Senin, 19 September 2016

Membunuh Seseorang itu adalah seperti Membunuh Manusia Seluruhnya

Bab: Membunuh Seseorang itu adalah seperti Membunuh Manusia Seluruhnya dan Memelihara Kehidupan seorang Manusia, maka Seolah-olah dia telah Memelihara Kehidupan Manusia semuanya

QS.5. Al Maa'idah:

مِنْ أَجْلِ ذٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىۤ إِسْرَٰءِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلأَْرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ أَحْيَـٰهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلّبَيِّنَـٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيراً مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى ٱلأَْرْضِ لَمُسْرِفُونَ

32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[membunuh orang bukan karena qishaash], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya [Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya]. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[sesudah kedatangan Rasul membawa keterangan yang nyata] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. 

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudaranya orang Muslim lainnya. Janganlah ia menganiayanya, jangan pula menyerahkannya kepada musuhnya. "Barangsiapa memberi pertolongan akan hajat saudaranya,  maka Allah selalu menolongnya dalam hajatnya. Dan barangsiapa memberi kelapangan kepada seseorang Muslim dari sesuatu kesusahan, maka Allah akan melapangkan orang itu dari sesuatu kesusahan dari sekian banyak kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi cela seseorang Muslim, maka Allah akan menutupi cela orang itu pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)


Bab: Bagaimanakah Sikap Kita, jika Ada seorang Muslim yang Mau Membunuh Kita? Dan Bagaimanakah Cara Menolong Mereka yang dizholimi ataupun yang Menzholimi? 

QS.5. Al Maa'idah:

وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَـٰناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الأَْخَرِ قَالَ لأََقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ

لَئِن بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَاْ بِبَاسِطٍ يَدِىَ إِلَيْكَ لأَِقْتُلَكَ إِنِّىۤ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!." Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." 

28. "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." 

Keterangan:
Ternyata Kita tidak boleh membalas membunuh (bahkan niat pun tidak boleh) terhadap saudara muslim yang hendak membunuh kita tanpa haq. Seperti dijelaskan pada ayat 28 diatas


Dari Abu Bakrah, yakni Nufai' bin Haris as-Tsaqafi r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Apabila dua orang Muslim berhadap-hadapan dengan membawa masing-masing pedangnya - dengan maksud ingin berbunuh-bunuhan - maka yang membunuh dan yang terbunuh itu semua masuk di dalam neraka." Saya bertanya: "Ini yang membunuh - patut masuk neraka -tetapi bagaimanakah halnya orang yang terbunuh - yakni mengapa ia masuk neraka pula?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "Karena sesungguhnya orang yang terbunuh itu juga ingin sekali hendak membunuh
kawannya." (Muttafaq 'alaih)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abi Bakr bin Anas dari Anas radliallahu 'anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "'Tolonglah saudaramu baik ia zhalim atau dizhalimi." Ada seorang laki-laki bertanya; 'ya Rasulullah, saya maklum jika ia dizhalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia zhalim? ' Nabi menjawab; "engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman, itulah cara menolongnya." (No. Hadist: 6438. dari Shahih Bukhari)

Rabu, 14 September 2016

Sebab-Sebab Yahudi Memusuhi Malaikat Jibril as.

QS.2. Al Baqarah:

قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

97. Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdullah bin Salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat berada di tempat peristirahatannya. Lalu ia menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: "Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?" Jawab Nabi SAW: "Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku." Kata Abdullah bin Salam: "Jibril?" Jawab Rasulullah SAW: "Ya." Kata Abdullah bin Salam: "Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi." Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah.
(Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Anas.)

Keterangan:
Menurut Syaikhul Islam al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbari: "Berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan (S. 2: 97) oleh Nabi ini, sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas. Dan inilah yang paling kuat. Di samping itu keterangan lain yang syah, bahwa turunnya ayat ini pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa Abdullah bin Salam."

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa serombongan kaum Yahudi telah datang menghadap Nabi SAW dan mereka berkata: "Hai abal Qasim! Kami akan menanyakan kepada tuan lima perkara. Apabila tuan memberitahukannya, maka tahulah kami bahwa tuan seorang Nabi." Selanjutnya hadits itu menyebutkan yang isinya antara lain bahwa mereka bertanya: 1. Apa yang diharamkan bani Israil atas dirinya, 2. tentang tanda-tanda kenabian, 3. tentang petir dan suaranya, 4. tentang bagaimana wanita dapat melahirkan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5. siapa sebenarnya yang memberi kabar dari langit. Dan dalam akhir hadits itu dikatakan mereka berkata: "Siapa sahabat tuan itu?" yang dijawab oleh Rasulullah SAW: "Jibril." Mereka berkata: "Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan dan siksaan? Itu musuh kami. Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman dan hujan, tentu lebih baik" Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa'i dari Bakr bin Syihab, dari Sa'id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada suatu hari Umar datang kepada Yahudi, yang ketika itu sedang membaca Taurat. Ia (Umar) kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur'an. Ketika itu lalulah Nabi SAW di hadapan mereka. Dan berkatalah Umar kepada Yahudi. "Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku ini dengan sungguh-sungguh dan jujur. Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?" Guru mereka menjawab: "Memang benar kami tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah." Umar berkata: "Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?" Mereka menjawab: "Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan "Jibril". Dialah musuh kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan." Umar bertanya: "Malaikat siapa yang biasa diutus kepada Nabimu?" Mereka menjawab: "Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat." Umar bertanya: "Bagaimana kedudukan mereka itu di sisi Tuhannya?" Mereka menjawab: "Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya." Umar berkata: "Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril. Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail dan Tuhan mereka akan berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepada Mereka. Dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada Mereka." Kemudian Umar mengejar Nabi SAW untuk menceriterakan hal itu. Tetapi sesampainya pada Nabi, Nabi SAW bersabda: "Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun kepadaku?" Umar menjawab: "Tentu saja ya Rasulullah." Kemudian beliau membaca: "Man kaana 'aduwwal li Jibrila fainnahu nazzalahu 'ala qalbika ......sampai al-kaafirin." Ayat tersebut di atas (S. 2: 97, 98). Umar bekata: "Ya Rasulullah! Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceriterakan apa yang kami percakapkan, tetapi rupanya Allah telah mendahului saya."
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, dalam musnadnya dan Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Syu'bi. Sanad ini shahih sampai as-Syu'bi, hanya as-Syu'bi tidak bertemu dengan Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber selain dari as-Syu'bi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari Umar yang kedua-duanya munqathi karena didalam satu sanad, jika gugur nama seorang raqi, lain dari Shahabi, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan, yakni gugurnya berselang. ) 3)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan Umar bin Khaththab: "Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasululllah) adalah musuh kami." Maka berkatalah Umar: "Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya." Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97, 98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan Umar.
(Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim yang bersumber dari Abdurrahman bin Laila. Sumber ini saling menguatkan dengan yang lainnya.)

Keterangan:
Menurut Ibnu Jarir sebab-sebab yang diceriterakan dalam hadits-hadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (S. 2. 97, 98).

Jumat, 02 September 2016

Puasa pada hari 'Arafah (disunnahkan)

Sekedar mengingatkan >>>

 Tidak ada hari-hari dimana amalan yang shaleh padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini. Yaitu,Sepuluh hari (Pertama Bulan Dzulhijjah). Para sahabat berkata, Wahai Rasulullah,tidak juga jihad dijalan Allah?, Beliau menjawab, Tidak juga jihad dijalan Allah, Kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dari Jihad itu dengan sesuatu apapun (Syahid).(HR.Al Bukhori)

Sesungguhnya telah disunnahkan bagi semua hamba Allah yg beriman (mukmin) yg tidak melakukan ibadah haji, untuk berpuasa pada saat saudara²nya melaksanakan wukuf di Arofah.
Terdapat beberapa keutamaan ketika melakukan puasa, pada saat saudara²nya melaksanakan wukuf di Arofah, yakni:

1.Diterima dari Abu Qatadah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Puasa pada hari 'Arafah, dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang. Dan puasa hari 'Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu ".(Diriwayatkan oleh jama'ah kecuali Bukhary dan Turmudzi)

2.Diterima dari Hafsah r.a, katanya :
"Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. : Puasa 'Asyura, puasa sepertiga bulan (yaitu bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari tiap bulan, dan sholat dua rakaat sebelum subuh ".(Riwayat Ahmad dan Nasa'i).

