Selasa, 24 Mei 2016

Cahaya berkilauan dng membawa Berkah yg dinantikan

Akan datang secercah Cahaya berkilauan tapi tak menyilaukan ...
Dengan membawa Berkah yang dinanti-nantikan ...
Menembus awan hitam yang tebal penuh dengan derita ...
Awan tebal yang diciptakan oleh manusia itu sendiri ...

Akan datang bulan yang penuh Berkah, Rahmat, dan AmpunanNya ...
Bulan yang disisi Allah merupakan bulan yang terbaik ...
Siangnya adalah yang terbaik diantara siang ...
Malamnya adalah yang terbaik diantara malam ...

Yaitu suatu bulan dimana manusia yang beriman diundang ...
Oleh Penciptanya untuk menuju perjamuan Ilahi ...
Saat-saat Allah memuliakan hambaNya ...
Saat-saat setiap nafas adalah merupakan tasbih ...
Tidur hambaNya adalah ibadah ...
Segala amal baik hambaNya diterima ...
Dan saat-saat dimana semua do'a dijawab ...

Karena itu hendaklah kamu memohon kepada Allah ...
Dengan niat yang benar dan hati yang suci ...
Sesungguhnya Celakalah orang-orang yang tidak memperoleh pengampunan dibulan yang Agung ini ...

Ingatlah akan lapar dan haus dihari pengadilan yg pasti datang, yakni pengadilan di padang Mahsyar ...
Berikanlah sedekahmu kepada fakir-miskin ...
Hormatilah orang tuamu ...
Sayangilah yang muda diantara kamu ...
Jagalah Lidahmu dari perkataan keji, kotor dan pergunjingan ...
Jagalah telingamu dari suara yang tidak patut didengar ...

Berlaku baiklah terhadap anak yatim ...
Bertaubatlah kepada Allah atas dosa-dosa kamu ...
Berdo'alah dengan tangan terangkat diwaktu sholatmu ...
Dimana Allah melihat hambaNya dengan belas kasihan ...
Ia menjawab apabila mereka menyeru ...
Ia menyambut apabila mereka memanggil ...
Ia memberi apabila mereka meminta ...
Ia akan mengabulkan apabila mereka memohon ...

Wahai manusia ...
Sesungguhnya jiwamu digadaikan dengan amal perbuatanmu ...
Bebaskanlah jiwamu itu dengan memohon pengampunanNya ...
Punggungmu keberatan menanggung dosa-dosamu ...
Maka ringankanlah dengan sujudmu yang lama ...

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah bersumpah ...
Dengan kemuliaan dan kehormatanNya ...
Ia tidak akan mengadzab orang yg melaksanakan sholat & sujud ...
Ia tidak akan menakuti mereka dengan api Neraka ...

Wahai manusia, ...
Apabila kamu memberikan makanan untuk berbuka puasa ...
Maka Allah akan memberikan pahala kepadanya ...
Dilipatgandakan pahala itu dengan tidak terbatas ...
Ia akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu ...

Wahai manusia, ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini memelihara perilaku yang baik ...
Maka Allah akan memudahkannya berjalan diatas shirath ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini suka meringankan makhlukNya ...
Maka Allah akan memudahkan dalam menghisabnya ...
Barangsiapa memutus tali kekerabatan didalamnya ...
Maka Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari Pengadilan ...

MARHABAN YAA ROMADLON ...
SELAMAT DATANG BULAN YANG KAMI RINDUKAN ...
SELAMAT DATANG KEKASIHKU, PUJAANKU, HARAPANKU ...

WAHAI PECINTA KEBAIKAN ... BERGEMBIRALAH ... !
WAHAI PECINTA KEJAHATAN ... HENTIKANLAH ... !!!

Senin, 23 Mei 2016

Makan Gorengan tidak membatalkan wudlu (biasanya untuk takjil buka puasa)

Makan Sate, goreng²an, kentucky, pizza tidak membatalkan wudlu, kecuali daging unta (terdapat perbedaan pendapat)


Setelah makan daging kambing, sate kambing, atau daging² yang dibakar, juga gorengan, tahu goreng, tempe goreng dan masih banyak lagi ternyata tidak membatalkan wudlu.
Ada pendapat yang membatalkan wudlu, karena berdasarkan suatu hadits "Berwudlu'lah kalian karena kalian makan sesuatu yang dibakar dengan api", namun ternyata ada hadits lain yang menyangkalnya, yakni memakan sesuatu yang dibakar ternyata tidak membatalkan wudlu, dengan kata lain ada pertentangan antar hadits. Jumhur ulama menyatakan bahwa hadits "Berwudlu'lah kalian karena kalian makan sesuatu yang dibakar dengan api" telah dihapuskan atau telah dinasakh oleh hadits yang datang sesudahnya yakni memakan sesuatu yang dibakar ternyata tidak membatalkan wudlu. Hadits yang TIDAK membatalkan wudlu ternyata lebih akhir keluarnya daripada hadits yang membatalkan wudlu, sehingga dapat dikatakan hadits yang terakhir adalah sebagai penyempurna hadits sebelumnya. (baca no. Hadist: 200 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Memakan sesuatu makanan yang berlemak memang tidak membatalkan wudlu, namun sebaiknya berkumur-kumur untuk menghilangkan lemak. Walaupun tidak membatalkan wudlu namun alangkan baiknya berkumur. (baca no. Hadist: 204 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Ada pertentangan mengenai makan daging unta apakah akan membatalkan wudlu atau tidak. Sebab ada pendapat makan daging unta membatalkan wudlu namun ada pula pendapat yang tidak membatalkan wudlu.
Khamar itu najis, dan apabila khamar mengenai badan kita, maka wudlu kita batal. Alkohol itu belum tentu khamar dan begitu juga sebaliknya. Hampir semua makanan yang kita makan mengandung alkohol, misalnya nasi dan duren. Khamar belum tentu ada alkoholnya, ada khamar yang tidak ada alkoholnya yakni ganja, opium, sabu dll. Dan semua khamar itu diharamkan.
(sumber: Dr. Ahmad Luthfi Fatulloh - Pusat kajian hadis jkt)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar dari 'Abdullah bin 'Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan paha kambing kemudian shalat dan tidak berwudlu lagi."(No. Hadist: 200 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair dan Qutaibah keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Abdullah bin 'Abdullah bin 'Utbah dari Ibnu 'Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam minum susu kemudian berkumur-kumur, beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya susu mengandung lemak." Hadits ini dikuatkan oleh Yunus dan Shalih bin Kaisan dari Az Zuhri.(No. Hadist: 204 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 16 Mei 2016

Jangan Menyerah

Ketika banyak teman menjauh ...
Ketika banyak yang tidak suka ...
Ketika cobaan datang bertubi-tubi bagaikan hujan yang deras ...
Ketika banyak gunjingan yang disebarkan ...
Ketika banyak orang yang terhasut ...

Jangan mengeluh, dan jangan berputus asa ...
Selama tali agama dipegang dengan kuat ...
Selama masih suka menolong orang lain dan mengasihi yang lain ...
Dan tetap memegang teguh prinsip dasar norma² kehidupan ...

Cobaan adalah sesuatu hal yang biasa ...
Sesuatu yang memang harus ada, terutama ketika berjuang di jalan Allah ...
Menegakkan agama Allah dan mengasihi hamba²Nya yang memang patut dikasihani ...

Apalah artinya cobaan itu?
Cobaan itu hanya sebentar, hanya seumur dunia saja ...
Namun pahala dan karunia dari sisi Allah jauh lebih abadi dan jauh lebih baik ...

Tetap berharaplah akan karunia dan pertolongan Allah ...
Karena Allah sangat mencintai hamba²Nya yang ridlo terhadap semua yang menimpanya ...
Dan ia tetap teguh dijalanNya ...

Jangan berharap terlalu tinggi akan harta dunia, jika memang ingin tetap menegakkan agama Allah ...
Hati² terhadap jabatan tinggi dan kekayaan yang banyak, karena keduanya merupakan pintu yang lebar dari cobaan yang sangat berat ...
Hati² juga apabila berkecimpung didunia politik dan terhadap wanita, sebab tidak sedikit yang tergelincir karenanya ...

Sesungguhnya kekayaan dunia dan semua rejeki yang kita terima telah ditetapkan kadarnya oleh Allah ...
Kadang mengalir deras, kadang sedikit, namun terkadang pula kekurangan, itu sudah biasa ...
Dan hanya Allah saja sebaik-baik pemberi rejeki ...

QS.62. Al Jumu'ah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوۤاْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلأَْرْضِ وَٱبْتَغُواْ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
وَإِذَا رَأَوْاْ تِجَـٰرَةً أَوْ لَهْواً ٱنفَضُّوۤاْ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِماً قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَـٰرَةِ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلرَٰزِقِينَ

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.


