Jumat, 21 Juli 2017

Cemas, Lebay, dengan Perolehan Rejeki?


Sesungguhnya rejeki itu seperti ajal ...
Telah ditetapkan dalam diri tiap2 makhluq sejak Roh ditiupkan kedalam dirinya ...
Jika ia lari menghindari rejeki, maka rejeki itu akan mengejarnya, seperti seseorang yang lari menghindari Al Maut, namun Al Maut tetap saja mengejarnya ...
Jika makhluq itu sambat perolehan rejekinya lambat, maka ketahuilah, Al Maut juga bisa lambat datangnya ...
Jika makhluq itu sambat perolehan rejekinya sedikit sehingga ia sengsara, maka ketahuilah, Al Maut juga bisa sengsara datangnya ...
Jika makhluq itu menyangka usahanya pasti dapat mendatangkan banyak rejeki, maka ketahuilah, Al Maut juga bisa tidak segera datang, walaupun makhluq itu menghendaki kematian ...

Karena itu, wahai makhluq, janganlah mengejar rejeki secara serampangan, namun carilah dengan cara yang baik ...
Atau kalau Anda meninggalkan rejeki itu karena memilih ibadah, maka ketahuilah, rejeki itu yang akan mengejarmu, jika rejeki itu memang bagianmu ...

Jangan takut rejekimu disabotase orang lain, karena rejekimu tidak akan bisa pindah ke orang lain, jika rejeki itu memang bagianmu ...
Namun takutlah ibadahmu kurang, karena tidak ada satupun orang lain yang bersedia beribadah untuk dirimu ...!
Segala sesuatu dari rejeki yg engkau dapatkan, itulah bagianmu ...
Dan segala sesuatu dari rejeki yg luput dari perolehanmu, itu memang bukan bagianmu ...
Buat apa kecewa, sedih, dongkol, cemas dan lebay, kalau memang bukan bagian dari rejekimu ...?

Anda mengenal Al Maut, dan sudah pasti Anda akan berusaha menghindari Al Maut, hingga Anda ke dokter ketika sakit, Anda berjalan di pinggir jalan supaya tidak tertabrak mobil, dan Anda berhenti ketika kereta api lewat didepan Anda ...
Demikian juga dengan perolehan rejeki, tentu Anda akan berusaha mencari rejeki, dan tidak hanya berpangku tangan dalam mencari rejeki ...

Itulah persamaan antara Rejeki dan Al Maut ...!


Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami:
Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu:
Menentukan rezekinya, 
Ajalnya, 
Amalnya, serta 
Apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. 
Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)



وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.[Hud/11:6].


وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya juga kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [al Ankabut/29:60].


Apakah itu Rejeki?
Sesungguhnya segala sesuatu yang halal, bermanfaat dan kita habiskan di Dunia ini, itulah rezeki, sehingga rezeki bisa berupa:
1. Pakaian yang kita pakai hingga rusak
2. Makanan yang kita makan hingga habis
3. Istri yang mendampingi kita hingga wafat
4. Anak laki-laki atau anak perempuan kita
5. Kesehatan
6. Pendengaran dan penglihatan
7. Harta yang kita sedekahkan dijalan Allah
8. Tanah, rumah, pekarangan yang kita wakafkan dijalan Allah
Itu semua termasuk rezeki kita.

Yang bukan termasuk rezeki, namun malah menjadi bumerang/siksaan yang sangat dahsyat:
1. Pakaian yang tidak kita pakai, namun rusak karena terlalu lama di simpan.
2. Makanan yang kita tidak kita makan, dan mubazir.
3. Istri yang menjadikan kita tidak syukur nikmat kepada Allah
4. Anak laki-laki atau anak perempuan kita yang durhaka dan menentang Allah, RasulNya dan kita
5. Harta yang kita habiskan untuk sesuatu yang sia-sia, meskipun murah atau sedikit, seperti beli petasan, mercon, kembang api dan narkoba
6. Harta yang kita peroleh dengan cara haram, misalnya korupsi, memalak, merampok, mencuri dan mencopet.
7. Tabungan, deposito, giro, dan saham yang kita tinggalkan karena kita wafat, itu milik ahli waris.
8. Tanah, rumah, pekarangan yang tidak kita manfaatkan dijalan Allah. Termasuk juga yang kita wariskan (ketika kita wafat) itu juga sebenarnya bukan milik kita, itu sudah menjadi harta milik ahli waris.

-----------------------------------------------------------
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَوْفِي رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ خُذُوْا مَا حَلَّ وَدَعُوْا مَا حَرُمَ.

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga sempurna rizkinya. Meskipun (rizki itu) bergerak lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram”.
[HR Ibnu Majah no. 2144, Ibnu Hibban no. 1084, 1085-Mawarid, al Hakim (II/4), dan Baihaqi (V/264), dari Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah al Ahadits ash-Shahihah no. 2607.]

---> Hadis ini pernah dihapalkan dan dipelajari dari Prof. Dr. K.H..Husain Azis, sekitar tahun 1993
-----------------------------------------------------------

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan penjelasan tentang rizki ini dengan perumpamaan yang sangat mudah dipahami, dan setiap orang hendaknya dapat mengambil pelajaran darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ؛ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا.

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”.[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/30 dan 52), at-Tirmidzi no.2344, Ibnu Majah no. 4164, Ibnu Hibban no. 730, Ibnul Mubarak di dalam kitab az-Zuhd no. 559, al-Hakim (IV/318), al Baghawi dalam Syarhus-Sunnah no. 4108, Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah (X/69), dan lain-lainnya. Dari Sahabat ‘Umar bin al Khaththab. At-Tirmidzi berkata,”Hasan shahih.” Al Hakim juga menilai hadits ini shahih, dan disetujui oleh adz-Dzahabi]

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berjalan mencari maisyah (pekerjaan/usaha) untuk mendapatkan rizki. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. [al-Mulk/67:15].

Rizki akan mengejar manusia, seperti maut yang mengejarnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ الرِّزْقَ لَيَطْلُبُ الْعَبْدَ كَمَا يَطْلُبُهُ أَجَلُهُ.

“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya”.[HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid) dan lainnya, dari Sahabat Abud-Darda’. Hadits ini memiliki penguat dari Sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah no. 952]
----------------------------------------------------


Silahkan membaca juga "Berpangku Tangan dalam Pengharapan Datangnya Rizki?": https://tausyiahaditya.blogspot.co.id/2015/11/berpangku-tangan-dalam-pengharapan.html




Jumat, 14 Juli 2017

Wajibnya Menuntut Ilmu

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan bagi hamba2Nya untuk menuntut Ilmu, hingga pada derajat wajib. Seperti ditunjukkan pada ayat dibawah ini:

QS. 96. Al 'Alaq:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Tentang apakah yang diperintahkan untuk dibaca? Apakah disebutkan untuk membaca kitab (tulisan)? Tentu tidak!. Apakah disebutkan juga tentang ilmu agama atau umum? tentu juga tidak!.
Yang diperintahkan adalah membaca secara umum dengan menyebut nama Allah Yang menciptakan!.

Disini tidak disebutkan perintah untuk membaca apakah itu, sehingga perintah untuk membaca bisa universal. Bisa diperintahkan untuk membaca Alquran (mushaf atau pada alam ini), buku, Agama, alam semesta, Fisika, kimia, Komputer, tanda-tanda kekuasaanNya, atau segala sesuatunya hingga pada tahap merenungi segala ciptaanNya, memikirkannya hingga akhirnya semakin takut dan tunduk kepadaNya ...
Seperti ditunjukkan pada ayat2 berikut ini:

QS. 88. Al Ghaasyiyah:

أَفَلاَ يَنظُرُونَ إِلَى ٱلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

17. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,

وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?

وَإِلَى ٱلْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? 

وَإِلَى ٱلأَْرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? 

فَذَكِّرْ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ

21. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

Sesungguhnya akhir dari suatu proses menuntut ilmu adalah pengamalan pribadi (mengamalkan ilmu yang dimilikinya) hingga melakukan amar ma'ruf dan mencegah kemungkaran. Itulah cahaya terang dari Ilmu-Nya yang  menerangi sekitarnya, yang dilimpahkan kepada hamba2Nya yang mau menimba ilmu karena Allah.

Apakah harus S1, S2 atau bahkan S3? Tentu tidak, tidak ada ayat yang memerintahkan menuntut ilmu itu harus S1, S2 atau bahkan S3. Karena perintahNya begitu umum, yakni diperintahkan untuk membaca!.
Bahkan, percuma saja kalau menuntut ilmu hingga S3 atau bahkan Profesor kalau ternyata dalam kesehariannya tidak takut bahkan menentang Allah !. Menuntut ilmu hingga S3 dan profesor, namun dengan ilmunya itu mereka malah menantang Allah dengan meremehkan dan menafsirkan ayat2Nya sekehendak nafsunya, karena merasa pintar.

Menjadikan Alquran dibelakangnya yakni menjadikan Alquran yang disesuaikan dengan hawa nafsunya, hingga jauh dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Dan menganggap kuno terhadap Nabi Muhammad SAW atau bahkan menganggap Alquran itu tidak layak dijaman ini dan sudah ketinggalan jaman !.