------------------------
Saat wukuf di Arofah adalah tgl 9 Dzulhijjah, Sehingga puasa hari Arofah adalah hari Minggu, 11 sept 2016

Keterangan:
Dalam hadits disebutkan kalau puasa yg dilakukan adalah pada hari arofah, dimana pada hari itu berkumpulnya semua muslimin yg berhaji di padang arofah, tidak melihat tanggal (secara lahiriah, Rasulullah SAW menyebut "shiyamu yaumi 'arofah" di shahih Tirmidzi) --> tidak tergantung tanggal qomariah dan tdk tergantung matlak/tempat suatu negara.
Sangat berbeda dng puasa di bulan Ramadlon/Idul Fitri yg dipatok pada "melihat hilal/shumu liruqyatihi" di shahih Tirmidzi, yg berarti tergantung tanggal qomariah atau harus melihat hilal (secara otomatis tergantung matlak/tempat suatu negara).
Wa Allahu 'Alam.

Kamis, 25 Agustus 2016

Disyari'atkannya Ibadah Qurban

Secara etimologi, Qurban berasal dari kata Qaruba yg berarti kedekatan. Secara terminologi adalah upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Tuhannya dng media penyembelihan ternak. Secara syar'iyah binatang ternak yg dipaparkan hadits adalah berupa domba/kambing, sapi dan unta.

Pengertian Qurban diberbagai referensi sering tidak dibedakan, sehingga timbul kerancuan. Padahal "penyembelihan ternak" dalam perspektif hadits setidaknya ada empat macam:
1. Penyembelihan ternak terkait dng pelaksanaan ibadah Haji, disebut "Al Hadyu".
2. Penyembelihan ternak terkait sanksi pelanggaran manasik Haji, disebut "Al Dam"
3. Penyembelihan ternak terkait merayakan hari raya Qurban, disebut "Udhiyah".
4. Penyembelihan ternak terkait tasyakkuran kelahiran anak, disebut "Aqiqah".

Pada keempat jenis penyembelihan tersebut mempunyai prosesi dan persyaratan yg berbeda.
Sebagai contoh:
> Tempat penyembelihan "Al Hadyu" dan "Al Dam" telah ditentukan, yakni ketika jamaah haji masih berada di Manhar (tempat penyembelihan Qurban) pada waktu tertentu. Dan tidak mungkin disembelih ditanah air, walaupun ada pemikiran lebih bermanfaat di sini, karena banyaknya yg miskin.
> Kalau "Udhiyah" boleh disembelih dimanapun kita berada dan pada waktu tertentu. Juga boleh untuk sekeluarga peruntukannya (lengkapnya silahkan baca keterangan dibawah), sangat berbeda dengan "Al Hadyu" dan "Al Dam" yang hanya diperbolehkan satu kambing/domba untuk satu orang saja.
> Sedangkan "Aqiqah" malah lebih luas lagi, yakni bisa disembelih dimanapun dan kapanpun kita berada.
>> Masalah yg berhak menerima (orangnya) dan "dalam keadaan mentah/matang pendistribusian dagingnya" pun berlainan.

Menurut Ulama Mazhab Syafi'i, daging qurban dan aqiqoh sama2 dibagikan kepada orang lain (maksudnya, distribusi daging bukan mereka yg mendatangi untuk mengambil daging qurban, namun pe-qurbanlah yg mengantarkan dagingnya kepada orang lain).
Dan bedanya, daging aqiqoh diberikan/didistribusikan setelah dimasak terlebih dahulu (dalam keadaan matang dan siap makan), sedangkan daging kurban di distribusikan dalam keadaan mentah.
Untuk undangan yg di rumah (acara tasyakuran aqiqah dirumah) hendaknya dihidangkan makanan selain dari sembelihan daging aqiqoh (misalnya: soto ayam dan semangka), sebab daging aqiqoh yg telah dimasak hendaknya dikirim/diantarkan (misal: dibungkus kotak/rantang) ke tetangga, sahabat, atau yg lainnya.

No. Hadist: 5123 dari KITAB SHAHIH BUKHARI

حَدَّثَنَا صَدَقَةُ أَخْبَرَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدْ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ يُشْتَهَى فِيهِ اللَّحْمُ وَذَكَرَ جِيرَانَهُ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ شَاتَيْ لَحْمٍ فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَلَا أَدْرِي بَلَغَتْ الرُّخْصَةُ مَنْ سِوَاهُ أَمْ لَا ثُمَّ انْكَفَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى كَبْشَيْنِ فَذَبَحَهُمَا وَقَامَ النَّاسُ إِلَى غُنَيْمَةٍ فَتَوَزَّعُوهَا أَوْ قَالَ فَتَجَزَّعُوهَا

Telah menceritakan kepada kami Shadaqah telah mengabarkan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Anas bin Malik dia berkata; pada hari raya kurban, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barangsiapa menyembelih binatang kurban sebelum shalat (ied), hendaknya ia mengulangi lagi (untuk Qurban)." Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri sambil bertanya; "Wahai Rasulullah, Sesungguhnya hari ini adalah hari di bagi-bagikannya daging kurban, -lalu ia menyebutkan sebagian para tetangganya- sementara aku hanya memiliki jad'ah (anak kambing yang belum genap berumur satu tahun atau belum kupak atau belum ada yg tanggal/copot salah satu gigi depannya) yang lebih banyak dagingnya daripada dua ekor kambing biasa." Maka beliau memberi keringanan kepadanya untuk berkurban dengan kambing tersebut, aku tidak tahu apakah keringanan tersebut juga untuk yang lain atau tidak. Setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pergi menuju dua ekor kambing dan menyembelihnya, lalu orang-orang pun pergi menuju sekumpulan kambing dan membagi-bagikannya."

Sedangkan hikmah disyari'atkannya ibadah qurban dapat dijelaskan sebagai berikut:
Banyak hikmah/ibroh yang dapat kita petik dari disyari'atkannya ibadah qurban, di antara hikmah yang telah disebutkan oleh para ulama adalah:
      1. Untuk mendekatkan diri hanya kepada Alloh, dan inilah hikmah qurban yang paling utama, sebagaimana firman-Nya;
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, sesungguhnya sholatku, penyembe­lihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Alloh semata Robbul 'alamin tiada sekutu bagi-Nya. (QS. al-An'am [6]: 162)
      1. Menghidupkan kembali sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام yang telah diperbaharui kembali oleh Nabi kita Mu­hammad صلي الله عليه وسلم.
      2. Memberi kelonggaran dalam perkara mubah untuk anggota keluarga dan menebarkan rahmat Alloh di muka bumi ini, karena hari-hari ini adalah hari-hari bahagia, menikmati berbagai makanan dan minuman dengan tetap ingat kepada Alloh.
      3. Sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba yang telah diberi kuasa memiliki dan mengalahkan bina­tang-binatang yang ada, sebagaimana firman-Nya:
كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Demikianlah kami jadikan buat kamu (binatang-binatang itu) tunduk supaya kamu mau bersyukur(QS.al-Haj[22]:36)

Bab:Hukum Berkurban dan Apakah Boleh Berkurban untuk Orang yg sudah Mati?
Berqurban hukumnya adalah sunnah muakkad (sangat2 dianjurkan menurut jumhur ulama, bahkan Nabi SAW. sendiri Tidak pernah meninggalkan untuk berkurban setiap tahun)) dan disyari'atkan bagi orang yang masih hidup yang mampu membeli atau memiliki binatang qurban, tidak disyari'atkan berqurban bagi orang yang sudah mati. Oleh karena itu tidak pernah Rosululloh صلي الله عليه وسلم berqurban dan diniatkan bagi orang yang telah mati se­cara tersendiri seperti istri-istrinya, anak-anaknya, pa­man-pamannya, dan para kerabatnya, hanya saja ketika berqurban, Rosululloh صلي الله عليه وسلم menyertakan keluarganya dalam niat qurbannya, dan bukan diniatkan untuk orang yang telah mati secara tersendiri.

Sebagaimana beliau pernah menyembelih binatang qurbannya dan mengucapkan;

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

"Dengan menyebut nama Alloh, dan Alloh maha Agung, ya Alloh (qurban) ini dariku dan orang-orang yang ti­dak berqurban dari umatku" (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi(Minhajul Muslim hlm.342), dan al-Albani mengatakan dalam Takhrij at-Thohawiyah: "Hadits ini shohih karena ada beberapa penguatnya.")

