagungan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang neraka lalu ia ingin memasukinya'.
Allah lalu memerintahkan kepada neraka untuk memenuhi jalan menuju kepadanya (ke neraka) dengan kenikmatan-kenikmatan syahwat. Allah lalu berfirman kepada Jibril. 'Kembalilah ke neraka'. Jibril pun kembali ke neraka, la lalu berkata, 'Demi keagungan-Mu. aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari neraka, melainkan mereka semua akan masuk ke dalamnya'"
Hasan shahih: Takhrij At-Tankil (2/177).

Hannad menceritakan kepada kami, Abu Al Ahwash menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Buraid bin Abu Maryam, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang meminta (berdoa) kepada Allah —agar masuk— surga sebanyak tiga kali, maka surga akan berkata, 'Ya Allah, masukkanlah ia ke dalam surga'. Siapa saja yang memohon perlindungan dari neraka sebanyak tiga kali, maka neraka akan berkata, 'Ya Allah, lindungilah ia dari neraka'."
Shahih: Al Misykah (2478-tahqiq kedua) dan At-Ta'liq Ar-Raghib (4/222).

Walaupun kita telah ditetapkan apakah di surga atau neraka, namun kita harus tetap berusaha supaya bisa masuk surga.  Segala sesuatu yang telah ditetapkan akan dimudahkan oleh Allah ...

Hasan bin Ali Al Hulwani menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair dan Waki' menceritakan kepada kami, dari Al A'masy, dari Sa'd bin Ubaidah, dari Abu Abdullah ArRahman AsSulami, dari Ali. Ia berkata, "Ketika kami sedang bersama Rasulullah, saat itu beliau sedang bersimpuh di atas tanah, lalu beliau mendongakkan kepalanya ke atas langit. Beliau bersabda, 'Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah diketahui —Waki' mengatakan, "Telah ditulis,"— tempatnya di neraka atau di surga."' Para sahabat berkata, "Bolehkah kami hanya berpangku tangan, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Jangan, tetaplah berusaha. Segala sesuatu yang telah ditetapkan akan dimudahkan (oleh Allah) ".
Shahih: Ibnu Majah (78) Muttafaq alaih.

Qutaibah menceritakan kepada kami, AlLaits menceritakan kepada kami, dari Abu Qabil, dari Syufai bin Mati', dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, "Rasulullah pernah menghampiri kami, ketika itu di tangannya ada dua buah kitab, lalu beliau bersabda, 'Tahukah kalian apakah kedua kitab ini?' Kami menjawab, "Kami tidak tahu wahai Rasulullah, kecuali jika engkau memberitahukan kami". Beliau berkata tentang kitab yang berada pada tangan kanannya, 'Kitab ini berasal dari Allah Pemelihara alam semesta, di dalamnya terdapat nama-nama ahli surga, nama-nama ayah dan kabilah mereka. Kemudian dijumlah hingga orang terakhir. Tidak ada penambahan dan pengurangan'. Beliau lalu melanjutkan tentang kitab yang berada pada tangan kirinya, 'Kitab ini berasal dari Allah Pemelihara alam semesta. Di dalamnya terdapat nama-nama ahli neraka, nama ayah. dan nama kabilah mereka. Kemudian, dijumlahkan hingga orang terakhir. Tidak ada penambahan dan pengurangan'.
Sahabat-sahabat beliau berkata, "Apa manfaat amal perbuatan yang kita lakukan, jika urusannya telah ditetapkan seperti itu?" Rasulullah menjawab, "Mintalah kebenaran dan istiqamah dengan amal perbuatan kalian, dan jangan berlebihan dalam semua urusan." Sesungguhnya ahli surga itu (hidupnya) akan diakhiri dengan amal perbuatan ahli surga, meski ia melakukan amal perbuatan apapun (perbuatan baik/buruk sebelumnya). Dan, sesungguhnya ahli neraka itu (hidupnya) akan diakhiri dengan amal perbuatan ahli neraka, meski dia melakukan amal perbuatan apapun (perbuatan baik/buruk sebelumnya)'.
Kemudian Rasulullah bertutur dan memberikan isyarat dengan kedua tangannya. Beliau menyingkirkan kedua kitab itu dan bersabda, 'Tuhan kalian telah menentukan nasib para hambaNya, sebagian dari mereka menjadi ahli surga dan sebagian yang lain menjadi penghuni neraka'."
Hasan: Al Misykat (96), AshShahihah (848), dan AzhZhilal (348).
--------------------------

Tetaplah berdoa dan berusaha, yakni meminta kebenaran dan istiqamah dengan amal perbuatan kita. Dengan harapan, Allah memberikan keistiqomahan terhadap segala perbuatan baik yang kita lakukan. Sebab kita tidak tahu, tempat kita kelak, apakah di Surga ataukah Neraka.
Tempat kita kelak, apakah di Surga ataukah Neraka, itu merupakan wewenang dan kekuasaan Allah, dan bukan wilayah kita. Wilayah kita adalah kita terus berdoa dan berusaha (ikhtiar) dengan sungguh-sungguh dan penuh harap akan Rahmat Allah ...

QS.17. Al Israa':

وَمَنْ أَرَادَ ٱلأَْخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَـٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. 