Allah mengeluarkan mereka dari cahaya (dengan ilmu yang mereka miliki) menuju kegelapan (kekafiran) sehingga Orang2 seperti ini diancam sebagai penghuni Neraka yang kekal didalamnya, oleh Allah ...

QS.2. Al Baqarah:

ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوۤاْ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّـٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَـٰتِ أُوْلَـٰئِكَ أَصْحَـٰبُ ٱلنَّارِ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ

257. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. 

Bab: Samakah Derajat orang2 yang Berilmu dengan yang Tidak? Terlepas apakah dia itu S1, S2 ataupun S3?

QS.39. Az Zumar:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَـٰجِداً وَقَآئِماً يَحْذَرُ ٱلأَْخِرَةَ وَيَرْجُواْ رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُو ٱلأَْلْبَـٰبِ

9. (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. 


QS. 6. Al An'aam:

وَلِكُلٍّ دَرَجَـٰتٌ مِّمَّا عَمِلُواْ وَمَا رَبُّكَ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

132. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. 

QS.46. Al Ahqaaf:

وَلِكُلٍّ دَرَجَـٰتٌ مِّمَّا عَمِلُواْ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَـٰلَهُمْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

19. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. 

Ingatlah, tingginya ilmu yang Anda miliki itu bukanlah dari gelar S1, S2, S3 atau bahkan gelar profesor yang anda miliki. Namun tingginya ilmu yang Anda miliki itu dapat terlihat dengan semakin takutnya Anda kepada Allah, hingga tidak ada satupun yang ditakuti di alam semesta ini kecuali hanya kepada Allah SWT saja ...!
Juga dapat terlihat dengan semakin tunduknya Anda kepada Allah, hingga tidak ada satupun yang Anda taati di alam semesta ini kecuali hanya taat kepada Allah SWT dan RasulNya saja ...!

Inilah salah satu makna kalimat terakhir dari surat Al 'Alaq ayat 1 diatas, yakni dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan.  Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati, Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara.
Yakni Supaya semua yang dibaca dalam mencari ilmu, menjadikan bertambahnya KETAKWAAN kita kepada Allah, yakni dengan menyebut nama Tuhan kita (yang Maha Mendidik hamba2Nya) Yang menciptakan kita semua ...! Dan bukan malah sebaliknya ...!!!

Nb:
Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).

Selengkapnya:
Surat Al 'Alaq ayat 1, terdapat perintah untuk membaca dan belajar, dan bahwa Tuhan Yang mampu menciptakan manusia dari asal yang lemah akan mampu pula untuk mengajarkannya menulis--yang merupakan sarana penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan--dan mengajarkannya sesuatu yang belum pernah diketahuinya. Allah-lah yang mengajarkan ilmu kepada manusia. Dan dengan ilmu itu, Allah mengeluarkan orang2 yang beriman dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Ketakwaan mereka meningkat, hingga menjumpaiNya kelak ...
Dan disini tidak ada batasan mengenai ilmu apakah itu, apakah ilmu agama ataupun ilmu umum, apakah harus strata ataukah tidak, karena pada dasarnya semua ilmu itu milikNya dan Dia sendiri tidak menjadikan strata terhadap ilmuNya, melainkan menjadikannya sebagai cahaya yang menerangi hingga menjumpaiNya ...


Bab: SIFAT-SIFAT HAMBA ALLAH YANG BERILMU SEHINGGA MENDAPAT KEMULIAAN

Menuntut ilmu itu wajib, sehingga segala amalan yang dilakukannya menjadi baik. Bagaimana dia dapat beramal dengan baik jika tidak berilmu?
Mereka menuntut ilmu dan menggunakan ilmunya untuk kebaikan dijalan Allah, hingga para malaikat mengembangkan sayapnya bagi orang2 yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya. Ilmu yang semakin menambah ketakwaan seseorang, baik ilmu agama, atau ilmu umum, yakni ilmu fisika, kimia, komputer dll.
Berikut sifat-sifat hamba Allah yang berilmu yang mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

QS. 25. Al Furqaan:

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَىٰ ٱلأَْرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الجَـٰهِلُونَ قَالُواْ سلٰماً

63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

وَالَّذِينَ يِبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّداً وَقِيَـٰماً

64. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka[orang-orang yang sholat tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah]. 


Bab: SIFAT-SIFAT HAMBA ALLAH YANG MERASA BERILMU, NAMUN SEBENARNYA LALAI DAN BODOH

QS.30. Ar Ruum:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
7. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. 

(Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia) maksudnya urusan penghidupan dunia seperti malakukan penelitian, berdagang, bercocok tanam, membangun rumah, bertanam dan kesibukan-kesibukan duniawi lainnya. (Sedangkan mereka terhadap kehidupan akhirat adalah lalai) diulanginya lafal hum mengandung makna taukid atau untuk mengukuhkan makna kelalaian mereka. Mereka merasa sangatlah pintar dan berilmu, namun yang sebenarnya mereka sangatlah lalai dan bodoh, mengutamakan kehidupan dunia yang hanya sebentar saja, dan mengabaikan kehidupan akhirat yang jauh lebih abadi.
Dengan ilmu yang dimilikinya, mereka menjual agamanya untuk mendapatkan dunia yang fana ini, karena sangat cintanya kepada dunia.

Dengan ilmu yang mereka miliki, mereka hanya melihat kepada sebab dan memastikan perkara karena ada sebab-sebabnya, dan mereka meyakini tidak akan terjadi perkara apa pun tanpa ada sebab-sebabnya. Mereka hanya berdiri bersama sebab, dan tidak melihat kepada yang mengadakan sebab itu.

Hati mereka, hawa nafsu mereka, dan keinginan mereka tertuju kepada dunia dan perhiasannya. Oleh karena itu, mereka lakukan sesuatu untuknya dan berusaha keras kepadanya dan lalai dari akhirat. Mereka berbuat bukan karena rindu kepada surga dan takut kepada neraka serta takut berhadapan dengan Allah nanti pada hari Kiamat. Ini merupakan tanda kecelakaan seseorang. Namun sangat mengherankan sekali, orang yang seperti ini adalah orang yang pandai dan cerdas dalam urusan dunia sampai membuat manusia terkagum kepadanya. Mereka membuat kendaraan darat, laut dan udara, serta merasa ujub (kagum) dengan akal mereka. Dan mereka melihat selain mereka lemah dari kemampuan itu, yang sesungguhnya Allah yang memberikan kepada mereka kemampuan itu, sehingga mereka merendahkan orang lain. Padahal yang sesungguhnya, mereka itu adalah orang yang paling bodoh dalam urusan agama, paling lalai terhadap akhirat, dan paling kurang melihat akibat (kesudahan dari segala sesuatu). Selanjutnya mereka melihat kepada kemampuan yang diberikan Allah berupa berpikir secara teliti tentang dunia dan hal yang tampak daripadanya. Namun mereka dihalangi dari berpikir tinggi, yaitu mengetahui bahwa semua perkara milik Allah, hukum (keputusan) hak-Nya, memiliki rasa takut kepada-Nya dan meminta kepada-Nya agar Dia menyempurnakan pemberian-Nya kepada mereka berupa cahaya ilmu dan iman. Semua perkara itu jika diikat dengan iman dan menjadikannya sebagai dasar pijakan tentu akan membuahkan kemajuan, kehidupan yang tinggi, akan tetapi karena dibangun di atas sikap ilhad (ingkar Tuhan), maka tidak membuahkan selain turunnya akhlak, menjadi sebab kebinasaan dan kehancuran ... !


Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)


Renungan:
Akhir2 ini Agama Islam telah berkembang pesat ajarannya ...
Bukan berarti ajarannya tambah maju, namun justru berkembang kearah munculnya ajaran2 baru, yang dulunya tidak ada ...
Ada ajaran yang kearah radikal adapula yang cenderung lebay ...
Melihat kenyataan ini, menjadi kewajiban yang lebih, bagi tiap2 Muslim untuk mendalami ilmu agamanya ...
Sehingga, tiap2 Muslim harus mampu melindungi dan membentengi dirinya sendiri dari ajaran2 radikal dan juga yang lebay ...
Meningkatkan ketaqwaan dan semakin takut kepada Allah, itulah kunci keselamatan ..

Nabi Muhammad SAW., Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra, Ali ra dan semua sahabat bukanlah manusia yang bergelar Doktor, Profesor, Kyai, Haji ataupun yang lainnya ... 
Namun mereka semua adalah manusia2 terbaik, hidup di jaman terbaik dan merupakan contoh terbaik ...
Mereka adalah contoh hamba2 Allah yang bertakwa dan sangat takut kepada Allah SWT ...
Meskipun kita hidup di jaman ini, dan sangatlah berbeda dengan jaman Nabi SAW, namun hendaklah tetap mencintai mereka dan menjadikan mereka panutan juga contoh yang baik dalam mengarungi kehidupan di Dunia ini ...