Bab:Sunnahnya Seseorang berqurban seekor kambing dengan mengikut sertakan Keluarganya
Sudah menjadi kebiasaan para sahabat dan para Salafus Sholih, setiap datang hari raya Idul Adhha, mereka menyembelih seekor kambing untuk dirinya beserta keluarganya, karena meneladani apa yang dicontohkan Rosululloh صلي الله عليه وسلم, hal ini ditunjukkan oleh sebuah hadits;

عَنْ أَبَا أَيُّوبَ كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

Dan Abu Ayub berkata: "Adalah seorang laki-laki pada zaman Rosululloh menyembelih seekor kambing un­tuk dirinya beserta keluarganya" (HR. Tirmidzi 1505, Ibnu Majah 3147, dan dishohihkan al-Albani  dalam Irwa' al-Gholil 1142)

Dari hadits di atas dipahami bahwa termasuk Sunnah apabila seorang berqurban seekor kambing hendaknya mengikut sertakan keluarganya untuk mendapatkan pahala qurbannya, sedangkan bersekutu atau patungan dua orang atau lebih untuk berqurban seekor kambing, maka tidak pernah ada pada zaman Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan sahabatnya, oleh karena itu perlu dibedakan antara me­nyertakan anggota keluarga untuk mendapat pahala (yang pernah diajarkan oleh Rosululloh صلي الله عليه وسلم dengan bersekutu dalam berqurban seekor kambing (yang tidak pernah ada contohnya)

Khusus hadits yg diriwayatkan oleh ibnu Majah:
Yahya bin Musa menceritakan kepadaku, Abu Bakar Al Hanafi menceritakan kepada kami, Dhahhak bin Utsman menceritakan kepada kami, Umarah bin Abdullah menceritakan kepadaku, ia berkata, "Aku mendengar Atha' bin Yasar berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari, 'Bagaimana pelaksanaan kurban pada masa hidup Rasulullah SAW?' ia menjawab, 'Saat itu, seseorang boleh berkurban dengan seekor kambing untuknya dan untuk seluruh keluarganya. Mereka memakan daging hewan kurban itu dan juga memberi makan (membagikan dagingnya ke orang lain), sampai manusia saling membanggakan diri —dengan kurban itu—, maka jadilah pelaksanaan kurban itu seperti yang kamu lihat sekarang'." Shahih: ibnu Majah (3147).

Hadits diatas lebih jelas menunjukkan bolehnya seseorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan untuk seluruh keluarganya, jadi tidak perlu bergantian dalam berkurban, misal: tahun ini suami, tahun depan istri, thn depannya lagi anak dst. Hal seperti ini tidak perlu dilakukan, karena berkurban dengan seekor kambing saja sudah cukup untuknya dan untuk seluruh keluarganya.

Bab:Berapa Bagiankah Daging Kurban yg Boleh dimakan sendiri?
Dalam qaul qadim dari Imam syafi'i, daging kurban yg dimakan sendiri dan dibagikan kepada orang lain prosentasenya adalah 50:50, namun dalam qaul jadidnya, Imam Syafi'i menyebutkan maksimal yg boleh dimakan sendiri dari hewan kurbannya adalah 1/3 nya saja.

Bab:Syarat Sahnya binatang Qurban
Ada beberapa perkara yang menjadi syarat sahnya binatang yang akan dijadikan binatang qurban, di an­taranya;
  1. Hendaknya binatang yang diqurbankan adalah onta, sapi atau kambing, sebagaimana yang kami jelaskan di atas, hal ini didasari oleh firman Alloh:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
Dan tiap- tiap umat kami syari'atkan penyembelihan (qurban) supaya mereka mengingat nama Alloh ter­hadap binatang ternak yang telah direzekikan kepada mereka. (QS. al-Haj [22]: 34)

Adapun selain onta, sapi dan kambing (seperti kuda, kijang dan lainnya) maka tidak termasuk binatang piaraan dalam istilah bahasa Arab, oleh karena itu tidak sah berqurban dengan selain tiga binatang di atas walaupun binatang itu lebih mahal harganya.
  1. Binatang yang diqurbankan sudah mencapai umur yang ditentukan secara syar'i.
Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلمyang ber­kata:

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

"Janganlah kamu menyembelih qurban kecuali musinnah, kecuali kamu kesulitan, maka boleh kamu me­nyembelih domba jadha'ah" (HR. Muslim 2797)

Musinnah atau biasa disebut dengan istilah tsaniyyah adalah setiap binatang piaraan (onta, sapi atau kambing) yang telah gugur salah satu gigi depannya yang berjumlah empat (dua di bagian atas dan dua di bagian bawah).
Adapun dikatakan onta yang musinnah biasanya onta tersebut telah berumur tahun sempurna, dise­but sapi yang musinnah biasanya sapi tersebut telah berumur tahun sempurna, dan disebut kambing yang musinnah biasanya kambing tersebut berumur satu tahun sempurna. Sedangkan Domba jadha'ah yaitu domba yang belum genap berumur satu ta­hun.
Dari perincian di atas menjadi jelas bahwasanya ti­dak sah berqurban dengan onta, sapi atau kambing yang belum mencapai umur masing-masing yang telah ditentukan, kecuali apabila tidak memiliki  yang musinnah, maka boleh berqurban dengan yang  di bawah musinnah
  1. Binatang yang diqurbankan tidak boleh cacat atau  berpenyakit yang parah.        
Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi dalam hadits

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ مَاذَا يُتَّقَيْ مِنْ الْضَحَايَا؟ فَأَشَارَ بِيَدِهِ فَقَالَ أَرْبَعًا الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي

Dari Baro' bin Azib, bahwasanya Rosululloh pernah ditanya tentang binatang qurban yang harus dihindari. Maka beliau mengisyaratkan dengan tan gannya sambil mengatakan: "Ada empat (yang harus dihindari), yaitu pincang yang benar-benar jelas pincangnya, buta sebelah yang jelas-jelas butanya, sakit yang jelas-jelas sakitnya, dan lemah atau kurus yang jelas-jelas lemah atau kurusnya. ( HR. Abu Dawud 2802, Tirmidzi 1541, Nasa'i 7/214, Ibnu Majah 3144, dan dishohihkan al-Albani dalam Misykat al Mashobih 1465)
Hadits di atas menjelaskan kepada kita beberapa kriteria yang harus dihindari dari binatang qurban, di antaranya
  • Apabila pincang yang terlihat jelas pincangnya yaitu apabila berjalan tidak seimbang
  • Apabila sebelah matanya benar-benar buta, bukan sekedar juling
  • Apabila sakit dengan sakit yang benar-benar mem pengaruhi keseimbangan badan binatang tersebut, sehingga dia tampak lemah disebabkan oleh penyakit tersebut, seperti luka yang parah, kudis yang parah, atau penyakit yang lain yang mengakibatkan binatang tersebut tidak mau makan dan badannya menjadi lemah
  • Lemah atau kurus, atau biasa disebut kering yang tidak lagi bersumsum, dan binatang yang lemah seperti ini faktor penyebab yang dominan adalah karena umurnya tua. Binatang seperti ini selain lemah dan dagingnya juga sudah tidak enak rasanya seperti binatang lainnya yang sehat, juga binatang seperti ini tidak sedap dipandang , oleh karena itu Nabi صلي الله عليه وسلم melarang berqurban dengan binatang seperti ini
  • Demikian juga cacat atau penyakit semisal disebutkan dalam hadits Baro' bin Azib atau yang lebih parah dari semua yang disebutkan, maka hukumnya sama. Suatu contoh binatang yang buta ke dua matanya, maka tidak boleh diqurbankan, wa laupun dalam hadits hanya disebutkan yang buta sebelah matanya, binatang yang putus salah satu kakinya atau lebih dari satu kakinya yang terputus maka tidak boleh diqurbankan walaupun dalam hadits hanya disebutkan pincang, ini semua karena berlaku hukum qiyas bahkan termasuk qiya aulawi (penyamaan hukum yang lebih utama).
Hendaknya disembelih binatang qurban itu pada waktu yang ditentukan, yaitu dimulai setelah pelaksanaan sholat Idul Adhha sampai akhir hari Tasyrik baik malam hari atau siang hari, sehingga jumlah hari menyembelih adalah empat hari penuh, hari pertama adalah tanggal 10 Dzul Hijjah, diteruskan tanggal 11, 12, dan diakhiri ketika tenggelamnya matahari tanggal 13 Dzul Hijjah! Maka barangsiapa yang menyembelih binatang qurbannya sebelum pelaksanaan sholat Idul Adhha atau setelah tenggelam matahari tanggal 13 Dzul Hijjah maka sembelihannya bukan qurban tetapi dianggap daging biasa, sebagaimana hadits-hadits di atas

Bagi seseorang yang ingin berqurban hendaknya memilih hewan qurban yang paling afdhol dengan kriteria binatang qurban yang gemuk, bertanduk, sempurna badannya, dan menyenangkan apabila dipandang, hal ini lantaran Nabi صلي الله عليه وسلم memilih hewan qurban yang paling afdhol sebagaimana dalam beberapa hadits seperti:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالك أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحَّي بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم menyembelih Qurban dua ekor kibas yang bertanduk lagi berwarna bagus (HR. Bukhori 1626, dan Muslim dalam kitab al-Adhoni 17-18)

Berkata Ibnu Utsaimin: "Kibas adalah jenis kambing yang berbadan besar."
Para ulama beristimbath dari hadits ini bahwa bina­tang qurban yang paling afdhol adalah kibas yang ber­tanduk dan berwarna bagus.
Adapun binatang qurban yang tidak bertanduk, maka tetap dibolehkan karena para ulama hanya ber­sepakat disunnahkan hewan qurban yang bertanduk dan tidak diwajibkan.
Sedangkan أَمْلَحَيْنِ (keduanya berwarna bagus), ini menunjukkan warna binatang qurban yang bagus/in­dah.
Siddiq Hasan Khon mengatakan أَمْلَحُ (berwarna ba­gus) maksudnya adalah berwarna putih sempurna, ada yang mengatakan berwarna putih bercampur sedikit warna hitam, ada yang mengatakan putih bercampur sedikit warna merah, ada juga yang mengatakan warna putihnya lebih dominan dibanding hitamnya.

