Senin, 30 Maret 2015

Dahulukanlah kelembutan, dan jauhilah kekerasan

Pemimpin yg zhalim masih lebih baik, daripada tidak ada pemimpin ...
Karena, ketika pemimpin sdh tidak ada, maka kepastian hukum akan lenyap ...
Tidak akan ada hukum, yg ada hukum rakyat ...
Pembunuhan dan 1001 kejahatan lainnya akan terjadi dimana-mana ...
Dan akan muncul 1001 "pemimpin yg lebih zhalim dan bengis" , yakni dari kalangan rakyat yg mencoba menghakimi sendiri ...

Apakah "perubahan" yg didengungkan para pemberontak yg ingin merubah kebaikan bisa terjadi?
Tidak!, banyak kejadian yg membuktikan, penggulingan pemimpin yang zhalim melalui pemberontakan, yakni dng kekerasan dan tidak menggunakan kelembutan, malah menjadikan suasana yg lebih runyam dan sangat tidak stabil ...
Dulu kata mereka, yakni para pemberontak, mengatakan sanggup menjadi pemimpin yg lebih baik, sehingga mereka menggunakan kekerasan dalam menggulingkan pemimpin yg lama, yg mereka anggap zhalim ...
Namun ternyata, situasi malah semakin memburuk, dan semakin tidak stabil ...
Pembunuhan dan kejahatan lainnya malah semakin banyak ...
Rakyat pada umumnya malah ketakutan, dan tidak ada kedamaian ...
Pendidikan dan ibadah malah tidak bisa berjalan dng baik, yg ada adalah ketakutan yg amat sangat ...

Dahulukanlah kelembutan, dan jauhilah kekerasan ...
Kekerasan hanya akan membawa dendam dan mendatangkan situasi yg lebih buruk, baik datang lebih cepat atau lebih lambat ...

Sehingga pahamlah penulis, mengapa Syaikh Mohammad Said Ramadan Al Buthi, seorang ulama besar sunni(salah satu guru dari Dr.Ahmad Lutfi Fathullah -Pusat Kajian Hadis, Jkt- yg merupakan salah satu guru yg dijadikan rujukan beberapa artikel diblog ini), memilih tidak memberontak kepada presiden suriah, bahkan terkesan melindungi rezim itu (presiden Bashar Assad, disebut sebagai diktator yg zhalim) ...
Meskipun keluarga presiden suriah dari golongan yg berseberangan dng Al Buthi(sunni), yakni syiah ...
Beliau (Syaikh Al Buthi) juga terkenal menentang gerakan pemberontakan dinegara lain ...
Namun akhirnya beliau bersama puluhan muridnya tewas oleh pengeboman bunuh diri, ketika mengajar di Masjid Eman, distrik Mazraa, Damaskus, pada hari Kamis 21-3-2013.
Sungguh kekerasan hanya akan menimbulkan masalah lagi dan dendam yang tak berujung ...

Sesungguhnya orang² yang bersabar dan ia tidak membela dirinya atau tidak menuntut balas dan memaafkan kelaliman orang lain terhadap dirinya,  sesungguhnya yang demikian itu (yaitu sabar dan pemaaf)  termasuk hal-hal yang lebih baik dan diutamakan yang dianjurkan oleh syariat ...

QS.42. Asy Syuura:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلاُْمُورِ

43. Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

Ubaid bin Asbath bin Muhammad Al Qurasyi menceritakan kepada kami, dari bapaknya, dari Hisyam bin Sa'ad. dari Zaid bin Aslam, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang muslim itu saudara bagi muslim (yang lain). Ia tidak (boleh) mengkhinatinya, tidak (boleh) mendustainya, dan tidak (boleh pula) menghinanya. Setiap muslim atas muslim (yang lain) adalah haram kehormatanya, hartanya, dan darahnya. Takwa itu ada di sini. Seorang Muslim cukup berbuat jahat; dengan MENGHINA saudaranya yang muslim'."
Hadits ini adalah hadits yang shahih: Al Irwa' (8/99-100) - shahih sunan Tirmidzi

Menghina saja tidak boleh, apalagi membunuh ...!

Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami. Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, Ubadah bin Muslim menceritakan kepada kami, Yunus bin Khabbab menceritakan kepada kami, dari Sa'id AthTha'i Abu Al Bakhtari, ia berkata: Abu Kabsyah Al Annamari menceritakan kepadaku, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Ada tiga macam yang aku bersumpah atasnya. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Tidak akan berkurang harta seseorang karena sedekah. Tidaklah seseorang dizhalimi dengan suatu perbuatan zhalim, lalu ia bersabar atas kezhaliman tersebut, melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan pada dirinya ... "
Shahih: Ibnu Majah (4228).

Abu Yahya bin Muhammad bin Abdurrahim Al Baghdadi menceritakan kepada kami, Mu'alla bin Manshur menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja'far Al Makhrami —salah seorang putra Miswar bin Makhramah— menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Muhammad Al Akhnasi, dari Sa'id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Hindarilah keburukan yang mengakibatkan perpecahan dan kerusakan, karena sesungguhnya hal itu adalah pencukur, penghancur ".
Hasan: Al Misykah {5041-Ta'liq kedua)  - shahih sunan Tirmidzi

Hannad menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, dari Al A'masy, dari Amru bin Murrah, dari Salim bin Abu Al Ja'ad, dari Ummu AdDarda', ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan derajat yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat. dan sedekah? " Para sahabat menjawab, 'Tentu". Beliau bersabda, "Mendamaikan/memperbaiki keadaan manusia. Sesungguhnya kerusakan keadaan manusia adalah pencukur/penghancur(keburukan yang mengakibatkan perpecahan) ".
Shahih: Ghayah Al Maram (414) dan Al Misykah (5038-Tahqiq kedua).
Abu Isa berkata, "Hadits ini shahih".

Sufyan bin Waki' menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Harb bin Syaddad, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Yaisy bin Al Walid, bahwa maula (mantan budak) AzZubair menceritakannya, dari Zubair bin Awwam, Bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Telah menjalar kepada kalian penyakit orang-orang sebelum kalian, yaitu sifat dengki dan benci. Sifat itu adalah pencukur. Yang aku maksudkan bukan mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi jiwaku yang berada di tanganNya. Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman dan kalian tidak akan beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang dapat memperteguh (keimanan) kalian? Tebarkanlah salam di antara kalian ".
Hasan: AtTa'liq ArRaghib (3/12), Al Irwa' (238), Takhrij Musykilah Al Faqr (20), Ghayah AlMaram (414), Shahih Al Adab (197).

Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Al Anshari menceritakan kepada kami, Al 'Asy'ats —yaitu Ibnu Abdul Malik— menceritakan kepada kami dari Hasan, dari Abu Bakrah, ia berkata: Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, kemudian bersabda, "Sesungguhnya puteraku (cucu) ini adalah pemimpin yang dengan kedua tangannya Allah akan mendamaikan kedua kelompok besar."
Shahih: Ar-Raudh An-Nadhir (923), Al Irwa' (1597); Al Bukhari.