Jumat, 07 Juli 2017

Sumpah atau Kesaksian Palsu

Akhir2 ini ada segolongan orang yang mengaku beriman suka/melakukan sumpah palsu atau kesaksian palsu. Ada yang karena uang, kekayaan ataupun hal2 lainnya. Padahal sesungguhnya sumpah palsu atau kesaksian palsu itu termasuk dosa besar, bahkan dalam hadis, dosanya disejajarkan dengan perbuatan syirik.

SHAHIH BUKHARI, No. Hadist: 6182


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبَرَنَا النَّضْرُ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا فِرَاسٌ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَبَائِرُ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Telah mengabarkan kepada kami An Nadhr telah mengabarkan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Firas menuturkan; aku mendengar Asy Sya'bi dari Abdullah bin Amru dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada orangtua, membunuh, dan bersumpah palsu."

Dan dalam hadis lainnya, malah perkataan larangan sumpah palsu atau kesaksian palsu tersebut diulang2, hingga seolah-olah Nabi SAW memberikan penekanan yang lebih, supaya umatnya benar-benar meninggalkan sumpah palsu atau kesaksian palsu sejauh-jauhnya, karena sangatlah besar dosanya.

SHAHIH BUKHARI, No. Hadist: 5519

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْوَاسِطِيُّ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لَا يَسْكُتُ

Telah menceritakan kepadaku Ishaq telah menceritakan kepada kami Khalid Al Wasithi dari Al Jurairi dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang termasuk dari dosa besar? Kami menjawab; "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua." -ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk lalu melanjutkan sabdanya: "Perkataan dusta dan kesaksian palsu, perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus saja mengulanginya hingga saya mengira beliau tidak akan berhenti."


أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

“Maukah aku kabarkan kepada kamu sebesar-besarnya dosa besar?” Beliau mengucapkannya tiga kali. Mereka (para sahabat) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik) dan durhaka kepada kedua orang tua”. Beliau duduk sebelumnya beliau bersandar, lalu beliau bersabda, “Ingat, juga perkataan palsu”, Perawi berkata, “Beliau selalu mengulangi ucapannya, hingga kami berharap beliau diam” [HR Bukhari, no 5918, Muslim no.87, lafazhnya bagi Bukhari]

Demikian juga membuat kedustaan atau fitnah atas orang lain, merupakan dosa besar yang diancam dengan ancaman mengerikan.

مَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Barangsiapa mengatakan tentang seorang Mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allâh akan menempatkannya di lumpur neraka sehingga dia mempertanggung jawabkan perkataannya. [HR. Ahmad, no. 5544; Abu Dawud, no. 3599. Dishahihkan al-Albani; dihasankan oleh Syu’aib al-Arnauth]

Sehingga membuat berita Hoax dengan memfitnah orang lain, membunuh karakter orang tersebut, termasuk dosa besar yang sangat diharamkan oleh Allah.
Jangan pula menshare berita yang kita tidak tahu kebenarannya, termasuk berita yang seolah-olah baik, yakni tentang agama, namun sebenarnya bohong, karena menggunakan hadis palsu.
Demikian juga dengan memberikan kesaksian palsu dalam persidangan, juga termasuk dosa besar, yang besarnya dosa disejajarkan dengan dosa menyekutukan Allah.

Jangan tergiur oleh harta dunia dan kekuasaan yg sementara ini, sedangkan negeri akhirat yang jauh lebih kekal dan abadi menanti kita.
Jangan pula membuat berita yg seolah-olah baik, yakni tentang agama, padahal menggunakan hadis palsu. Karena Kebaikan tidak akan didapatkan jika menggunakan hadis palsu, namun yg didapatkan malah sebaliknya, yakni keburukan dan Neraka!.

Selengkapnya ada di: 

Jumat, 30 Juni 2017

Kebohongan dan Celaan Sebagian Manusia Kepada Allah SWT

Sebagian keturunan Adam telah mengatakan kebohongan tentang Allah padahal mereka sama sekali tidak berhak melakukan demikian ... Kebohongan yang mereka perbuat tentang Allah adalah mereka menganggap Allah tidak mampu menciptakan kembali sebagaimana dulu mereka telah diciptakan ...

Dan mereka mencela Allah, padahal mereka tidak punya hak untuk mencela Allah ...
Adapun celaannya kepada Allah, yaitu mereka mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Maha Suci Allah, sama sekali Allah tidak mengambil istri dan tidak mempunyai anak ...

QS.2. Al Baqarah:

وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًا سُبْحَـٰنَهُ بَل لَّهُ مَا فِي ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَـٰنِتُونَ

116. Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak." Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari 'Abdullah bin Abu Husain Telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: Allah Ta'ala berfirman: Sebagian keturunan Adam telah mengatakan kebohongan tentang Aku padahal mereka sama sekali tidak berhak melakukan demikian. Dan mereka mencelaku, padahal mereka tidak punya hak untuk mencelaku. Kebohongan yang mereka perbuat tentang-Ku adalah mereka menganggap Aku tidak mampu menciptakan kembali sebagaimana dulu telah ciptakan. Adapun celaannya kepada-Ku, yaitu mereka mengatakan bahwa Aku mempunyai anak. Maha Suci Aku, sama sekali Aku tidak mengambil istri dan tidak mempunyai anak.'(No. Hadist: 4122 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Sabtu, 24 Juni 2017

Sunnahnya Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.” [HR. Muslim (no. 1164)]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Dan merupakan salah satu tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya [Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 157)]
---------------------

Ada beberapa pendapat mengenai waktu kapan mulai berpuasa syawal. Namun yg terbaik adalah melakukan puasa syawal sehari setelah 'idul fitri (langsung) atau dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, yakni tgl 2 syawal hingga tgl 7 syawal (6 hari).
Hal ini termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda.
Dan ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih.


[Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 158)]

Jumat, 23 Juni 2017

Selesai Romadlon sangat disunnahkan melakukan Takbiran dan Sholat 'Id

Anjuran (sangat) melakukan Takbiran dan Sholat 'Id setelah selesai Romadlon, siapapun ia, baik anak², wanita (haid/tidak), orang dewasa, muda, tua dan semuanya. Untuk wanita haid dianjurkan datang kelapangan sholat Ied, namun tdk usah ikut sholat, hanya mendengarkan ceramah dan takbiran

QS. 2. Al Baqarah:

وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

185. ... dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Bab:Sunnahnya berjalan kaki dan makan terlebih dahulu sebelum sholat 'Idul Fitri namun tidak makan sesuatu terlebih dahulu sebelum sholat pada hari raya Qurban.
Isma'il bin Musa Al Fazari menceritakan kepada kami, Syarik memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Al Harits, dari Ali, dia berkata, "Termasuk Sunnah (Nabi) adalah keluar ke tempat shalat Ied (Fitri) dengan berjalan kaki dan makan sebelum keluar."
Hasan: Ibnu Majah (1294 dan 1297) dan Muttafaq 'alaih

Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan:'Mengamalkan kandungan hadits ini disepakati oleh mayoritas ulama. Mereka menyukai seseorang yang pergi ke tempat shalat ied dengan berjalan kaki dan makan sebelum keluar ke tempat shalat Idul Fitri.
Abu Isa berkata, "Disunnahkan tidak mengendarai kendaraan kecuali karena alasan penting."

Al Hasan bin AshShabbah Al Bazzar menceritakan kepada kami, AbdushShamad bin Abdul Warits memberitahukan kepada kami dari Tsawab bin Utbah, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata, "Nabi SAW tidak keluar shalat hari raya Fitri sebelum makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Qurban sebelum shalat."
Shahih: Ibnu Majah (1756)

Sekelompok ulama memilih untuk tidak keluar pada hari raya Fitri sebelum makan. Disunahkan bagi seseorang untuk makan buah kurma dan tidak makan sesuatu pada hari raya Qurban sebelum kembali dari shalat.

Bab:Melewati Jalan yang Berbeda Ketika Pulang dan Pergi dari Tempat Shalat 'Id
Abdul A'la bin Washil bin Abdul A'la Al Kufi dan Abu Zur'ah menceritakan kepada kami, keduanya berkata, "Muhammad bin AshShalt memberitahukan kepada kami dari Fulaih bin Sulaiman dan Sa'id bin Al Harits, dari Abu Hurairah, ia berkata,'Apabila Rasulullah SAW keluar pada (shalat) hari raya, maka beliau melewati suatu jalan dan pulang melewati jalan yang lain'."
Shahih: ibnu Majah (1301)

Sebagian ulama menyukai imam yang keluar melewati jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui untuk pulang. Hal ini bertujuan untuk mengikuti hadits tersebut. AsySyafi'i juga berpendapat seperti itu.