Hadis riwayat Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum seseorang melewati kuburan orang lain lalu berkata: Alangkah senangnya bila aku menempati tempatnya! (karena terlalu beratnya cobaan yang diterimanya). (Shahih Muslim No.5175)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman yang selalu digoyangkan oleh hembusan angin karena orang mukmin senantiasa ditimpa berbagai cobaan. Sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon cemara yang tidak goyang dihembus angin kecuali setelah ditebang. (Shahih Muslim No.5024)

Hadis riwayat Kaab bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman lunak dan lembut yang dapat digoyangkan oleh hembusan angin, sesekali miring dan kemudian tegak kembali sehingga bergoyang-goyang. Sedangkan perumpamaan orang kafir adalah seperti pohon cemara yang tegak berdiri di atas akarnya tidak dapat digoyangkan oleh sesuatu apapun sehingga ia tumbang sekaligus. (Shahih Muslim No.5025)

Senin, 09 Mei 2016

Bolehkah Kita Memikirkan Dzat Allah?

Mungkin ada sebagian dari kita yang takut memikirkan Dzat Allah. Kuatir tersesat dan malah menyekutukanNya. Dan ada juga yang beranggapan, lebih baik memikirkan ciptaanNya daripada DzatNya ...
Benarkah demikian?
Marilah kita baca bersama2 beberapa ayat berikut ini:

Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhannya:
QS.6. Al An'aam:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." 

Ibrahim mencari Tuhannya, Tuhan yang sebenarnya, karena Ibrahim merasa tidak cocok dengan anggapan tuhan dari semua orang dimasanya.
Ketika kegelapan malam datang, dan ia melihat bintang berbinar-binar, menurut suatu pendapat bahwa yang dimaksud adalah bintang Zahrah/Venus, lalu ia mengatakan, "Ini Tuhanku."

Tetapi setelah bintang itu tenggelam, ia menolak menjadikannya Tuhan dengan mengatakan, "Aku tidak bisa menerima tuhan-tuhan yang bisa menghilang dan berubah-ubah." Maksudnya aku tidak suka menjadikannya sebagai tuhan-tuhan, sebab tuhan tidak patut mempunyai sifat yang berubah-ubah dan pindah-pindah tempat karena kedua sifat ini hanyalah pantas disandang oleh makhluk-makhluk. Akan tetapi, ternyata cara yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim ini tidak mempan pada diri mereka.

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." 

Pada saat melihat bulan terbit dan mulai menampakkan sinarnya, ia berkata dalam hatinya, "Ini Tuhanku." Tetapi, setelah bulan itu pun tenggelam dan menjadi tampak ketidakbenaran sifatnya sebagai tuhan, ia mengatakan untuk mengarahkan kaumnya kepada pencarian hidayah, "Aku bersumpah, bila aku tidak ditunjuki Tuhanku kepada kebenaran, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang sesat."
Bisa pula berarti kalau perkataan ini merupakan sindiran Nabi Ibrahim terhadap kaumnya bahwa mereka itu berada dalam kesesatan akan tetapi ternyata apa yang telah dilakukannya itu sedikit pun tidak bermanfaat bagi kaumnya.

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Ketika melihat matahari terbit ia berkata kepada dirinya sendiri, "Ini Tuhanku, karena ia yang paling besar." Dan lebih besar daripada bintang dan bulan. Tetapi setelah matahari tenggelam ia mengatakan, "Wahai kaumku, aku tidak bertanggung jawab atas segala yang engkau jadikan sekutu Allah dalam beribadah." Dan dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, "Lalu apakah yang engkau sembah?" Nabi Ibrahim menjawab:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

"Sungguh aku menghadapkan diriku dengan beribadah hanya kepada penyembahan Allah semata, yang menciptakan langit dan bumi, dengan mengesampingkan semua yang bukan jalan-Nya. Setelah bukti-bukti keesaan yang aku lihat itu, aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah."

Kita lihat, bagaimana Nabi Ibrahim mencari petunjuk siapa Tuhannya, dan ternyata Nabi Ibrahim merendahkan diri, dengan meminta petunjuk kepada Allah, sehingga Allah-pun memberikan petunjuk-Nya kepada Nabi Ibrahim. Dan akhirnya Nabi Ibrahim tidak termasuk dalam golongan orang2 yang tersesat ...
Cara dialog yang santun dan penuh logika dipaparkan oleh Nabi Ibrahim kepada kaumnya, namun ternyata sebagian besar dari mereka malah mengingkarinya.

Setelah mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Allah, dengan penalaran yang menggelitik akal/logika, maka akhirnya Nabi Ibrahim menjadi paham benar, siapakah Tuhannya, Satu-satunya Tuhan yang pantas untuk disembah, yang menciptakan langit dan bumi sendirian, tanpa bantuan siapapun juga!.
Dengan hasil pencarian yang luar biasa ini, menjadikan diri Nabi Ibrahim hanya beribadah kepada Allah saja, dan tidak menjadikan makhluk, siapapun dia, walau terlihat besar/kuat, namun makhluk itu tetap saja makhluk dan bukan tuhan.

Bagaimana jika dalam pencarian itu kita mendahulukan kesombongan, dan tidak mau merendahkan diri untuk meminta petunjuk kepada Allah, mengenai siapakah Tuhan yang sebenarnya?
Silahkan membaca ayat berikut ini:

Debat Nabi Ibrahim dengan Namrudz menggunakan Logika Berpikir yang Jitu
QS.Al-Baqarah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Perhatikanlah bagaimana kesombongan terhadap kekuasaan yang telah Allah berikan telah mengeluarkan mereka dari cahaya fitrah (keimanan) kepada kekafiran. Namrudz berlaku sombong, padahal ia diberikan anugerah kekuasaan dijamannya. Bahkan ia menganggap dirinya sendiri adalah tuhan, bertindak zhalim dan sombong, yang dengan kekuasaannya itu ia dapat mengampuni seseorang dengan tidak membunuhnya dan menghukum lainnya dengan membunuhnya.
Selengkapnya:  Ketika Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah dapat menghidupkan dan mematikan dengan haq (dengan cara meniupkan ruh ke dalam tubuh dan mencabutnya)," orang kafir itu berkata, "Saya dapat memberikan kehidupan dan kematian dengan cara mengampuni dan membunuh." Lalu, untuk menyudahi perdebatannya, Ibrahim berkata, "Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka Terbitkanlah dari barat jika kamu benar-benar Tuhan." Orang kafir itu pun menjadi bingung dan terputuslah perdebatan karena kuatnya bukti yang menyingkap kelemahan dan keangkuhannya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang terus ingkar.

Juga silahkan membaca kisah lainnya, yakni kisah Fir'aun. Fir'aun juga berlaku sombong dan zhalim bahkan lebih sombong dan zhalim daripada Iblis. Berikut kisahnya:

Kisah Fir'aun mencari Tuhannya, dengan mendahulukan kesombongan:
QS.28. Al Qashash:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

38. Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta." 

Fir'aun bersikap berani dan takabbur (sombong) terhadap Tuhannya untuk mengelabui kaumnya yang bodoh dan kurang akal (karena tidak mau berusaha mencari Tuhan, seperti Nabi Ibrahim dalam kisah sebelumnya).
Setelah Fir'aun mengucapkan kata-kata ini yang di dalamnya mengandung kemungkinan ada Tuhan selainnya, maka Fir'aun hendak menguatkan ketidakadaan Tuhan selainnya, yakni selain diri Fir'aun sendiri. Fir'aun menganggap, bahwa dirinya adalah satu-satunya tuhan ...!

Perhatikanlah keberaniaan makhluk yang lemah dan kecil ini kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, ia mendustakan Rasul-Nya dan mengaku dirinya tuhan serta mencoba menguatkan dirinya dengan membuat bangunan yang tinggi untuk melihat Tuhan Musa dan kita. Akan tetapi, sungguh aneh para pembesar yang mengatur kerajaan, bagaimana akal mereka dapat dipermainkan oleh satu orang ini (Fir'aun), orang yang merusak agama dan akal mereka. Ini tidak lain karena keadaan mereka juga fasik dan sifat itu telah menancap dalam diri mereka.

Oleh karena itu, kami meminta kepada-Mu ya Allah agar Engkau meneguhkan kami di atas keimanan dan tidak memalingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk.
Aaamiiin ...