Dalam hadits yang lain disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُضَحِّي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّي بِكَبْشٍ أَقْرَنَ فَحِيلٍ يَنْظُرُ فِي سَوَادٍ وَيَأْكُلُ فِي سَوَادٍ وَيَمْشِي فِي سَوَادٍ

Dari Abu Said beliau berkata: "Adalah Rosululloh berqurban dengan kibas yang bertanduk, yang nampak jelas kejantanannya, (kibas itu) melihat dengan (mata yang) hitam, makan dengan ( mulut yang hitam, dan berjalan dengan (kaki yang) hitam" (HR. Abu Dawud 3/95, Ibnu Majah 2/1046, Nasa'i 7/220, dan dishohihkan al-Albani dalam Sunan Abi Dawud 2796)
Imam Nawawi mengatakan: "Maksud dari per­kataan melihat dengan mata yang hitam...., maksudnya adalah (kibas itu warnanya putih) tetapi mulut, mata, dan ujung-ujung kakinya berwarna hitam".

Bab:Disyari'atkan untuk Tidak Memotong rambut, kuku dan kulitnya, hingga hari penyembelihan
Disyari'atkan bagi seorang yang hendak berqurban apabila datang bulan Dzul Hijjah untuk tidak memotong atau mengambil sedikitpun dari rambut, kuku dan kulitnya, sehingga dia telah menyembelih qurbannya, sebagaimana sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلم;

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذُنَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَرِهِ شَيْئًا حَتَّي يُضَحِّيَ

Apabila masuk sepuluh hari (awal bulan Dzul Hijjah), lalu di antara kamu hendak berqurban, maka sungguh janganlah mengambil/ memotong rambut, dan kukunya sedikitpun sampai benar-benar dia menyembelih (qur­bannya) (HR. Muslim 1566)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memotong atau mengambil rambut dan kukunya bagi orang yang hendak berqurban sebelum menyembelih qurbannya, Sebagian ulama berpendapat makruh, akan tetapi pendapat yang lebih dekat kepada dalil adalah yang mengharamkannya. Ini didasari oleh asal hukum larangan adalah haram selama tidak terdapat dalil lain yang memalingkannya dan dalam masalah ini tidak terdapat dalil lain yang memalingkan asal hukum ini, ditambah lagi Rosululloh melarang dengan tam­bahan huruf نّ (nun ditasydid yang berfungsi sebagai penguat) pada kata فَلَا يَأْخُذُنَّ (maka sungguh janganlah mengambil/memotong)

Bab:Bersekutu dalam Berkurban (dng orang lain atau bukan anggota keluarganya)
Khusus binatang sapi atau onta, maka dibolehkan bersekutu maksimal tujuh orang beserta keluarga masing-masing, hal ini didasari oleh sebuah hadits;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَذْبَحُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْجَزُورَ عَنْ سَبْعَةٍ نَشْتَرِكُ فِيهِ

Dari Jabir berkata: "Pada zaman Rosululloh صلي الله عليه وسلم kami menyembelih sapi untuk tujuh orang, dan onta untuk tujuh orang, kami bersekutu di dalamnya." (HR. Muslim 1318)

Dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa ber­sekutu lebih dari seorang untuk berqurban kambing dan bersekutu lebih dari tujuh orang untuk berqurban sapi atau onta tidaklah diperkenankan, hal ini karena beberapa alasan, di antaranya;
  1. Perbuatan itu tidak terdapat keterangan/dalil dalam al-Qur'an dan as-Sunnah.
  2. Barang siapa mengadakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Alloh سبحانه و تعاليdan Rosul-Nya, maka ibadah tersebut ditolak, sebagaimana dalam HR. Muslim 1718.
  3. Sebagian bentuk ibadah tata-caranya tidak ditentu­kan oleh pembuat syariat (seperti anjuran shilaturohmi, birrul walidain, dan sebagainya), maka siapa saja boleh melaksanakan ibadah jenis ini sesuai dengan kebiasaan yang berjalan asalkan tidak menyelisihi syariat, sedangkan ibadah yang tata-caranya sudah ditentukan oleh pembuat syariat, dan berqurban adalah termasuk ibadah yang telah ditentukan tata-caranya sehingga tidak boleh siapa pun menyelisihi tata-caranya.
  4. Belum pernah terjadi pada zaman Rosululloh dan para salafus sholih berqurban dengan cara di atas, dan seandainya hal itu baik atau seandainya  perbuatan ini mendidik, maka mereka pasti lebih dahulu mengamalkannya, karena mereka adalah generasi terbaik di muka bumi ini, dan mereka tidak akan menyia-nyiakan satu kesempatan pun apabila hal itu baik dan dibolehkan
Bab:Disunnahkan bagi orang yang berqurban untuk Menyembelih Qurbannya Sendiri (tidak diwakilkan)
Disunnahkan bagi orang yang hendak berqurban untuk menyembelih qurbannya sendiri (tidak diwakil­kan), hal ini karena Rosululloh صلي الله عليه وسلم menyembelih de­ngan tangannya sendiri ketika berqurban, sebagaimana dalam sebuah hadits;

عَنْ أَنَسِ قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

Dari Anas bin Malik (berkata): "Rosululloh صلي الله عليه وسلم menyem­belih dua ekor kambing kibas yang bagus warnanya, dan keduanya bertanduk, beliau menyembelih sendiri dengan tangannya, beliau membaca basmalah dan bertakbir. (HR. Bukhori 5565, dan Muslim 1966)

Namun apabila ada suatu kebutuhan, sehingga dia harus mewakilkan penyembelihan kepada orang lain, maka hal itu dibolehkan (asalkan si pe-qurban tersebut menyaksikan penyembelihan hewan qurbannya, namun apabila tetap tidak bisa, maka tidaklah mengapa). Oleh karena itu ketika Rosu­lulloh صلي الله عليه وسلم mempersembahkan 100 ekor onta ke Makkah untuk diqurbankan, beliau menyembelih dengan tangan­nya sendiri sebanyak 63 ekor ontanya, kemudian beliau memerintahkan Ali bin Abi Tholib melanjutkan penyembelihan sisa ontanya, sebagaimana dalam HR. Bukhori 1557, dan Muslim 1210.


ADAB-ADAB MENYEMBELIH BINATANG
  1. Hendaknya binatang qurban dihadapkan ke kiblat, dikarenakan kiblat adalah arah yang paling mulia.
  2. Apabila yang disembelih adalah onta, maka disunnahkan onta tersebut disembelih dalam keadaan berdiri, sebagaimana dalam sebuah hadits: 
عَنِ ابْنَ عُمَرَ أَنَّهُ أَتَى عَلَى رَجُلٍ قَدْ أَنَاخَ بَدَنَتَهُ يَنْحَرُهَا فَقَالَ ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً سُنَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Umar bahwasanya dia datang kepada orang yang sedang membaringkan ontanya untuk disembelih, maka dia berkata: "Biarkan onta itu (disembelih) berdiri dalam keadaan diikat, ini adalah Sunnah Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم." (HR. Bukhori 1/430, dan Muslim 4/89)
  1. Sedangkan sapi atau kambing, maka disunnahkan untuk dibaringkan ketika menyembelihnya, sebagai­mana yang dilakukan Rosululloh صلي الله عليه وسلم setelah siap dengan pisau yang tajam, sebagaimana Aisyah رضي الله عنها berkata menerangkan apa yang dilakukan Rosu­lulloh صلي الله عليه وسلم:
فَأَضْجَعَهُ وَذَبَـحَهُ