Bab:Shalat 'Id Dilaksanakan Sebelum Khuthbah Tanpa Adzan dan Iqamah
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Atha' dari Jabir bin 'Abdullah berkata, Aku mendengarnya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada hari Raya 'Idul Fitri, beliau memulainya dengan shalat kemudian khutbah." (No. Hadist: 905 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

(Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) perawi berkata, telah menceritakan kepadaku 'Atha' bahwa Ibnu 'Abbas menyampaikan kepada Ibnu Az Zubair pada awal dia dibai'at sebagai khalifah, bahwa tidak ada adzan dalam shalat Hari Raya 'Idul Fithri (di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), dan bahwasanya khutbah dilaksanakan setelah shalat." (No. Hadist: 906 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata: Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Atha telah mengabarkanku dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, keduanya berkata: Tidak ada azan bagi salat hari raya idul fitri atau idul adha. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang itu, lalu Jabir bin Abdullah Al-Anshari memberitahukan kepadaku bahwa tidak ada azan untuk salat hari raya idul fitri, baik saat imam menaiki mimbar maupun sesudahnya. Juga tidak ada iqamat, seruan atau apapun. Pada saat itu tidak ada azan atau iqamat. (Shahih Muslim No.1468)

Bab:Takbir Pada Dua Hari Raya
Muslim bin Umar dan Abu Amr Al Hadzdza' Al Madini menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi AshShaigh memberitahukan kepada kami dari Katsir bin Abdullah, dari ayahnya, dari kakeknya: Nabi SAW bertakbir tujuh kali sebelum bacaan (Al Fatihah) pada rakaat pertama dalam dua shalat hari raya, dan lima kali sebelum bacaan pada rakaat terakhir.
Shahih: Ibnu Majah (1279)

Bab:Haramnya Puasa di hari 'Iedul Fithri dan 'Iedul 'Adha
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Yahya dari bapaknya dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang berpuasa pada hari Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul 'Adhha dan juga melarang berkerudung dengan satu helai kain (berselimut sehingga seluruh bagian badannya tertutup) dan juga melarang seseorang duduk dengan memeluk lututnya hingga mengenai pundaknya dan menutupnya dengan selembar kain dan melarang pula shalat setelah Shubuh dan 'Ashar". (No. Hadist: 1855 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Tidak ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Hari Raya
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah menceritakan kepadaku 'Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada Hari Raya 'Iedul Fitri, beliau melaksanakan shalat dua rakaat, tanpa melaksanakan shalat baik sebelum atau sesudahnya. Dan saat itu beliau bersama Bilal radliallahu 'anhu." (No. Hadist: 935  dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Bolehnya mengadakan permainan yang tidak mengandung maksiat pada hari-hari raya
Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abu Bakar pernah datang ke rumahku ketika dua orang gadis Ansar berada di dekatku. Mereka saling tanya jawab dengan syair yang dilantunkan orang-orang Ansar pada hari Bu’ats (hari peperangan antara kabilah Aus dan Khazraj). Aisyah berkata: Sebenarnya mereka berdua bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkomentar: Apakah ada nyanyian setan di rumah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Hal itu terjadi pada hari raya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Hai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita. (Shahih Muslim No.1479)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak-tombak mereka di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Umar bin Khathab datang. Dia mengambil beberapa kerikil untuk melempari mereka, tetapi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mencegahnya: Hai Umar, biarkan mereka!. (Shahih Muslim No.1485)

Video Peringatan Bagi Pemudik

Akhir kata, Saya mengucapkan:

تقبل الله مناومنكم تقبل يا كريم
من العائذين والفائزين كل عام وأنتم بخير
.

Selamat Idul Fitri 1 syawwal 1438H.
Mohon ma'af lahir dan batin.

Jumat, 09 Juni 2017

Doa Apa Yang Sebaiknya Sering Dibaca Pada Bulan Romadlon?

Sesungguhnya dari sekian banyak hadis mengenai bulan Romadlon, terbanyak adalah hadits mengenai penghapusan Dosa-dosa kita.
Bagaimana bisa dihapuskan semua dosa2 kita tersebut pada bulan Romadlon?
Ada beberapa cara yang disebutkan dalam hadits, yakni:
 1. Berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab (Mengharap pahala dari Allah)
 2. Shalat malam pada Ramadhan karena iman dan ihtisab
 3. Shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan ihtisab
 4. Berdoa Memohon Ampunan

Secara umum, berpuasa, dan sholat malam yang dilakukan tentu disertai doa. Doa yang paling sering dan mendukung adalah doa permintaan maaf dan Meminta/Memohon Ampun kepada Allah. Walaupun diperbolehkan juga Berdoa meminta yang lain, misalnya meminta Surga.
Namun, ada ulama yang mengatakan, jika kita meminta Surga, bisa jadi "dimampirkan dulu" ke Neraka baru dimasukkan ke Surga. Sangat berbeda jika kita meminta ampunan, tentunya akan mempermudah proses langsung menuju Surga tanpa "mampir" ke Neraka.
Hal ini berlaku juga dengan masalah lain2nya, baik masalah Dunia dan Akhirat.
Dengan Istighfar, menjadikan proses menjadi lebih mudah dan lancar hingga hajat kita mudah terkabulkan tanpa menimbulkan keburukan yang berarti.

Berikut ini hadits2nya:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barang siapa yang shalat malam pada Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari No. 37 1904, 1905)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan ihtisab (mendekatkan diri kepada Allah) , maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 35, 38, 1802)

Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam itu?" Beliau s.a.w. menjawab: Ucapkanlah: Allahumma Innaka 'Afuwun, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampunilah saya."
Diriwayatkan oleh Imam Turmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Berikut bacaan-bacaan Istigfar yang dapat dibaca sebanyak-banyaknya:

1. Lafadz Istighfar yang Singkat, "Astaghfirullah"

أَسْتَغْفِر ُاللهَ

Berdasarkan Surat An-Nisa' Ayat 106:

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

"dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

2. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam itu?" Beliau s.a.w. menjawab: Ucapkanlah: Allahumma Innaka 'Afuwun, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampunilah saya."
Diriwayatkan oleh Imam Turmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dengan redaksi yg hampir sama, namun berbeda sedikit, misalnya: Allahumma Innaka 'Afuwun Kariim, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah yang suka memberikan ampunan. Maka, ampunilah aku".
Shahih: Ibnu Majah (3850).
Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih."

3. Sayyidul Istighfar:
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dia berkata; telah menceritakan kepadaku Busyair bin Ka'b Al 'Adawi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Sesungguhnya istighfar yang PALING BAIK adalah;
kamu mengucapkan: 'ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA 'ABDUKA WA ANA 'ALA 'AHDIKA WA WA'DIKA MASTATHA'TU A'UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA'TU ABUU`U LAKA BIDZANBI WA ABUU`U LAKA BINI'MATIKA 'ALAYYA FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA
(Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu) '.
Beliau bersabda: 'Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.' (No. Hadist: 5831 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bacaan Do'a dalam Tulisan Arab:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ 

4. Doa Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Nun

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ ، سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illa anta. Subhaanaka, innii kuntu minaz zhaalimiin 

“Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.(QS Al-Anbiya’ : 87).

---> Apakah Doa ini hanya untuk Nabi Yunus? Ternyata Tidak!. Doa ini untuk semua orang2 yang beriman, yang ingin bertaubat dengan sungguh2 karena merasa melakukan kesalahan dengan menzholimi dirinya sendiri. Seperti diterangkan dalam ayat berikut ini:
Surat Al-Anbiya Ayat 88:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

"Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman".


Jumat, 02 Juni 2017

Pilih Umrah Ataukah Untuk yang Lainnya?


Berita:
Hari Minggu, 2 Ramadhan 1438 H, untuk pertamakali dalam sejarah kota Makkah,  thawaf terhenti tak bergerak karena banyaknya jamaah.
https://www.youtube.com/watch?v=6E0zJCMHJVQ

Subhanallah sungguh luar biasa semangat para muslimin untuk melakukan Umrah di bulan Ramadhan. Hingga terlihat penuh sesak ketika Towaf, yang mungkin saja, lebih padat daripada Towaf Haji.
Kaum muslimin berdesak2an di tempat towaf lantai 1 yang selantai dengan Ka'bah, dan sejurus kemudian berhenti tidak bergerak karena banyaknya jamaah.

Semangat yang luar biasa ini tentu didasarkan pada hadits2 Shohih berikut ini:


Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863).

Apa yang dimaksud senilai dengan haji?
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

---> Namun apakah kita harus umrah bagi yang sudah pernah? Apakah ada pahala lainnya yang lebih dahsyat daripada Umrah Ramadhan? Mungkin Hadits dibawah ini bisa jadi pertimbangan, dan untuk selanjutnya terserah Anda. Karena masing2 memiliki keutamaannya sendiri ...

KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

عَنْ سَهْلِ بَْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang menyantuni anak yatim, sehingga imam al-Bukhari rahimahullah mencantumkannya dalam bab: Keutamaan Orang Yang Mengasuh Anak Yatim.

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

1• Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di SURGA dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2• Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.

3• Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa.

4• Keutamaan dalam hadits ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu.

5• Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya.


Subhanallah ...
Umroh Romadlon memang setara Berhaji Bersama Nabi ...
Namun bagi yang sudah pernah Umrah di bulan Puasa, apakah perlu Umrah lagi ...?
Bagaimana dengan menyantuni Anak Yatim ... ?
Yakni mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar ...?
Apakah tidak lebih baik menggunakan Dana yang puluhan juta itu untuk kebaikan disekitar kita ...?
Tapi untuk selanjutnya terserah Anda ... 
Karena masing2 memiliki keutamaannya sendiri ...