Bersiap-siaplah wahai umat manusia, ketika jaman sudah pada puncak akhirnya, maka akan banyak bermunculan makhluq yang mengaku tuhan, atau yang dianggap sebagai tuhan. Puncaknya adalah dengan munculnya Dajjal, yang diikuti oleh sebagian besar manusia hingga ada beberapa orang yang beriman yang akhirnya berbalik keimanannya dengan mengikuti Dajjal ...
Dapatkah kita membendung itu semua? Dan bagaimanakah filter kita, jika kita tidak pernah sekalipun memikirkan Dzat Allah yang sesuai dengan petunjuk-Nya dalam Al Quran?
Subhanallah ...

Akhirnya Fir'aun Mengakui Tuhannya Musa di Saat2 Terakhir (Sakaratul Maut), namun Ternyata di Tolak oleh Allah Pengakuan/Tobatnya:
QS.10.Yunus:

 وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

90. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

(Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut lalu mereka diikuti) disusul dan dikejar (oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas) mereka, lafal baghyan dan `adwan menjadi maf'ul lah (hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkata dia, "Saya percaya bahwa) bahwasanya; dan menurut suatu qiraat lafal annahu dibaca innahu sebagai jumlah isti'naf (tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri.") Firaun sengaja mengulang-ulang perkataannya itu supaya diterima oleh Allah, akan tetapi Allah tidak mau menerimanya. Kemudian malaikat Jibril menyumbat mulutnya dengan lumpur laut, karena merasa khawatir Firaun akan mendapatkan rahmat dari Allah. Lalu Allah berfirman kepadanya:

QS.10.Yunus:

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tetapi Allah tidak berkenan dan menerima keimanan Fir'aun yang dinyatakan-Nya dalam keadaan terdesak ini. Tobatnya yang dilakukan pada saat sekarat ini pun tidak diterima Allah, setelah sebelumnya ia hidup bergelimang kemaksiatan dan selalu membuat kerusakan di bumi. Fir'aun pun mati dalam kekufuran dan keterhinaan.


Renungkanlah:
Iblis diciptakan dengan banyak kelebihan, diantaranya bisa berbicara dengan Allah secara langsung ...
Selain itu ia diberi pengetahuan dan ilmu yang sangat luas ...
Dan ia termasuk pembesar dan sesepuh utama golongan syaitan ...

Namum ternyata Iblis pernah terkejut, hingga saking kagetnya ia ingin bertobat ...
Lo mengapa demikian?
Ternyata penyebabnya adalah salah seorang pengikutnya yg termasuk junior, berani mengaku sebagai tuhan ...
Bahkan mengaku sebagai satu-satunya tuhan ... !!!

Iblis yang memiliki pengetahuan dan ilmu yang sangat luas saja tidak berani mengaku sebagai tuhan ...
Namun, pengikutnya yang lebih junior dengan kemampuan jauh dibawah Iblis, ternyata malah berani mengaku sebagai satu-satunya tuhan ...

Siapakah dia?
Dia adalah Fir'aun pengikut junior dari Iblis, dijaman Nabi Musa as ...
Hingga saking takut (kepada Allah) dan kagetnya, Iblis ingin bertobat ...
Minta bertaubat kepada Nabi Musa as, namun diurungkannya karena persyaratan yang diajukan Nabi Musa as terlalu berat baginya ...

Apakah syarat dari Nabi Musa as?
Yakni mematuhi perintah Allah yg dulu, yakni perintah supaya Iblis mau sujud kepada Nabi Adam as ...

Link Artikel Lanjutan yang saling Terkait:
1. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2012/07/tuhanku.html
2. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2016/03/dimana-allah.html
3. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2016/03/melihat-dzat-allah.html
4. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2014/05/kedahsyatan-isra-miraj-relativitas-alam.html
5. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/12/dajjal.html
6. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2012/04/siapakahpenciptakita.html
7. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/07/siapakah-allah.html
8. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/07/nabi-muhammad-shallallahu-alaihi.html
9. http://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2016/05/tuduhan-yang-tidak-layak-kepada-nabi.html

Senin, 02 Mei 2016

Tuduhan yang Tidak Layak Kepada Nabi

Tuduhan orang² kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada para Rasul-Nya, sudah ada sejak jaman dulu. Orang² kafir itu menuduh Rasul-Nya adalah seorang pendusta dan sombong. Menuduh utusan Allah dengan suatu tuduhan yang sangat tidak layak dan jauh dari kebenaran. Bahkan, tuduhan itu sebenarnya adalah untuk sipenuduh itu sendiri, karena pada kenyataannya sipenuduh itulah seorang pendusta lagi sombong.

QS.54. Al Qamar:

أَءُلْقِىَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِن بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

25. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. 

Namun tuduhan itu (Nabi SAW dituduh pendusta lagi sombong) dibantah oleh Allah, karena sesungguhnya orang² kafir itulah yang sangat pendusta lagi sombong. Dan mereka memutar-balikkan fakta (seperti: Maling teriak Maling), dengan menuduh Rasul-Nya adalah seorang pendusta dan sombong. Allah SWT berfirman:

QS.54. Al Qamar:

سَيَعْلَمُونَ غَداً مَّنِ ٱلْكَذَّابُ ٱلأَْشِرُ

26. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. 

Bab: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi
Orang² kafir telah menuduh Nabi Muhammad SAW telah tersesat dan tidak pasti selamat diakhirat(karena masih membutuhkan shalawat dari kita) , karena itu mengapa harus mengikuti Nabi Muhammad SAW?
Subhanallah, alangkah buruk perkataan mereka, mereka mengolah dan memutar-balikkan makna dari Al Qur'an, hanya karena hati mereka dipenuhi dengan kedengkian ..
Mereka benar² ingin mendapatkan adzab yg sangat dahsyat dengan perbuatan buruknya itu ...
Mengapa mereka suka mempermainkan firman Allah, dan mengolah firmanNya berdasarkan nafsu yang buruk dengan kedengkian mereka?

Semua Nabi-Nya mengajarkan kerendahdirian dan melarang sombong kepada para umatnya. Tidak ada satupun Nabi yang mengajarkan kesombongan. Tidak ada yang layak untuk sombong, kecuali hanya Allah sendiri, Allah-lah pemilik kesombongan itu, dan akan dihinakan oleh-Nya, bagi hamba²Nya yang sombong lagi membangga-banggakan diri. Sungguh indah, Nabi SAW yang sudah pasti masuk Surga (dan tidak terpengaruh dng shalawat yg kita ucapkan/tidak), namun masih diperintahkan untuk kita supaya bershalawat untuk Nabi. Padahal, sebenarnya ini adalah ungkapan yang sangat indah, karena sesungguhnya sholawat untuk Nabi itu sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, dengan dibalasnya shalawat kita, 10 kali lipat oleh Allah SWT.
Jangan pelit untuk membaca shalawat untuk Nabi, karena walaupun kita tidak membaca sholawat, Allah dan malaikat-malaikat-Nya selalu bershalawat untuk Nabi.
Jika kita membaca shalawat untuk Nabi, maka yang untung adalah diri kita sendiri, dengan memperoleh 10 sholawat dari Allah.
Sungguh, begitu indah cara Allah memberikan kebaikan kepada kita.

QS. 33. Al Ahzab:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰئِكَـتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[Dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi]

Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, Ka'ab bin Alqamah mengabarkan kepada kami bahwa dirinya mendengar dari Abdurahman bin Jubair: ia mendengar dari Abdullah bin Amr: ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Apabila kalian mendengar (suara) muadzin, maka katakanlah (oleh kalian) seperti apa yang ia katakan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Barang siapa yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membaca sepuluh shalawat untuknya. Lalu mintalah wasilah kepada Allah untuk diriku. Sesungguhnya wasilah adalah sebuah derajat di dalam surga yang tidak semestinya —diberikan— kecuali hanya untuk seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya. Aku berharap, akulah yang akan menjadi hamba tersebut. Barang siapa yang memohon wasilah untukku, maka wajib baginya syafaat(dari Nabi SAW)." Shahih: Al Irwa' (242), At-Ta'liiq ala Bidaayah As-Sul (20/52); Muslim dan Shahih Sunan Tirmidzi(3614).

Sungguh, bukankah Nabi SAW jauh dari kesombongan? Bahkan Nabi SAW berharap supaya umatnya memohon wasilah untuk beliau(berdoa kepada Allah SWT), yang sebenarnya Allah telah menganugerahkan wasilah itu untuk NabiNya. Namun karena Nabi SAW ingin "memanusiakan" umatnya, maka Nabi juga minta didoakan (yang sebenarnya doa itu untuk kebaikan diri orang yg berdoa). Sungguh suatu ungkapan yang indah, dan sangat mengangkat derajat umatnya, sehingga "seolah-olah" sejajar dengan Nabi Muhammad SAW.