Kemudian Nabi membaringkan (kambingnya), dan menyembelihnya. (HR. Muslim kitab al-Adhohi 19)
  1. Diharuskan ketika hendak menyembelih membaca basmalah, dan disunnahkan setelahnya untuk ber­takbir. Adapun kewajiban membaca basmalah maka sebagaimana perintah Alloh dalam al-Quran yang artinya: "Janganlah kamu makan sembelihan yang tidak disebut nama Alloh atasnya." (QS. al-An'am: 121) Sedangkan disunnahkan mengucapkan Al-lohu Akbar, maka berdasarkan hadits dari Anas bin Malik beliau mengatakan: "Bahwa Rosululloh صلي الله عليه وسلم apabila menyembelih qurban, beliau mengucapkan;
بِسْمِ اللهِ والله أَكْبَر
"Bismillah wallohu Akbar." (HR. Muslim kitab al-Ad­hohi 17-18)
  1. Disunnahkan ketika menyembelih untuk berdoa supaya qurbannya diterima oleh Alloh سبحانه و تعاليsebagai­mana Rosululloh صلي الله عليه وسلم mengucapkannya ketika me­nyembelih;
بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ
"Bismillah, Ya Alloh terimalah (qurban ini) dari Mu­hammad, dari keluarga Muhammad, dan dari umat­nya Muhammad" lalu beliau menyembelih. (HR. Muslim kitab al-Adhohi 19 dari jalan Aisyah)
  1. Memotong dengan cepat urat leher binatang qur­ban dengan alat yang sudah diasah dengan baik dan tajam, karena demikianlah cara menyembelih yang terbaik, dan Rosululloh صلي الله عليه وسلمmemerintahkan untuk melakukan penyembelihan sebaik mungkin, sebagaimana sabdanya; 
إِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Apabila kamu menyembelih, maka baguskanlah penyembelihannya, hendaklah diasah alat untuk menyembelihnya, dan hendaknya binatang yang disembelih disegerakan. (HR. Muslim 1955)
  1. Alat yang digunakan harus tajam dan dapat men­galirkan darah dengan ketajamannya, sehingga bi­natang tersebut mati karena dialirkan darahnya, baik alat itu dari besi, batu, kayu (bambu) atau yang lainnya selama bukan gigi dan bukan kuku, sebagai­mana sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلم
عَنْ رَافِعِ بْنِ خُدَيْجِ مَرْفُعًا مَ أُنْهِرَ الدَّمُ فَكُلْ لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ
Dari Rofi' bin Khodij (hadits ini sampai kepada Rosu­lulloh صلي الله عليه وسلم) beliau berkata: "Binatang yang dialirkan darahnya (dengan alat yang tajam), maka makanlah, asalkan bukan dengan gigi dan kuku" (HR. Bukhori 2/110-111, dan Muslim 6/78)
  1. Tidak mengasah alat untuk menyembelih di hadap­an binatang yang hendak disembelih, sebagaimana dalam sebuah hadits;
عَنِ ابْنَ عُمَرَ  قَالَ أَمَرَ رضي الله عنهما النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ وَأَنْ تُوَارَى عَنْ الْبَهَائِمِ
Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: "Rosululloh صلي الله عليه وسلم memerintahkan untuk diasah alat menyembelih, dan tidak diperlihatkan kepada binatang-binatang" (HR. Ahmad 2/108, Ibnu Majah 3172, dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih at-Targhib wat-Tarhib 1091)



Demikianlah tata-cara berqurban menurut al-Qur'an dan Sunnah, tidak selayaknya sebagai umat Is­lam untuk mencari tuntunan yang lain atau membuat-buat cara yang tidak pernah diajarkan oleh teladan kita Rosulullohصلي الله عليه وسلمsemoga kita menjadi hamba Alloh سبحانه و تعالي yang jujur ikhlas dan selalu berkomitmen dalam segala bentuk ibadah yang telah di syari'atkan

Senin, 22 Agustus 2016

Haramnya menerima Hadiah, bagi pemungut Pajak/Zakat

Hadis riwayat Abu Humaid As-Saidi Radhiyallahu抋nhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menugaskan seorang lelaki dari suku Asad yang bernama Ibnu Lutbiah Amru serta Ibnu Abu Umar untuk memungut zakat. Ketika telah tiba kembali, ia berkata: Inilah pungutan zakat itu aku serahkan kepadamu, sedangkan ini untukku yang dihadiahkan kepadaku. Lalu berdirilah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam di atas mimbar kemudian memanjatkan pujian kepada Allah, selanjutnya beliau bersabda: Apakah yang terjadi dengan seorang petugas yang aku utus kemudian dia kembali dengan mengatakan: Ini aku serahkan kepadamu dan ini dihadiahkan kepadaku! Apakah dia tidak duduk saja di rumah bapak atau ibunya sehingga dia bisa melihat apakah dia akan diberikan hadiah atau tidak. Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad berada dalam tangan-Nya! Tidak seorang pun dari kamu yang mengambil sebagian dari hadiah itu, kecuali pada hari kiamat dia akan datang membawanya dengan seekor unta yang melenguh di lehernya yang akan mengangkutnya atau seekor sapi yang juga melenguh atau seekor kambing yang mengembek. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami dapat melihat warna putih ketiaknya. Kemudian beliau bersabda: Ya Allah, bukankah telah aku sampaikan. Beliau mengulangi dua kali. (Shahih Muslim No.3413)

Keterangan:
Adalah suatu hukuman yg menghinakan kelak di akherat (orang itu dihukum dng mengangkut/membawa hewan ternak unta/ kambing dilehernya, yg tentunya terasa berat dan menyiksa juga menghinakan -yakni, kambing menaiki manusia-
---> yg juga perlu ditekankan disini, menerima hadiah saja haram, apalagi manipulasi pajak? tentunya akan mendapatkan dosa yg jauh lebih besar daripada hanya sekedar menerima "hadiah" ...

Senin, 15 Agustus 2016

Tanda-tanda Kecintaan Allah Kepada Seseorang Hamba (Siapakah Waliullah itu?)

QS.3. Ali 'Imran:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS.5. Al Maa'idah:

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلاَ يَخَـٰفُونَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. 

Dari Abu 'Amr, ada yang mengatakan namanya Abu 'Amrah, Sufyan bin Abdullah r.a., katanya: "Saya bertanya: Ya Rasulullah, katakanlah padaku dalam Islam tentang suatu ucapan yang saya tidak akan menanyakan lagi pada seseorang selain Tuan." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Katakanlah, saya beriman kepada Allah kemudian bertindak luruslah* -berpegang teguhlah pada kebenaran." (Riwayat Muslim)
Maksudnya bertindak lurus itu ialah:
Kalau kita telah mengaku beriman pada Allah, hendaklah kita jangan segan berlaku yang benar dan jujur, misalnya benar-benar memperjuangkan cita-cita Islam. Maka jangan hanya menamakan dirinya itu seorang Muslim sekedar hanya pengakuan kosong belaka, tetapi berlakulah yang benar sebagai seorang Muslim sejati.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia akan Kuperangi -Kumusuhi-. Tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan melakukan hal-hal yang sunnah, sehingga akhirnya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang ia pakai untuk mendengarkan, Akulah matanya yang ia pakai untuk melihat, Akulah tangannya yang ia pakai untuk mengambil dan Aku pulalah kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Jikalau ia meminta sesuatu padaKu, pasti Kuberi dan jikalau ia mohon perlindungan padaKu, pasti Kulindungi." (Hadits Riwayat Imam Bukhari)
Makna lafaz Aadzantuhu artinya: "Aku (Tuhan) memberitahukan kepadanya (yakni orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahwa Aku memerangi atau memusuhinya, sedang lafaz Ista'aadzanii, artinya "Ia memohonkan perlindungan padaKu." Ada yang meriwayatkan dengan ba', lalu berbunyi Ista-aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu berbunyi Ista-aadzanii.
Keterangan:
Namanya Hadis Qudsi yakni yang menyatakan firman-firman Allah selain yang tercantum dalam al Quran. Dalam Hadis ini dijelaskan betapa tingginya darajat seseorang itu apabila telah diakui sebagai kekasih oleh Allah Ta'ala atau yang lazim disebut Waliullah. Banyak orang yang salah pengertian perihal siapa yang dapat disebut Waliullah itu.
Sebagian ada yang mengatakan bahwa Waliullah ialah semacam dukun yang dapat menyembuhkan beberapa orang sakit atau yang dapat menerka nasib seseorang dikemudian harinya, atau orang yang tidak mudah ditemui karena selalu menghilang-hilang saja dan siapa yang ditemui olehnya adalah orang yang bahagia.
Ada pula yg mengatakan bahwa Waliullah itu bisa merubah batu menjadi emas dan bisa pula terbang, ataupun dapat berjalan diatas air. Bahkan yg keterlaluan, ada yang mengatakan bahwa waliullah itu boleh meminum minuman yg memabukkan, boleh menikahi lebih dari 4 wanita, dan tidak perlu lagi Sholat fardlu di Masjid juga tidak usah berpuasa (dibulan Romadlon) sebab sudah menjadi kekasih Allah.