Wa Allahu 'Alam.


Jumat, 26 Mei 2017

Lailatul Qadar

QS.97. Al Qadr:

 إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ * وَمَآ أَدْرَٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ * لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ ٱلْمَلَـٰۤئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ * سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada  kami Isma'il bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Abu Suhail dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan".(No. Hadist: 1878 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu Hazim dan Ad-Darawardiy dari Yazid bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 'i'tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i'tikaf Beliau begitu pula mereka yang sebelumnya beri'tikaf bersama Beliau. Pada malam ketika Beliau kembali beri'tikaf di bulan tersebut, Beliau menyampaikan khuthbah di hadapan orang banyak dan memerintahkan mereka menurut apa yang Allah kehendaki, lalu Beliau bersabda: "Aku sudah melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beri'tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri'tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek) ". Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku melihat Beliau setelah Shubuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air". (No. Hadist: 1879 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari 'Ubadah bin Ash-Shamit berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: "Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) ". (No. Hadist: 1883 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudriy yang merupakan salah seorang sahabat karibku. Maka dia berkata: " Kami pernah ber'i'tikaf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian Beliau keluar pada sepuluh malam yang akhir lalu memberikan khuthbah kepada kami dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud diatas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu siapa yang sudah beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka pulanglah". Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) selesai aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud diatas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi Beliau.(No. Hadist: 1877 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata: "Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam aku pernah bermimpi, ditanganku ada sehelai kain sutera dan seakan tidaklah aku menginginkan satu tempat di surga kecuali akan segera nampak buatku. Aku juga mengalami mimpi yang lain, aku melihat dua malaikat yang membawaku ke dalam neraka, disana keduanya ditemui oleh malaikat yang lain seraya berkata; "Jangan kamu takut, tolong biarkan orang ini leluasa". Kemudian Hafshah menceritakan salah satu mimpiku itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh 'Abdullah menjadi orang yang paling berbahagia jika mau shalat malam". 'Abdullah radliallahu 'anhu adalah orang yang senantiasa mendirikan shalat malam sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang mimpi-mimpi mereka bahwa pelaksanaan Lailatul Qadar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencari Lailatul Qadar, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Romadhan) ".(No. Hadist: 1088 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menegakkan (ibadah pada malam) lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala [dan tidak melakukan hubungan suami-istri], maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (No. Hadist: 34 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul Qadar
Harun bin Ishaq Al Hamdani menceritakan pada kami, Abdah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW biasa beri'tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Beliau bersabda, 'Bersungguh-sungguhlah kamu (untuk mendapatkan) lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan."
Shahih: Muttafaq 'alaih

Bab:Apa yg dibaca (sebanyak-banyaknya) ketika menjumpai Lailatul Qadar?
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam itu?" Beliau s.a.w. menjawab: Ucapkanlah: Allahumma Innaka 'Afuwun, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka ampunilah saya."
Diriwayatkan oleh Imam Turmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dengan redaksi yg hampir sama, namun berbeda sedikit, misalnya: Allahumma Innaka 'Afuwun Kariim, tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Annii. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah yang suka memberikan ampunan. Maka, ampunilah aku".
Shahih: Ibnu Majah (3850).
Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih."

Bab:Tanda akhir dari lailatul qadar (pada keesokan harinya)
Washil bin Abdul A'la Al Kufi menceritakan kepada kami dari Ashim bin Zhr, ia berkata, "Aku berkata kepada Ubay bin Ka'ab, 'Wahai Abu Mundzir, aku tahu bahwa lailatul qadar ada pada malam 27'. Ia berkata, 'Benar. Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa lailatul qadar adalah suatu malam yang pada keesokan harinya matahari terbit tanpa ada sinarnya(tidak bersinar dng menyorot/agak redup). Kemudian kami menyebut-nyebut dan  menghafalnya. Demi Allah, Ibnu Mas'ud tahu bahwa lailatul qadar ada dibulan Ramadhan pada malam 27. Namun ia enggan memberitahu kamu sekalian, karena khawatir kamu akan tergantung (pada malam itu saja)'."
Shahih: Shahih Abu Daud (1247) dan Shahih Muslim (semisalnya)

Bab:Barangsiapa berniat untuk iktikaf kemudian mempunyai keinginan untuk keluar (tidak melanjutkan)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad dia adalah Ibnu Salam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Fudhail bin Ghozwan dari Yahya bin Sa'id dari 'Amrah binti 'Abdurrahman dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu beri'tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh Beliau masuk ke tempat khusus i'tikaf Beliau. Dia (Yahya bin Sa'id) berkata: Kemudian 'Aisyah radliallahu 'anha meminta izin untuk bisa beri'tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu 'Aisyah radliallahu 'anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa. Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: "Apa ini?" Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau). Maka Beliau bersabda: "Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya". Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i'tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. (No. Hadist: 1900 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Semoga kita bisa menegakkan ibadah pada malam lailatul qodar sehingga mendapatkan ampunanNya dengan rahmatNya, aamiiin ...

Senin, 22 Mei 2017

Yang Diperbolehkan dalam Puasa (Bukan Berarti Dianjurkan)

QS. 2. Al Baqarah:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَٱلـنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ وَلاَ تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِي ٱلْمَسَـٰجِدِ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid  [berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah]. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata, telah mengabarkan kepada saya Hushain bin 'Abdurrahman dari Asy-Sya'biy dari 'Adi bin Hatim radliallahu 'anhu berkata: Ketika turun QS Al Baqarah ayat 187 ("… hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar"), maka aku mengambil benang hitam dan benang putih lalu aku letakkan di bawah bantalku untuk aku lihat pada sebagian malam namun tidak tampak olehku. Maka di pagi harinya aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu aku ceritakan hal tadi. Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat itu (dengan benang hitam dan putih) adalah gelapnya malam dan terangnya siang [yakni masuknya waktu subuh(mulai berpuasa)] ". (No. Hadist: 1783 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Masalah junub setelah masuk waktu Fajar
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Sumayya maulanya Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughirah bahwa dia mendengar Abu Bakar bin 'Abdurrahman berkata: "Aku  dan bapakku ketika menemui 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah...Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bahwa bapaknya, yaitu 'Abdurrahman mengabarkan kepada Marwan bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapatkan waktu Fajar saat Beliau sedang junub di rumah keluarga Beliau. Maka kemudian Beliau mandi dan shaum. Dan berkata, Marwan kepada 'Abdurrahman bin Al Harits: "Aku bersumpah dengan nama Allah. aku pasti menyampaikan hal ini kepada Abu Hurairah radliallahu 'anhu. Saat itu Marwan adalah pemimpin di Madinah. Maka Abu Bakar berkata: "Kejadian itu membawa 'Abdurrahman merasa tidak senang". Kemudian kami ditakdirkan berkumpul di Dzul Hulaifah yang ketika itu Abu Hurairah radliallahu 'anhu termasuk yang hadir disana, maka 'Abdurrahman berkata, kepada Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Aku akan menyampaikan satu hal kepadamu yang seandainya Marwan tidak bersumpah tentangnya kepadaku maka aku tidak akan menyampaikannya kepadamu". Maka dia menyebutkan apa yang disampaikan 'Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah diatas. Maka Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Persoalan tadi pernah pula diceritakan kepadaku oleh Al Fadhal bin 'Abbas sedangkan mereka ('Aisyah radliallahu 'anha dan Ummu Salamah) lebih mengetahui perkara ini". Dan berkata, Hammam dan Ibnu 'Abdullah bin 'Umar dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk berbuka (dalam kasus junub setelah masuk waktu Fajar). Namun hadits pertama diatas lebih kuat sanadnya". (No. Hadist: 1791 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Sihab dari 'Urwah dan Abu Bakar, 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapati masuknya waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan Beliau junub, lalu Beliau mandi dan shaum".(No. Hadist: 1795 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepada saya Malik dari Sumayya maulanya Abu Bakar bin'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughirah bahwa dia mendengar Abu Bakar bin'Abdurrahman (berkata,): "Aku dan bapakku pergi bersama-sama hingga kami datang menemui 'Aisyah radliallahu 'anha yang dia berkata: "Aku bersaksi tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa apabila Beliau pada pagi hari masih dalam keadaan junub setelah berhubungan tanpa mengeluarkan sperma, maka Beliau meneruskan puasanya". Kemudian kami datang menemui Ummu Salamah yang dia juga berkata, seperti itu". (No. Hadist: 1796 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Mencium dan mencumbu isteri ketika berpuasa
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, Syu'bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium dan mencumbu (isteri-isteri Beliau) padahal Beliau sedang berpuasa. Dan Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian". Dan Al Aswad berkata; Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata, istilah ma"aarib maknanya adalah keperluan (seperti dalam QS Thoha ayat 18) artinya hajat. Dan berkata, Thowus (seperti dalam QS An-Nuur ayat 31) artinya: orang dungu yang tidak punya keinginan lagi terhadap wanita. (No. Hadist: 1792 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari 'Aisyah radliallahu 'anha. Dan telah diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium isteri-isteri Beliau". 'Aisyah radliallahu 'anha kemudian tertawa. (No. Hadist: 1793 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Orang yang berpuasa makan dan minum karena lupa
Telah menceritakan kepada kami 'Abdan telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum". (No. Hadist: 1797 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
Tambahan:Juga diperbolehkan meneruskan puasanya apabila muntah tanpa disengaja

