Sabtu, 26 November 2016

Manusia yang Paling Keras Adzabnya Kelak di hari Kiamat

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui jalur Auf Al A'rabi , dari Abul Mugirah AlQawwas, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa manusia yang paling keras adzabnya kelak di hari kiamat ada tiga macam, yaitu orang-orang munafik, orang-orang yang kafir dari kalangan mereka yang menerima hidangan dari langit , dan Fir'aun beserta para pendukungnya. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 7)

Dari Hadits diatas, yakni Manusia yang Paling Keras Adzabnya Kelak di hari Kiamat >>

1.) Orang-orang munafik:
QS.4. An Nisaa':

إِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلأَْسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. 

QS.9. At Taubah:

وَعَدَ الله الْمُنَـٰفِقِينَ وَٱلْمُنَـٰفِقَاتِ وَٱلْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا هِىَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. 

QS.9. At Taubah:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ ٱلأَْعْرَابِ مُنَـٰفِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ ٱلْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى ٱلنَّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ

101. Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. 

2.) Orang-orang yang kafir dari kalangan mereka yang menerima hidangan dari langit. Yakni dari kisah maidah atau hidangan yang nama surat ini dikaitkan dengannya, karena itu disebut "surat Al Maidah". Dan hidangan ini merupakan salah satu dari anugerah Allah yang diberikan kepada hamba dan rasulNya, yaitu Isa a.s. ketika Dia memperkenankan doanya yang memohon agar di turunkan hidangan dari langit. Maka Allah Swt. menurunkannya sebagai mukjizat yang cemerlang dan hujjah yang nyata:

QS.5. Al Maa'idah:

قَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ فَإِنِّىۤ أُعَذِّبُهُ عَذَاباً لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَداً مِّنَ ٱلْعَـٰلَمِينَ

115. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia." 

3.) Fir'aun beserta para pendukungnya:
QS.40. Al Mu'min:

ٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوۤاْ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ

46. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang[kepada mereka neraka pagi dan petang sebelum hari berbangkit], dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." 


Bab: Siksaan Paling Ringan di Neraka (kalau yang paling ringan seperti ini, bagaimana siksaan yang paling berat??)
Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Wahab bin Jarir menceritakan kepada kami, dari Syu'bah, darir Abu Ishaq, dari An-Nu'man bin Basyir, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya siksaan paling ringan bagi ahli neraka pada hari Kiamat adalah seseorang yang pada lekuk kedua telapak kakinya terdapat dua bara, di mana otaknya mendidik karena bara itu."
Shahih: Ash-Shahihah (1680); shahih sunan Tirmidzi (2604) dan Muttafaq alaih.

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abdul Malik dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Ibnu 'Abbas radliyallahu'anhu, ia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Apakah engkau bisa mendatangkan manfaat untuk pamanmu Abu Thalib sekalipun paling ringan?" (No. Hadist: 6087 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Hadis riwayat Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu’anhu: Bahwa ia berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau dapat memberikan suatu manfaat kepada Abu Thalib. Karena, dahulu ia merawat dan pernah membelamu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Ya, ia berada di neraka yang paling ringan. Seandainya tidak karena (berkah) aku, tentu ia berada neraka paling bawah. (Shahih Muslim No.308)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mendengar pamannya Abu Thalib dibicarakan dekat beliau, lalu beliau bersabda: Mudah-mudahan syafaatku dapat memberinya manfaat pada hari kiamat, sehingga ia ditempatkan di neraka paling ringan yang apinya membakar kedua mata kakinya sampai mendidihkan otaknya. (Shahih Muslim No.310)

Sesungguhnya Paman Nabi, yakni Abu Thalib Sangat Membantu Nabi SAW dalam Memperjuangkan Islam
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepada kami 'Abdul Malik telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib radliallahu 'anhu, dia berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Mengapa anda tidak menolong pamanmu padahal dia yang melindungimu dan marah demi membelamu?". Beliau bersabda: "Dia berada di tepian neraka. Seandainya bukan karena aku, dia tentu sudah berada di dasar neraka". (No. Hadist: 3594 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Namun Karena Perkataan Paman Nabi Diakhir Hayatnya ...
QS.50. Qaaf:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. 

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

19. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. 


Telah menceritakan kepada kami Mahmud telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Ibnu Al Musayyab dari bapaknya bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Thalib, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk menemuinya sementara di sampingnya ada Abu Jahal. Beliau berkata: "Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku pergunakan untuk menyelamatkan engkau di sisi Allah". Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah; "Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama 'Abdul Muthallib?". Keduanya terus saja mengajak Abu Thalib berbicara hingga kalimat terakhir yang diucapkannya kepada mereka adalah dia tetap mengikuti agama 'Abdul Muthallib. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku akan tetap memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang". Maka turunlah firman Allah Ta'ala dalam QS AT-Taubah ayat 113 yang artinya: ("Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memohonkan ampun bagi orang-orang musyrik sekalipun mereka itu adalah kerabat-kerabat mereka setelah jelas bagi mereka (kaum mu'minin) bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim.."). Dan turun pula firman Allah Ta'ala dalam QS al Qashsash ayat 56 yang artinya: ("Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai...")
(No. Hadist: 3595 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)
--------------------------------

Ingatlah! Suatu "perkataan" seseorang itu sangatlah berat timbangan pertanggungjawabannya disisi Allah, melebihi timbangan pertanggungjawaban dari "perbuatan" yang telah dilakukannya ...!
Karena itu wahai kaum munafiq, janganlah engkau kira perkataanmu yang menyerang Islam itu dapat engkau anggap remeh, perhatikanlah hukuman dan adzab yang akan ditimpakan kepadamu, jauuuuh lebih pedih daripada adzab yang akan ditimpakan kepada kaum kafir!

-------------------------------


Bab: Siapakah yang Termasuk Orang-orang yang Munafiq itu?
Siapakah Orang Munafiq itu? Orang Munafiq itu Seseorang yang Mengaku Beriman, Namun itu hanya dimulut saja.
QS.2. Al Baqarah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. 

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

10. Dalam hati mereka ada penyakit[keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. 

QS.63. Al Munaafiquun:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu (Muhammad SAW) benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. 

Siapa Saja sih Mereka?
Yakni:
Orang yang menyuruh berbuat keburukan dan melarang berbuat kebaikan lagi sangat kikir
QS.9. At Taubah:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya [berlaku kikir]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. 

Orang yang Suka Tidak Menepati Janji (Janji itu diucapkan Hanya untuk Keuntungan Dirinya Sendiri saja) 
QS.59. Al Hasyr:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

11. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir[Bani Nadhir] di antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu." Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. 

Orang yang Suka Mencela Orang Mukmin yg Sedekahnya sedikit (karena Memang Miskin) dan juga Mencela Orang Mukmin yang Sedekahnya Terang2an
QS.9. At Taubah:

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

79. (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

Orang yang Suka Melontarkan Tuduhan Bohong atau Fitnah
QS.24. An Nuur:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

11. Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. 

Orang yang Suka Berprasangka Jelek Kepada Allah dan RasulNya (Ragu dalam Keimanannya)
QS.33. Al Ahzab:

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

12. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." 

Orang yang Hanya di Mulut saja Mengatakan Beriman Kepada Allah dan RasulNya
QS.24. An Nuur:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

47. Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. 

Orang yang Malas Mendirikan Shalat Fardlu
QS.4. An Nisaa':

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman]. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya[Riya] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[mereka shalat hanyalah sekali-sekali saja, yaitu bila mereka berada di hadapan orang]. 

Orang yang Mempermainkan Agama Islam  
QS.4. An Nisaa':

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

137. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya[di samping kekafirannya, ia merendahkan Islam pula], maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. 

Orang yang Merendahkan Islam (Mengatakan Al Qur'an Ketinggalan Jaman dan Tidak sesuai dengan Jaman ini)
QS.83. Al Muthaffifin:

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu" 

Orang yang Suka Menggembosi Semangat Para Mukmin Ketika Berada Dijalan-Nya
QS.3. Ali 'Imran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

156. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.



Sabtu, 19 November 2016

Zhalim

Pengertian Zhalim
Zhalim ialah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Asal makna zhalim ialah bertindak lalim dan melampaui batas. Zhalim juga bermakna menyimpang dari tujuan.

Haramnya Berbuat Zhalim
Firman Allah Azza wa Jalla , “Dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.”
Maksudnya, Allah Azza wa Jalla mengharamkan perbuatan zhalim atas hamba-hamba-Nya serta melarang mereka saling menzhalimi, karena kezhaliman itu sendiri adalah haram secara mutlak.

Kezhaliman terbagi ke dalam dua bagian:
>> Pertama: Kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dan kezhaliman yang paling besar adalah syirik (mempersekutukan Allah Azza wa Jalla ), seperti firman-Nya,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” ([Luqman/31:13]

Sebabnya orang musyrik telah menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Khaliq (Pencipta), sehingga ia menyembah dan mempertuhankannya. Ini berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Sebagian besar ancaman bagi orang-orang yang zhalim dalam al-Qur'an dimaksudkan untuk orang-orang musyrik, seperti firmankan-Nya,

وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“…Orang-orang kafir itulah orang yang zhalim.” [al-Baqarah/2:254]

Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami dari Al A'masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah RA, ia berkata, "Ketika turun ayat, 'Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman.' (Qs. Al An'aam [6]: 82) kaum muslimin merasa berat karenanya. Oleh karena itu, mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, siapa yang tidak pernah menzhalimi dirinya?!" Rasulullah SAW bersabda, 'Bukan seperti yang kalian maksudkan. Akan tetapi maksud zhalim itu adalah syirik (menyekutukan Allah). Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh Luaman kepada anaknya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar!'." (Qs. Luqmaan [31]: 13)
Shahih: shahih sunan tirmidzi (3067) dan Muttafaq alaih

Sesungguhnya Dosa Syirik, Itu Dosa yang Tidak Akan Diampuni!