Persangkaan sebagaimana di atas itu tidak benar, sebab memang tidaklah demikian sifat dari waliullah.
Maka yang lebih dulu perlu kita ketahui ialah: Siapakah yang sebenarnya dapat disebut waliullah atau kekasih Allah itu? Jawabnya:
QS.10. Yunus:

أَلاۤ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

63. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu berTAKWA.

لَهُمُ ٱلْبُشْرَىٰ فِي ٱلْحَيوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلأَْخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ ٱللَّهِ ذٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

64. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. 

Atau dng kata lain:
"Sesungguhnya Tidak ada yang dianggap sebagai kekasih Allah, melainkan bagi orang-orang yang bertaqwa kepadaNya, dengan sebenar-benar taqwa, sehingga ia mencintai Allah dan dicintai Allah. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati."
Alangkah ringkasnya pengertian waliullah itu, tetapi benar-benar dapat menyeluruhi semua keadaan.
Kalau ada pengertian waliullah selain yang difirmankan oleh Allah sendiri itu, jelaslah bahwa itu hanyalah penafsiran manusia sendiri dan tidak berdasarkan kepada agama sama sekali. Waliullah yang berupa orang-orang yang bertaqwa kepada Allah itulah yang dijamin oleh Allah akan mendapatkan perlindungan dan penjagaanNya selalu dan siapa saja yang hendak memusuhinya, pasti akan ditumpas oleh Allah, sebab Allah sendiri menyatakan permusuhan terhadap orang tadi.
Jika ia bertakwa sehingga menjadi kekasih Allah (Waliullah), tentu ia akan mengikuti perbuatan, tindakan, dan perkataan Nabi Muhammad SAW., dimana beliau sebagai seorang Nabiullah -tentunya lebih dari sekedar Waliullah-, tetap mendirikan Sholat Fardlu -berjamaah di Masjid-, Zakat, Puasa, dan Berhaji di Baitullah, Makkah.
Pernahkah Nabi Muhammad SAW. meninggalkan Sholat fardlu berjamaah di Masjid, juga meninggalkan ibadah lainnya? Subhanallah, Tentu Tidak Pernah, bahkan beliau termasuk yg terbaik ibadahnya, tidak satupun dari kita yg sanggup menyamai ibadah Nabi Muhammad SAW.
Sesungguhnya, Allah telah berfirman dalam Al Qur'an mengenai betapa pentingnya sholat:
QS.5. Al Maa'idah:

وَإِذَا نَـٰدَيْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ٱتَّخَذُوهَا هُزُواً وَلَعِباً ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْقِلُونَ

58. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.

Keterangan: Kalau Allah saja sangat menekankan Sholat dan RasulNya pun telah memberikan contoh, dng selalu sholat fardlu berjamaah di Masjid, maka, apakah seorang Waliullah yg hanya manusia biasa, dng derajat dibawah Nabi, akan meremehkannya? 

QS.2. Al Baqarah:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلوٰةَ وَآتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُواْ مَعَ ٱلرَّاكِعِينَ

43. "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[perintah mendirikan shalat fardlu berjama'ah dan menunaikan zakat, atau dapat pula diartikan: Tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk]."

Sekarang bagaimanakah taraf pertamanya supaya kita dikasihi oleh Allah?
Jawabnya: Mendekatkan (bertaqarrublah) kepada Allah dengan melakukan segala apa-apa yang telah difardhukan (diwajibkan). Inilah cara taqarrub yang sebaik-baiknya dalam taraf permulaan.
Kemudian sempurnakanlah taqarrub kepada Allah Ta'ala itu dengan jalan melakukan hal-hal yang sunnah-sunnah. Segala yg sunnah, seperti yg dicontohkan dan dikatakan Rasulullah SAW. ia perhatikan, ia jalankan dengan ikhlas penuh keridloan. Ia melakukannya karena ia memang mencintai Allah dan RasulNya (lebih dari cintanya terhadap dirinya sendiri, orang tua, keluarga atau yg lainnya). Kalau ini telah dilaksanakan, pastilah Allah akan menyatakan kecintaanNya.
Selanjutnya, apabila seseorang itu telah benar-benar bertaqarrub kepada Allah dan Allah sudah mencintainya, maka baik pendengarannya, penglihatannya, tindakan tangan dan kakinya semuanya selalu mendapatkan petunjuk dari Allah, selalu diberi bimbingan dan hidayah serta pertolongan oleh Allah. Bahkan Allah menjanjikan kalau orang itu meminta apa saja, pasti dikabulkanNya, mohon perlindungan dari apa saja, pasti dilindungiNya. Dengan demikian, maka seringkali timbullah beberapa macam karomah dengan izin Allah.
Karomah ialah sesuatu yang tampak luar biasa di mata umum yang dapat dilakukan oleh seseorang waliullah itu, semata-mata sebagai suatu kemuliaan atau penghargaan yang dikurniakan oleh Allah kepadanya. Tetapi ingatlah bahwa tidak seorang waliullah pun yang dapat mengetahui bahwa dirinya itu menjadi waliullah. Kalau seseorang sudah mengatakan sendiri bahwa dirinya itu waliullah, jelaslah bahwa ia telah tertipu oleh anggapan atau persangkaannya sendiri dan sudah pasti ia telah tertipu oleh ajakan syaitan yang menyesatkan.
Selain itu, bagaimana juga hal-ihwal dan keadaan seseorang waliullah itu, pasti ia tidak dapat mengetahui hal-hal yang ghaib, misalnya mengetahui apa yang tersimpan dalam hati orang lain, mengetahui nasib orang di kemudian harinya, kaya miskinnya dll.

Dalam al-Quran, Allah berfirman:
QS.72. Al Jin:

عَـٰلِمُ ٱلْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَداً

26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu[secara terang-terangan, kecuali kepada hamba yang dipilih olehNya -inipun tdk semuanya yg ghaib itu diperlihatkanNya-].

Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan seseorang untuk memimpin sepasukan tentara ke medan peperangan. Orang itu suka benar membaca untuk kawan-kawannya dalam shalat mereka dengan Qulhu Wallahu Ahad (QS. Al Ikhlash) sebagai penghabisan bacaannya. Setelah mereka kembali, hal itu mereka sampaikan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda: "Coba tanyakanlah pada orang itu, mengapa melakukan yang semacam itu?" Mereka sama bertanya padanya, kemudian orang itu menjawab: "Sebab itu adalah sifatnya Allah yang Maha Penyayang, maka dari itu saya senang sekali membacanya." Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w. -setelah diberitahu jawaban orang itu-: "Beritahukanlah padanya bahwasanya Allah Ta'ala mencintainya."
(Muttafaq 'alaih)

Dari Anas r.a., berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hambaNya[untuk menjadi kekasihNya], maka ia mempercepatkan suatu siksaan -penderitaan- sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada se-seorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan sajalah dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan -siksaannya- hari kiamat."
Dan Nabi s.a.w. bersabda - juga riwayat Anas r.a.: "Sesungguhnya besarnya balasan -pahala- itu menilik besarnya bala' yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela -menerima bala' tadi-, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang uring-uringan maka ia memperoleh kemurkaan Allah pula." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini Hadis hasan.

Senin, 08 Agustus 2016

Tidak semua Perbuatan amal yang saleh itu di ridloi Allah

QS.46. Al Ahqaaf:

وَوَصَّيْنَا ٱلإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَـٰلُهُ ثَلاَثُونَ شَهْراً حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىۤ أَنْ أَشكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىۤ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحاً تَرْضَـٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىۤ إِنَّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." 

QS.2.Al-Baqarah:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil ....


Tidak semua amal sholeh yg dilakukan anak Adam itu diridloi Allah. Hal ini dikarenakan:
1. Beramal sholeh, misal, menyantuni anak yatim, namun menggunakan uang haram, uang korupsi atau hasil curian.
2. Beramal Sholeh, namun bukan karena Allah. Misal karena ingin dipuji orang lain atau karena mertua.
3. Beramal soleh, namun disertai kata-kata yg menyakitkan bagi sipenerima.
4. Beramal sholeh namun kemudian mengungkit-ungkit kebaikan yg telah dilakukan (menyebut kebaikannya).
5. Beramal sholeh disertai syarat yg dilarang/diharamkan oleh Allah. Misal: beramal supaya dapat berzina.

Kebaikan yg diridloi Allah akan sampai dan diteruskan bahkan dilipat-gandakan hingga tak terbatas dan diwariskan ke anak cucu kita.