Bab. Betapa Murkanya Allah Terhadap HambaNya yang Sombong
QS.31. Luqman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 

Kesombongan adalah Milik Allah dan Hanya Milik-Nya Kesombongan itu
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya," artinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang merasa heran - bangga - dengan dirinya sendiri, ia menyisir rapi-rapi akan rambutnya lagi pula berlagak sombong di waktu berjalan, tiba-tiba Allah membenamkannya, maka ia tenggelamlah dalam bumi sehingga besok hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

Qutaibah menceritakan kepadaku. Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Salim bin Abu Al Ja'd, dari Tsauban, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bebas dari tiga (hal) yaitu kesombongan, ghulul dan utang, maka ia masuk surga'. " Shahih: Ibnu Majah (2412) dan Shahih Sunan Tirmidzi(1572).

Abu Hisyam menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji (sawi)'."Shahih: Takkrij Ishlah AlMasajid(115); Muslim dan Shahih Sunan Tirmidzi(1998)

Bab: Mengenai Rendahnya Nilai Dunia ini, jadi Mengapa Harus Menyombongkan Diri di Bumi yg Hina ini?
Qutaibah menceritakan kepada kami. Abdul Hamid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim. dari Sahal bin Sa'ad, ia berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding  sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya satu tetes air".
Shahih: AshShahihah (940)  dan Shahih Sunan Tirmidzi(2320).

Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Mujalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Mustaurid bin Syaddad, ia berkata, Saya pernah bersama rombongan yang sedang berhenti bersama Rasulullah di hadapan bangkai anak kambing. Rasulullah kemudian bertanya, "Apakah kalian berpendapat bahwa binatang ini hina bagi pemiliknya ketika ia melemparkannya (membuangnya)?" Mereka menjawab, "Karena kehinaannya itulah mereka melemparkannya (membuangnya), wahai Rasulullah". Beliau bersabda. "Dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada binatang ini dalam pandangan pemiliknya ".
Shahih: Ibnu Majah (4111) dan Shahih Sunan Tirmidzi(2321).

Bab. Seseorang Tidak akan Masuk Surga karena Amalannya sewaktu di Dunia
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Az Zabriqan telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; 'Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah? ' Beliau bersabda: 'Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.' Perawi berkata; aku kira dari Abu An Nadlr dari Abu Salamah dari Aisyah. 'Affan mengatakan; telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Musa bin 'Uqbah dia berkata; saya mendengar Abu Salamah dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan redaksi "saddidu (beristiqamahlah dalam beramal) wa absyiruu (dan berilah kabar gembira)." Mujahid mengatakan mengenai firman Allah "Qaulan sadida" yaitu berkataan yang benar." (No. Hadist: 5986 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Semua Nabi, dan semua Rasul tidak ada yg mengajarkan kesombongan dan kedengkian. Semua mengajarkan kerendahdirian dan tawadlu kepada Allah SWT. Semua mengajarkan supaya umatnya tunduk dan patuh serta merendahkan diri hanya dan hanya kepada Allah SWT. Siapaun Nabi itu, seperti: Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan juga Nabi Muhammad SAW.
Adakah Nabi yang mengajarkan kesombongan dan kedengkian?

> Semua Manusia, semua Nabi dan Semua Rasul TIDAK akan masuk Surga karena amalannya. Namun hanya karena limpahan Rahmat dan Ampunan Allah sajalah yang dapat mengantarkan Manusia, semua Nabi dan Semua Rasul bisa masuk Surga.

Sesungguhnya Petunjuk itu juga datangnya dari Allah, dan jika tidak ada petunjuk dari-Nya supaya kita tetap berjalan dijalan yang lurus (Al Islam), maka masuk Nerakalah kita. Karena itu mintalah selalu supaya kita tetap istiqomah dijalan-Nya yang lurus (Al Islam), karena tidak ada jaminan kita akan tetap istiqomah dijalan-Nya yang lurus (Al Islam) kecuali hanya jaminan dari Allah SWT saja ...

QS.1. Al Faatihah:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yakni meminta --dibaca berulang-ulang hingga berharap istiqomah-- di jalan Al Islam)

Sungguh Allah telah mengajarkan kepada kita semua (manusia, para Nabi dan juga para Rasul Allah) dengan suatu permintaan yg indah dari seorang hamba yg merasa lemah dan rendah diri, kepada Sang Pencipta yang Mahamengetahui lagi Maha Perkasa ...

Senin, 25 April 2016

Sarang Laba-Laba: Kuat atau Lemah?

Sebenarnya sarang laba-laba itu kuat ataukah lemah?

Didalam Al Qur'an terjemahan ditulis seperti ini:
QS.29. Al 'Ankabuut:

مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلْعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

41. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. 

Ada sesuatu yang menarik dari ayat diatas yaitu masalah sarang laba-laba adalah yang paling lemah.
"wa inna auhanalbuyuuti/dan sungguh selemah-lemah rumah", Allah menyebut selemah-lemah rumah adalah jaring/sarang laba-laba. Mengapa demikian? Marilah kita perhatikan yg berikut ini:

Karakteristik Jaring Laba-laba (diringkas dari, Menjelajah dunia laba², 2004, Harun Yahya):
1. Memerlukan pengurusan yg terus-menerus, karena bagian spiral lengketnya bisa rusak oleh angin, hujan atau oleh gerakan mangsa yg berusaha lolos.
2. Tergantung letaknya, namun dalam waktu 24 jam, sebuah jaring dapat kehilangan sifat² yg membuatnya mampu menangkap serangga.
3. Jaring harus dibongkar secara berkala dan dibangun kembali. Laba² ini makan dan mencerna benang² jaring yg dibongkarnya. Dan ia membangun jaring baru dari benang yg dicernanya.
4. Laba² tropis membangun jaring²nya pada malam hari dan memakannya menjelang pagi hari

Seperti yang kita ketahui, jaring laba² dapat menjerat mangsanya, yg bertubuh jauh lebih besar dari laba² pemilik jaring tersebut. Mangsa itu dapat dijerat hingga sulit terlepas. Dari luar jaring tersebut terlihat/tampak sangat kuat dan hebat, namun benarkah demikian?
Dari keterangan diatas (karakteristik jaring laba-laba), dapat diketahui, bahwa sebenarnya jaring laba² itu sangatlah lemah, tidak dapat bertahan lama, dan harus sering dibongkar dan dibangun kembali. Bukankah dng ayat itu, Allah menggelitik kita supaya mau berfikir dan meneliti mengenai jaring laba²?

Perhatikan pula ayat berikut ini:
QS.31. Luqman:

وَوَصَّيْنَا ٱلإِنْسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 

Perhatikan kata-kata, "wahnan 'alaa wahnin/lemah diatas kelemahan". Jika diperhatikan, Allah hendak menunjukkan sesuatu hal yg terlihat kuat namun sebenarnya lemah, seperti keterangan ayat mengenai sarang laba² (sebelumnya).
Kita lihat bahwa seorang ibu yang mengandung, ia terlihat kuat diawalnya, saat kandungan masih kecil, namun semakin lama, kandungan semakin besar, sehingga ibu menjadi bertambah lemah dan terus bertambah lemah ...

>> Sehingga dapat disimpulkan, mengenai "pelindung-pelindung selain Allah" yang disebut dalam QS.29 ayat 41, adalah terlihat kuat diluarnya, namun sebenarnya lemah, dan terus bertambah lemah jika kita perhatikan. Mungkin mereka ("pelindung-pelindung selain Allah") memiliki senjata lengkap dan hebat, namun sebenarnya mereka itu lemah dan sangat lemah. Mereka kuat karena bergantung pada senjata modern, yg andaikan senjata itu macet atau kehabisan peluru, maka mereka adalah lemah, dan selemah-lemahnya.
Sangatlah berbeda jika pelindung kita adalah Allah, pernahkah Allah kehabisan peluru? Subhanallah ... Allah Mahaperkasa yg tidak satupun dapat mengalahkan Dia ...

> Bagaimanakah kata-kata didalam Al Qur'an yg menyatakan terlihat/tampak lemah dan sungguh-sungguh lemah?
Perhatikan ayat berikut ini:
QS.30. Ar Ruum:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْقَدِيرُ

54. Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. 

Keterangan ayat:
Kita diciptakan dari keadaan lemah, dan terlihat lemah, mulai dari dalam kandungan hingga dilahirkan (bayi).
Apakah kita punya kekuatan ketika masih didalam kandungan dan ketika masih bayi? Andaikan si Ibu menggugurkan kandungannya dng  meminum obat atau memukuli perutnya, apakah kita bisa melawan dan menolaknya? Andaikan sewaktu kita masih bayi, ada yg mencekik kita, dapatkah kita melawannya? Sungguh, kita tidak mungkin melawan segala bentuk kezaliman, karena kita terlihat lemah dan memang sungguh-sungguh lemah ...
Ketika Allah menciptakan kita dari keadaan lemah, "lemah" disini di Al Qur'an disebut dengan "Dlo'fin" atau seringkali kita mengatakan lemah dng "dlo'if". Dalam tata-bahasa arab, "dlo'if" itu berarti: 1. lemah; 2.tidak kuasa; 3.tidak berdaya; 4.tidak berguna; 5.tidak ada artinya; 6.hina atau bisa juga berarti terlihat lemah dan sungguh-sungguh lemah. Tidak ada kekuatan dibaliknya yg tersembunyi ...