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."[Surat An-Nisa' Ayat 116]

Kemudian berikutnya diikuti dengan perbuatan maksiat dengan beragam jenisnya dari perbuatan dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil.

>> Kedua: Kezhaliman seorang hamba terhadap orang lain.
Pada haji Wada’, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ ، وَأَمْوَالَكُمْ ، وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِـيْ شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِـيْ بَلَدِكُمْ هَذَا».

….Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram terhadap kalian seperti keharaman hari kalian ini di bulan kalian ini di negeri kalian ini.
[Shahîh: HR. al-Bukhari (no. 67), Muslim (no. 1679), Ibnu Hibban (no. 3837-at-Ta’lîqatul Hisan) dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَـاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

Sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.[Shahîh: HR. al-Bukhari (no. 2447) dan Muslim (no. 2579) dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala' telah menceritakan kepada kami Ibn Fudlail dari 'Umarah dari Abu Zur'ah ia mendengar Abu Hurairah radliyallahu'anhu berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah 'azza wajalla berfirman, 'Siapa yang lebih zhalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku, hendaklah ia cipta biji sawi, atau biji tepung, atau biji gandum!" (No. Hadist: 7004 KITAB SHAHIH BUKHARI)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ اللهَ لَيُمْلِـي لِلظَّالِـمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَـمْ يُفْلِتْهُ » ، ثُمَّ قَرَأَ )وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِـمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيْمٌ شَدِيْدٌ(

Sesungguhnya Allah pasti menunda (hukuman) bagi orang zhalim. Namun jika Dia telah menyiksanya, Dia tidak meloloskannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat, ‘Dan begitulah siksa Rabb-mu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih dan sangat berat.’ [Hud/11:102]”
[Shahîh: HR. al-Bukhari (no. 4686), Muslim (no. 2583), at-Tirmidzi (no. 3110), dan Ibnu Hibban (no. 5153 at-Ta’lîqatul Hisan) dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

«مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ ِلأَخِيْهِ ؛ فَلْيَتَحَلَّلْ مِنْهَا ؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُأْخَذَ ِلأَخِيْهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ لَـمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيْهِ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ»

Barangsiapa pada dirinya terdapat mazhlamah (harta yang dirampas dengan zhalim) milik saudaranya, hendaklah ia memintanya menghalalkannya sekarang ini, karena di sana (hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham, sebelum amal shalihnya diambil darinya lalu diberikan kepada saudaranya itu. Jika ia tidak memiliki amal shalih, maka kesalahan-kesalahan saudaranya itu diambil kemudian dibebankan kepadanya.
[Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2449, 6534), Ahmad (II/435, 506), Ibnu Hibbân (no. 7361) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Hadis riwayat Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan zalim, maka Allah akan mengalungkannya di hari kiamat setebal tujuh lapis bumi.
(Shahih Muslim No.3020)

>>> Penyesalan yang Teramat Sangat karena Kezaliman Mereka
QS.78. An Naba':

إِنَّآ أَنذَرْنَـٰكُمْ عَذَاباً قَرِيباً يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَـٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰباً

40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah."

Keterangan:
Saat hari kebangkitan tiba (setelah kiamat besar), semua makhluq bernyawa dibangkitkan kembali. Baik itu dari kalangan manusia, jin ataupun hewan. Kalangan hewan diadili terlebih dahulu, sekecil apapun kezaliman itu hingga diadili dengan sangat adil. Setelah selesai, hewan-hewan itu dikembalikan lagi menjadi tanah.
Orang-orang kafir yang menyaksikannya sangat iri kepada hewan-hewan itu, sehingga mereka juga ingin dikembalikan lagi menjadi tanah. Hal ini disebabkan oleh ulah mereka yang telah banyak melakukan kezaliman, baik itu kezaliman yang sangat besar (syirik) atau kezaliman yang lainnya. Mereka sangat takut akan resiko pembalasan yang sangat adil di pengadilan Sang Pencipta. Mereka berandai-andai, sekiranya mereka juga dikembalikan lagi menjadi tanah ...
Namun itu jelas tidak mungkin terjadi, karena kalangan manusia dan jin harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya hingga di siksa di Neraka atau mendapatkan kenikmatan di Surga.
Dan Allah telah memperingatkan mereka tentang hal ini ketika masih di dunia dahulu, melalui para RasulNya, da'i, ulama atau yang lainnya.

Setiap Perbuatan Zhalim, akan Mengurangi Pahala Kebaikan Hingga Minus (bangkrut!)
Qutaibah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Al Ala' bin Abdurrahman, dari bapaknya, dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda. "Tahukah kalian siapakah orang yang pailit (bangkrut) itu?" Para sahabat menjawab. "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (harta) dan barang-barang, wahai Rasulullah". Rasulullah bersabda, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat nanti datang bersama pahala shalatnya, puasanya, zakatnya, dan ia juga datang dengan dosa perbuatannya yang pernah menghina (mengutuk) ini, menuduh zina ini, memakan harta ini (dengan cara tidak halal), membunuh ini, dan memukul ini. Orang itu lalu duduk.
Maka yang ini mengurangi dari kebaikannya dan yang ini mengurangi dari kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum kesalahannya tertebus, maka kesalahan orang-orang tersebut diambil dan dilimpahkan kepadanya. Kemudian, dia dilemparkan ke dalam api neraka ".
Shahih: Ash-Shahihah (845), Ahkam Al Janaizi (4), Shahih Sunan Tirmidzi (2418) dan Shahih Muslim.

Bab: Termasuk Zhalim Menjadikan Iblis sebagai Pemimpin
QS.18. Al Kahfi"

وَإِذَا قُلْنَا لِلْمَلَـٰئِكَةِ ٱسْجُدُواْ لأَدَمَ فَسَجَدُوۤاْ إِلاَّ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِى وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّـٰلِمِينَ بَدَلاً

50. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. 

Larangan Mengikuti Pemimpin yang Membawa Kepada Kesesatan
QS.7. Al A'raaf:

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

3. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya[pemimpin-pemimpin yang membawamu kepada kesesatan]. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). 

Larangan Memilih Pemimpin yang Tidak Ada Seberat Biji Gandum pun Iman Di dalam Hati, Meskipun ia Dianggap Cerdas, Bijak dan Pemberani. 
QS.5. Al Maa'idah:

يَـٰۤأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰ أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir Telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Zaid bin Wahb telah menceritakan kepada kami Khudzaifah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dua Hadits, satunya sudah saya lihat sendiri dan satunya aku sedang menunggu-nunggu, beliau menceritakan kepada kami: "bahwa Amanat mula-mula turun pada relung hati orang-orang, lantas mereka paham terhadap alquran dan paham terhadap sunnah." Khudzaifah menceritakan kepada kami kemarfu'annya, Nabi bersabda; "seseorang tertidur nyenyak kemudian amanat dicerabut dari hatinya, dan masih ada bekasnya seperti bekas yang kecil, kemudian dia tidur lagi dan amanat dicerabut darinya sehingga bekasnya seperti kutu di tangan, seperti bara yang kau gelindingkan di kakimu sehingga ia memar (beram-beram), maka engkau melihatnya beram-beram (memar) padahal sebenarnya tidak terjadi apa-apa, dan manusia secara beruntun melakukan baiat dan nyaris tak seorang pun menunaikan amanat dengan baik, dan ada berita bahwa di bani fulan ada seseorang yang dapat di percaya, kemudian dikatakan kepada tersebut; 'alangkah cerdasnya dia, alangkah bijaknya dia, alangkah pemberaninya dia, ' padahal tidak ada seberat biji gandum pun iman di dalam hatinya, ..." (No. Hadist: 6016 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)


Perintah Menjadikan Pemimpin Mukmin yang Memberi Petunjuk
QS.32. As Sajdah:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ وَكَانُواْ بِـَايَـٰتِنَا يُوقِنُونَ

24. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar[sabar dalam menegakkan kebenaran]. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. 

QS.21. Al Anbiyaa':

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِمْ فِعْلَ ٱلْخَيْرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلوٰة وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَـوٰةِ وَكَانُواْ لَنَا عَـٰبِدِينَ

73. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah, 

---> Seorang Muslim wajib menjauhi perbuatan zhalim, karena kezhaliman mengakibatkan:
a. Datangnya kemurkaan dan hukuman Allah Azza wa Jalla
b. Tersebarnya permusuhan dan kebencian di antara manusia
c. Kebangkrutan diakhirat kelak


Bab: Perintah untuk Mencegah Kezaliman dengan Kekuatan
Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Ismail bin Abu Khalid mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Abu Hazim, dari Abu Bakar AshShiddiq, ia berkata, "Wahai sekalian manusia, hendaknya kalian membaca firman Allah, 'Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.' (Qs. Al Maidah [5]: 105). Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Jika manusia melihat orang yang zhalim, namun mereka tidak berbuat apapun (untuk mencegahnya) dengan kekuatannya, maka dikhawatirkan Allah akan menurunkan hukuman kepada mereka semuanya karena perbuatannya'"
Shahih: shahih sunan tirmidzi(2168) dan Ibnu Majah (4005).