Senin, 01 Agustus 2016

Jangan Mengeluh

Ahhh, kok enak ya, kerja dikit dapat duitnya banyak, aku aja yg kerjanya lebih berat dapatnya malah sedikit ...
Sudah susah² ke sana, eh malah dapatnya lebih mahal ...
Kenapa sih kok jadinya seperti ini, padahal sudah susah² ngerjainnya ...
Hidup kok seperti ini, susah, ruwet, gak seperti jaman dulu, enak dan nyaman ...
Kenapa ya kok hidup seperti ini, tidak seperti sifulan yg enak hidupnya, sudah kaya, punya segalanya, jadi pejabat tinggi pula ...

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: Seorang anak Adam mencaci-maki masa padahal Akulah masa, siang dan malam hari ada di tangan-Ku. (Shahih Muslim No.4165)

Seringkali kita mendengar keluhan² disekitar kita ...
Baik keluhan yang kita lontarkan atau keluhan yang kita dengar dari seseorang ...
Keluhan memang wajar kita dengar, namun apakah menjadi wajar bagi seorang mukmin?

Keluhan atau keluh kesah adalah suatu ungkapan hati yang tidak puas atau tidak ridlo terhadap suatu peristiwa atau nasib yang menimpanya ...
Suatu peristiwa atau nasib yang tidak diinginkan terjadi pada kita, namun kenyataannya malah menimpa kita ...
Apakah keluh-kesah seperti ini baik bagi kita?
Tidakkah kita tahu, kalau sebenarnya semua hamba²Nya yang beriman pasti mendapatkan cobaan?
Semakin tinggi tingkat keimanannya, maka semakin tinggi pula cobaan yang diterimanya?
Bukankah cobaan² itu untuk menghapus dosa² yang telah kita lakukan dan juga untuk menambah derajat kita?
Bukankah segala cobaan itu hanya sementara saja? coba dibandingkan dengan lamanya kehidupan abadi, setelah kematian kita didunia ini ...
Tidakkah kita ridlo dengan keputusan-Nya, yang pasti terbaik bagi kita?

QS.39. Az Zumar:

أَوَلَمْ يَعْلَمُوۤاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِى ذَلِكَ لأََيَـٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

52. Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Hadis riwayat Kaab bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman lunak dan lembut yang dapat digoyangkan oleh hembusan angin, sesekali miring dan kemudian tegak kembali sehingga bergoyang-goyang. Sedangkan perumpamaan orang kafir adalah seperti pohon cemara yang tegak berdiri di atas akarnya tidak dapat digoyangkan oleh sesuatu apapun sehingga ia tumbang sekaligus. (Shahih Muslim No.5025)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bahwa beliau bersabda: Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar. (Shahih Muslim No.5036)

Hadis riwayat Amru bin Auf Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Bahwa Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti), karena Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa’ bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No.5261)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Bahwa Rasulullah bersabda: Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya, yaitu dari apa yang telah dilebihkan kepadanya. (Shahih Muslim No.5263)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Bahwa ia mendengar Nabi bersabda: Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang, seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengirim malaikat. Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang dan bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu menjawab: Warna (kulit) yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? Orang itu menjawab: Unta. Atau: Ia menjawab: Sapi. (Ishak ragu-ragu tentang itu). Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian ia mendatangi orang yang botak lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu berkata: Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? ia menjawab: Sapi. Maka ia diberi sapi bunting lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian malaikat mendatangi yang buta, lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia. Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali normal. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Kambing. Maka ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya semua binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. Pada suatu ketika malaikat kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti ia dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Masih banyak sekali hak-hak yang harus kupenuhi. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Aku seperti mengenal kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah? Orang itu berkata: Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun. Malaikat berkata: Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Setelah itu malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. Maka malaikat berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam bentuk dan cara seperti dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Dahulu aku buta, lalu Allah memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah. Maka malaikat berkata: Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji, kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah. (Shahih Muslim No.5265)

Senin, 25 Juli 2016

Marilah kita perhatikan diri kita sendiri

Marilah kita perhatikan diri kita sendiri ...
Seberapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan ...
Perbuatan dosa dan kesalahan yang telah dilarang dilakukan oleh Allah SWT, melalui Al Qur'an dan perkataan Nabi-Nya ...
Seberapa banyakkah dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan?
Apakah kita tidak memandang apapun yang telah diharamkan Allah?
Apakah kita tidak berbicara sesuatu yang diharamkan Allah?
Apakah kita tidak mendengarkan sesuatu yang diharamkan Allah?
Apakah kita telah bersyukur dengan segala nikmat gratis yang telah dianugerahkan kepada kita?
Apakah kita telah sholat 5 waktu di Masjid seperti yang telah diperintahkan Allah melalui Rasul-Nya?
Apakah kita telah menunaikan zakat seperti yang diperintahkan Allah?
Apakah kita telah berpuasa secara penuh di bulan Ramadlon seperti yang diperintahkan Allah?
Apakah kita telah berhaji seperti yang diperintahkan Allah?
Subhanallah ...

Kita semua adalah hamba²Nya yang lemah ...
Walaupun diantara kita adalah seorang penguasa dunia, seorang yang berpendidikan tinggi, seorang profesor, seorang pejabat tinggi dengan kekuasaan yang luas, namun tetap saja kita ini adalah hamba Allah yang lemah dan banyak dosa, kalau kita sadari dan kalau kita akui ...

Dengan segala kelemahan kita, dengan segala dosa yang telah kita lakukan, tidakkah kita takut dengan adzab Allah yang terbesar yakni Neraka?
Takutlah dengan Neraka, dengan bersedekah ...
Dan jangan berharap mendapatkan kekayaan dunia dengan sedekah yang telah kita berikan ...
Ingatlah dengan semua dosa² yang telah kita perbuat, dan jangan terlalu berharap dengan kekayaaan dunia yang melimpah dengan sedekah yang telah kita berikan ...
Tidakkah kita malu kepada Allah? Dengan Sedekah sedikit saja namun minta bukit emas, tanah yang luas dan kekayaan dunia lainnya, dan malah melupakan semua dosa² yang telah kita lakukan?

Sedekah tidak hanya dengan harta dunia ...
Sedekah bisa dengan mengajak kebaikan orang lain atau mencegah kemungkaran orang lain ...
Atau dengan menyingkirkan duri atau paku dari jalan ...
Atau dengan perkataan yang baik ...
Atau dengan istighfar ... Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... sebanyak² nya ...
Atau yang paling ringan dengan senyum dan dengan muka yang enak dilihat oleh orang lain ...

QS. 9. At Taubah:

لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَـٰنِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

66. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Hadis riwayat Adi bin Hatim Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Barang siapa di antara kalian mampu berlindung dari neraka walau hanya dengan separoh kurma, maka hendaklah ia melakukannya (bersedekah). (Shahih Muslim No.1687)

Hadis riwayat Hakim bin Hizam Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sedekah yang paling utama atau sedekah yang paling baik adalah sedekah dari harta yang cukup. Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Mulailah dari orang yang engkau tanggung (nafkahnya). (Shahih Muslim No.1716)

Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Umar Radhiyallahu’anhu mendapat sebidang tanah di Khaibar kemudian ia menghadap Nabi Shallallahu alaihi wassalam untuk meminta petunjuk tentang pemanfaatannya. Umar berkata: Wahai Rasulullah, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar yang belum pernah saya dapatkan harta lain yang lebih berharga darinya. Apa saran engkau tentang hal ini? Beliau bersabda: Jika kamu suka, kamu bisa mewakafkan asetnya dan bersedekah dengan hasilnya. Maka Umar bersedekah dengan hasilnya atas dasar asetnya tidak boleh dijual, dibeli, diwarisi atau dihibahkan. Umar bersedekah kepada fakir-miskin, kerabat, untuk memerdekakan budak, jihad di jalan Allah, ibnu sabil serta tamu. Tidak dosa bagi orang yang mengurusnya memakan sebagian hasilnya dengan cara yang baik atau untuk memberi makan seorang teman tanpa menyimpannya. (Shahih Muslim No.3085)

Hadis riwayat Abu Masud Al-Badri Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Sesungguhnya seorang muslim, jika memberikan nafkah kepada keluarganya dan ia mengharap pahala darinya, maka nafkahnya itu menjadi sedekah baginya. (Shahih Muslim No.1669)

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Setiap muslim wajib bersedekah. Ditanyakan: Apa pendapatmu jika ia tidak mempunyai sesuatu (untuk bersedekah)? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia dapat memberi manfaat dirinya dan bersedekah. Ditanyakan pula: Apa pendapatmu, jika ia tidak mampu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia dapat membantu orang dalam keperluan mendesak. Ditanyakan lagi: Apa pendapatmu, bila tidak mampu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia dapat memerintahkan kebaikan. Masih ditanyakan lagi: Apa pendapatmu jika ia tidak melakukannya? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Dia dapat menahan diri dari berbuat kejahatan, karena itu adalah sedekah. (Shahih Muslim No.1676)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju salat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah. (Shahih Muslim No.1677)

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Pasti akan datang kepada manusia suatu zaman, di mana seseorang berkeliling membawa sedekah emas, lalu ia tidak menemukan seorang pun yang mau mengambilnya. Dan terlihat seseorang diikuti oleh empat puluh orang wanita yang berlindung kepadanya karena sedikitnya kaum lelaki dan banyaknya kaum wanita. (Shahih Muslim No.1680)

Senin, 18 Juli 2016

Akhir yang Celaka ataukah Bahagia ?