QS.33. Al Ahzab:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَآ أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

5. ... Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Bab:Berbekam bagi orang yang berpuasa
Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayyub dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbekam ketika sedang berihram dan juga berbekam ketika sedang berpuasa.(No. Hadist: 1802 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)


Tambahan:
Yang dapat mengurangi Pahala Puasa:
1. Menggunjing/Membicarakan Orang Lain
2. Berbohong
3. Mengadu domba
4. Berkata Kotor
5. Mengumpat
6. Sumpah Palsu
7. Melihat sesuatu dengan syahwat 

Jumat, 19 Mei 2017

Kitab Puasa

QS. 2. Al Baqarah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
 

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىۤ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
 

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 
 

Bab:Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu atau dua hari
Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abdah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu atau dua hari kecuali bertepatan dengan hari yang sudah menjadi kebiasaan berpuasa bagi salah seorang dari kalian. Berpuasalah kamu karena melihat (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat (bulan). Apabila keadaan berawan menghalangi kalian, maka hitunglah (bulan tersebut) tiga puluh hari, kemudian berbukalah'."
Shahih: Ibnu Majah (1650 dan 1655), Shahih Sunan Tirmidzi (684) dan Muttafaq 'alaih

Hannad menceritakan kepada kami, Waki' memberitakan kepada kami, dari Ali bin Al Mubarak, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu'."
Shahih: Ibnu Majah (1650), Shahih Sunan Tirmidzi (685) dan Muttafaq 'alaih

Abu Sa'id Abdullah bin Sa'id Al Asyaj menceritakan kepada kami, Abu Khalid Al Ahmar memberitahukan kepada kami dari Amr bin Qais, dari Abu Ishak, dari Shilah bin Zufar, ia berkata, "Ketika kami berada di rumah Ammar bin Yasir, ia menghidangkan sate kambing lalu berkata, 'Makanlah'. Sebagian orang berpaling dan berkata, 'Aku sedang puasa'. Ammar lantas berkata, 'Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan (apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum) maka ia telah mendurhakai Abu Al Qasim (Muhammad SAW)'."
Shahih: ibnu Majah (1645) dan Shahih Sunan Tirmidzi (686)

Qutaihah menceritakan kepada kami, Abu Ahwas menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb bin Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan. Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan sabit-Awal Romadlon) dan berbukalah kamu karena melihatnya (bulan sabit-Awal Shawal). Apabila keadaan sedang mendung, maka sempurnakanlah tiga puluh hari'."
Shahih: Shahih Abu Daud (2016) dan Shahih Sunan Tirmidzi (688)

Bab:Menghitung/hisab Hilal adalah hadits gharib, hanya sampai pada derajat Hasan atau tidak sampai pada derajat Shahih (Hadits yg Shahih adalah pada hadits diatas - yaitu dng cara melihat hilal)
Muslim bin Hajjaj menceritakan kepada kami, Yahya bin Yahya memberitahukan kepada kami, Abu Mu'awiyah memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Hitung-hitunglah hilal bulan Sya'ban untuk (menetapkan) Ramadhan'."
Hasan: Ash Shahih (565) dan Shahih Sunan Tirmidzi (687)
Abu Isa berkata, "Hadits Abu Hurairah adalah hadits gharib. Kami tidak tahu hadits seperti di atas kecuali dari hadits Mu'awiyah."

Bab:Setiap Negeri Mengikuti Rukyat Penduduknya (setempat)
Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ismail bin Ja'far memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Abu Harmalah memberitahukan kepada kami, Kuraib memberitahukan kepadaku: Ummu Al Fadhl binti Al Harits mengutusnya (untuk menghadap) Mu'awiyah di Syam. Ia berkata, "Aku sampai ke Syam, lantas menyelesaikan urusanku dan aku melihat hilal (bulan sabit) bulan Ramadhan telah terbit, sedangkan aku berada di Syam. Kami melihat bulan itu pada malam Jum'at. Aku sampai di Madinah pada akhir bulan Ramadhan dan Ibnu Abbas bertanya kepadaku, kemudian ia menyebutkan hilal tersebut, ia bertanya, 'Kapan kamu melihat bulan itu?' Aku menjawab, 'Kami melihatnya pada malam Jum 'at'. Ia bertanya lagi, 'Apakah kamu melihatnya pada malam Jum 'at?' Aku katakan, 'Orang-orang melihatnya, kemudian mereka berpuasa dan Mu'awiyah juga berpuasa'. Kemudian ia berkata, 'Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, dan kami masih berpuasa hingga menyempurnakan tiga puluh hari atau (sampai) kami melihatnya'. Aku lalu berkata, 'Apakah tidak cukup dengan melihat Mu'awiyah dan puasanya?' la menjawab, 'Tidak, Rasulullah SAW memerintahkan kami demikian'. "
Shahih: Shahih Abu Daud (1021), Shahih Sunan Tirmidzi (693) dan Shahih Muslim

> Ada yg berpendapat metode rukyatul hilal adalah metode kuno, dan yg modern adalah metode hisab, karena merupakan hasil dari perhitungan modern. Namun menurut saya pendapat ini aneh, sebab dalam suatu metode modern, justru kita diharuskan melakukan eksperimen nyata untuk menguji suatu perhitungan atau teori. Jika langkah2 atau tahapan dan peralatan yg digunakan dalam eksperimen adalah benar dan ternyata berlawanan dng hasil perhitungan, maka yg digunakan adalah hasil eksperimen. Dan ini menyatakan kesalahan dari perhitungan atau teori. Jika kita selalu menggunakan metode ini untuk urusan dunia, trus mengapa untuk urusan akhirat kita malah mengabaikan hasil eksperimen, yakni rukyatul hilal? Apakah kenyataan bisa mengalahkan perhitungan (hisab)?

> Namun kita juga tidak bisa memungkiri, pada kenyataannya melihat hilal secara langsung tidaklah mudah. Kalau jaman dulu, sebelum ada bangunan tinggi, dan manusia masih terbiasa dng alam yg msh kosong, dng mata telanjang (tanpa dihisab dulu) bs melihat hilal dng mudah, karena tdk ada lampu dan tdk ada bangunan tinggi, juga tdk ada polusi udara.
Jaman sekarang dikembangkan metode gabungan hisab dan rukyat. Posisi hilal dan lama munculnya dihitung (hisab) dulu. Karena memang tdk mudah melihat bulan baru, yg sngt kecil dan sebentar munculnya. Karena itu pasti di hitung dulu, kemudian dibuktikan dng rukyat. Kalau mencoba merukyat tanpa menghitung, hasilnya bakalan kesulitan (sangat² sulit) dalam melihat hilal, distorsinya terlalu tinggi (diufuk).

>> Bagaimana dng adanya perbedaan permulaan Romadlon dan hari Raya Idul Fitri? Jawabannya: Ikuti ilmu yg kita ketahui, jangan ikut²an tanpa ilmu ataupun juga jangan karena kelompok, organisasi dan ormas. Kita tidak usah mencela mereka, apabila terjadi perbedaan. Utamakan persatuan dan perdamaian. Karena itu ikutlah waktu yang telah ditentukan pemerintah negara tempat bermukim, untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.
Sesungguhnya Islam itu satu, tidak terpecah menjadi golongan², bukan tanggung jawab kita jika mereka memilih bergolong-golongan dalam agama Allah, seperti dalam firmanNya:
QS. 6. Al An'aam:

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan[golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya], tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

> Perintah untuk Mentaati Pemimpin, sezholim apapun pemimpin itu, asalkan Pemimpin itu Tidak Menyuruh Bermaksiat Terhadap Allah (menurut Al Qur'an dan As Sunnah)

QS.4. An Nisaa':

يَـٰۤأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلأَْمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلأَْخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:
Maksud dari Ulil Amri: Menurut makna lahiriah ayat —hanya Allah yang lebih mengetahui— makna lafaz ini umum mencakup semua ulil amri dari kalangan pemerintah, juga para ulama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Muslim At-Tusi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu 'Urwah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Abu Saleh As-Sjrnman, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. telah bersabda:Kelak sesudahku kalian akan diperintah oleh para pemimpin, maka ada pemimpin yang bertakwa yang memimpin kalian dengan ketakwaannya, dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai dengan kebenaran, dan bantulah mereka. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan jika mereka berbuat buruk, maka baik bagi kalian dan buruk bagi mereka.

> karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah.