> Jadi hati-hati dalam menyebut lemah, sebab didalam bahasa Arab, banyak sekali kata-kata yg diartikan lemah. Namun kita harus teliti, lemah yg bagaimana yg disebutkan itu (didalam Al Qur'an)? Jangan sampai kita salah menafsirkan, kemudian menyatakan salah, atau mengatakan, "kok Al Qur'an berlawanan/berbeda dng pembuktian ilmu modern?". Tidak mungkin Allah salah, namun kitalah yg salah dalam menafsirkan ayat atau kita yang salah dalam melakukan penelitian ilmu pengetahuan, sehingga hasilnya salah.
Allah Mahabenar dan kitalah yg lemah dan sering salah, itu pasti. Jika kita mengakuinya dan tidak sombong ...

Minggu, 17 April 2016

Apa yang sebenarnya kita cari ?

Pagi² sebelum subuh sudah berangkat kerja ...
Pulang larut malam, hingga hampir pagi ...
Setiap hari bekerja seperti itu ...
Apakah yang sebenarnya dicari ?
Harta, uang, kedudukan atau malah semuanya ?
Apakah harta, uang atau kedudukan sangat berarti dan menentukan kehidupan di dunia ini?
Mungkin sebagian mengatakan "Ya", namun apakah sebenarnya kehidupan hanya didunia ini?
Apakah tidak ada kehidupan setelah kematian?
Berapakah perbandingan waktu lamanya antara kehidupan sekarang dan setelah kematian?
Mana bekal kita untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?

Tengah malam bangun, sholat tahajjud ...
Hampir subuh, sahur dulu kemudian sholat witir ...
Waktu subuh pergi ke masjid, kemudian i'tikaf diMasjid ...
Hingga waktu dhuhur ...
Istirahat sejenak, pergi ke Masjid lagi Sholat Asar ...
Diteruskan Maghrib hingga Isya kemudian berbuka puasa ...
Apakah yang sebenarnya dicari ?
Surga? atau Pahala?
Katanya kehidupan akhirat lebih utama dan lebih abadi ...
Memang "Ya", namun tidakkah terpikir olehnya?
Apakah ia tidak punya keluarga? Bagaimana dengan kebutuhan makan dan kebutuhan lainnya?
Apakah ia berharap sedekah dari orang lain?
Subhanallah, apakah tidak malu berharap sedekah dari orang lain, padahal masih mampu dan kuat untuk bekerja?

Sesungguhnya satu hari itu ada 24 jam ...
Alangkah baiknya kalau dibagi menjadi 3 bagian waktu:
1. Sepertiga pertama, digunakan untuk bekerja mencari nafkah (8 jam)
2. Sepertiga kedua, digunakan untuk Ibadah (8 jam, rinciannya(relatif): sholat berjamaah 5 waktu 5 jam, kemudian membaca Al Qur'an 1 juz 1 jam, i'tikaf di Masjid 1 jam, Sholat sunnah 1 jam)
3. Sepertiga ketiga, digunakan untuk Istirahat (8 jam)
Kira² sudah seperti inikah kita?
Atau kita kerja terus menerus, siang-malam dan kerja itu dianggap sebagai ibadah, kemudian sholat hanya 5 menit dan selesai? Cukupkah?
Atau kita ibadah terus menerus, siang-malam untuk mendapatkan Surga? Cukupkah ?
Subhanallah tidak ada yang cukup, tidak ada yang cukup semua ibadah yg telah kita lakukan, supaya bisa memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.
Kita dimasukkan Surga hanyalah karena rahmat dan karunia Allah saja ...
Namun, bukan berarti kita meninggalkan ibadah, ibadah yang kita lakukan setidaknya mencontoh Nabi SAW beserta para Sahabat beliau.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bahwa beliau bersabda: Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar. (Shahih Muslim No.5036)

Pernahkah Nabi SAW, Sholat fardlu sendirian saja? Jawabannya tidak pernah, beliau selalu sholat fardlu di Masjid bersama para sahabatnya (berjamaah).

QS 48. Al Fath:29

تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَـٰهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ

"...Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud..."

Mereka juga bekerja unt mencari karunia Allah (nafkah), namun cara bekerja mereka tidak seperti kebanyakan orang jaman sekarang, yg seolah-olah bekerja seharian penuh. Dalih orang jaman sekarang kerja seharian penuh juga ibadah. Namun apakah para sahabat Nabi SAW juga mengatakan yg demikian itu? Mereka (para sahabat Nabi SAW) juga bekerja, bahkan juga kaya, namun ketika tiba waktu sholat, mereka segera menghentikan kegiatannya dan berjalan menuju Masjid untuk Sholat.
Apakah orang² yang mengatakan kerja seharian penuh juga ibadah, juga melakukan yg demikian itu? Yakni menghentikan kegiatannya dan berjalan menuju Masjid untuk Sholat berjamaah, ketika waktu sholat fardlu tiba?

Ataukah kita meragukan negeri akhirat karena tidak pernah kita melihatnya?
Subhanallah, padahal kita diperintahkan menyembah hanya kepada Allah sampai datang yang DIYAKINI, yakni ajal atau maut yang pasti menjemput, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan yang lurus.

QS.23. Al Mu'minuun:74.



"Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman (tidak percaya) kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). "

QS.16. An Nahl:22-23

إِلَـٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَٰحِدٌ فَٱلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِٱلأَْخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ
لاَ جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ

"Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. "

"Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. "

QS.15. Al Hijr:98-99

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِينَ
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

"maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), "
"dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal atau maut atau kematian). "

Minggu, 10 April 2016

Jangan Sombong dan membanggakan Diri

Janganlah angkuh dan sombong ...
Jangan pula membanggakan diri sendiri ...

Walaupun kita merasa seolah² dekat denganNya ...
Telah melaksanakan banyak perintahNya dan telah menjauhi larangan²Nya ...
Walaupun kita merasa cerdas, jenius dan berpendidikan sangat² tinggi dan terpandang ...
Walaupun kita memiliki kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa ...
Walaupun kita merasa sangat kaya harta dan dermawan ...
Tetap janganlah sombong dan membanggakan diri ...
Karena sesungguhnya Neraka itu dekat sekali, walau kita merasa jauh, karena amalan² baik kita ...

Sesungguhnya Neraka lebih dekat dari tali sepatu kita ...
Tidak berguna sedikitpun semua amalan² baik, yang telah kita lakukan, apabila kita sombong dan suka membangga-banggakan diri ...
Sangatlah mudah bagi Allah, menghapus segala amal perbuatan kita, karena kesombongan kita ...
Allah sangat tidak menyukai hamba²Nya yang sombong lagi suka membangga-banggakan diri ...
Hanya Allah yang pantas sombong, bukan hambaNya ...
Pasti Allah akan menghinakan hamba²Nya yang sombong dan tidak mau segera bertaubat ...

QS 31. Luqman:18.

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. "

QS. 50. Qaaf:30-31

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمْتَلأََتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ
وَأُزْلِفَتِ ٱلْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam : "Apakah kamu sudah penuh?" Dia menjawab : "Masih ada tambahan?" "

[Keterangan: ayat ini bukan menunjukkan bahwa Allah tidak mengetahui isi/kapasitas dari Neraka Jahannam, namun merupakan gaya bahasa yang indah, yang menunjukkan kepada kita mengenai luar biasanya kapasitas Neraka Jahannam, sehingga sudah selayaknya kita merasa takut untuk ikut dimasukkan ke Neraka Jahannam, karena kapasitasnya yang luar biasa itu, seperti yang telah dikatakan oleh Neraka Jahannam: "Masih ada tambahan?". Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca Hadist² dari KITAB SHAHIH BUKHARI berikut ini.]
"Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). "