------------------------
Renungan:
Surga dikelilingi banyak rintangan ...
Siapapun yang berkeinginan memasuki Surga, pasti akan melewati rintangan2 itu ...
Rintangan termudah yakni Kematian ...
Siapapun pasti akan merasakan sakaratul maut, karena itu berbuat baiklah sekarang, dan jangan ditunda2 ...
Rintangan tersulit yakni Pengadilan Allah ...
Takutlah akan hal ini, karena Allah tidak akan membiarkan sekecil apapun permasalahan, melainkan pasti akan diberi balasannya ...

Senin, 23 November 2015

Takdir

Setiap makhluk-Nya telah ditetapkan tempatnya, apakah di surga atau neraka, namun bagaimanapun juga, kita harus tetap berusaha supaya bisa masuk surga. Segala sesuatu yang telah ditetapkan akan dimudahkan oleh Allah ...

Qutaibah menceritakan kepada kami, Risydin bin Sa'ad menceritakan kepada kami, dari Abu Shakhr Humaid bin Ziyad, dari Nafi', dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW: "Di antara umatku ada golongan yang akan tenggelam (ditelan bumi) dan akan berubah bentuk (tubuhnya), yaitu orang-orang yang mendustakan qadar (ketentuan Allah) ".
Hasan: AshShahihah [4/394).

Yahya bin Musa menceritakan kepada kami, Abu Daud AthThayalisi menceritakan kepada kami, Abdul Wahid bin Sulaim menceritakan kepada kami, ia berkata, "Aku pernah datang ke kota Makkah, di sana aku bertemu dengan Atha' bin Abu Rabah, lalu aku berkata kepadanya, 'Wahai Abu Muhammad, penduduk Bashrah banyak yang memperbincangkan tentang masalah qadar', ia berkata, 'Wahai putraku, apakah engkau membaca Al Qur'an?', aku menjawab, 'Ya', ia kembali berkata, 'Bacalah surat AzZukhruf!' Aku pun membaca,

حـمۤ
وَٱلْكِتَـٰبِ ٱلْمُبِينِ
إِنَّا جَعَلْنَـٰهُ قُرْءَاناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
وَإِنَّهُ فِىۤ أُمِّ ٱلْكِتَـٰبِ لَدَيْنَا لَعَلِىٌّ حَكِيمٌ

"Haa Miim. Demi Kitab (Al Qur'an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan, sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah." (Qs. AzZukhruf[43]: 1-4).

Dia lalu bertanya, 'Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan ummul kitab?' Aku menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih mengetahui'. Dia berkata, 'la adalah kitab yang ditulis Allah sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di dalamnya telah ditetapkan bahwa Fir'aun termasuk penghuni neraka. Di dalamnya juga telah tercatat firman Allah,

تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa." (Qs. AlLahab [111]: 1).

Atha' berkata, 'Aku lalu bertemu dengan Walid bin Ubadah bin AshShamit —sahabat Rasulullah— kemudian bertanya kepadanya, 'Apa wasiat ayahmu ketika dia akan meninggal dunia?' ia menjawab, 'Ayahku memanggilku dan berkata kepadaku, 'Wahai putraku, bertakwalah kepada Allah. Ketahuilan bahwa dirimu tidak akan dikatakan telah bertakwa kepada Allah hingga kamu beriman kepada Allah dan kepada seluruh takdirNya, yang baik atau yang buruk. Jika kamu meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada itu semua, maka kamu akan masuk neraka. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena)", kemudian dikatakan, 'Tulislah!', Qalam menjawab, "Apa yang harus aku tulis?" Dijawab, "Tulislah tentang qadar apa yang telah lalu dan apa yang akan terjadi hingga hari akhir".'"
Shahih: Ash-Shahihah (133), Takhrij Ath-Thahawiyah (232), Al-Misykat (94), dan Azh-Zhilal (102 dan 105).

Ibrahim bin Abdullah bin Al Mundzir Al Bahili AshShan'ani menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri' menceritakan kepada kami, Haiwah bin Syuraih menceritakan kepada kami, Abu Hani' Al Khaulani menceritakan kepadaku, ia mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuli berkata, saya mendengar Abdullah bin Amr berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda, "Allah telah menentukan takdir-takdir (ketentuan) lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi".
Shahih: Muslim (8/51)

--------------
Walaupun telah ditakdirkan/ditetapkan, namun sebagai makhluq tetap harus berusaha. Taqdir adalah wilayah kekuasaan Allah, sedangkan ikhtiar (usaha) adalah wilayah makhluq. Tidak ada seorang makhluqpun yang mengetahui taqdir yang merupakan wilayah kekuasaan Allah, melainkan para Nabi-Nya, itupun tidak semua dijelaskanNya. Sehingga tidaklah layak bagi makhluq untuk memutusi taqdirnya sendiri (berputus asa atau terlalu percaya-diri/sombong) yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya, karena itu semua makhluq diwajibkan untuk berikhtiar (berusaha) yang merupakan wilayahnya (makhluq).

Berusahalah, dan terus berusahalah, karena segala yang dimudahkan oleh Allah, itulah takdirmu ...
Dan semua yang luput dari apa-apa yang telah kamu usahakan, janganlah bersedih hati, karena hal tersebut telah ditentukan Allah, jauh sebelum kita diciptakan ...

Ingatlah, terus berusahalah, berusaha dan berdoa untuk kebaikan yang sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran dan hadits Nabi-Nya, karena takdirmu adalah segala hal yang dimudahkan oleh Allah ...

QS.17. Al Israa':

وَمَنْ أَرَادَ ٱلأَْخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَـٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.