Keterangan:
Saat terjadi konflik antara Ali ra. dan Muawiyah ra., dng terbunuhnya Ali ra., kekhalifahan dipegang oleh putra Ali ra. yaitu Hasan ra. Namun, Hasan ra. hanya memegang pucuk pimpinan sebentar saja, setelah itu kekhalifahan diserahkan kepada Muawiyah ra. Tujuan cucu Nabi SAW. adalah supaya mendamaikan kedua belah pihak yg bertikai, Hasan ra. lebih memilih kedamaian dan persatuan kedua belah pihak daripada perpecahan umat Islam, apabila Hasan ra. menjadi khalifah.
Al Hasan menemui Muawiyah dan menyerahkan kekuasaannya atas Irak, kemudian ia pergi dan menetap di Madinah. Peristiwa itu terjadi pada 41H, tidak berapa lama sebelum Muawiyah wafat, karena sakit.
Al Hasan melakukan Haji sebanyak 25 kali dng berjalan kaki. Dan akhirnya Hasan wafat karena diracun. Ada pendapat bahwa yang meracuni adalah istrinya sendiri yakni Ju'dah binti al-Asy'ats. Menjelang wafatnya, Hasan berkata kepada saudaranya Al Husain, "Saudaraku, aku telah minum racun tiga kali". Husain bertanya, "Siapa yang meracunimu?". Al Hasan menjawab, "Memangnya apa yang akan kau lakukan? Kau akan memerangi mereka? Aku sudah pasrahkan urusan mereka kepada Allah". Setelah mengucapkan kata² itu, ruhnya yg suci pergi menghadap Ilahi, dan Al Husain menguburkan jenasah saudaranya di pemakaman Baqi, Madinah.

***Sungguh mulia engkau wahai cucu Nabi SAW., andaikan kebanyakan orang jaman sekarang melakukan seperti engkau, yakni lebih memilih perdamaian dan menghindarkan perpecahan, tentunya dunia ini akan damai. Dan menyerahkan kepemimpinan untuk perdamaian itu bukan berarti ia bukan pemimpin, namun itulah pemimpin sejati, yg lebih memilih kemaslahatan umat daripada nafsu untuk menjadi pemimpin***

Jangan meminta jabatan!
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan." Muhamad bin Basyar berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Humran telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Sa'id Al Maqburi dari Umar bin Al Hakam dari Abu Hurairah seperti diatas. (No. Hadist: 6615 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu 'anhu mengatakan; aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersama dua orang kaumku, lantas satu diantara kedua orang itu mengatakan; 'Jadikanlah kami pejabat ya Rasulullah? ' orang kedua juga mengatakan yang sama. Secara spontan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya."(No. Hadist: 6616  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Namun ada beberapa muslimin yg menggunakan dalil Nabi Yusuf as. yg meminta jabatan kepada penguasa saat itu, maka pendapat penulis:
karena Nabi Yusuf as. memang seorang Nabi yg mendapatkan perintah seperti itu dari Allah sehingga layak meminta jabatan, supaya kalimat Allah tegak berdiri. Nabi Yusuf ditolong Allah dalam masalah ini, karena memang seorang Nabi. Dan syari'at jaman itu, memang memperbolehkan Nabi Yusuf as. meminta jabatan.
Apakah orang yg meminta jabatan dijaman sekarang ini juga mendapatkan perintah Allah? tentu tidak, orang itu bukan Nabi, sehingga tdk mungkin mendapatkan firman Allah secara langsung.
Apalagi Nabi Muhammad SAW, jelas² melarang meminta jabatan, dan bahkan tidak akan memberikan jabatan kepada orang yg meminta jabatan dan juga yg berambisi untuk memperolehnya (baik orang itu merasa mampu dan sanggup menjalankan amanah jabatan itu)!.
Bukankah syaria't yg terakhir itu yang kita anut, yakni dari Rasulullah SAW.?

Jabatan bukan untuk dijadikan rebutan, namun amanah itu dapat menjadikan penyesalan kelak dihari kiamat bagi yang memperebutkannya ...

Senin, 23 Maret 2015

Bertakwa dan bersabarlah, serta murnikan ketaatan kepada-Nya

Hai orang² yang beriman, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian ...
Takutlah kalian akan azab-Nya, yaitu dengan jalan menaati-Nya ...
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh melalui jalan ketaatan kepada Rabbnya yakni surga ...

Katakanlah sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dari perbuatan syirik ...!

Sesungguhnya mengakui ke Maha besaran Allah tidak cukup untuk membebaskan dari api neraka, karena mengatakan Allaahu akbar, Allaahu akbar (Allah Maha besar, Allah Maha besar) itu sesuai dengan fitrah ...
Sejak dari dulu para kafir Mekkah yg menyembah berhala, juga mengatakan Allaahu akbar, mereka menyembah Allah namun juga menyembah latta dan uzza ...
Dan apabila mengatakan 'Asyhadu an laa ilaaha illAllah (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan [yang hak] kecuali Allah)', dan mengakui Muhammad SAW adalah utusan Allah, maka manusia itu telah keluar dari neraka dan ia merupakan seorang mukmin ...

Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku" ...

Katakanlah, "Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya" dari perbuatan syirik atau segala hal yg dapat  menyekutukan Allah.

QS. 39. Az Zumar:

قُلْ يٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُواْ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
قُلْ إِنِّىۤ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ ٱلدِّينَ
وَأُمِرْتُ لأَِنْ أَكُونَ أَوَّلَ ٱلْمُسْلِمِينَ
قُلْ إِنِّىۤ أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّى عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
قُلِ ٱللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِى
فَٱعْبُدُواْ مَا شِئْتُمْ مِّن دُونِهِ قُلْ إِنَّ ٱلْخَـٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوۤاْ أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ أَلاَ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

10. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
11. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
12. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri."
13. Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku."
14. Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku."
15. Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia[Perintah ini bukanlah menurut arti yang sebenarnya, tetapi sebagai pernyataan kemurkaan Allah terhadap kaum musyrikin yang telah berkali-kali diajak kepada Tauhid tetapi mereka selalu ingkar]. Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat." Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.


Al Hasan bin Afi Al Khallal menceritakan kepada kami, Affan menceritakan kepada kami, Hamad bin Salamah menceritakan kepada kami, Tsabit menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata, "Nabi SAW tidak menyerang kecuali saat fajar. Jika beliau mendengar (suara) adzan, maka beliau menahan (serangan) atau jika tidak, maka beliau menyerang. Suatu hari beliau mendengar seseorang mengumandangkan 'Allaahu akbar, Allaahu akbar (Allah Maha besar, Allah Maha besar)'. Beliau kemudian menjawab. Sesuai dengan fitrah'. Orang itu kemudian mengumandangkan 'Asyhadu an laa ilaaha illAllah (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan [yang hak] kecuali Allah)'. Beliau kemudian menjawab, 'Engkau telah keluar dari neraka'."
Shahih: Shahih Abu Daud (2368) Muslim.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah menceritakan kepada kami Syu'aib Telah menceritakan kepada kami Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Allah berfirman: 'Anak Adam telah mendustakan-Ku, padahal ia tidaklah mempunyai alasan sedikit pun. Dan ia juga telah mencemoohku padahal ia tidak mempunyai alasan melakukan hal itu. Ada pun kedustaanya padaku adalah ungkapannya, 'Dia tidak akan mengembalikanku sebagaimana ia telah menciptakanku pertama kali.' Padahal penciptaan yang pertama tidak lebih mudah daripada hanya sekedar mengembalikannya. Adapun pelecehannya pada-Ku adalah ungkapannya, 'Allah telah menjadikan anak untuk diri-Nya.' Sementara Aku adalah Rabb Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa Dengan-Ku.'" (No. Hadist: 4592 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Musa bin Abdurrahman Al Kindi Al Kufi menceritakan kepada kami, Zaid bin Al Hubab memberitahukan kepada kami, Mu'awiyah bin Shalih memberitahukan kepada kami, ia berkata, "Sulaim bin Amir menceritakan kepadaku, ia berkata, 'Aku mendengar Abu Umamah berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW berkhutbah pada haji wada', beliau bersabda, 'Bertakwalah kalian kepada Allah Tuhanmu, kerjakanlah shalat lima waktu, puasalah pada bulanmu (bulan Ramadhan), tunaikanlah zakat hartamu, dan taatilah penguasa kalian, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu'. " Ia berkata, "aku bertanya kepada Abu Umamah, 'Sejak umur berapa tahun kamu mendengar hadits ini?' la menjawab, 'Aku mendengarnya ketika berusia 30 tahun'."
Shahih: Silsilah Ahadits Shahihah (867) - Shahih Imam Tirmudzi