Menolong saudara Muslim yang Zalim dan yang diZalimi 
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (Shahih Muslim No.4681)

Bab: Seluruh manusia membutuhkan Allah Azza wa Jalla yang Maha kaya
Firman Allah Azza wa Jalla , “ Wahai hamba-Ku! Setiap dari kalian adalah lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka, mintalah makanan kepada-Ku niscaya Aku memberi makan kepada kalian. Wahai hamba-Ku! Setiap kalian adalah telanjang kecuai orang yang Aku beri pakaian. Maka, mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan berikan pakaian kepada kalian. Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian selalu berbuat salah (dosa) di waktu malam dan siang hari sedang Aku mengampuni seluruh dosa. Maka, mohon ampunlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian.

Ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk sangat butuh kepada Allah Azza wa Jalla untuk mendapatkan kemaslahatan dan menolak mudharat (bahaya) dalam agama dan dunia mereka. Ini juga menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki apa pun bagi diri mereka. Sehingga, barangsiapa tidak diberi rezeki dan petunjuk maka ia tidak akan memiliki keduanya di dunia. Barangsiapa tidak diberi pengampunan atas dosa-dosanya oleh Allah Azza wa Jalla , maka kesalahan-kesalahannya membinasakannya di akhirat.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

"Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” [al-Kahfi/18:17]

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa, Maha bijaksana". [Fathir/35:2]

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya…” [Hud/11:6]

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Adam dan Hawa yang berkata,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." [al-A’raf/7:23]

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Nuh Alaihissallam yang berkata,

وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi". [Hûd/11:47]

Nabi Ibrahim Alaihissallam berhujjah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Azza wa Jalla dan bahwa apa saja yang disekutukan dengan-Nya adalah bathil. Nabi Ibrâhim Alaihissallam berkata kepada kaumnya,

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِين ِوَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya rabb seluruh alam, (yaitu) yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” [asy-Syu’ara'/26:75-82]

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla yang Maha Esa yang menciptakan hamba-Nya, memberi hidayah, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikannya, dan mengampuni dosa-dosa di akhirat itu, maka wajib bagi hamba untuk mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam beribadah kepada-Nya, meminta, merendahkan diri, dan tunduk kepada-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha suci Dia dan Maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” [ar-Rûm/30:40]

Bab: Setiap manusia diciptakan di atas fitrah menerima Islam
Firman Allah Azza wa Jalla , “Wahai hamba-Ku! Setiap dari kalian adalah sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk.

Ada yang menduga bahwa firman Allah Azza wa Jalla di atas bertentangan dengan hadits ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ (وَفِيْ رِوَايَةٍ : مُسْلِمِيْنَ) فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ

“Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (dalam riwayat lain: dalam keadaan Muslim) kemudian mereka dipalingkan oleh setan.’”

Padahal firman Allah Azza wa Jalla tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan hadits tersebut, karena Allah Azza wa Jalla menciptakan anak keturunan Adam, membentuk mereka untuk menerima Islam, cenderung kepadanya dan bukan cenderung kepada yang lain, siap kepadanya, dan mempersiapkan diri dengan kuat untuknya. Namun, manusia harus dididik tentang Islam dengan amal nyata, karena sebelumnya mereka bodoh tidak mengetahui apa-apa, seperti firman-Nya

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun…” [an-Nahl/16:78].

Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

"Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.” [adh-Dhuha/93:7]

Maksudnya, Allah Azza wa Jalla mendapatimu tidak mengetahui kitab dan hikmah yang telah diajarkan kepadamu, sebagaimana firman-Nya,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (al Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami…” [asy-Syura/42:52]

Jadi, manusia dilahirkan dalam keadaan siap untuk menerima kebenaran. Jika Allah Azza wa Jalla memberinya petunjuk. Maka, ia diberi sarana dalam bentuk orang yang mengajarkan petunjuk kepadanya. Sehingga akhirnya, ia betul-betul menjadi orang yang mendapatkan petunjuk dan perbuatan setelah sebelumnya ia mendapatkan petunjuk dengan kekuatan. Jika Allah membiarkannya, Dia membiarkannya dikuasai orang yang mengajarkannya sesuatu yang bertentangan dengan fitrahnya, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَامِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُـهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّـسَانِهِ

Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
[HR. al-Bukhâri (no. 1358) dan Muslim (no. 2658), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Bab: Memohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla
Seorang Muslim wajib berdoa memohon petunjuk dan harus bersungguh-sungguh untuk mencari dan melaksanakan sebab-sebab yang menyampaikan kepada petunjuk tersebut.

Adapun permintaan petunjuk oleh orang Mukmin kepada Allah Azza wa Jalla ada dua:
Pertama : Petunjuk global, yaitu petunjuk kepada Islam dan iman.

Kedua : Petunjuk yang rinci, yaitu petunjuk Allah untuk mengetahui rincian bagian-bagian iman dan Islam serta bantuan-Nya untuk mengerjakannya. Petunjuk seperti ini sangat diperlukan seorang Mukmin di setiap malam dan siang. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk membaca firman-Nya berikut ini di setiap raka’at shalat-shalat mereka,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus". [al-Fatihah/1:6]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam doa beliau di malam hari,

…اِهْدِنِـيْ لِـمَـا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْـحَقِّ بِإِذْنِكَ ، إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَـى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ.

"Tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan di dalamnya dengan izin-Mu, karena sesungguhnya Engkau menunjuki hamba-Mu ke jalan yang lurus".[Shahîh: HR. Muslim (no. 770), Ahmad (VI/156), Abu Dâwud (no. 767), at-Tirmidzi (no. 3420), an-Nasâ-i (III/212-213), Ibnu Mâjah (no. 1357), dan Ibnu Hibbân (no. 2591 at-Ta’lîqâtul Hisân)]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh ‘Ali Radhiyallahu anhu untuk meminta ketetapan dan petunjuk, dengan do’a berikut:

اَللَّـهُمَّ إِنِّـيْ أَسْأَلُكَ الْـهُدَى وَالسَّدَادَ

Ya Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk dan ketetapan.
[Shahîh: HR. Muslim (no. 2725) dan Ahmad (I/88)]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajari al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu untuk mengucapkan dalam qunut di shalat witir,

اَللَّـهُمَّ اهْدِنِـيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ…

Ya Allah Azza wa Jalla , berilah aku petunjuk ke dalam orang yang telah Engkau beri petunjuk…

Bab: Memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla
Adapun istighfar dari dosa-dosa merupakan permintaan ampunan dan seorang hamba sangat membutuhkannya karena ia berbuat salah di malam dan siang hari. Al`Qur'an sering kali menyebutkan taubat dan istighfar memerintahkan kaum Mukminin kepada keduanya, dan menganjurkan kepada keduanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِـيْ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Seluruh anak keturunan Adam adalah orang-orang yang berbuat salah dan sebaik-baik orang-orang yang berbuat salah ialah orang-orang yang bertaubat.[Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Mâjah (no. 4251), Ahmad (III/198), al-Hâkim (IV/244) dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَاللهِ إِنِّـيْ َلأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِـي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Demi Allah Azza wa Jalla, aku beristighfar kepada Allah Azza wa Jalla dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.
[Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 6307), an-Nasâ-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 434, 437), Ibnu Mâjah (no. 3815), Ahmad (II/282), dan Ibnu Hibbân (no. 925)]

Bab: Allah Maha kaya terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak butuh kepada mereka
Firman Allah Azza wa Jalla : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.”

Maksudnya, seluruh hamba Allah Azza wa Jalla tidak dapat memberikan manfaat atau mudharat kepada Allah Azza wa Jalla, karena Allah Azza wa Jalla sendiri adalah Maha kaya dan Maha terpuji yang tidak butuh kepada ketaatan para hamba. Manfaat-manfaat ketaatan mereka tidak kembali kepada-Nya; namun mereka sendiri yang mengambil manfaat-manfaatnya. Dan (Allah Azza wa Jalla) tidak merugi dengan kemaksiatan-kemaksiatan mereka namun justru mereka sendiri yang merugi karenanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا

"Dan janganlah engkau (Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dengan mudah kembali menjadi kafir, sesungguhnya sedikit pun mereka tidak merugikan Allah…" [Ali ‘Imrân/3:176]

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

Tetapi jika kamu ingkar maka (ketahuilah), milik Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” [an-Nisâ’/4:131]

Sabtu, 12 November 2016

Siapakah yang Benar-Benar Beriman, dengan Keimanan yang Sempurna?

QS.Al-Anfal Ayat 2

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Keterangan:
Sesungguhnya hati orang-orang yang benar-benar beriman (dengan Keimanan yang Sempurna) selalu dipenuhi rasa takut dan tunduk kepada Allah. Apabila disebut asma Allah hati mereka bergetar dan diliputi rasa takut (haybah).
Semakin mereka mendengar ayat-ayat al-Qur'ân dibacakan, semakin kokoh keimanan mereka dan semakin mendalam rasa tunduk serta semakin bertambah pengetahuan mereka pada Allah. Mereka tidak dapat melihat DzatNya, namun mereka mengenali Tuhan mereka, sehingga mereka tidak menyandarkan diri kepada makhluq. Mereka menyandarkan diri hanya kepada Allah, yang menciptakan, melindungi, dan memelihara mereka. Mereka senantiasa rindu untuk segera berjumpa denganNya, hingga Allah sendiri yang memperkenankan saat-saat perjumpaan itu.
Hanya kepada Allah-lah mereka menyandarkan diri mereka, menyandarkan segala urusan, masa depan mereka hingga mereka merasa sangat takut kalau Allah meninggalkan mereka walau hanya sekejap.
Padahal Allah tidak akan meninggalkan mereka walau hanya sekejap, itu sudah jaminan dari-Nya bagi hamba-hambaNya yang bertaqwa.

Berikut ini perkataan Nabi Ibrâhim Alaihissallam kepada kaumnya,

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِين ِوَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya rabb seluruh alam, (yaitu) yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” [asy-Syu’ara'/26:75-82]

Sungguh suatu contoh nyata dari perkataan seorang hamba Allah yang paling bertaqwa kepada kaumnya, dengan cara sindiran dan menggunakan perkataan yang halus dan sangat dalam maknanya. Mengingatkan keburukan perbuatan kaumnya dan menjelaskan tentang Tuhan yang sebenarnya, yakni Tuhan yang memberi petunjuk kepadanya, yang memberi makan dan minum, yang menyembuhkannya ketika beliau sakit, dan Yang akan mematikannya, kemudian Dia-lah yang menghidupkannya kembali. Sungguh luar biasa perkataan hamba Allah yang paling bertaqwa tersebut, hingga sangat berharap akan ampunan dosa-dosa pada hari Kiamat, padahal sebagai Nabi dan Rasul sudah dapat dipastikan dosa-dosa beliau bakal diampuni oleh Allah.


QS.Al-Anfal Ayat 3

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Keterangan:
Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mendirikan salat fardlu berjamaah berikut rukun-rukunnya secara sempurna dengan penuh rasa khusyuk dan ketertundukan diri agar mereka selalu dalam keterkaitan dengan Tuhan, menginfakkan sejumlah harta yang diberikan Allah Swt. kepada mereka untuk kepentingan jihad, kebaikan-kebaikan sosial dan bagi kepentingan kaum lemah. Mereka tidak suka menahan harta mereka, karena mereka sadar, ada hak hamba-hamba Allah yang lain pada harta mereka. Hati mereka lembut, dan suka kelembutan karena hati mereka diliputi Rahmat dari Allah, namun hati mereka tegas apabila agama mereka dilecehkan.
Mereka sangat menjaga sholatnya dengan berjamaah, dan mereka juga suka menafkahkan hartanya dijalan-Nya. Mereka melakukan itu karena kerinduan mereka untuk bertemu dengan Allah, kerinduan yang semakin bertambah-tambah ...

Seorang yang Benar-benar Beriman, Apabila Melakukan Kebaikan, Hanya Untuk Allah (Akhirat)
Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan sesuatu amal kebaikan, maka dengannya itu ditujukan untuk didapatkannya sesuatu makanan di dunia (yakni tujuannya semata untuk memperoleh rezeki di dunia saja), sedangkan orang mu'min, maka sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan simpanan untuknya berupa beberapa kebajikan di akhirat dan diikutkan pula dengan memperoleh rezeki di dunia dengan sebab ketaatannya."
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang mu'min akan kebaikannya, dengannya itu akan diberikan rezeki di dunia dan dengannya pula akan diberi balasan baik di akhirat. Adapun orang kafir, maka ia akan diberi makan (yakni rezeki) dengan kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil amalannya karena Allah Ta'ala di dunia, sehingga apabila ia telah (yakni memasuki) ke akhirat, maka sama sekali tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan balasannya."
(Riwayat Muslim)

Ingatlah, Seorang Mukmin Sejati Malah Takut Kalau Mendapatkan Kenikmatan Dunia Yang Banyak!
Dari Ibrahim bin Abdur Rahman bin 'Auf, bahwasanya Abdur Rahman bin 'Auf r.a. diberi hidangan makanan, sedangkan waktu itu ia berpuasa, lalu ia berkata: "Mus'ab bin Umair itu terbunuh (fi-sabilillah). Ia adalah seorang yang lebih baik daripada-ku, tetapi tidak ada yang digunakan untuk mengafaninya (mem-bungkus janazahnya) kecuali selembar burdah. Jikalau kepalanya ditutup, maka tampaklah kedua kakinya dan jikalau kedua kakinya ditutup, maka tampaklah kepalanya. Selanjutnya untuk kita sekarang ini dunia telah dibeberkan seluas-luasnya (mendapatkan banyak rezeki). Atau ia berkata: "Kita telah dikaruniai rezeki dunia sebagaimana yang kita terima ini (amat banyak sekali). Kita benar-benar takut kalau-kalau kebaikan-kebaikan kita ini didahulukan untuk kita sekarang (sejak kita di dunia ini, sedang di akhirat tidak dapat bagian apa-apa)." Selanjutnya ia lalu menangis dan makanan itu ditinggalkan. (Riwayat Bukhari)


QS.Al-Anfal Ayat 4

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

Keterangan:
Mereka yang memiliki sifat-sifat seperti tersebut di atas itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Dia memberikan perkenan-Nya kepada mereka (ridlo), mengampuni kesalahan, memberi rezeki yang baik kepada mereka di dunia dan kehidupan yang membahagiakan di akhirat. Mereka gembira dan bersyukur akan karunia Allah yang mereka dapatkan ...

Senin, 07 November 2016

Berhati-hatilah, Seringkali Ujian dari Allah itu Berupa Kemudahan dalam Mendapatkan Kekayaan dan Gemerlapnya Dunia

QS.5. Al Maa'idah:

يَـٰۤأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَيَبْلُوَنَّكُمُ ٱللَّهُ بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَـٰحُكُمْ لِيَعْلَمَ ٱللَّهُ مَن يَخَافُهُ بِٱلْغَيْبِ فَمَنِ ٱعْتَدَىٰ بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

94. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu[Allah menguji kaum muslimin yang sedang mengerjakan ihram dengan melepaskan binatang-binatang buruan, hingga mudah ditangkap] supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih. 

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa ayat ini diturunkan dalam peristiwa umrah Hudaibiyyah. Tersebutlah bahwa saat itu binatang liar, burung-burung, dan binatang buruan lainnya banyak mereka dapati dalam perjalanan mereka; hal seperti itu belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Allah Swt. menguji mereka dengan binatang buruan yang mengelilingi mereka dalam perjalanannya, mereka dapat saja dengan mudah menangkap binatang-binatang buruan itu dengan tangan dan tombak mereka secara sembunyi-sembunyi ataupun dengan terang-terangan.
Dimaksudkan agar tampak siapa yang taat kepada Allah di antara mereka dalam kesendiriannya atau dalam terang-terangannya. Lalu Allah melarang mereka membunuh binatang-binatang buruan, sedang mereka dalam keadaan ihram.

Demikianlah Allah menguji hamba-hambaNya. Seringkali hamba2Nya itu diuji dengan kenikmatan dan segala kemudahan dunia. Waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah, malah dibukakan pintu rejeki dunia selebar-lebarnya dan semudah-mudahnya. Hingga akhirnya, ada diantara hamba-hamba-Nya yang tergoda, meninggalkan ibadah dan lebih memilih mencari harta dunia yang lagi mudah-mudahnya didapat.
Padahal, pada saat selain waktu ibadah, harta dunia terkesan sulit didapat. Saat kita semangat mencari rejeki, malah rejeki terkesan seret. Namun saat ibadah, malah mudah didapat.
Itulah pilihan, pilihan kita untuk taat kepada Allah ataukah tidak. Apakah kita lebih takut kepada Allah, dan memilih beribadah kepada-Nya ataukah malah berharap kekayaan dunia dengan meninggalkan-Nya.
Kita semua tidak dapat melihat-Nya, namun itulah ujian bagi kita. Karena barang siapa yang melanggar batas, dengan melanggar hukum-hukum-Nya, maka baginya azab yang pedih. 
Ingatlah, dunia ini tempat ujian, hanya hamba-hambaNya yang bertaqwa dan berserah-diri hanya kepada Allah yang akan selamat.

Minggu, 30 Oktober 2016

Larangan Meminta-minta kepada Sesama Makhluq Dan Sedekah itu Lebih Baik

Bab: Larangan Meminta-minta kepada Sesama Makhluq
Qutaibah dan Al Hujr menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami bahwa Ali berkata, "Syarik menceritakan kepada kami dengan maksud yang sama dari Hakim bin Jubair, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid, dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa meminta-minta kepada sesama orang sedangkan ia mempunyai harta yang cukup, maka pada hari Kiamat ia datang dan apa yang ia minta akan berwujud tamparan, garukan, atau cakaran pada mukanya". Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah SAW, berapa harta yang cukup itu? " Beliau bersabda, "Lima puluh Dirham atau emas yang seharga dengannya." ==sekitar Rp.1.640.000==
Shahih: Shahih Abu Daud(1438) dan Al Misykah (1847), Shahih Sunan Tirmidzi (650)

Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Waki' memberitahukan kepada kami, Sufyan memberitahukan kepada kami dari Abdullah Malik bin Umar, dari Zaid bin Uqbah, dari Samurah bin Jundub, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya meminta-minta adalah suatu tamparan kepada muka sendiri, kecuali bila orang itu meminta-minta kepada penguasa atau dalam urusan yang diharuskan untuk meminta-minta'."
Shahih: Ta'liqur-Raghib (2/2), Shahih Sunan Tirmidzi (681)

Keterangan (ta'liq):
Termasuk dibolehkan meminta-minta adalah bagi pekerja yang meminta haknya(kepada juragan), setelah kewajibannya dipenuhi. Dan juga seorang istri yang meminta haknya kepada Suaminya.

Diriwayatkan dalam hadits lain dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Tidak boleh meminta-minta bagi orang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan sempurna (jasmani dan akal)."
Apabila orang itu mempunyai kekuatan namun dia orang yang membutuhkan dan dia tidak mempunyai apa-apa, kemudian ia diberi zakat, maka menurut para ulama, zakat itu sah (memenuhi syarat) bagi orang yang berzakat.

Suwaid menceritakan kepada kami, Abdullah mengabarkan kepada kami dari Yunus, dari AzZuhri, dari Urwah dan Ibnu Al Musayyab, bahwasanya Hakim bin Hizam mengatakan, "Aku meminta kepada Rasulullah SAW, dan beliau pun memberiku. Kemudian aku kembali meminta kepadanya, maka beliau pun memberiku. Lalu, aku kembali memintanya, dan beliau pun memberiku."
Beliau lantas bersabda, "Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau (menarik) dan manis. Siapa saja yang meraihnya dengan jiwa yang lapang, maka harta itu akan diberkahi baginya. Siapa saja yang meraihnya dengan jiwa yang serakah, maka harta itu tidak akan diberkahi untuknya. 
Orang seperti ini adalah seperti orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" 
Hakim berkata, aku berkata, "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan memohon sesuatu kepada siapa pun sepeninggalmu hingga aku meninggal dunia."
Abu Bakar lalu memanggil Hakim untuk mengambil haknya (berupa pemberian dari harta fa'i). Umar juga memanggilnya untuk memberikan haknya. Namun ia tidak mau menerima sesuatu pun dari pemberian itu. Umar lantas berkata. "Aku menjadi saksi bagi kalian wahai sekalian kaum muslimin terhadap diri Hakim. Aku telah menawarkan haknya dari harta fa'i ini, dan dia tidak mau menerimanya. Hakim tidak lagi pernah meminta-minta (bersandar) pada siapa pun setelah Rasulullah wafat hingga dirinya (Hakim) meninggal dunia".
Shahih: Shahih Sunan Tirmidzi(2463) dan Muttafaq alaih.
Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah shahih".

Hannad menceritakan kepada kami. Waki' menceritakan kepada kami, dari ArRab'i bin Shabih, dari Yazid bin Aban -ArRaqasyi-, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda. "Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya ada dalam hatinya. Allah akan mengumpulkan segala urusannya, dan dunia pun datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Barangsiapa yang dunia menjadi tujuan (hidupnya), maka Allah akan menjadikan kefakiran itu dekat dengan kedua matanya dan memisahkan segala urusan-urusannya. Dunia pun tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya saja ".
Shahih: Ash-Shahihah (949-950), Shahih Sunan Tirmidzi(2465).

Muhammad bin Abdul A'la AshShan'ani menceritakan kepada kami, Mu'tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Yunus bin Ubaid, Hasan menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Hai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, karena jika kekuasaan itu datang kepadamu dengan sebab permintaan, maka kamu —sendirian— menyelesaikannya, namun jika ia datang kepadamu dengan tanpa diminta, maka kamu pasti dibantu untuk menyelesaikannya. Jika kamu bersumpah atas suatu sumpah, lalu kamu melihat ada yang lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik dan bayarlah kafarat untuk sumpahmu ".
Shahih: Al Irwa' (7/166, 8/228, 2601), Shahih Abu Daud (2601), Shahih Sunan Tirmidzi(1529) dan Muttafaq alaih.

Bolehnya Meminta karena Kebutuhan Dasar Yang Belum Terpenuhi (Terpaksa) 
Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami. Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Ma'mar, dari Ibnu Syihab, dari Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm, dari 'Urwah. dari Aisyah, ia berkata, "Seorang wanita bersama dua orang anak perempuannya masuk, kemudian ia meminta (sesuatu kepadaku), (namun) ia tidak mendapatkan apapun dari diriku kecuali sebutir kurma. Aku memberikan kurma itu kepadanya dan ia membaginya di antara dua orang anak perempuannya, sementara ia tidak memakan (sedikitpun). Ia kemudian berdiri dan keluar. Rasulullah kemudian masuk dan aku memberitahukan (hal itu) kepadanya. Beliau bersabda. 'Barangsiapa yang diberi cobaan dengan sesuatu dari anak-anak perempuan ini, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api nereka'
Shahih: At-Ta'liq Ar Raghib (3/83), Shahih Sunan Tirmidzi (1915) dan Sahih Muslim

Beribadahlah, maka Kefakiranmu akan Lenyap
Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami, dari Imran bin Zaidah bin Nasyith, dari bapaknya, dari Abu Khalid Al Walibi, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Allah berfirman,' Wahai manusia, luangkanlah waktu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan mengisi hatimu (dadamu) dengan kekayaan dan aku akan tutupi kefakiranmu. Jika kamu tidak beribadah, maka aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku tutupi kefakiranmu'."
Shahih: Ibnu Majah (4107), Shahih Sunan Tirmidzi(2466).

Anjuran untuk Bersedekah dan Larangan Meminta-minta
Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami. Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, Ubadah bin Muslim menceritakan kepada kami, Yunus bin Khabbab menceritakan kepada kami, dari Sa'id AthTha'i Abu Al Bakhtari, ia berkata: Abu Kabsyah Al Annamari menceritakan kepadaku, ia perah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga macam yang aku bersumpah atasnya. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!"
Beliau melanjutkan, 
"[1]Tidak akan berkurang harta seseorang karena sedekah. 
[2]Tidaklah seseorang dizhalimi dengan suatu perbuatan zhalim, lalu ia bersabar atas kezhaliman tersebut, malainkan Allah akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. 
[3]Tidaklah seseorang membukakan pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran —atau dengan redaksi kalimat yang serupa dengan ini—. 
Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!"
Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya dunia itu untuk empat macam orang, yaitu: 
[1]Seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa dengannya kepada Rabbnya dan terus menjalin hubungan silaturahim, serta menyadari bahwa ada hak Allah pada rezekinya itu. Ini adalah derajat (kedudukan) yang paling utama.
[2]Kemudian seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan namun tidak dikaruniai harta. Lalu, dengan niat yang benar (tulus) dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan melakukan amal (kebaikan) seperti amal yang dilakukan oleh si Fulan. Ia akan mendapat ganjaran (pahala) dengan niatnya itu. dan ganjaran keduanya (dirinya dengan si Fulan) sama. 
[3]Kemudian, seorang hamba yang diberikan rezeki berupa harta oleh Allah namun tidak dikaruniai ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya itu tanpa menggunakan ilmu, tidak bertakwa kepada Rabbnya, dan tidak menyambung hubungan silaturahim, serta tidak menyadari bahwa ada hak Allah pada hartanya itu. Maka. orang seperti ini mendapatkan kedudukan (derajat) yang paling buruk.
[4]Kemudian, seorang hamba yang tidak diberikan rezeki berupa harta dan tidak dikaruniai ilmu oleh Allah. Lalu dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta maka aku akan melakukan amal perbuatan (dosa) seperti si Fulan.' Maka, dengan niatnya ini dia akan mendapatkan dosa, dan dosa keduanya (dirinya dan si Fulan) sama "
Shahih: Ibnu Majah (4228), Shahih Sunan Tirmidzi (2325).

Hannad menceritakan kepada kami, Abu Al Ahwash memberitahukan kepada kami dari Bayan bin Bisyr, dari Qais bin Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya bila seseorang di antara kalian pergi pagi-pagi kemudian mengumpulkan kayu bakar (dan membawanya) di atas punggungnya, lantas bersedekah dari hasilnya itu serta tidak memerlukan orang, maka itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang (yang dimintai) itu memberi atau tidak memberinya, karena sesungguhnya tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan mulailah dengan orang yang kamu tanggung'."
Shahih: Irwa Al Ghalil (834), Shahih Sunan Tirmidzi (680) dan Shahih Muslim

Pemimpin itu Harus Lebih Mengutamakan Rakyatnya daripada Dirinya Sendiri/keluarganya
Abdurrahim bin Hazim Al Balkhi menceritakan kepadaku dan ia mengatakan bahwa dirinya mendengar Al Makki bin Ibrahim berkata, "Kami sedang berada di rumah Ibnu Juraij, kemudian seorang peminta-minta datang dan meminta kepadanya. Ibnu Juraij kemudian berkata kepada bendaharanya, 'Berilah ia satu dinar!' Bendahara itu menjawab, 'Aku hanya punya satu dinar. Jika aku memberikan satu dinar ini kepadanya, niscaya engkau dan keluargamu akan kelaparan.' Ibnu Juraij marah dan berkata, 'Berikan (itu) kepadanya!'."

Haramnya Meminta kepada Orang yang Musyrik
Al Anshari menceritakan kepada kami, Ma'n menceritakan kepada kami, Malik bin Anas menceritakan kepada kami. dari Al Fudhail bin Abu Abdullah, dari Abdullah bin Niyar Al Aslami, dari Urwah, dari Aisyah, Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar menuju Badar, hingga ketika berada di Harrah Al Wabarah, ada seorang lelaki musyrik —yang dikenal gagah berani— menyusulnya. Beliau kemudian bersabda kepada lelaki itu, "Bukankah engkau beriman kepada Allah dan rasulNya?" Lelaki itu menjawab, "Tidak". Beliau bersabda, "Kembalilah (engkau), (sebab) aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang yang musyrik"
Shahih: Ibnu Majah (2832), Shahih Sunan Tirmidzi (1558) dan Muslim.

Bab: Dunia Itu Sangat Remeh/Hina, Mengapa Harus Meminta2 pada Makhluq?
Qutaibah menceritakan kepada kami. Abdul Hamid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim. dari Sahal bin Sa'ad, ia berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding (dengan) sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya satu tetes air".
Shahih: Ash Shahihah (940) dan shahih sunan tirmidzi (2320).

Suwaid bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, dari Mujahid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Mustaurid bin Syaddad, ia berkata, Saya pernah bersama rombongan yang sedang berhenti bersama Rasulullah di hadapan bangkai anak kambing. Rasulullah kemudian bertanya, "Apakah kalian berpendapat bahwa binatang ini hina bagi pemiliknya ketika ia melemparkannya (membuangnya)?" Mereka menjawab, "Karena kehinaannya itulah mereka melemparkannya (membuangnya), wahai Rasulullah". Beliau bersabda. "Dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada binatang ini dalam pandangan pemiliknya ".
Shahih: Ibnu Majah (4111) dan shahih sunan tirmidzi(2321).

Bab: Anjuran untuk Bersedekah dan Bukannya Meminta-minta
Abdullah bin Abu Ziyad Al Qathawani Al Kufi menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Musa memberitahukan kepada kami, Ghalib -ayah Bisyr- memberitahukan kepada kami dari Ayub bin A'idz AthThai, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Ka'ab bin Ujrah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, 'Aku meminta kepada Allah untuk melindungimu wahai Ka'ab bin Ujrah dari pemimpin setelah aku. Barangsiapa datang ke rumah mereka kemudian ia membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezhaliman mereka, maka ia tidak termasuk golonganku dan akupun tidak termasuk golongannya, dan ia tidak akan mendatangi telagaku. Barangsiapa datang ke rumah mereka atau ia tidak mendatanginya namun ia tidak membenarkan kebohongan mereka serta tidak membantu kezhaliman mereka, maka ia termasuk golonganku dan akupun termasuk golongannya, dan ia nanti akan mendatangi telagaku. Wahai Ka'ab bin Ujrah, Sholat adalah bukti, puasa adalah perisai yang kokoh, dan sedekah menghilangkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka 'ab bin Ujrah! Sesungguhnya daging yang tumbuh dari makanan yang haram tidak akan berkembang kecuali api neraka lebih pantas untuk (melahap)nya'."
Shahih: Ta'liqur-Raghib (3/15 dan 150), Shahih Sunan Tirmidzi (614)

Keutamaan Sedekah
Qutaibah menceritakan kepada kami, Al Laits bin Sa'ad memberitahukan kepada kami dari Sa'id Al Maqburi, dari Sa'id bin Yasar, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tidaklah seseorang bersedekah dengan sesuatu yang baik dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik melainkan Dzat yang Maha Pemurah akan mengambil sedekah itu dengan tangan kananNya [berarti sedekah itu pasti diterimaNya]. Jika sedekah itu berupa satu butir kurma, maka ia akan berkembang (bertambah) pada peliharaan Dzat Yang Maha Pengasih, sehingga ia menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana salah seorang di antaramu memelihara anak kuda atau anak unta'."
Shahih: Zhilal Al Jamiah (633), Ta'liq Ar Raghib, lrwa Al Ghalil (886), shahih sunan tirmidzi (661) dan Muttafaq 'alaih


Bab: Meminta-minta itu Hanya kepada Allah

QS.1.Al Faatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

5.Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Qutaibah menceritakan kepada kami, Ya'qub bin Abdurrahman Al Iskandarani memberitahukan kepada kami dari Suhail bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Allah Tabaraka wa Ta'ala turun ke langit dunia ketika telah berlalu sepertiga malam yang pertama. Lalu Allah berfirman, 'Akulah Raja. Barangsiapa berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan permintaannya, dan barangsiapa meminta ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni dia'.
Allah selalu berfirman begitu sampai Fajar terang. "
Shahih: Ibnu Majah (1366), Shahih Sunan Tirmidzi (446) dan Muttafaq 'alaih

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Basyir Abu Ismail, dari Sayyar, dari Thariq bin Syihab, dari Abdullah bin Mas'ud. ia berkata: dia pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Siapa saja yang tertimpa kemiskinan lalu dia meminta pertolongan kepada manusia (dengan mengeluh dan minta-minta), maka kemiskinannya itu tidak akan ditutupi (ditolong). Siapa saja yang tertimpa kemiskinan lalu ia memohon kepada Allah, maka pasti Allah akan memberikan rezeki baginya, baik cepat ataupun lambat".
Shahih: namun dengan lafazh "mati dengan segera atau kaya dengan segera",
Shahih Abu Daud (1452), Shahih Sunan Tirmidzi (2326) dan AshShahihah (2787).

Al Anshari menceritakan kepada kami, Ma'n menceritakan kepada kami, Malik bin Anas menceritakan kepada kami, dari Zuhri, dari Atha' bin Yazid, dari Abu Sa'id, bahwa ada sekelompok orang Anshar yang meminta (sesuatu) kepada Nabi SAW, kemudian beliau memberikan (nya) kepada mereka. Mereka kemudian meminta (sesuatu) kepadanya, dan beliau pun memberikan(nya) kepada mereka. Beliau kemudian bersabda, "Harta yang ada padaku, aku tidak akan menyimpannya [sembunyikan] dari kalian. Barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa yang meminta dipelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya. Barangsiapa yang meminta kesabaran, maka Allah akan memberinya kesabaran. Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran ".
Shahih: At Ta'liq Ar Raghib (2/11); Shahih Abu Daud (1451), Shahih Sunan Tirmidzi (2024) dan Muttafaq alaih.

Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami. Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami. dari Al A'masy, dari Khaitsamah, dari Al Hasan, dari Imran bin Hushain bahwasanya ia pernah melewati seseorang yang sedang membaca Al Qur'an kemudian ia meminta-minta. Maka, ia pun ber-istirja' (mengucapkan 'innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un'). Ia lalu berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Siapa saja yang membaca Al Qur'an, maka hendaklah meminta kepada Allah dengan bacaannya itu. Sesungguhnya akan datang kaum yang membaca Al Qur'an namun mereka meminta-minta kepada manusia'."
Hasan: Ash-Shahihah (257), Shahih Sunan Tirmidzi (2917).

> Sungguh, Mintalah Hanya Kepada Allah!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«يَدُ اللهِ مَلأَ َى ، لاَ تَغِيْضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ» قَالَ : «أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَاْلأَرْضَ ، فَإِنَّهُ لَـمْ يَغِضْ مَا فِـيْ يَدِهِ…»

Tangan Allah Azza wa Jalla penuh dan tidak berkurang oleh infak dan banyak memberi pada malam dan siang hari. Tahukah kalian apa yang telah Dia infakkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya itu semua tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya.[Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 4684), Muslim (no. 993),at-Tirmidzi (no. 3045) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلاَ يَقُلْ : اللَّـهُمَّ اغْفِرْ لِـيْ إِنْ شِئْتَ ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْـمَسْأَلَةَ ، وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ ، فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

Jika salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia berkata, ‘Ya Allah Azza wa Jalla , ampunilah aku jika Engkau berkehendak,’ namun hendaklah ia serius dalam meminta dan memperbesar keinginan, karena Allah Azza wa Jalla tidaklah dimintai dengan serius dan sungguh-sungguh melainkan Dia memberinya.”[Shahih: HR. Muslim (no. 2679) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِـي الدُّعَاءِ. وَلاَ يَقُلِ : اللَّـهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِـيْ ، فَإِنَّ اللهَ لاَ مُسْتَـكْرِهَ لَهُ

Apabila salah seorang dari kalian berdoa maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, janganlah ia mengatakan, ‘Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau berkehendak, berikanlah kepadaku,’ Karena tidak ada yang memaksa Allah [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 6338) dan Muslim (no. 2678) dari Anas bin Malik rahimahullah]

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhuberkata, “Jika kalian berdoa kepada Allah Azza wa Jalla , tinggikan permintaan kalian, karena apa yang ada di sisi-Nya tidak bisa dikurangi oleh sesuatu apa pun.”

> Adab Berdoa

1. Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” kemudian beliau bersabda,

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء

“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

2. Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim)

Dari Salman radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)

Cara mengangkat tangan:
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani)
Catatan: Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.

3. Khusyu’, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Bab: Kalau Allah Maha Kaya, Apakah Kita hanya Berdoa lalu Rejeki Turun dari Langit atau Bagaimana?

> Sesungguhnya Allah Maha Kaya: Apakah kita hanya berdoa, lalu menunggu hujan Emas dari Langit?

QS.35. Faathir:

يٰأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ٱلْحَمِيدُ

15. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu, namun Dialah yang memiliki segala sesuatu) lagi Maha Terpuji.

> Bukannya Menunggu Hujan Emas/Rejeki dari Langit, namun Berdoalah kemudian Berusahalah Sendiri dengan Usaha yang Semestinya! 

QS.62. Al Jumu'ah:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلأَْرْضِ وَٱبْتَغُواْ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 

-------------------------------
Ada yang Mengatakan:"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah!" Kemudian ia Berlaku Seolah-olah dengan amalan tertentu ia pasti bisa melakukannya!
Jawabannya: Jika ia berbuat seperti itu, Siapakah Tuhannya? Allah ataukah ia? Kalau ia merasa sebagai hambaNya, tentunya ia tidak akan berbuat seperti itu. Ia akan berdoa kepada Allah, sedangkan keputusan tetap ia serahkan kepada Allah, dan ia bertawakkal kepada Allah juga ridlo terhadap segala keputusanNya ...
Ingatlah, kehendak Allah itu mutlak, tidak ada yang bisa mempengaruhiNya!
Dan sesungguhnya seorang mukmin itu hanya dibebani usaha dan doa, sedangkan hasil akhir hanyalah milik Allah ...

QS.48. Al Fath:

قُلْ فَمَن يَمْلِكُ لَكُمْ مِّنَ ٱللَّهِ شَيْئاً إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرّاً أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعاً بَلْ كَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً

11. ...Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Minggu, 23 Oktober 2016

Bagaimana Jika Sedekah tapi Salah Sasaran? Atau Telah Ditipu?

Bersedekahlah! Sebelum kematian menjemputmu!
QS.Al-Mu’minun Ayat 60:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

Keterangan (dari Tafsir Jalalyn):
(Dan orang-orang yang memberikan) yang menginfakkan (apa yang telah mereka berikan) mereka infakkan berupa zakat dan amal-amal saleh (dengan hati yang takut) takut amalnya tidak diterima (karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka) sebelum lafal Annahum ini diperkirakan adanya huruf Lam yang menjarkannya (akan dikembalikan kepada Rabb mereka).

QS.Ali 'Imran Ayat 133

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Mengapa kita harus segera Bersedekah? Sebab kita tidak tahu kapan datangnya:
1. Kematian kita
2. Kesibukan yang sangat
3. Sakit yang melemahkan
4. Kemiskinan yang menyusahkan
5. Kekayaan yang melalaikan

Bersedekahlah dengan harta terbaik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Di dalam kedua jenis sedekah ini ada keutamaan masing-masing.
QS.Surat Al-Baqarah Ayat 271:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Keterangan (dari Tafsir Jalalyn):
(Jika kamu menampakkan) atau memperlihatkan kepada umum (sedekah-sedekah), yakni yang sunah, (maka itu baik sekali). (Sebaliknya, jika kamu sembunyikan) atau rahasiakan (dan kamu berikan kepada orang-orang miskin, maka itu lebih baik bagimu) daripada menampakkan dan memberikannya kepada orang-orang yang mampu. Adapun sedekah yang fardu, maka menampakkannya lebih utama agar ia menjadi ikutan orang lain dan untuk menghindarkan tuduhan yang bukan-bukan. Sedekah fardu atau zakat hanya diberikan kepada orang-orang miskin. (Dan Allah akan menghapus) dibaca dengan ya dan nun serta memakai baris mati karena diathafkan pada 'fahuwa' dan dapat pula dengan baris depan karena kedudukannya sebagai mubtada (daripadamu sebagian) 'min' untuk tab`idh atau menunjukkan sebagian (kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan), artinya menyelami apa-apa yang tersembunyi, tak ubahnya dengan yang tampak atau yang lahir, tidak satu pun yang menjadi rahasia bagi-Nya.

Sedekah terang-terangan dianjurkan untuk menyemangati orang lain, sedangkan sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih mudah dalam menjaga niat. Sebab, jika niatnya ikhlas, amalan sedekah akan diterima oleh Allah Ta’ala, meski salah alamat.
Kadangkala kita sedekah, dan dititipkan kepada orang yang kita anggap amanah untuk diberikan kepada yang berhak, namun ternyata orang itu berbohong. Uang yang disedekahkan tidak diberikan kepada yang semestinya namun malah untuk kepentingan pribadi atau untuk hal2 buruk lainnya. Bagaimana nasib sedekah itu?
Mari kita simak yang berikut ini!

Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, ada seorang yang berniat memberikan sedekah pada suatu malam. Ia pun membawa hartanya untuk diberikan kepada siapa pun yang ditemui. Rupanya, sedekah itu sampai ke tangan pezina. Hingga orang-orang berkata, “Seorang pezina diberi sedekah.” Orang itu pun berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah kepada pezina.” Lalu pada malam berikutnya, ia kembali berniat untuk bersedekah lagi.

Seperti kemarin, ia mencari penerima sedekah di tengah malam yang gulita. Hingga disampaikanlah sedekahnya kepada seseorang. Sebab niatnya sembunyi-sembunyi, ia tidak tahu siapa yang menerima sedekahnya.
Hingga pada pagi harinya beredar perkataan orang-orang, “Tadi malam, ada orang kaya yang diberi sedekah.” Sebab itulah, sang pemberi sedekah kembali panjatkan pinta, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah kepada orang kaya.”

Dua kali ‘salah alamat’, lelaki ini berniat untuk sampaikan sedekah yang ketiga. Masih dengan cara yang sama di tengah malam. Maka alangkah terkejutnya dirinya saat mendengar warga mengatakan, “Semalam, ada seorang pencuri yang menerima sedekah.” Dengan kalimat yang sama, lelaki itu kembali berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas sedekah kepada seorang pezina, orang kaya, dan pencuri.”

Maka kepada orang itu, sebagaimana riwayat yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya ini, datanglah malaikat yang mengatakan, “Sedekahmu telah diterima.”
“Adapun bagi pezina,” lanjut malaikat, “Semoga ia menjaga diri dari zina. Dan semoga orang kaya akan mengambil pelajaran hingga ia mau berinfaq dengan apa yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya.” Kemudian bagi pencuri, pungkas malaikat menyampaikan, “Semoga ia menjaga diri dari perbuatan mencurinya.”

---> Jelaslah sudah. Bahwa yang menjadi penentu diterima atau tidaknya amal adalah kualitas niat yang dikombinasikan dengan ikhtiar untuk melakukan yang terbaik. Setelah dua hal itu usai, cukuplah berserah diri kepada Allah Ta’ala yang mustahil menzalimi hamba-hamba-Nya.

>> Bagaimana kalau kita sudah berusaha untuk memberikan harta kita kepada yang berhak, namun ternyata tetap saja salah?

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لإِمْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٌ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ)).

Dari Umar bin al Khaththab, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang berhijrah kepadanya.” (Hadits Shahih al Bukhari)

QS. Al-Baqarah Ayat 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".


Bab: Bagaimana Kalau Kita Ditipu Sesama Muslim, apakah Kita Rugi? Ternyata Tidak!
Qutaibah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Al Ala' bin Abdurrahman, dari bapaknya, dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda. "Tahukah kalian siapakah orang yang pailit (bangkrut) itu?" Para sahabat menjawab. "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (harta) dan barang-barang, wahai Rasulullah". Rasulullah bersabda, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat nanti datang bersama —pahala— shalatnya, puasanya, zakatnya, dan ia juga datang dengan —dosa— perbuatannya yang pernah menghina (mengutuk) ini, menuduh zina ini, memakan harta ini (dengan cara tidak halal), membunuh ini, dan memukul ini. Orang itu lalu duduk. Maka yang ini mengurangi dari kebaikannya dan yang ini —mengurangi— dari kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum kesalahannya tertebus, maka kesalahan orang-orang tersebut diambil dan dilimpahkan kepadanya. Kemudian, dia dilemparkan ke dalam api neraka ".
Shahih: Ash-Shahihah (845), Ahkam Al Janaizi (4), Shahih Sunan Tirmidzi (2418) dan Shahih Muslim.

Minggu, 16 Oktober 2016

Tidak Akan Berkurang Harta Seseorang karena Sedekah

Renungkanlah:
1. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah ...
Karena bisa jadi anda bertambah pelit setelah mendapat rejeki yang melimpah ...
Ingatlah, harta anda tidak akan berkurang karena anda bersedekah ...
Asalkan sedekah itu tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit ...
2. Tidaklah seseorang dizhalimi dengan suatu perbuatan zhalim, lalu ia bersabar atas kezhaliman tersebut, melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan pada dirinya...
3. Tidaklah seseorang membukakan pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran ...

Dan Sesungguhnya didunia itu ada empat macam orang, yaitu:
   1. Seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa dengannya kepada Rabbnya dan terus menjalin hubungan silaturahim, serta menyadari bahwa ada hak Allah pada rezekinya itu. Ini adalah derajat (kedudukan) yang paling utama.
   2. Kemudian seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan namun tidak dikaruniai harta. Lalu dengan niat yang benar (tulus) dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan melakukan amal (kebaikan) seperti amal yang dilakukan oleh si Fulan. Ia akan mendapat ganjaran (pahala) dengan niatnya itu. dan ganjaran keduanya (dirinya dengan si Fulan) sama.
   3. Kemudian, seorang hamba yang diberikan rezeki berupa harta oleh Allah namun tidak dikaruniai ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya itu tanpa menggunakan ilmu, tidak bertakwa kepada Rabbnya, dan tidak menyambung hubungan silaturahim, serta tidak menyadari bahwa ada hak Allah pada hartanya itu. Maka. orang seperti ini mendapatkan kedudukan (derajat) yang paling buruk.
   4. Kemudian, seorang hamba yang tidak diberikan rezeki berupa harta dan tidak dikaruniai ilmu oleh Allah. Lalu dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta maka aku akan melakukan amal perbuatan (dosa) seperti si Fulan.' Maka, dengan niatnya ini dia akan mendapatkan dosa, dan dosa keduanya (dirinya dan si Fulan) sama "


Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami. Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, Ubadah bin Muslim menceritakan kepada kami, Yunus bin Khabbab menceritakan kepada kami, dari Sa'id AthTha'i Abu Al Bakhtari, ia berkata: Abu Kabsyah Al Annamari menceritakan kepadaku, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Ada tiga macam yang aku bersumpah atasnya. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Tidak akan berkurang harta seseorang karena sedekah. Tidaklah seseorang dizhalimi dengan suatu perbuatan zhalim, lalu ia bersabar atas kezhaliman tersebut, melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Tidaklah seseorang membukakan pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran — atau dengan redaksi kalimat yang serupa dengan ini —. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya dunia itu untuk empat macam orang, yaitu:
    Seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa dengannya kepada Rabbnya dan terus menjalin hubungan silaturahim, serta menyadari bahwa ada hak Allah pada rezekinya itu. Ini adalah derajat (kedudukan) yang paling utama.
    Kemudian seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan namun tidak dikaruniai harta. Lalu dengan niat yang benar (tulus) dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan melakukan amal (kebaikan) seperti amal yang dilakukan oleh si Fulan. Ia akan mendapat ganjaran (pahala) dengan niatnya itu. dan ganjaran keduanya (dirinya dengan si Fulan) sama.
    Kemudian, seorang hamba yang diberikan rezeki berupa harta oleh Allah namun tidak dikaruniai ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya itu tanpa menggunakan ilmu, tidak bertakwa kepada Rabbnya, dan tidak menyambung hubungan silaturahim, serta tidak menyadari bahwa ada hak Allah pada hartanya itu. Maka. orang seperti ini mendapatkan kedudukan (derajat) yang paling buruk.
    Kemudian, seorang hamba yang tidak diberikan rezeki berupa harta dan tidak dikaruniai ilmu oleh Allah. Lalu dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta maka aku akan melakukan amal perbuatan (dosa) seperti si Fulan.' Maka, dengan niatnya ini dia akan mendapatkan dosa, dan dosa keduanya (dirinya dan si Fulan) sama "
Shahih: Ibnu Majah (4228).

Kamis, 06 Oktober 2016

Sunnahnya Berpuasa di Bulan Muharram

Sekedar mengingatkan >>>

Dari Abu Hurairah r.a., katanya :
"Ditanyakan kepada Rasululloh SAW. : " Sholat apakah yang lebih utama setelah sholat fardlu ?". Kata Nabi SAW : " Yaitu sholat tengah malam ". Tanya mereka lagi: "Puasa apakah yang lebih utama setelah puasa Romadlon ?". Ujar Nabi SAW. : " Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharrom ".
(Riwayat Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)

Dari Ibnu Abbas ra. katanya :
"Nabi SAW. datang ke Madinah, dan dilihatnya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. Maka tanya Nabi : "Ada apa ini ?". Kata mereka : "Hari baik, pada waktu dimana Allah membebaskan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, hingga dipuasakan oleh Musa ". Maka sabda Nabi SAW. : "Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu". Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang agar berpuasa. (H.R. Bukhory dan Muslim)

Diterima dari Ibnu Abbas ra. katanya :
"Tatkala Rasululloh SAW. berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata : "Ya Rasululloh, hari itu adalah hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nashrani ". Maka kata Nabi : "Jika datang tahun depan, Insya Allah, kita berpuasa pada hari kesembilan ". Kata Ibnu Abbas : "Tetapi belum sampai tiba pada tahun depan itu, Rasululloh SAW. sudah wafat ".
(Riwayat Muslim dan Abu Dawud).

Diterima dari Abu Qatadah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Puasa pada hari 'Arafah, dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang. Dan puasa hari 'Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu ".(Diriwayatkan oleh jama'ah kecuali Bukhary dan Turmudzi)

Diterima dari Hafsah r.a, katanya :
"Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. : Puasa 'Asyura, puasa sepertiga bulan (yaitu bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari tiap bulan, dan sholat dua rakaat sebelum subuh ".(Riwayat Ahmad dan Nasa'i).
---------------------
InsyaAllah, Puasa hari kesembilan (Tasu'a) adalah hari Senin (minggu depan), 10-10-2016
Sedangkan Puasa Asyura adalah hari Selasa (minggu depan), 11-10-2016

Senin, 03 Oktober 2016

Al Quran adalah Patokan Terhadap Kitab-Kitab Suci Lainnya

QS.5. Al Maa'idah:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَـٰجاً وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَـٰكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَىٰ الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, 

Keterangan:
>> Artinya:"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu"
 > Allah telah menurunkan Al Quran (melalui suatu proses tertentu dengan ilmu-Nya -menggunakan "Kami"-),  dengan membawa kebenaran yang tidak terbantahkan, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dimana kitab-kitab itu (misal: Taurat dan Injil) juga diturunkan oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya, namun ternyata kitab-kitab itu banyak diubah isinya. Sehingga Al Qur'an ini sebagai Kitab terakhir, dijadikan batu ujian (patokan) terhadap kitab-kitab yang lain itu, yang apabila kitab-kitab itu bertentangan dengan Al Qur'an, berarti Kitab-kitab itu telah mengalami perubahan, revisi atau telah dimodifikasi oleh manusia.
Al Quran benar-benar dijaga oleh Allah melalui banyak cara, salah satunya adalah, dimudahkannya sebagian mukmin untuk menghafal Al Quran 30 juz, dimana belum pernah ada seorang manusiapun yang dapat menghafal penuh kitab-kitab sebelumnya (misal: Taurat dan Injil).

>> Artinya:"maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu."
 > Maka putuskanlah semua masalah dengan menggunakan Al Quran, sebab Al Quran adalah kitab terakhir yang merupakan patokan kebenaran yang tidak terbantahkan. Dan Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran, dimana mereka suka meninggalkan Al Quran dalam memutuskan perkara mereka, hingga akhirnya mereka tersesat.

>> Artinya:"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu"
 > Sesungguhnya tiap-tiap umat (misalnya:umat Nabi Musa as, umat Nabi Isa as dan umat Nabi Muhammad SAW) telah diberikan aturan-aturan berupa syariat-syariat dan jalan yang terang. Aturan-aturan ini sifatnya mengikat untuk semua makhluk-Nya. Dimana jika para makhluk-Nya mengikutinya tentunya ia tidak akan tersesat, dan akan mendapatkan jalan yang terang.
Dalam Al Quran telah dijelaskan, bahwa untuk masalah tauhid dalam peribadatan adalah sama untuk semua umat, mulai dari umat Nabi Adam as hingga umat Nabi Muhammad SAW. Semuanya mengajarkan ajaran yang sama, yakni: Tidak ada Tuhan selain Allah. Dia Tidak beranak dan juga tidak diperanakkan. Milik-Nya lah semua yang ada dilangit dan di bumi dan semua yang ada diantaranya. Dan Tidak ada satupun yang setara dengan Dia.
Yang berbeda ajarannya adalah dalam masalah syariat. Dimana tiap-tiap umat diberikan syariat yang sesuai dengan jamannya. Ada jaman yang penuh dengan penyihir, mirip harry potter, ada jaman yang penuh dengan tabib dan ahli kesehatan, dan ada pula jaman yang penuh dengan teknologi tinggi dan canggih. Karena jaman yang berbeda-beda itulah, Allah menurunkan syariat yang berbeda-beda.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kita dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kita terhadap pemberian-Nya kepada kita, dengan jaman yang berbeda-beda, semuanya penuh dengan kecanggihan (sihir itu canggih, dan teknologi tinggi juga canggih) supaya kita mau berlomba-lombalah berbuat kebajikan dimasing-masing jaman itu (dimana kita hidup pada jaman tersebut). Hanya kepada Allah-lah, kembalinya kita semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepada kita terhadap apapun juga yang kita perselisihkan itu.

Bab: Ayat yang memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya
QS.15. Al Hijr:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَـٰفِظُونَ

9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. 

Keterangan:
Seperti telah dijelaskan diatas, bahwa Al Quran benar-benar dijaga oleh Allah melalui banyak cara (dan proses), salah satunya adalah, dimudahkannya sebagian mukmin untuk menghafal Al Quran 30 juz, dimana belum pernah ada seorang manusiapun yang dapat menghafal penuh kitab-kitab sebelumnya (misal: Taurat dan Injil).
Andaikan ada satu ayat saja yang dirubah, ditambah ataupun dikurangi, tentunya banyak mukmin yang akan mengetahuinya, sehingga perubahan itu bisa dihindari dan kemurnian Al Quran dapat terjaga.
Akhir2 ini kita cukup miris, ketika ada kelompok yang mengaku muslim, namun malah ingin merevisi Al Quran. Mereka tidak yakin dengan kitab suci mereka sendiri. Itu berarti mereka sudah bukan muslim lagi, namun termasuk golongan iblis, yang sudah tidak percaya lagi kalau Al Quran dapat mengikuti segala perkembangan jaman. Mereka berputus-asa karena Al Quran tidak mau mengikuti hawa nafsu mereka, sehingga akhirnya pilihan mereka adalah merevisi Al Quran. Tentunya kegiatan mereka akan tercium dan akan mendapatkan laknat oleh Allah beserta semua makhluk-Nya. Para pejuang dijalan Allah tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi, yakni bagi kelompok yang akan merevisi Al Quran, bersiap-siaplah mendapatkan perlawanan dari tentara-tentara Allah.
Ingatlah, Allah-lah yang menjaga kesucian dan kemurnian Al Quran, tentu Dia akan menjadikan hamba2-Nya yang mau berjuang di jalan-Nya untuk ikut serta dalam menjaga Al Quran. Ingatlah pula, kitalah yang membutuhkan Al Quran sebagai petunjuk dan cahaya yang menerangi dalam menghadapi kehidupan di dunia ini ...