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga dan Neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: 'Orang-orang congkak dan sombong memasukiku'. Surga berkata: 'Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, yang hina dalam pandangan manusia'. Lalu Allah berfirman kepada surga: 'Kau adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu.' Kemudian Allah berfirman kepada Neraka: 'Kau adalah siksaKu, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari keduanya ada isinya.' Sedangkan Neraka tidak terisi penuh hingga Allah meletakkan kakiNya kemudian Neraka berkata: 'Cukup, cukup.' Saat itulah Neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagaian yang lain. Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhlukNya. Sedangkan surga, Allah menciptakan penghuninya." (No. Hadist: 4472 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Sa'd bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih bin Kisan dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Surga dan Neraka saling berselisih kepada Tuhan keduanya, surga berkata, 'Wahai Tuhan, mengapa aku tak dimasuki selain orang-orang lemah dan rakyat jelata? ' Sedang Neraka berkata, 'Mengapa aku dikhususkan untuk orang-orang yang sombong? ' Allah ta'ala menjawab surga: "Engkau adalah rahmat-Ku", dan Allah berfirman kepada Neraka, 'Engkau adalah Siksa-Ku, yang Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki, dan masing-masing diantara kalian berdua harus dipenuhi.' Nabi bersabda: "Adapun Surga sesungguhnya Allah tidak menzhalimi satupun dari makhluk-Nya, dan Allah akan memenuhi Neraka dengan siapa saja yang dikehendaki-Nya, lantas mereka dilempar ke dalamnya '(Neraka berkata, 'Masihkah ada tambahan) ' (QS. Qaaf ayat: 30) -beliau mengulanginya tiga kali-, kemudian Allah meletakkan telapak kakiNya sehingga Neraka menjadi penuh, sebagian satu dengan sebagian yang lain saling berhimpitan, Neraka pun berkata, 'cukup, cukup, sukup." (No. Hadist: 6895 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Apakah yg dibangga²kan seorang manusia ...?
Bukankah ia hanyalah seonggok daging, yg didalamnya terdapat banyak kotoran ...?
Dapatkah ia membersihkan kotoran itu sendiri, dengan semua teknologi canggih yang dimilikinya ...?
Berapakah harga ginjal...? jantung...? paru²...? dan orang² tubuh lainnya...?
Dapatkah ia membeli semua itu ...? atau membuatnya, persis seperti aslinya ...?
Padahal semua organ tubuh yg ada pada dirinya telah diberikan secara gratis oleh Allah SWT ...
Allah hanya meminta kita selalu ingat kepadaNya, dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya ...

Diantaranya Sholat 5 waktu berjamah di Masjid tepat pada waktunya, kemudian Sholat malam dan witir ...
Berat ... berat .... beraaat sekali perintah²Nya ...?
Memang berat, namun selain organ tubuh yg diberikan secara gratis, ingat² lah ...
Bagaimana langit ditinggikan dan bumi dihamparkan ... secara gratis ... coba kalau disuruh buat sendiri, apakah kita mampu ...?
Kita bisa nyaman tinggal dibumi tanpa merasa takut karena serangan meteor dan meteorit ... coba kalau disuruh buat atmosfir dan udara sendiri ...
Mampukah kita ...?

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda: Allah Ta'ala melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? (Shahih Muslim No.4995)

Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Shobbah telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sabiq telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal berkata; aku mendengar Al Walid bin Al 'Ayzar menyebutkan dari Abu 'Amru Asy Syaibaniy berkata 'Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: " Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". Maka aku berhenti menanyakannya lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya aku tambah terus pertanyaan, Beliau pasti akan menambah jawabannya kepadaku".(No. Hadist: 2574  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seandainya manusia tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan barisan pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengundinya. Seandainya mereka tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam bersegera (datang sedini mungkin) melakukan salat, pasti mereka berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka tahu apa yang terdapat dalam salat Isyak dan salat Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (Shahih Muslim No.661)

Allah telah memberikan banyak rejeki kepada kita, ketika kita lahir, kita tidak membawa apa², kemudian Allah memberikan kemampuan dan pakaian juga harta seperti yg kita punyai sekarang ini ...
Bukankah semua kekayaan dan segala fasilitas ini adalah karunia Allah kepada kita, tanpa harus membayar sepeserpun ... ?
Mengapa kita harus menahan zakat dan shodaqoh ...?
Tidak akan sampai harta itu kepada Allah, namun Allah hanya menguji kita dengan harta itu, bahwa sesungguhnya ada hak dari harta yang dikaruniakan kepada kita, supaya diberikan sebagiannya kepada orang lain ...

Bab. Betapa Murkanya Allah Terhadap HambaNya yang Sombong
QS.31. Luqman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِى ٱلأَْرْضِ مَرَحاً إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 

Kesombongan adalah Milik Allah dan Hanya Milik-Nya Kesombongan itu
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya," artinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang merasa heran - bangga - dengan dirinya sendiri, ia menyisir rapi-rapi akan rambutnya lagi pula berlagak sombong di waktu berjalan, tiba-tiba Allah membenamkannya, maka ia tenggelamlah dalam bumi sehingga besok hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

Qutaibah menceritakan kepadaku. Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Salim bin Abu Al Ja'd, dari Tsauban, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bebas dari tiga (hal) yaitu kesombongan, ghulul dan utang, maka ia masuk surga'. " Shahih: Ibnu Majah (2412).

Abu Hisyam menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji (sawi)'." (Shahih: Takkrij Ishlah AlMasajid(115); Muslim)

Bab: Mengenai Rendahnya Nilai Dunia ini, jadi Mengapa Harus Menyombongkan Diri di Bumi yg Hina ini?
Qutaibah menceritakan kepada kami. Abdul Hamid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim. dari Sahal bin Sa'ad, ia berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding  sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya satu tetes air".
Shahih: AshShahihah (940) dan Sahih Sunan Tirmidzi.

Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Mujalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Mustaurid bin Syaddad, ia berkata, Saya pernah bersama rombongan yang sedang berhenti bersama Rasulullah di hadapan bangkai anak kambing. Rasulullah kemudian bertanya, "Apakah kalian berpendapat bahwa binatang ini hina bagi pemiliknya ketika ia melemparkannya (membuangnya)?" Mereka menjawab, "Karena kehinaannya itulah mereka melemparkannya (membuangnya), wahai Rasulullah". Beliau bersabda. "Dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada binatang ini dalam pandangan pemiliknya ".
Shahih: Ibnu Majah (4111) dan Sahih Sunan Tirmidzi.

Minggu, 03 April 2016

Jika seseorang berada di masjid dan teringat bahwa dia sedang junub


Jika seseorang berada di masjid dan teringat bahwa dia sedang junub, maka hendaknya dia segera keluar untuk mandi sebagaimana mestinya dan bukan bertayamum.
Pernah terjadi dijaman Rasulullah SAW, ketika beliau hendak mengimami sholat fardlu berjamaah, beliau segera pergi ke tempat shalat ketika qomat dikumandangkan, namun beliau baru teringat bahwa beliau sedang junub, lalu berkata, kepada para sahabat; "tetaplah di tempat kalian". Maka beliau keluar masjid lalu mandi. Kemudian datang kembali untuk mengimami sholat fardlu berjamaah dalam keadaan kapalanya basah.
Adalah sunnah apabila mengeringkan air dari badan setelah mandi junub dengan tangan, karena Rasulullah SAW melakukannya dan menolak memakai handuk dalam mengeringkannya.

Apabila imam lupa kalau ia sedang junub, dan sudah terlanjur mengimamai sholat hingga selesai (salam), dan baru teringat kalau sedang junub, maka imam tersebut hendaknya segera pergi meninggalkan masjid, dan tidak perlu mengumumkan kalau ia sedang junub dan juga tidak perlu menyuruh makmum mengulangi sholatnya. Karena sholat makmum sudah sah (makmum tidak tahu keadaan imam yg junub, dan imam tidak terlihat batal ketika mengimami sholat), sedangkan imam harus mengulangi sholatnya tersebut setelah mandi janabat.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin 'Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhry dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata,: "Qamat untuk shalat telah dikumandangkan dan shaf telah diluruskan, lalu keluarlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah sampai di tempat shalat Beliau baru teringat bahwa Beliau sedang junub, lalu berkata, kepada kami; "tetaplah di tempat kalian". Maka Beliau kembali lalu mandi. Kemudian datang dalam keadaan kapalanya basah. Lalu Beliau bertakbir, maka kamipun shalat bersamanya". Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdul A'laa dari Ma'mar dari Az Zuhry dan diriwayatkan juga oleh Al Auza'i dari Az Zuhry.(No. Hadist: 266 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdan berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Hamzah berkata, aku mendengar Al A'masy dari Salim bin Abu AL Ja'di dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas berkata, telah berkata, Maimunah radliallahu 'anhu.: "Aku memberi air untuk mandi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. lalu aku tutupi Beliau dengan kain. Maka Beliau menuangkan air ke tangannya lalu mencuci keduanya. Kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya, lalu tangannya dipukulkannya ke tanah kemudian mengusapnya lalu mencucinya. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Kemudian membasuh mukanya dan kedua lengannya lalu mengguyur kepalanya lalu menyiram seluruh badannya dan diakhiri dengan mencuci kedua telapak kakinya. Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tapi Beliau tidak mengambilnya, lalu Beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya".(No. Hadist: 267 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Sumber: ustadz Dr.Ahmad Lutfi Fathullah - Pusat Kajian Hadits Jkt

Minggu, 27 Maret 2016

Melihat Dzat Allah

QS.10. Yunus:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلأَْنْهَـٰرُ فِي جَنَّـٰتِ ٱلنَّعِيمِ

9. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. 