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya, ia berkata, "Apabila Rasulullah SAW mengangkat seorang pemimpin pasukan, beliau selalu berpesan khusus kepadanya untuk berTAKWA kepada Allah dan bersikap baik terhadap kaum muslimin yang ada bersamanya. Setelah itu, beliau bersabda, 'Berperanglah kalian dengan nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah orang-orang kafir. Berperanglah kalian tetapi jangan berkhianat dalam urusan rampasan perang jangan menyalahi perjanjian, jangan melakukan mutslah dan jangan membunuh anak-anak'."
Shahih: Ibnu Majah (2858) Muslim.

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari 'Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya, ia berkata, "Apabila Rasulullah SAW mengirim pemimpin suatu pasukan, maka beliau berwasiat kepadanya secara khusus, agar berTAKWA kepada Allah dan berbuat baik bersama kaum muslimin yang ikut bersamanya. Beliau bersabda, 'Berperanglah kalian dengan nama Allah dan dijalan Allah. Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah dan janganlah kalian curang, janganlah kalian berkhianat, janganlah kalian membunuh dengan cara mutilasi, serta janganlah (pula) kalian membunuh anak-anak. Apabila engkau menemui musuhmu yaitu kaum musyrikin, maka serulah mereka kepada tiga perkara —atau tiga hal—. Manapun dari ketiga perkara itu yang mereka sanggupi (kepadamu), terimalah (itu) dari mereka dan cegahlah diri kalian dari (membunuh) mereka. Serulah mereka kepada Islam dan pindah dari lingkungan mereka ke lingkungan kaum muhajirin. Beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka melakukan itu, maka sesungguhnya mereka akan mendapatkan hak seperti hak yang didapatkan oleh kaum Muhajirin, juga kewajiban seperti kewajiban yang didapat oleh kaum Muhajirin. Jika mereka enggan untuk pindah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan menjadi seperti bangsa Arab yang muslim. Apa yang berlaku kepada bangsa Arab yang muslim itu berlaku juga kepada mereka. Mereka tidak berhak mendapatkan ghanimah dan fai' sedikitpun, kecuali (jika) mereka ikut berperang. Jika mereka enggan.maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka. Apabila engkau mengepung sebuah benteng, kemudian mereka menghendakimu untuk membuat jaminan Allah dan jaminan nabiNya bagi mereka, maka janganlah engkau membuat jaminan Allah dan NabiNya bagi mereka. Buatlah jaminanmu bagi mereka, dan jaminan sahabat-sahabatmu. Sebab jika kalian mengkhianati jaminan kalian dan jaminan sahabat-sahabat kalian, itu lebih baik dari pada kalian mengkhianati jaminan Allah dan jaminan rasulNya. Apabila engkau mengepung penduduk yang berada di dalam sebuah benteng, kemudian mereka menghendakimu untuk menghukumi mereka dengan hukum Allah, maka janganlah engkau menghukumi mereka (dengan hukum Allah). Akan tetapi hukumilah mereka dengan hukummu: Sebab engkau tidak tahu apakah engkau lakukan itu sesuai hukum Allah yang berlaku bagi mereka atau tidak?' Atau yang serupa dengan itu ".
Shahih: Ibnu Majah (2858) Muslim.
Abu Isa berkata, "Dalam bab ini ada riwayat lain dari Nu'man bin Muqarrin".
Hadits Buraidah adalah hasan shahih.

Abu 'Ammar menceritakan kepada kami, Walid bin Muslim menceritakan kepada kami dari Al Auza'i, Zuhri menceritakan kepada kami dari 'Atha' bin Yazid AlLaitsi, dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata, Rasulullah SAW ditanya, 'Siapakah manusia yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Seorang lelaki yang berjihad di jalan Allah.' Para sahabat bertanya, "Kemudian siapa?' Beliau menjawab, 'Kemudian seorang mukmin yang (menyendiri) di salah satu jalan pegunungan, dimana ia bertakwa kepada Tuhannya dan meninggalkan kejahatan manusia'."
Shahih: AtTa'luj ArRaghib (2/173) Muttafaq alaih.

Ubaid bin Asbath bin Muhammad Al Qurasyi menceritakan kepada kami, dari bapaknya, dari Hisyam bin Sa'ad. dari Zaid bin Aslam, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang muslim itu saudara bagi muslim (yang lain). Ia tidak (boleh) mengkhinatinya, tidak (boleh) mendustainya, dan tidak (boleh pula) menghinanya. Setiap muslim atas muslim (yang lain) adalah haram kehormatanya, hartanya, dan darahnya. Takwa itu ada di sini. Seorang Muslim cukup berbuat jahat; dengan MENGHINA saudaranya yang muslim'."
Hadits ini adalah hadits yang shahih: Al Irwa' (8/99-100) - shahih sunan Tirmidzi

Yahya bin Musa menceritakan kepada kami, Abu Daud AthThayalisi menceritakan kepada kami, Abdul Wahid bin Sulaim menceritakan kepada kami, ia berkata, "Aku pernah datang ke kota Makkah, di sana aku bertemu dengan Atha' bin Abu Rabah, lalu aku berkata kepadanya, 'Wahai Abu Muhammad, penduduk Bashrah banyak yang memperbincangkan tentang masalah qadar', ia berkata, 'Wahai putraku, apakah engkau membaca Al Qur'an?' aku menjawab, 'Ya', ia kembali berkata, 'Bacalah surat AzZukhruf!'. Aku pun membaca, "Haa Miim. Demi Kitab (Al Qur'an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan, sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benarbenar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah." (Qs. AzZukhruf [43]: 4). Dia lalu bertanya, 'Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan ummul kitab?' Aku menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih mengetahui'. Dia berkata, 'la adalah kitab yang ditulis Allah sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di dalamnya telah ditetapkan bahwa Fir'aun termasuk penghuni neraka. Di dalamnya juga telah tercatat firman Allah, "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa." (Qs. AlLahab [111]: 1)'. Atha' berkata, 'Aku lalu bertemu dengan Walid bin Ubadah bin AshShamit —sahabat Rasulullah— kemudian bertanya kepadanya, 'Apa wasiat ayahmu ketika dia akan meninggal dunia?' ia menjawab, 'Ayahku memanggilku dan berkata kepadaku, 'Wahai putraku, bertakwalah kepada Allah. Ketahuilan bahwa dirimu tidak akan dikatakan telah bertakwa kepada Allah hingga kamu beriman kepada Allah dan kepada seluruh takdirNya, yang baik atau yang buruk. Jika kamu meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada itu semua, maka kamu akan masuk neraka. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena)" Lalu [Allah] berfirman, 'Tulislah!" Maka [qalam] menjawab, "Apa yang harus aku tulis?" Dijawab, "Tulislah tentang qadar apa yang telah lalu dan apa yang akan terjadi hingga hari akhir".'"
Shahih: Ash-Shahihah (133), Takhrij Ath-Thahawiyah (232), Al-Misykat (94), dan Azh-Zhilal (102 dan 105).

Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, dari Syu'bah mengabarkan kepada kami, dari Simak bin Harb. Dia berkata, aku mendengar Abdurrahman bin Abdullah bin Mas'ud bercerita, dari ayahnya. Dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya kalian akan memperoleh pertolongan, memperoleh harta rampasan, dan menguasai (wilayah lain). Siapa saja yang mendapatkan itu semua, hendaknya bertakwa kepada Allah, menyuruhkan kepada yang ma 'ruf, dan mencegah yang mungkar. Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya menempati tempat duduknya dari neraka".[yg terakhir ini menyatakan Haramnya membuat hadits palsu atau membuat hadits yg disandarkan kepada Rasulullah SAW -unt kepentingan apapun-, yg mana hadits itu sebenarnya bukan sabda beliau]
Shahih: AshShahihah
(1383), lihat pula hadits (2809). - shahih sunan Tirmidzi

Kamis, 19 Maret 2015

Fitnah Besar yg di Tuduhkan pada Utsman ra

Pertamakali Nabi SAW seorang diri, dikatai gila, dan dibully habis2an ...
Dengan ijin Allah, diberikanlah para Sahabat yg setia, bahkan sangat setia, dan mencintai beliau melebihi apapun juga, termasuk keluarga dan diri mereka sendiri ...
Beliau telah berhasil mendidik akhlak para sahabatnya hingga menjadi sahabat yg mulia ...

Berganti dng pemerintahan Abu Bakar ra, keadaan terkendali dan solid, namun banyak sahabat Nabi yg tewas karena peperangan membela Islam ...
Berganti dng pemerintahan Umar ra, keadaan semakin aman, tenteram dan solid, namun semakin banyak sahabat Nabi yg tewas karena peperangan membela Islam  ...
Berganti dng pemerintahan Utsman ra, banyak sahabat Nabi yg berakhlak mulia sudah tua renta, dan banyak kaum munafik dan zindiq yg bergabung ...
Para Sahabat Nabi SAW sudah tua renta, tidak bisa membendung sepak terjang kaum munafik dan zindiq, karena mereka sangat banyak jumlahnya.

Sehingga mulailah terjadi perpecahan dahsyat, saling perang, saling mengkafirkan, saling memfitnah, kemudian saling menghancurkan, sehingga terjadilah kehancuran yg luar biasa, hanya karena 'sampah2' masyarakat yg haus kekuasaan dan kedengkian terhadap saudaranya sendiri ...

Penjelasan Mengenai Fitnah yg di Tuduhkan kepada Utsman ra.:
Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il telah bercerita kepada kami Abu 'Awanah telah bercerita kepada kami 'Utsman. Dia adalah Ibnu Mawhab berkata; "Ada seorang laki-laki dari penduduk Mesir menunaikan 'ibadah hajji lalu melihat sekumpulan orang sedang duduk bermajelis lalu bertanya; "Siapakah kaum itu?". Orang-orang menjawab; "Mereka adalah suku Quraisy". Orang Mesir itu bertanya lagi; "Siapakah sesepuh mereka?". Mereka menjawab; " 'Abdullah bin 'Umar ". Orang itu berkata; "Wahai Ibnu 'Umar, aku bertanya kepadamu tentang sesuatu maka itu jelaskanlah kepadaku; "Apakah kamu tahu bahwa 'Utsman lari dari perang Uhud?". Dia (Ibnu 'Umar) menjawab; "Ya". Orang itu bertanya lagi; "Apakah kamu juga tahu bahwa dia tidak hadir dan tidak ikut perang Badar?". Dia (Ibnu 'Umar) menjawab; "Ya". Orang itu bertanya lagi; "Apakah kamu juga tahu bahwa dia tidak hadir dan tidak ikut Bai'atur Ridlwan?". Dia (Ibnu 'Umar) menjawab; "Ya". Orang itu berkata; "Allahu Akbar".
Ibnu 'Umar berkata; "Kemarilah, aku jelaskan semuanya kepadamu. Kaburnya 'Utsman dalam perang Uhud, sungguh aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkan dan mengampuninya[terdapat pd QS.3. Ali 'Imran:155]. Sedangkan tidak ikutnya dia pada perang Badar, saat itu dia sedang merawat putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang sakit dan telah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam katakan kepadanya: "Kamu mendapat pahala dan andil sebagaimana mereka yang ikut perang Badar". Sedangkan ketika dia tidak hadir saat Bai'atur Ridlwan, sungguh seandainya ada orang lain di kota Makkah yang lebih mulia dari 'Utsman tentu beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengutusnya menggantikan posisinya. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus 'Utsman[sebagai wakil Nabi SAW di Makkah]. Apalagi kejadian Bai'atur Ridlwan justru terjadi setelah 'Utsman berangkat menuju Makkah, yang ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dengan membuka telapak tangan kanannya: "Ini tangan 'Utsman" lalu beliau menggenggamkan telapak tangannya yang kanan ke telapak tangan kiri lalu bersabda: "Ini untuk 'Utsman". Kemudian Ibnu 'Umar berkata kepada orang itu; "Sekarang pergilah kamu dengan membawa penjelasan tadi". (No. Hadist: 3422 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

QS.3. Ali 'Imran:

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَلَّوْاْ مِنكُمْ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ إِنَّمَا ٱسْتَزَلَّهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُواْ وَلَقَدْ عَفَا ٱللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

155. Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu[pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum musyrikin dalam perang Uhud], hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Bukti Keutamaan Utsman ra, dan Jaminan akan menjadi Penghuni Surga -syahid-:
Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Harb telah bercerita kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu 'Utsman dari Abu Musa radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk kedalam sebuah kebun lalu memerintahkan aku untuk menjaga pintu kebun. Tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta izin masuk, maka beliau berkata: "izinkanlah dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Ternyata laki-laki itu adalah Abu Bakr. Kemudian datang laki-laki lain meminta izin masuk, maka beliau berkata: "izinkanlah dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Ternyata laki-laki itu adalah 'Umar. Kemudian datang lagi seorang laki-laki meminta izin masuk, maka beliau terdiam sejenak lalu berkata: "izinkanlah dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga namun dengan berbagai ujian yang akan menimpanya". Ternyata laki-laki itu adalah 'Utsman bin 'Affan. Hammad berkata; Dan telah bercerita kepada kami 'Ashim Al Ahwal dan 'Ali bin Al Hakam, keduanya mendengar Abu 'Utsman bercerita dari Abu Musa seperti hadits ini. Namun ditambahkan didalamnya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada mulanya duduk pada suatu tempat yang ada airnya sambil menyingkap pakaiannya hingga sampai kedua lutut atau salah satu lutut beliau. Namun tatkala 'Utsman sudah datang, beliau menutupnya". (No. Hadist: 3419 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yahya dari Sa'id dari Qatadah dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakr, 'Umar dan 'Utsman lalu bukit itu bergetar. Maka beliau bersabda: "Tenanglah Uhud". Seingatku beliau menghentakkan kaki beliau seraya berujar "Karena di atas kamu sekarang tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq[Abu Bakr] dan dua orang (yang akan mati) syahid[Umar dan 'Utsman]".(No. Hadist: 3423 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Senin, 16 Maret 2015

Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya dan Nabi SAW. belum pernah melihat wujudNya

Ketika Rasulullah SAW sampai di Sidratul Muntaha ...
Yang merupakan batas akhir apa² yang naik dari bumi dan batas akhir apa² yang turun dari atas ...
Allah memberikan kepada beliau tiga hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelum beliau ...
Yaitu diwajibkan kepada beliau dan umatnya shalat lima waktu, diberikan beberapa ayat penutup surat Al Baqarah dan diampuni dosa-dosa besar umatnya selama mereka tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah ...
Sedangkan Sidratul Muntaha berada di langit keenam ...
Juga diliputi oleh sejenis laron emas ...
Yang merupakan bahasa ungkapan pada masa itu, sebelum adanya istilah² modern, semacam, galaxy, nebula, black hole dsb
Sidratul Muntaha merupakan batas akhir ilmu makhluk ...
Tidak ada pengetahuan sedikitpun pada makhluk tentang apa² yang ada di atasnya ...
Ketika ditanya, apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?
Maka dijawab, Cahaya telah meliputi, bagaimana Muhammad SAW dapat melihat wujud-Nya?


QS.53. An Najm:

إِذْ يَغْشَىٰ ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

Ibnu Abi Umar menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Malik bin Mighwal dari Thalhah bin Musharrif dari Murrah dari Abdullah RA, ia berkata, "Ketika Rasulullah SAW sampai di Sidratul Muntaha —beliau bersabda bahwa itu adalah batas akhir apa yang naik dari bumi dan batas akhir apa yang turun dari atas—, —beliau bersabda— Allah memberikan kepada beliau tiga hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelum beliau. (Yaitu) Diwajibkan kepada beliau shalat lima waktu, diberikan beberapa ayat penutup surat Al Baqarab dan diampuni dosa-dosa besar umatnya selama mereka tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah."
—Tentang ayat—, "Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya," (Qs. An-Najm [53]: 16), Ibnu Mas'ud berkata, "Sidratul Muntaha berada di langit keenam."
Sufyan berkata, "Diliputi oleh sejenis laron emas.". Kemudian Sufyan mengisyaratkan —mencontohkan— dengan tangannya dan menggerak-gerakkannya.
Selain Malik bin Mighwal berkata, "Sidratul Muntaha merupakan batas akhir ilmu makhluk. Tidak ada pengetahuan sedikitpun pada makhluk tentang apa yang ada di atasnya."
Shahih: Muslim (1/109).
Abu Isa berkata, "Ini adalah hadits hasan shahih."

Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Waki' dan Yazid bin Harun menceritakan kepada kami dari Yazid bin Ibrahim At-Tustari dari Qatadah dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Aku pernah berkata kepada Abu Dzar RA, "Seandainya aku bertemu dengan Rasulullah SAW, aku pasti akan bertanya kepada beliau."
Abu Dzar bertanya, "Apa yang akan kamu tanyakan kepada beliau?"
Aku menjawab, "Aku akan bertanya kepada beliau, apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?"
Abu Dzar berkata, "Aku telah menanyakan hal itu dan beliau menjawab, "Cahaya —meliputiku—, bagaimana aku dapat melihat-Nya?!"
Shahih: Lihat hadits sebelumnya (192-441); Muslim.

Senin, 09 Maret 2015

Kelembutan dan ketegasan Rasulullah SAW. dalam menjalankan Perintah Allah SWT.

Sesungguhnya ada diantara manusia yang melampaui batas ...
Mereka menganggap bahwa Rasulullah SAW. sangat kejam dan sadis ...
Dengan suka peperangan dan pembunuhan ...
Bahkan ada yang lebih keterlaluan, menganggap Allah itu zhalim ...
Subhanallah ...
Tidakkah mereka sadar dengan prasangka dan perkataan buruk mereka itu?
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun ...
Namun manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri ...
Mereka telah diberi kitab yang berisi petunjuk, namun mereka malah berpaling daripadanya ...

Andaikan pabrik pembuat mobil sport mengeluarkan produk terbarunya ...
Tentunya ia akan memberikan buku manualnya ...
Andaikan si sopir tidak mengindahkan buku manualnya, tentu ia akan celaka ...

Demikian juga manusia, Allah telah memberikan kitab petunjuk yakni Al Qur'an ...
Dan andaikan manusia tidak mengindahkan kitab Al Qur'an, maka tentunya ia sendiri yang akan celaka ...
Sekarang siapakah yang telah berbuat zalim? Bukankah manusia?
Manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri ...

QS.10. Yunus:

إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يَظْلِمُ ٱلنَّاسَ شَيْئًا وَلَـٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

44. Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bahwa Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Beberapa orang dari kaum Yahudi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka berkata; "Assaamu 'alaika (kebinasaan atasmu)." Maka aku pun memahami ucapan mereka, spontan aku menjawab; "'Alaikumus saam walla'nah (semoga atas kalian kebinasaan dan juga laknat)." maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan disetiap perkara." Aku berkata; "Wahai Rasulullah, apakah anda tidak mendengar apa yang diucapkan mereka?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku telah menjawabnya; "wa'alaikum (dan atas kalian juga)." (No. Hadist: 5786 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Rasulullah s.a.w. melarang saling membunuh tanpa Haq, baik yg terbunuh ataupun pembunuh sama² masuk neraka:
Dari Abu Bakrah, yakni Nufai' bin Haris as-Tsaqafi r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:"Apabila dua orang Muslim berhadap-hadapan dengan membawa masing-masing pedangnya - dengan maksud ingin berbunuh-bunuhan - maka yang membunuh dan yang terbunuh itu semua masuk di dalam neraka." Saya bertanya: "Ini yang membunuh - patut masuk neraka -tetapi bagaimanakah halnya orang yang terbunuh - yakni mengapa ia masuk neraka pula?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "Karena sesungguhnya orang yang terbunuh itu juga ingin sekali hendak membunuh kawannya." (Muttafaq 'alaih)

... "Celaka untukmu semua," atau "Bencana untukmu semua," lihatlah - perhatikanlah, janganlah engkau semua kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku nanti, yang sebagian memukul leher sebagian yang lain - yakni bunuh-membunuh tanpa dasar kebenaran." (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Musa r.a., katanya: "Rasululiah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu menantikan untuk orang yang zalim -tidak segera dijatuhi hukuman(karena menunggu taubat mereka), tetapi apabila Allah telah menghukumnya, maka (Dia) tidak akan melepaskannya samasekali – sampai hancur sehancur-hancurnya. Selanjutnya beliau s.a.w. membaca ayat - yang artinya: "Dan demikianlah hukuman yang diberikan oleh Tuhanmu jikalau Dia menghukum negeri yang melakukan kezaliman. Sesungguhnya hukuman Tuhan itu adalah pedih dan keras." (Muttafaq 'alaih)

Telah memberitakan kepada kami Dawud bin Syabib telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah Telah mengabarkan kepada kami Anas mengatakan; Saya ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang tak seorangpun sesudahku menceritakan kepada kalian, aku mendengarnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku mendengar Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Hari kiamat tidak terjadi -atau ia mengatakan dengan redaksi; diantara tanda kiamat adalah- sehingga ilmu diangkat, kebodohan merajalela, khamer ditenggak, zina mewabah, (jumlah) laki-laki menyusut dan (jumlah) wanita melimpah ruah, hingga jika ada lima puluh wanita itu berbanding dengan seorang laki-laki."(No. Hadist: 6310 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Rasulullah SAW. tidak langsung mengatakan Zina, bagi orang yg melakukan Zina, namun memberikan kemungkinan kalau sekedar mencium, meremas, atau memandang:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju'fi Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Ayahku ia mengatakan; aku mendengar Ya'la bin Hakim dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma mengatakan; 'Ketika Ma'iz bin Malik menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi bertanya: "bisa jadi kamu hanya sekedar mencium, meremas, atau memandang!" Ma'iz menjawab; 'Tidak ya Rasulullah! ' -beliau bertanya lagi; "apakah kamu benar-benar menyetubuhinya?" -beliau tidak menggunakan bahasa kiasan.- maka pada saat itu dia pun dirajam.(No. Hadist: 6324 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Quddus bin Muhammad telah menceritakan kepadaku 'Amru bin 'Ashim Al Kalbi telah menceritakan kepada kami Hamam bin Yahya telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu, mengatakan; aku berada di dekat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seorang laki-laki mendatangi beliau dan berujar: 'ya Rasulullah, Saya telah melanggar hukum had, maka tegakkanlah atasku! ' Nabi tidak menanyainya. Ketika tiba waktu shalat pun, ia pun ikut shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Selesai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendirikan shalat, laki-laki itu menemuinya dan berkata; 'ya Rasulullah, aku telah melanggar had, maka tegakkanlah atasku sesuai kitabullah.' Nabi bersabda: "Bukankah engkau shalat bersama kami?" 'Benar' Jawabnya. Nabi bersabda: "Allah telah mengampuni dosamu -atau dengan redaksi- mengampuni hukuman had (yang menimpa) mu."(No. Hadist: 6323 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
keterangan: dalam lain riwayat, dijelaskan bahwa laki² itu telah mencium wanita bukan muhrimnya

Hukum rajam itu wajib dijatuhkan atas orang yang berzina apabila ia berstatus sudah menikah dan ada bukti, atau dia hamil atau dengan pengakuannya sendiri:
Qutaibah menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas: Bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Ma'iz bin Malik, "Apakah benar apa yang kudengar tentangmu?" Ma'iz menjawab, "Apa yang engkau dengar tentangku?" Beliau menjawab, "Aku mendengar bahwa kamu telah menggauli (berzina dengan) seorang budak perempuan milik keluarga fulan." Ma'iz berkata, "Benar." Lalu ia bersaksi sebanyak empat kali. Lalu ia pun dijatuhi hukuman rajam.
Shahih: Al Irwa (7/355) Muslim.

Salamah bin Syabib, Ishaq bin Manshur, Hasan bin AH Al Khallal dan lainnya menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma'mar dari AzZuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dari Ibnu Abbas, dari Umar bin Khaththab, ia berkata, "Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad dengan kebenaran dan menurunkan Kitab (Al Qur'an) kepadanya. Di dalam Kitab yang diturunkan kepadanya terdapat ayat rajam. Maka Rasulullah SAW. melakukan hukum rajam dan kami pun melakukan hukum rajam setelahnya. Aku khawatir, ketika zaman berlalu, ada orang yang berkata, 'Kami tidak menemukan hukum rajam dalam kitab Allah.' Maka mereka tersesat dari jalan yang benar, karena meninggalkan satu kewajiban yang telah diturunkan Allah. Ketahuilah, hukum rajam itu wajib dijatuhkan atas orang yang berzina apabila ia berstatus sudah menikah dan ada bukti, atau dia hamil atau dengan pengakuannya sendiri."
Shahih: Ibnu Majah (2553) Muttafaq alaih.

Abu Kuraib menceritakan kepada kami. Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr. dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Suatu ketika, Ma'iz Al Aslami datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, 'Sesungguhnya ia telah berzina.' maka Rasulullah SAW berpaling, lalu Ma'iz menghadap beliau dari arah lain kemudian berkata. 'Sesungguhnya ia telah berzina.' Maka Rasulullah SAW kembali berpaling, Ma'iz lalu menghadap beliau dari arah lain dan berkata, 'Sesungguhnya dia telah berzina.' Hingga pada kali yang keempat, lalu diperintahkan untuk membawanya ke Harrah (sebuah bukit berbatu) lalu ia dirajam dengan batu. Namun, ketika terkena batu, ia berlari kencang, hingga melewati seorang laki-laki yang sedang membawa tulang dagu unta. maka laki-laki itu memukulnya dengan tulang tersebut dan orang-orang pun memukulinya hingga mati." Kemudian para sahabat menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Mereka mengatakan bahwa Ma'iz lari saat terkena batu dan kemudian ia menemui ajalnya. Maka Rasulullah SAW. bersabda, "Kenapa kalian tidak membiarkannya saja?!"
Hasan shahih: Ibnu Majah (2554)

Keterangan:
Karena laki2 itu lari dan tidak mau dirajam, sebaiknya dibiarkan saja.
Tidak usah dirajam, sebab ia nanti pasti menemui pengadilan Akhirat yg sangat adil.
Padahal jika laki2 itu mau dirajam, maka semua dosa2nya akan diampuni oleh Allah, namun karena tidak mau dirajam, maka terserah Allah, apakah akan menyiksanya ataukah akan mengampuninya.


Hasan bin Ali menceritakan kepada kami. Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma'mar memberitahukan kepada kami dari AzZuhri dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Jabir bin Abdullah: Bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Aslam datang menemui Nabi SAW. Lalu dia mengaku telah melakukan zina. Namun beliau lalu berpaling darinya. Dia kembali mengaku, dan beliau tetap berpaling darinya, hingga ia bersaksi atas dirinya sebanyak empat kali. Maka Nabi SAW bersabda, "Apakah kamu sudah gila?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau bersabda lagi. "Apakah kamu sudah menikah?" la menjawab, "Benar." Perawi berkata, "Maka beliau memerintahkan dengannya, lalu ia di rajam di mushala ."  Ketika terkena lembaran batu, laki-laki itu lari. Ia pun dikejar dan dirajam sampai meninggal dunia. Rasulullah SAW memuji laki-laki tersebut, namun beliau tidak ikut menyalatkan jenazahnya.
Shahih: Al Irwa' (7/353) Muttafaq alaih.

Keterangan:
Mengapa butuh pengakuan dari pelaku? Sebab Tidak adanya 4 saksi yang menyaksikan perbuatan itu. Sehingga, hukum rajam tidak bisa dilaksanakan. Bisa dilaksanakan apabila ada pengakuan dari si pelaku sendiri.

Jika ada pengakuan, ia harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun (hukuman bagi pelaku zina yg belum menikah).
Bagi yg sudah menikah, maka hukuman rajam dilaksanakan, dan dosa2 pelaku diampuni Allah. Sehingga setelah hukuman selesai, kaum Muslimin men-sholatinya.
Jika Tidak mengaku, maka hukuman rajam Tidak jadi dilaksanakan, tinggal si pelaku itu menunggu pengadilan di akhirat kelak. Padahal, persidangan Akhirat lebih dahsyat dari hukuman rajam dunia, dan terserah Allah mau mengampuni atau malah menyiksanya.
Wa Allahu 'alam


Tidak segera melakukan rajam bagi pelaku zina yg terbukti hamil, melainkan menunggunya hingga melahirkan terlebih dahulu. Yang berzina adalah ibunya, sedangkan anak yg dikandungnya tidak berdosa, sehingga tidak patut dirajam:
Hasan bin Ali menceritakan kepada kami. Abdurrazzaq menceritakan kepada kami. Ma'mar menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir. dari Abu OJlabah. dari Abu Al Muhallib. dari Imran bin Hushain: Bahwa seorang perempuan dari suku Juhainah mengaku kepada Rasulullah SAW telah melakukan perbuatan zina. Ia juga berkata, "Sekarang aku sedang hamil". Lalu Rasulullah SAW memanggil walinya dan bersabda, "Bersikap baiklah terhadapnya dan apabila ia telah melahirkan kandungannya maka beritahukan kepadaku."
-- Setelah perempuan tersebut melahirkan kandungannya dan walinya memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW—, beliau segera memerintahkan agar perempuan itu diikat dengan kainnya, lalu beliau memerintahkan agar ia dirajam —hingga tewas—. Kemudian beliau menyalatkannya. Saat itu, Umar bin Khaththab bertanya, '"Wahai Rasulullah, engkau merajamnya lalu menyalatkannya?" Beliau bersabda, "Dia telah bertaubat dengan taubat yang benar, yang jikalau taubatnya tersebut dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, niscaya akan mencukupi. Apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih baik dari perempuan iniyang merelakan dirinya untuk Allah?"
Shahih: Ibnu Majah (2555) Muslim.

Ishaq bin Musa Al Anshari menceritakan kepada kami, Ma'n menceritakan kepada kami, Malik bin Anas menceritakan kepada kami, dari Nafi', dari Ibnu Umar: Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah merajam seorang laki-laki Yahudi dan seorang perempuan Yahudi.
Shahih: Ibnu Majah (1476)

Allah menyuruh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar memaafkan kesalahan manusia kepada beliau:
Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Hisyam dari Bapaknya dari 'Abdullah bin Az Zubair mengenai firman Allah; Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf (Al A'raf: 199). Dia berkata; Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia. 'Abdullah bin Barrad berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari 'Abdullah bin Az Zubair dia berkata; 'Allah menyuruh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar memaafkan kesalahan manusia kepada beliau.' -atau kurang lebih demikianlah apa yang ia katakan.- (No. Hadist: 4277 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Pentingnya dewan syura dalam kepemimpinan, untuk mengingatkan pemimpin supaya tidak zalim:
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bahwa Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata; Uyainah bin Hishan bin Hudzafah datang, lalu singgah dirumah anak saudaranya yaitu AL Hurr bin Qais. Ia adalah salah seorang yang dekat dengan Umar, salah seorang Qari di Majlis Umar dan dewan syuranya. Baik ketika ia masih muda maupun sudah tua. Uyainah berkata kepada anak saudaranya; Wahai anak saudaraku, apakah kamu ada masalah dengan Amirul Mukminin, izinkanlah aku menemuinya. AL Hurr berkata; Aku akan memintakan izin untukmu. Ibnu Abbas berkata; Maka Al Hurr meminta izin untuk Uyainah agar bisa menemui Umar, Umar pun mengizinkannya. Tatkala ia masuk, ia berkata; Wahai Ibnul Khatthab, Demi Allah, anda tidak memenuhi hak kami, dan tidak bersikap adil kepada kami. Maka Umar pun marah, hampir saja ia akan memukulnya. Lalu Al Hurr berkata kepadanya; Wahai Amirul Mukminin, Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan ini terhadap orang-orang yang bodoh. Ibnu Abbas berkata; maka demi Allah, Umar pun tidak menyakitinya ketika ayat itu dibacakan kepadanya. Ia berhenti (untuk) mendengar Kitabullah. (No. Hadist: 4276 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Minggu, 08 Maret 2015

Sibuk Bekerja ataukah Ibadah?

Seringkali urusan dunia menjadikan sibuk manusia. Banyak aktivitas yg dilakukan hingga bekerja seharian menjadikan manusia sering mengeluh dan merasa lelah...
Kadangkala mereka merasa iri dengan mereka yang selalu taat beribadah didalam Mesjid. Mereka merasa sulit untuk berlama-lama di rumah Allah itu, bahkan untuk sekedar melakukan shalat wajib berjamaah pun sering tidak sempat.
Bahkan mereka sempat berangan2, "Andai aku bisa seperti mereka, menggunakan waktunya hanya untuk beribadah kepadaNYA. Betapa beruntungnya aku..Bukan hanya sekedar direpoti oleh urusan kerja dan mencari nafkah belaka.."

Ada hadits yang cukup menghibur mereka:
"Suatu ketika Nabi SAW dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar:"Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya dijalan Allah.” Rasulullah saw menjawab: “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia dijalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia dijalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia dijalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.”
(Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb).

Sungguh penghargaan yang luar biasa kepada siapa pun yang lelah bekerja mencari nafkah. Islam memandang bahwa usaha mencukupi kebutuhan hidup di dunia juga memiliki dimensi akhirat.Bahkan secara khusus Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada siapa pun yang kelelahan dalam mencari rejeki."Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan mencari rejeki pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni dosanya oleh Allah SWT."

Apakah ada iri yang diperbolehkan? Silahkan membaca yang berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal; seseorang yang Allah beri Al Qur'an, kemudian ia membacanya sepanjang siang dan malam. Lalu orang yang iri itu berkata 'Kalaulah aku diberi kepandaian seperti orang itu, niscaya kulakukan sepertinya.' Dan seseorang yang diberi harta, lantas dia membelanjakannya dalam haknya (dijalan Allah). Lalu orang yang iri itu berkata, 'Kalaulah aku diberi harta si fulan, niscaya kulakukan seperti yang dilakukannya'."
(No. Hadist: 6974 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami. Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, Ubadah bin Muslim menceritakan kepada kami, Yunus bin Khabbab menceritakan kepada kami, dari Sa'id AthTha'i Abu Al Bakhtari, ia berkata: Abu Kabsyah Al Annamari menceritakan kepadaku, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Ada tiga macam yang aku bersumpah atasnya. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Tidak akan berkurang harta seseorang karena sedekah. Tidaklah seseorang dizhalimi dengan suatu perbuatan zhalim, lalu ia bersabar atas kezhaliman tersebut, malainkan Allah akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Tidaklah seseorang membukakan pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran — atau dengan redaksi kalimat yang serupa dengan ini —. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya dunia itu untuk empat macam orang, yaitu:
    Seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa dengannya kepada Rabbnya dan terus menjalin hubungan silaturahim, serta menyadari bahwa ada hak Allah pada rezekinya itu. Ini adalah derajat (kedudukan) yang paling utama.
    Kemudian seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan namun tidak dikaruniai harta. Lalu dengan niat yang benar (tulus) dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan melakukan amal (kebaikan) seperti amal yang dilakukan oleh si Fulan. Ia akan mendapat ganjaran (pahala) dengan niatnya itu. dan ganjaran keduanya (dirinya dengan si Fulan) sama.
    Kemudian, seorang hamba yang diberikan rezeki berupa harta oleh Allah namun tidak dikaruniai ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya itu tanpa menggunakan ilmu, tidak bertakwa kepada Rabbnya, dan tidak menyambung hubungan silaturahim, serta tidak menyadari bahwa ada hak Allah pada hartanya itu. Maka. orang seperti ini mendapatkan kedudukan (derajat) yang paling buruk.
    Kemudian, seorang hamba yang tidak diberikan rezeki berupa harta dan tidak dikaruniai ilmu oleh Allah. Lalu dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta maka aku akan melakukan amal perbuatan (dosa) seperti si Fulan.' Maka, dengan niatnya ini dia akan mendapatkan dosa, dan dosa keduanya (dirinya dan si Fulan) sama "
Shahih: Ibnu Majah (4228).

Namun, pertanyaannya, sesibuk apakah mereka, sehingga meninggalkan sholat fardlu berjamaah di Masjid? Mencari nafkah untuk bekal supaya bisa "hidup" didunia ataukah untuk mencari kekayaan dan kemewahan dunia? Lebih mengutamakan mencari kemewahan dunia ataukah mencari keridloan Allah? Setidaknya, apakah mereka sempat sholat fardlu berjamaah di Masjid sebagai ibadah minimalnya? Sebab hukum sholat fardlu berjamaah di Masjid menurut sebagian ulama dalah wajib, walau ada yg mengatakan Sunnah Muakkad (yg sangat2 dianjurkan).

Dalam KITAB SHAHIH BUKHARI telah dijelaskan mengenai Wajibnya shalat fardlu dengan berjama'ah:
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama'ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat 'Isya berjama'ah." (No.Hadist: 608 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Dari hadits diatas terlihat ekstrim/radikal, namun sebenarnya hal itu menunjukkan betapa pentingnya mendirikan sholat fardlu berjamaah. Rasulullah sendiri tidak pernah sekalipun melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah bagi yg laki-lakinya tidak sholat fardlu berjamaah di Masjid. Rasulullah SAW selalu sholat fardlu berjamaah di Masjid, demikian pula istri2 beliau. Juga para sahabat yg nyata2 keimanannya kepada Allah SWT.
Ada juga yang berpendapat tidaklah sah sholat fardlu seorang laki-laki yang tidak berjamaah, apabila ia:
1. Bermukim
2. Sehat atau tidak terkena uzhur
3. Tidak bepergian
Berarti hukum sholat fardlu berjamaah oleh sebagian ulama adalah lebih dari sekedar wajib, seperti keterangan diatas.
Hukum Sholat berjamaah oleh Ibn Hajar Al Atsqalani dalam Fathul Bari, adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat2 dianjurkan), namun ada sebagian ulama (mis: ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) yg mengatakan, tidak sah sholat seorang laki2 jika ia tidak sholat fardlu berjamaah.

Bahkan pernah terjadi, khalifah Umar ra. menyedekahkan kebunnya yg subur dan menyejukkan mata, hanya gara2 kebun yg subur itu, menjadikan beliau ketinggalan sholat Asar berjamaah. Beliau terlalu sibuk mengurusi kebunnya, hingga terlambat sholat Asar berjamaah. Tidak pernah sekalipun para sahabat yg ketinggalan sholat fardlu berjamaah di Masjid. Bahkan hingga beberapa jaman sesudah mereka.
Umar bin Abdul Aziz juga tidak pernah ketinggalan sholat fardlu berjamaah di Masjid.

Berikut sedikit uraian ttg khalifah Umar bin Abdul Aziz:
Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat sekitar umur 40 thn. Dengan waktu sependek itu, beliau sudah bisa menjadikan rakyatnya makmur. Hingga janda2 dan para yatim sudah tdk mau diberi sedekah lagi, karena sudah tercukupinya mereka. Beliau sangat merasa berat unt menjadi kholifah, hingga beliau hampir pingsan ketika diangkat menjadi khalifah, seraya mengucap, "Innalillahi ...". Beliau meninggalkan gemerlap dunia unt diri dan keluarganya. Dijauhinya kemewahan dunia, dan didekatinya Masjid Allah, sehingga tidak pernah sekalipun beliau ketinggalan Sholat fardlu berjammah di Masjid. Beliau juga sangat memperhatikan rakyatnya. Banyak yg membencinya, yakni dari golongan pejabat yg korup dan zhalim. Hingga akhirnya, pembantu beliau disuap unt meracuninya. Umar bin Abdul Aziz berkata pada pembantunya,"Mengapa kau meracuniku?", dijawab oleh pembantunya, "karena mereka memberiku 1000 dinar unt ini". Umar bin Abdul Aziz berkata lagi," segeralah pergi wahai pembantuku, karena kalau mereka melihatmu yg meracuniku, niscaya mereka akan menghukummu". Lalu pembantu itupun pergi. Betapa mulyanya sifat  Umar bin Abdul Aziz, yg masih punya garis keturunan dng Khalifah Umar bin Khattab ra ...

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah didalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.
(Shahih Muslim No.1712)

Nah, sekarang bagaimana pilihan kita? Mengejar kemewahan dunia ataukah bekerja hanya sekedar untuk hidup didunia, yang intinya menuju negeri Akhirat? Meremehkan/meninggalkan sholat fardlu berjamaah dengan alasan masih bekerja demi profesionalisme? Ataukah hanya ke Masjid saja dengan meninggalkan bekerja mencari Nafkah? Ataukah bekerja mencari nafkah namun minimal tetap menjaga sholat fardlu berjamaah di Masjid? Semua pilihan adalah tergantung Anda, karena hanya Anda yg bertanggung-jawab kelak dihadapan Allah ...
Wa Allahu 'alam ...
--------------------------
Artikel lain yg sejenis dan melengkapi: http://tausyiahaditya.blogspot.com/2014/07/perintah-sholat.html

--------------------------

Sebagai renungan:

Seringkali orang mengatakan:"Kerjakan hari ini, jangan tunda hingga esok hari, karena belum tentu esok hari kita sempat/hidup".
Seringkali orang memakainya supaya semangat unt bekerja, bekerja lembur tanpa lelah. Namun benarkah demikian?
Perkara dunia itu tidak kekal, dan tidak akan dibawa sbg bekal mati. Sedangkan perkara akhirat, pasti akan dibawa sampai mati. Sehingga, seharusnya mengatakan, "Janganlah menunda2 unt mendirikan sholat, zakat, puasa dan Haji!, karena belum tentu esok hari kita sempat/hidup".

>> Ada yg mengerjakan amal dunia sangat banyak, hingga kepayahan. Mulai pagi, hingga malam hari, bekerja tanpa memperdulikan ibadah. Sholat dilupakan bahkan ditinggalkan, merasa dirinya sudah berbuat baik. Berbuat baik kepada sesama, kepada keluarga, namun meninggalkan ibadah. Kasihan sekali, padahal merasa amal baiknya sangat banyak, hingga menuai kepayahan. Namun akhirnya dicampakkan ke dalam Neraka yg menyala-nyala.
Amal baik yg dikerjakan ketika di dunia namun sia2, hingga akhirnya dicampakkan ke dalam Neraka.

Atau bisa juga bekerja keras didunia namun dicampur dng kemaksiatan dalam memperolehnya. Sogok-menyogok, tipu-menipu, main cewek, zina dsb., hingga merasakan kepayahan di dalam Neraka dng adzab dan kebinasaan. (diringkas dari tafsir ibnu katsir surat al Ghasyiyah).

QS.88. Al Ghaasyiyah ayat 3-4:

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ

3. bekerja keras lagi kepayahan,


تَصْلَىٰ نَاراً حَامِيَةً

4. memasuki api yang sangat panas (neraka),


>> Bagaimana kalau sudah parah dalam mencintai dunia?

Surat Al Quran berikut ini mengemukakan celaan dan ancaman terhadap orang-orang yang bermegah-megahan dengan apa yang diperolehnya dan tidak membelanjakannya di jalan Allah. Mereka lupa dan melupakan segala perintah Allah, dengan bermegah2an mencari kemewahan dunia, mereka meninggalkan sholat, zakat dll, dan terjebak dengan kesombongan karena harta yg melimpah dan keturunan yg baik. Karena itu, mereka pasti diazab dan pasti akan ditanya tentang apa yang dimegah-megahkannya itu.

QS.102. At Takaatsur:

 أَلْهَـٰكُمُ ٱلتَّكَّاثُرُ * حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ * كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ * كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسْـئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 
7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat]. 
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

--------------------------