Ketika orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam secara berombongan ...
Dan apabila mereka sampai ke neraka itu, maka dibukakanlah pintu-pintunya ...
Ketika penjaga-penjaga neraka berkata kepada mereka : "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?"
Maka mereka menjawab: "Benar telah datang rasul-rasul itu kepada kami dan juga telah datang pembawa peringatan kepada kami (misalnya: para kyai, da'i, ustadz ataupun dari jalan yang lainnya)."
Tetapi ternyata mereka telah ingkar terhadap peringatan yang telah datang ...
Sehingga pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir dan ingkar ...

Karena keingkaran mereka, maka dikatakanlah kepada mereka: "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya"
Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang ingkar dan menyombongkan diri ...

Sedangkan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga secara berombongan pula ...
Sehingga apabila mereka sampai ke syurga, maka dibukakanlah pintu-pintunya ...
Dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: "Kesejahteraan dilimpahkan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya."

Kemudian mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi kepada kami tempat ini, sedang kami diperkenankan menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki ...
Maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal saleh ...

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, atas semua karunia yang telah diberikan kepada hamba²Nya yang beriman dan beramal saleh ...

Hadis riwayat Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda: Allah Taala melipat langit-langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah Raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? (Shahih Muslim No.4995)

Hadis riwayat Kaab bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang mukmin itu seperti tanaman lunak dan lembut yang dapat digoyangkan oleh hembusan angin, sesekali miring dan kemudian tegak kembali sehingga bergoyang-goyang. Sedangkan perumpamaan orang kafir adalah seperti pohon cemara yang tegak berdiri di atas akarnya tidak dapat digoyangkan oleh sesuatu apapun sehingga ia tumbang sekaligus. (Shahih Muslim No.5025)

QS.39. Az Zumar:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَـفَرُوۤاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَراً حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَـآءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَا قَالُواْ بَلَىٰ وَلَـٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ
قِيلَ ٱدْخُلُوۤاْ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَـبِّرِينَ
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْاْ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلجَنَّةِ زُمَراً حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَـٰمٌ عَلَيْكُـمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَـٰلِدِينَ
وَقَـالُواْ ٱلْحَـمْدُ للَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا ٱلأَْرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ فَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَـٰمِلِينَ
وَتَرَى ٱلْمَلَـٰئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ ٱلْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِىَ بَيْنَهُمْ بِٱلْحَقِّ وَقِيلَ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

71. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

72. Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

73. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya."

74. Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal."

75. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

---> Termasuk yang manakah kita? InsyaAllah kita termasuk orang2 yang bertaqwa, atau setidaknya berusaha untuk menjadi hamba-Nya bertaqwa, dan bukan menjadi hamba yang ingkar terhadap-Nya ...

Senin, 11 Juli 2016

Berita Haji

Nomor Porsi Haji Reguler Jawa Timur Tahun 2016 s/d Tahun 2030

Tahun Keberangkatan 2016, No Porsi 1300368647 - 1300395789
Tahun Keberangkatan 2017, No Porsi 1300395790 - 1300422932
Tahun Keberangkatan 2018, No Porsi 1300422933 - 1300450075
Tahun Keberangkatan 2019, No Porsi 1300450076 - 1300477218
Tahun Keberangkatan 2020, No Porsi 1300477219 - 1300504361
Tahun Keberangkatan 2021, No Porsi 1300504362 - 1300531504
Tahun Keberangkatan 2022, No Porsi 1300531505 - 1300558647
Tahun Keberangkatan 2023, No Porsi 1300558648 - 1300585790
Tahun Keberangkatan 2024, No Porsi 1300585791 - 1300612933
Tahun Keberangkatan 2025, No Porsi 1300612934 - 1300640076
Tahun Keberangkatan 2026, No Porsi 1300640077 - 1300667219
Tahun Keberangkatan 2027, No Porsi 1300667220 - 1300694362
Tahun Keberangkatan 2028, No Porsi 1300694363 - 1300721505
Tahun Keberangkatan 2029, No Porsi 1300721506 - 1300748648
Tahun Keberangkatan 2030, No Porsi 1300748649 - 1300775791

Sumber: Siskohat Depag Kanwil Jawa Timur,

Jika ingin Informasi yang lebih Detail, karena ada kemungkinan Tahun Keberangkatannya Maju atau Mundur, Silahkan kunjungi Basis Data dari Kemenag: http://haji.kemenag.go.id/v2/node/955358

____________________________________________

Berita Haji 143M7H/2016


Jakarta (Sinhat)--Pelunasan tahap kedua Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Reguler ditutup pada Kamis (30/06/2016) sore. Data Monitoring Pelunasan Haji Reguler pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) mencatat sebanyak 9.822 jemaah telah melunasi sehingga kuota haji tersisa untuk 1.375 calon jemaah.

Pelunasan tahap pertama BPIH Reguler ditutup pada 10 Juni lalu dengan jumlah jemaah yang sudah melunasi sebanyak 142.852 orang (92.73%) dan masih tersisa 11.197 kuota (7.27%). Dengan demikian, total calon jemaah haji yang sudah melunasi BPIH tahap pertama dan kedua berjumlah 152.674 orang (99.11%).

Menurut Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU Ahda Barori, jumlah yang melunasi ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dua tahun lalu. Pada tahun 2014, pelunasan tahap kedua ditutup dengan sisa 2.505 kuota. Sedangkan pada tahun 2015, kuota haji masih tersisa 3.097 saat penutupan pelunasan tahap kedua.

Keputusan Menteri Agama (KMA) No 210 Tahun 2016 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1437H/2016M mengatur bahwa kuota haji nasional berjumlah 168.800 yang terdiri dari kuota haji reguler (155.200) dan kuota haji khusus (13.600). Kuota haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu: 154.049 untuk jamaah haji dan 1.151 untuk petugas haji daerah.

Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) No D/158/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran BPIH Reguler 1437H/2016M mengatur bahwa pengisian kuota jemaah haji reguler dibagi menjadi 2 tahap. Jika sampai tahap kedua ditutup, masih ada sisa kuota, maka hal itu diperuntukan bagi kuota cadangan.

Dalam keputusan Dirjen PHU ditegaskan, Jemaah haji cadangan mengisi sisa kuota setelah pelunasan tahap kedua berakhir. Pengisian sisa kuota oleh jamaah haji cadangan berdasarkan urutan nomor porsi, kecuali bagi penggabungan mahram, jemaah haji lanjut usia, dan pendampingan jemaah haji lanjut usia.

Proses pelunasan BPIH untuk jemaah haji cadangan sudah dilakukan bersamaan dengan pelunasan tahap pertama. Sampai dengan penutupan pelunasan tahap pertama pada 10 Juni lalu, calon jemaah haji yang melakukan pelunasan kuota cadangan mencapai 4.856 orang. Mereka baru bisa diberangkatkan jika terdapat sisa kuota pada masing-masing provinsi dan kab/kota setelah pelunasan tahap kedua berakhir.

Ahda Barori mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mengidentifikasi sisa kuota di tiap provinsi dan kab/kota. Menurutnya, identifikasi ini penting untuk menyesuaikan dengan jumlah calon jemaah haji yang melakukan pelunasan kuota cadangan. “Saya berharap jamaah yang melunasi kuota cadangan merata di setiap provinsi sehingga bisa menutup sisa kuota yang ada,” harap Ahda, Jumat (01/07/2016).

“Tentunya pengisian sisa kuota dengan kuota cadangan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada,” tambahnya. Ahda juga berharap jemaah yang sudah melakukan pelunasan tahap pertama dan kedua yang batal berangkat karena berbagai sebab jumlahnya tidak banyak.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan dalam 2 gelombang. Gelombang I rencananya mulai diberangkatkan pada tanggal 9 – 21 Agustus 2016 langsung menuju Madinah. Adapun gelombang II, rencananya diberangkatkan pada tanggal 22 Agustus – 4 September 2016 dengan tujuan Jeddah. (sumber: http://haji.kemenag.go.id/)



Berikut Daftar Jamaah Haji Tahun 2016 Lengkap untuk Prop JATIM (untuk keperluan pelunasan):
https://drive.google.com/folderview?id=0B0SHpJ6gnhUHX1U3WHg1QkVodmM&usp=sharing