دَعْوَٰهُمْ فِيهَا سُبْحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلاَمٌ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

10. Do'a[puja dan puji mereka kepada Allah] mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma"[Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami], dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam"[sejahtera dari segala bencana]. Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin"[segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam]. 

QS 2.Al Baqarah:118

وَقَالَ ٱلَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوْ تَأْتِينَآ ءَايَةٌ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَـٰبَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا ٱلآيَـٰتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

QS 2.Al Baqarah:55

وَإِذْ قُلْتُمْ يَـٰمُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ ٱلصَّـٰعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang [melihat Allah dengan mata kepala sendiri], karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya [Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan]."


Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla berfirman kepada ahli syurga: "Hai ahli syurga." Mereka berkata: "Labbaik, ya Tuhan, wa sa'daik. Segala kebaikan ada di dalam tangan kekuasaan Tuhan." Allah berfirman: "Apakah engkau semua sudah ridha?" Mereka menjawab: "Bagaimana kami tidak akan merasa ridha, ya Tuhan kami, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami karunia-karunia yang tidak pernah Engkau berikan kepada seseorangpun dari makhluk Tuhan." Allah berfirman lagi: "Tidakkah engkau semua suka kalau Aku berikan yang lebih utama lagi dari yang sedemikian itu?" Mereka bertanya: "Apakah yang lebih utama dari yang sedemikian ini?" Allah kemudian berfirman: "Aku menempatkan keridhaanKu padamu semua, maka Aku tidak akan murka padamu semua sesudah saat ini untuk selama-lamanya."
(Muttafaq 'alaih)

Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Kita semua berada di sisi Rasulullah s.a.w. lalu beliau s.a.w. melihat bulan pada malam purnama -yakni tanggal empatbelas- dan bersabda: "Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu semua dengan terang-terangan, dapat dipandang mata, sebagaimana engkau semua melihat bulan ini. Tidak akan engkau semua mendapatkan kesukaran dalam melihatNya itu." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Tidak mendapatkan kesukaran untuk melihat Tuhan, maksud dari 'kesukaran' itu misalnya untuk melihatNya haruslah berdesak-desakan atau sukar melihatNya seperti ingin melihat bulan sabit yakni bulan tanggal satu (bulan sabit ini sangat sukar dilihat -karena berada diufuk-, dan munculnya sebentar) ataupun kesukaran² yang lain.

Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Ibn Syihab dari 'Atha' bin Yazid allaitsi dari Abu Hurairah para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat nanti? ' Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lantas bersabda: "Apakah kalian kesulitan melihat bulan ketika malam purnama?" "Tidak", Jawab para sahabat. Rasulullah bertanya lagi: "Apakah kalian kesulitan melihat matahari ketika tidak ada mendung?" Para sahabat menjawab, "Tidak ya Rasulullah." Nabi bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat dan berfirman: 'Barangsiapa menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikuti yang disembahnya.' Maka siapa yang menyembah matahari, ia mengikuti matahari, siapa yang menyembah bulan, ia ikuti bulan, siapa yang menyembah thaghut, ia ikuti thaghut, dan tersisalah dari umat ini orang penolongnya atau justru orang-orang munafiknya -Ibrahim ragu kepastian redaksinya-. Lantas Allah menemui mereka dan berkata, "Aku Tuhan kalian." Lantas mereka menjawab, "Ini adalah tempat tinggal kami sehingga Tuhan kami mendatangi kami, jika Tuhan kami menemui kami, niscaya kami mengenalnya." Allah kemudian menemui mereka dengan bentuk yang mereka kenal, Allah lalu berfirman: "Aku Tuhan kalian." Lantas mereka katakan, "Engkau memang Tuhan kami." Mereka pun mengikuti-Nya. Titian (jembatan) lantas dipasang antara dua tepi jahanam dan aku dan umatkulah yang pertama-tama menyeberanginya. Tak ada yang berani bicara ketika itu selain para rasul, sedang seruan para rasul ketika itu yang ada hanyalah 'Allaahumma sallim sallim (Ya Allah, selamatkan kami. Ya Allah, selamatkan kami) '. Sedang di neraka jahannam terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon berduri yang namanya Sa'dan. Bukankah kalian sudah tahu pohon berduri Sa'dan?" Para sahabat menjawab, "Benar, wahai Rasulullah." Nabi meneruskan: "Sungguh pohon itu semisal pohon berduri Sa'dan, hanya tidak ada yang tahu kadar besarnya selain Allah semata. Pohon itu menculik siapa saja sesuai kadar amal mereka, ada diantara mereka yang celaka dengan sisa amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang binasa yang langgeng dengan amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang diseberangkan. Atau dengan redaksi semisal-. Kemudian Allah menampakkan diri, hingga jika Allah selesai memutuskan nasib hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka karena rahmat-Nya, Ia perintahkan malaikat untuk mengeluarkan penghuni neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, yaitu diantara mereka yang Dia masih ingin merahmatinya, diantara yang bersyahadat bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah, sehingga malaikat mengenal mereka di neraka dari bekas-bekas sujud, sebab neraka memangsa anak adam selain bekas-bekas sujud. Allah mengharamkan neraka memangsa bekas-bekas sujud, sehingga mereka keluar dari neraka dengan badan yang hangus terbakar, mereka kemudian disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh dibawahnya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam aliran sungai, kemudian Allah selesai memutuskan hamba-hamba-Nya dan tersisa diantara mereka seseorang yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dan dialah mantan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga, kecuali ia berdoa, 'Ya Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka, sebab baunya saja sudah cukup menggangguku dan jilatan apinya telah membakarku.' Orang itu kemudian memohon kepada Allah sekehendaknya untuk berdoa, kemudian Allah berfirman: 'Kalaulah Aku memenuhi permintaanmu, jangan-jangan engkau nanti meminta harapan lain! Ia menjawab, 'Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta selainnya.' Dan Tuhannya pun mengambil janji dan ikrar sekehendak-Nya lalu memalingkan wajahnya dari neraka. Namun kemudian ia menghadap surga dan melihat keindahan surga, ia pun lantas terdiam beberapa saat dan memohon, 'Ya Allah, jadikanlah aku berada di pintu surga.' Allah bertanya: 'Bukankah engkau telah menyerahkan janjimu dan ikrarmu untuk tidak meminta-Ku selama-lamanya selain yang telah Aku berikan. Hai engkau Anak Adam, alangkah senangnya engkau berkhianat.' Namun hamba itu tetap saja memohon, 'Ya Tuhanku, ' dan ia terus memohon Allah hingga Allah bertanya: 'Kalaulah Aku memberimu apa yang kau minta sekarang, jangan-jangan engkau minta lagi dengan permintaan lain.' Ia menjawab, 'Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta-Mu lagi dengan permintaan lain.' Lantas orang itu menyerahkan janji dan ikrarnya sehingga Allah mengajukan ke pintu surga. Namun ketika hamba itu telah berdiri ke pintu surga, surga terbuka baginya sehingga ia melihat kesenangan hidup dan kegembiraan di dalamnya sehingga ia terdiam sekehendak Allah ia diam. Kemudian ia memohon, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku dalam surga, maka Allah mengatakan, 'Hai, bukankah telah engkau serahkan janjimu untuk tidak meminta yang lain selain yang telah Aku berikan, wahai Anak Adam, alangkah cepatnya engkau berkhianat.' Maka si hamba tadi memohon, 'Ya Tuhanku, jangan aku menjadi hamba-Mu yang paling sengsara, ' si hamba itu terus tiada henti memohon hingga Allah tertawa. Dan jika Allah telah tertawa kepada seorang hamba, Allah musti berkata kepadanya 'Masuklah kamu ke surga.' Jika si hamba telah memasukinya, Allah berkata kepadanya: 'Tolong buatlah impian'. Maka si hamba meminta Tuhannya dan membuat impian-impian, hingga Allah mengingatkannya dengan berfirman sedemikian-sedemikian hingga impian si hamba sudah sampai puncaknya, Allah berfirman kepadanya: 'Itu semua untukku, dan ditambah seperti itu pula.' 'Atha' bin Yazid berkata, " Abu Sa'id alkhudzri bersama Abu Hurairah tidak mengembalikan sedikitpun hadisnya, hingga jika Abu Hurairah telah menceritakan bahwa Allah berfirman 'dan bagimu semisalnya', Abu Sa'id Al Khudzri berkata 'dan sepuluh semisalnya bersamanya' wahai Abu Hurairah? ' Abu Hurairah berkata, 'Saya tidak hapal selain ucapannya itu 'bagimu dan semisalnya'. Abu Sa'id Al Khudzri berkata lagi, "Saya bersaksi bahwa saya menghapalnya dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, yaitu redaksi 'Dan bagimu sepuluh semisalnya'. Abu Hurairah berkata, 'Itulah manusia terakhir kali masuk surga.' (No. Hadist: 6885 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau semua ahli syurga sudah memasuki syurga, lalu Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Adakah sesuatu yang engkau semua inginkan supaya Aku dapat menambahkan kenikmatan itu padamu semua?" Mereka menjawab: "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami -maksudnya menjadikan wajah-wajah itu bercahaya- ? Bukankah Engkau telah memasukkan kami dalam syurga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Kemudian (Allah menambahkan lagi kenikmatan dengan) tersingkaplah tabir -yang menutupi Zat Allah Ta'ala-. Maka tidak ada suatu kenikmatan yang diberikan kepada para ahli syurga yang lebih mereka sukai daripada melihat (langsung) Zat Tuhan mereka," -yakni dapat melihat Wujud Allah Ta'ala dengan terang-terangan dan dapat disaksikan langsung oleh mata telanjang-. (Hadits Riwayat Muslim)