Bab:Keutamaan Ramadan
Hannad menceritakan kepada kami, Abdah dan Al Muharibi memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan menegakkan (ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Barangsiapa menegakkan (ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala[I'tikaf di Masjid dan tidak melakukan hubungan suami-istri], maka diampunilah dosanya yang telah lampau'."
Shahih: Ibnu Majah (1326), Shahih Sunan Tirmidzi (683) dan Muttafaq 'alaih

Bab:Larangan Menggunjing dan berdusta
Abu Musa Muhammad Al Mutsana menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar memberitahukan kepada kami, ia berkata, "Ibnu Abu Dzi'b juga menceritakan kepada kami dari Sa'id Al Maaburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, 'Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan (malah) mengerjakannya, maka Allah tidak butuh kepada makan dan minum yang ditinggalkannya' (Allah tidak memberikan pahala pada puasanya -karena perkataan dustanya-, walaupun secara zhahir ia terlihat berpuasa, dng meninggalkan makan dan minum)."
Shahih: Ibnu Majah (1689), Shahih Sunan Tirmidzi (707) dan Shahih Bukhari

Bab:Usahakan tidak melakukan keburukan sekecil apapun, karena puasa itu untuk Allah
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam bun Yusuf dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Atho' dari Abu Shalih Az Zayyat bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda(hadits Qudsi): "Allah Ta'ala telah berfirman: "Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum(puasa), sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang shaum'. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya, yaitu apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu". (No. Hadist: 1771 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Bab:Keutamaan membaca surat al-Ikhlash
Bulan Puasa adalah bulan diturunkannya Al Qur'an ...
Sanggupkah kita membaca Al Qur'an dalam satu malam ...?
Atau membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam ...?
Sanggupkah kita ....?
Tentu kita tidak akan sanggup, walau hanya membaca sepertiga Al Qur'an dalam satu malam ...
Jika tidak sanggup, bacalah "QUL HUWALLAHU AHAD.. dst hingga akhir surat" (maksudnya surat al-Ikhlash) ...
Membaca surat al-Ikhlash nilainya adalah sepertiga Al Qur`an ...!!!

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A'masy Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan Adl Dlahak Al Masyriqi dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al Qur`an pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda: "ALLAHUL WAAHID ASH SHAMAD (maksudnya surat al-ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al Qur`an." (No. Hadist: 4628 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
_________________
Beberapa Hadits yg perlu diperhatikan, dan jangan digunakan karena hadits² dibawah ini palsu (hadits Maudlu atau paling baik hanya sampai pada derajat hadits dloif):

1. Hadits: "Barangsiapa yang gembira akan datangnya bulan Romadlon, akan diharamkan jasadnya dari api neraka", hadits ini palsu, jangan dipakai (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah, Pusat Kajian Hadis, Jkt)

2. Hadits Keutamaan sholat terawih, "Barangsiapa melakukan sholat terawih malam I, pahalanya ...., melakukan sholat terawih malam II, pahalanya ..... dst (hingga malam terakhir ramadlon)", hadits ini palsu, tidak ada perawinya, walaupun ada di kitab, namun membuat kitab itu mudah. Saydina Ali ra. sendiri tidak pernah meriwayatkan hadits yg seperti ini (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah)

3. Hadits: "10 hari pertama pada bulan Romadlon adalah rahmat, 10 hari kedua pada bulan Romadlon adalah maghfiroh, dan 10 hari ketiga pada bulan Romadlon adalah 'ithqun min annaar", hadits ini palsu (menurut KH Ali Mustafa) atau dloif (menurut Dr.Ahmad Lutfi Fathullah)

4. Hadits yg intinya: "Berpuasalah pasti anda sehat", adalah hadits dloif, dan dalam redaksi lainnya malah dikatakan palsu. (menurut DR.H.Zainuddin MZ, Lc,MA)

5. Hadits: “Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” Dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 1660, Sunan An-Nasa’i no. 2210, Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2201, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3343, Ibnu Majah no. 1328. Di dalamnya terdapat an-Nadhr bin Syaiban, dan dia lemah.[Hadits Dloif]

Pada intinya, menyambut bulan Ramadlon tidak boleh kalau hanya bergembira saja, namun lebih ditekankan kepada amalan yg dikerjakan pada bulan Romadlon. Yaitu, Hendaknya ia berpuasa, seperti puasa yg dijelaskan pada hadits yg shahih, tidak berbohong, tidak membicarakan orang lain, suka membaca Al Qur'an, murah hati, sholat Tahajjud + Witir dan masih banyak lagi. Sehingga tidak cukup jika hanya senang/gembira saja dalam menyambutnya.
Bulan Romadlon adalah satu kesatuan, maksudnya tidak terbagi menjadi 3 (spt no.3), semua hari²nya adalah hari² terbaik, tidak ada bedanya antara hari² dibulan romadlon, semuanya merupakan hari² yg terbaik. Kehilangan salah satu hari saja (dengan sengaja, bukan karena sakit atau dalam perjalanan yg memberatkan) tentunya tidak akan bisa digantikan dng hari² lain diluar romadlon (lebih jelasnya, silahkan membaca artikel sebelum ini yg berjudul: Cahaya berkilauan dng membawa Berkah...).

Sabtu, 13 Mei 2017

Cahaya berkilauan dng membawa Berkah yg dinantikan

Akan datang secercah Cahaya berkilauan tapi tak menyilaukan ...
Dengan membawa Berkah yang dinanti-nantikan ...
Menembus awan hitam yang tebal penuh dengan derita ...
Awan tebal yang diciptakan oleh manusia itu sendiri ...

Akan datang bulan yang penuh Berkah, Rahmat, dan AmpunanNya ...
Bulan yang disisi Allah merupakan bulan yang terbaik ...
Siangnya adalah yang terbaik diantara siang ...
Malamnya adalah yang terbaik diantara malam ...

Yaitu suatu bulan dimana manusia yang beriman diundang ...
Oleh Penciptanya untuk menuju perjamuan Ilahi ...
Saat-saat Allah memuliakan hambaNya ...
Saat-saat setiap nafas adalah merupakan tasbih ...
Tidur hambaNya adalah ibadah ...
Segala amal baik hambaNya diterima ...
Dan saat-saat dimana semua do'a dijawab ...

Karena itu hendaklah kamu memohon kepada Allah ...
Dengan niat yang benar dan hati yang suci ...
Sesungguhnya Celakalah orang-orang yang tidak memperoleh pengampunan dibulan yang Agung ini ...

Ingatlah akan lapar dan haus dihari pengadilan yg pasti datang, yakni pengadilan di padang Mahsyar ...
Berikanlah sedekahmu kepada fakir-miskin ...
Hormatilah orang tuamu ...
Sayangilah yang muda diantara kamu ...
Jagalah Lidahmu dari perkataan keji, kotor dan pergunjingan ...
Jagalah telingamu dari suara yang tidak patut didengar ...

Berlaku baiklah terhadap anak yatim ...
Bertaubatlah kepada Allah atas dosa-dosa kamu ...
Berdo'alah dengan tangan terangkat diwaktu sholatmu ...
Dimana Allah melihat hambaNya dengan belas kasihan ...
Ia menjawab apabila mereka menyeru ...
Ia menyambut apabila mereka memanggil ...
Ia memberi apabila mereka meminta ...
Ia akan mengabulkan apabila mereka memohon ...

Wahai manusia ...
Sesungguhnya jiwamu digadaikan dengan amal perbuatanmu ...
Bebaskanlah jiwamu itu dengan memohon pengampunanNya ...
Punggungmu keberatan menanggung dosa-dosamu ...
Maka ringankanlah dengan sujudmu yang lama ...

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah bersumpah ...
Dengan kemuliaan dan kehormatanNya ...
Ia tidak akan mengadzab orang yg melaksanakan sholat & sujud ...
Ia tidak akan menakuti mereka dengan api Neraka ...

Wahai manusia, ...
Apabila kamu memberikan makanan untuk berbuka puasa ...
Maka Allah akan memberikan pahala kepadanya ...
Dilipatgandakan pahala itu dengan tidak terbatas ...
Ia akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu ...

Wahai manusia, ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini memelihara perilaku yang baik ...
Maka Allah akan memudahkannya berjalan diatas shirath ...
Barangsiapa yang dalam bulan ini suka meringankan makhlukNya ...
Maka Allah akan memudahkan dalam menghisabnya ...
Barangsiapa memutus tali kekerabatan didalamnya ...
Maka Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari Pengadilan ...

MARHABAN YAA ROMADLON ...
SELAMAT DATANG BULAN YANG KAMI RINDUKAN ...
SELAMAT DATANG KEKASIHKU, PUJAANKU, HARAPANKU ...

WAHAI PECINTA KEBAIKAN ... BERGEMBIRALAH ... !
WAHAI PECINTA KEJAHATAN ... HENTIKANLAH ... !!!



nb:

Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kesalahan ...

ttd
Admin

Rabu, 10 Mei 2017

Keikhlasan Dan Menghadhirkan Niat Dalam Segala Perbuatan

Allah Ta'ala berfirman:

وما أمروا إلا ليعبدوا االله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، وذلك
دين القيمة

"Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5)

Allah Ta'ala berfirman pula:

لن ينال االله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

"Samasekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang kurban itu, tetapi akan sampailah padaNya ketaqwaan engkau sekalian." (al-Hajj: 37)

Allah Ta'ala berfirman pula:

قل إن تخفوا ما في صدوركم أو تبدوه يعلمه االله

"Katakanlah - wahai Muhammad, sekalipun engkau semua sembunyikan apa-apa yang ada di dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah." (ali-lmran: 29)

1. Dari Amirul mu'minin Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-'Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu untuk Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu."
(Muttafaq (disepakati) atas keshahihannya Hadis ini)

Diriwayatkan oleh dua orang imam ahli Hadis yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Almughirah bin Bardizbah Alju'fi Albukhari, - lazim disingkat dengan Bukhari saja -dan Abulhusain Muslim bin Alhajjaj bin Muslim Alqusyairi Annaisaburi, - lazim disingkat dengan Muslim saja - radhiallahu 'anhuma dalam kedua kitab masing-masing yang keduanya itu adalah seshahih-shahihnya kitab Hadis yang dikarangkan.

Keterangan:
Hadis di atas adalah berhubungan erat dengan persoalan niat. Rasulullah s.a.w. menyabdakannya itu ialah karena di antara para sahabat Nabi s.a.w. sewaktu mengikuti untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, semata-mata sebab terpikat oleh seorang wanita yakni Ummu Qais. Beliau s.a.w. mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana diatas.
Oleh karena orang itu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud yang terkandung dalam hatinya, meskipun sedemikian itu boleh saja, tetapi sebenarnya tidak patut sekali sebab saat itu sedang dalam suasana yang amat genting dan rumit, maka ditegurlah secara terang-terangan oleh Rasulullah s.a.w.
Bayangkanlah, betapa anehnya orang yang berhijrah dengan tujuan memburu wanita yang ingin dikawin, sedang sahabat beliau s.a.w. yang lain-lain dengan tujuan menghindarkan diri dari amarah kaum kafir dan musyrik yang masih tetap berkuasa di Makkah, hanya untuk kepentingan penyebaran agama dan keluhuran Kalimatullah.
Bukankah tingkah-laku manusia sedemikian itu tidak patut sama-sekali.
Jadi oleh sebab niatnya sudah keliru, maka pahala hijrahnyapun kosong. Lain sekali dengan sahabat-sahabat beliau s.a.w. yang dengan keikhlasan hati bersusah payah menempuh jarak yang demikian jauhnya untuk menyelamatkan keyakinan kalbunya, pahalanyapun besar sekali kerana hijrahnya memang dimaksudkan untuk mengharapkan keridhaan Allah dan RasulNya. Sekalipun datangnya Hadis itu mula-mula tertuju pada manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta dapat dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam hati, ialah seperti ketika mengambil air untuk wudhu', mandi untuk shalat dan lain-lain sebagainya.

Perlu pula kita maklumi bahwa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang bersangkutan dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau seseorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan, maka dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini berdasarkan Hadis yang berbunyi:
"Niat seseorang itu lebih baik daripada amalannya."
Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.

Hanya saja dalam menetapkan wajibnya niat atau tidaknya,agar amalan itu menjadi sah, maka ada perselisihan pendapat para imam mujtahidin. Imam-imam yakni Syafi'i, Maliki dan Hanbali mewajibkan niat itu dalam segala amalan, baik yang berupa wasilah yakni perantaraan seperti wudhu', tayammum dan mandi wajib, atau dalam amalan yang berupa maqshad (tujuan) seperti shalat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tetapi imam Hanafi hanya mewajibkan adanya niat itu dalam amalan yang berupa maqshad atau tujuan saja sedang dalam amalan yang berupa wasilah atau perantaraan tidak diwajibkan dan sudah dianggap sah.
Adapun dalam amalan yang berdiri sendiri, maka semua imam mujtahidin sependapat tidak perlunya niat itu, misalnya dalam membaca al-Quran, menghilangkan najis dan lain-lain.
Selanjutnya dalam amalan yang hukumnya mubah atau jawaz (yakni yang boleh dilakukan dan boleh pula tidak), seperti makan-minum, maka jika disertai niat agar kuat beribadat serta bertaqwa kepada Allah atau agar kuat bekerja untuk bekal dalam melakukan ibadat bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tentulah amalan tersebut mendapat pahala, sedangkan kalau tidak disertai niat apa-apa, misalnya hanya supaya kenyang saja, maka kosonglah pahalanya.

2. Dari Ummul mu'minin yaitu ibunya - sebenarnya adalah bibinya - Abdullah yakni Aisyah radhiallahu 'anha, berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ada sepasukan tentara yang hendak memerangi - menghancurkan - Ka'bah, kemudian setelah mereka berada di suatu padang dari tanah lapang lalu dibenamkan-dalam tanah tadi -dengan yang pertama sampai yang terakhir dari mereka semuanya."
Aisyah bertanya: "Saya berkata, wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedang di antara mereka itu ada yang ahli pasar - maksudnya para pedagang - serta ada pula orang yang tidak termasuk golongan mereka tadi - yakni tidak berniat ikut menggempur Ka'bah?"
Rasulullah s.a.w. menjawab: "Ya, semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan diba'ats - dibangkitkan dari masing-masing kuburnya - sesuai niat-niatnya sendiri - untuk diterapi dosa atau tidaknya.
Disepakati atas Hadis ini (Muttafaq 'alaih) - yakni disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim - Lafaz di atas adalah menurut Imam Bukhari.

Keterangan:
Sayidah Aisyah diberi gelar Ummul mu'minin, yakni ibunya sekalian orang mu'min sebab beliau adalah isteri Rasulullah s.a.w., jadi sudah sepatutnya. Beliau juga diberi nama ibu Abdullah oleh Nabi s.a.w., sebenarnya Abdullah itu bukan puteranya sendiri, tetapi putera saudarinya yang bernama Asma'. Jadi dengan Sayidah Aisyah, Abdullah itu adalah keponakannya. Adapun beliau ini sendiri tidak mempunyai seorang puterapun.
Dari uraian yang tersebut dalam Hadis ini, dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang yang shalih, jika berdiam di lingkungan suatu golongan yang selalu berkecimpung dalam kemaksiatan dan kemungkaran, maka apabila Allah Ta'ala mendatangkan azab atau siksa kepada kaum itu, orang shalih itupun pasti akan terkena pula. Jadi Hadis ini mengingatkan kita semua agar jangan sekali-kali bergaul dengan kaum yang ahli kemaksiatan, kemungkaran dan kezaliman.
Namun demikian perihal amal perbuatannya tentulah dinilai sesuai dengan niat yang terkandung dalam hati orang yang melakukannya itu.
Mengenai gelar Ummul mu'minin itu bukan hanya khusus diberikan kepada Sayidah Aisyah radhiallahu 'anha belaka, tetapi juga diberikan kepada para isteri Rasulullah s.a.w. yang lain-lain.

3. Dari Abu Abdillah yaitu Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiallahu'anhuma, berkata: Kita berada beserta Nabi s.a.w. dalam suatu peperangan - yaitu perang Tabuk - kemudian beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang engkau semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu -yakni sama-sama memperoleh pahala- mereka itu terhalang oleh sakit -maksudnya andaikata tidak sakit pasti ikut berperang-."
Dalam suatu riwayat dijelaskan: "Melainkan mereka -yang tertinggal itu- berserikat denganmu dalam hal pahalanya." (Riwayat Muslim)

Hadis sebagaimana di atas, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Kita kembali dari perang Tabuk beserta Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya ada beberapa kaum yang kita tinggalkan di Madinah, tiada menempuh lereng ataupun lembah, melainkan mereka itu bersama-sama dengan kita juga -jadi memperoleh pahala seperti yang berangkat untuk berperang itu- mereka itu terhalang oleh sesuatu keuzuran."

Maksudnya:
Sama-sama memperoleh pahala, meskipun tidak ikut berangkat. Hal ini disebabkan mereka tidak bisa ikut berangkat karena sakit. Andaikan mereka tidak sakit, tentu meraka akan ikut berangkat. Sehingga Allah tetap mencatat mereka (yang sakit) untuk memperoleh pahala yang sama, karena niat baik mereka.


Renungkanlah:

Jika Anda tekun beribadah itu untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, kekayaan dunia yang melimpah, dan Do'a yang selalu dikabulkan Allah, lalu apa bedanya dengan Iblis?

Iblis dulunya sangat tekun beribadah, hingga luar-biasa tekunnya, ia diangkat sebagai panglima para Malaikat ...
Namun karena ia tidak terima kepada Makhluq baru yang bernama Adam as, yang jelas2 ibadahnya jauuuh dibawah Iblis, namun malah dimuliakan oleh Allah ...
Hingga akhirnya Iblis dikutuk oleh Allah karena perbuatannya itu ...
Namun ingatlah, Allah tetap mengabulkan semua Do'a Iblis, walaupun Do'a itu untuk menyesatkan manusia, dan Allah tetap memberikan kedudukan yang tinggi kepadanya, diantara para setan dan para pembangkangNya, hingga hari Kiamat ...

Ingatlah, ibadah itu untuk mencari ridlo Allah, dan bukan untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, kekayaan dunia yang melimpah, ataupun Do'a yang selalu dikabulkan Allah ...!!!