Bukti lain bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat 
Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu'anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari perak dan dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari emas. Antara orang-orang dan kemampuan memandang Tuhan mereka hanya ada tirai keagungan pada Zat-Nya, di surga Adn. (Shahih Muslim No.265)

Wa Allahu 'alam ...

Bagaimana kita Dapat Mengenal Dzat Allah? Coba Perhatikan dan Renungkan Surat al Fatihah, dimana Surat ini merupakan Jembatan Penghubung antara Makhluq dengan Tuhannya 
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Telah menceritakan kepada kami Syu'bah Telah menceritakan kepadaku Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Sa'id Al Mu'alla ia berkata; Suatu ketika aku sedang shalat, tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggilku namun aku tidak menjawab panggilannya. Seusai shalat, aku berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang shalat." Beliau bersabda: "Bukankah Allah telah berfirman: 'Penuhilah panggilan Allah dan panggilan Rasul-Nya bila ia mengajak kalian..'" kemudian beliau bersabda: "Maukah kamu aku ajari satu surat yang paling agung yang terdapat dalam Al Qur`an sebelum kamu keluar dari Masjid?" Lalu beliau memegang tanganku, dan ketika kami hendak keluar, aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah berkata, 'Sungguh, aku akan mengajarkan padamu suatu surat yang paling agung dari Al Qur`an.'" Beliau pun bersabda: "Yaitu: 'AL HAMDULILLAHI RABBIL 'AALAMIIN..' ia adalah As Sab'u Al Matsaanii dan Al Qur`an yang agung yang telah diberikan kepadaku." (No. Hadist: 4622 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa'id bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi dalam suatu perjalanan, ketika mereka singgah di suatu perkampungan dari perkampungan Arab, mereka meminta supaya diberi jamuan, namun penduduk perkampungan itu enggan untuk menjamu mereka, ternyata salah seorang dari tokoh mereka tersengat binatang berbisa, mereka sudah berusaha menerapinya namun tidak juga memberi manfa'at sama sekali, maka sebagian mereka mengatakan; "Sekiranya kalian mendatangi sekelompok laki-laki (sahabat Nabi) yang singgah di tempat kalian, semoga saja salah seorang dari mereka ada yang memiliki sesuatu, lantas mereka mendatangi para sahabat Nabi sambil berkata; "Wahai orang-orang, sesungguhnya pemimpin kami tersengat binatang berbisa, dan kami telah berusaha menerapinya dengan segala sesuatu namun tidak juga membuahkan hasil, apakah salah seorang dari kalian memiliki sesuatu (sebagai obat)?" Salah seorang sahabat Nabi menjawab; "Ya, demi Allah aku akan meruqyahnya (menjampinya), akan tetapi demi Allah, sungguh kami tadi meminta kalian supaya menjamu kami, namun kalian enggan menjamu kami, dan aku tidak akan meruqyah (menjampinya) sehingga kalian memberikan imbalan kepada kami." Lantas penduduk kampung itu menjamu mereka dengan menyediakan beberapa ekor kambing, lalu salah satu sahabat Nabi itu pergi dan membaca al hamdulillahi rabbil 'alamin (al fatihah) dan meludahkan kepadanya hingga seakan-akan pemimpin mereka terlepas dari tali yang membelenggunya dan terbebas dari penyakit yang dapat membinasakannya. Abu Sa'id berkata; "Lantas penduduk kampung tersebut memberikan imbalan yang telah mereka persiapkan kepada sahabat Nabi, dan sahabat Nabi yang lain pun berkata; "Bagilah." Namun sahabat yang meruqyah berkata; "Jangan dulu sebelum kita menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan memberitahukan apa yang terjadi dan kita akan melihat apa yang beliau perintahkan kepada kita." Setelah itu mereka menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan memberitahukannya kepada beliau, beliau bersabda: "Apakah kamu tidak tahu bahwa itu adalah ruqyah? Dan kalian telah mendapatkan imbalan darinya, maka bagilah dan berilah bagian untukku." (No. Hadist: 5308 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

... Abu Hurairah berkata, "Wahai Ibnu Al Farisi, bacalah di dalam hatimu. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Allah berfirman, "Aku telah membagi shalat antara diriku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa saja yang ia mohonkan. Seorang hamba membaca dan mengucapkan 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam' maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.' Ia (hamba) membaca 'Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang' maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.' Ia membaca 'Allah yang memiliki hari pembalasan' maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku dan bacaan ini untuk-Ku. Antara diri-Ku dan hamba-Ku ada bacaan 'hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan', dan akhir surat ini adalah milik hambaKu. Bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.' Ia (hamba) membaca 'Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat'." Shahih: Ibnu Majah (838); Shahih Sunan Tirmidzi (2953); Muslim.

QS. Al-Fatihah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

1. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
(Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Makna Ar-Rahman adalah Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, tanpa terkecuali, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap (hanya) kaum mukminin. (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

4. Yang menguasai di Hari Pembalasan.
(Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal 'yaumuddiin' disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, "... Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S. Al-Mukmin 16)
   Selengkapnya:

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ ۖ لَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۚ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

   "(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S. Al-Mukmin 16)

Jika manusia masih hidup didunia ini, akan terlihat banyak sekali "penguasa2/makhluq" yang berlagak sebagai tuhan bahkan mengaku tuhan. Padahal kekuasaan/kekuatan itu adalah limpahan dari Allah kepada manusia (sebagai khalifah), namun disalahgunakan oleh manusia yang sombong. Sehingga "kekuasaan" Allah terlihat samar atau bahkan tidak terlihat sama sekali.
Sangat berbeda dengan setelah hari kiamat atau hari berbangkit. Dimana saat itu tidak ada seorang makhluqpun yang diberi kekuasaan oleh Allah. Sehingga saat itu hanya Allah yang Memiliki kekuasaan Penuh, Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan ...

Bagi orang yang membacanya 'maaliki' maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat". Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti 'ghaafiruz dzanbi' (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal 'maaliki yaumiddiin' ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengEsakan dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam menghadapi semua masalah dan kesulitan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus (Al Islam), kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu.

Dari keterangan beberapa ayat dan hadits diatas, telah disebutkan bahwa tidak mungkin dan pasti mustahil kita dapat melihat Dzat Allah di dunia ini, yakni selama kita masih hidup. Kita hanya bisa melihat Dzat Allah kalau kita sudah wafat, itupun kalau Dia mengijinkannya.

Andaikan ada yang mengaku sebagai tuhan di dunia ini, dengan menunjukkan kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan yang luar biasa, berarti dia adalah pembohong besar yang sombong. Dengan sombongnya ia menunjukkan segala sesuatu yang memang Allah limpahkan kepadanya, yang memang "Rahman" Allah meliputi segala makhluq, walaupun ia ingkar, Allah tetap memberikannya.

Ingatlah, di dunia ini bagi orang2 yang ingkar, "kekuasaan" Allah terlihat samar atau bahkan tidak terlihat sama sekali.
Sangat berbeda pada saat hari berbangkit. Dimana saat itu tidak ada seorang makhluqpun yang diberi kekuasaan oleh Allah. Sehingga saat itu hanya Allah yang Memiliki kekuasaan Penuh, Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan ...